BAB 1. PENDAHULUAN
4. Manfaat penelitian
4.2 Puskesmas Tanah Tinggi Binjai
Dengan diketahuinya peran dan fungsi perawat dalam pelaksanaan program Ante Natal Care di Puskesmas dapat dijadikan bahan masukan untuk pengambilan keputusan di Puskesmas Tanah Tinggi Binjai dalam upaya perbaikan pelayanan keperawatan.
4.3. Penelitian Keperawatan
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi tambahan untuk penelitian berikutnya terutama yang berhubungan dengan peran dan fungsi perawat dalam pelaksanaan program Ante Natal Care di Puskesmas.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
1. Konsep Dasar Puskesmas 1.1. Pengertian Puskesmas
Puskesmas adalah kesatuan organisasi pelaksana pembangunan kesehatan yang mempunyai wewenang dan tanggungjawab dalam memelihara kesehatan masyarakat diwilayah kerjanya dalam rangka meningkatkan status kesehatan masyarakat seoptimal mungkin (Dep Kes RI, 2001; Efendi, 1998)
Puskesmas adalah unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten / kota yang bertanggungjawab dalam menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja kecamatan. (Dep Kes RI, 2004).
Puskesmas adalah unit pelaksana pembangunan kesehatan diwilayah kecamatan (Muninjaya, 2004)
1.2. Visi Puskesmas
Visi pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh Puskesmas adalah tercapainya Kecamatan Sehat menuju terwujudnya Indonesia Sehat.
Kecamatan Sehat adalah gambaran masyarakat kecamatan masa depan yang ingin dicapai melalui pembangunan kesehatan, yakni masyarakat yang hidup dalam lingkungan dan dengan perilaku sehat memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
Indikator Kecamatan Sehat yang ingin dicapai mencakup 4 indikator utama yakni lingkungan sehat, perilaku sehat, cakupan pelayanan kesehatan yang bermutu serta derajat kesehatan penduduk kecamatan.
Rumusan visi untuk masing-masing Puskesmas harus mengacu pada visi pembangunan kesehatan Puskesmas di atas yakni terwujudnya Kecamatan Sehat yang harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat serta wilayah Kecamatan setempat.
1.3. Misi Puskesmas
Misi pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh Puskesmas adalah mendukung tercapainya misi pembangunan kesehatan nasional. Misi tersebut adalah menggerakan pembangunan berwawasan kesehatan di wilayah kerjanya, mendorong kemandirian hidup sehat bagi keluarga dan masyarakat di wilayah kerjanya,memelihara dan meningkatkan mutu, pemerataan, dan keterjangkauan pelayanan kesehatan yang diselenggarakan, memelihara dan meningkatkan kesehatan perorangan, keluarga dan masyarakat beserta lingkungannya.
1.4 Tujuan Puskesmas
Tujuan pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh Puskesmas adalah mendukung tercapainya tujuan pembangunan kesehatan nasional yakni meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang yang bertempat tinggal diwilayah kerja Puskesmas agar terwujud derajat
kesehatan yang setinggi-tingginya dalam rangka mewujudkan Indonesia Sehat 2010.
1.5 Fungsi Puskesmas
Sesuai dengan Sistem Kesehatan Nasional Puskesmas sebagai fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama mempunyai tiga fungsi yaitu pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan dimana Puskesmas harus mampu membantu menggerakkan dan memantau pembangunan berwawasan kesehatan, pusat pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan masyarakat agar mampu mengidentifikasi masalah, merencanakan dan melakukan pemecahannya, pusat pelayanan kesehatan tingkat pertama yang bersifat menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan.
1.6 Program Puskesmas di Era Desentralisasi
Program Puskesmas terdiri dari program kesehatan dasar yaitu Program Promosi Kesehatan, Program Kesehatan Ibu dan Anak, Program Keluarga Berencana, Program Pemberantasan Penyakit Menular, Program Peningkatan Gizi, Program Kesehatan Lingkungan, Program Pengobatan, dan program kesehatan pengembangan yaitu Program Penyuluhan Kesehatan Masyarakat, Program Laboratorium, Program Kesehatan Sekolah, Program Perawatan Kesehatan Masyarakat, Program Kesehatan Jiwa, dan Program Kesehatan Gigi.
Promosi Kesehatan. Tujuan : meningkatkan perilaku hidup sehat. Sasaran : masyarakat di wilayah kerja Puskesmas. Ruang lingkup kegiatan : pendidikan kesehatan pada masyarakat.
Program Kesehatan Ibu dan Anak akan dibahas pada kegiatan program kesehatan ibu dan anak di Puskesmas.
Keluarga Berencana, tujuan jangka panjang program KB adalah menurunkan angka kelahiran dan meningkatkan kesehatan ibu. Sasaran: pasangan usia subur. Ruang lingkup: mengadakan penyuluhan KB, menyediakan dan memasang alat-alat kontrasepsi, mengadakan kursus keluarga berencana untuk para dukun bersalin.
Pemberantasan penyakit menular. Tujuan: menemukan kasus penyakit menular sedini mungkin. Sasaran: ibu hamil, balita dan anak – anak sekolah untuk kegiatan imunisasi. Ruang lingkup kegiatan: surveilan epidemiologi, imunisasi dan pemberantasan vektor.
Peningkatan Gizi. Tujuan: meningkatkan status gizi masyarakat. Sasaran:
ibu hamil, ibu menyusui dan anak – anak yang berumur dibawah lima tahun.
Ruang lingkup kegiatan: menimbang berat badan balita, menimbang berat badan pada ibu hamil, pemberian makanan tambahan untuk balita yang kurang gizi, penyuluhan gizi, pembagian vitamin A untuk bayi, dan pemberian suplemen tablet besi untuk ibu hamil.
Kesehatan lingkungan. Tujuan: menanggulangi unsur – unsur fisik pada lingkungan sehingga faktor lingkungan yang kurang sehat tidak menjadi faktor timbulnya penyakit menular. Sasaran: tempat-tempat umum. Ruang lingkup kegiatan: memperbaiki sistem pembuangan kotoran manusia, menyediakan air bersih, pembuangan sampah, dan pengawasan tempat-tempat umum.
Pengobatan. Tujuan: memberikan pengobatan kepada masyarakat.
Sasaran: masyarakat diwilayah kerja Puskesmas. Ruang lingkup kegiatan:
menegakkan diagnosa, merujuk penderita dan meyelenggarakan Puskesmas keliling.
Penyuluhan kesehatan masyarakat. Tujuan: meningkatkan kesadaran penduduk akan nilai kesehatan. Sasaran: kelompok masyarakat yang berisiko tertular penyakit. Ruang lingkup kegiatan: kegiatan penyuluhan.
Laboratorium. Tujuan: memeriksa sediaan (spicement) darah, sputum, faeces dan urin. Sasaran: pasien yang berkunjung ke Puskesmas. Ruang lingkup kegiatan: mempersiapkan dan memeriksa sediaan (spicement) di Puskesmas, mengirimkan sediaan ketingkat pelayanan yang lebih tinggi.
Usaha kesehatan sekolah. Tujuan: meningkatkan derajat kesehatan anak dan lingkungan sekolah. Sasaran: murid dan lingkungan sekolah. Ruang lingkup kegiatan: pemeriksaan kesehatan secara berkala, mengupayakan lingkungan sekolah yang sehat, pendidikan kesehatan, P3K dan imunisasi.
Perawatan kesehatan masyarakat. Tujuan: memberikan pelayanan perawatan secara menyeluruh dan memberikan konseling kepada anggota keluarga. Sasaran: kelompok masyarakat dengan risiko tinggi dan penderita penyakit kronis. Ruang lingkup kegiatan: melaksanakan perawatan kesehatan perorangan, keluarga dan kelompok masyarakat.
Kesehatan jiwa. Tujuan: untuk mencapai tingkat kesehatan jiwa masyarakat secara optimal. Sasaran: penderita gangguan jiwa dan keluarganya.
Ruang lingkup kegiatan: mengenali penderita, memberikan pertolongan pertama, pengobatan, atau merujuk pasien ke Rumah Sakit Jiwa.
Kesehatan gigi. Tujuan: menghilangkan atau mengurangi gangguan kesehatan gigi dan mempertinggi kesadaran masyarakat tentang pemeliharaan kesehatan gigi. Sasaran: ibu hamil, anak – anak SD dan masyarakat dengan keluhan gangguan kesehatan gigi. Ruang lingkup kegiatan: melakukan pemeriksaan kesehatan gigi dan perawatan gigi secara rutin untuk anak – anak sekolah dan ibu hamil, penyuluhan kesehatan gigi di sekolah.
2. Kegiatan Program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) di Puskesmas
Tujuan umum dari Upaya Kesehatan Ibu dan Anak adalah menurunkan kematian (mortality) dan kejadian sakit (morbility) di kalangan ibu dimana kegiatan program ini ditujukan untuk menjaga kesehatan ibu selama kehamilan, pada saat bersalin dan saat ibu menyusui, meningkatkan derajat kesehatan anak, melalui pemantauan status gizi dan pencegahan sedini mungkin berbagai penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi dasar sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.
Tujuan ini di tingkat Puskesmas harus dijabarkan lagi sesuai dengan masalah kesehatan masyarakat dan faktor risiko yang berkembang diwilayahnya.
Sasaran, yang menjadi sasaran program Kesehatn Ibu dan Anak adalah ibu hamil, ibu menyusui, dan anak-anak sampai dengan umur 5 tahun. Kelompok-kelompok masyarakat ini sasaran primer program. Sasaran sekunder adalah dukun bersalin dan kader kesehatan.
Ruang lingkup kegiatan, kegiatan Kesehatan Ibu dan Anak terdiri dari kegiatan pokok dan integratif. Kegiatan integratif adalah kegiatan program lain
(misalnya kegiatan imunisasi merupakan kegiatan pokok Pemberantasan Penyakit Menular) yang dilaksanakan pada program Kesehatan Ibu dan Anak karena sasaran penduduk Pemberantasan Penyakit Menular (ibu hamil dan anak-anak) juga menjadi sasaran program Kesehatan Ibu dan Anak.
Kegiatan pokok dari Program Kesehatan Ibu dan Anak adalah memeriksa kesehatan ibu hamil, mengamati perkembangan dan pertumbuhan anak-anak balita, integrasi dengan program gizi, memberikan nasihat tentang makanan, mencegah timbulnya masalah gizi karena kekurangan protein dan kalori dan memperkenalkan jenis makanan, tambahan (vitamin dan garam yodium). Integrasi program PKM (konseling) dan Gizi , memberikan pelayanan KB kepada pasangan usia subur. Integrasi program KB, merujuk ibu-ibu atau anak-anak yang memerlukan pengobatan. Integrasi program pengobatan, memberikan pertolongan persalinan dan bimbingan selama masa nifas, integrasi dengan program perawatan kesehatan masyarakat mengadakan latihan untuk dukun bersalin dan kader kesehatan Posyandu. (Muninjaya, 2004).
3. Peran dan Fungsi Perawat Kesehatan Masyarakat 3.1. Pengertian Perawat Kesehatan Masyarakat
Menurut The American Public Health Association perawat kesehatan masyarakat adalah praktek dari promosi dan perlindungan populasi dengan menggunakan pengetahuan keperawatan, ilmu sosial dan kesehatan masyarakat (Stanhope dan Lancaster, 2000)
Perawat Kesehatan di Puskesmas adalah semua perawat Puskesmas yang menjabat sebagai pejabat fungsional perawat dan bekerja di Puskesmas yang disebut dengan Perawat Puskesmas. (Dep Kes RI, 2004)
3.2. Peran dan Fungsi Perawat Puskesmas
Dalam rancangan pedoman kegiatan perawat kesehatan masyarakat di Puskesmas tentang peran dan fungsi perawat di Puskesmas, Perawat Puskesmas yang profesional adalah perawat yang memiliki latar belakang pendidikan serta kompetensi dibidang keperawatan komunitas untuk dapat menerapkan 12 peran dan fungsinya.
Untuk dapat meningkatkan kinerjanya, perawat Puskesmas diharapkan minimal dapat melaksanakan enam perannya, yaitu memberi pelayanan kesehatan, sebagai pemberi pelayanan kesehatan perawat Puskesmas memberikan pelayanan kesehatan kepada individu, keluarga, kelompok/ masyarakat berupa asuhan keperawatan kesehatan masyarakat yang utuh, meliputi pemberian asuhan pada pencegahan tingkat pertama, tingkat kedua maupun tingkat ketiga. Asuhan keperawatan yang diberikan baik asuhan langsung kepada klien maupun tidak langsung diberbagai tatanan pelayanan kesehatan antara lain klinik Puskesmas, ruang rawat inap Puskesmas, Puskesmas pembantu, Puskesmas keliling, Posyandu, keluarga dan lain–lain.
Penemu Kasus, sebagai penemu kasus perawat Puskesmas berperan dalam mendeteksi dan menemukan kasus serta melakukan penelusuran terjadinya penyakit. Dapat dilakukan dengan pengembangan sistem pencatatan dan
pelaporan rutin, survei khusus untuk penyakit menular tertentu, bekerjasama dengan masyarakat dan didukung program kesehatan lingkungan untuk memberantas vektor.
Pendidik/Penyuluhan Kesehatan, pembelajaran merupakan dasar dari pendidikan kesehatan yang berhubungan dengan semua tahap kesehatan dan semua tingkat pencegahan. Sebagai pendidik kesehatan, perawat Puskesmas mampu mengkaji kebutuhan pasien / klien, mengajarkan agar melakukan pencegahan tingkat pertama dan peningkatan kesehatan pasien / klien kepada individu, keluarga, kelompok / masyarakat, pemulihan kesehatan dari suatu penyakit, menyusun program penyuluhan / pendidikan kesehatan, baik untuk topik sehat maupun sakit, seperti nutrisi, latihan / olah raga, manajemen stress, penyakit dan pengolahan penyakit, dan lain-lain, memberikan informasi yang tepat untuk kesehatan dan gaya hidup antara lain informasi yang tepat tentang penyakit, pengobatan dan lain – lain, serta menolong pasien / klien menyeleksi informasi kesehatan yang bersumber dari buku – buku, televisi, atau teman.
Koordinator dan Kolaboratur, perawat Puskesmas melakukan koordinasi terhadap semua pelayan kesehatan yang diterima oleh keluarga dari berbagai program, dan bekerjasama dengan keluarga dalam perencanaan pelayanan keperawatan serta sebagai penghubung dengan institusi pelayanan kesehatan dan sektor terkait lainnya.
Konselor Keperawatan, tujuan konseling adalah pencegahan masalah secara efektif. Konseling efektif dapat dilakukan bila didasari adanya hubungan yang positif antara konselor dengan pasien / klien dan kesediaan konselor untuk
membantu. Dalam fungsinya sebagai konselor, perawat Puskesmas membantu pasien/klien untuk mencari pemecahan masalah kesehatan atau perubahan perilaku yang terjadi dan dihadapi pasien / klien. Pemberian konseling dapat dilakukan di klinik Puskesmas, Puskesmas pembantu, rumah pasien / klien, posyandu dan tatanan pelayanan kesehatan lainnya dengan melibatkan individu, keluarga, kelompok, masyarakat. Kegiatan yang dapat dilakukan perawat Puskesmas antara lain menyediakan informasi, mendengar secara objektif, memberi dukungan, memberi asuhan dan meyakinkan pasien / klien, menolong pasien / klien mengidentifikasi masalah dan faktor – faktor yang terkait, memandu klien menggali permasalahan dan memilih pemecahan masalah yang dapat dikerjakan.
Panutan atau Model Peran (role model), perawat Puskesmas sebagai panutan atau “Role Model” di maksudkan bahwa perilakunya sehari-hari dicontoh oleh orang lain. Panutan ini digunakan pada semua tingkatan pencegahan terutama Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Kegiatan yang dapat dilakukan antara lain memberi contoh praktek menjaga tubuh yang sehat baik fisik maupun mental seperti makan, makanan bergizi, menjaga berat badan, olah raga secara teratur, tidak merokok, menyediakan waktu untuk istirahat setiap hari, komunikasi efektif, dan lain – lain. Disamping itu, perawat Puskesmas juga harus menampilkan profesionalismenya dalam bekerja yaitu dengan menerapkan kode etik keperawatan, menggunakan pendekatan sistematik dan efektif dalam pengambilan keputusan .
Dengan meningkatkan pendidikan dan kompetensi perawat Puskesmas, secara bertahap peran dan fungsi perawat Puskesmas juga dapat ditingkatkan, yaitu sebagai pemodifikasi lingkungan, perawat Puskesmas melakukan kerjasama atau konsultasi dengan berbagai pihak terutama tenaga kesehatan lain untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat baik disarana kesehatan maupun dikeluarga/ masyarakat.
Konsultan, sebagai konsultan perawat Puskesmas memberikan nasehat profesional, pelayanan, atau informasi kepada pasien / klien untuk menolong memecahkan masalah spesifik atau meningkatkan keterampilan pasien / klien.
Konsultasi merupakan proses interaksi atau komunikasi sementara antara dua orang atau lebih. Dalam perannya sebagai konsultan, perawat Puskesmas dapat memberikan panduan untuk pemecahan masalah keperawatan, peningkatan keterampilan keperawatan, peningkatan kesehatan, dan lain – lain. Konsultasi dapat digunakan untuk semua tingkatan pencegahan.
Advokasi, perawat Puskesmas mampu melakukan advokasi dalam rangka pemberdayaan pasien / klien dan peningkatan pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan pasien / klien. Kegiatan yang dilakukan oleh perawat Puskesmas antara lain merancang pelayanan kesehatan untuk pasien / klien yang tidak mampu melakukannya, berperan serta dalam perencanaan. Peningkatan sumber daya masyarakat untuk kesehatan, kerjasama dengan tenaga kesehatan lain, menolong pasien / klien menggunakan sunberdaya kesehatan seoptimal mungkin.
Manajer Kasus, sebagai manajer perawat Puskesmas menggunakan kemampuan spesifik untuk mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan lain untuk
mencapai tujuan asuhan. Manajemen yang efektif dapat menolong mencapai tujuan dalam setiap tingkat pencegahan. Kegiatan yang dilakukan antara lain melakukan supervisi terhadap asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien/klien maupun terhadap anggota tim lainnya, seperti kader kesehatan.
Peneliti, perawat Puskesmas seharusnya mengidentifikasi masalah-masalah kesehatan yang ditemukan dan mencari solusi yang terbaik melalui proses penyelidikan yang ilmiah. Penelitian digunakan untuk menyelidiki topik yang terkait dengan pencegahan tingkat pertama, kedua, ketiga, baik pada individu, keluarga, kelompok maupun masyarakat. Kegiatan yang dilakukan antara lain mengajukan penelitian keperawatan, kesehatan masyarakat, pelayanan kesehatan yang terkait dengan praktik keperawatan, menggunakan kriteria yang ditetapkan untuk mengevaluasi hasil-hasil studi, membaca dan mengkritisi laporan penelitian secara teratur, berpartisipasi dalam penelitian lain seperti epidemiologi.
Pemimpin dan Pembaharu, perawat Puskesmas diharapkan mampu mempengaruhi klien dan pihak lain untuk mencapai tujuan pelayanan yang telah ditetapkan dan berupaya menciptakan perubahan. Perawat Puskesmas menggunakan kepemimpinannya untuk mencapai tujuan pelayanan dalam semua tingkat pencegahan. Kegiatan yang dilakukan antara lain memberi masukan proses pengambilan keputusan untuk pasien / klien dan anggota tim lain, menstimulasi minat terhadap promosi kesehatan melalui asuhan keperawatan pada ketiga tingkat pencegahan, memberikan informasi yang terkait dengan promosi kesehatan kepada pasien / klien dan tenaga kesehatan lain, mendukung program promosi kesehatan dan lain-lain.
Skema 1 : Gambar peran dan fungsi minimal dan ideal perawat kesehatan masyarakat.
Keterangan:
Peran dan fungsi minimal
Peran dan fungsi ideal (Dep Kes RI, 2004) Manajer kasus
Klien Pemimpin/
Pembaharuan
Role model Konsultan
Konselor
Pemodifikasi lingkungan Penemu kasus
Pemberi Pelayanan
pelayana Advokasi
Peneliti Pendidik
kesehatan
Koordinator penghubung
4. Peran dan Fungsi Perawat dalam Pelaksanaan Ante Natal Care.
4.1. Pengertian Ante Natal Care
Ante Natal Care adalah kegiatan promosi dan penyuluhan, deteksi dan penatalaksanaan komplikasi secara dini (WHO, 2003)
Ante Natal Care adalah pelayanan kesehatan yang diberikan kepada ibu hamil selama masa kehamilannya sesuai dengan standart pelayanan yang dilaksanakan oleh tenaga profesional (Suparta, 2005)
4.2. Tujuan Ante Natal Care
Tujuan umum adalah menyiapkan seoptimal mungkin fisik dan mental ibu dan anak selama dalam kehamilan, persalinan, dan nifas, sehingga didapatkan ibu dan anak yang sehat.
Tujuan khusus adalah mengenali dan menangani penyulit-penyulit yang mungkin dijumpai dalam kehamilan, persalinan dan nifas, mengenali dan mengobati penyakit-penyakit yang mungkin diderita sedini mungkin, menurunkan angka morbiditas dan mortabilitas ibu dan anak memberikan nasihat-nasihat tentang cara hidup sehari-hari dan keluarga berencana, kehamilan, persalinan, nifas dan laktasi.
4.3. Pemeriksaan ibu hamil
Pemeriksaan kehamilan adalah pemeriksaan pertama kali yang ideal adalah sedini mungkin ketika haidnya terlambat satu bulan, periksa ulang 1 x sebulan sempai kehamilan 7 bulan, periksa ulang 2 x sebulan sampai kehamilan 9 bulan, periksa ulang setiap minggu sesudah kehamilan 9 bulan, periksa khusus bila ada keluhan-keluhan.
Pemeriksaan ibu hamil terdiri dari anamnesa identitas isteri dan suami : nama, umur, agama, pekerjaan, alamat, dan sebagainya. Anamnesa umum tentang keluhan-keluhan makan, tidur, miksi, defekasi, perkawinan, tentang haid, kapan mendapat haid terakhir (HT). Bila hari pertama haid terakhir diketahui, maka dapat dijabarkan taksiran tanggal persalinan memakai rumus Naegele : hari + 7, bulan – 3, dan tahun + 1, tentang kehamilan, persalinan, keguguran, dan kehamilan ektopik atau kehamilan mola sebelumnya.
Pemeriksaan Fisik, inspeksi / pemeriksaan umum meliputi pengukuran tinggi badan, menimbang berat badan yang dilakukan pada kunjungan pertama, tekanan darah, nadi, suhu dan sebagainya.
Palpasi, ibu hamil disuruh berbaring telentang, kepala dan bahu sedikit lebih tinggi dengan memakai bantal. Pemeriksa berdiri di sebelah kanan ibu hamil. Dengan sikap hormat lakukan palpasi bimanual terutama pada pemeriksaan perut dan payudara. Manuver palpasi menurut Leopold I: pemeriksaan menghadap kearah muka ibu hamil, menentukan tinggi fundus uteri dan bagian janin dalam fundus, konsistensi uterus. Leopold II : menentukan batas samping rahim dan kanan-kiri, menentukan letak punggung janin, pada letak lintang, tentukan dimana kepala janin Leopold III : menentukan bagian terbawah janin, apakah bagian terbawah tersebut sudah masuk atau masih goyang. Leopold IV : pemeriksaan menghadap kearah kaki ibu hamil, bisa juga menentukan bagian terbawah janin apa dan berapa jauh sudah masuk pintu atas panggul.
Auskultasi digunakan stetoskop monoral (stetoskop obstetrik) untuk mendengarkan denyut jantung janin (djj). Yang dapat kita dengarkan adalah : Dari janin : djj pada bulan ke 4-5, bising tali pusat, gerakan dan tendangan janin Dari ibu : bising rahim (uterine souffle), bising aorta, peristaltik usus.
Pemeriksaan Dalam: Vaginal taocher (VT), Rectal toucer (RT). Indikasi pemeriksaan dalam adalah untuk menentukan keadaan kehamilan atau persalinan, sebelum ditinggalkan oleh penolong, jika pada pemeriksaan luar, kedudukan janin tidak dapat ditentukan, jika ada sangkaan kesempitan panggul, jika karena sesuatu, persalinan tidak maju-maju, jika diambil tindakan obstetri operatif.
4.4. Nasihat-nasihat untuk Ibu Hamil
Makanan (Diet) ibu hamil, wanita hamil dan menyusui harus betul-betul perhatikan susunan dietnya, terutama mengenai jumlah kalori, protein yang berguna untuk pertumbuhan janin dan kesehatan ibu. Kekurangan nutrisi dapat menyebabkan anemia, abortus, partus prematurus, perdarahan pasca persalinan dan lain-lain. Sedangkan makan berlebihan, karena dianggap untuk dua orang, ibu dan janin dapat mengakibatkan komplikasi seperti gemuk, pre-eklamsi, janin besar, dan sebagainya. Zat-zat yang diperlukan protein, karbohidrat, zat lemak, mineral, atau bermacam-macam garam terutama kalsium, fosfor, dan zat besi (Fe), vitamin, dan air.
Semua zat tersebut diatas kita peroleh dari makanan yang kita makan sehari-hari dan pengobatan tambahan yang diberikan bila ada kekurangannya.
Yang penting diperhatikan sebenarnya yaitu cara mengatur menu dan cara pengolahan menu makanan.
Menu disusun menurut petunjuk baku “4 sehat 5 sempurna” dan dapat diketahui bahwa makanan yang mahal harganya belum tentu tinggi nilai gizinya, sebaliknya banyak bahan makanan yang murah harganya, namun mempunyai nilai gizi yang tinggi. Hendaknya selalu makan sayur-sayuran dan buah-buahan yang berwarna, karena nilai gizinya tinggi untuk kesehatan.
Banyak wanita berpendapat bahwa selagi hamil makan dikurangi. Karena mereka takut menjadi besar sehingga sulit melahirkan. Pendapat ini tidak mempunyai dasar, sebenarnya ibu hamil memerlukan tambahan beberapa zat-zat untuk pertumbuhan janinnya agar sehat, dan ini hanya bisa diperoleh dari makanan.
Makanan diperlukan antara lain untuk pertumbuhan janin, plasenta, uterus, buah dada, dan kenaikan metabolisme. Anak aterm memerlukan 400 g protein, 20 g lemak, 80 g karbohidrat, dan 40 mineral. Uterus dan plasenta membutuhkan masing-masing 500 g dan 55 g protein. Kebutuhan total protein 950 g, kalsium 30 g, Fe 0,8 g, dan asam folik 300 g per hari.
Sebagai pengawasan, kecakupan gizi ibu hamil dan pertumbuhan kandungannya dapat diukur berdasarkan kenaikan berat badannya. Kenaikan berat badan rata-rata antara 6,5 sampai 16 kg (10-12 kg). Kenaikan berat badan yang berlebihan atau bila berat badan itu turun setelah kehamilan triwulan kedua, haruslah menjadi perhatian.
Obat-obatan jika mungkin dihindari pemakaian obat-obatan selama kehamilan terutama dalam triwulan I. Perlu dipertanyakan mana yang lebih besar
manfaatnya dibandingkan bahayanya terhadap janin, oleh karena itu harus dipertimbangkan pemakaian obat-obatan tertentu.
Perubahan psikologis, ketenangan jiwa penting dalam menghadapi persalinan. Karena itu dianjurkan bukan saja melakukan latihan-latihan fisik namun juga latihan kejiwaan untuk menghadapi persalinan. Walaupun peristiwa kehamilan dan persalinan adalah suatu hal yang fisiologis, namun banyak ibu-ibu yang tidak tenang, merasa khwatir akan hal yang fisiologis. Untuk itu perawat
Perubahan psikologis, ketenangan jiwa penting dalam menghadapi persalinan. Karena itu dianjurkan bukan saja melakukan latihan-latihan fisik namun juga latihan kejiwaan untuk menghadapi persalinan. Walaupun peristiwa kehamilan dan persalinan adalah suatu hal yang fisiologis, namun banyak ibu-ibu yang tidak tenang, merasa khwatir akan hal yang fisiologis. Untuk itu perawat