• Tidak ada hasil yang ditemukan

Integrasi Teori dan Konsep Keperawatan dalam Proses

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 35-39)

BAB I PENDAHULUAN

BAB 2 APLIKASI TEORI KEPERAWATAN PADA ASUHAN

2.3 Integrasi Teori dan Konsep Keperawatan dalam Proses

Model Konservasi Levine adalah suatu model keperawatan yang menjembatani antara teori dengan praktik keperawatan. Teori ini mengajak perawat untuk memahami rasional setiap tindakan yang dilakukan. Model ini dapat digunakan pada berbagai pasien dengan berbagai dan berbagai seting klinis. Hal ini dibuktikan dari berbagai studi yang menggunakan Model Konservasi Levine dalam berbagai seting klinis (Alligood, 2014). Beberapa contoh studi yang menggunakan Model Konservasi Levine yaitu pada proses penyapihan penggunaan ventilator lama pasien dewasa, pada studi tentang efek benadril terhadap tidur pasien anak dengan luka bakar, dan untuk mengevaluasi pola kerja perawat Neonatal Intensive Care Unit (NICU) (Dellmore, 2003; Yangzom, 2012; Mefford & Alligood, 2011).

Ada tiga konsep utama dari Model Konservasi Levine yaitu meliputi konservasi, adaptasi dan keutuhan. Levine mendefenisikan konservasi yang berarti melindungi, menyelamatkan dan mempertahankan kehidupan (Alligood, 2014). Model ini menerapkan konservasi dalam praktik asuhan keperawatan melalui konservasi energi, integritas struktur, integritas personal dan sosial. Konservasi energi pada neonatus meliputi konservasi energi terkait lingkungan internal (proses fisiologis) dan lingkungan eksternal. Adaptasi didefenisikan sebagai sebuah proses perubahan integritas karena lingkungannya. Adaptasi antara lingkungan internal dan eksternal menyebabkan pengeluaran energi yang besar pada neonatus. Bayi membutuhkan bantuan perawat untuk mencapai adaptasi dengan manajemen neonatus untuk meminimalkan pengeluaran energi dan upaya peningkatan energi dari pemberian nutrisi untuk mencapai keutuhan (wholeness) (Mefford & Alligood, 2011).

Cong (2006) mengaplikasikan Model Konservasi Levine pada studinya tentang efektifitas PMK sebagai penurun nyeri pada bayi prematur yang

mendapat prosedur penusukan tumit. Penggunaan metode nyeri ini sesuai dengan prinsip konservasi energi Levine karena respons bayi terhadap nyeri dapat mengakibatkan peningkatan frekuensi nadi dan konsumsi oksigen sehingga penggunaan energi lebih banyak. Efek jangka panjang nyeri juga dipercaya dapat mengakibatkan gangguan perkembangan saraf-saraf sehingga berisiko terhadap keterlambatan perkembangan. Studi oleh Tessier et al. (2003 dalam Cong, 2006) membuktikan bahwa ada keterlambatan perkembangan pada bayi yang mendapatkan prosedur nyeri secara berulang pada usia 6 bulan.

Studi Cong (2006) menunjukkan bahwa nyeri dapat mengganggu konservasi energi karena penggunaan energi yang lebih besar saat nyeri dan konservasi integritas struktur karena efek nyeri yang mempengaruhi fungsi fisiologis dan risiko terhadap kerusakan otak. Gangguan terhadap konservasi integritas personal dan sosial dijelaskan oleh Yamada et al. (2008) yang menyatakan bahwa nyeri jangka panjang dapat mempengaruhi perkembangan fisiologis, sosial, dan kognitif. Pendapat ini diperkuat oleh hasil studi Lahti et al. (2011) yang menyatakan bahwa nyeri dapat menyebabkan gangguan personal, pribadi anti sosial, dan masalah emosi saat dewasa.

Model Konservasi Levine sangat bermanfaat untuk mengeksplorasi efek pada bayi yang dirawat di ruang NICU, hubungan perawat dan orangtua, kemampuan orangtua mengatasi hingga beradaptasi dengan stres yang dirasakan selama bayi dirawat hingga pulang ke rumah. Prinsip konservasi yang dijalankan perawat dalam memberikan asuhan ditujukan untuk mencapai keutuhan individu, sehingga teori ini sangat tepat untuk dijadikan standar perawatan pada neonatus terutama bayi prematur (Foy, 2013).

2.3.2 Proses Keperawatan berdasarkan Model Konservasi Levine

Proses keperawatan memberikan panduan sistematis bagi perawat untuk memberikan asuhan keperawatan kepada klien. Model keperawatan digunakan di dalam proses keperawatan sebagai kerangka rujukan dan penggunaan keterampilan berfikir kritis sesuai dengan fokus dan tujuan model keperawatan yang digunakan (Christensen & Kenney, 2009).

Tahapan proses keperawatan berdasarkan Model Konservasi Levine meliputi pengkajian yang terdiri dari pengumpulan data baik melalui wawancara ataupun obervasi terhadap tantangan dari lingkungan berdasarkan prinsip konservasi energi, integritas struktural, integritas personal dan integritas sosial. Tugas perawat pada tahap pengkajian adalah mengobservasi respons pasien terhadap kondisi sakitnya, membaca rekam medis, dan mengevaluasi pemeriksaan diagnostik. Perawat mengkaji tantangan yang dihadapi pasien baik dari lingkungan internal maupun eksternal. Data dari hasil pengkajian yang dikumpulkan akan membimbing perawat dalam membuat keputusan untuk diagnosis keperawatan yang disebut trophicognosis.

Proses selanjutnya adalah hipotesis yaitu perawat membuat intervensi keperawatan terhadap masalah yang dihadapi pasien untuk membantu proses adaptasi pasien dan mencapai kondisi sehat. Hipotesis yang dirumuskan kemudian diuji dengan cara perawat melakukan intervensi yaitu menggunakan hipotesis dalam perawatan langsung kepada pasien sesuai dengan prinsip konservasi energi, integritas struktur, integritas personal dan integritas sosial. Akhir proses keperawatan dilakukan evaluasi dengan melihat respons individu terhadap intervensi yang diberikan. Evaluasi dilakukan dengan melihat hasil dari respons individu terhadap mendukung atau tidak mendukung hipotesis. Hasil yang dapat dicapai berupa peningkatan kondisi kesehatan dan meningkatkan kenyamanan individu. Bila hasil evaluasi tidak mendukung hipotesis maka perawat dapat mengusulkan hipotesis atau rencana tindakan keperawatan lainnya (Alligood, 2014).

Skema 2.1 Integrasi Model Levine dan Proses Keperawatan Nyeri Neonatus

Bayi sakit:

Hiperbilirubinemia, Sepsis neonatorum, Sindrom distres pernapasan, Apnoe of

prematurity, Kejang neonatal, dll

Tercapainya wholeness (keutuhan) dengan tanda-tanda peningkatan kenyamanan bayi saat prosedur nyeri yang ditandai dengan:

- Perubahan fisiologis tubuh akibat nyeri minimal - Nyeri yang dirasakan lebih ringan

Proses adaptasi

Trophicognosis: Nyeri akut

Hospitalisasi

Pengkajian:

Pengkajian tantangan lingkungan internal dan eksternal, konservasi energi, integritas struktur, integritas personal, dan integritas sosial

Mengalami berbagai prosedur nyeri akut berulang

Hipotesis: Rencana keperawatan meningkatkan kenyamanan bayi untuk menurunkan risiko keterlambatan perkembangan akibat nyeri dengan manajemen nyeri non farmakologis

(penggunaan NNS dan pijat ekstremitas)

Intervensi keperawatan dengan menerapkan prinsip konservasi: - Memberikan empeng 2 menit sebelum dan selama prosedur nyeri

- Memberikan pijat ekstremitas 2 menit sebelum prosedur nyeri kemudian membungkus ekstemitas dengan kassa hangat 1 menit sebelum penusukan

Penerapan Model Konservasi Levine

Mengalami berbagai prosedur nyeri akut berulang

Peningkatan frekuensi napas

Perubahan nadi dan saturasi O2

Peningkatan skor nyeri Respons stres bayi

Trophicognosis: Risiko

cidera

Trophicognosis:

ketidakefektifan pola napas

Trophicognosis: Risiko

keterlambatan perkembangan

2.4 Aplikasi Teori Keperawatan pada Kasus Terpilih

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 35-39)