UNIVERSITAS INDONESIA
PEMENUHAN RASA NYAMAN BAYI BARU LAHIR DENGAN
NON-NUTRITIVE SUCKING DAN PIJAT EKSTREMITAS
MELALUI PENERAPAN MODEL KONSERVASI LEVINE
KARYA ILMIAH AKHIR
HALIMAH NPM. 1306345882
FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN PROGRAM STUDI SPESIALIS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS INDONESIA
PEMENUHAN RASA NYAMAN BAYI BARU LAHIR DENGAN
NON-NUTRITIVE SUCKING DAN PIJAT EKSTREMITAS
MELALUI PENERAPAN MODEL KONSERVASI LEVINE
KARYA ILMIAH AKHIR
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ners
Spesialis Keperawatan Anak
HALIMAH NPM. 1306345882
FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN PROGRAM STUDI SPESIALIS KEPERAWATAN
Karya Ilmiah Ahhir ini adalah hasil karya saya sendiri, dan semua sumber baik
yang dikutip maupun dimir,rk telah saya nyatakan dengan benar.
Nama NPM Tanda tangan Tanggal Halimah 1 306345882 20
lwi
2016Yang bertanda tangan di bawah ini:
Nar-na
'I'empat. Tanggal Lahir
NIP Unit Kerja No. HP Alamat email : Halimah : Jarnbi. l7.lanLrari 1982 : 1 9820 1 112009022001
: RSUD Ahrnad Ripin Kabr"rpaten Muaro Jambi
:085366511117
: hali n"rah1'ard i i ambir@gm ai I . con-t
Dengan ini menlatakan clengan sebenarnl,a baht,t.a Karl'a Ilnriah Akhir sa)'a )'an-s berjriJul "Pemenuhan Rasa Nl,aman Bay'i Baru Lahir cletrgan Non-ntrtrilive Sucking dan Piiat Ekstremitas mclalui Penerapan Model Konsen'asi l.evine".
bebas dari plagiarisme clar.r blrkan hasil karl'a orang lain.
Apabila diker.r,udiar-r hari diternukan seluruh atau sebagian dari Karl'a Ihriah
Akhir
tersebut terdapat indikasi plagiarisme. sava bersedia nrenerit-na sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.Demikan pernyataan
ini
sa_v'-a buat dalam keadaan sadar tanpa paksaan dari siapapun.Mengetahui:
Pembimbing Karya Ilmiah Akhir
Dibuat di Depok Pada tanggal 28 .Iuni 2016
Yang Membuat Perni'at'.ran
(Halimah) (Yeni Rustina, S.Kp., M.App.Sc., Ph.D)
Karya Ilmiah Akhir ini diajukan oleh:
Nama NPM
Program Studi
Judul Karya Ilmiah Akhir
Halimalr
1306345882
Spesialis Keperawatan
Pemenuhan Rasa Nyaman Bayi Baru Lahir dengan Non-Nutritive Sucking
dan
Pijat
Ekstemitas melalui Penerapan Model Konservasi Levine Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Ners Spesialis Keperawatan Anak pada Program Studi Spesialis Keperawatan, Fakultas Ilmu Keperawatan, UniversitasIndonesia.
DEWAN PENGUJI
Supervisor Utama Yeni Rustina, S.Kp., M.App.Sc., Ph.D
Supervisor Fajar Tri Waluyanti, Ns., Sp.Kep.An., IBCLC
Penguji I dr. R. Adhi Teguh Perma Iskandar, Sp.A
Penguji 2
Ditetapkan di
Tanggal
Nurhayati, Ns., M.Kep., Sp.Kep.An
: Jakarta :201rru2016
Segala puji bagi Allah Subhanahu Wata’ala, karena berkat rahmat dan kemudahan dari Nya penulis dapat menyelesaikan Karya Ilmiah Akhir dengan judul Pemenuhan Rasa Nyaman dengan Non-Nutritive Sucking dan Pijat Ekstremitas melalui Penerapan Model Konservasi Levine. Banyak pihak yang terlibat dan membantu dalma proses penyusunan Karya Ilmiah ini, untuk itu penulis menyampaikan banyak terima kasih kepada:
1. Ibu Yeni Rustina, S.Kp., M.App.Sc., Ph.D., selaku Koordinator MA Karya Ilmiah Akhir dan supervisor utama yang dengan sabar membimbing mahasiswa serta menyediakan waktu, pikiran, dan tenaga untuk menghasilkan karya ilmiah akhir yang lebih baik;
2. Ibu Fajar Tri Waluyanti, S.Kp., M.Kep., Sp.Kep.An., selaku supervisor yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk memberikan bimbingan dan masukan dalam penyusunan karya ilmiah akhir;
3. Ibu Dra. Junaiti Sahar, S.Kp., M.App.Sc., Ph.D, selaku Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia;
4. Ibu Dr. Nani Nurhaeni, S.Kp., M.N., selaku Ketua Departemen Keperawatan Anak;
5. Supervisor ruang Infeksi RSUP Persahabatan, Non Infeksi dan Perinatologi RSAB Harapan Kita, dan Perinatologi RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta serta seluruh staf (tenaga kesehatan dan non kesehatan) yang membantu dalam pelaksanaan praktik ners spesialis;
6. Seluruh staf akademik dan non akademik Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia yang telah menyediakan fasilitas dan dukungan demi kelancaran praktik ners spesialis dan penulisan karya ilmiah akhir;
7. Suami dan keluarga tercinta yang selalu menemani, mendukung, dan mendo’akan selama proses hingga terselesaikannya penulisan karya ilmiah akhir;
8. Teman-teman Angkatan 2013 Magister Keperawatan Anak, teman-teman residensi Keperawatan Anak angkatan 2015, dan sahabat sepeminatan
9. Teman-teman Jambi yang memberikan dukungan dengan berbagai caranya serta semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah membantu kelancaran praktik ners spesialis dan penulisan karya ilmiah akhir ini.
Semoga Allah Subhanahu Wata’ala membalas kebaikan semua pihak dengan kemudahan urusan dunia dan akhirat. Penulis berharap semoga karya ilmiah akhir ini dapat bermanfaat untuk pengembangan ilmu keperawatan, khususnya keperawatan anak.
Depok, 20 Juni 2016 Penulis
Sebagai sivitas akademik Universitas Indonesia, saya yang bertanda tangan di bawah ini: Nama NPM Program Studi Kekhususan Fakultas Jenis Karya demi pengembangan IJniversitas Indonesia
Frce Right) atas karya Pemenuhan Rasa Ekstremitas melalui Halimah 130634s882 Ners Spesialis Keperawatan Anak Ilmu Keperawatan
Karya Ilmiah Akhir
ihnu pengetahuan. rnenyetujui untuk rnemberikan kepada Hak Bebas Rcyaiti Noneksklusif (Arone.xclusit,e
Royoh.;-ilmiah saya vang berjudul:
Nyaman
dengan Non-NutritiveSucking
dan
PijatPenerapan Model Konservasi Levine
Beserta perangkai yarrg ada fjika. diperlukan). Hak Bebas R.oyalti ini memberikan Universitas Indonesia
hak
untuk
nenyirnpan, mengalihmedia/fonnatkan, mcngelola dalan-rbentuk
pangkalanclata
(database),merawat,
danrnetnpublikasikan tugas akhir saya selama tctap ilencantumkan nama saya
sebagai pemilik Hak Cipta.
Dernikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat
di
: Depok Padatatggal
:
Juni 201 6ABSTRAK
Nama : Halimah
Program Studi : Ners Spesialis Keperawatan Anak
Judul : Pemenuhan Rasa Nyaman dengan Non-Nutritive Sucking
(NNS) dan Pijat Ekstremitas melalui Penerapan Model Konservasi Levine
Nyeri merupakan salah satu ketidaknyamanan yang sering dialami bayi yang dirawat di rumah sakit. Tujuan dari studi kasus ini adalah untuk menganalisis pemenuhan rasa nyaman neonatus dengan NNS dan pijat ekstremitas berdasarkan penerapan Model Konservasi Levine. Hasil dari pemenuhan rasa nyaman bayi dengan NNS atau pijat ekstremitas adalah terjadi penurunan skor nyeri dengan PIPP (Premature Infant Pain Profile), penurunan perubahan nilai saturasi oksigen, dan perubahan frekuensi nadi pada bayi yang dilakukan prosedur invasif. Penerapan Model Konservasi Levine pada masalah nyeri akut yang dialami bayi mendukung untuk konservasi energi, integritas struktur, integritas personal, dan integritas sosial. Studi tentang manajemen nyeri neonatus penting selalu dikembangkan untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan neonatus secara optimal.
Kata kunci: pemenuhan rasa nyaman, neonatus, Non-nutritive Sucking, pijat
ekstremitas, Model Konservasi Levine
ABSTRACT
Name : Halimah
Study Program : Pediatric Nurse Specialist
Title : Fulfill Comfort with Non - Nutritive Sucking (NNS) and Extremities Massage based Levine Conservation Model Application
Pain is a discomfort sensational that felt by hospitalized neonates. The purpose of this case study is to analyze the fulfill comfort of neoantus with NNS and extremities massage based Levine Conservation Model application. The results are decrease neonates pain score with PIPP (Premature Infant Pain Profile), decrease in oxygen saturation changes, and heart rate changes in infants with invasive procedures. Application of Levine Conservation Model in acute pain by infants support for energy conservation, structural integrity, personal integrity, and social integrity. The study of pain management for neonates need to always be developed to support neonatal growth and development optimally.
Keywords: fulfill of comfort, neonates, Non-Nutritive Sucking, extremities
massage, Levine Conservation Model
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL... i
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS... ii
PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME... iii
HALAMAN PENGESAHAN... iv
KATA PENGANTAR... v
PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI... vii
ABSTRAK... viii
ABSTRACK... ix
DAFTAR ISI... x
DAFTAR SKEMA... xii
DAFTAR TABEL... xiii
DAFTAR GRAFIK... xiv
DAFTAR LAMPIRAN... xv
BAB I PENDAHULUAN... 1
1.1 Latar Belakang... 1
1.2 Tujuan Penulisan... 5
1.3 Sistematika Penulisan... 6
BAB 2 APLIKASI TEORI KEPERAWATAN PADA ASUHAN KEPERAWATAN... 8 2.1 Gambaran Kasus... 8
2.1.1 Kasus Kelolaan 1 (Hiperbilirubinemia)... 8
2.1.2 Kasus Kelolaan 2 (Sepsis Neonatorum)... 9
2.1.3 Kasus Kelolaan 3 (Respiratory Distress Syndrome)... 10
2.1.4 Kasus Kelolaan 4 (Apnoe of Premturity)... 11
2.1.5 Kasus Kelolaan 5 (Kejang Neonatal)... 12
2.2 Tinjauan Teoritis... 13
2.2.1 Konsep Nyeri Neonatus... 13
2.2.2 Pengukuran Nyeri pada Neonatus... 14
2.2.3 Penatalaksanaan Nyeri pada Neonatus... 15
2.2.4 Aplikasi NNS dan Pijat Ekstremitas... 17
2.3 Integrasi Teori dan Konsep Keperawatan dalam Proses Keperawatan... 19 2.3.1 Model Konservasi Levine... 19
2.3.2 Proses Keperawatan berdasarkan Model Konservasi Levine.. 21
2.4 Aplikasi Teori Keperawatan pada Kasus Terpilih... 23
2.4.1 Apnoe of Premturity... 23
2.4.2 Pengkajian... 23
2.4.3 Trophicognosis... 25
2.4.4 Hipotesis... 26
BAB 3 PENCAPAIAN KOMPETENSI... 44
3.1 Target Kompetensi Perawat Klinik Spesialis... 44
3.2 Target Kompetensi selama Praktik Residensi... 45
3.2.1 Pencapaian Target Kompetensi Ruang Infeksi... 45
3.2.2 Pencapaian Target Kompetensi Ruang Non Infeksi... 46
3.2.3 Peencapaian Target Kompetensi Ruang Perinatologi... 47
3.3 Pembahasan Praktik Spesialis Keperawatan Anak dalam Pencapaian Kompetensi... 49 3.3.1 Praktik Etik dan Legal... 50
3.3.2 Praktik Keperawatan Profesional... 51
3.3.3 Kepemimpinan dan Manajemen... 54
3.3.4 Pendidikan dan Penelitian... 54
3.3.5 Pengembangan Kualitas Personal dan Profesional... 60
BAB 4 PEMBAHASAN... 61
4.1 Penerapan Teori Konservasi Levine dalam Asuhan Keperawatan Neonatus (Kasus Terpilih)... 61 4.1.1 Konservasi Energi... 63
4.1.2 Konservasi Integritas Struktur... 67
4.1.3 Konservasi Integritas Personal... 69
4.1.4 Konservasi Integritas Sosial... 70
4.2 Pembahasan Praktik Ners Spesialis Keperawatan Anak dalam Pencapaian Target... 71 BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN... 76
5.1 Kesimpulan... 77 5.2 Saran...
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
DAFTAR SKEMA
2.1 Integrasi Model Levine dan Proses Keperawatan dengan Nyeri pada Neonatus...
DAFTAR TABEL
2.1 Tabel Hipotesis By. Ny. M sesuai Trophicognosis... 26 2.2 Intervensi dan Respons Organismik untuk Trophicognosis
Ketidakefektifan Pola Napas...
31 2.3 Intervensi dan Respons Organismik untuk Trophicognosis Risiko
Cidera...
33 2.4 Intervensi dan Respons Organismik untuk Trophicognosis
Ketidakefektifan Termoregulasi...
35 2.5 Intervensi dan Respons Organismik untuk Trophicognosis Nyeri Akut... 37 2.6 Intervensi dan Respons Organismik untuk Trophicognosis
Ketidakcukupan ASI...
39 2.7 Intervensi dan Respons Organismik untuk Trophicognosis Risiko
Keterlambatan Perkembangan...
DAFTAR GRAFIK
3.1 Grafik Perubahan Nilai Saturasi Oksigen pada Bayi dengan Prosedur Nyeri...
57 3.2 Grafik Perubahan Nilai Frekuensi Nadi Bayi pada Prosedur Nyeri... 58 3.3 Grafik Perubahan Skor Nyeri Bayi dengan Prosedur Nyeri... 58
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Lampiran Kasus 1-4
Lampiran 2. Laporan Penerapan Evidence Based Nursing Lampiran 3. Biodata Penulis
1
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Neonatus merupakan kelompok usia dengan risiko tinggi mengalami masalah kesehatan. Masalah yang sering dialami neonatus dimulai dari proses adaptasi awal neonatus dari lingkungan intra uterin ke ekstra uterin. Perubahan fisiologis terberat bagi neonatus adalah ketika terjadi perubahan dari sirkulasi janin atau plasenta ke respirasi bayi secara mandiri. Bayi prematur tentunya mengalami kesulitan besar dalam adaptasi karena imaturitas organ tubuhnya. Kesulitan ini pun dapat dialami oleh bayi-bayi matur karena berbagai kemungkinan gangguan pada sistem atau organ tubuhnya. Masalah yang dialami setiap neonatus baik matur maupun prematur menyebabkan kebutuhan terhadap hospitalisasi dan berbagai bantuan tindakan untuk mempertahankan kehidupannya. Kebutuhan akan tindakan invasif baik dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi atau cairan serta pemeriksaan penunjang pun menjadi hal yang pasti dialami oleh bayi (Hockenberry & Wilson, 2009; Buonocore & Bellieni, 2008).
Hospitalisasi merupakan pengalaman yang traumatik yang menimbulkan ketidaknyamanan bagi bayi dan orang tuanya. Bayi dan anak dengan hospitalisasi di ruang rawat intensif berisiko terhadap gangguan perilaku saat dewasa (Peebles-Kleiger, 2000). Bayi-bayi dengan riwayat hospitalisasi lama memiliki kemungkinan keterlambatan tidak hanya pada pertumbuhan tetapi juga masalah perkembangan. Risiko ini muncul pada setiap bayi yang menjalani hospitalisasi akibat stimulasi yang berlebihan dan meningkat terutama pada bayi-bayi prematur. Masalah perkembangan yang sering dialami antara lain cerebral palsy, retardasi mental, kerusakan sensori seperti gangguan penglihatan atau pendengaran hingga disfungsi serebral seperti gangguan bahasa, gangguan belajar, hiperaktif, masalah penurunan perhatian dan masalah perilaku. Hal ini menyebabkan berbagai pengembangan ilmu pengetahuan sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas asuhan pada bayi-bayi berisiko tinggi terutama yang menjalani hospitalisasi (Cloherty,
Eichenwald, Hansen, & Stark, 2012; Rustina, 2015). Lahti et al. (2011) menyatakan dalam studinya bahwa hospitalisasi pada bayi dan anak-anak meningkatkan angka kejadian gangguan pertumbuhan dan perkembangan saat mereka dewasa. Hasil penelitiannya yang diambil dari hampir 9 ribu sampel didapatkan bahwa neonatus, bayi dan anak yang mengalami hospitalisasi berisiko lebih besar 42-47% mengalami masalah berat badan yang tidak sesuai (kurus) hingga usia 11 tahun dan 27-36% mengalami gangguan personal seperti anti sosial dan masalah emosi saat dewasa.
Semua neonatus yang menjalani hospitalisasi terutama di ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU) akan mengalami prosedur yang menyebabkan nyeri dan ketidaknyamanan (Walter-Nicolet, Annequin, Biran, Mitanchez, & Tourniaire, 2010). Yamada et al. (2008) menyatakan bahwa bayi merasakan prosedur nyeri secara berulang selama dirawat. Bayi-bayi yang menjalani hospitalisasi rata-rata mengalami prosedur nyeri yang berulang sekitar 10-14 prosedur sehari dengan hampir 53 prosedur pada 2 minggu pertama setelah kelahiran. Semua bayi bahkan bayi sehat pada awal kehidupan menerima pengalaman nyeri dengan injeksi vitamin K dan imunisasi (Nicolet, Annequin, Biran, Mitanchez & Tournitire, 2010). Prosedur nyeri akan lebih banyak dirasakan oleh bayi-bayi berisiko tinggi seperti pengambilan sampel darah vena dan arteri, penusukan tumit, pemasangan infus baik perifer atau sentral, intubasi, pemasangan ventilasi mekanik, lumbal pungsi, pemeriksaan Retinophaty of Prematurity (ROP) atau sirkumsisi (Yamada et al., 2008; Mitchell, 2003).
Saat melakukan praktik di RSAB Harapan Kita, perawat melihat terjadi penurunan saturasi oksigen hingga 50% pada bayi yang dilakukan pengambilan sampel darah vena. Hal ini menunjukkan respons ketidaknyamanan bayi terhadap prosedur yang dilakukan, sementara perawat melihat bahwa hampir setiap hari bayi mendapat prosedur nyeri akibat pemasangan infus atau pengambilan sampel darah untuk memenuhi kebutuhan atau evaluasi dari terapi yang sudah diberikan. Martins et al.
nyeri dapat menyebabkan konsekuensi negatif seperti memperburuk prognosis penyakit dan kegagalan intervensi bahkan gangguan perkembangan. Pengalaman nyeri pada neonatus dapat menyebabkan perubahan persepsi terhadap nyeri sehingga bayi berkemungkinan kelak merasakan episode nyeri kronik yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya. Hal ini berkontribusi terhadap konsekuensi jangka panjang untuk mempengaruhi perkembangan fisiologis, sosial dan kognitif yang tidak baik (Yamada et al., 2008). Buonocore dan Bellieni (2008) menambahkan bahwa stressor pada neonatus terutama yang disebabkan oleh nyeri yang terjadi berulang kali berisiko menyebabkan kerusakan pada jaringan otak.
Akibat lanjut yang dapat ditimbulkan dari nyeri pada neonatus menjadikannya satu hal penting yang harus diperhatikan tenaga kesehatan terutama perawat. Pemahaman perawat tentang pengkajian dan manajemen nyeri neonatus sangatlah penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan neonatus(Martins, Dias, Enumo, & Paula, 2013). Manajemen terhadap nyeri neonatus juga dimasukkan sebagai salah bagian penting dalam akreditasi pelayanan kesehatan internasional atau dikenal dengan Joint Comission Internasional (JCI). Berbagai rumah sakit besar bertaraf internasional pun memasukkan manajemen nyeri pada neonatus sebagai salah satu hal penting untuk meningkatkan kualitas asuhan bayi baru lahir (Yamada et al., 2008). Manajemen nyeri neonatus dapat dilakukan melalui beberapa metode yaitu metode non farmakologis dan farmakologis seperti analgesik topikal, dan analgesik sistemik. Beberapa studi telah menyatakan keefektifan dari masing-masing metode untuk jenis prosedur invasif yang dilakukan. Opioid terbukti efektif digunakan untuk nyeri akibat ventilasi mekanik, premedikasi untuk intubasi endotrakeal, sedangkan sukrosa atau non-nutritive sucking (NNS) efektif menurunkan nyeri pada prosedur penusukan tumit. Intervensi menggunakan musik, pembedongan, facilitated tucking, sentuhan positif, stimulasi multisensori, Perawatan Metode Kangguru (PMK), dan pemberian suplemen ASI juga dapat digunakan sebagai upaya manajemen nyeri akut pada neonatus (Yamada et al., 2008; Buonocore & Bellieni, 2008).
Campbell-Yeo (2011) dalam studinya menambahkan bahwa intervensi co-bedding pada bayi kembar dapat meningkatkan kenyamanannya saat dilakukan prosedur nyeri.
Pengembangan manajemen nyeri non farmakologis penting bagi perawat untuk meningkatkan kualitas asuhan terhadap bayi yang menjalani hospitalisasi. Beberapa studi membuktikan bahwa NNS terbukti efektif menurunkan nyeri dan beberapa alternatif penggunaan metode lain untuk manajemen nyeri neonatus. Penggunaan NNS sebelum dan selama penusukan tumit dapat menurunkan nyeri bayi secara signifikan. Efek mengisap merupakan stimulus bagi mulut dan reseptor mekanik untuk menurunkan transmisi implus nyeri (noseptif) yang merangsang sistem non opiod tubuh untuk menghasilkan analgesia sehingga berefek menurunkan nyeri (Liaw et al., 2010; Liaw et al., 2012). Hal ini didukung dengan kondisi lapangan yang didapatkan selama observasi. Beberapa bayi memiliki empeng sendiri yang biasa digunakan perawat pada saat bayi menangis untuk menenangkan bayi. Tetapi beberapa ada beberapa bayi yang tidak memiliki empeng. Setelah diklarifikasi ke perawat penanggung jawab pasien, ternyata ada sebagian orang tua yang tidak setuju dengan penggunaan empeng pada bayinya. Selain itu selama observasi residen keperawatan anak juga menemukan beberapa bayi dengan usia gestasi di bawah 30 minggu yang memiliki refleks isap sangat lemah. Kondisi menyebabkan perawat membutuhkan alternatif sebagai manajemen nyeri non farmakologis untuk bayi selain NNS.
Hasil studi dari Mirzarahimi, Mehrnoush, Shahizadeh, Samadi, dan Amani (2013) tentang penggunaan NNS dan pijat ekstremitas sebelum prosedur penusukan tumit memberikan kemungkinan alternatif manajemen nyeri selain NNS. Didukung dengan sumber daya yang ada bahwa sebagian besar perawat perinatologi telah mengikuti pelatihan pijat bayi maka residen keperawatan anak menjadikan pijat ekstremitas sebagai alternatif manajemen nyeri selain NNS. Pijatan lembut dapat mentransmisikan nyeri dan menutup gerbang nyeri, atau dengan menurunkan transmisi nosiseptif sehingga terjadi
kaki maupun NNS memiliki skor nyeri lebih rendah dibanding bayi kelompok yang dilakukan prosedur standar. Skor nyeri pada bayi dengan NNS didapatkan lebih rendah dibandingkan skor nyeri bayi yang mendapatkan intervensi pijat ekstremitas (Mirzarahimi et al., 2013).
Intervensi ini sesuai dengan prinsip model keperawatan dari Myra E. Levine tentang konservasi. Model konservasi yang dijelaskan dalam teori ini membimbing perawat dalam melakukan asuhan yang menerapkan konservasi energi, konservasi integritas struktur, integritas personal dan sosial (Alligood, 2014). Nyeri yang dirasakan oleh neonatus tentunya dapat meningkatkan kehilangan energi sehingga dapat menyebabkan penurunan berat badan. Nyeri pada neonatus juga dapat mempengaruhi perkembangan kognitif seperti risiko kerusakan pada jaringan otak sehingga merusak integritas struktur bayi (Yamada et al., 2008; Buonocore & Bellieni, 2008). Efek dari rasa ketidaknyamanan bayi dapat mengganggu integritas personal dan sosial yang dibuktikan pada studi Lahti et al. (2011) bahwa nyeri dapat menyebabkan gangguan personal seperti anti sosial dan masalah emosi saat dewasa.
Teori Levine sangat populer hingga banyak diaplikasikan dalam berbagai area pelayanan keperawatan termasuk perhatiannya dalam konservasi terhadap neonatus (Alligood, 2014). Intervensi NNS dan pijat ekstremitas sebagai metode manajemen nyeri ini diharapkan dapat menjadi alternatif dalam upaya pemenuhan rasa nyaman pada neonatus demi meningkatkan kualitas asuhan keperawatan sesuai prinsip penerapan Model Konservasi Levine.
1.2 Tujuan Penulisan 1.2.1 Tujuan Umum
Memberikan gambaran pemenuhan rasa nyaman dengan NNS dan pijat ekstremitas berdasarkan penerapan Model Konservasi Myra E. Levine dalam asuhan keperawatan neonatus.
1.2.2 Tujuan Khusus
a. Mendeskripsikan pengkajian pemenuhan rasa nyaman neonatus dengan penerapan Model Konservasi Myra E. Levine di Ruang Perinatologi RSAB Harapan Kita dan RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta
b. Mendeskripsikan trophicognosis tentang pemenuhan rasa nyaman neonatus dengan penerapan Model Konservasi Myra E. Levine di Ruang Perinatologi RSAB Harapan Kita dan RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta
c. Mendeskripsikan hipotesis tentang pemenuhan rasa nyaman neonatus dengan penerapan Model Konservasi Myra E. Levine di Ruang Perinatologi RSAB Harapan Kita dan RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta
d. Mendeskripsikan intervensi tentang pemenuhan rasa nyaman neonatus dengan penerapan Model Konservasi Myra E. Levine di Ruang Perinatologi RSAB Harapan Kita dan RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta
e. Menganalisis respons bayi pada setiap kasus dengan masalah pemenuhan rasa nyaman di Ruang Perinatologi RSAB Harapan Kita dan RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta
f. Memberikan gambaran pencapaian kompetensi residen keperawatan anak sebagai ners spesialis keperawatan anak di Ruang Perinatologi RSAB Harapan Kita dan RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta
1.3 Sistematika Penulisan
Karya Tulis Ilmiah ini disusun dalam 5 bab dengan sistematika penulisan sebagai berikut; (1) bab 1 berisi pendahuluan yang meliputi latar belakang, tujuan penulisan, dan sistematika penulisan, (2) bab 2 berisi aplikasi teori meliputi gambaran singkat tentang kasus yang dikelola residen keperawatan anak selama praktik residensi II, tinjauan teori terkait konsep asuhan keperawatan neonatus, manajemen nyeri neonatus serta aplikasi Model
kompetensi ners spesialis keperawatan anak selama pelaksanaan praktik residensi, (4) bab 4 berisi pembahasan berupa analisis penerapan Model Konservasi Myra E. Levine pada kelima kasus kelolaan, dan (5) bab 5 berisi kesimpulan dan saran tentang pelaksanaan praktik residensi selanjutnya.
BAB 2
APLIKASI TEORI KEPERAWATAN PADA ASUHAN KEPERAWATAN 2.1 Gambaran Kasus
2.1.1. Kasus Kelolaan 1 (Hiperbilirubinemia)
By. A usia gestasi (UG) 39 minggu lahir melalui proses seksio sesarea (SC) atas indikasi hipertensi pada ibu. Bayi lahir dirawat karena riwayat gangguan pernapasan, dengan berat lahir yaitu 2079 gram. Setelah 2 hari dirawat diketahui bahwa terdapat leukositosis dan hiperbilirubin dengan kadar bilirubin 14,2 mg/dl. Saat pengkajian usia kronologis 3 hari hasil pengukuran suhu 36,2o C, ASI belum ada sehingga bayi diberi susu formula BBLR 8x20 ml, saat dilakukan pengambilan sampel darah vena, bayi menangis keras, denyut nadi meningkat dan saturasi oksigen turun hingga 7-10 %. Saat hari pengkajian, orang tua belum berkunjung karena masih lemah dan dirawat di ruang rawat ibu pasca bersalin.
Trophicognosis yang dapat disimpulkan pada by. A antara lain, ketidakefektifan termoregulasi, ikterik neonatus, ketidakcukupan ASI, nyeri akut, dan risiko keterlambatan perkembangan. Intervensi untuk trophicognosis di atas antara lain mencegah kehilangan panas, mengoptimalkan pemberian terapi sinar dan pemenuhan kebutuhan cairan, memotivasi ibu untuk memberi ASI dan fasilitasi untuk PMK, meningkatkan pemenuhan kebutuhan nutrisi bayi, meningkatkan istirahat bayi, memposisikan bayi dan memberikan sentuhan untuk mengurangi nyeri saat bayi dilakukan pengambilan sampel darah, dan meningkatkan interaksi orang tua dan bayi.
Setelah dilakukan perawatan selama 4 hari, respons bayi yang dapat diobservasi yaitu suhu bayi stabil pada rentang 36,5 – 37,5oC, nilai bilirubin total bayi turun menjadi 10,9 mg/dl, ibu bersedia memompa ASI dan produksi ASInya meningkat sehingga mampu mencukupi seluruh kebutuhan enteral bayinya, skor nyeri dengan Prematuer Infant Pain
Profile (PIPP) menurun dari 7 menjadi 5 saat dilakukan tindakan invasif, orang tua sering berkunjung dan terlibat dalam perawatan bayi.
2.1.2. Kasus Kelolaan 2 (Sepsis Neonatorum)
Bayi F dengan UG 33 minggu (berat lahir 1508 gram) dan usia koreksi (UK) 36 minggu dirawat sejak tanggal 4 Maret 2016 dengan pasca operasi laparatomi akibat meconium plug yang menyebabkan perforasi intestinal saat usia 3 hari karena sepsis dan perburukan kondisi. Saat pengkajian tanggal 8 Maret 2016 bayi menangis lemah, ada apnea 1 kali selama 1 shift dan desaturasi berulang, trombositopenia 53.000/µl, saat dilakukan tindakan invasif terjadi penurunan saturasi oksigen hingga 75% dan peningkatan nadi hingga 180x/menit yang kemudian kembali semula setelah kurang lebih 1 menit setelah tindakan selesai. Berat bayi saat ini 1361 gram dan terpasang kolostomi. Perawat juga mengatakan bahwa orang tua hanya berkunjung di awal untuk mengurus administrasi saja.
Trophicognosis yang dapat disimpulkan dari kasus di atas adalah masalah ketidakefektifan pola napas, risiko cidera, risiko pertumbuhan tidak proporsional, nyeri akut, dan risiko keterlambatan perkembangan. Intervensi yang dilakukan antara lain upaya peningkatan kemampuan bernapas bayi, menerapkan kewaspadaan terhadap infeksi, memberikan tranfusi trombosit 2x25 ml dalam 12 jam, memenuhi kebutuhan nutrisi bayi, memberlakukan manajemen nyeri non farmakologis dengan NNS dan pijat ekstremitas, meminimalkan stimulasi negatif dan meningkatkan kenyamanan bayi antara lain dengan menutup inkubator untuk meminimalkan stimulasi cahaya, melakukan tindakan pada satu waktu dan memberikan periode istirahat.
Evaluasi berdasarkan respons bayi setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 4 hari yaitu apnea sudah tidak ada lagi, tidak ditemui adanya tanda-tanda infeksi tambahan dan perdarahan, desaturasi hanya terjadi 1 kali, bayi dapat mentoleransi nutrisi enteral yang diberikan, terjadi peningkatan
skor PIPP minimal yaitu sebelum penusukan skor nyeri 5 dan sesudah penusukan skor nyeri 6. Residen keperawatan anak belum dapat mengikutsertakan orang tua dalam perawatan bayi karena orang tua belum berkunjung.
2.1.3. Kasus Kelolaan 3 (Respiratory Distress Syndrome)
Bayi D dengan UG 32 minggu dan berat lahir 1495 gram. Bayi lahir melalui SC atas indikasi gawat janin, ketuban pecah 6 jam, dan oligohidramnion. Bayi lahir tidak segera menangis kemudian diberi bantuan pernapasan dengan dipasang CPAP 7 FiO2 30%. Hasil wawancara dengan perawat penanggung jawab bahwa bayi sebelumnya sering mengalami periode apnea dengan desaturasi hingga 40% dan bradikardia hingga 80x/menit saat dilakukan penusukan tumit oleh perawat. Suhu bayi saat ini 36,80C, namun sebelumnya ada riwayat 36,30C dan akral dingin.
Trophicognosis pada kasus di atas adalah ketidakefektifan pola napas, risiko cidera, ketidakefektifan termoregulasi, nyeri akut, dan risiko keterlambatan perkembangan. Intervensi yang dilakukan adalah upaya mendukung pernapasan bayi, memberikan posisi pronasi untuk meningkatkan saturasi, mencegah kehilangan panas dari dan ke lingkungan, memberikan NNS dan pijat ekstremitas saat prosedur nyeri, menerapkan asuhan perkembangan.
Evaluasi dari respons bayi dan orang tua setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 hari antara lain tidak ada apnea, saturasi oksigen stabil pada 88-92%, suhu terjaga dalam rentang normal 36,5°C – 37,5°C, penurunan skor nyeri bayi dengan PIPP dari 16 menjadi 11, bayi dapat mencapai tidur dalam (tenang) yaitu mata tertutup, tidak ada gerakan kecuali kedutan tubuh, dan tidak ada gerakan mata. Ayah bayi berinteraksi dengan bayi setiap hari karena ibu masih dirawat.
2.1.4. Kasus Kelolaan 4 (Apnoe of Prematurity)
By. M (laki-laki) dengan UG 35 minggu lahir melalui SC atas indikasi preeklampsia berat pada ibu dan takikardi janin. Saat lahir, bayi lahir tidak segera menangis, Apgar skor 9/10 kemudian diberi alat bantu napas CPAP dengan PEEP 7 FIO2 30%. Berat badan lahir bayi 1900 gram. Bayi sering mengalami apnea diiringi dengan desaturasi dan bradikardia yang butuh stimulasi perawat untuk kembali bernapas. Saat pengkajian tanggal 11 April 2016 bayi mengalami apnea 3 kali dengan desaturasi hingga 40% dan bradikardia hingga 90x/menit meski sudah menggunakan alat bantu napas, suhu bayi 38,8oC. Bayi mendapat susu BBLR, saat berkunjung ayah mengatakan ASI tidak disimpan karena sedikit. Saat bayi dilakukan tindakan invasif reaksi bayi menangis kemudian terjadi desaturasi hingga 60%, bradikardia hingga 90x/menit, dan skor nyeri bayi dengan PIPP adalah 10.
Trophicognosis yang dapat disimpulkan pada kasus di atas adalah ketidakefektifan pola napas, risiko cidera, ketidakefektifan termoregulasi, nyeri akut, ketidakcukupan ASI, dan risiko keterlambatan perkembangan. Intervensi keperawatan yang dilakukan adalah upaya meningkatkan kemampuan pernapasan, memberikan posisi supinasi/pronasi, mencegah kehilangan panas dari dan ke lingkungan, menjelaskan pentingnya ASI dan cara meningkatkan produksi ASI, memfasilitasi ibu untuk PMK, memberikan NNS atau pijat ekstremitas untuk manajemen nyeri non farmakologis saat prosedur nyeri, dan menerapkan asuhan perkembangan.
Respons bayi dan orang tua setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 hari antara lain apnea tidak ada lagi, saturasi oksigen rata-rata 94%, frekuensi nadi perifer 160x/menit, suhu bayi stabil dalam rentang normal 36,5oC – 37,5oC pada suhu inkubator 29 oC, bayi sudah mendapat ASI meski masih dibantu susu BBLR, skor nyeri bayi menurun, bayi dapat tidur tenang saat PMK dan waktu istirahat.
2.1.5. Kasus Kelolaan 5 (Kejang Neonatal)
By. Z, laki-laki, dengan diagnosis medis Sepsis Nenonatorum Awitan Dini (SNAD), kejang neonatal ec. Hypoxic Ischemic Encephalopathy (HIE), edema serebri. Lahir spontan dengan induksi pada usia kehamilan 42 minggu dan ketuban hijau lumpur di puskesmas dengan keadaan bayi lahir tidak menangis dengan apgar skor 2/3/6 diberi alat bantu napas CPAP PEEP 8 kemudian dirujuk oleh bidan ke RSCM. Setelah 5 hari rawat bayi mengalami perburukan dengan adanya episode apnea sehingga digunakan alat bantu pernapasan dengan ventilator dengan mode pressure assisst control. Bayi tampak lemah, suhu 37, 60C , dan cenderung tidur meskipun dilakukan tindakan invasif, namun terjadi penurunan saturasi oksigen dan peningkatan nadi, skor nyeri dengan PIPP 8. Pergerakan bayi tidak aktif dan tidak toleransi terhadap perubahan posisi, kulit di bawah lengan tampak merah, sesekali bayi membuka mata saat sebentar saat dilakukan pengisapan lendir dengan skor nyeri 5. Bayi saat ini tidak ada kejang tetapi masih dalam terapi kejang.
Trophicognosis yang dapat diangkat pada kasus di atas adalah ketidakefektifan pola napas, risiko hipertermia, risiko dekubitus, nyeri akut, dan risiko keterlambatan perkembangan. Intervensi yang diberikan adalah memantau pernapasan bayi dan respons terhadap seting alat bantu napas, memantau tanda-tanda infeksi atau kemungkinan penyebaran infeksi, mengubah posisi bayi setiap 3 jam sesuai toleransi, memberi bantalan pada bagian-bagian yang mengalami tekanan, memberikan NNS atau pijat ekstremitas saat prosedur nyeri atau ketidaknyamanan, dan menerapkan asuhan perkembangan.
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 hari, respons yang didapat antara lain menurunnya ketergantungan bayi terhadap ventilator, napas spontan 5-6x/menit, suhu normal 37,2oC (berkisar pada rentang 37,10C -37,40C), tidak terdapat luka lecet ataupun dekubitus, skor nyeri dengan PIPP menurun dari skor 8 menjadi skor 7, bayi dapat mencapai fase tidur
2.2 Tinjauan Teoritis
Asuhan keperawatan merupakan tugas utama perawat melalui pelaksanaan proses keperawatan. NANDA menjadi pegangan perawat untuk menegakkan diagnosis keperawatan sesuai dengan hasil pengkajian yang dilakukan. Taksonomi NANDA mengklasifikasikan diagnosis keperawatan berdasarkan domain-domain sesuai kebutuhan klien yaitu individu dan keluarga. Pemenuhan rasa nyaman berada dalam domain kenyamanan dalam taksonomi NANDA. Berdasarkan NANDA-I taksonomi II yang diadaptasi dari kerangka penilaian pola kesehatan fungsional Gordon, manajemen nyeri termasuk dalam upaya mencapai kenyamanan fisik (NANDA International, 2015). Nyeri didefinisikan oleh International Association for the Study of Pain sebagai suatu sensori yang tidak menyenangkan dan pengalaman emosional yang berpotensi atau aktual menyebabkan kerusakan jaringan (Gomella, Cunningham, & Eyal, 2013).
2.2.1 Nyeri pada Neonatus
Nyeri merupakan pengalaman subjektif dan ketidakmampuan bayi dalam berrespons secara verbal terutama pada bayi prematur menyebabkan orang menyimpulkan bahwa bayi prematur tidak merasakan nyeri. Anand dan Hickey (1980 dalam Walter-Nicolet et al., 2010) menyatakan bahwa bayi tidak dapat merasakan nyeri dan tidak akan mengingatnya saat ia dewasa sehingga bukan menjadi masalah yang perlu dipertimbangkan. Pandangan tradisional ini tidak sesuai dengan hasil studi riset yang menunjukkan bahkan bayi prematur mampu bereaksi dan mempersepsikan nyeri hampir sama dengan anak-anak bahkan pada dewasa (Walter-Nicolet et al., 2010; Wilson & Hockenberry, 2012).
Nyeri pada neonatus berbeda dengan orang dewasa. Pada neonatus aterm dan preterm terjadi immaturitas neurofisiologi dan kognitif. Impuls nyeri pada neonatus ditransmisikan oleh serabut C yang belum termielinisasi. Hal ini berbeda dengan impuls nyeri pada orang dewasa yang ditransmisikan oleh serabut delta A. Impuls nyeri ditransmisikan lebih
lambat dan jarak antara lokasi nyeri dan otak pada neonatus lebih pendek, sehingga neonatus baik preterm dan aterm lebih sensitif berrespons terhadap nyeri (Ball, Blinder, & Cowen, 2010). Persepsi nyeri memiliki komponen fisiologis dan psikologis yang sudah diterima bayi baru lahir dengan berrespons terhadap rangsangan nyeri (Wilson & Hockenberry, 2012). Saat bayi merasakan nyeri maka ini berarti sudah terjadi proses biokimia, reaksi fisiologis dan perilaku neonatus. Stimulus berlebihan dapat menyebabkan kerusakan jaringan, merangsang pelepasan biokimia seperti prostaglandin, serotonin, bradikinin dan histamin yang merangsang terjadinya refleks tubuh dan timbulnya persepsi nyeri (Gomella et al., 2013).
Pengetahuan berhasil membuktikan bahwa neonatus bahkan fetus mampu merasakan nyeri. Perkembangan saraf sensori untuk menghantarkan impuls nyeri sudah berkembang sejak usia gestasi 7,5 minggu. Kemampuan janin atau neonatus mempersepsikan nyeri semakin berkembang seiring dengan perkembangan fungsi sistem sarafnya. Hal ini menyebabkan pentingnya manajemen nyeri karena neonatus yang mengalami stimulus berat secara berulang akan menyebabkan gangguan fisiologis dan perilaku, serta mengubah sistem perkembangan saraf bayi (Gomella et al., 2013). Hal ini sejalan dengan hasil studi oleh Yamada et al. (2008) yang menyatakan bahwa nyeri yang dirasakan akan mempengaruhi fungsi fisiologis, sosial dan kognitif anak. Martins, Dias, Enumo, dan Paula (2013) menyatakan bahwa respons bayi terhadap nyeri dapat dinilai melalui perubahan fisiologis seperti perubahan frekuensi denyut jantung dan pernapasan, perubahan perilaku seperti menangis, ekspresi wajah, dan pergerakan tubuh.
2.2.2 Pengukuran Nyeri pada Neonatus
Pengkajian nyeri pada neonatus tidak bisa didapatkan melalui respons verbal, sehingga dikembangkan beberapa alat pengkajian nyeri yang
bayi. Adapun alat pengukuran nyeri neonatus yang sering digunakan antara lain CRIES (Crying, Requiring, Increased, Expression, dan Sleeplessness), PIPP (Premature Infant Pain Profile), dan NIPS (Neonatal Infant Pain Scale) (Cloherty et al., 2012).
CRIES merupakan alat pengkajian nyeri neonatus yang biasa digunakan untuk menilai skala nyeri neonatus pasca operasi. Skala ini dapat digunakan pada neoantus dengan rentang usia gestasi atau koreksi 32-60 minggu. Setiap indikator dinilai dengan rentang 0-2 sehingga nyeri terberat adalah 10. Skor nyeri 4 sudah dikategorikan dalam nyeri berat. Skala nyeri PIPP awalnya dikembangkan hanya untuk menilai nyeri pada bayi prematur namun beberapa studi membuktikan bahwa skala nyeri dengan PIPP terbukti efektif untuk pengukuran nyeri bayi aterm. Penilaian nyeri berdasarkan 7 hal yang diamati dengan rentang skor 0-3 sehingga total skor 21 merupakan nyeri terberat. NIPS merupakan alat pengukur nyeri untuk bayi dengan usia gestasi 28-38 minggu yang melibatkan observasi pada ekspresi wajah, tangisan, pola napas, tungkai dan tingkat kesadaran. Hampir semua hal yang diobservasi memiliki rentang skor 0-1 kecuali menangis yang memiliki rentang skor 0-2 sehingga total skor yang menunjukkan nyeri terberat adalah 7 dan 0 berarti tidak ada nyeri (Cloherty et al., 2012).
2.2.3 Penatalaksanaan Nyeri pada Neonatus
Tujuan penatalaksanaan nyeri pada neonatus adalah menggunakan intervensi untuk meminimalkan intensitas dan durasi nyeri, membantu neonatus mengelola dan mengatasi pengalaman nyeri yang dirasakan. Motta dan Cunha (2014) juga mengatakan bahwa manajemen nyeri yaitu upaya pencegahan dan pengontrolan nyeri seharusnya menjadi prioritas bagi setiap neonatus yang dirawat. Martins et al. (2013) menyatakan bahwa manfaat penatalaksanaan nyeri neonatus antara lain untuk meminimalkan konsekuensi negatif yang dapat ditimbulkan seperti
ketidakstabilan fisiologis bayi, memperburuk prognosis penyakit dan kegagalan intervensi bahkan gangguan perkembangan.
Teknik penatalaksanaan nyeri neonatus terdiri dari penatalaksanaan nyeri farmakologi dan non farmakologi. Metode farmakologi meliputi penggunaan EMLA pada sirkumsisi dan sukrosa pada prosedur nyeri tunggal. Penggunaan EMLA terbukti efektif pada sirkumsisi namun tidak terbukti efektif pada nyeri akut pada prosedur penusukan tumit dan lumbal pungsi (Tadido, Ohlson, & Ohlson, 2000 dalam Yamada et al., 2008). Pemberian sukrosa secara oral dua menit sebelum prosedur nyeri terbukti dapat mengurangi intensitas nyeri yang dibuktikan pada menurunnya durasi menangis, ekspresi nyeri pada wajah yang lebih sedikit, meminimalkan peningkatan nadi dan skor nyeri. American Academic of Pediatric merokemandasikan 0,05-0,5 ml cairan sukrosa 24% efektif dua menit sebelum prosedur dan 1-2 menit setelah prosedur (Motta & Cunha, 2014). Metode non farmakologi lainnya meliputi non-nutritive sucking, pembedongan, memeluk, sentuhan, kontak kulit dengan kulit, posisi, memasukkan jari ke dalam mulut, menyusui dan pemberian asi tambahan (Yamada et al., 2008). Setiap unit pelayanan neonatus seharusnya menjalankan metode penatalaksanaan nyeri non farmakologis karena dapat digunakan dalam setiap pelayanan rutin dan mendukung kenyamanan neonatus (Motta & Cunha, 2014).
Upaya penatalaksanaan nyeri diharapkan dapat mendukung perkembangan bayi yang optimal karena bayi yang dirawat mengalami tantangan terhadap perkembangan dari lingkungan rumah sakit. Faktor lingkungan yang meningkatkan risiko gangguan perkembangan neonatus seperti kebisingan, pencahayaan, manipulasi bayi. Salah satu stimulus yang sering dirasakan neonatus yang menjalani hospitalisasi adalah nyeri. Nyeri yang dirasakan neonatus dalam jangka panjang dapat menyebabkan aktivitas sel saraf yang abnormal dan perubahan proses somatosensori, bahkan pada
perkembangan dan perilaku saat usia anak (Raeside, 2013). Penting bagi perawat untuk memahami perannya salah satunya dengan meminimalkan nyeri yang dirasakan neonatus sehingga, mendukung perkembangan bayi yang optimal (Rustina, 2015).
2.2.4 Aplikasi Non-nutritive Sucking dan Pijat Ekstremitas sebagai Intervensi Menurunkan Nyeri pada Neonatus
Mengisap merupakan refleks alami bayi yang dapat digunakan tidak hanya sebagai analgesik namun juga meningkatkan kenyamanan dan ketenangan bayi. Penggunaan Non-nutritive sucking atau NNS atau jari dibungkus dengan sarung tangan terbukti dapat menurunkan aktivitas bayi yang berlebihan serta meningkatkan kenyamanan bayi. Hal ini juga berefek terhadap peningkatan oksigenasi, mendukung respirasi dan fungsi gastrointestinal, menurunkan denyut nadi dan meminimalkan penggunaan energi (Motta & Cunha, 2014).
Banyak studi yang membuktikan keefektifan NNS untuk menurunkan nyeri pada neonatus. Penelitian yang dilakukan oleh Liaw et al. (2011) berjudul Nonnutritive sucking (NNS) and oral sucrose relieve neonatal pain during intramuscular injection of hepatitis vaccine menunjukkan bahwa NNS mempunyai efek analgesik terhadap prosedur yang dapat menimbulkan nyeri seperti injeksi intramuskular, vaksin, dan pengambilan darah. NNS menurunkan durasi menangis sebelum, selama, dan setelah prosedur. Meski terdapat kontroversi penggunaan empeng terkait efek jangka panjang yang dapat ditimbulkannya yaitu kelainan gigi dan masalah pengucapan bahasa, namun empeng terbukti dapat digunakan untuk mengurangi nyeri (Sexton & Natale, 2009). Kemampuan bayi menyusu langsung pun terbantu dengan penggunaan empeng. Studi oleh Jenik dan Vain (2009) menyatakan bahwa bayi-bayi yang menggunakan empeng selain memiliki risiko lebih rendah terhadap Sudden Infant Death Syndrome (SIDS) juga mencapai kesuksesan menyusui pada usia rata-rata 2 minggu. Sexton & Natale (2009) menambahkan bahwa penggunaan
empeng baik sebelum usia 6 bulan untuk mencegah kemungkinan risiko jangka panjang yang dapat ditimbulkan.
Mirzarahimi et al. (2013) melakukan studi tentang penggunaan NNS dan pijat kaki sebelum prosedur penusukan tumit. NNS digunakan karena efek mengisap merupakan stimulus bagi reseptor mekanik di mulut yang kemudian mentransimisikannya ke dalam sistem non opiod, sehingga terjadi penurunan nyeri. NNS terbukti efektif terhadap penurunan nyeri pada penusukan tumit neonatus yang diketahui melalui pemeriksaan skala nyeri dan perubahan denyut nadi serta saturasi oksigen. Intervensi keperawatan lainnya yang telah dibuktikan meningkatkan kenyamanan bayi antara lain adalah sentuhan baik berupa sentuhan positif atau pijat. Kebanyakan penelitian tentang pijat bayi masih berkisar tentang efektifitas pijat untuk meningkatkan berat badan bayi. Juneau, Aita, dan Heon (2015) membuktikan bahwa pijat pada bayi matur dapat meningkatkan berat badan, pertumbuhan, lama tidur dan menurunkan kadar bilirubin darah.
Efektifitas pijat juga dibuktikan pada bayi prematur selain dapat meningkatkan berat badan juga menurunkan respons nyeri dan meningkatkan interaksi dengan orang tua. Coyle (2008) melakukan studi tentang efek pijat terhadap perilaku tidur. Pijat berefek relaksasi yang diukur dari penurunan frekuensi nadi, tekanan darah sistolik maupun diastolik, dan skor Visual Analog Scale-Anxiety Scale. Jain, Kumar, dan McMillan (2006) membuktikan bahwa pijat kaki menurunkan skor nyeri dan frekuensi denyut nadi neonatus secara signifikan. Hal ini sesuai dengan studi Mirzarahimi et al. (2013) yang melakukan studi tentang efek NNS dan pijat kaki terhadap fisiologis dan indikator nyeri penusukan tumit pada neonatus. Hasil studi Mirzarahimi et al. (2013) menunjukkan bahwa pijat kaki mampu menurunkan nyeri penusukan tumit secara signifikan meski bila dibandingkan dengan NNS, signifikansi penurunan nyeri lebih besar.
2.3 Integrasi Teori dan Konsep Keperawatan dalam Proses Keperawatan 2.3.1 Model Konservasi Levine
Model Konservasi Levine adalah suatu model keperawatan yang menjembatani antara teori dengan praktik keperawatan. Teori ini mengajak perawat untuk memahami rasional setiap tindakan yang dilakukan. Model ini dapat digunakan pada berbagai pasien dengan berbagai dan berbagai seting klinis. Hal ini dibuktikan dari berbagai studi yang menggunakan Model Konservasi Levine dalam berbagai seting klinis (Alligood, 2014). Beberapa contoh studi yang menggunakan Model Konservasi Levine yaitu pada proses penyapihan penggunaan ventilator lama pasien dewasa, pada studi tentang efek benadril terhadap tidur pasien anak dengan luka bakar, dan untuk mengevaluasi pola kerja perawat Neonatal Intensive Care Unit (NICU) (Dellmore, 2003; Yangzom, 2012; Mefford & Alligood, 2011).
Ada tiga konsep utama dari Model Konservasi Levine yaitu meliputi konservasi, adaptasi dan keutuhan. Levine mendefenisikan konservasi yang berarti melindungi, menyelamatkan dan mempertahankan kehidupan (Alligood, 2014). Model ini menerapkan konservasi dalam praktik asuhan keperawatan melalui konservasi energi, integritas struktur, integritas personal dan sosial. Konservasi energi pada neonatus meliputi konservasi energi terkait lingkungan internal (proses fisiologis) dan lingkungan eksternal. Adaptasi didefenisikan sebagai sebuah proses perubahan integritas karena lingkungannya. Adaptasi antara lingkungan internal dan eksternal menyebabkan pengeluaran energi yang besar pada neonatus. Bayi membutuhkan bantuan perawat untuk mencapai adaptasi dengan manajemen neonatus untuk meminimalkan pengeluaran energi dan upaya peningkatan energi dari pemberian nutrisi untuk mencapai keutuhan (wholeness) (Mefford & Alligood, 2011).
Cong (2006) mengaplikasikan Model Konservasi Levine pada studinya tentang efektifitas PMK sebagai penurun nyeri pada bayi prematur yang
mendapat prosedur penusukan tumit. Penggunaan metode nyeri ini sesuai dengan prinsip konservasi energi Levine karena respons bayi terhadap nyeri dapat mengakibatkan peningkatan frekuensi nadi dan konsumsi oksigen sehingga penggunaan energi lebih banyak. Efek jangka panjang nyeri juga dipercaya dapat mengakibatkan gangguan perkembangan saraf-saraf sehingga berisiko terhadap keterlambatan perkembangan. Studi oleh Tessier et al. (2003 dalam Cong, 2006) membuktikan bahwa ada keterlambatan perkembangan pada bayi yang mendapatkan prosedur nyeri secara berulang pada usia 6 bulan.
Studi Cong (2006) menunjukkan bahwa nyeri dapat mengganggu konservasi energi karena penggunaan energi yang lebih besar saat nyeri dan konservasi integritas struktur karena efek nyeri yang mempengaruhi fungsi fisiologis dan risiko terhadap kerusakan otak. Gangguan terhadap konservasi integritas personal dan sosial dijelaskan oleh Yamada et al. (2008) yang menyatakan bahwa nyeri jangka panjang dapat mempengaruhi perkembangan fisiologis, sosial, dan kognitif. Pendapat ini diperkuat oleh hasil studi Lahti et al. (2011) yang menyatakan bahwa nyeri dapat menyebabkan gangguan personal, pribadi anti sosial, dan masalah emosi saat dewasa.
Model Konservasi Levine sangat bermanfaat untuk mengeksplorasi efek pada bayi yang dirawat di ruang NICU, hubungan perawat dan orangtua, kemampuan orangtua mengatasi hingga beradaptasi dengan stres yang dirasakan selama bayi dirawat hingga pulang ke rumah. Prinsip konservasi yang dijalankan perawat dalam memberikan asuhan ditujukan untuk mencapai keutuhan individu, sehingga teori ini sangat tepat untuk dijadikan standar perawatan pada neonatus terutama bayi prematur (Foy, 2013).
2.3.2 Proses Keperawatan berdasarkan Model Konservasi Levine
Proses keperawatan memberikan panduan sistematis bagi perawat untuk memberikan asuhan keperawatan kepada klien. Model keperawatan digunakan di dalam proses keperawatan sebagai kerangka rujukan dan penggunaan keterampilan berfikir kritis sesuai dengan fokus dan tujuan model keperawatan yang digunakan (Christensen & Kenney, 2009).
Tahapan proses keperawatan berdasarkan Model Konservasi Levine meliputi pengkajian yang terdiri dari pengumpulan data baik melalui wawancara ataupun obervasi terhadap tantangan dari lingkungan berdasarkan prinsip konservasi energi, integritas struktural, integritas personal dan integritas sosial. Tugas perawat pada tahap pengkajian adalah mengobservasi respons pasien terhadap kondisi sakitnya, membaca rekam medis, dan mengevaluasi pemeriksaan diagnostik. Perawat mengkaji tantangan yang dihadapi pasien baik dari lingkungan internal maupun eksternal. Data dari hasil pengkajian yang dikumpulkan akan membimbing perawat dalam membuat keputusan untuk diagnosis keperawatan yang disebut trophicognosis.
Proses selanjutnya adalah hipotesis yaitu perawat membuat intervensi keperawatan terhadap masalah yang dihadapi pasien untuk membantu proses adaptasi pasien dan mencapai kondisi sehat. Hipotesis yang dirumuskan kemudian diuji dengan cara perawat melakukan intervensi yaitu menggunakan hipotesis dalam perawatan langsung kepada pasien sesuai dengan prinsip konservasi energi, integritas struktur, integritas personal dan integritas sosial. Akhir proses keperawatan dilakukan evaluasi dengan melihat respons individu terhadap intervensi yang diberikan. Evaluasi dilakukan dengan melihat hasil dari respons individu terhadap mendukung atau tidak mendukung hipotesis. Hasil yang dapat dicapai berupa peningkatan kondisi kesehatan dan meningkatkan kenyamanan individu. Bila hasil evaluasi tidak mendukung hipotesis maka perawat dapat mengusulkan hipotesis atau rencana tindakan keperawatan lainnya (Alligood, 2014).
Skema 2.1 Integrasi Model Levine dan Proses Keperawatan Nyeri Neonatus
Bayi sakit:
Hiperbilirubinemia, Sepsis neonatorum, Sindrom distres pernapasan, Apnoe of
prematurity, Kejang neonatal, dll
Tercapainya wholeness (keutuhan) dengan tanda-tanda peningkatan kenyamanan bayi saat prosedur nyeri yang ditandai dengan:
- Perubahan fisiologis tubuh akibat nyeri minimal - Nyeri yang dirasakan lebih ringan
Proses adaptasi
Trophicognosis: Nyeri akut
Hospitalisasi
Pengkajian:
Pengkajian tantangan lingkungan internal dan eksternal, konservasi energi, integritas struktur, integritas personal, dan integritas sosial
Mengalami berbagai prosedur nyeri akut berulang
Hipotesis: Rencana keperawatan meningkatkan kenyamanan bayi untuk menurunkan risiko keterlambatan perkembangan akibat nyeri dengan manajemen nyeri non farmakologis
(penggunaan NNS dan pijat ekstremitas)
Intervensi keperawatan dengan menerapkan prinsip konservasi: - Memberikan empeng 2 menit sebelum dan selama prosedur nyeri
- Memberikan pijat ekstremitas 2 menit sebelum prosedur nyeri kemudian membungkus ekstemitas dengan kassa hangat 1 menit sebelum penusukan
Penerapan Model Konservasi Levine
Mengalami berbagai prosedur nyeri akut berulang
Peningkatan frekuensi napas
Perubahan nadi dan saturasi O2
Peningkatan skor nyeri Respons stres bayi
Trophicognosis: Risiko
cidera
Trophicognosis:
ketidakefektifan pola napas
Trophicognosis: Risiko
keterlambatan perkembangan
2.4 Aplikasi Teori Keperawatan pada Kasus Terpilih 2.4.1 Apnoe of Prematurity (AOP)
Neonatus sering mengalami episode henti napas (apnea) dan bradikardia. Pola bernapas yang berbeda-beda dapat ditemui pada bayi prematur yaitu terdapat 3 atau lebih henti napas lebih dari 3 detik dalam waktu kurang dari 20 detik pernapasan (James, Nelson, & Ashwill, 2013). Kategori apnea ada dua yaitu apnoe of prematurity (AOP) dan apnoe of infant (AOI) yang masing-masing memiliki karakteristik masing-masing. AOP adalah tidak adanya napas setidaknya 20 detik atau lebih atau yang berhubungan dengan bradikardia atau sianosis (desaturasi) pada bayi usia gestasi < 37 minggu sedangkan AOI adalah tidak adanya napas selama 20 detik atau lebih lama, atau dalam waktu yang lebih singkat namun diiringi dengan bradikardia, sianosis, pucat, atau hipotonia pada bayi dengan usia gestasi lebih dari 37 minggu. AOP sering terjadi pada neonatus usia gestasi 24-32 minggu yang akan hilang pada usia 38 minggu. Apnea pada bayi prematur sering terjadi karena obstruksi jalan napas atas dan immaturitas mekanisme pusat pengontrolan pernapasan (James et al., 2013; Gomella et al., 2013).
2.4.2 Pengkajian
a. Data umum: By. Ny. M lahir tanggal 9 April 2016 berjenis kelamin laki-laki dengan usia gestasi 35 minggu. Pengkajian oleh perawat dilakukan tanggal 11 April 2016. Diagnosis medis adalah neonatal pneumonia dan apnoe of prematurity.
b. Riwayat kesehatan orang tua: Ny. M mengatakan ini kehamilan pertama. Riwayat penyakit yang pernah ia derita sebelumnya yaitu Ny. M didiagnosis hipertensi 2 tahun yang lalu, namun kemudian sehat setelah mengkonsumsi obat secara rutin selama hampir 1 bulan dan tidak pernah kambuh. Kehamilan ini adalah kehamilan yang pertama. Saat hamil, ibu menderita thypoid pada usia 7 bulan dan telah mendapat pengobatan. Tidak ada masalah saat hamil hingga pada usia kehamilan 34 minggu tekanan darah ibu meningkat hingga 160/100
mmHg hingga diputuskan harus segera SC saat usia bayi 35 minggu karena mulai takikardia pada bayi
c. Riwayat kesehatan sebelumnya: Bayi lahir melalui sectio sesarea atas indikasi PEB, bradikardia janin. Kondisi bayi saat lahir bayi lahir dengan berat badan 1900 gram dan tidak segera menangis, apgar skor menit ke 1 dan menit ke 5 adalah 9/10. Terlihat retraksi dada ringan, sianosis, frekuensi napas 70x/menit dan merintih kemudian diberi alat bantu napas CPAP dengan PEEP 7 FIO2 30%.
d. Konservasi energi
1) Pernapasan: Frekuensi napas bayi rata-rata 52 x/ menit, irama napas ireguler, bunyi napas vesikuler, pola napas terdapat apneu. Perawat mengatakan bayi sebelumnya sering mengalami apnea diiringi dengan desaturasi dan bradikardia yang butuh stimulasi perawat untuk kembali bernapas dengan baik. Pemantauan selama satu shift dinas ditemukan adanya apnea 3x dengan desaturasi hingga 60% dan bradikardia hingga 90x/menit. Saat ini bayi menggunakan alat bantu pernapasan yaitu nasal CPAP dengan PEEP 6 FiO2 21%. Tidak ditemukan tanda-tanda gawat napas seperti retraksi dan pernapasan cuping hidung.
2) Sirkulasi: Frekuensi nadi 155 x/ menit dengan irama ireguler. Nadi teraba kuat pada ekstremitas, waktu pengisian kapiler kurang dari 3 detik, tidak ada sianosis perifer dan sentral namun akral teraba dingin. Pada pemeriksaan jantung tidak ditemukan bunyi jantung tambahan. Suhu bayi pada pemeriksaan aksila adalah 38,60C dengan suhu inkubator 300C.
3) Nutrisi dan Cairan: Abdomen teraba supel dan tidak ada distensi, bising usus bayi 5x/menit, dengan ukuran lingkar perut 25 cm. Bayi saat ini mendapat nutrisi enteral ASI/BBLR 4x2,5 ml dan 4x75 ml melalui OGT dan nutrisi parenteral, PG1 (1,5) 3,6 ml/jam, IL20(1) 1,1 ml/jam, D10 + Ca 2,3 ml/jam. Berat badan saat ini masih sama dengan berat badan lahir yaitu 1900 gram.
4) Eliminasi: Bayi buang air besar mekonium dengan frekuensi 2-3 x sehari, urin berwarna kuning jernih sebanyak 140 ml dalam 24 jam. Tidak ditemukan adanya edema, diuresis 140/24/1,9= 3 ml/kgBB/jam. Keseimbangan cairan: intake – ouput = 190 - (26x1,9) +140) = 0,6 ml
5) Istirahat tidur: Bayi tidur ringan, sesekali terbangun tetapi tidak menangis
e. Integritas struktur
1) Pemeriksaan kepala: Bentuk kepala normal dengan fontanel terbuka dan normal, tidak cekung atau membonjol. Lingkar kepala 31 cm.
2) Aktivitas kejang tidak ada
3) Integumen: tidak ada kemerahan atau luka lecet pada kulit f. Integritas personal
1) Fungsi sensoris reaksi terhadap nyeri menangis kemudian terjadi desaturasi dan bradikardia dengan skor nyeri dengan PIPP 8
2) Fungsi motorik kasar: pergerakan dan tonus otot baik. Tidak ditemukan gerakan abnormal.
3) Fungsi motorik halus: kemampuan mengisap ada tetapi tidak kuat
g. Integritas sosial: dari hasil observasi ayah hanya melihat bayinya dari luar inkubator saat berkunjung dan tidak menyentuh bayi. Hasil wawancara didapatkan data subjektif:
1) Ayah mengatakan takut menyentuh bayinya
2) Ayah mengatakan istrinya belum berkunjung karena ayah bayi khawatir kondisi bayinya akan menyebabkan kecemasan bagi istrinya
3) Ayah mengatakan tidak menyimpan ASI yang keluar karena ASI hanya keluar sedikit sekali
2.4.3 Trophicognosis
Terdapat 6 trophicognosis yang dapat diidentifikasi berdasarkan data-data di atas antara lain:
a. Ketidakefektifan pola napas, b. Risiko cidera,
c. Ketidakefektifan termoregulasi, d. Nyeri akut,
e. Ketidakcukupan ASI, dan
f. Risiko keterlambatan perkembangan.
2.4.4 Hipotesis
Rencana keperawatan yang dikembangkan sesuai trophicognosis untuk kasus By. Ny. M dengan menggunakan Model Konservasi Levine.
2.1 Tabel Hipotesis By. Ny. M sesuai Trophicognosis
No Trophicognosis Hipotesis
1. Ketidakefektifan pola napas
Tujuan:
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam, masalah ketidakefektifan pola napas teratasi dengan kriteria hasil: - Tidak ada periode apnea >20 detik - Frekuensi napas dalam rentang normal
40-60x/menit Hipotesis:
Konservasi energi
- Berikan posisi yang mendukung pernapasan bayi
- Kolaborasi untuk penggunaan alat bantu napas yang sesuai
Integritas struktur
- Pantau pernapasan bayi yaitu upaya, irama, pola, frekuensi dan jalan napas - Bersihkan jalan napas dari lendir/sekret - Periksa adanya tanda-tanda gawat
napas
- Periksa kemungkinan penyebab apnea dan yang mempengaruhinya seperti imaturitas otot pernapasan, infeksi, distensi abdomen, kelainan jalan napas, posisi menyebabkan tekukan pada jalan napas
- Kolaborasi dalam pemberian obat-obatan untuk kematangan paru atau membantu perbaikan pernapasan bayi
Integritas sosial
Fasilitasi untuk PMK untuk kestabilan tanda-tanda vital bayi
No Trophicognosis Hipotesis
2. Risiko cidera Tujuan: Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam, masalah risiko cidera berkurang atau teratasi dengan kriteria hasil:
- Saturasi oksigen 88-92% - Tidak ada sianosis
- Akral hangat, kulit tidak pucat, nadi perifer teraba jelas
- Pengisian pembuluh kapiler < 3 detik - Pemeriksaan analisa gas darah dalam
batas normal Hipotesis:
Integritas stuktur
- Pantau tanda-tanda vital seperti tekanan darah, nadi dan saturasi oksigen bayi - Kaji tanda gangguan perfusi jaringan perifer seperti akral dingin, pengisian pembuluh kapiler lebih dari 3 detik - Posisikan bayi dengan telentang dan
kepala ditinggikan 20-30 derajat atau prone untuk meningkatkan saturasi oksigen
- Kolaborasi untuk pemeriksaan gas darah
- Kolaborasi untuk rontgen thorak melihat kemampuan pengembangan alveoli paru yang berperan dalam pertukaran gas
- Hindari elevasi ekstremitas terlalu tinggi saat penggantian popok
Integritas personal
- Ganti posisi setiap handling dan periksa toleransi bayi terhadap posisi melalui pemantauan napas, nadi dan saturasi oksigen
Integritas sosial
- Fasilitasi untuk PMK untuk kestabilan tanda-tanda vital bayi
No Trophicognosis Hipotesis
3. Ketidakefektifan termoregulasi
Tujuan:
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam, masalah ketidakefektifan termoregulasi teratasi dengan kriteria hasil: - Suhu tubuh dalam batas normal 36,50
C - 37,50C
- Nilai laboratorium leukosit, CRP, IT ratio dan pemeriksaan penunjang lainnya dalam batas normal Hipotesis:
Konservasi energi
- Hindari perpindahan suhu dari dan ke lingkungan
- Buka penutup inkubator seperlunya - Hangatkan benda-benda dan tangan
sebelum disentuhkan ke bayi - Pastikan kain yang digunakan bayi
dalam keadaan kering
Integritas struktur
- Lakukan cuci tangan sesuai standar baik bagi petugas maupun keluarga - Pantau suhu bayi
- Kaji kemungkinan penyebab masalah termoregulasi pada bayi
- Gunakan teknik aseptik dalam melakukan tindakan
- Pantau adanya tanda-tanda infeksi baik yang tampak: panas, kemerahan pada bekas tusukan, tanda plebitis pada tempat akses vena
- Lakukan perawatan terhadap akses vena: mengganti perban dan plester dengan teknik steril
- Kaji penyebab gangguan termoregulasi - Kolaborasi untuk
pemberianobat-obatan yang sesuai seperti antipireti atau antibiotik bila perlu
Integritas sosial
Fasilitasi untuk PMK untuk kestabilan suhu bayi
No Trophicognosis Hipotesis
4. Nyeri akut Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam, masalah nyeri akut berkurang atau teratasi dengan kriteria hasil:
- Terjadi penurunan skor nyeri dengan PIPP
Hipotesis:
Konservasi energi
- Lakukan manajemen nyeri dengan NNS atau pijat ekstremitas saat prosedur nyeri atau ketidaknyamanan - Berikan periode istirahat bila prosedur
berlangsung lama atau prosedur nyeri lebih dari satu
Integritas struktur
- Perhatikan respon bayi saat prosedur nyeri
- Hentikan prosedur saat terjadi apnea dan desaturasi di bawah 80%
Integritas personal
- Tingkatkan kenyamanan bayi melalui kegiatan pijat ekstremitas atau NNS
Integritas sosial
- Lakukan tindakan dengan tetap berinteraksi dengan bayi dan berbicara dengan suara yang lembut
5. Ketidakcukupan ASI Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam, masalah ketidakcukupan ASI berkurang atau teratasi dengan kriteria hasil:
- Terjadi peningkatan produksi dan asupan ASI
Hipotesis:
Konservasi energi
- Hitung kebutuhan nutrisi bayi M dan memberikan nutrisi sesuai kebutuhan baik enteral maupun parenteral - Beri motivasi orang tua untuk
memberikan ASI
- Cegah kehilangan energi berlebihan dengan memposisikan bayi dengan baik dan minimal handling
- Pantau berat badan
Integritas struktur
- Periksa refleks isap bayi - Beri stimulus oral
- Pantau toleransi bayi setelah pemberian nutrisi per oral
No Trophicognosis Hipotesis Integritas personal
- Inisiasi pemberian nutrisi per oral bila memungkinkan
Integritas sosial
- Beri kesempatan orang tua untuk terlibat dalam pemberian nutrisi bayi - Persiapkan untuk menyusu langsung
bila memungkinkan
- Ajarkan dan fasilitasi untuk PMK untuk meningkatkan produksi ASI 6. Risiko keterlambatan
perkembangan
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam, masalah risiko keterlambatan perkembangan berkurang dengan kriteria hasil:
- Bayi menunjukkan perilaku tenang saat waktu handling dan tidur saat periode istirahat
- Orang tua mau belajar cara merawat bayinya
Hipotesis:
Konservasi energi
- Berikan posisi bayi yang nyaman dengan tangan dan kaki difleksikan dengan nesting untuk mempertahankan posisi bayi
- Pantau toleransi bayi selama dilakukan PMK
Integritas struktur
- Pantau perubahan berat badan bayi. Berat badan bayi pada minggu awal kehidupan cenderung turun tetapi tidak lebih dari 10% dari berat badan lahir
Integritas personal
- Memeriksa refleks isap bayi serta kemampuan koordinasi antar mengisap, menelan dan bernapas
- Pantau toleransi bayi terhadap nutrisi seperti tidak adanya distensi abdomen, muntah atau residu lambung
- Menginisiasi nutrisi per oral jika memungkinan atau dukungan nutrisi parenteral jika dibutuhkan
- Menghitung kebutuhan cairan bayi dan nutrisi bayi
Integritas sosial
- Ajarkan orang tua menyentuh bayi - Motivasi orang tua untuk sering
berinteraksi dengan bayinya - Fasilitasi untuk PMK untuk
2.4.5 Intervensi dan Respon Organismik
Intervensi merupakan realisasi dari hipotesis yang telah dibuat. Perawat melakukan tindakan berdasarkan prinsip konservasi untuk mendukung proses adaptasi bayi dan mencapai keutuhan (kondisi sehat). Gambaran intervensi dan respon bayi terhadap asuhan selama 3x24 jam dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 2.2 Intervensi dan Respons Organismik untuk Trophicognosis Ketidakefektifan Pola Napas
Waktu Intervensi Evaluasi Respons
Organismik
11 April 2016 7.30 – 12.15
- Memantau pernapasan bayi yaitu upaya, irama, frekuensi dan jalan napas: tidak ada napas cuping hidung, retraksi tidak ada, frekuensi napas 56x/menit, irama ireguler, terlihat sekret pada mulut
- Mengauskultasi bunyi napas: bunyi napas bersih, vesikuler - Membersihkan lendir dari mulut
dengan kassa: terdapat lendir berwarna putih bening - Mengobservasi toleransi bayi
terhadap terapi oksigen yang diberikan : bayi mendapat alat bantu napas PEEP 6 dengan dengan FiO2 diturunkan menjadi
21%
- Bayi mengalami apnea 3x selama shift dinas pagi: perawat
menstimulasi pernapasan bayi dan memberikan posisi telentang dengan kepala lebih tinggi 30o - Memberikan aminophilin injeksi
11 mg
- Mempertahankan pemberian alat bantu napas dengan CPAP PEEP 6 dengan FiO2 21% dengan tetap
memantau toleransi pasien
Jam 13.30 S:
- Perawat jaga malam mengatakan memang bayi M 3x O: - Apnea 3x selama dinas pagi - Napas cuping
hidung tidak ada - Retraksi iga tidak
ada
- Frekuensi napas 60x/menit dengan bantuan alat bantu napas CPAP PEEP 6 FiO2 21%
A: Masalah pola napas belum teratasi