• Tidak ada hasil yang ditemukan

Target Kompetensi selama Praktik Residensi

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 61-65)

BAB I PENDAHULUAN

BAB 3 PENCAPAIAN KOMPETENSI

3.2 Target Kompetensi selama Praktik Residensi

Praktik residensi keperawatan anak terdiri dari 2 bagian yaitu praktik residensi keperawatan 1 dan praktik residensi keperawatan 2. Praktik residensi 1 sebelumnya diawali dengan pembekalan dan ujian klinik terkait kompetensi yang harus dimiliki residen keperawatan anak, kemudian dilanjutkan dengan praktik di rumah sakit yang telah ditentukan. Praktik residensi keperawatan 1 berlangsung selama 16 minggu yaitu tanggal 15 September 2015 sampai 15 Januari 2016. Praktik residensi 1 dilaksanakan pada tiga ruangan (area keperawatan) yaitu di ruang infeksi (ruang rawat anak bougenvile bawah) RSUP Persahabatan, ruang non infeksi (ruang anggrek) RSAB Harapan Kita, dan ruang perinatologi (ruang seruni) RSAB Harapan Kita Jakarta. Praktik residensi keperawatan anak 2 diawali dengan tahap pembekalan yang kemudian dilanjutkan dengan praktik klinik pada rumah sakit yang telah ditentukan sesuai area peminatan yang dipilih oleh residen keperawatan anak. Praktik klinik residensi keperawatan 2 dimulai tanggal 15 Feburari hingga 29 April 2016 di ruang perinatologi RSAB Harapan Kita selama 6 minggu dan RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta selama 5 minggu.

3.2.1 Pencapaian Target Kompetensi Ruang Infeksi

Mata ajar praktik klinik keperawatan anak lanjut II memiliki beban studi 4 sks dan berfokus pada asuhan keperawatan pada anak dengan masalah akut. Kompetensi yang diharapkan pada residen keperawatan anak terkait asuhan keperawatan anak dengan masalah akut meliput kompetensi terhadap keterampilan, intelektual, interpersonal dan teknikal. Praktik klinik untuk area infeksi dilaksanakan selama 6 minggu di ruang infeksi anak Bougenville bawah RSUP Persahabatan Jakarta Timur. Asuhan keperawatan dilakukan pada anak dengan kasus infeksi seperti masalah gastrointestinal (diare), masalah infeksi sistem pernapasan (pneumonia) dan masalah infeksi sistem perkemihan (infeksi saluran kemih/ISK). Kompetensi yang dicapai residen keperawatan anak selama praktik

termasuk kompetensi ketrampilan dasar dan lanjutan pada anak dengan masalah infeksi seperti pemasangan infus untuk pemenuhan kebutuhan cairan, menilai tanda-tanda dehidrasi pada bayi dan anak, resusitasi pada kondisi kritis anak, melakukan manajemen nyeri dengan distraksi dan relaksasi napas dalam pada anak yang lebih besar, memberikan terapi bermain pada anak sesuai kebutuhan perkembangannya, manajemen penyebab dan penularan infeksi melalui menggalakkan program cuci tangan bagi tenaga kesehatan, anak dan orang tua, berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lainnya untuk pemenuhan nutrisi dan manajemen infeksi. Selama proses melakukan asuhan keperawatan pada kasus kelolaan, residen keperawatan anak memfasilitasi anak dan keluarga tentang kebutuhan informasi terkait tindakan, penyakit, maupun terapi yang diberikan.

Proses belajar juga dilakukan melalui diskusi dengan dokter penanggung jawab terkait proses penyakit serta hasil pemeriksaan penunjang serta ahli gizi terkait masalah nutrisi yang dialami anak. Saat praktik residensi keperawatan di ruang rawat anak Bougenvile bawah RSUP Persahabatan, residen keperawatan anak melakukan tugas sebagai pendidik dengan melakukan pembimbingan bagi mahasiswa keperawatan lain yang dinas di tempat yang sama saat itu yaitu mahasiswa D3 Poletekkes Kemenkes Jakarta, mahasiswa Ners FIK UI, dan teman-teman mahasiswa tahap aplikasi Program Magister Keperawatan Anak FIK UI.

3.2.2 Pencapaian Target Kompetensi Ruang Non Infeksi

Praktik klinik residensi keperawatan juga meliputi mata ajar praktik klinik keperawatan lanjut III dengan beban studi 4 SKS yang berfokus pada asuhan keperawatan anak dengan masalah/kondisi kronik. Praktik dilaksanakan selama 6 minggu di ruang Anggrek RSAB Harapan Kita Jakarta yaitu ruang anak khusus penyakit kronik ataupun keganasan. Residen keperawatan anak melakukan asuhan keperawatan pada anak

menjalankan asuhan paliatif. Prosedur klinis yang dipelajari residen keperawatan anak selama praktik meliputi prosedur pengambilan sampel darah, pemasangan infus dengan menerapkan manajemen nyeri dengan distraksi dan relaksasi napas dalam. Prosedur lain yaitu melakukan melakukan pemeriksaan penunjang EKG dan mendampingi pasien dalam pemeriksaan ECHO serta USG abdomen dengan menerapkan peningkatkan kenyamanan untuk menurunkan ansietas pada anak selama prosedur, memberikan asuhan pada masalah hipotermia dengan tepid

sponge, upaya pencegahan infeksi dengan dengan melakukan tindakan

dengan teknik aseptik dan mengajarkan orang tua dan pengasuh tentang cuci tangan yang benar serta pendidikan kesehatan dan motivasi untuk anak dan orang tua tentang nutrisi. Pencapaian kompetensi selama praktik difasilitasi juga oleh pembimbing lapangan yang membantu memahami protokol-protokol kemoterapi serta perawat-perawat ruangan yang membantu pendekatan terhadap berbagai kondisi mental anak dengan penyakit kronik. Diskusi residen keperawatan anak dengan pembimbing di lapangan juga terkait aturan manajemen ruangan pada keluarga pasien dan perawat yang dalam kondisi hamil dan menyusui serta berbagi informasi terkait jurnal penelitian yang membahas dampak yang akan ditimbulkan serta teknik pembatasan untuk meminimalkan risiko dari obat-obatan kemoterapi.

3.2.3 Pencapaian Target Kompetensi Ruang Perinatologi

Praktik klinik di ruang perinatologi melalui dua tahap yaitu praktik klinik pada periode residensi keperawatan 1 dan dilanjutkan pada periode residensi keperawatan 2 karena residen keperawatan anak memilih perinatologi sebagai area peminatan. Pada residensi keperawatan 1 area perinatologi masuk pada mata ajar praktik klinik keperawatan anak lanjut 1 dengan beban studi 3 sks dan mata ajar praktik klinik khusus dalam keperawatan anak dengan beban studi 6 sks.

Praktik residensi keperawatan 1 dilaksanakan pada ruang perinatologi di RSAB Harapan Kita di ruang Seruni (ruang rawat level 1 dan 2). Kompetensi yang dilaksanakan residen keperawatan anak meliputi memberikan asuhan keperawatan pada bayi dengan necrotizing

enterocolitis, patent ductus arteriosus, dan hiperbilirubinemia.

Pengelolaan pasien juga dipenuhi dengan memenuhi kompetensi baik kompetensi dasar maupun kompetensi lanjutan dimulai dari melakukan pengkajian fokus pada masing-masing kasus, menegakkan masalah keperawatan serta melakukan intervensi keperawatan berupa prosedur pencegahan infeksi seperti mencuci tangan, memandikan, dan melakukan tindakan invasif dengan teknik aspetik, mengukur perubahan hemodinamik dari pemeriksaan tanda-tanda vital, mempromosikan pemenuhan nutrisi dan cairan secara enteral dengan ASI, memfasilitasi interaksi orang tua dan bayi, melakukan edukasi dan penyebaran informasi kepada orang tua, perawat dan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain terkait pemenuhan kebutuhan pasien. Pemberian informasi kepada perawat ruang Seruni dilakukan dengan menyampaikan hasil bacaan artikel terkait manajemen apnea dan bradikardia pada neonatus. Topik ini dipilih karena saat itu ada 2 bayi yang sedang dirawat dengan gejala klinis apnea dan bradikardia sehingga residen keperawatan anak memilih membacakan artikel tentang hal-hal yang mempengaruhi kejadian apnea serta cara mengatasinya baik secara medis dan keperawatan.

Praktik residensi keperawatan 2 dilakukan di tiga ruang perinatologi di dua rumah sakit yaitu RSAB Harapan Kita di ruang Seruni (ruang rawat bayi level 1 dan 2) dan ruang Kemuning (ruang rawat bayi level 3) pada tanggal 15 Febuari sampai 25 Maret 2016 serta ruang Peristi RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo tanggal 28 Maret sampai 29 April 2016. Residen keperawatan anak memberikan asuhan keperawatan kepada 5 kasus kelolaan sesuai dengan yang telah disepakai bersama dengan supervisor dan supervisor utama dalam pembekalan awal sebelum memulai praktik

dengan hiperbilirubinemia, sepsis neonatorum, respiratory distress

syndrome, Apnoe of Prematurity (AOP), dan kejang neonatal.

Adapun kompetensi yang dicapai residen keperawatan anak selama praktik residensi keperawatan 2 antara lain memberikan asuhan keperawatan pada neonatus dengan gangguan metabolisme (hiperbilirubinemia), penyakit infeksi (sepsis neonatorum), masalah sistem pernapasan (respiratory

distress syndrome, AOP), dan masalah sistem neurologis (kejang

neonatal). Proses belajar yang didapat residen keperawatan anak saat melakukan asuhan yaitu mempelajari tentang masalah yang sering dialami bayi terutama bayi prematur, upaya pemenuhan kebutuhan nutrisi dan cairan bayi baik secara enteral dan parenteral, serta alat-alat yang digunakan oleh bayi yang membutuhkan perawatan khusus seperti penggunaan alat bantu ventilator, CPAP, dan alat bantu napas High Flow

Nasal (HFN). Pencapaian kompetensi lain yaitu dengan melakukan

inovasi terkait upaya perbaikan kualitas asuhan pada neonatal yaitu penggunaan NNS dan pijat ekstremitas untuk meningkatkan kenyamanan neonatus pada saat prosedur yang tidak menyenangkan.

3.3. Pembahasan Praktik Spesialis Keperawatan Anak dalam Pencapaian

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 61-65)