BAB III Interaksi Sosial
B. Bentuk-bentuk Interaksi Sosial
2. Interaksi Disosiatif
Interaksi sosial disasosiatif selalu mengarah pada proses oposisi. Oposisi terjadi apabila ada kelompok atau organisasi dalam suatu sistem mempunyai kekuasaan dominan yang memengaruhi kelompok lain untuk mengikutinya. Oposisi menjadi bentuk perlawanan dari kelompok minoritas terhadap kelompok mayoritas. Misalnya, dalam sistem demokrasi partai politik A mendukung
Gambar 3.17 Indonesia adalah masyarakat plural (majemuk) dan terintegrasi dari berbagai suku bangsa. Foto:Peta suku-suku bangsa
di Indonesia
pemerintah, sedangkan partai B beroposisi terhadap pemerintah. Wujud oposisi atau proses disosiatif dibedakan menjadi tiga bentuk, yaitu persaingan, kontraversi, dan konflik.
a. Persaingan (Competition)
Persaingan melibatkan individu atau kelompok dalam rangka mencapai keuntungan di berbagai bidang kehidup- an. Persaingan berlangsung tanpa ancaman atau kekerasan. Persaingan yang wajar dengan mematuhi aturan main tertentu disebut persaingan sehat. Misalnya, dua orang siswa yang saling bersaing merebutkan posisi ranking per- tama di kelas. Keduanya berlomba de- ngan rajin belajar tanpa berusaha men- jatuhkan teman. Namun, sering juga terjadi persaingan tidak sehat terutama dalam bidang ekonomi dan politik. Persaingan ekonomi timbul karena terbatasnya persediaan, terbatasnya kesempatan mengelola sumber daya ekonomi, perebutan daerah pemasaran, dan lain-lain. Persaingan tidak sehat dalam politik berbentuk menjelek-jelekkan lawan politik atau memfitnah.
Persaingan juga dapat terjadi akibat perbedaan ras atau warna kulit, bentuk tubuh, dan jenis rambut. Indikasi adanya persaingan dalam bidang ini tercermin dalam sikap-sikap eksklusif dari mereka yang merasa dirinya lebih unggul, misalnya orang kulit putih biasanya menyombongkan diri sebagai ras yang unggul, padahal tidak ada alasan ilmiah yang mendukung hal tersebut.
Selain itu, persaingan juga dapat terjadi antarindividu yang saling membanggakan kelebihan dan kedudukan masing-masing dalam masyarakat. Persaingan yang terjadi di antara individu maupun kelompok disebabkan oleh beberapa hal, antara lain perbedaan pendapat, perselisihan paham, persamaan kepentingan pada suatu hal yang sama, perbedaan sistem nilai dan norma yang dianut, dan perbedaan kepentingan politik.
Persaingan dapat menimbulkan berbagai akibat, baik positif maupun negatif. Akibat positifnya adalah timbulnya solidaritas kelompok sehingga rasa kesetiakawanan menjadi lebih tinggi, sedang akibat negatifnya adalah terjadinya kerusakan harta benda dan bahkan jiwa manusia. Persaingan juga mengakibat- kan terjadinya negoisasi antara kedua belah pihak. apabila negoisasi meng- hasilkan status quo, maka pihak yang dominan merasa menang, sementara pihak yang lain merasa dirugikan.
Gambar 3.18 Sepak bola adalah suatu persaingan prestasi antarnegara, antartim, antarpemain, bahkan antarpendukung.
b. Kontravensi
Kontravensi berada di antara per- saingan dan pertentangan. Wujud kontravensi dapat berupa sikap tidak senang, baik secara tersembunyi mau- pun terang-terangan. Kontravensi da- pat terjadi di antara individu maupun kelompok dan terhadap unsur-unsur kebudayaan kelompok tertentu. Sikap tidak senang dapat berubah menjadi kebencian, tetapi tidak menjurus ke pertentangan atau konflik.
Bentuk-bentuk kontraversi yang terjadi di masyarakat ialah sebagai berikut.
1) Kontravensi umum meliputi perbuatan-perbuatan seperti penolakan, keeng- ganan, perlawanan, perbuatan menghalang-halangi, protes, mengganggu pihak lain, dan perbuatan kekerasan.
2) Kontravensi sederhana meliputi memaki, mencela, menyangkal pernyataan orang lain, dan memfitnah.
3) Kontravensi intensif meliputi penghasutan, dan menyebarkan desas-desus sehingga mengecewakan pihak lain.
4) Kontravensi rahasia meliputi pengkhianatan, pengingkaran janji, dan menyebarluaskan rahasia pihak lain.
5) Kontravensi taktis berupa intimidasi, ancaman, provokasi, mengejutkan lawan, atau taktik yang dijalankan partai-partai politik untuk memenangkan pemilu.
Terjadinya kontravensi sering melibatkan antargenerasi, antargender, dan antarkelompok. Kontravensi antargenerasi terjadi apabila terdapat perbedaan pendapat mengenai suatu hal antara generasi muda dengan generasi tua. Misalnya, dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia pernah terjadi kontravensi antara golongan tua dan golongan muda mengenai proklamasi. Suatu persoalan juga sering ditanggapi secara berbeda oleh golongan orang yang berjenis kelamin berbeda. Misalnya, perbedaan pendapat mengenai cuti hamil selama tiga bulan bagi wanita pegawai. Golongan pria kadang-kadang merasa iri sehingga menentangnya, sementara itu kaum wanita sangat membutuhkannya. Dua kelompok masyarakat yang memiliki pandangan berbeda mengenai suatu hal juga dapat mengakibatkan timbulnya kontravensi. Misalnya, golongan mayoritas dan golongan minoritas yang tidak sependapat dalam masalah tertentu.
Gambar 3.19 Penolakan hasil pemilu biasanya dilakukan oleh kelompok yang dirugikan dalam pemilihan tersebut. Hal seperti ini merupakan bentuk kontravensi.
c. Permusuhan atau Konflik
Konflik atau permusuhan adalah keadaan saling mengancam, menghan- curkan, menetralisir, melukai, dan bahkan saling melenyapkan di antara pihak-pihak yang terlibat. Konflik dapat melibatkan perorangan maupun kelom- pok. Permusuhan terjadi apabila suatu pihak menghalangi pihak lain melaku- kan kegiatan tertentu. Pada awalnya terjadi persaingan serius di antara pihak- pihak yang saling bermusuhan, ke- mudian persaingan itu berubah menjadi bentrokan yang berkepanjangan. Sikap permusuhan menimbulkan usaha-usaha untuk memperdaya pihak lain dengan berbagai cara, misalnya dalam peperangan masing-masing pihak berusaha keras untuk mengalahkan pihak lain dengan cara merusak dan membunuh. Sikap dan tindakan bermusuhan tidak hanya dalam bentuk perang antarnegara, tetapi dapat juga terjadi di sekolah, di rumah, maupun dalam lingkungan rumah tangga. Mereka bermusuhan karena ada sesuatu yang harus diperebutkan. Cara-cara yang mereka tempuh biasanya melanggar norma-norma dan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat, sehingga cenderung merugikan. Misalnya, Anda ingin menonton siaran berita di televisi sementara adik Anda ingin menonton film serial anak-anak, maka terjadilah konflik perebutan pilihan acara televisi.
Walaupun konflik merupakan proses disosiatif yang tajam, akan tetapi konflik sebagai salah satu bentuk proses sosial mempunyai fungsi positif. Konflik dalam bentuk yang lunak dan terkendali biasa digunakan pada forum ilmiah yang membutuhkan perdebatan, seperti diskusi, rapat, dan lain-lain
Sebuah konflik di dalam sebuah forum, diharapkan dapat mengungkap persoalan-persoalan atau memberikan solusi atas masalah yang dihadapi untuk kepentingan bersama.