BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.5 Gambaran Kejadian Interaksi Obat Pada Pasien
4.5.3 Tingkat Keparahan Interaksi Obat Pada Pasien
Tingkat keparahan yang ditemukan dalam penelitian ini adalah ringan, sedang dan berat seperti ditunjukkan pada Tabel 4.10.
Tabel 4.10 Tingkat keparahan pada jenis kejadian interaksi obat pada pasien osteoarthritis pada subjek penelitian
No Nama Obat Tingkat keparahan
interaksi Jumlah kasus
1 Natrium diklofenak + Ranitidin Ringan 26
2 Paracetamol + Ranitidin Ringan 14
3 Paracetamol + Gabapentin Ringan 6
4 Paracetamol + Lansoprazol Ringan 5
5 Natrium diklofenak + Meloxicam Ringan 5
6 Natrium diklofenak + Sucralfat Ringan 3
7 Natrium diklofenak + Cefadroxil Ringan 3
8 Natrium diklofenak + Amiodaron Ringan 1
9 Aspirin + Fenitoin Ringan 1
10 Meloxicam + Karbamazepin Ringan 1
11 Meloxicam + Amlodipin Sedang 20
12 Meloxicam + Metilprednisolon Sedang 14
13 Meloxicam + Nifedifin Sedang 5
14 Natrium diklofenak + Amlodipin Sedang 5
15 Meloxicam + Valsartan Sedang 4
16 Meloxicam + Glimepirid Sedang 3
17 Tramadol + Alprazolam Sedang 3
18 Aspirin + Meloxicam Sedang 3
19 Meloxicam + Terazosin Sedang 2
20 Aspirin + Natrium diklofenak Sedang 2
21 Tramadol + Gabapentin Sedang 2
22 Meloxicam + Ramipril Sedang 2
23 Natrium diklofenak + valsartan Sedang 2
24 Aspirin + Amlodipin Sedang 2
25 Meloxicam + Bisoprolol Sedang 1
26 Natrium diklofenak + Furosemid Sedang 1
27 Meloxicam + Captopril Sedang 1
28 Meloxicam + Candesartan Sedang 1
29 Tramadol + Amitriptilin Berat 3
30 Meloxicam + Ketorolak Berat 1
Persentase tingkat keparahan interaksi obat pada pasien osteoarthritis dapat ditunjukkan pada Tabel 4.11.
Tabel 4.11 Tingkat keparahan interaksi obat pada pasien osteoarthritis pada subjek penelitian
Tingkat keparahan interaksi sangat penting dalam menilai risiko dan manfaat dari alternatif terapi. Dengan penyesuaian dosis yang tepat atau modifikasi jadwal pemberian, efek negatif dari interaksi dapat dihindari (Tatro, 2009).Dari data diatas dapat ditemukan tingkat keparahan ringan 45,77%, sedang 51,40 %, dan berat 2,81% pada Tabel 4.11.
Suatu interaksi termasuk dalam tingkat keparahan ringan efek biasanya ringan, konsekuensinya mungkin menganngu atau tidak mencolok tetapi tidak secara signifikan mempengaruhi hasil terapi. Pengobatan tambahan tidak diperlukan (Tatro, 2009). Kejadian interaksi kategori ringan yang banyak adalah natrium diklofenak + ranitidin (26 kali). Diketahui ranitidin dapat mengubah disposisi obat Natrium diklofenak dengan cara peningkatan atau penurunan konsentrasi plasma. Signifikansi secara statistik kecil dan signifikansi klinis terbatas. pemantauan klinis dari respon pasien dan toleransi dianjurkan (Drugs.com., 2016).
Interaksi sedang dapat menyebabkan penurunan status klinis pasien.
Pengobatan tambahan, rawat inap, atau perpanjangan perawatan rumah sakit mungkin diperlukan (Tatro, 2009). Interaksi yang banyak terjadi pada tingkat keparahan sedang adalah meloxicam + Amlodipin (20 kali) diketahui meloxicam dapat menurunkan efek antihipertensi dari amlodipin jadi dilakukan pemantauan tekanan darah (Drugs.com., 2016).
Interaksi berat efek berpotensi mengancam jiwa atau mampu menyebabkan kerusakan permanen (Tatro, 2009). Hindari kombinasi penggunaan obat, apabila risiko interaksi lebih besar dibandingkan manfaat (Drugs.com., 2016). Kejadian interaksi yang banyak ditemukan pada tingkat keparahan berat
adalah tramadol + Amitriptylin (3 kali), diketahui amitriptilin memiliki efek sedativ yang apabila digabung dengan tramadol dapat meningkatkan risiko kejang maka dari itu penggunaan obat ini harus diperhatiakan terutama pada orang tua dan pasien dengan epilepsi. sedangkan interaksi meloxicam + ketorolac (1 kali) dapat meningkatkan risiko efek samping yang serius termasuk gagal ginjal, peradangan gastrointestinal, perdarahan, ulserasi, dan perforasi sebaiknya dihindari untuk penggunaan kedua obat ini (Drugs.com., 2016).
4.6 Hubungan Karakteristik Subjek Penelitian dengan Kejadian Interaksi Obat pada Pasien Osteoarthritis
Hasil analisis dengan Chi Square menunjukkan tidak adanya hubungan antara variabel usia dengan kejadian interaksi obat pada pasien osteoarthritis dan terdapat hubungan antara variabel jumlah obat dengan kejadian interaksi obat pada pasien osteoarthritis.
4.6.1 Faktor Usia
Berdasarkan faktor usia, kejadian interaksi obat pada pasien osteoarthritis banyak terjadi pada pasien usia 26 – 55 tahun yaitu 33,33 % dengan tidak terjadi interaksi yaitu 11,66%. Seperti ditunjukkan pada Tabel 4.12.
Tabel 4.12 Hasil analisis interaksi obat pada pasien osteoarthritis berdasarkan usia
Usia
Interaksi Obat
Nilai P
Ada Tidak Ada
Jumlah
% terhadap total usia
Jumlah
% terhadap total usia
26 – 55 40 33,33 14 11,66
0,856
56 – 65 25 20,83 9 7,5
> 65 22 18,33 10 8,33
Total 87 72,5 33 27,5
Berdasarkan hasil analisis bivariat chi - Square dengan program SPSS 18 diperoleh tidak adanya hubungan yang bermakna antara variabel usia dengan kejadian interaksi obat pada pasien osteoarthritis dimana nilai (p>0,05) dapat dilihat pada Tabel 4.12. Hasil ini berbeda dengan penelitian Murtaza, dkk., (2015) bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara usia dengan interaksi obat dengan interaksi terjadi pada usia 60 tahun atau lebih. Hal yang sama juga terdapat pada penelitian Chavda, dkk., (2014) terdapat hubungan antara usia dengan interaksi p = <0,01 dapat disimpulkan bahwa pasien lebih tua dapat meningkatkan risiko interaksi obat.
4.6.2 Faktor Jumlah Obat
Berdasarkan jumlah obat kejadian interaksi obat pada pasien osteoarthritis terjadi lebih banyak pada pasien yang menerima <5 obat sebesar 54,2% dan tidak terjadi interaksi sebesar 15%. Seperti ditunjukkan pada Tabel 4.13.
Tabel 4.13 Hasil analisis interaksi obat pada pasien osteoarthritis berdasarkan jumlah obat
Jumlah Obat
Interaksi Obat
Nilai P
Ada Tidak Ada
Jumlah
% terhadap total jumlah
obat
Jumlah
% terhadap total jumlah
obat
<5 65 54,2 18 15
0,033
≥ 5 22 18,3 15 12,5
Total 87 72,5 33 27,5
Berdasarkan hasil analisis chi - Square dengan program SPSS 18 diperoleh adanya hubungan yang bermakna antara variabel jumlah obat dengan kejadian interaksi obat pada pasien osteoarthritis dimana nilai (p<0,05) pada Tabel 4.13.
dari tabel diatas dapat dilihat bahwa peresepan yang banyak terjadi interaksi <5
dengan persentase 54,2%. Pada penelitian yang dilakukan Churi terdapat hubungan bermakna antara jumlah obat dengan interaksi obat dimana (p = <0,01) hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak jumlah obat yang diberikan maka semakin meningkat interaksi obat (Churi, dkk., 2011). Pemberian obat yang lebih dari satu yang dikenal dengan polifarmasi ini disamping dapat memperkuat kerja obat (potensiasi) dapat juga berlawanan (antagonis) mengganggu absorbsi, mempengaruhi distribusi, mempengaruhi metabolisme dan menganggu eksresi obat yang disebabkan oleh terjadinya interaksi obat (Harianto, 2006).
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di Rumah Sakit Umum Haji Medan dapat disimpulkan antara lain:
a. terdapat interaksi obat pada pasien osteoarthritis di Rumah Sakit Umum Haji Medan.
b. persentase frekuensi interaksi obat osteoarthritis adalah 72,5 %.
c. pola mekanisme interaksi yang terjadi yaitu farmakodinamik (52,11%), farmakokinetik (45,77%) dan unknown (2,11%); Tingkat keparahan interaksi yang terjadi yaitu ringan (45,77%), sedang (51,40%) dan berat (2,81%).
d. tidak terdapat hubungan bermakna antara usia dengan interaksi obat (p>0,05) dan terdapat hubungan bermakna antara jumlah obat dengan interaksi obat (p<0,05).
5.2 Saran
Berdasarkan hasil dan kesimpulan dari penelitian ini maka disarankan:
a. Kepada dokter dan farmasis seharusnya lebih bekerja sama lagi atau lebih ditingkatkan lagi komunikasi dalam menentukan terapi untuk mencegah terjadinya interaksi obat karena dapat mempengaruhi hasil terapi.
b. Kepada peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian kejadian interaksi obat osteoarthritis dari pasien rawat inap di Rumah Sakit Umum Haji Medan dan juga melakukan penelitian di Rumah Sakit yang berbeda sebagai
DAFTAR PUSTAKA
Amalia, R..Z. (2014). Studi Interaksi Obat pada Terapi Pasien Osteoarthritis Usia di atas 50 Tahun di Instalasi Rawat Jalan RSD. Dr.Soebandi Jember Tahun 2001. Skripsi. Fakultas Farmasi Universitas Jember. Halaman 1.
Amilia, S.B., Ihsan, M., dan Burhanuddin, L. (2015). Gambaran Penderita Osteoarthritis di Bagian Bedah RSUD Arifin Achmad Periode Januari 2011 – Desember 2013. JOM FK. 2(2): 5.
Bakri, T.K. (2011). Profil Peresepan Obat pada Pasien Rawat Jalan Jamkesmas dari Poli Kardiovaskular di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan Periode Januari – Maret 2011. Skripsi. Medan: Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara. Halaman 3.
Chavda, B.N., Solanky, P.P., Baria, H., Naik, R., dan Bharti, K. (2014). Study of Potential Drug–drug Interaction between Prescribed Drugs in patients Attending Outpatient Department of Medicine at Tertiary – Care Hospital in South Gujarat Region. India : National Journal of Physiology, Pharmacy and Pharmacology. 5(3): 238.
Churi, S., Nag, K.A., dan Umesh, M. (2011). Assesment of Drug-drug Interactions in Hospitalised Patients in India. Asian Journal of Pharmaceutical and Clinical Research. 4(1): 63.
Depkes RI. (2006). Pharmaceutical Care untuk Pasien Penyakit Arthritis Rematik. Jakarta : Departemen Kesehatan RI. Halaman 19, 25, 35, 52.
Dipiro, T.J., Talbert, L.R., Yee, C.G., Matzke, R.G., Wells, G.B., dan Posey, M.L.
(2008). Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach. New York: Mc Graw Hills Company. Halaman. 1525-1532.
Drugs.com. Diakses Mei–Juni 2016. http://www.drugs.com/drug_interaction.php. Fradley, S. (2003). Interaksi Obat dalam Farmasi Klinis (Clinical Pharmacy)
Menuju Pengobatan Rasional dan Penghargaan Pilihan Pasien, (Aslam M, Tan CK, Prayitno, A Ed). Jakarta : PT Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia. Halaman 199 – 130.
Gitawati, R. (2008). Interaksi Obat dan Beberapa Implikasinya. Dalam Artikel Media Litbang Kesehatan. 18(4): 17.
Handayani., Dwi, R. (2009). Faktor Resiko yang Mempengaruhi Terjadinya Osteoarthritis pada Lansia di Instalasi Rehabilitas Medik RSU Haji Surabaya Tahun 2008. Surabaya : Airlangga University. Halaman 1.
Harianto., Kurnia, R., dan Siregar, S. (2006). Hubungan antara Kualifikasi Dokter dengan Kerasionalan Penulisan Resep Obat Oral Kardiovaskuler Pasien
Dewasa Ditinjau Dari Sudut Interaksi Obat. Majalah Ilmu Kefarmasian.
3(2): 67.
MacDonald, V,K., Sanmartin,C., Kellie,L., dan Deborah, A,M. (2014). Symptom Onset, Diagnosis and Management of Osteoarthritis. Research Article Statistics Canada. Health Reports. 25(9): 11.
Medscape.com. Diakses Mei-Juni 2016. http://www.medscape.com.interaction checker.
Murtaza, G., Yasir, G.K., Saira, A., Shujaat, A.K., dan Tahir, M.K. (2015).
Assessment of Potential Drug – drug Interactionsand its Associated Factors in the Hospitalized Cardiac Patients. Saudi Pharmaceutical Journal. http://dx.doi.org/10.1016/j.jsps.2015.03.009.
Nainggolan, O. (2009). Prevalensi dan Determinan Penyakit Rematik di Indonesia. Artikel Penelitian. Majalah Kedokteran indonesia. 59(12):
589.
Notoatmojdo, S. (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Halaman 127.
Rahmawati, Y.,dan Sunarti, S. (2014). Permasalahan Pemberian Obat pada Pasien Geriatri di Ruang Perawatan RSUD Saiful Anwar Malang.
Jurnal Kedokteran Brawijaya. 28(2): 142.
Rahmiati, S., dan Supadmi, W. (2012). Kajian Obat Antihipertensi Pada Pasien Hemodialisis di Bangsal Rawat Inap RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta Periode Tahun 2010. Jurnal Ilmiah Kefarmasian. 2(1): 107.
Riskesdas. (2013). Penyakit Sendi/Rematik/Encok. Kementerian Kesehatan RI:
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Halaman 94.
Setiawati, A. (2007). Interaksi Obat. dalam Farmakologi dan Terapi. Departemen Farmakologi dan Terapeutik FK UI. Jakarta : FK UI. Halaman 863, 872.
Sinusas, K., M.D. (2012). Osteoarthritis : Diagnosis and Treatment. America : American Academy of Family Physicians. 85(1): 52.
Soeroso, J., Isbagio, H., Kalim, H., Broto, R., dan Pramudyo, R. (2009).
Osteoarthritis. Dalam Sudoyo, Aru W., Setiyohadi, Bambang, Alwi, Idrus K., Marcellus Simadibrata & Setiati, Siti (Eds). Buku Ajar : Ilmu Penyakit Dalam Jilid III. Edisi V. Jakarta : Interna Publishing.
Halaman 2538 – 2542.
Soherwardi, S., Chogtu, B., dan Faizal, P. (2012). Survellance of The Potential Drug – Drug Interaction in The Medicine Department of a Tertiary Care Hospital. Journal of Clinical and Diagnostic Research. 6(7): 1260.
Stockley, I.H. (2008). Stockley’s Drug Interaction. Edisi kedelapan. Great Britain : Pharmaceutical Press. Halaman 1-9.
Suhardjono. (2009). Hipertensi Pada Usia Lanjut. Dalam Sudoyo, Aru W., Setiyohadi, Bambang, Alwi, Idrus K., Marcellus Simadibrata & Setiati, Siti (Eds). Buku Ajar : Ilmu Penyakit Dalam Jilid I. Edisi V. Jakarta : Interna Publishing. Jilid I. Edisi V. Jakarta : Interna Publishing. Halaman 899.
Syuaib, A.S.A.N., Darmawan, E., dan Mustofa. (2015). Potentially Inappropriate Medications (PIMs) Use Among Elderly Hospitalized Patients with Osteoarthritis at PKU Muhammadiyah Yogyakarta General Hospital. Pharmaciana. 5(1): 79.
Tatro, D.S. (2009). Drug Interaction Facts, San Carlos, California: A Wolters Kluwer Health Inc.
Thomas, E., George, P., dan Peter, C. (2013). Defining and Mapping The Person with Osteoarthritis for Population Studies and Public Health.
Original Article. Rheumatology. Halaman 340.
Ubedulla, S., Sekhar, C,N., Jayasree, T., Shanker, J., dan Rohit, K. (2013).
Prescription Trends in Department of Orthopedics at Tertiary Care Teaching Hospital. Department of Pharmacology, Mamata Medical Collage, Khammam, A.P., India. Journal of Chemical and Pharmaceutical Research. 5(11): 513.
Pratama, Setia, P. (2015). Studi Penggunaan Obat Pada Pasien Osteoarthritis Usia Lanjut Di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit dr. H Koesnadi Bondowoso Tahun 2013. Skripsi. Jember: Prodi Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Jember. Halaman 50, 57.
Pratiwi, A. I. (2015). Diagnosis and Treatment Osteoarthritis. Artikel Review: J Majority. 4(4): 11.
Putnam, W., Lawson, B., Frail, D., Bower, K., Archibald, G., Conter, H., dan MacKillop, J. (2006). Potential or Drug Interactions in Seniors with Osteoarthritis. Canadian Family Physician. 52: 341 – 345.
WHO. (2004). Osteoarthritis. Diakses 25 Januari 2016. http://www.who.int/medic ines/areas/priority_medicine/Ch6_12 Osteo.pdf.
Lampiran 1. Hasil analisis hubungan beberapa variabel bebas terhadap interaksi obat pada pasien osteoarthritis dengan Uji Chi-square pada Program SPSS Advanced 18.0
Crosstabs Usia – Interaksi Obat
Case Processing Summary
Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
usia * interaksi obat 120 100,0% 0 ,0% 120 100,0%
usia * interaksi obat Crosstabulation
interaksi obat
Total tidak ada ada
usia 26 - 55 Count 14 40 54
% within usia 25,9% 74,1% 100,0%
% within potensi interaksi obat
% within potensi interaksi obat
% within potensi interaksi obat
% within potensi interaksi obat
100,0% 100,0% 100,0%
% of Total 27,5% 72,5% 100,0%
Lampiran 1. (Lanjutan)
Linear-by-Linear Association ,255 1 ,614
N of Valid Cases 120
a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 8,80.
Crosstabs Jumlah Obat – Interaksi Obat
Case Processing Summary
Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
jumlah obat * interaksi obat
120 100,0% 0 ,0% 120 100,0%
jumlah obat * interaksi obat Crosstabulation
interaksi obat
Total tidak ada ada
jumlah obat <5 Count 18 65 83
% within jumlah obat 21,7% 78,3% 100,0%
% within potensi interaksi obat
% within potensi interaksi obat
% within potensi interaksi obat
100,0% 100,0% 100,0%
% of Total 27,5% 72,5% 100,0%
Lampiran 1. (Lanjutan)
Chi-Square Tests
Value df
Asymp. Sig. (2-sided)
Exact Sig.
(2-sided)
Exact Sig.
(1-sided)
Pearson Chi-Square 4,563a 1 ,033
Continuity Correctionb 3,666 1 ,056
Likelihood Ratio 4,396 1 ,036
Fisher's Exact Test ,046 ,029
Linear-by-Linear Association
4,525 1 ,033
N of Valid Cases 120
a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 10,18.
b. Computed only for a 2x2 table
Lampiran 2.Data interaksi obat pada pasien osteoarthritis di instalasi rawat jalan
Ringan 26 Ranitidin dapat mengubah
Farmakokinetik Ringan 5 Diklofenak akan meningkatkan
Farmakokinetik Ringan 1 Amiodaron akan
Lampiran 2. (Lanjutan)
Farmakodinamik Sedang 5 Pemberian natrium
Farmakokinetik Ringan 3 Cefadroxil akan meningkatkan
Farmakokinetik Ringan 3 Sukralfat dapat menunda atau
Farmakodinamik Sedang 1 Diklofenak mengurangi efek dari furosemida
Mungkin perlu dosis diuretik loop
Lampiran 2. (lanjutan)
Farmakodinamik Sedang 2 Diklofenak mengurangi efek
Farmakodinamik Sedang 2 Penggunaan gabungan dosis
Lampiran 2. (lanjutan)
Farmakodinamik Sedang 2 Pemberian aspirin
Farmakodinamik Sedang 3 Penggunaan gabungan dosis
Lampiran 2. (lanjutan)
12
Aspirin + Fenitoin
Farmakokinetik Ringan 1 Aspirin bersaing dengan fenitoin
Farmakodinamik Sedang 2 Meloxicam dapat
Farmakodinamik Sedang 1 Meloxicam dapat
Farmakodinamik Sedang 20 Meloxicam dapat
Lampiran 2. (lanjutan)
Farmakodinamik Sedang 2 Meloxicam mengurangi efek
Farmakokinetik Ringan 1 Karbamazepin akan
Farmakodinamik Sedang 4 Meloxsikam mengurangi efek
Lampiran 2 (lanjutan)
Farmakodinamik Sedang 1 Meloxicam dapat
Farmakodinamik Sedang 5 Meloxicam dapat
Lampiran 2. (lanjutan)
Farmakodinamik Sedang 14 Penggunaan gabungan
Farmakodinamik Sedang 1 Meloxicam dapat
Farmakodinamik Berat 1 Penggunaan ketorolac
Lampiran 2. (Lanjutan)
Farmakodinamik Sedang 2 Penggunaan kedua obat ini
Farmakodinamik Berat 3 Penggunaan tramadol dan
Farmakodinamik Sedang 3 Penggunaan tramadol dan
Lampiran 2. (Lanjutan)
Farmakokinetik Ringan 6 Gabapentin menurunkan
Farmakokinetik Ringan 14 Ranitidin akan menghambat
Farmakokinetik Ringan 5 Lansoprazol dapat
Lampiran 3. Surat izin penelitian dari fakultas
Lampiran 4. Surat izin Rumah Sakit
Lampiran 5. Surat selesai penelitian
Lampiran 6. Surat Ethical Clirens