• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Penatalaksanaan Osteoarthritis

2.3.3 Terapi Bedah

Terapi ini diberikan apabila terapi farmakologis tidak berhasil untuk mengurangi rasa sakit dan juga untuk melakukan koreksi apabila terjadi deformitas sendi yang mengganggu aktivitas sehari – hari ( Soeroso, dkk., 2009).

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan survei deskriptif. Pengambilan data pasien secara retrospektif yaitu penelitian yang berusaha melihat kebelakang (Notoatmodjo, 2010). Data dikumpulkan dari rekam medik pada pasien osteoarthritis di instalasi rawat jalan Rumah Sakit Umum Haji Medan, selama periode September 2015 - November 2015.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1 Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Umum Haji Medan yang berlokasi di Jl. RS. Haji Medan Estate. Lokasi ini dipilih karena berdasarkan pertimbangan Rumah Sakit Umum Haji Medan merupakan rumah sakit rujukan dan merupakan rumah sakit kelas B.

3.2.2 Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari - Maret 2016 dengan pengambilan data selama 3 bulan yaitu bulan September 2015 – November 2015 di Instalasi rawat jalan Rumah Sakit Umum Haji Medan.

3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh data rekam medik pasien

osteoarthritis di instalasi rawat jalan Rumah Sakit Umum Haji Medan periode September 2015 – November 2015 sejumlah 120 rekam medik.

3.3.2 Sampel

Sampel dalam penelitian ini adalah pasien osteoarthritis yang melakukan pengobatan di instalasi rawat jalan Rumah Sakit Umum Haji Medan pada periode September 2015 – November 2015. Pengambilan sampel dalam penelitian ini harus memenuhi kriteria inklusi dan tidak memenuhi kriteria eksklusi.

Sampel yang dipilih harus memenuhi kriteria inklusi adalah:

a. pasien osteoarthritis dengan atau tanpa penyakit penyerta yang menjalani pengobatan di instalasi rawat jalan Rumah Sakit Umum Haji Medan.

b. data rekam medik lengkap, memuat : data pasien (nama, jenis kelamin, usia), diagnosis penyakit, data peggunaan obat pada pasien osteoarthritis.

c. mendapat terapi ≥ 2 obat.

Kriteria eksklusi adalah:

a. pasien osteoarthritis yang bukan menjalani pengobatan di instalasi rawat jalan Rumah Sakit Umum Haji Medan.

b. data rekam medik pasien lengkap tetapi tidak dapat dibaca.

3.4 Definisi Operasional

Definisi operasional yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

a. Osteoarthritis merupakan penyakit sendi degeneratif yang berkaitan dengan kerusakan kartilago sendi.

b. Kartu rekam medik adalah dokumen milik Rumah Sakit yang berisi data–data

Pasien.

c. Periode pengamatan adalah suatu rentang waktu untuk menentukan besarnya insidensi pada periode tersebut.

d. Interaksi obat adalah situasi di mana suatu obat mempengaruhi aktivitas obat lain, yaitu meningkatkan atau menurunkan efeknya, atau menghasilkan efek baru yang tidak diinginkan atau direncanakan.

e. Frekuensi interaksi adalah jumlah kasus interaksi obat pada pasien osteoarthritis – obat yang terjadi.

f. Mekanisme interaksi adalah bagaimana interaksi obat terjadi apakah farmakokinetik, farmakodinamik, atau unknown.

g. Tingkat keparahan interaksi obat adalah ringan, sedang, berat.

h. Jumlah obat adalah berapa banyak item obat yang diberikan dalam satu resep, jumlah obat ditentukan menjadi ≥ 2 obat.

i. Interaksi unknown adalah interaksi obat yang mekanismenya belum diketahui secara pasti.

j. Interaksi farmakokinetik adalah interaksi pada proses absorpsi, interaksi pada proses distribusi, interaksi pada proses metabolisme, interaksi pada proses eksresi.

k. Interaksi farmakodinamik adalah interaksi antara obat-obat yang mempunyai khasiat atau efek samping yang serupa atau berlawanan.

l. Tingkat keparahan ringan kemungkinan dapat mengganggu tetapi seharusnya tidak secara signifikan mempengaruhi hasil terapi. Pengobatan tambahan biasa tidak diperlukan.

m. Tingkat keparahan sedang menyebabkan penurunan status klinis pasien.

Pengobatan tambahan, rawat inap, atau diperpanjang dirawat dirumah sakit mungkin diperlukan.

n. Tingkat keparahan berat secara potensial mengancam jiwa atau dapat menyebabkan kerusakan permanen.

3.5 Instrumen Penelitian 3.5.1 Sumber Data

Sumber data yang digunakan di dalam penelitian ini berupa rekam medik pasien penderita osteoarthritis di instalasi rawat jalan Rumah Sakit Umum Haji Medan periode September 2015 – November 2015.

3.5.2 Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan cara mengumpulkan rekam medik pasien penderita osteoarthritis periode September 2015 – November 2015. Data yang dikumpulkan kemudian dikelompokkan meliputi data pasien (usia, jenis kelamin, jumlah obat yang diterima) dan menyeleksi data berdasarkan ada tidaknya interaksi obat yang terjadi pada data pengobatan pasien osteoarthritis.

3.6 Analisis Data

Data yang telah dikumpulkan kemudian akan dianalisis secara deskriptif.

Data interaksi obat dilakukan secara teoritik dengan studi literatur literature Drug Interaction Fact, Stockley’s Drug Interaction serta digunakan juga situs internet

yang terpercaya http://www.medscape.com/druginfo/druginterchecker dan http://www.drugs.com/drug interaction.php. Analisis data menggunakan metode statistik deskriptif meliputi persentase frekuensi interaksi obat pada pasien

osteoarthritis secara keseluruhan, mekanisme interaksi obat baik yang mengikuti mekanisme interaksi farmakokinetik, farmakodinamik, dan unknown, serta ditentukan jenis-jenis obat yang sering berinteraksi dan tingkat keparahannya. Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel. Hubungan antara variabel penelitian dengan interaksi obat yang diperoleh dianalisis dengan metode Chi-Square menggunakan program SPSS versi 18.0.

3.7 Bagan Alur Penelitian

Adapun gambaran dari pelaksanaan penelitian terdapat pada Gambar 3.1:

Gambar 3.1 Bagan alur penelitian interaksi obat pada pasien osteoarthritis di instalasi rawat jalan Rumah Sakit Umum Haji Medan Periode September 2015 – November 2015

Mengumpulkan data penggunaan obat pada pasien osteoarthritis dari rekam medik

Seleksi data yang memenuhi kriteria inklusi

Identifikasi obat yang berinteraksi

Persentase interaksi

Penarikan Kesimpulan Analisis data

Obat yang sering berinteraksi

Mekanisme interaksi

Tingkat keparahan

interaksi

3.8 Langkah Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan dengan langkah-langkah seperti berikut:

a. Meminta rekomendasi Dekan Fakultas Farmasi USU untuk dapat melakukan penelitian di Rumah Sakit Umum Haji Medan.

b. Menghubungi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Haji Medan untuk mendapatkan izin melakukan penelitian dan pengambilan data, dengan membawa surat rekomendasi dari fakultas.

c. Mengumpulkan data berupa rekam medik yang tersedia di Rumah Sakit Umum Haji Medan

d. Menganalisis data dan informasi yang diperoleh sehingga didapatkan kesimpulan dari penelitian.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Karakteristik Umum Subjek Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada pasien osteoarthritis di instalasi rawat jalan Rumah Sakit Umum Haji Medan periode September 2015 – November 2015 yang memenuhi kriteria inklusi adalah 120 rekam medik yang terdapat didalamnya 120 lembar resep.

4.1.1 Usia

Berdasarkan dari 120 rekam medik pada pasien osteoarthritis menunjukkan gambaran bahwa karakteristik subjek yang dominan antara lain perempuan n= 71 ( 59,17 %) dan usia 26 – 55 tahun n= 54 (45%). Karakteristik umum subjek mengenai usia dan jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1 Karakteristik subjek penelitian jenis kelamin dan usia

Karakteristik subjek Jumlah RM (n= 120) %

Jenis Kelamin Laki – laki Perempuan

49 71

40,83 59,17 Usia

26 – 55 56 – 65

> 65

54 34 32

45 28,3 26,67 Berdasarkan Tabel 4.1 menunjukkan bahwa penderita osteoarthritis dominan banyak diderita oleh pasien dengan rentang usia 26 – 55 tahun.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Kanada diperkirakan 37 % orang yang berusia 20 tahun atau lebih telah didiagnosis arthritis yaitu osteoarthritis (MacDonald, 2014). Hal ini bisa terjadi karena trauma, pekerjaan dan faktor

Soebandi Jember bahwa pasien osteoarthritis diderita pada rentang usia 50 – 59 tahun. Hal serupa juga terdapat dalam penelitian Thomas, dkk. (2013) menunjukkan bahwa pasien osteoarthritis lebih tinggi terjadi pada wanita dan meningkat dengan pertambahan usia ≥50 tahun. Hal ini dikarenakan bahwa proses penuaan dianggap sebagai penyebab peningkatan kelemahan disekitar sendi, penurunan kelenturan sendi, kalsifikasi tulang rawan dan menurunkan fungdi kondrosit yang semuanya mendukung terjadinya osteoarthritis (Amilia, 2015).

Secara keseluruhan dibawah usia 45 tahun frekuensi penderita osteoarthritis antara wanita dan pria relatif sama, tetapi diatas 50 tahun (setelah menopause) frekuensi osteoarthritis lebih banyak terjadi pada wanita dari pada pria. Hal ini menunjukkan adanya peran hormonal pada patogenesis osteoarthritis (Soeroso, dkk., 2009). Peran hormonal pada patogenesis osteoarthritis adalah hormon estrogen, dimana salah satu fungsinya adalah membantu sintesa kondrosit dalam matriks tulang dan jika estrogen menurun maka sintesa kondrosit akan menurun sedangkan aktifitas lisosom meningkat, hal inilah yang menyebabkan osteoarthritis banyak terjadi pada wanita (Pratama, 2015).

4.1.2 Jumlah Obat

Berdasarkan sampel yang diperoleh dari 120 rekam medik yang menggunakan obat pada pasien osteoarthritis dalam resepnya, diperoleh 69,16 % jumlah obat yang <5. Seperti yang terdapat pada Tabel 4.2.

Tabel 4.2 Karakteristik subjek penelitian jumlah obat

Jumlah Obat Jumlah Resep (n= 120) %

Jumlah obat

<5

≥5

83 37

69,16 30,83

Berdasarkan Tabel 4.2 menunjukkan bahwa peresepan <5 obat memiliki persentase yang tinggi yaitu 69,16 % pada pasien osteoarthritis dibanding pada resep ≥5 yaitu 30,83%. Pada penelitian (Ubedulla, dkk., 2013) yang dilakukan di Rumah Sakit pendidikan bagian ortopedik menunjukkan jumlah obat yang diberikan berkisar 1 sampai 8. Hal ini terjadi karena penyakit kronis seperti osteoarthritis umumnya memperoleh peresepan lebih banyak (Syuaib, dkk., 2015).

4.2 Profil Penggunaan Obat pada Pasien Osteoarthritis di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Umum Haji Medan periode September 2015 –

November 2015

Persentase penggunaan obat pada pasien osteoarthritis di Rumah Sakit Umum Haji Medan September 2015 – November 2015 yang diambil dari 120 rekam medik yang didalamnya terdapat 120 resep dimana terdapat 177 penggunaan obat pada pasien osteoarthritis ditunjukkan pada Tabel 4.3.

Tabel 4.3 Persentase tingkat penggunaan obat pada pasien osteoarthritis di instalasi rawat jalan Rumah Sakit Umum Haji Medan periode September 2015 – November 2015

No. Nama Obat Jumlah Penggunaan %

1 Meloxicam 78 44,06

2 Natrium Diklofenak 37 20,90

3 Paracetamol 27 15,24

4 Glucosamin 23 13

5 Tramadol 7 3,95

6 Aspirin 5 2,82

Total 177

Berdasarkan Tabel 4.3 menunjukkan bahwa persentase yang tertinggi penggunaan obat pada pasien osteoarthritis yang paling banyak digunakan adalah meloxicam sebesar 44,06%, natrium diklofenak 20,90% dan paracetamol sebesar 15,24%. Pada penelitian (Pratama, 2015) yang dilakukan di Rumah Sakit dr. H Koesnadi Bondowoso menunjukkan bahwa obat yang banyak digunakan pada

pasien osteoarthritis adalah meloxicam. Penggunaan obat NSAID diberikan pada pasien yang menderita osteoarthritis ringan sampai berat (Sinusas, 2012).

Pemakaian NSAID memberikan rasa nyaman bagi banyak orang dengan persendian kronis, tetapi dapat juga menyebabkan masalah gastrointestinal yang serius, oleh karena itu penggunaan NSAID merupakan pilihan terakhir (Depkes RI, 2006).

4.3 Profil Distribusi Penyakit Penyerta pada Pasien Osteoarthritis di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Umum Haji Medan periode September 2015 – November 2015

Berdasarkan analisis terhadap 120 rekam medik terdapat 106 penyakit penyerta pada pasien osteoarthritis dapat dilihat pada Tabel 4.4.

Tabel 4.4 Persentase penyakit penyerta pada pasien osteoarthritis di instalasi rawat jalan Rumah Sakit Umum Haji Medan periode September 2015 – November 2015

No Penyakit Penyerta Jumlah %

1 Hipertensi 39 36,8

2 Depresi 16 15,09

3 Diabetes 15 14,15

4 Epilepsi 15 14,15

5 Dispepsia 10 9,43

6 Ansietas 6 5,66

7 Infeksi saluran kemih 3 2,83

8 Jantung 2 1,88

Total 106

Berdasarkan hasil pada Tabel 4.4 diperoleh bahwa persentase yang tertinggi penyakit penyerta pada pasien osteoarthritis adalah hipertensi dengan 39 kasus sebesar 36,8%, depresi 15,09%, dan diabetes sebesar 14,15%. Hal ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Pratama tahun 2015 di Rumah Sakit dr. H Koesnadi Bondowoso menunjukkan bahwa penyakit penyerta yang paling banyak adalah penyakit hipertensi. Hal ini dikarekan pada usia lanjut mengalami

penurunan elastisitas pembuluh darah perifer sehingga meningkatkan resistensi pembuluh darah perifer yang menyebabkan peningkatan tekanan darah (Suhardjono, 2009).

4.4 Persentase Frekuensi Interaksi Obat pada Pasien Osteoarthritis pada Subjek Penelitian

Berdasarkan analisis terhadap 120 rekam medik, ditemukan adanya interaksi obat pada pasien osteoarthritis sebesar 72,5%. Gambaran umum kejadian interaksi obat kriteria usia ditunjukkan pada Tabel 4.5.

Tabel 4.5 Persentase interaksi obat pada pasien osteoarthritis pada subjek penelitian

Berdasarkan analisis terhadap 120 lembar resep pasien, adanya interaksi obat padapasien osteoarthritis terjadi paling tinggi pada usia 26 – 55 tahun yaitu 33,33% resep dibandingkan dengan pasien usia 56 - 65 tahun yaitu 20,83% resep, usia >65 tahun yaitu 18,33% resep dan interaksi obat lebih banyak pada pasien yang menerima <5 jenis obat yaitu 54,2% dibandingkan pasien yang menerima >5 jenis obat yaitu 18,33 %.

Hal ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Churi, dkk., (2011) No Kriteria

Subjek

Total Rekam Medik = 120

Berinteraksi % Tidak

serupa juga pada penelitian Soherwardi (2012) bahwa interaksi obat yang tertinggi terjadi di umur 56 – 65 tahun, dengan semakin meningkatnya usia maka interaksi semakin meningkat. Begitu juga dengan interaksi obat berdasarkan jumlah obat semakin tingginya jumlah obat yang diresepkan maka semakin meningkat interaksi obat (Murtaza, dkk., 2015).

4.5 Gambaran Kejadian Interaksi Obat pada Pasien Osteoarthritis Pada Subjek Penelitian

Berdasarkan analisis terhadap 120 rekam medik pasien yang mengalami interaksi obat ditemukan 142 kasus interaksi, terdiri dari 30 jenis interaksi obat pada pasien osteoarthritis. Dapat dilihat pada Tabel 4.6.

4.5.1 Obat pada Pasien Osteoarthritis yang Sering Mengalami Interaksi Obat pada Subjek Penelitian

Berikut ini adalah data mengenai jenis kejadian interaksi obat pada pasien osteoarthritis yang dilihat dari 142 kasus yang diamati.

Tabel 4.6 Jenis kejadian interaksi obat pada pasien osteoarthritis pada subjek

penelitian

No Obat yang berinteraksi Jumlah kasus

1 Natrium diklofenak + Ranitidin 26

2 Meloxicam + Amlodipin 20

3 Meloxicam + Metilprednisolon 14

4 Paracetamol + Ranitidin 14

5 Paracetamol + Gabapentin 6

6 Paracetamol + Lansoprazol 5

7 Natrium diklofenak + Meloxicam 5

8 Meloxicam + Nifedifin 5

9 Natrium diklofenak + Amlodipin 5

10 Meloxicam + Valsartan 4

11 Tramadol + Alprazolam 3

12 Natrium diklofenak + Cefadroxil 3

13 Meloxicam + Glimepirid 3

14 Natrium diklofenak + Sucralfat 3

15 Meloxicam + Aspirin 3

16 Tramadol + Amitriptilin 3

Tabel 4.6 (Lanjutan)

18 Natrium diklofenak + Valsartan 2

19 Meloxicam + Terazosin 2

20 Aspirin + Natrium diklofenak 2

21 Meloxicam + Ramipril 2

22 Aspirin + Amlodipin 2

23 Meloxicam + Bisoprolol 1

24 Meloxicam + Karbamazepin 1

25 Natrium diklofenak + Furosemid 1

26 Meloxicam + Ketorolac 1

27 Meloxicam + Captopril 1

28 Natrium diklofenak + Amiodaron 1

29 Meloxicam + Candesartan 1

30 Aspirin + Fenitoin 1

Total 142

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh jenis obat pada pasien osteoarthritis yang paling sering mengalami interaksi adalah meloxicam 38,73%, natrium diklofenak 33,80%, dan paracetamol 17,60% dapat dilihat pada Tabel 4.7.

Tabel 4.7 Jumlah obat pada pasien osteoarthritis yang memiliki interaksi obat pada subjek penelitian

No Nama obat Jumlah (n = 142) %

1. Meloxicam 55 38,73

2. Natrium diklofenak 48 33,80

3. Paracetamol 25 17,60

4. Tramadol 8 5,63

5. Aspirin 6 4,22

Total 142

Hasil yang diperoleh dipengaruhi tingginya peresepan obat yang melibatkan obat – obat tersebut di Rumah Sakit Umum Haji Medan salah satunya yaitu pada pasien osteoarthritis di instalasi rawat jalan yang persentase paling tinggi adalah meloxicam. Menurut ACR (American College of Rheumatology) merekomendasikan parasetamol sebagai obat pilihan pertama dalam penatalaksanaan nyeri, karena relatif aman, efikasi, dan harga murah dibanding NSAID (Depkes RI, 2006). Ketika Asetaminophen gagal untuk mengontrol

gejala sedang sampai berat dianjurkan terapi NSAID (Sinusas, 2012).

Jenis interaksi yang banyak melibatkan meloxicam adalah meloxicam – amlodipin (20 kali). Mekanisme interaksi antara meloxicam dan amlodipin adalah farmakodinamika. Meloxicam dapat menurunkan efek antihipertensi dari amlodipin mekanismenya terkait dengan perubahan tonus pembuluh darah, yang tergantung pada prostasiklin dan prostanoids vasodilatasi lainnya (Drugs.com., 2016).

Jenis interaksi obat yang terbanyak lainnya adalah natrium diklofenak dan ranitidin adalah farmakokinetik, dengan mengubah disposisi obat natrium diklofenak dengan cara menurunkan atau meningkatkan konsentrasi plasma.

Mekanisme ini terkait dengan penghambatan metabolisme, perubahan pH lambung yang mengurangi penyerapan, dan / atau mengurangi eliminasi urine (Drugs.com., 2016). Penggunaan ranitidin dan NSAID sangat menguntungkan karena dapat mengurangi risiko gastrointestinal.

4.5.2 Mekanisme Interaksi Obat pada Pasien Osteoarthritis pada Subjek Penelitian

Mekanisme interaksi yang ditemukan pada penelitian ini adalah farmakodinamik, farmakokinetik, dan unknown ditunjukkan pada Tabel 4.8.

Tabel 4.8 Mekanisme interaksi pada jenis kejadian interaksi obat pada pasien osteoarthritis pada subjek penelitian

No Nama Obat Mekanisme

Interaksi obat Jumlah kasus

1 Meloxicam + Amlodipin Farmakodinamik 20

2 Meloxicam + Metilprednisolon Farmakodinamik 14

3 Meloxicam + Nifedipin Farmakodinamik 5

4 Natrium diklofenak + Amlodipin Farmakodinamik 5

5 Meloxicam + Valsartan Farmakodinamik 4

6 Aspirin + Meloxicam Farmakodinamik 3

7 Tramadol + Alprazolam Farmakodinamik 3

8 Tramadol + Amitriptilin Farmakodinamik 3

Tabel 4.8 (Lanjutan)

9 Tramadol + Gabapentin Farmakodinamik 2

10 Meloxicam + Terazosin Farmakodinamik 2

11 Natrium diklofenak + Aspirin Farmakodinamik 2

12 Meloxicam + Ramipril Farmakodinamik 2

13 Natrium diklofenak + Valsartan Farmakodinamik 2

14 Aspirin + Amlodipin Farmakodinamik 2

15 Meloxicam + Captopril Farmakodinamik 1

16 Meloxicam + Ketorolac Farmakodinamik 1

17 Meloxicam + Candesartan Farmakodinamik 1

18 Meloxicam + Bisoprolol Farmakodinamik 1

19 Natrium diklofenak + Furosemid Farmakodinamik 1 20 Natrium diklofenak + Ranitidin Farmakokinetik 26

21 Paracetamol + Ranitidin Farmakokinetik 14

22 Paracetamol + Gabapentin Farmakokinetik 6 23 Paracetamol + Lansoprazol Farmakokinetik 5 24 natrium diklofenak + Meloxicam Farmakokinetik 5 25 Natrium diklofenak + Cefadroxil Farmakokinetik 3 26 Natrium diklofenak + Sucralfat Farmakokinetik 3 27 Natrium diklofenak + Amiodaron Farmakokinetik 1 28 Meloxicam + karbamazepin Farmakokinetik 1

29 Aspirin + Fenitoin Farmakokinetik 1

30 Meloxicam + Glimepirid Unknown 3

Berdasarkan hasil penelitian ditemukan persentase mekanisme interaksi obat terdiri dari farmakodinamik 52,11%, farmakokinetik 45,77%, dan unknown 2,11 % dapat dilihat pada Tabel 4.9.

Tabel 4.9 Persentase mekanisme interaksi obat pada pasien osteoarthritis pada subjek penelitian

No Mekanisme interaksi obat Jumlah kasus %

1 Interaksi farmakodinamik 74 52,11

2 Interaksi farmakokinetik 65 45,77

3 Unknown 3 2,11

Total 142

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dapat dilihat bahwa mekanisme interaksi yang paling tinggi adalah farmakodinamik (52,11%). Hal yang sama juga terdapat dalam penelitian (Pratama, 2015) dimana mekanisme

interaksi yang paling tinggi adalah Farmakodinamik. Hal tersebut menunjukkan bahwa obat – obat yang diberikan saling berinteraksi pada sistem reseptor, tempat kerja atau sistem fisiologi yang sama, sehingga terjadi efek yang adiktif, sinergis (saling memperkuat), dan antagonis (saling meniadakan) (Rahmiati, 2012).

a. Mekanisme Farmakodinamik

Pada interaksi farmakodinamik jenis interaksi yang paling banyak adalah meloxicam + amlodipin (20 kali). Mekanisme interaksi dari meloxicam dan amlodipin adalah meloxicam dapat menurunkan efek antihipertensi dari amlodipin mekanisme ini terkait dengan perubahan tonus pembuluh darah, yang tergantung pada prostasiklin dan prostanoids vasodilatasi lainnya, oleh karena itu maka tekanan darah harus di kontrol (Drugs.com., 2016).

b. Mekanisme Farmakokinetik

Jenis kejadian interaksi yang paling banyak adalah natrium diklofenak dan ranitidin (26 kali). Mekanisme interaksi antara natrium diklofenak dan ranitidin adalah ranitidin akan mengubah disposisi obat natrium diklofenak dengan cara menurunkan atau meningkatkan konsentrasi plasma, mekanisme ini terkait dengan penghambatan metabolisme, perubahan pH lambung yang mengurangi penyerapan, dan / atau mengurangi eliminasi urine (Drugs.com., 2016).

4.5.3 Tingkat Keparahan Interaksi Obat pada Pasien Osteoarthritis pada Subjek Penelitian

Tingkat keparahan yang ditemukan dalam penelitian ini adalah ringan, sedang dan berat seperti ditunjukkan pada Tabel 4.10.

Tabel 4.10 Tingkat keparahan pada jenis kejadian interaksi obat pada pasien osteoarthritis pada subjek penelitian

No Nama Obat Tingkat keparahan

interaksi Jumlah kasus

1 Natrium diklofenak + Ranitidin Ringan 26

2 Paracetamol + Ranitidin Ringan 14

3 Paracetamol + Gabapentin Ringan 6

4 Paracetamol + Lansoprazol Ringan 5

5 Natrium diklofenak + Meloxicam Ringan 5

6 Natrium diklofenak + Sucralfat Ringan 3

7 Natrium diklofenak + Cefadroxil Ringan 3

8 Natrium diklofenak + Amiodaron Ringan 1

9 Aspirin + Fenitoin Ringan 1

10 Meloxicam + Karbamazepin Ringan 1

11 Meloxicam + Amlodipin Sedang 20

12 Meloxicam + Metilprednisolon Sedang 14

13 Meloxicam + Nifedifin Sedang 5

14 Natrium diklofenak + Amlodipin Sedang 5

15 Meloxicam + Valsartan Sedang 4

16 Meloxicam + Glimepirid Sedang 3

17 Tramadol + Alprazolam Sedang 3

18 Aspirin + Meloxicam Sedang 3

19 Meloxicam + Terazosin Sedang 2

20 Aspirin + Natrium diklofenak Sedang 2

21 Tramadol + Gabapentin Sedang 2

22 Meloxicam + Ramipril Sedang 2

23 Natrium diklofenak + valsartan Sedang 2

24 Aspirin + Amlodipin Sedang 2

25 Meloxicam + Bisoprolol Sedang 1

26 Natrium diklofenak + Furosemid Sedang 1

27 Meloxicam + Captopril Sedang 1

28 Meloxicam + Candesartan Sedang 1

29 Tramadol + Amitriptilin Berat 3

30 Meloxicam + Ketorolak Berat 1

Persentase tingkat keparahan interaksi obat pada pasien osteoarthritis dapat ditunjukkan pada Tabel 4.11.

Tabel 4.11 Tingkat keparahan interaksi obat pada pasien osteoarthritis pada subjek penelitian

Tingkat keparahan interaksi sangat penting dalam menilai risiko dan manfaat dari alternatif terapi. Dengan penyesuaian dosis yang tepat atau modifikasi jadwal pemberian, efek negatif dari interaksi dapat dihindari (Tatro, 2009).Dari data diatas dapat ditemukan tingkat keparahan ringan 45,77%, sedang 51,40 %, dan berat 2,81% pada Tabel 4.11.

Suatu interaksi termasuk dalam tingkat keparahan ringan efek biasanya ringan, konsekuensinya mungkin menganngu atau tidak mencolok tetapi tidak secara signifikan mempengaruhi hasil terapi. Pengobatan tambahan tidak diperlukan (Tatro, 2009). Kejadian interaksi kategori ringan yang banyak adalah natrium diklofenak + ranitidin (26 kali). Diketahui ranitidin dapat mengubah disposisi obat Natrium diklofenak dengan cara peningkatan atau penurunan konsentrasi plasma. Signifikansi secara statistik kecil dan signifikansi klinis terbatas. pemantauan klinis dari respon pasien dan toleransi dianjurkan (Drugs.com., 2016).

Interaksi sedang dapat menyebabkan penurunan status klinis pasien.

Pengobatan tambahan, rawat inap, atau perpanjangan perawatan rumah sakit mungkin diperlukan (Tatro, 2009). Interaksi yang banyak terjadi pada tingkat keparahan sedang adalah meloxicam + Amlodipin (20 kali) diketahui meloxicam dapat menurunkan efek antihipertensi dari amlodipin jadi dilakukan pemantauan tekanan darah (Drugs.com., 2016).

Interaksi berat efek berpotensi mengancam jiwa atau mampu menyebabkan kerusakan permanen (Tatro, 2009). Hindari kombinasi penggunaan obat, apabila risiko interaksi lebih besar dibandingkan manfaat (Drugs.com., 2016). Kejadian interaksi yang banyak ditemukan pada tingkat keparahan berat

adalah tramadol + Amitriptylin (3 kali), diketahui amitriptilin memiliki efek sedativ yang apabila digabung dengan tramadol dapat meningkatkan risiko kejang maka dari itu penggunaan obat ini harus diperhatiakan terutama pada orang tua dan pasien dengan epilepsi. sedangkan interaksi meloxicam + ketorolac (1 kali) dapat meningkatkan risiko efek samping yang serius termasuk gagal ginjal, peradangan gastrointestinal, perdarahan, ulserasi, dan perforasi sebaiknya dihindari untuk penggunaan kedua obat ini (Drugs.com., 2016).

4.6 Hubungan Karakteristik Subjek Penelitian dengan Kejadian Interaksi Obat pada Pasien Osteoarthritis

Hasil analisis dengan Chi Square menunjukkan tidak adanya hubungan antara variabel usia dengan kejadian interaksi obat pada pasien osteoarthritis dan terdapat hubungan antara variabel jumlah obat dengan kejadian interaksi obat pada pasien osteoarthritis.

4.6.1 Faktor Usia

Berdasarkan faktor usia, kejadian interaksi obat pada pasien osteoarthritis banyak terjadi pada pasien usia 26 – 55 tahun yaitu 33,33 % dengan tidak terjadi interaksi yaitu 11,66%. Seperti ditunjukkan pada Tabel 4.12.

Tabel 4.12 Hasil analisis interaksi obat pada pasien osteoarthritis berdasarkan usia

Usia

Interaksi Obat

Nilai P

Ada Tidak Ada

Jumlah

% terhadap total usia

Jumlah

% terhadap total usia

26 – 55 40 33,33 14 11,66

0,856

56 – 65 25 20,83 9 7,5

> 65 22 18,33 10 8,33

Total 87 72,5 33 27,5

Berdasarkan hasil analisis bivariat chi - Square dengan program SPSS 18 diperoleh tidak adanya hubungan yang bermakna antara variabel usia dengan kejadian interaksi obat pada pasien osteoarthritis dimana nilai (p>0,05) dapat dilihat pada Tabel 4.12. Hasil ini berbeda dengan penelitian Murtaza, dkk., (2015) bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara usia dengan interaksi obat dengan interaksi terjadi pada usia 60 tahun atau lebih. Hal yang sama juga terdapat pada penelitian Chavda, dkk., (2014) terdapat hubungan antara usia dengan interaksi p = <0,01 dapat disimpulkan bahwa pasien lebih tua dapat meningkatkan risiko interaksi obat.

4.6.2 Faktor Jumlah Obat

Berdasarkan jumlah obat kejadian interaksi obat pada pasien osteoarthritis terjadi lebih banyak pada pasien yang menerima <5 obat sebesar 54,2% dan tidak terjadi interaksi sebesar 15%. Seperti ditunjukkan pada Tabel 4.13.

Tabel 4.13 Hasil analisis interaksi obat pada pasien osteoarthritis berdasarkan

Tabel 4.13 Hasil analisis interaksi obat pada pasien osteoarthritis berdasarkan

Dokumen terkait