• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. KENDALA DAN SOLUSI PARA GURU

3.3 Interaksi Antara Guru dan Kepala Sekolah

Hubungan kerjasama dalam kehidupan sekolah dapat dibedakan sebagai hubungan kekuasaan dan hubungan yang bersifat koordinasi, dimana terjalin hubungan kerja antar kepala sekolah dengan guru, tenaga administrasi, dsb. Kepala sekolah dan guru adalah personil yang sangat berperan dalam menentukan keberhasilan pendidikan di sekolah. Hubungan antara guru dan kepala sekolah di SMPN 10 Medan sudah terjalin sudah cukup baik. Beberapa kali saat saya berada di kantor guru dan mendengarkan perbincangan para guru disana, mereka mengungkapkan hal-hal yang umumnya positif tentang kepala sekolah. Seperti yang dikatakan ibu H. Sinaga saat kami berbincang-bincang:

Ibu rasa kepala sekolah yang kali ini lebih bagus dari yang kepala sekolah yang lalu-lalu. Ibu bukan bilang yang kemarin tidak bagus ya dek. Tapi bapak ini lebih peduli dengan sekolah. Beliau mau mendengarkan aspirasi para guru, mau memberikan solusi-solusi jika ada masalah yang berhubungan dengan pembelajaran pada saat kami melaksanakan rapat. Beliau juga aktif menyampaikan kepada pihak komite sekolah agar beberapa fasilitas dibenahi lagi, walaupun belum semua harapan itu terealisasi.

Guru dan kepala sekolah bersama-sama membentuk pembelajaran yang akan diterapkan pada murid. Guru memang memiliki keleluasaan dalam membuat Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) per tahunnya, namun pada akhirnya kepala sekolah yang berhak untuk menyetujui atau tidak RPP tersebut. Biasanya, RPP akan disampaikan oleh tiap-tiap guru pada kepala sekolah pada

saat rapat besar. RPP disampaikan baik secara lisan dan tulisan kepada kepala sekolah. Biasanya juga, kepala sekolah menyetujui saja RPP yang disampaikan guru. Saat saya mewawancarai beliau di ruangannya, bapak R. Batubara mengatakan:

Saya memang lebih sering menyetujui saja apa RPP yang dibuat para guru. Saya percaya bahwa para guru itu akan memberikan yang terbaik dalam perencanaannya. Lagi pula, para guru disinikan bukan yang baru mengajar setahun dua tahun, hampir seluruh guru disini telah mengabdi belasan tahun. Pasti mereka sudah berpengalaman. Saya sih umumnya cuma sedikit menambahkan apa-apa saja yang perlu, misalnya saja dari segi metode mengajarnya. Tapi saya tidak bermaksud untuk mengubah konsep dasar pemikiran si guru. Selain itu, kan guru yang mengajar, dia pasti lebih tahu apa yang akan diajarkannya.

Bukan itu saja yang membentuk bagaimana pola mengajar para guru di SMPN 10 Medan, ada juga berbagai hal lainnya. Salah satunya lagi, MGMP. Musyarawah Guru Mata Pelajaran (MGMP) merupakan suatu forum atau wadah profesional guru mata pelajaran yang berada pada suatu wilayah kabupaten/kota/kecamatan/sanggar/gugus sekolah. Prinsip kerjanya adalah cerminan kegiatan ―dari, oleh, dan untuk guru‖ dari semua sekolah yang telah ditentukan. Dengan demikian, sebenarnya MGMP merupakan organisasi yang bersifat mandiri dan berasaskan kekeluargaan. Tujuan dari MGMP adalah untuk memotivasi guru guna meningkatkan kemampuan dan keterampilan dalam merencanakan, melaksanakan, dan membuat evaluasi program pembelajaran dalam rangka meningkatkan keyakinan diri sebagai guru profesional. MGMP diadakan sekali sebulan. Waktu dan tempatnya ditentukan

oleh hasil musyawarah antar kepala sekolah, namun diadakan secara serentak. SMPN 10, 5, 11, 20, 21, 22, 25, 28, dll, merupakan sekolah yang satu gugusan. Tiap guru (misalnya, guru IPS dan guru MM) akan diperintahkan oleh kepala sekolah untuk mengikuti MGMP di sekolah lain yang sudah ditentukan, sementara guru mata pelajaran lainnya juga akan mengikuti MGMP di sekolah lainnya pula. Dengan kata lain, para guru ini saling diroker. Sementara kepala sekolah tetap berada di sekolah, untuk mengawasi proses berjalannya MGMP di sekolahnya. Prosesi MGMP dipimpin oleh trainer —para guru menyebutnya tutor— yang biasanya merupakan dosen S2 dari Unimed atau pihak dari PLPG (Pendidikan dan Latihan Profesi Guru). Hal-hal yang dibahas adalah mengenai bagaimana metode pedagogik yang cepat dan tepat yang sebaiknya digunakan para guru, bagaimana mengembangkan silabus dan melakukan Analisis Materi Pelajaran (AMP), Program Tahunan (Prota), Program Semester (Prosem), Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), mendiskusikan permasalahan yang dihadapi dan dialami oleh para guru dalam melaksanakan tugas sehari-hari serta mencari solusinya, dan untuk saling berbagi informasi dan pengalaman dari hasil lokakarya, seminar atau apa saja kegiatan profesional keguruan lainnya yang pernah diikuti oleh para guru. Paling penting lagi yang dilakukan dalam MGMP adalah guru secara bersama-sama melakukan pengembangan bahan ajar dan langsung dipraktikkan di hadapan para rekan guru lainnya. Pengembangan bahan ajar dilakukan dengan cara mengumpulkan beberapa buku kemudian ditentukan ―buku kunci‖. Sementara buku-buku lainnya menjadi bahan rujukan sebagai pengayaan. Saat

salah seorang guru mempraktikkan cara mengajar, maka guru yang lain dapat memberikan kritik dan saran bila ada suatu kejanggalan sehingga penampilan pengajaran melalui ujicoba yang ditampilkan lebih sempurna. Selain mendapat tambahan ilmu, para guru juga mendapatkan pergantian uang transport sebesar Rp.50.000/tiap hadir. Uang tersebut akan diberikan oleh kepala sekolah masing-masing. Para guru mengakui bahwa MGMP ini sangat membantu sekali dalam pelaksanaan tugas mereka sehari-hari, karena mereka bisa saling mengetahui dan saling merasakan apa yang dialami satu sama lain, ditambah lagi bisa mencari jawaban atas permasalahan guru terkait perannya sebagai pengajar.

Bukan saja berusaha memberdayakan para guru dalam hal pengetahuan, kepala sekolah juga berupaya membantu pensejahteraan para guru —tentu dengan cara-cara yang benar— secara finasial. Dari pengakuan para guru, kepala sekolah tidak pernah mempersulit mereka untuk mengurus banyak hal, misalnya kenaikan golongan, mengurus sertifikasi, dsb. Seperti yang disampaikan ibu Duha yakni:

Banyak nak yang mau diurus ini, kadang ngurus gaji ke pusat, ini lagi mau naikkan golongan. Untunglah bapak itu orangnya lumayan mengerti, nggak mempersulit guru kalo mau ngurus apa-apa. Cuma jangan disitu perlu, disitu kita datang, bapak itu kayaknya kurang suka. Maunya jauh hari biar bisa cepat dibantu.

Kepala sekolah juga sangat membantu dalam mengurus sertifikasi para guru. Sewaktu lagi musimnya para guru negeri berlomba sertifikasi, kepala sekolah mempermudah pengurusan administrasi bahkan sampai mencarikan

sekolah-sekolah mana saja yang masih kekurangan guru mata pelajaran tertentu. Hal ini dimaksudkan agar para guru yang jam mengajarnya kurang dari 24 jam/minggu bisa mengabdi di sekolah lain, agar bisa memenuhi salah satu syarat/keharusan dalam menerima sertifikasi.

Intervensi kepala sekolah atas pembentukkan pola mengajar para guru juga tampak dalam hal lain, salah satunya dalam penentuan lulus/naik kelas atau tidaknya siswa di sekolah. Biasanya menjelang masa pembagian rapot, kepala sekolah dan para guru akan mengadakan rapat pleno kenaikan kelas. Rapat ini merupakan laporan perkembangan hasil belajar siswa selama semester genap yang disampaikan oleh wali kelas dilengkapi data nilai dari guru mata pelajaran, presentasi kehadiran, serta akhlak dan kepribadian siswa. Data yang disampaikan akan menjadi dasar apakah siswa yang bersangkutan naik ke jenjang selanjutnya atau tidak. Rapat tersebut sering hanya menjadi ajang perang argumentasi antar guru mata pelajaran dengan wali kelas. Hampir semua wali kelas berharap agar anak didiknya itu lulus dan naik kelas, namun terkadang ada segelintir guru yang kurang setuju dan tidak sepakat dengan hal tersebut. Umumnya, para guru yang tidak setuju itu memberi alasan karena si anak dianggap tidak lulus melewati standar nilai dan/atau memiliki tingkah laku yang buruk selama bersekolah. Sebenarnya sudah ada ketentuan mengenai kenaikan kelas yang diatur dalam kurikulum sekolah (KTSP) tapi tampaknya kurikulum itu tidak menjadi standar mutlak atas permasalahan naik – tidaknya siswa. Kembali lagi, pemegang kekuasaan tertinggi adalah kepala sekolah. Jika sudah mulai terjadi perdebatan, kepala sekolah akan mengambil inisiatif untuk

melakukan voting dan mendengarkan suara terbanyak. Tetapi, kepala sekolah tetap berhak memiliki jawabannya sendiri atas permasalahan tersebut. Setelah mendapat keputusan siapa saja siswa yang akan gagal naik kelas, para wali kelas bertugas untuk menyampaikan hal tersebut kepada orangtua dari si anak. Setelah hal tersebut disampaikan, wali kelas (mewakili sekolah) akan memberikan penawaran kepada orangtua apakah anaknya mau tetap dinaik-kelaskan tetapi dengan syarat harus pindah sekolah, atau sebaiknya gagal naik kelas dan tetap berada di SMPN 10. Para orangtua biasanya kembali meminta kesempatan agar anaknya bisa dinaik-kelaskan tanpa syarat, tetapi wali kelas (mewakili sekolah) tidak akan lagi memberikan kesempatan, sebab sebelumnya tentu sudah ada peringatan-peringatan yang disampaikan wali kelas baik secara langsung (perbincangan melalui handphone) ataupun tidak langsung (Surat Pemanggilan Orangtua).

Kepala sekolah juga membuat aturan-aturan yang lebih mendekatkan para guru dengan murid, salah satunya yakni kegiatan asri sekolah. Kegiatan asri sekolah ini adalah kegiatan yang mana beberapa guru akan ditunjuk oleh kepala sekolah untuk menanam, merawat dan menjaga berbagai jenis tanaman di sekolah. Para guru yang ditunjuk itu akan memilih sendiri murid-murid yang akan menjadi tim kerjanya. Jikalau si guru adalah wali kelas maka biasanya beliau akan memilih anak didik di kelasnya, tetapi jika hanya sebatas guru bidang studi maka tim kerjanya terdiri dari murid-murid dari berbagai kelas. Tiap-tiap tim telah memiliki area tertentu yang menjadi ―lahannya‖. Lahan tersebut ditentukan oleh kepala sekolah. Tiap tim akan membawa bibit

tanaman, biasanya tanaman jenis bunga. Lalu jadwal pemupukan, penyiraman dan pembersihan akan ditentukan sesuai dengan kesepakatan tim. Umumnya tiap tim mengerjakan hal tersebut sebelum jam sekolah dimulai —mereka datang lebih awal— atau pun sesudah jam sekolah berakhir. Selain membuat guru dan murid lebih dekat dan kompak lagi, menurut kepsek hasil dari kegiatan tersebut juga menciptakan lingkungan sekolah menjadi lebih asri dan sejuk. Ditambah lagi, sekolah SMPN 10 memang jauh dari jalan raya utama (JL. Jamin Ginting) sehingga suasananya lebih tenang. Kedua hal tersebut tentu memberikan dampak positif dalam mendukung kenyamanan siswa dan para guru saat proses belajar-mengajar.

Foto 10

Lahan Tanaman Dari Salah Satu Tim

Foto 11

Area Depan Kelas Turut Dijadikan Lahan Tanaman

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Aturan lainnya yang dibuat oleh kepala sekolah untuk lebih mendekatkan para guru dengan murid adalah membuat kegiatan ekstrakurikuler. Kepala sekolah mewajibkan kegiatan ini diikuti oleh setiap siswa. Bahkan kegiatan ekstrakurikuler juga mempunyai kolom penilaian dalam rapot. Kegiatan ekstrakurikuler merupakan kegiatan penunjang pembelajaran yang dilaksanakan di luar jam tatap muka (di luar jam intrakurikuler). Pada hakikatnya kegiatan ini bertujuan untuk membantu perkembangan siswa sesuai bakat dan minat siswa. Siswa boleh memilih kegiatan apa yang cocok dengan dirinya. Namun demikian, sekolah telah melakukan penelusuran dan penjaringan terhadap

kebutuhan siswa tersebut sehingga sekolah bisa menentukan bentuk kegiatan yang akan dilaksanakan di sekolah.

Bentuk penelusuran yang dilakukan yakni dengan menyebar selembaran kepada para siswa (yang dijadikan sampel) untuk memberitahukan apa yang menjadi hobi atau kegemarannya. Lalu hal itu menjadi pertimbangan kepala sekolah untuk membuka jenis kegiatan ekstrakurikuler. Kelemahannya adalah jika siswa menginginkan dan menyukai jenis kegiatan ekstrakurikuler tertentu yang fasilitasnya tidak bisa disediakan oleh sekolah, maka si siswa harus mengikuti jenis kegiatan ekstrakurikuler lain yang lebih dominan dipilih murid lainnya. Selain itu, jenis ekstrakurikuler yang peminatnya sedikit juga akan ditutup/ditiadakan. Kegiatan ekstrakurikuler ini juga dilakukan dengan izin orangtua, yakni dengan mengirim surat persetujuan yang akan disampaikan melalui murid. Tiap jenis kegiatan ekstrakurikuler akan dibina oleh para guru yang ditunjuk oleh kepala sekolah, namun untuk jenis kegiatan ekstrakurikuler tertentu, guru harus dibantu oleh pelatih yang didatangkan dari luar sekolah, misalnya renang, pramuka, paskibra. Adapun jenis kegiatan ekstrakurikuler lainnya adalah sepakbola, atletik, paduan suara. Menurut Pak Rajo (Kepsek) manfaat lain yang diperoleh —selain mendekatkan guru dan siswa tentunya— dari kegiatan ekstrakurikuler ini yakni mampu mengeksplorasi diri siswa dalam menyadari ketertarikan mereka pada suatu bidang sesuai dengan talentanya dan untuk kegiatan yang berkenaan dengan olahraga tentu dapat membuat siswa lebih sehat serta mengurangi stres para siswa karena tuntutan belajar di kelas.

Foto 12

Ekstrakurikuler Paskibra

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Dengan kegiatan ekstrakurikuler turut pula memberikan keuntungan lain bagi beberapa siswa. Hal itu memberikan alternatif untuk mendapatkan reward. Dalam hal ini, para siswa yang tidak pintar secara prestasi akademik, tentu dapat menarik simpatik para guru atau bahkan kepala sekolah melalui sumbangannya mengharumkan nama sekolah melalui kejuaran. Hal itu akan menjadi pertimbangan juga bagi sekolah untuk mempertahankan si anak meskipun si anak tersebut tidak pintar.

Dokumen terkait