• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

5.2 Interaksi Masyarakat dengan Hutan

Berbagai bentuk pemanfaatan kawasan hutan yang dilakukan masyarakat diantaranya adalah (l) Budidaya pertanian, (2) Mengambil kayu bakar, (3) Mengambil rumput untuk pakan ternak, (4) Menebang pohon untuk membuat rumah.

Tabel 6 Aktivitas masyarakat di kawasan TNGHS

Kegiatan

Budidaya Pertanian di

Kawaasan TN Menebang Pohon

Mengambil Kayu Bakar

Mengambil Rumput

(org) (%) (org) (%) (org) (%) (org) (%)

Melakukan 10 33,33 2 6,67 10 33,33 9 30

Tidak

Melakukan 20 67,67 28 93,33 20 67,67 21 70

Masyarakat Cipeuteuy mengetahui bahwa hutan memberikan manfaat yang besar dalam memenuhi kebutuhan hidup. Hal itu terlihat dari interaksi mereka terhadap hutan yang disajikan pada Tabel 6. Mereka memiliki keyakinan bahwa hutan harus dijaga agar manfaat yang dapat mereka rasakan tidak hilang. Bentuk pemanfaatan masyarakat dikategorikan menjadi dua berdasarkan tingkat urgensitas/kebutuhan. Tingkat urgensitas/kebutuhan rendah yaitu bentuk pemanfaatan yang dilakukan secara temporal dan bukan merupakan kebutuhan sehari-hari masyarakat. Tingkat urgensitas/kebutuhan tinggi yaitu bentuk pemanfaatan yang dilakukan secara terus menerus dan merupakan kebutuhan sehari-hari masyarakat. Dapat dilihat bahwa aktivitas penebangan pohon lebih sedikit dibandingkan dengan aktivitas lainnya yaitu sebanyak 2 orang atau 6,67

%. Hal ini karena penebangan pohon oleh masyarakat dilakukan hanya untuk memenuhi kebutuhan rumah masyarakat dan tidak dilakukan secara kontinu. Artinya aktifitas ini tidak dilakukan setiap hari atau dalam periode tertentu sebagai mata pencaharian sehingga untuk aktifitas menebang pohon dikategorikan ke dalam tingkat urgensitas rendah. Informan yang melakukan budidaya pertanian di lahan kawasan taman nasional sebanyak 10 orang yaitu 33,33 % dari seluruh informan. Persentase yang lebih besar ini menunjukan bahwa masyarakat lebih membutuhkan lahan untuk bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan sehari- hari. Tidak seperti kebutuhan akan kayu yang bersifat temporal (hanya saat belum memiliki rumah). Begitu juga dengan kegiatan mengambil kayu bakar dan rumput untuk pakan ternak yang persentasinya lebih besar, hal itu didasarkan pada kebutuhan sehari-hari masyarakat sehingga urgensitasnya tergolong tinggi.

Kegiatan pemanfaatan tersebut masih dilakukan semata-mata karena kebutuhan ekonomi masyarakat meskipun di sisi lain masyarakat memahami bahwa tindakan mereka dapat merusak kelestarian hutan. Seperti dikemukakan oleh salah satu warga:

“….Kalo dulu masih boleh waktu perhutani yang ngelola neng. Tapi sekarang mah udah gak boleh nebang pohon, ngegarap. Tapi ya buat makan sehari-hari jadi ditanamin aja sama padi, sayuran…..”

Pada umumnya masyarakat mengatakan bahwa mereka membutuhkan pengganti atau kompensasi agar tetap dapat memenuhi kebutuhan mereka sehari- hari tanpa harus merusak hutan dan melanggar aturan yang dikeluarkan oleh BTNGHS.

5.2.1 Budidaya Pertanian

Salah satu kegiatan yang dilakukan masyarakat adalah melakukan budidaya pertanian di lahan kawasan taman nasional. Pada Saat hutan dikelola oleh Perhutani kegiatan tersebut diperbolehkan, tetapi setelah kawasan ditetapkan menjadi taman nasional kegiatan tersebut dilarang. Sebagian masyarakat telah terbiasa menggunakan lahan tersebut dan tidak bisa begitu saja dihentikan meskipun telah ada larangan yang jelas. Mereka tetap menggarap dan menggunakan lahan kawasan taman nasional untuk bertani sawah maupun kebun.

Hal itu dilakukan karena beberapa anggota masyarakat tidak memiliki lahan milik pribadi yang dapat dimanfaatkan sehingga satu-satunya yang bisa digunakan adalah lahan kawasan taman nasional.

Gambar 4 Budidaya padi di kawasan taman nasional

Gambar 5 Budidaya cabai di kawasan taman nasional

Lahan yang digarap oleh masyarakat adalah hutan yang sebelumnya dikuasai oleh Perhutani sebagai hutan produksi. Lahan tersebut ditumpangsarikan dengan tanaman yang mereka butuhkan seperti jagung, hanjeli dan singkong. Tanaman ditanam di sela-sela tanaman pokok Perhutani disesuaikan dengan jarak tanam antar pohon sampai lahan tidak memungkinkan lagi untuk ditumpangsarikan karena tanaman pokoknya telah tumbuh besar hingga menghalangi jatuhnya cahaya ke tanaman masyarakat. Dengan diberikannya kesempatan menanam di lahan pengelolaan Perhutani masyarakat merasa cukup puas karena dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, sehingga tidak ada keinginan membuka lahan yang sebelumnya ditetapkan sebagai cagar alam.

Setelah alih fungsi kawasan hutan produksi menjadi kawasan taman nasional pada tahun 2003, maka berdasarkan peraturan dan undang-undang, lahan

tersebut tidak boleh lagi dijadikan lahan pertanian. Sehingga secara perlahan- lahan masyarakat diminta untuk menanami lahan tersebut dengan tanaman asli taman nasional dan tidak menumpangsarikan lahan dengan tanaman perkebunan. Tetapi hal itu tidak serta merta dilakukan, sebagian masyarakat tetap menanami lahan tersebut dengan tanaman pertanian. Karena pertambahan jumlah penduduk maka lahan yang selama ini digunakan oleh masyarakat dirasa kurang sehingga mereka mulai menggarap lahan di kawasan taman nasional.

Lahan yang digarap masyarakat adalah lahan yang lokasinya dekat dengan tempat tinggal mereka atau di sekitar batas kawasan taman nasional dan tidak terlalu jauh masuk ke dalam kawasan. Tidak adanya pal batas yang jelas pada kawasan taman nasional merupakan salah satu faktor yang menyebabkan masyarakat menggarap lahan tersebut.

Luas lahan yang digarap biasanya disesuaikan dengan kemampuan fisik masyarakat dalam membuka lahan. Mereka membuka lahan secara manual tanpa menggunakan mesin tertentu sehingga lahan yang digarap oleh masing-masing keluarga biasanya tidak terlalu luas, yaitu sekitar ratusan sampai ribuan meter persegi. Dari sepuluh informan yang menggunakan lahan di kawasan taman nasional, rata-rata lahan yang digarap seluas 4.l40 m2/keluarga. Selain didasarkan pada kesanggupan membuka lahan, luas lahan yang digarap juga didasarkan pada tingkat kebutuhan masyarakat. Kebutuhan masyarakat yang dimaksud hanya terbatas pada kebutuhan pangan masyarakat saja.

Alat yang digunakan dalam membuka lahan adalah cangkul, golok dan parang. Mereka menggunakan alat-alat tersebut karena tidak memiliki alat lain yang lebih bagus dan modern sehingga pembukaan lahan dilakukan secara manual dengan alat seadanya. Pembukaan lahan dilakukan secara individu oleh keluarga yang akan membuka lahan. Pada umumnya dilakukan oleh laki-laki baik itu bapak ataupun anak dalam satu keluarga. Dalam membuka lahan ritual yang dilakukan masyarakat adalah membaca doa-doa dan pemberian sesaji/kemenyan yang dilakukan oleh seorang puun. Puun adalah orang yang dipercaya oleh masyarakat untuk melakukan ritual-ritual tersebut. Tujuan dilakukan ritual tersebut adalah untuk memohon izin kepada jin-jin yang dianggap ada oleh masyarakat yang tinggal di sekitar hutan yang akan mereka buka.

Membuka lahan dilakukan dengan membersihkan pohon-pohon, tumbuhan bawah, rumput dan sampah-sampah yang ada di lahan tersebut. Pembakaran lahan juga dilakukan untuk membersihkan lahan dan mematikan hama. Tidak ada waktu khusus dalam mebuka lahan. Masyarakat bisa kapan saja melakukan kegiatan tersebut, kecuali pada hari Jum’at dimana akan dilaksanakan sholat Jum’at, pada hari itu masyarakat membuka lahan hanya sampai pukul ll.00 WIB.

Masyarakat menggunakan lahan tersebut untuk dijadikan sawah, kebun atau huma. Pemilihan sawah, kebun atau huma didasarkan pada kemampuan masyarakat dalam mengelola lahan. Pada masyarakat yang berkebun, tanaman yang ditanam di kebun masyarakat adalah jagung, kacang, cabai, dan sayur mayur. Setelah adanya anjuran dari BTNGHS, sebagian masyarakat menanami tanaman kayu di lahan kebun, sawah atau huma mereka. Tanaman kayu tersebut diantaranya adalah puspa dan rasamala, biasanya ditanam di tepi lahan. Mereka menanami tanaman berkayu untuk dijadikan simpanan dan digunakan jika sewaktu-waktu dibutuhkan.

5.2.2 Menebang Pohon

Penebangan pohon dilakukan oleh sebagian warga masyarakat untuk bahan pembuatan rumah. Masyarakat menebang pohon karena mahalnya harga bahan bangunan dan harga kayu jika membeli kayu secara legal. Sementara pendapatan masyarakat pada umumnya tidak mencukupi, di sisi lain mereka sangat membutuhkan tempat tinggal. Penebangan pohon untuk pembuatan rumah telah dilakukan sejak dahulu hingga sekarang. Mereka terbiasa memanfaatkan apa yang dihasilkan hutan untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Masyarakat menebang pohon hanya sebatas kebutuhan mereka. Biasanya kebutuhan kayu untuk membuat rumah sekitar 4 sampai 5 meter kubik. Kayu yang dijadikan bahan baku pembuatan rumah diantaranya jenis Puspa, Waru, Huru, Sengon, Manii, dan Rasamala. Jenis-jenis tersebut dipilih karena jenis tersebut tersedia di hutan.

Penebangan pohon dilakukan secara individu oleh orang/keluarga yang membutuhkan. Sebelum penebangan dilakukan, biasanya mereka meminta permohonan dengan sesaji/kemenyan dan mengucap doa-doa agar penghuni

pohon tersebut tidak mengganggu proses penebangan. Dalam proses menebang pohon, biasanya mereka menentukan arah rebah terlebih dahulu. Pohon yang rebah diarahkan pada tempat atau lahan yang aman agar tidak menimbulkan kerusakan pada tanaman lain di sekitarnya. Penentuan arah rebah ini juga didasarkan pada arah angin dan arah tajuk pohon agar penebangan dapat dilakukan dengan lebih mudah. Setelah itu dibuat takik rebah dan takik balas pada pohon yang akan ditebang kira-kira 40-60 cm di atas permukaan tanah dengan tujuan mempermudah proses penebangan. Alat yang biasa digunakan masyarakat untuk menebang kayu adalah golok dan kapak. Masyarakat tidak pernah menggunakan chainsaw karena harganya yang relatif mahal, selain itu penebangan pohon juga relatif jarang dilakukan kecuali jika masyarakat membutuhkan kayu untuk membuat rumah.

Masyarakat yang menebang kayu relatif lebih sedikit jika dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu, hal ini terjadi setelah pembatasan dari BTNGHS diperketat dan sanksi yang telah dibuat,. Terlebih setelah ada beberapa kasus seperti penangkapan penduduk yang tertangkap memiliki kayu ilegal. Penduduk yang tertangkap menebang atau memiliki kayu ilegal diserahkan kepada yang berwajib untuk diproses secara hukum.

Menurut Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) Departemen Kehutanan (Arman Mallolongan), dari data empiris menunjukan bahwa kawasan TNGHS seluas 113.357 hektar telah mengalami penurunan kualitas dan degradasi hutan seluas 22.000 hektar atau 19,4 %. Penutupan lahan tersebut terjadi disebabkan oleh adanya kegiatan illegal logging, penambangan emas liar dan perambahan hutan yang telah memasuki kawasan hutan konservasi (Veto News 25 Januari 2011)

5.2.3 Mengambil Kayu Bakar

Pengambilan kayu untuk kebutuhan bahan bakar rumah tangga dilakukan sesuai dengan kebutuhan rumah tangga masing-masing. Saat ini tidak semua rumah tangga masih memakai kayu bakar karena pada umumnya mereka sudah menggunakan gas sebagai bahan bakar. Akan tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa masih ada penduduk yang menggunakan kayu sebagai bahan bakar. Sejak dahulu

penduduk mengambil kayu bakar di dalam hutan. Tetapi biasanya mereka mengutamakan mengambil kayu yang telah mati dan tidak menebang kayu yang masih hidup. Jenis kayu yang dijadikan kayu bakar oleh penduduk Cipeuteuy adalah Kaliandra. Kaliandra dipilih karena dinilai bagus dan merupakan jenis kayu yang mudah tumbuh lagi. Biasanya masyarakat mengambil kaliandra di talut hutan atau sungai. Jika kaliandra ditebang, maka tunasnya semakin tumbuh banyak. Sehingga penebangan Kaliandra ditalut hutan/sungai diyakini masyarakat dapat manjaga atau melindungi hutan.

Pada jaman dahulu, terdapat aturan dari nenek moyang secara turun temurun yang melarang pengambilan kayu bakar pada hari Sabtu di dalam hutan. Masyarakat meyakini pada hari tersebut di daerah-daerah yang rawan banyak binatang buas dan makhluk halus yang akan mengganggu masyarakat. Akan tetapi saat ini masyarakat dapat dengan bebas mengambil kayu bakar di hari apapun.

Kaliandra yang diambil adalah yang sudah cukup besar batang kayunya. Cara mengambilnya yaitu dengan ditebas batangnya di atas permukaan tanah sekitar 40-60 cm kemudian batang kayunya dipotong-potong sekitar satu meter agar mudah dibawa ke rumah, sedangkan daun-daunnya di biarkan saja tanpa dibersihkan untuk dijadikan pupuk sehingga dapat menyuburkan tanah.

Pada umumnya pengambilan kayu bakar dilakukan oleh laki-laki. Masyarakat mengambil kayu bakar dengan menggunakan golok secara individu untuk kebutuhan rumah tangganya masing-masing. Mereka mengambil kayu bakar sebanyak satu pikul dan satu kali selama seminggu. Kayu bakar diangkut dengan menggunakan kendaraan seperti motor atau sepeda atau dengan dipikul di atas punggung bagi yang tidak memiliki kendaraan.

Lahan-lahan garapan dan lahan milik masyarakat sudah banyak ditanami kaliandra untuk kebutuhan bahan bakar. Masyarakat tidak selamanya harus masuk ke dalam hutan untuk memenuhi kebutuhan kayu bakar. Hal ini memudahkan masyarakat karena pengambilan kayu bakar dilakukan berbarengan dengan kegiatan bersawah atau berkebun sehingga jarak yang mereka tempuh menjadi lebih dekat.

5.2.4 Mengambil Rumput

Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (BTNGHS) telah melarang masyarakat mengambil rumput di dalam kawasan hutan. Akan tetapi pengambilan rumput untuk pakan ternak terus dilakukan oleh sebagian warga masyarakat, terlebih lagi tidak ada penerapan sanksi yang dilakukan oleh BTNGHS terhadap warga yang memasuki hutan hanya untuk mengambil rumput untuk ternak mereka. Binatang ternak penduduk Cipeuteuy yang memakan rumput dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7 Jumlah populasi ternak masyarakat Desa Cipeuteuy Jenis

Ternak

Jumlah Peternak Perkiraan Jumlah Populasi

Sapi 1 30

Kuda 1 30

Domba 310 1554

Kambing 15 175

Sumber: Profil Desa/Kelurahan Desa Cipeuteuy 2008

Pada Tabel 7 dapat dilihat bahwa jumlah populasi ternak yang membutuhkan rumput untuk pakan mencapai 1.789 ekor. Jika pengambilan rumput di dalam kawasan hutan dilakukan terus menerus tanpa memperhatikan aspek konservasi, maka dalam jangka panjang akan menyebabkan degradasi lahan yang mengakibatkan kerusakan kawasan hutan.

Masyarakat mengambil rumput pada pagi atau sore di setiap harinya. Alat yang digunakan pada umunya adalah sabit dan parang. Tidak ada ritual tertentu dalam proses mengambil rumput karena hal tersebut dianggap kegiatan yang biasa oleh masyarakat setempat. Saat ini kegiatan mengambil rumput dilakukan oleh siapa saja baik itu laki-laki maupun perempuan, anak kecil atau orang tua. Sebagian warga masyarakat menggunakan kendaraan bermotor atau sepeda saat mengangkut rumput untuk dibawa pulang, karena sebagian besar masyarakat sudah memiliki kendaraan bermotor. Motor menjadi sangat penting untuk masyarakat karena jarangnya angkutan umum yang lewat, terlebih beberapa jalan tidak bisa dilewati mobil atau angkutan umum dan hanya bisa dilalui oleh kendaran bermotor. Sebagian warga berjalan kaki dalam mengangkut rumput dengan memikul rumput yang telah diikat di atas punggung. Biasanya, mereka mengambil rumput sebanyak satu atau dua ikat dalam setiap kali mengambil

rumput. Hal itu didasarkan pada kebutuhan pakan ternak mereka untuk satu atau dua hari.

Gambar 6 Kegiatan mengambil rumput oleh masyarakat

Dokumen terkait