DESKRIPSI KAWASAN
2. Jenis Tanah
2.3. Data Informasi Sosial Budaya Masyarakat
2.3.4. Interaksi Masyarakat Terhadap Kawasan Hutan
Berdasarkan hasil penafsiran citra satelit SPOT 6 liputan tahun 2014 sekitar 30% luas wilayah KPHL Unit XIII Ogan Ulu sudah menjadi penutupan lahan non hutan. Hasil identifikasi kondisi penutupan lahan tersebut merupakan lahan perkebunan kopi yang di garap oleh masyarakat. Luas penutupan lahan non hutan berupa kebun kopi mencapai ± 18.526,88 Ha atau sekitar 26,45% dari luas wilayah KPHL Unit XIII Ogan Ulu. Berdasarkan hasil wawancara dengan tokoh masyarakat, orang Semende membuka
Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung Unit XIII Ogan Ulu Kabupaten Muara Enim
hutan semata untuk membuat kebun, khususnya kebun kopi. Hal ini dilakukan karena mereka tidak memiliki lahan garapan. Menurut keterangan masyarakat, hutan yang dirambah sebenarnya merupakan lahan yang pernah digarap para leluhur dimasa lalu. Saat leluhur pindah ke permukiman baru, lahan garapan tersebut ditinggalkan dan lambat laun menjadi hutan kembali. Hal ini bisa dibuktikan dengan masih adanya tanaman kopi.
Persoalan di Semende ini mulai muncul sejak perkebunan kopi yang digarap masyarakat sejak tahun 1995 dinyatakan masuk wilayah Hutan Lindung Bukit Jambul Asahan. Penunjukan HL Bukit Jambul Asahan ini berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 925/1882 yang direvisi oleh Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 410/1986. Semenjak saat itu masyarakat mulai dilarang berkebun di dalam hutan lindung oleh petugas Dinas Kehutanan Muara Enim. Walaupun tidak sampai ada tindakan penahanan namun peringatan/teguran petugas membuat masyarakat tidak nyaman dalam mengelola lahan.
Pada tahun 2011 Departemen Kehutanan melalui Dinas Kehutanan Kabupaten Muara Enim mengadakan pertemuan dengan para tokoh masyarakat dan kepala desa di tiga kecamatan di Semende. Kepada masyarakat ditawarkan konsep Hutan Desa kepada masyarakat. Setiap keluarga diperbolehkan mengelola lahan seluas 1.5 Ha yang berada di hutan lindung, dengan syarat tidak boleh memperluas lahan perkebunan.
Masyarakat juga harus menjaga lahan dan hutan dari bencana kebakaran, melindungi satwa, serta menanam sejumlah pohon tutupan seperti durian, jengkol, nangka, selain pohon kopi. Lahan dikelola selama 35 tahun yang akan dievaluasi setiap 5 tahun. Apabila petani tidak memenuhi persyaratan, misalnya tidak mengelola lahan dengan baik maka ijinnya bisa dicabut.
Tujuan dari adanya Hutan Desa ini adalah menjamin akses masyarakat terhadap hutan juga sebagai upaya pencegahan perambahan hutan yang akhirnya adalah untuk mingkatkan kesejahteraan masyarakat.
Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung Unit XIII Ogan Ulu Kabupaten Muara Enim
Masyarakat menyambut baik tawaran konsep Hutan Desa tersebut, pada akhir tahun 2011 terdapat 5 desa dan pada tahun 2013 telah bergabung 15 desa yang mengusulkan Hutan Desa di tiga Kecamatan dengan total luas sekitar 26.670 Ha. Pada tahun 2014 pemerintah mengeluarkan ijin Hutan Desa bagi 14 desa, seperti yang tercantum dalam tabel dibawah.
Tabel 2.28. Hutan Desa di wilayah KPHL Unit XIII Ogan Ulu
No LOKASI LUAS
USULAN LUAS
PENETAPAN PERSETUJUAN
GUB. KET
Sumber : Dinas Kehutanan Kabupaten Muara Enim, 2015
Saat ini 14 desa yang telah mendapatkan ijin dari Kementerian Kehutanan tersebut masih menunggu dan baru 4 Desa telah mendapat ijin mengelola lahan yang akan dikeluarkan oleh Gubernur Sumatera Selatan.
Seluruh lokasi Hutan Desa sedang menyusun RKHD (Rencana Kelola Hutan Desa) yang difasilitasi oleh WBH (Wahana Bumi Hijau) dalam penyusunannya.
Berdasarkan hasil identifikasi data BPS tahun 2014 terdapat 40 Desa di sekitar kawasan KPHL Unit XIII Ogan Ulu dengan jumlah penduduk tercatat
Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung Unit XIII Ogan Ulu Kabupaten Muara Enim
42.377 jiwa. Diperkirakan jumlah ini akan terus bertambah seiring dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk di sekitar Kawasan Hutan dan semakin terbatasnya lahan pertanian / perkebunan. Dari Peta Tata Batas Kawasan Hutan oleh BPKH II Palembang masih terdapat beberapa permukiman Desa yang berada di dalam Kawasan Hutan Lindung, diantaranya adalah permukiman Desa Swarna Dwipa, Desa Rekimai Jaya, Desa Tanjung Tiga, dan Dusun IV Rantau Dedap Desa Segamit. Berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor SK.866/Menhut-II/2014 tanggal 29 September 2014 sebagian Hutan Lindung di Desa Swarna Dwipa, Rekimai Jaya dan Tanjung Tiga diubah menjadi APL (Area Penggunaan Lain).
Keputusan Menteri Kehutanan tersebut berasal dari usulan Revisi Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi (RTRWP) Sumatera Selatan yang diajukan oleh Gubernur Sumsel Nomor 522/1297/Bappeda/2011 tanggal 2 Mei 2011.
Hutan Lindung yang dikeluarkankan untuk Desa Swarna Dwipa adalah 13 Ha dan Desa Rekimai Jaya adalah 18 Ha. Sedangkan kawasan hutan lindung yang dikeluarkan di Desa Tanjung Tiga mencapai 790 Ha. Luasan tersebut berdasarkan perhitungan di atas peta, tata batas pelepasan areal Hutan Lindung tersebut dilakukan tahun 2015 dan luasan pastinya berdasarkan hasil tata batas di lapangan. Proses tata batas definitif sudah dilakukan tahun 2015 ini dan saat ini sedang dalam proses pengesahan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Masyarakat sebetulnya menyadari bahwa mereka sangat bergantung kepada hutan sebagai sumber air untuk kebutuhan sehari - hari dan untuk pengairan lahan persawahan masyarakat. Telah tumbuh kesadaran masyarakat bahwa kalau hutan semakin gundul mereka akan kesulitan mendapatkan sumber air. Di Desa Swarna Dwipa dan Rekimai Jaya masyarakat menanam tanaman sela diantara tanaman kopi dengan tanaman Sengon. Tanaman Sengon berfungsi sebagai tanaman pelindung kopi sekaligus untuk meningkatkan unsur hara tanah. Saat ini tanaman Sengon tersebut sudah berumur diatas 10 tahun dan mulai banyak yang mengering
Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung Unit XIII Ogan Ulu Kabupaten Muara Enim
dan mati. Tanaman Sengon tersebut tidak bisa dimanfaatkan karena berada di Kawasan Hutan Lindung.
2.4. Kondisi Posisi Areal Kerja KPHL dalam Perspektif Rencana