• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV DESKRIPSI LOKASI DAN INTERPRETASI DATA PENELITIAN

4.3 Hasil Interpretasi Data

4.3.1 Interaksi Sosial Anak Dan Orang Tua

Interaksi sosial sebagai bentuk umum dari proses sosial karena interaksi sosial merupakan syarat utama terjadinya aktivitas sosial. Jelas bahwa jika tidak ada interaksi antara individu dengan individu atau kelompok dengan kelompok, individu dengan kelompok maka tidak mungkin pula ada kehidupan bersama, juga tidak mungkin menghasilkan pergaulan hidup ataupun aktivitas-aktivitas sosial yang lain dan tidak dapat dipungkiri adanya saling hubungan atau interaksi sosial, baik antar individu maupun antar kelompok. Hubungan tersebut senantiasa diwarnai oleh adanya nuansa-nuansa yang beragam seperti misalnya perbedaan latar belakang, perbedaan sikap, perbedaan kebiasaan, perbedaan bahasa, perbedaan budaya, dan sebagainya.

Di dalam interaksi sosial dapat terjadi suatu bentuk komunikasi, dimana kedua belah pihak selain tukar-menukar informasi, juga tercakup saling pengaruh-

mempengaruhi serta adanya ekspresi emosi tertentu yang sifatnya nonverbal. Di dalam keluarga tak luput dari adanya interaksi baik yang bersifat asosiatif maupun diasosiatif, Salah satu bentuk interaksi tersebut ditujukan untuk memberikan atau menyampaikan informasi, mengetahui kondisi seorang anak dan mengetahui kebutuhan yang diperlukan oleh seorang anak sampai menjadi remaja yang untuk menentukan sudah atau tidak terpenuhi kebutuhan seseorang anak maka hal tersebut dapat diketahui dengan bercerita,bercanda,dan berkumpul bersama didalam keluarga seperti penuturan orang tua dalam memenuhi kebutuhan anaknya yaitu Bapak Ilham Ritonga “Proposal yang saya berikan mereka yang menerapkan relevan dengan diinginkan dan semua saya sekolahkan dengan ada yang relevan dan ada yang ragu- ragu dan kebutuhan sudah bisa saya penuhi sekitar 60% lah” begitupun juga dengan penuturan dari Ibu Rupini “ Secara materi sudah terpenuhi, dan saya selalu memperhatikan tentang apa yang dilakukannya dan saya selalu tekankan jangan lupa

waktu jika bermain dengan teman-temannya” begitupun juga dengan penuturan dari

Bapak Syamsul “Kebutuhan semua tidak terpenuhi, tapi kalo sianak yang pinta baru saya penuhi, saya juga melihat keadaan anak dan berbicara”

Hal tersebut sejalan dengan penuturan dari Bapak Muhammad Jupri “Kebutuhan mereka sudah saya penuhi, dan biasanya mereka selalu bilang jika ada yang diinginkan, dan saya selalu menanggapi cerita-cerita yang disampaikan oleh anak saya” begitupun juga dengan penuturan dari Ibu Nurindah Hasibuan “Saya sudah memenuhi kebutuhan anak saya dan kami sering berkumpul, makan bersama, nonton tv, bercanda dan rekreasi, mereka juga tidak sungkan untuk bercerita pada saya jika ada masalah yang mereka hadapi” hal tersebut sejalan dengan penuturan

dari Ibu Erni Zaniah Hasibuan “Secara sekeseluruhan saya belum mampu memenuhi kebutuhan anak saya, tapi saya akan berusaha memenuhi kebutuhannya, dan saya selalu bertanya dan berbindang pada anak saya tentang masalah yang mereka hadapi” begitupun juga dengan penuturan dari Ibu Lala Syafitri “Saya selalu menanyakan kebutuhan anak saya dan saya selalu mengajak diskusi jika mereka mempunyai masalah, saya juga membuat anak saya selalu merasa dekat dengan saya”

Penuturan tersebut diatas tidak jauh berbeda dengan yang disampaikan oleh anak seperti penuturan dari Siti Maysarah “Yah, banyak perhatian orang tua akan kebutuhan yang telah terpenuhi diantaranya yang paling utama adalah kebutuhan

primer jadi sudah merasa cukup perhatian orang tua” hal tersebut sejalan dengan

penuturan dari Muhamad Rizki Ismail “Kadang-kadang saya dituntut mandiri tidak tergantung orang lain, dan biasanya saya bertukar pikiran dengan orang tua dan saudara saya dirumah dan biasanya itu dilakukan di malam hari” begitupun juga dengan penuturan dari Raudhatul Jannah Nasution “Kebutuhan saya alhamdulilah sudah dipenuhi semua oleh orang tua saya dan saya selalu memanfaatkan waktu senggang untuk bercerita dan bertatap muka bersama orang tua saya selain itu saya sayang sama orang tua saya dan mereka tidak saya takuti”

Untuk menyampaikan informasi tersebut yang dilewati melalui perbincangan biasanya diperlukan waktu yang cukup sehingga terjalin komunikasi yang timbal balik antara yang orang tua yang bertindak sebagai yang memberikan pengetahuan dan anak yang menerima pengetahuan tersebut. Hal demikian juga terjadi didalam interaksi antara orang tua dan remaja. Interaksi remaja dengan orang tua memiliki

act drama (drama tiga tindakan). First act drama, interaksi remaja masih memiliki keetergantungan dengan orang tua, tetapi sudah mulai menyadari keberadaan dirinya sebagai pribadi dibandingkan fase sebelumnya. Second act drama, disebut juga dengan istilah perjuangan untuk emansipasi, yaitu remaja melakukan perjuangan kuat untuk membebaskan dirinya dari ketergantungan terhadap orang tua. Third act drama, remaja berusaha menempatkan dirinya untukberteman dengan orang tua dan berinteraksi secara lancar dengan mereka. Namun masih sering mengalami hambatan karena orang tua seringkali masih belum melepaskan anak remajanya secara penuh. Selain itu, orang tua juga seringkali belum menerima secara penuh remaja untuk masuk ke dalam dunianya. (http://rukantokas.wordpress.com/2010/07/25/pola- interaksi-remaja-orang-tua/, 22 juli 2011 Pukul 10;23). Interaksi antara orang tua dan remaja tersebut akan dilakukan biasanya pada malam hari seperti yang disampaikan oleh bapak Syamsul Akmal “Kami bercerita biasanya 30 menit di malam hari karena kalo siang saya bekerja dan anak-anak keluar,” hal tersebut sejalan dengan penuturan dari Bapak Jupri “Saya juga sering memperhatikan kondisi anak saya dan menanyakan kabarnya, biasanya saya bercerita dirumah selama 3 jam selepas magrib”

Begitupun juga dengan penuturan dari Ibu Nurindah Hasibuan “Saya bercerita dengan anak saya dirumah selama 2 jam dan mereka selalu merasa senang” begitupun juga dengan penuturan dari Ibu Erni Zaniah Hasibuan “Saya berdiskusi dengan anak saya dirumah selama 3 jam selepas shalat magrib atau sehabis belajar,” hal tersebut sejalan dengan penuturan dari Ibu Lala Syafitri “Saya selalu berbagi cerita dan bercanda dengan anak saya dirumah selama 2 jam setelah jam kerja”

begitupun juga dengan penuturan dari Muhammad Rizki Ismail “Kami berdiskusi dimalam hari dirumah selama setengah jam” hal tersebut sejalan dengan penuturan dari Irma Suryani Nasution “Saya berdiskusi dengan orang tua saya setiap hari selama 3 jam dirumah” Begitupun juga dengan penuturan dari Purwaningsih “Saya bercerita dengan ibu dirumah selama 3 jam dan dengan ayah 2 jam di rumah”

Dalam interaksi remaja -orang tua, ada aspek objektif dan subjektif. Aspek objektifnya adalah keadaan nyata dari peristiwa yang terjadi pada saat interaksi. Sedangkan aspek subjektifnya adalah persepsi remaja terhadap peristiwa yang terjadi dalam interaksi tersebut. Fontana mengatakan bahwa tidak jarang remaja lebih menggunakan aspek subjektif dalam berinteraksi dengan orang tua. Selain itu orang tua untuk menjaga dan melindungi anaknya senantiasa memunculkan aturan-aturan dalam keluarga yang ditujukan untuk melindungi anaknya seperti yang sampaikan oleh Bapak Ilham Ritonga“Saya agak streng disiplin sebelum magrib harus dirumah, harus jelas alasan keluar mandi sore dan pulang subuh” hal tersebut sejalan dengan penuturan dari Bapak Syamsul Akmal “Dikeluarga kami juga ada aturan-aturan tapi tidak terlalu tegas, saya membiasakan anak saya hidup mandir. Saya selalu mengajak anak saya bercanda guna menghangatkan suasana diantara kami” begitupun juga dengan penuturan dari Siti Maysarah “Aturan-aturan ada misal cara berpakaian yang rapi dan sopan, kalo keluar rumah harus memakai jilbab, dalam berbicara dengan orang tua harus sopan.”

Dokumen terkait