• Tidak ada hasil yang ditemukan

Khamir Saccharomyces Cerevisiae

Dalam dokumen Tanah dan Nutrisi Tanaman (Halaman 60-0)

Bab 4 Macam Dan Fungsi Mikroba Dalam Tanah

4.4 Mikroba Dekomposer Bahan Organik

4.4.3 Khamir Saccharomyces Cerevisiae

Klasifikasi khamir S. cerevisiae menurut Garrity et al. (2004) sebagai berikut:

Kingdom : Fungi

Kelas : Ascomycetes Ordo : Endomycetales Famili : Saccharomycetaceae Genus : Saccharomyces

Spesies : Saccharomyces cerevisiae

Gambar 4.9: Morfologi mikroskopis S. cerevisiae, sbo: sel bentuk oval, st: sel tunas (bud cell).

S. cerevisiae merupakan khamir (yeast) sejati yang mempunyai kemampuan yang tinggi sebagai imunostimulan. Bagian yang bermanfaat dengan fungsi tersebut adalah dinding selnya. S. cerevisiae secara morfologi berukuran 3-4 μm yang hanya membentuk blastospora berbentuk bulat lonjong, silindris, oval atau bulat telur yang dipengaruhi oleh strainnya. Berkembang biak dengan membelah diri melalui “budding cell” (Gambar 4.9). Reproduksinya

dipengaruhi oleh keadaan lingkungan serta jumlah nutrien yang tersedia bagi pertumbuhan sel. (Agawane and Lonkar, 2004). Prescott (2008) menyatakan bahwa S. cerevisiae mempunyai suhu minimum, optimum dan maksimum secara berurutan 1o-3oC, 28oC, dan 40oC.

Tanah dipenuhi oleh organisme mikroskopis seperti mikroba yang terdiri atas bakteri, yeast, dan fungi. Beberapa mikroba tanah yang berperan penting untuk dapat berasosiasi dengan tanaman di antaranya mikroba fiksasi nitrogen meliputi bakteri Azotobacter sp., Azospirillum sp., Rhizobium sp., mikroba pelarut fosfat meliputi bakteri Bacillus subtilis, Bacillus megaterium, Pseudomonas fluorescens, mikroba dekomposer bahan organik meliputi bakteri Cellulomonas cellulans, khamir Saccharomyces cerevisiae.

Bab 5

Macam Dan Teknik Pemberian Pupuk

5.1 Macam Pupuk

5.1.1 Pupuk Organik

Sistem tanah mengandung air, udara, mineral, bahan organik dan mikroorganisme. Tanah yang produktif mempunyai sifat fisik, kimia, dan biologi yang baik. Sifat kimia dan biologi yang baik mendorong perkembangan biologi tanah yang baik. Unsur organik tanah terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan dan hewan yang melapuk, sebagian berkembang menjadi unsur yang relatif stabil dari sistem tanah, berupa koloid tanah atau humus. Bahan organik tanah yang belum hancur dan menutupi tanah (mulsa) merupakan pelindung tanah terhadap faktor-faktor perusak butiran tanah, terutama dari hujan yang jatuh pada permukaan. Dalam pelapukan bahan organik pada tanah terdapat proses mineralisasi dan humifikasi, dengan bantuan mikroorganisme, yakni mula-mula senyawa yang sederhana mengalami perombakan, kemudian menyusul senyawa lain yang lebih kompleks. Dari proses mineralisasi dan humifikasi tersebut dihasilkan unsur-unsur hara yang dapat diserap tanaman serta koloid dan humus yang dapat memperbaiki struktur tanah. Mineralisasi dan humifikasi

bahan organik merupakan proses kimia yang terjadi dengan aktivitas enzim dari mikroorganisme tanah seperti bakteri, actinomycetes, fungi dan sebagainya.

Biologi tanah menggunakan bahan organik sebagai sumber energi hidupnya (Simanungkalit et al., 2006).

Berdasarkan sifat kimia dan reaksinya terhadap proses dekomposisi, bahan organik tanah dapat diklasifikasikan menjadi senyawa yang cepat dan lambat didekomposisikan. Protein, gula, tepung dan senyawa organik umumnya mudah mengalami dekomposisi, sedangkan lignin, tanin lebih tahan terhadap penguraian. Dalam proses pelapukan unsur karbon akan dibebaskan terlebih dahulu menjadi CO2 pada keadaan aerob, dan menjadi gas metan, asam organik, atau alkohol dalam kondisi an-aerob. Unsur N akan dibebaskan menjadi amonia yang dapat diidentifikasikan menjadi nitrit atau nitrat.

Selanjutnya dengan bantuan mikroorganisme tanah, maka bahan organik akan dirombak menjadi:

1. C (CO2, CO32-, HCO3-, CH4) 2. N ( NH4, NO2-, NO3-, HNO3) 3. S ( H2S, SO32-, SO42-, SO ) 4. P ( H2PO4-, HPO42- )

5. Lainnya ( K+, Ca2+, Mg2+, H2O, O2, H+, OH-, dan sebagainya ).

Pada tanah masam, ketersediaan P rendah karena difiksasi oleh Al, Fe, dan Mn, menjadi senyawa yang tak tersedia bagi tanaman. Bahan organik tanah dapat menurunkan fiksasi P karena asam-asam organik seperti asam sitrat, asam malonat dan asam malat dapat mengikat unsur Al, Fe, dan Mn, sehingga reaksi unsur-unsur ini dengan unsur P menjadi senyawa yang tidak larut dan mengendap dapat dicegah.

Sesuai dengan sifat-sifat tersebut, maka bahan organik tanah dapat mempunyai pengaruh berikut terhadap tanah:

1. Memperbaiki kemampuan tanah menyerap air

2. Memperbaiki struktur tanah melalui peningkatan pembentukan agregat tanah dan kemantapan agregat tanah.

3. Meningkatkan kompleks jerapan tanah dan KTK tanah.

4. Mengurangi fiksasi unsur P pada tanah masam.

5. Menyediakan unsur-unsur hara tanaman secara lengkap dan berimbang, meskipun dalam jumlah yang terbatas.

6. Menghasilkan CO2 dan asam-asam organik lain yang dapat menaikkan daya larut unsur-unsur lain seperti Ca, Ka, P.

7. Meningkatkan kegiatan biologi tanah, yang pada akhirnya juga dapat meningkatkan kesuburan fisik maupun kimia tanah serta suhu tanah.

8. Memperbaiki infiltrasi air yang dapat mengurangi erosi (Minarsih et al., 2020).

Pupuk organik mempunyai reaksi lambat karena harus mengalami dekomposisi terlebih dahulu, serta mempunyai efek residu karena ketersediaan haranya berjalan secara berangsur. Menurut Salinas & Sanchez, (1976), secara umum tambahan tahunan karbon organik di daerah hutan tropik adalah lima kali lebih besar dibanding dengan daerah hutan dengan iklim sedang. Karena tiadanya hambatan suhu dan kelembaban yang berarti sepanjang tahun, kecepatan dekomposisi karbon organik didaerah hutan tropik lembab kurang lebih juga lima kali lebih besar; akibatnya keseimbangan kandungan bahan organik di kedua daerah tersebut menjadi kurang lebih serupa. Kekurangan kelembaban pada musim kemarau di daerah tropik dapat mengurangi dekomposisi bahan organik pula seperti halnya dengan keadaan suhu rendah pada waktu musim dingin didaerah iklim sedang. Pembukaan dan pengolahan lahan dapat melipat duakan dekomposisi bahan organik, sehingga terjadi percepatan kecuali bila pengelolaan lahan budidaya tanaman yang dapat mempertinggi bahan organik dijalankan, seperti dengan pemupukan yang baik dan pola tanam yang tepat.

Perlu diperhatikan bahwa disamping segi-segi positifnya terhadap sifat-sifat tanah, pupuk organik mempunyai kemampuan pula untuk mendorong berkembangnya biologi tanah yang merugikan atau patogen yang dapat meningkatkan masalah hama penyakit; masalah ini perlu diperhatikan dan disadari dengan baik.

5.1.2 Macam Pupuk Organik

Pupuk organik dapat digolongkan menjadi beberapa macam seperti pupuk kandang, pupuk hijau, kompos, kascing dan pupuk organik cair.

1. Pupuk Kandang

Pupuk kandang adalah pupuk yang berasal dari kotoran padat dan cair dari ternak, yang bercampur dengan sisa makanannya serta alas kandang. Bahan-bahan tersebut hanya akan berguna menjadi pupuk

yang baik bila terpelihara dan dikelola dengan baik, terhindar dari pencucian dan pencemaran bibit hama penyakit. Kotoran ternak terdiri dari komponen padat dan cair dengan perbandingan kurang lebih tiga berbanding satu.

Kandungan unsur hara yang terdapat dalam pupuk kandang bervariasi oleh berbagai faktor berikut:

a. Macam atau jenis hewan b. Umur dan keadaan hewan

c. Makanan serta sistem pemeliharaannya d. Bahan campuran alas kandang

e. Cara pengendalian bahan seperti penyimpanan sebelum dipakai.

Secara umum pupuk kandang mengandung kurang lebih 0,5 % N, 0,25 % P2O5 dan 0,5 % K2O dan pupuk kandang yang terbaik adalah sebagai berikut: kotoran manusia, ayam, babi, kambing, domba, sapi dan kuda.

Tabel 5.1: Jenis dan kandungan zat hara pada beberapa kotoran ternak padat dan cair (Lingga, 1991).

Domba – cair 1.35 0.05 2.10 85

Babi – padat 0.95 0.35 0.40 80

Babi – cair 0.40 0.10 0.45 87

Ayam – padat dan Cair

1.00 0.80 0.40 55

Bila makanan hewan ternak mengandung banyak protein, seperti pada ayam ras, maka pupuk akan menjadi lebih baik. Babi kurang menghasilkan pupuk karena makanannya biasanya mudah dicernakan dan banyak mengandung air.

Pupuk kotoran sapi, dan babi tergolong pupuk dingin karena pelapukan oleh mikroorganisme berlangsung perlahan-lahan sehingga kurang menghasilkan panas atau menaikkan suhu. Sebaliknya pupuk kotoran kuda dan biri-biri tergolong pupuk panas karena pelapukan oleh mikroorganisme berlangsung cepat dan banyak terbentuk panas.

Pupuk dingin sesuai untuk dipakai pada tanah yang ringan dapat terjadi perombakan yang intensif oleh bakteri, dan pupuk yang panas dan cepat terurai sesuai untuk dipakai pada tanah berat atau padat. Pupuk kandang yang baru diangkat dari kandangnya biasanya masih mempunyai suhu yang tinggi, oleh sebab itu tidak boleh langsung dibenamkan kedalam tanah perakaran tanaman.

2. Pupuk Hijau

Tanaman pupuk hijau adalah tanaman yang mempunyai peranan dapat menyuburkan tanah karena sifat-sifat pertumbuhannya serta kuantitas dan kualitas bahan organik yang dihasilkan. Seperti halnya dengan pupuk kandang, pupuk hijau yang baik memiliki kemampuan untuk menyuburkan tanah baik fisik, kimia maupun biologi, bahkan kadang-kadang pula mempunyai peranan sebagai penghasil kayu bakar, makanan ternak, penahan erosi dan fungsi ekonomi yang lain. Sesuai dengan peranan tersebut maka pupuk hijau yang baik pada umumnya dikehendaki agar mempunyai beberapa atau semua sifat dan kemampuan berikut:

a. Mudah diperbanyak secara generatif atau vegetatif

b. Dapat menutup tanah relatif sempurna dalam waktu yang relatif singkat guna penahan erosi

c. Menghasilkan banyak bahan organik dan serasah dari pelapukan akar, batang, daun dan sebagainya guna memperbaiki kesuburan fisik, kimia dan biologi tanah.

d. Dapat mengikat N bebas dari udara

e. Mempunyai sistem dan kemampuan akar untuk tumbuh kuat, agar dapat menyerap hara dan air dari lapisan tanah yang lebih dalam supaya mampu meningkatkan kesuburan tanah di lapisan atas, tanpa banyak menyaingi tanaman yang lain.

f. Mempunyai manfaat agronomi dan ekonomi yang lain

g. Mempunyai daya adaptasi baik terhadap keadaan lingkungan yang kurang menguntungkan (Rachman et al., 2006).

Tanaman pupuk hijau yang mempunyai sifat dan kemampuan tersebut umumnya termasuk jenis kacang-kacangan atau leguminose.

Berdasarkan sifatnya dapat digolongkan menjadi tanaman pupuk hijau yang tumbuh merambat atau menjalar pada permukaan tanah yang biasanya digunakan sebagai penutup tanah, tumbuh sebagai tanaman perdu dan tumbuh berbentuk pohon. Beberapa jenis yang merambat sebagai penutup tanah dapat disebutkan Centrosema, cubensens, C.

Plumieri, Calopogonium mucumoides, C. Caeuleum, Pueraria mucunuides, P. thumbergiana, Psophocartus palustris. Beberapa tanaman pupuk hijau yang tumbuh dalam bentuk perdu dapat disebutkan Crotalaria usaramoensis, C. anagyroides, Tephrosia candida, dan beberapa tanaman pupuk hijau dalam bentuk pohon dapat disebutkan Leucaena leucocephala (Lamtoro gung), Erythrina abyssinica, dan Albizia stipulate.

3. Kompos

Kompos adalah pupuk organik yang berasal dari sisa bahan organik apa saja seperti sisa tanaman, sampah dapur, sampah pasar, sampah kota, sisa makanan ternak campur kotorannya, dan lain-lain yang ditumpuk agar mengalami pelapukan sehingga dapat digunakan sebagai pupuk. Bila proses terjadi secara baik bahan organik tersebut

dapat dijadikan kompos yang banyak gunanya sebagai pupuk organik.

Seperti halnya dengan pupuk organik yang lain, kecuali dipengaruhi oleh proses pembuatannya, kualitas kompos sebagai pupuk organik akan dipengaruhi oleh bahan asalnya (Haryanta et al., 2019).

Bahan dasar pupuk organik yang berasal dari sisa tanaman umumnya sedikit mengandung bahan berbahaya. Namun penggunaan limbah industri dan limbah kota sebagai bahan dasar kompos/pupuk organik cukup mengkhawatirkan karena banyak mengandung bahan berbahaya seperti misalnya logam berat dan asam-asam organik yang dapat mencemari lingkungan. Selama proses pengomposan, beberapa bahan berbahaya ini justru terkonsentrasi dalam produk akhir pupuk. Untuk itu diperlukan seleksi bahan dasar kompos yang mengandung bahan-bahan berbahaya dan beracun (B3). Bahan/pupuk organik dapat berperan sebagai “pengikat” butiran primer menjadi butiran sekunder tanah dalam pembentukan agregat yang mantap. Keadaan ini besar pengaruhnya pada porositas, penyimpanan dan penyediaan air, aerasi tanah, dan suhu tanah (Dewilda & Darfyolanda, 2017).

4. Kascing

Kascing merupakan kotoran atau feses cacing tanah yang mengandung unsur hara lengkap baik unsur hara makro maupun mikro yang berguna bagi pertumbuhan tanaman. Unsur kimia tersebut diserap tanaman dan sangat berguna bagi pertumbuhan dan produksinya. Kascing juga mengandung banyak mikroba dan hormon perangsang pertumbuhan tanaman seperti giberilin 2,75 %, sitokinin 1,05 % dan auksin 3,08%.

Jumlah mikroba yang banyak dan tinggi aktivitasnya bisa mempercepat mineralisasi atau pelepasan unsur-unsur hara dari kotoran cacing menjadi bentuk yang tersedia bagi tanaman.

Penggunaan pupuk organik mempunyai kelemahan di antaranya adalah kandungan hara rendah dan ketersediaan unsur haranya lambat, sehingga dengan demikian pemilihan pupuk organik yang tepat seperti pupuk organik kascing diharapkan dapat mengatasi kelemahan pupuk organik yang ada. Pemberian pupuk organik kascing diharapkan dapat mengurangi penggunaan pupuk anorganik.

Cacing tanah dengan bantuan enzim yang terdapat dalam pencernaannya berperan mengubah nutrisi yang tidak larut menjadi bentuk terlarut yang dibutuhkan tanaman. Nutrisi tersebut terdapat di dalam vermikompos, sehingga dapat diserap oleh akar tanaman untuk dibawa ke seluruh bagian tanaman. Vermikompos mengandung hormon tumbuh tanaman yang dapat memacu pertumbuhan akar tanaman di dalam tanah, memacu pertunasan ranting baru pada batang dan cabang pohon, serta memacu pertumbuhan daun. Vermikompos juga dapat mencegah kehilangan tanah akibat aliran permukaan. Pada proses pembentukan kascing, yakni saat tanah masuk ke dalam saluran pencernaan cacing, maka cacing akan mensekresikan juga suatu senyawa yaitu Ca humat. Dengan adanya senyawa tersebut partikel-partikel tanah diikat menjadi suatu kesatuan (agregat) yang akan dieksresikan dalam bentuk kascing. Agregat itulah yang mempunyai kemampuan untuk mengikat air dan unsur hara tanah (Dhani et al., 2014).

5. Pupuk Organik Cair

Pupuk organik cair adalah larutan hasil dari pembusukan bahan-bahan organik yang berasal dari sisa tanaman, kotoran hewan dan manusia yang kandungan unsur haranya lebih dari satu unsur. Pada umumnya pupuk cair organik tidak merusak tanah dan tanaman meskipun digunakan sesering mungkin. Selain itu, pupuk cair juga dapat dimanfaatkan sebagai aktivator untuk membuat kompos. Pupuk organik cair dapat dibuat dari beberapa jenis sampah organik yaitu sampah sayur baru, sisa sayuran basi, sisa nasi, sisa ikan, ayam, kulit telur, sampah buah seperti anggur, kulit jeruk, apel dan lain-lain.

Bahan organik basah seperti sisa buah dan sayuran merupakan bahan baku pupuk cair yang sangat bagus karena selain mudah terdekomposisi, bahan ini juga kaya akan hara yang dibutuhkan tanaman. Semakin tinggi kandungan selulosa dari bahan organik, maka proses penguraian akan semakin lama.

Pupuk organik cair merupakan salah satu jenis pupuk yang banyak beredar dipasaran. Pupuk organik cair kebanyakan diaplikasikan melalui daun yang mengandung hara makro dan mikro esensial (N, P,

K, S, Ca, Mg, B, Mo, Cu, Fe, Mn, dan bahan organik), disamping juga dilengkapi kandungan hormon yaitu IAA termasuk golongan auksin, Zeatin, kinetin termasuk golongan sitokinin, dan GA3 termasuk golongan gibberellin. Hal ini sering dikenal dengan pupuk organik cair

“plus” (Purwanti et al., 2018).

Pupuk organik cair mempunyai beberapa manfaat di antaranya dapat mendorong dan meningkatkan pembentukan klorofil daun sehingga meningkatkan kemampuan fotosintesis tanaman dan penyerapan nitrogen dari udara, dapat meningkatkan vigor tanaman sehingga tanaman menjadi kokoh dan kuat, meningkatkan daya tahan tanaman terhadap kekeringan, merangsang pertumbuhan cabang produksi, meningkatkan pembentukan bunga dan bakal buah, mengurangi gugurnya dan, bunga, dan bakal buah. Pada pembuatan pupuk organik cair, perlu diperhatikan persyaratan atau standar kadar bahan kimia serta pH yang terkandung di dalam pupuk organik tersebut. Berikut adalah persyaratan teknis minimal pupuk organik yang ditetapkan oleh Departemen Pertanian Republik Indonesia.

Tabel 5.2: Standar Kualitas Mutu Pupuk Organik Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian No.28/Permentan/OT.140/2/2009 (Endah et al., 2015).

Parameter Standard

Total N < 2 %

C-Organik > 4 %

Ratio C/N 15 -25%

P2O5 < 2 %

K2O < 2 %

pH 4 - 8

Hormon dibentuk dalam jumlah yang sedikit pada satu tempat dari tanaman dan ditranslokasikan ke tempat lain di mana akan memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Hormon alami dan bahan lain yang merupakan proses kimiawi yang secara esensial memengaruhi banyak pola perkembangan tanaman. Hormon tanaman adalah substansi alami (dibentuk oleh tanaman itu sendiri) yang beraksi mengatur aktivitas tanaman. Hormon tanaman yang disintesis secara kimiawi juga dapat memberikan reaksi pada tanaman sama dengan yang disebabkan oleh hormon alami. Ada lima golongan hormon tanaman alami: auksin, giberelin, sitokinin, etilen, dan asam absisat. Penemuan dan penelitian selanjutnya dari hormon tersebut merupakan bagian yang paling menarik dan memberi harapan dalam perkembangan fisiologi tanaman.

Teknologi Nano yang dikembangkan pada proses pembuatan pupuk organik cair tersebut juga merupakan implementasi dari konsep pertanian ekologis dengan mempertimbangkan efisiensi biaya produksi. Penerapan teknologi nano dalam proses produksi pupuk adalah menciptakan suatu “unsur hara” yang memiliki karakteristik unik yang tersusun atas partikel yang sangat kecil (nano).

Dalam kinerjanya teknologi nano tidak hanya berperan pada proses penyerapan hara oleh tanaman namun juga bekerja pada tanah yaitu memecah agregat tanah menjadi molekul atom yang sangat kecil. Penggunaan pupuk organik cair “plus”

secara keseluruhan merupakan pupuk organik mampu berperan merangsang dan meningkatkan pertumbuhan akar, batang, daun dan anakan dengan cepat (Gunawan et al., 2017).

5.1.3 Pupuk An Organik

Pupuk telah lama dikenal sebagai salah satu faktor penting dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Hal ini terkait dengan fungsi utama pupuk yaitu sebagai penyedia unsur hara yang dibutuhkan tanaman, yang akan semakin sedikit tersedia di alam karena diserap tanaman. Kebutuhan unsur hara dan ketersediaannya yang tidak seimbang di alam, membuat pupuk menjadi solusi atas masalah kecukupan kebutuhan unsur hara tanaman yang dibudidayakan.

Pupuk an organik adalah jenis pupuk yang berasal dari bahan an organik, biasanya mengandung unsur hara/mineral tertentu. Jenis pupuk ini biasa dikenal pula dengan sebutan pupuk kimia.

Contoh pupuk an organik yaitu:

1. Urea (mengandung unsur Nitrogen) 2. SP-36 (mengandung unsur Phosfor)

3. NPK (mengandung Nitrogen, Phosfor dan Kalium)

Selanjutnya kategori pupuk berdasarkan kandungan unsurnya, dibagi menjadi:

a. Pupuk Tunggal, adalah pupuk yang hanya mengandung satu unsur hara tertentu saja. Contoh pupuk tunggal:

• Pupuk urea (mengandung Nitrogen)

• SP-36 (mengandung unsur Phosfor)

b. Pupuk Majemuk, adalah pupuk yang mengandung beberapa unsur hara tertentu.

Contoh pupuk majemuk:

• Pupuk NP (mengandung Nitrogen dan Phosfor)

• Pupuk NK (mengandung Nitrogen dan Kalium)

c. Pupuk Lengkap adalah pupuk yang mengandung unsur hara yang lengkap, baik unsur hara makro maupun unsur hara mikro; bahkan ada pupuk lengkap yang juga mengandung bahan pestisida.

Penggunaan semua jenis pupuk anorganik secara berlebihan dalam jangka panjang akan dapat menurunkan kesuburan tanah dan merusak struktur tanah.

Akibatnya akar bawah tanaman menjadi pendek, sehingga menyebabkan produktivitas tanaman menurun. Banyak petani di Indonesia hanya mengandalkan naluri dan pengalaman dalam menggunakan pupuk; namun belum mengerti bahwa fungsi pupuk bisa maksimal apabila digunakan dalam kadar yang tepat. Banyak anggapan bahwa semakin banyak pupuk yang diberikan, maka akan semakin baik pula efeknya terhadap hasil pertanian.

Padahal yang terjadi justru sebaliknya jika petani mencampurkan pupuk A dengan pupuk B atau C. Kandungan kimia yang ada di dalam tiap pupuk bisa saling bereaksi sehingga menimbulkan kerugian terhadap kondisi ekologi pertanian. Hal ini akan berkesesuaian dengan postulat lama yang dikembangkan oleh Justus Von Liebig (1840) yang dikenal dengan Hukum Liebig Minimum yang menyatakan bahwa pertumbuhan tanaman yang ditentukan oleh faktor ekologi yang paling langka (faktor pembatas). Peningkatan jumlah berlimpah nutrisi tidak meningkatkan pertumbuhan tanaman. Hanya dengan meningkatkan jumlah hara pembatas (yang paling langka dalam kaitannya dengan "kebutuhan") barulah pertumbuhan suatu tanaman atau panen meningkat. Prinsip ini dapat disimpulkan dalam pepatah, "Ketersediaan hara yang paling melimpah di dalam tanah hanya akan sebaik ketersediaan hara yang

paling sedikit di dalam tanah". Ini dapat dipahami oleh karena pertumbuhan tanaman yang optimal bergantung pada berbagai faktor ekologi (Rosmarkam &

Yuwono, 2002).

Berikut beberapa akibat penggunaan pupuk anorganik secara berlebihan, antara lain:

1. Mengganggu mikroorganisme dalam tanah

Sebelum menggunakan pupuk secara berlebihan, ingatlah bahwa tanaman bukanlah satu-satunya makhluk hidup yang bergantung pada tanah. Di Dalam tanah juga terdapat cacing tanah dan mikroorganisme lain yang hidup, maka jika penggunaan pupuk secara berlebihan pada tanah, bukan hanya tanah akan menjadi asam sehingga teksturnya cenderung lebih keras dan tidak gembur; namun aktivitas cacing tanah dan mikroorganisme di dalam tanah pun dapat terganggu, padahal cacing tanah bisa berperan membantu menyuburkan tanah.

2. Menjadi racun bagi tanaman

Bilamana pupuk yang digunakan mengandung kalium dan bila digunakan secara berlebihan, kandungan kalium tersebut bisa mengganggu keseimbangan basa pada tanah pertanian sehingga berpotensi merusak tanaman. Disamping itu kandungan magnesium dan kalsium yang berlebihan dalam tanah bisa membuat kondisi pH tanah menjadi terlalu basa. Kondisi ini bisa mengurangi atau menghilangkan beberapa unsur hara menjadi tidak tersedia untuk tanaman.

3. Menghambat pembusukan bahan organik

Pupuk kimia yang digunakan dalam jumlah terlalu banyak bisa menyebabkan risiko kematian mikroorganisme. Padahal berbagai mikroorganisme tersebut berfungsi menguraikan bahan-bahan organik di dalam tanah untuk meningkatkan kesuburan tanah, sehingga bila banyak mikroorganisme yang mati, tentunya tanah lahan pertanian akan menjadi tidak subur sehingga berpengaruh buruk terhadap hasil pertanian.

4. Kualitas air disekitar lahan pertanian jadi buruk

Penggunaan pupuk secara berlebihan juga berdampak pada lingkungan sekitar lahan terutama air. Hal ini bisa terjadi karena ketika hujan, sisa pupuk yang tidak terserap akar tanaman akan terbawa aliran air hujan menuju sungai atau danau terdekat, selanjutnya dimanfaatkan oleh tanaman air untuk tumbuh seperti eceng gondok tumbuh hingga menutupi permukaan sungai, tentunya bisa mengurangi kandungan oksigen di area permukaan tersebut.

5. Biaya operasional membengkak

Semakin banyak pupuk yang digunakan, maka akan semakin banyak pula biaya yang harus dikeluarkan, padahal belum tentu seluruh pupuk yang disebar sepenuhnya dapat diserap dengan baik oleh tanaman.

Biasanya tanaman hanya mengambil unsur hara secukupnya dari lingkungan lahannya, sehingga kelebihan pupuk pun jadi terbuang

Biasanya tanaman hanya mengambil unsur hara secukupnya dari lingkungan lahannya, sehingga kelebihan pupuk pun jadi terbuang

Dalam dokumen Tanah dan Nutrisi Tanaman (Halaman 60-0)