BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.3. Studi Banding
2.3.2. Studi Banding Tema Sejenis
2.3.2.2. The Interlace Residential Building
Gambar 2.21. The Interlace, Singapore
The Interlace terdiri dari tiga puluh satu blok apartemen. Setiap blok memiliki enam lantai dan panjangnya identik. Blok ini ditumpuk dalam susunan heksagonal sekitar delapan halaman terbuka dan permeable skala besar. Bangunan hunian kontemporer ini terletak di situs delapan hektar di pegunungan hijau Selatan. Area situs 81.000 m2 untuk program ini: 1.040 asrama di 144.000 m2; clubhouse perumahan / fasilitas 1.500 m2; ritel 500m2; tambahan / core / MEP 24.000 m2; parkir bawah tanah 2.600 ruang. Total area lantai dibangun 170.000 m2. Tinggi blok perumahan adalah 83m dengan 24 lantai atas dan satu ruang bawah tanah dengan dimensi 16,5 x 70m. OMA Architects telah merancang bangunan tinggi mengingat fitur kesinambungan melalui analisis mendalam dari matahari, angin, dan kondisi iklim mikro dan integrasi strategi energi rendah dampak pasif.
Gambar 2.23. Floor plan of The Interlace, Singapore
Gambar 2.25. Maket dari The Interlace, Singapore
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Lokasi lahan perancangan yang berada di kawasan Bandara Internasional Kualanamu, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, masih cukup pelosok dan sepi dari bangunan maupun permukiman warga. Hal ini dimanfaatkan oleh manajemen bandara untuk merancang agar keberadaan Bandara Kualanamu tidak sekadar bandara biasa, namun menggabungkan antara kawasan bandara dengan kawasan perkotaan, industri, dan tempat tinggal dengan konsep aerotropolis. Bandara tradisional telah dipandang sebagai tempat di mana pesawat beroperasi dan penumpang dan angkutan kargo. Ini pemahaman tradisional adalah memberikan cara untuk yang lebih luas, lebih menyeluruh konsep yang mengakui fakta bahwa seiring dengan inti infrastruktur aeronautika dan layanan, hampir seluruh bandara utama telah memasukkan berbagai non-aeronautika yang berupa fasilitas dan layanan. Konsep mall dan ritel telah digabungkan kedalam terminal penumpang.
Kualanamu nantinya diharapkan dapat menjadi motor penggerak roda perekonomian di wilayah Sumatera Utara khususnya Kota Medan, Deli Serdang dan kawasan di sekitar Bandara tersebut. Dalam konsep Aerotropolis suatu bandara akan menjadi pusat kegiatan yang dikelilingi oleh berbagai fasilitas pendukung yang terletak di dalam pagar bandara maupun di luar pagar bandara. Fasilitas tersebut dapat berupa perkantoran, gudang logistic, arena permainan, hotel, perumahan, pusat industri, rumah sakit, pusat pendidikan, mall maupun sarana pendukung lainnya. Kualanamu merupakan bandara yang sangat strategis untuk mengembangkan konsep aerotropolis, seperti yang telah dilakukan di beberapa negara. Mengingat masih sangat banyak lahan kosong yang tersedia dan siap untuk dikembangkan. Selain itu letak Bandara Internasional Kualanamu yang strategis dekat dengan kawasan Asia Tenggara, Australia dan timur Tengah dan juga merupakan satu satunya Bandara yang saat ini terintegrasi langsung dengan kereta api.
Seiring dengan peningkatan volume bisnis dan komersial di sekitar bandara, aerotropolis menjadi destinasi baru, dimana para wisatawan dan penduduk sekitar bertemu, bekerja, berbelanja, berbisnis, makan-minum, tidur, dan mencari hiburan. Konsep yang menggabungkan antara airport city dengan kawasan yang terintegrasi ini akan memberi efek berganda mendorong pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara. Dengan lokasi yang strategis dan areal yang masih luas Kualanamu lebih berpeluang dikembangkan menjadi bandara aerotropolis seperti yang sukses diterapkan di Dubai, India dan Australia.
Sebagai sebuah negara yang wilayahnya secara geografis berbentuk kepulauan, masalah pemerataan pembangunan di daerah bagi Pemerintah Indonesia memiliki kendala tersendiri. Banyak daerah kota dan kabupaten memiliki letak dengan kondisi geografi yang sulit dijangkau. Akses transportasi menjadi masalah utama yang membuat daerah – daerah tersebut menjadi lambat untuk berkembang. Apakah penerapan konsep aerotropolis yang diwacanakan oleh Prof John D Kasarda dapat menjadi salah satu alternatif dalam pemecahan masalah tersebut ?
Untuk menjadikan daerah bandara menjadi aerotropolis juga diperlukan pembangunan yang terpadu dan berkesinambungan, dimulai dari:
Gambar 1.1. Aerotropolis
1. Kargo, Logistik, dan Bisnis, dimana hal ini sudah dicapai oleh bandara Kualanamu dalam tahap pembangunan I yang masih dapat dikembangkan.
2. Area Perkantoran dan Apartemen, dimana area perkantoran masih sedang bertumbuh dan apartemen bagi pekerja masih belum tercapai.
3. Taman Mega Klaster, berupa taman besar yang mendukung wisata di bandara dimana hal ini dapat tercapai jika pertumbuhan penduduk di sekitar bandara dan jumlah penumpang semakin besar.
4. MICE, berupa bangunan penunjang yang terpenuhi jika ada penggerak wisata berupa taman.
Poin-poin tersebut harus tercapai dengan terstruktur dan memenuhi kebutuhan penggunanya, dimana apartemen merupakan poin kedua terbentuknya aerotropolis.
Saat ini pekerja bandara mempunyai beberapa masalah besar terutama kaitannya dengan bagaimana mendapatkan hunian yang terjangkau dan dekat tempat bekerja atau berbisnis. Kesulitan ini menyebabkan mereka memilih tinggal di lokasi yang jauh dari tempat kerja atau aktivitas bisnisnya dan juga cenderung mengeluarkan uang lebih untuk akomodasi dan transportasi dari kota Medan. Untuk mengefisiensi waktu pencapaian maka diperlukan rumah tinggal di dekat bandara bagi para pekerja bandara kualanamu di Kabupaten Deli Serdang, begitu juga bagi pekerja sekitar seperti industri, pertanian pangan, peternakan, perikanan di pantai Labu dan perkebunan besar maupun rakyat yang mungkin memiliki rumah tinggal jauh dari tempat kerja. Banyaknya tenaga kerja yang tercipta dari industri besar maupun kecil yang berdasarkan Kawasan Ekonomi Khusus memberikan peluang besar dalam membangun apartemen di sekitar Kualanamu sebagai rumah tinggal yang mudah dicapai dan minim waktu pencapaian.
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maka dirancang apartemen bagi para pekerja di kawasan bandara Kualanamu yang dituangkan dalam tugas akhir berjudul “Perancangan Apartemen Hijau di Kawasan Bandara Kualanamu”.
1.2. Maksud dan Tujuan
Adapun maksud dan tujuan merancang apartemen ini adalah:
1. Untuk memenuhi kebutuhan akan hunian bagi para pekerja bandara Kualanamu dan sekitarnya demi efisiensi waktu pencapaian ke tempat kerja.
2. Untuk menampung segala aktivitas para pekerja bandara Kualanamu dan sekitarnya sehari-hari.
3. Untuk memberikan pertumbuhan penduduk di daerah sekitar apartemen. 4. Untuk mencapai konsep aerotropolis bagi bandara Kualanamu.
Manfaat perancangan apartemen ini adalah:
a. Bagi perancang, sebagai pelajaran untuk menambah pengetahuan dalam merancang apartemen dan merupakan syarat untuk menjalani tugas akhir. Dengan melakukan perancangan akan mengetahui secara langsung bagaimana mencapai konsep aerotropolis bagi bandara Kualanamu.
b. Bagi pemerintah (khususnya pemerintah kota Medan), dengan perancangan ini dapat memberikan acuan dan dasar dalam mendesain apartemen sebagai pilihan desain bagi pemerintah dalam membangun apartemen bagi para pekerja dalam kawasan bandara yang berkonsep aerotropolis.
c. Bagi para pekerja yang bekerja di bandara Kualanamu dan sekitarnya, dengan hasil perancangan ini akan memperoleh tempat tinggal yang dekat dengan tempat kerja sehingga memudahkan dalam akses dan pencapaian ke tempat kerja (efisiensi waktu).
d. Bagi mahasiswa dan perancang lainnya, dengan adanya perancangan ini merupakan ilmu yang sangat berharga dan dapat menambah pengetahuan dalam bidang perancangan, dimana pada saat melakukan perancangan ini sangat bermanfaat dalam upaya menetapkan diri sebagai perancang (arsitek). Dengan demikian diharapkan akan mampu melaksanakan tugas perancang dengan benar-benar profesional.
e. Bagi bandara, dengan adanya perancangan dapat dijadikan sebagai umpan balik yang bisa dipakai sebagai pertimbangan dalam membentuk terjadinya kawasan aerotropolis.
1.3. Masalah Perancangan
Masalah perancangan adalah:
1. Bagaimana desain dan rancangan apartemen yang mampu memenuhi kebutuhan hunian bagi para pekerja bandara kualanamu dan sekitarnya 2. Bagaimana merancang dan merencanakan apartemen dan fasilitas
penunjangnya untuk memenuhi kegiatan sehari-hari para pekerja bandara kualanamu dan sekitarnya
3. Bagaimana merancangan apartemen sesuai dengan bentuk lahan perancangan dalam kawasan keselamatan operasional penerbangan sebagai salah satu penguat desain yang menyelaraskan bangunan dengan lingkungan
1.4. Pendekatan
Metode pendekatan dalam Perancangan Apartemen Hijau di Kawasan Bandara Kualanamu menggunakan metode yang disebut metode etnografi atau
metode kualitatif. Pendekatan yang dilakukan dalam mengumpulkan data untuk
perancangan ini menggunakan beberapa metode yaitu studi literatur, observasi lapangan, dan studi banding.
1.4.1 Studi Literatur
Studi literatur atau pengumpulan data sekunder adalah metoda pengumpulan data yang dilakukan dengan mengambil data sekunder dari berbagai instansi atau dari laporan beberapa instansi terkait. Misalnya data dari kantor/instansi/dinas/badan yang ada dilingkungan Pemerintah Kota Medan, instansi vertikal lainnya, dan sebagainya.
Data-data sekunder yang akan dikumpulkan pada tahap ini antara lain:
Rencana Tata Ruang Kawasan Metropolitan Mebidang; Deli Serdang Dalam Angka;
Dokumen perencanaan lainnya yang berkaitan dengan wilayah perencanaan. 1.4.2 Survei Lapangan/Pengumpulan Data Primer
Selain mengumpulkan data-data sekunder juga dilakukan pengumpulan data primer. Pengumpulan data primer pada dasarnya juga dapat dilakukan dengan mengumpulkan data yang berkaitan dengan kondisi faktual lapangan maka
dilakukan metoda observasi lapangan yaitu melakukan peninjauan langsung ke lokasi wilayah studi/lapangan. Hal-hal yang perlu diperhatikan pada saat observasi lapangan adalah:
Potensi Fisik Tata Ruang wilayah perencanaan;
Masalah pembangunan dan perwujudan ruang kawasan; Kondisi kependudukan;
Kondisi sosial budaya, ekonomi dan keuangan;
Kondisi topografi, kemiringan, daerah genangan dan daya dukung
pengembangan fisik kawasan;
Penggunaan lahan eksisting;
Pemanfaatan ruang dan kecenderungan perubahan lahan; Penyebaran fasilitas umum dan sosial;
Jaringan pergerakan (aksessibilitas/transportasi/sirkulasi);
Jaringan utilitas;
Kondisi perumahan dan permukiman;
Kondisi bangunan (bangunan tunggal, rendeng, kopel, tidak bertingkat,
1.5. Lingkup Dan Batasan
Rancangan apartemen ini bersifat fiktif dan memiliki lingkup berupa tempat tinggal bagi para pekerja bandara Kualanamu dan para pekerja di sekitar bandara Kualanamu dengan bangunan dan fasilitas penunjangnya. Rancangan apartemen ini terbagi apartemen sewa dan apartemen milik.
Adapun batasan-batasannya berdasarkan pengguna bangunan, berupa:
1. Apartemen sewa untuk para pekerja bandara Kualanamu dan sekitarnya yang memiliki unit hunian melalui penyewaan.
2. Apartemen milik untuk para pekerja di kawasan bandara Kualanamu yang ingin memiliki hunian dekat dengan bandara Kualanamu dan tempat kerjanya, dan
3. Fasilitas penunjang yang memenuhi kebutuhan sehari-hari bagi para penghuni apartemen.
1.6. Kerangka Berfikir
1.7.Sistemika Penulisan Laporan
Sistematika penulisan laporan secara garis besarnya dikelompokkan dalam enam bab, dengan urutan sebagai berikut:
BAB I: PENDAHULUAN
Bab ini berisikan mengenai latar belakang, maksud dan tujuan, perumusan masalah, pendekatan, lingkup dan batasan, kerangka berfikir, serta
sistematika penulisan laporan.
BAB II: TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini berisikan tentang teori teori yang mendukung dalam perancangan, pengertian, tinjauan fungsi, elaborasi tema, serta studi banding proyek.