BAB III AKUNTABILITAS KINERJA
A. Capaian Indikator Kinerja Utama (IKU)
2. Analisis Realisasi IKU
2.3 Internal Business Process Perspective (IKU-B1.1)
INVESTASI
Pada tahun 2021, terdapat beberapa putaran dari sedikitnya 3 (tiga) perundingan/
penyelesaian
perundingan tentang perjanjian
perdagangan bebas dan perjanjian investasi
internasional yang dilakukan pemerintah di mana Kementerian Luar Negeri c.q. Direktorat Hukum dan Perjanjian Ekonomi terlibat aktif di dalamnya sebagai ketua (lead) atau ketua bersama (co-leads) dari beberapa working groups. Perundingan tersebut antara lain Indonesia-EU Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA), Indonesia-UAE CEPA, dan BIT/P4M Indonesia-Swiss. Dengan mempertimbangkan situasi krisis kesehatan dan ekonomi akibat dari pandemi Covid-19, maka pada tahun 2021 ini terdapat penyesuaian format perundingan dari yang dilakukan secara fisik/luring menjadi secara virtual/daring.
Putaran perundingan menjadi lebih intensif mengingat perundingan dilakukan secara daring namun memerlukan berbagai upaya pendekatan/lobi yang lebih intensif pula untuk mencapai berbagai kesepakatan dalam perundingan.
1. Indonesia – EU CEPA
Pada tahun 2021, Kementerian Luar Negeri c.q. Direktorat Hukum dan Perjanjian Ekonomi telah melakukan beberapa putaran perundingan Indonesia – EU CEPA. Putaran yang terakhir dilakukan pada tahun 2021 adalah putaran ke-11 pada 7-9 November 2021.
Pada perundingan Indonesia – EU CEPA, Direktorat Hukum dan Perjanjian Ekonomi berperan sebagai ketua (lead) beberapa Working Groups (WG) seperti WG Dispute Settlement (DS), WG Institutional and Final Provisions (IFP), WG Transparency and Good Regulatory Practices (TGRP), WG Investment Court System (ICS), menjadi ketua bersama (co-lead) pada beberapa WGs, seperti WG Investment, WG Intellectual Property
33 Laporan Kinerja (LKj)
Direktorat Hukum dan Perjanjian Ekonomi Tahun 2021
(IP), dan WG Trade and Sustainable Development (TSD), serta menjadi legal advisor bagi seluruh tim perunding Indonesia.
Hingga putaran ke-11 di akhir tahun 2021, perundingan Indonesia – EU CEPA telah mengalami berbagai kemajuan kesepakatan pada berbagai WGs, terutama dari segi rules dan akses pasar. Namun masih terdapat sejumlah outstanding issues yang perlu dipertimbangkan oleh kedua belah pihak pada perundingan mendatang, seperti akses pasar produk sawit (RBDPO, RBDP, CPO) dan perikanan Indonesia ke Uni Eropa serta sikap resistensi Uni Eropa terhadap unsur trade and sustainability (akses pasar) di produk unggulan Indonesia seperti vegetable oil, fisheries, dan timber. Sementara masih terdapat berbagai thresholds terkait syarat minimum investasi dan reservasi di banyak sektor investasi yang dinilai masih tumpang tindih oleh Uni Eropa serta resistensi Uni Eropa terhadap kebijakan Indonesia mengenai penghapusan/larangan bea ke luar (export duties) dan akses pasar untuk remanufactured goods dan repaired goods. Beberapa isu rules yang juga memerlukan pertimbangan lebih lanjut oleh Indonesia dan Uni Eropa adalah terkait larangan kewajiban TKDN pada government procurement, isu PPR atas investasi di bidang jasa, disiplin standstill vs ratchet dalam modalitas liberalisasi investasi, usulan Uni Eropa tentang Investment Court System (ICS) yang masih dinilai problematik oleh Indonesia, serta ekstensi paten, aksesi UPOV 1991, izin pemasaran obat, dan perpanjangan masa perlindungan hak pada Bab Hak Kekayaan Intelektual.
2. Indonesia – UAE CEPA
Pada tahun 2021, Kementerian Luar Negeri c.q. Direktorat Hukum dan Perjanjian Ekonomi telah melakukan 2 (dua) putaran perundingan Indonesia – UAE CEPA. Putaran terakhir yang dilakukan pada tahun 2021 adalah putaran kedua pada 2 – 4 September 2021 di Bogor, Indonesia. Pada perundingan Indonesia – UAE CEPA, Direktorat Hukum dan Perjanjian Ekonomi berperan sebagai ketua (lead) beberapa Working Groups (WGs) seperti WG Legal and Institusional Issues (LII) dan menjadi ketua bersama (co-lead) pada beberapa WGs, seperti WG Investment, WG Intellectual Property, WG tentang syariah dan isu halal, serta menjadi legal advisor bagi seluruh tim perunding Indonesia.
Putaran kedua perundingan menghasilkan kemajuan perundingan sekitar 65% dan berhasil mencapai kemajuan signifikan pada pembahasan 5 (lima) Bab, yaitu: (i) Customs and Procedures and Trade Facilitation (CPTF), (ii) Small and Medium Enterprises (SMEs), (iii) Economic Cooperation, (iv) Islamic Economy, dan (v) Digital Trade/E-Commerce.
Kedua pihak sepakat untuk melakukan pertemuan intersesi guna mempercepat penyelesaian perundingan Indonesia – UAE CEPA dalam kurun waktu maksimal 1 (satu) tahun sebelum penetupan Dubai Expo pada bulan Maret 2022.
34 Laporan Kinerja (LKj)
Direktorat Hukum dan Perjanjian Ekonomi Tahun 2021 3. BIT/P4M Indonesia – Swiss
Sepanjang tahun 2021, Kementerian Luar Negeri c.q. Direktorat Hukum dan Perjanjian Ekonomi sebagai ketua tim perunding Indonesia telah melakukan beberapa putaran perundingan BIT/P4M Indonesia-Swiss. Perundingan putaran terakhir telah diselenggarakan secara hybrid di Bandung pada 6-9 September 2021. Dengan telah diselesaikannya perundingan terakhir BIT/P4M tersebut, maka Indonesia dan Swiss berhasil memfinalisasi BIT/P4M dan menyepakati seluruh outstanding issues yang terdiri dari Judul Perjanjian, Mukadimah, Definisi, Cakupan Perjanjian, Ketentuan Perpajakan, Klausula Most Favored Nation, National Treatment, Ekspropriasi, Right to Regulate (RTR), Mekanisme Penyelesaian Sengketa (ISDS dan SSDS), General Exception, Denial of Benefits, Annex on Expropriation dan Annex on Code of Conduct for Arbitrator.
BIT/P4M Indonesia-Swiss yang terdiri dari 4 (empat) Bab, 45 Pasal dan 2 Annex (Ekspropriasi dan Code of Conduct for Arbitrators) tersebut merupakan salah satu contoh perjanjian investasi Indonesia yang memiliki sejumlah safeguards untuk menjaga kepentingan negara secara berimbang dengan perlindungan terhadap investor sesuai dengan posisi Indonesia pasca pengkajian ulang/review (a.l. penolakan umbrella clause untuk hindari treaty shopping, measures against corruption). Selain itu, perjanjian investasi ini menjadi BIT pertama Swiss yang memiliki ketentuan a.l. General Exceptions, Right to Regulate, Corporate Social Responsibility, Denial of Benefits, serta berbagai exceptions rules dalam klausula ISDS. Dengan telah difinalisasinya BIT/P4M ini, Indonesia memiliki leverage atau preseden yang baik untuk mendorong berbagai ketentuan safeguards dalam berbagai perundingan berbagai BIT ke depan khususnya dengan berbagai negara maju.
Kedua negara telah sepakat untuk melakukan penyelesaian teks perundingan, dengan menyelesaikan legal scrubbing teks secara intersesional serta penerjemahan BIT Indonesia-Swiss ke dalam bahasa Indonesia dan Swiss. Teknis penandatanganan BIT juga akan dibahas lebih lanjut setelah tahapan legal scrubbing dan penerjemahan tersebut selesai dilakukan pada awal tahun 2022.
Beberapa perundingan/pembuatan perjanjian yang dapat dijadikan contoh untuk penghitungan persentase kemajuan berdasarkan mistar perjanjian adalah perundingan/pembuatan perjanjian yang dapat dihitung karena perundingannya berlangsung sejak awal tahun 2021 atau tahun sebelumnya, dan menunjukkan adanya perkembanan signifikan, yakni Indonesia-EU CEPA dan BIT/P4M Indonesia-Swiss, karena kedua perjanjian tersebut dinilai cukup untuk merepresentasikan contoh dari perjanjian perdagangan bebas (FTA/CEPA) dan perjanjian investasi (P4M/BIT), sebagaimana dicakup dalam mistar perjanjian. Berikut adalah tabel yang menunjukkan kemajuan kedua perundingan dimaksud sepanjang tahun 2021:
35 Laporan Kinerja (LKj)
Direktorat Hukum dan Perjanjian Ekonomi Tahun 2021
Tabel Target Kemajuan Perundingan Perjanjian Perdagangan Bebas dan Investasi Tahun 2021
No. Nama Perundingan Titik Awal
Titik Target
Titik
Realisasi Keterangan
1. Indonesia – EU
(IEU-CEPA) 125 165 164
2 putaran perundingan IEU-CEPA telah dilakukan sepanjang tahun 2021.
2. BIT/P4M Indonesia –
Swiss 165 195 194
2 putaran perundingan, 2 pertemuan intersesional (daring) dan perundingan intersesional legal scrubbing dilaksanakan sepanjang tahun 2021.
Pada Triwulan I 2021, Indonesia-EU CEPA memiliki titik awal 125 dengan titik target 165, sementara BIT/P4M Indonesia-Swiss memiliki titik awal 165 dengan titik target 195.
Sesuai perkembangan perundingan hingga akhir Triwulan IV 2021, sesuai dengan mistar perjanjian, terdapat kemajuan yang signifikan, misalnya beberapa WGs perundingan Indonesia-EU CEPA mencapai tahapan/titik penyusunan counterdraft kembali dari Indonesia dengan Uni Eropa dengan estimasi realisasi 164, sementara untuk perundingan BIT/P4M Indonesia-Swiss, kedua pihak mencapai kesepakatan untuk seluruh draft teks perjanjian dengan estimasi realisasi 194—selangkah lagi menuju titik penandatanganan.
Berikut merupakan tabel mengenai total capaian sasaran pada IKU-B1.1 ini tahun 2021:
Tabel Capaian Kinerja Sasaran IKU-B1.1 Tahun 2021
Indikator Kinerja Sasaran Informasi
Kinerja Realisasi Target Capaian
IKU-B1.1: Persentase Kemajuan Perundingan Perjanjian Perdagangan Bebas dan Investasi
(Total Titik Realisasi - Titik
Awal) 97,14% 100% 97,14%
(Total Titik Target - Titik Awal)
Faktor Pendorong
Sejumlah faktor pendorong/pendukung pencapaian IKU-B1.1 ini yaitu adanya komitmen bersama antara Indonesia dengan negara mitra untuk mengakselerasi kemajuan sehingga diharapkan perundingan akan commercially meaningful bagi pihak masing-masing. Khusus perundingan BIT/P4M Indonesia – Swiss, kedua pihak memiliki
36 Laporan Kinerja (LKj)
Direktorat Hukum dan Perjanjian Ekonomi Tahun 2021
tekad dan komitmen yang kuat sehingga semua outstanding issues dapat diselesaikan dan seluruh draft teks perjanjian telah disepakati oleh kedua pihak pada perundingan terakhir tahun 2021 ini. Adanya kemajuan signifikan dari kedua perundingan Indonesia – EU CEPA dan BIT/P4M Indonesia – Swiss antara lain juga ditunjang oleh basis perjanjian FTA/CEPA/P4M yang sama-sama dijadikan rujukan baik oleh pihak Indonesia maupun negara mitra sehingga dapat lebih mudah memfasilitasi tercapainya kesepakatan.
Apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya, pencapaian IKU-B1.1 ini mengalami sedikit penurunan namun masih dalam kisaran di atas 95%. Pada tahun 2020, pencapaian IKU-B1.1 sebesar 101,96%, dan pada tahun 2021, pencapaian IKU-B1.1 sedikit turun menjadi 97,14%.
Grafik Perbandingan Capaian IKU-B1.1 Tahun 2020 – 2021
94 96 98 100 102
Persentase IKU-B1.1
2020 2021
Inovasi dan Efektivitas Kinerja
Direktorat Hukum dan Perjanjian Ekonomi terus mengintensifkan koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan nasional dalam rangka menyusun posisi nasional untuk menghadapi perundingan perjanjian di bidang ekonomi. Utilisasi aplikasi internal
“Progress HPI” juga menjadi inovasi tersendiri dalam mendorong efektivitas dan efisiensi koordinasi terutama yang dilakukan antar-satuan kerja pada Diten Hukum dan Perjanjian Internasional maupun Kementerian Luar Negeri. Melalui penggunaan aplikasi tersebut, setiap perkembangan perundingan dapat langsung diketahui dan dipantau oleh pimpinan maupun rekan pada satuan/unit kerja, sehingga hal tersebut dapat menjadi bahan acuan bagi upaya penyempurnaan langkah ke depan guna mendorong kemajuan dalam perundingan perjanjian perdagangan bebas dan investasi.
37 Laporan Kinerja (LKj)
Direktorat Hukum dan Perjanjian Ekonomi Tahun 2021 Tantangan dan Kendala/Hambatan
Seperti halnya pada berbagai upaya pencapaian IKU lainnya, situasi pandemi Covid-19 juga menjadi tantangan/kendala utama bagi upaya pencapaian IKU-B1.1.
Situasi tersebut menuntut kreativitas sehingga sedapat mungkin meminimalisasi potensi terhambatnya realisasi program kegiatan. Adanya pengurangan anggaran pada tahun 2021 tidak serta merta menjadi hambatan yang berarti, mengingat pada akhirnya berbagai perundingan perjanjian perdagangan bebas dan investasi tetap dapat dilakukan secara daring/virtual (online), dengan memanfaatkan berbagai aplikasi teknologi yang dapat memfasilitasi pertemuan secara virtual. Selain itu, secara internal, konsultasi dan koordinasi antara berbagai kementerian/lembaga juga dilakukan pada umumnya secara virtual, kendatipun masih terdapat pertemuan yang mengharuskan kehadiran fisik dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.
Untuk mengatasi berbagai tantangan dan kendala/hambatan tersebut, Direktorat Hukum dan Perjanjian Ekonomi senantiasa mendorong koordinasi, konsinyering dan konsultasi, baik secara fisik maupun daring, tidak hanya di tingkat working level tetapi juga di tingkat pengambil kebijakan secara lebih efektif, sehingga akhirnya kesamaan pandangan antara berbagai pemangku kepentingan dapat terwujud untuk mendorong posisi nasional yang lebih solid dalam menghadapi berbagai perundingan.
Efisiensi Penggunaan Sumber Daya
Beberapa upaya efisiensi penggunaan sumber daya juga dilakukan oleh Direktorat Hukum dan Perjanjian Ekonomi dalam proses prundingan. Dengan melakukan berbagai koordinasi secara daring, yang biasanya dilakukan dalam bentuk koordinasi fisik, maka terjadi efisiensi dalam penggunaan sumber daya manusia maupun sumber daya anggaran. Efisiensi juga terjadi saat berbagai putaran perundingan antara Indonesia dengan negara mitra dilakukan secara daring.
Direktorat Hukum dan Perjanjian Ekonomi di penghujung akhir tahun juga telah melakukan kegiatan monev, termasuk untuk program kegiatan kerja sama (perundingan, pemberlakuan, implementasi perjanjian) di bidang ekonomi. Hasil evaluasi tersebut menjadi bahan untuk melakukan langkah perbaikan bagi pelaksanaan perundingan selanjutnya, dengan memperhatikan situasi pandemi Covid-19 yang diperkirakan masih berlangsung pada tahun 2022.
Berbagai faktor pendorong, inovasi dan efektivitas kerja, tantangan dan kendala/hambatan, serta efisiensi dalam penggunaan sumber daya juga berlaku bagi berbagai perundingan lainnya. Pada tahun 2021, berbagai perkembangan perundingan
38 Laporan Kinerja (LKj)
Direktorat Hukum dan Perjanjian Ekonomi Tahun 2021
atau penjajakan perundingan perjanjian di bidang ekonomi lainnya yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia di mana Direktorat Hukum dan Perjanjian Ekonomi terlibat secara aktif sebagai lead atau co-lead sebagai berikut:
NO PERUNDINGAN PERKEMBANGAN CATATAN/TINDAK LANJUT
1. Indonesia – UAE CEPA
a. Pertemuan pra-negosiasi dilaksanakan 18-19 Mei 2021 dan kick off perundingan pada 2-4 September 2021. Hingga akhir 2021, telah berlangsung 2 putaran dan 2 kali intersesi untuk perundingan beberapa Working Groups (WGs).
b. Mayoritas WGs, termasuk WG Legal and Institutional Issues, WG IP, WG Economic Cooperation, telah mengalami kemajuan yang ditandai dengan
banyaknya cleaned
articles/paragraphs. Beberapa WGs, seperti WG Investment dan WG syariah dan isu halal, kedua pihak prinsipnya menyepakati kedua Bab tersebut dan akan membahas draft teks secara intensif untuk mencapai berbagai kemajuan/kesepakatan pada perundingan selanjutnya.
Kedua pihak sepakat untuk menargetkan penyelesaian perundingan pada Triwulan I 2022 atau maksimal 1 (satu) tahun sebelum penutupan Dubai Expo pada bulan Maret 2022.
2. Indonesia – Kanada CEPA
a. Rangkaian pertemuan technical discussion untuk persiapan negosiasi Indonesia-Kanada CEPA telah dilaksanakan secara virtual pada minggu kedua dan minggu ketiga Maret 2021. Pada rangkaian pertemuan tersebut telah dibahas berbagai kebijakan, praktik FTA/CEPA dan proyeksi posisi kedua pihak mengenai berbagai isu yang terkait.
b. Dari rangkaian technical discussion tersebut, tidak terdapat perbedaan yang berarti di antara FTA/CEPA practices kedua negara, termasuk proyeksi
posisi, modalitas
liberalisasi/akses pasar, dan isu-isu lainnya yang perlu dibahas dalam Working Groups/Chapters dalam struktur CEPA yang akan dirundingkan kedua pihak.
Kedua pihak sepakat untuk melakukan pertemuan pra-negosiasi yang bersifat konsultatif untuk menentukan langkah ke depan, termasuk proyeksi kick off perundingan, yang diperkirakan akan dilaksanakan pada awal (Triwulan I) tahun 2022.
3. Indonesia – MERCOSUR FTA/CEPA
a. Rangkaian pertemuan pembahasan scoping paper telah dilakukan sepanjang tahun 2021.
Indonesia dan negara-negara MERCOSUR telah melakukan
Kedua pihak prinsipnya sepakat untuk melakukan perundingan putaran pertama pada Triwulan I 2022 dan menargetkan penyelesaian perundingan
39 Laporan Kinerja (LKj)
Direktorat Hukum dan Perjanjian Ekonomi Tahun 2021
exploratory meeting (9 Desember 2021) secara virtual dan menyepakati scoping paper sebagai basis umum perundingan Indonesia – MERCOSUR FTA/CEPA. Perundingan Indonesia-MERCOSUR
FTA/CEPA (IM-CEPA) telah diluncurkan kedua pihak pada 16 Desember 2021.
b. Secara umum, kedua pihak menyapakati dalam scoping paper bahwa perundingan Indonesia – MERCOSUR FTA/CEPA akan meluputi a.l.
perdagangan barang, jasa, investasi (tanpa elemen proteksi), GP (tanpa liberalisasi), IPR, trade and sustainable development, dan kerja sama (ekonomi).
dalam waktu yang tidak terlalu lama.
4. BIT/P4M
Indonesia – Kazakhstan
a. Pada tahun 2021, Indonesia Kazakhstan telah melakukan 2 pertemuan technical discussion dalam rangka mempersiapkan perundingan BIT kedua negara.
b. Secara umum, kedua pihak sepakat pengaturan pada perjanjian harus balance, pentingnya policy space untuk melindungi public interests, struktur perjanjian setidak-tidaknya 4 bagian pokok (definisi dan lingkup, pengaturan proteksi dan promosi/fasilitasi, mekanisme penyelesaian sengketa, dan ketentuan akhir/final), serta terbuka untuk membahas elements lainnya seperti right to regulate, pembangunan berkelanjutan, ketentuan pengecualian, dan denial of benefits. Kedua pihak juga sepakat menjadikan BIT RI-Singapura dan BIT Kazakhstan-Singapura sebagai basis pertimbangan bagi perundingan BIT RI-Kazakhstan ini.
Kedua pihak menyepakati untuk melaksanakan kick off perundingan putaran pertama pada Januari/Februari 2022.
Dengan berbasis pada kesepakatan prinsip pada technical discussion ini, Indonesia akan menyampaikan first draft kepada Kazakhstan, yang akan ditindaklanjuti
dengan penyampaian
counterdraft Kazakhstan kepada Indonesia, sebelum dilakukan perundingan putaran pertama pada awal 2022.
5. Upgrade ASEAN
Hong Kong
Investment Agreement (AHK-IA)
a. Perundingan untuk upgrade AHK-IA telah dilaksanakan 2 (dua) putaran pada tahun 2021 untuk menegosiasikan 5 isu pokok dalam Work Program, meliputi Schedules of Reservations (Annex I), prosedur modifikasi Annex I, pemberlakuan Pasal 10
(Expropriation and
Compensation) terhadap taxation measures, definisi “natural
Negara-negara ASEAN dan Hongkong menyepakati work plan yang berisi jadwal, tahapan, dan target perundingan yang akan dibahas lebih lanjut secara intersesional.
Diperkirakan setidaknya terdapat 4 putaran perundingan untuk membahas kelima isu tersebut sepanjang tahun 2021 dan beberapa putaran
40 Laporan Kinerja (LKj)
Direktorat Hukum dan Perjanjian Ekonomi Tahun 2021
person of a Party”, dan mekanisme penyelesaian sengketa investor-negara (ISDS/IPDS).
b. Isu yang mengemuka a.l.
klausula ISDS (perlu/tidaknya automatic consent) dan isu perpajakan dimana Indonesia tidak dapat menerima usulan perpajakan tunduk pada disiplin ekspropriasi.
perundingan agar negosiasi upgrade AHK-IA ini dapat selesai disepakati oleh para pihak.
6. Upgrade ASEAN Australia New Zealand FTA (AANZFTA)
a. Perundingan upgrade AANZFTA, sesuai hasil General Review AANZFTA tahun 2017, didasarkan pada baseline yang disusun FTA Joint Committee (FJC) AANZFTA sebagai basis untuk perundingan upgrade AANZFTA.
b. Bebeapa hal akan menjadi pertimbangan untuk perundingan upgrade AANZFTA, a.l. melalui pembaruan ketentuan dan komitmen pada isu Rules of Origins, Custom Procedures, Jasa, E-Commerce, Investasi, dan Kompetisi, pembentukan Bab Government Procurement dan Trade and Sustainable Development, serta usulan aksesi Chile terhadap AANZFTA yang perlu disepakati oleh seluruh negara Pihak AANZFTA.
ASEAN, Australia dan Selandia Baru sepakat untuk mencapai target penyelesaian/finalisasi perundingan upgrade AANZFTA pada September 2022.
7. Rencana/
Penjajakan Upgrade ASEAN – China FTA (ACFTA)
Pada pertemuan SEOM ASEAN dan China tahun 2021, para pihak sepakat untuk mengadakan Joint Feasibility Study yang akan menjadi basis bagi perundingan upgrade ACFTA termasuk elemen-elemen yang kiranya perlu ditingkatkan dari ACFTA.
Joint Feasibility Study diharapkan selesai pada awal tahun 2022.
8. Rencana/
Penjajakan ASEAN – Kanada FTA/CEPA
Pada pertemuan SEOM ASEAN dan Kanada, para pihak sepakat untuk menyelesaikan Reference Paper for a possible ASEAN-Canada Free Trade Agreement yang akan menjadi basis bagi perundingan ASEAN Kanada FTA/CEPA.
Dokumen Reference Paper for a possible ASEAN-Canada Free Trade Agreement diharapkan selesai secepatnya sekitar awal tahun 2022.
Selain terlibat aktif pada berbagai perundingan tersebut di atas, Direktorat Hukum dan Perjanjian Ekonomi juga terlibat aktif sebagai tim perunding dan legal advisor delegasi Indonesia untuk berbagai jenis perundingan atau berbagai jenis penjajakan perundingan lainnya yang telah dilaksanakan pada tahun-tahun sebelumnya (2019, 2020) namun belum dapat dilaksanakan pada tahun 2021, sehingga diperkirakan akan dilanjutkan pada tahun
41 Laporan Kinerja (LKj)
Direktorat Hukum dan Perjanjian Ekonomi Tahun 2021
2022. Berbagai jenis perundingan dan penjajakan perundingan lainnya, antara lain:
Indonesia – Turki FTA (IT-FTA/CEPA), Indonesia – Eurasian Economic Union (EAEU) FTA/CEPA, Indonesia – GCC FTA, BIT/P4M Indonesia – Kuwait, BIT/P4M Indonesia – Timor Leste, PTA Indonesia – Tunisia, PTA Indonesia – Bangladesh, PTA Indonesia – Maroko, PTA Indonesia – Mauritius, PTA Indonesia – Fiji, PTA Indonesia – Papua Nugini, PTA Indonesia – Djibouti, P3B Indonesia – Austria (amandemen), dan P3B Indonesia – Jepang (amandemen).
Untuk pencapaian IKU-B1.1 ini, anggaran yang dialokasikan adalah sebesar Rp.
375.882.000,- dengan realisasi sebesar Rp. 375.226.909,- atau mencapai 99,83%.
42 Laporan Kinerja (LKj)
Direktorat Hukum dan Perjanjian Ekonomi Tahun 2021
2.4 INTERNAL BUSINESS PROCESS PERSPECTIVE (IKU-B1.2): PERSENTASE