BAB IV PENUTUP
C. Alternatif Pemecahan
Untuk mengatasi tantangan dan kendala tersebut perlu dilakukan, antara lain:
a. Melanjutkan adaptasi kebiasaan baru melalui intensifikasi koordinasi yang tidak saja bergantung pada komunikasi fisik (luring) tetapi juga daring untuk menjamin terlaksananya berbagai program kegiatan yang telah direncanakan.
b. Memperkuat koordinasi dengan seluruh unit kerja pada Kementerian Luar Negeri maupun dengan pemangku kepentingan lainnya secara lebih efektif, efisien, dan berkelanjutan serta mengoptimalkan efektivitas upaya pendekatan/lobi dengan negara mitra untuk mencapai solusi bersama, guna mencapai tujuan dan target kinerja, dengan tetap berpedoman pada kepentingan dan peraturan nasional.
c. Terus menajamkan strategi dan konsolidasi langkah antar kementerian/lembaga untuk menggali dan memastikan adanya kemanfaatan bersama dalam setiap perundingan/pembuatan perjanjian.
d. Tetap mengedepankan prinsip efisiensi dan efektivitas untuk mempertahankan kinerja dan anggaran yang sudah baik.
Dengan mengimplementasikan langkah-langkah tersebut, diharapkan ke depan akan terdapat penyempurnaan hasil capaian kinerja sesuai yang diharapkan.
---oo0oo---
53 Laporan Kinerja (LKj)
Direktorat Hukum dan Perjanjian Ekonomi Tahun 2021
BAB V LAMPIRAN
LAMPIRAN I:
PERJANJIAN KINERJA
TAHUN 2021
54 Laporan Kinerja (LKj)
Direktorat Hukum dan Perjanjian Ekonomi Tahun 2021
55 Laporan Kinerja (LKj)
Direktorat Hukum dan Perjanjian Ekonomi Tahun 2021
Stakeholder: pemegang kepentingan yang memiliki hak dan kepentingan dalam sebuah sistem, diantaranya: Presiden, DPR, MPR, K/L, Pemda, LSM, Pemprov, WNI/BHI. PErwakilan Asing, Media, Akademisi, Diaspora, LSM, WMN, Organisasi Internasional
Cus tom er
Inte rnal Bus ines s Pr oces s
Lear ning &
Gro wth
B1. Diplomasi ekonomi yang kuat
Peta Strategi Direktorat Hukum dan Perjanjian Ekonomi KEMENTERIAN LUAR NEGERI
C1. Kualitas Pelayanan terhadap pembentukan dan penyempurnaan norma hukum
dan perjanjian internasional di bidang ekonomi
Organisasi, Lingkungan Kerja dan Administrasi Umum L1. Tata Kelola Organisasi
yang baik di Direktorat Hukum dan Perjanjian
Ekonomi Stak
ehol der
S1. Penyelesaian hukun dan perjanjian Internasional di
bidang Ekonomi
Customer: merupakan pihak-pihak yang menggunakan layanan dari
Kode
SS Sasaran Strategis Kode
IKU Indikator Kinerja Utama (IKU) Target 2021
(1) (2) (3) (4) (5)
Stakeholder Perspective
S1 Penyelesaian hukum dan perjanjian Internasional di bidang ekonomi
S1.1 Persentase kemajuan hukum dan perjanjian internasional di bidang ekonomi yang diselesaikan
100%*)
Customer Perspective
C1 Kualitas pelayanan terhadap
pembentukan dan
penyempurnaan norma hukum dan perjanjian internasional di
C1.1 Persentase pendapat hukum dan perjanjian internasional di bidang ekonomi dalam konsep/dokumen yang digunakan oleh K/L
100%**)
56 Laporan Kinerja (LKj)
Direktorat Hukum dan Perjanjian Ekonomi Tahun 2021 bidang ekonomi
Kode
SS Sasaran Strategis Kode
IKU Indikator Kinerja Utama (IKU)
Target 2021
(1) (2) (3) (4) (5)
Internal Business Process Perspective
B1 Diplomasi ekonomi yang kuat B1.1 Persentase kemajuan perundingan perjanjian perdagangan bebas dan investasi
100%*)
B1.2 Persentase pendapat hukum di bidang ekonomi yang diterima sebagai posisi Indonesia dalam forum Internasional
100%**)
Learning & Growth Perspective
L1 Tata Kelola Organisasi yang baik di Direktorat Hukum dan Perjanjian Ekonomi
L1.1 Nilai evaluasi AKIP di Direktorat
Hukum dan Perjanjian Ekonomi 78 (BB) Keterangan : * Persentase berdasarkan IKU Mistar
** Persentase berdasarkan Jumlah Pelayanan yang diberikan
No. Kegiatan Pagu APBN 2021 Pagu APBN-P 2021
(Rp) (Rp)
1
Pagu Anggaran Direktorat Hukum dan Perjanjian Ekonomi 2021: Optimalisasi Diplomasi terkait dengan Hukum dan Perjanjian Ekonomi
3.686.061.104 2.814.171.000
57 Laporan Kinerja (LKj)
Direktorat Hukum dan Perjanjian Ekonomi Tahun 2021
58 Laporan Kinerja (LKj)
Direktorat Hukum dan Perjanjian Ekonomi Tahun 2021
LAMPIRAN II:
MATRIKS REALISASI
RENAKSI
59 Laporan Kinerja (LKj)
Direktorat Hukum dan Perjanjian Ekonomi Tahun 2021
MATRIKS REALISASI RENCANA AKSI (RENAKSI) DIREKTORAT HUKUM DAN PERJANJIAN EKONOMI TAHUN 2021
No
Tujuan (T) / Sasaran Strategis (SS)
Indikator Kinerja Utama (IKU)
Target Tahunan
Target
Penanggung Jawab
s.d TW I T
W I
T W
II T W III
TW
IV Formulasi Realisasi Narasi Realisasi Kinerja Faktor Penghambat /
Kendala
Percepatan / Langkah Perbaikan / Proyeksi Kedepan Penyelesaia
n Hukum dan Perjanjian Internasiona l di Bidang Ekonomi
S1.1
Persentase Kemajuan Hukum dan Perjanjian Internasional di Bidang Ekonomi yang diselesaikan
100 25 50 75 100 25.22 Hingga Triwulan I Tahun 2021, Direktorat Hukum dan Perjanjian Ekonomi telah menyelesaikan proses pengesahan/ratifikasi beberapa perjanjian FTA/CEPA, BIT/P4M maupun PTA yang sebelumya telah disepakati/ditandatangani oleh Indonesia dan negara pihak mitra, termasuk di dalamnya terus memonitor implementasi dari perjanjian-perjanjian dimaksud. Beberapa perjanjian tersebut antara lain: Hong Kong FTA, ASEAN-Hong Kong Investment Agreement, Indonesia-Australia CEPA, BIT RI-Singapura, BIT RI - PEA, RCEP, dan Indonesia-Korea CEPA (IK-CEPA). Misalkan terkait BIT/P4M RI-Singapura, Menlu kedua negara telah melakukan exchange of IOR sehingga menandakan BIT tersebut berlaku dan terkait BIT RI-PEA, Indonesia telah meratifikasinya pada tanggal 19 Februari 2021 dan menunggu ratifikasi oleh pihak PEA serta pemberlakuannya melalui notifikasi satu sama lain. Sementara itu, RCEP dan IK-CEPA yang masing-masing keduanya ditandatangani pada 15 November 2020 dan 18 Desember 2020, juga harus diselesaikan dengan upaya ratifikasi pada tingkat domestik. Dengan berdasarkan mistar titik awal - titik target HPE, maka pada Triwulan I tahun 2021, ASEAN-Hong Kong FTA, ASEAN-Hong Kong Investment Agreement, Indonesia-Australia CEPA, BIT RI-Singapura memiliki titik awal di atas 230 sesuai perkembangan proses penyelesaian/pengesahan masing-masing perjanjian tersebut, yang berarti perjanjian-perjanjian tersebut telah diratifikasi Indonesia, sementara BIT RI-PEA diratifikasi pada Triwulan I 2021 yang berarti memiliki titik awal di atas 195 (sesuai mistar perjanjian HPE), yang berarti sebelumnya sudah di-tandatangani hingga berhasil diratifikasi pada Triwulan I 2021. Sementara itu, karena RCEP dan IK-CEPA baru ditandatangani pada akhir tahun 2020, maka titik awal kedua perjanjian tersebut adalah 195 (sesuai mistar perjanjian HPE). Dengan memperhatikan perkembangan penyelesaian (pengesahan) perjanjian, maka perhitungannya sebagai berikut:ASEAN-Hong Kong FTA: 237-235/245-235: 2/10ASEAN-Hong Kong Investment Agreement: 237-235/245-235: 2/10BIT RI-Singapore: 234-230/245-230: 4/15Indonesia-Australia CEPA: 241-240/245-240: 1/5BIT RI-PEA: 234-230/245-230: 4/15RCEP: 203-195/225-195: 8/30IK-CEPA: 203-203-195/225-195: 8/30maka total titik realisasi - titik awal dari kelima perjanjian tersebut:
29 maka total titik target - titik awal dari keempat perjanjian tersebut: 115Sehingga 29/115 x 25% x 100% (Triwulan I).
Suasana masih pandemik Covid-19 dan anjuran work from
home masih
diberlakukan. Meski demikian, hal tersebut tidak menjadi halangan/hambatan yang berarti , sehingga proses penyelesaian perjanjian di Triwulan I 2021 ini tidak berjalan dengan lancar. Pihak-pihak terkait dapat melakukan
koordinasi/konsultasi dengan baik untuk menyelesaikan perjanjian-perjanjian tersebut. Beberapa kendala kecil yang telah muncul masih terkait adanya perbedaan pandangan antara beberapa K/L mengenai suatu isu implementasi dari suatu perjanjian yang telah ditandatangani setelah para pihak dalam perjanjian melakukan ratifikasi. Namun perbedaan pandangan tersebut secara umum dapat diselesaikan dengan baik.
Pada Triwulan I 2021 ini, Direkorat Hukum dan Perjanjian Ekonomi bersama dengan seluruh satker pada Ditjen HPI melakukan monitoring progress HPI dan akan melakukan monev
guna dapat
mengetahui secara langsung
perkembangan penyelesaian perjanjian maupun implementasi dari perjanjian, serta membahas berbagai isu dan jalan keluar
ke depannya
terutama dalam mendorong percepatan penyelesaian perjanjian dan implementasinya.
60 Laporan Kinerja (LKj)
Direktorat Hukum dan Perjanjian Ekonomi Tahun 2021
Kualitas pelayanan pembentuka n dan penyempur naan norma hukum dan perjanjian internasiona l di bidang ekonomi
C1.1
Persentase Pendapat Hukum dan Perjanjian Internasional di bidang Ekonomi dalam konsep/dokum en yang digunakan oleh K/L
100 10 0
10 0
10 0
100 100 Direktorat Hukum dan Perjanjian Ekonomi telah
memberikan pendapat hukum berdasarkan permintaan yang berasal dari K/L atau pemangku kepentingan terkait lainnya, seperti Perwakilan RI. Pada Triwulan I 2021, dari paling sedikit 25 permintaan pendapat hukum yang diterima oleh Direktorat Hukum dan Perjanjian Ekonomi dari stakeholders terkait, Direktorat Hukum dan Perjanjian Ekonomi telah menyampaikan 25 pendapat hukum yang digunakan dalam konsep/dokumen oleh K/L atau pemangku kepentingan yang terkait tersebut.
Meski masalah Covid-19 masih berlangsung, dalam pemberian pendapat hukum, Direktorat Hukum dan Ekonomi masih dapat memberikan pendapat hukum sesuai dengan permintaan-permintaan yang digunakan dalam dokumen K/L atau pemangku kepentingan lainnya. Hasil pendapat hukum disampaikan juga melalui saluran surat elektronik (email) atau saluran aman lainnya untuk mempercepat penerimaan pendapat hukum tersebut oleh K/L terkait.
Direkorat Hukum dan Perjanjian Ekonomi terus melakukan upaya peningkatan kinerjanya, meski di tengah masalah Covid-19 yang mengharuskan Work from Home (WFH).
Direktorat Hukum juga terus melakukan koordinasi yang lebih intensif dengan seluruh K/L terkait untuk meningkatkan penyampaian pendapat hukum.
Diplomasi Ekonomi yang kuat
B1.1
Persentase Kemajuan Perundingan Perjanjian Perdagangan Bebas dan Investasi
100 25 50 75 100 25.71 Pada Triwulan I 2021, Direktorat Hukum dan Perjanjian Ekonomi sebagai lead/co-lead negotiator maupun legal advisor Pemri telah terlibat dalam perundingan perdagangan bebas dan investasi, di antaranya:1.
Perundingan Indonesia-EU CEPA (IEU-CEPA)Perundingan seluruh Working Groups (WGs) pada IEU-CEPA telah diselenggarakan secara virtual pada tanggal 22 Februari - 2 Maret 2021. Pada perundingan tersebut, DIrektorat Hukum dan Perjanjian Ekonomi bertindak sebagai lead negosiator pada WG Investment Court System, WG Institutional and Final Provisions, WG Dispute Settlement, WG Transparency and Good Regulatory Practices, co-lead pada WG Investment, serta legal advisor pada seluruh WGs. Perundingan mencapai banyak progress pada beberapa WGs, namun juga masih ada beberapa outstanding issues pada beberapa WGs lainnya. Kedua pihak sepakat untuk melakukan konsultasi domestik masing-masing untuk bersusaha mencapai banyak progress pada perundingan putaran selanjutnya.2. Pertemuan Konsultasi BIT/P4M RI-SwissPertemuan konsultasi P4M RI-Swiss telah dilaksanakan secara daring/virtual pada Februari 2021 dan telah membahas beberapa isu. Kedua pihak sepakat untuk melanjutkan perundingan putaran pada 26-29 April 2021 untuk membahas substansi pending issues, seperti Third Party Funding, Security for Costs, General Exceptions, Security Exceptions. Secara umum, hingga perundingan saat ini, telah diselesaikan 30 pasal dari sekitar 46 pasal dalam draft teks perundingan.Perhitungan realisasi kedua perjanjian tersebut sebagai berikut:1. Perundingan IEU-CEPA dengan titik awal 125 (dimana sesuai mistar perjanjian
Perbedaan posisi yang tajam antara Indonesia dengan negara mitra perunding pada tahapan negosiasi legal scrubbing menjadi tantangan namun bukan kendala yang berarti, karena semakin banyak negara perunding menyadari pentingnya win-win solution serta memahmi adanya target
penandatanganan perjanjian pada akhir 2020. Sementara itu, posisi antara beberapa K/L terkait Pemri terlihat solid sehingga memperkuat posisi nasional dan daya tawar Pemri dalam perundingan. Meski terdapat masalah Covid-19, seluruh kegiatan pada Triwulan I ini, seperti Triwulan sebelumnya,
dilaksanakan dengan cara daring, sehingga
Berbagai pending issues dalam sejumlah
perundingan sudah diselesaikan di Triwulan IV tahun 2020. Hal ini menunjukkan keberhasilan upaya lobi dan komunikasi kepada perunding dari negara-negara mitra. Secara internal Pemri, Direktorat
Hukum dan
Perjanjian Ekonomi terus menginisiasi penguatan koordinasi dan komunikasi interkem, meski dilakukan melalui daring, serta memberikan masukan hukum untuk mendorong posisi Pemri yang tetap solid untuk menyelesaikan pending issues lainnya. Direkorat
Hukum dan
Perjanjian Ekonomi
61 Laporan Kinerja (LKj)
Direktorat Hukum dan Perjanjian Ekonomi Tahun 2021
merupakan tahapan perundingan yang sedang berlangsung dan tahapan penyusunan posisi Delri/Posdel). Dengan adanya perundingan putaran 10 ini, maka perundingan ini dinilai telah mencapai titik realisasi 140 dari 165 titik targetnya (sesuai mistar perjanjian titik target 165 berarti perundingan lanjutan).140-125/165-125
= 15/402. Perundingan P4M RI-Swiss dengan titik awal 165 (sesuai mistar perjanjian titik awal ini berarti tahapan perundingan final), dinilai telah mencapai 168 (yang berarti karena pertemuan konsultatif kali ini hanya mendiskusikan sedikit isu saja) dari 195 titik targetnya (195 berarti penandatanganan perjanjian). 168-165/195-165 = 3/30Berdasarkan formulasi perhitungan, maka Total Titik Realisasi-Titik Awal / Total Titik Target - Titik Awal x 100% x 25 % (Triwulan I) = 15+3 / 40+30 x 25%
100% = 18/70 x 25% x 100%
terkadang terdapat kendala teknis (komunikasi melalui jaringan), namun tidak sampai mengganggu jalannya perundingan.
di penghujung akhir
tahun juga
melakukan monev, termasuk monev mengenai program kegiatan kerja sama (perundingan, pemberlakuan, implementasi perjanjian) di bidang ekonomi. Hasil evaluasi ini akan menjadi bahan untuk melakukan langkah-langkah perbaikan bagi pelaksanaan program
kerja/kegiatan di tahun mendatang.
Monev juga akan mempertimbangkan situasi pandemik Covid-19 yang diperkirakan masih terus berlangsung pada tahun 2021.
Direktorat Hukum dan Perjanjian Ekonomi juga akan melakukan
koordinasi yang lebih intensif dengan seluruh satker
Kemenlu dan
berbagai K/L terkait.
62 Laporan Kinerja (LKj)
Direktorat Hukum dan Perjanjian Ekonomi Tahun 2021
B1.2
Persentase Pendapat Hukum di bidang ekonomi yang diterima sebagai posisi Indonesia dalam forum Internasional
100 10 0
10 0
10 0
100 100 Dalam Triwulan I, Direktorat Hukum dan Ekonomi telah menyampaikan pendapat hukum yang diterima sebagai posisi Indonesia, yang disampaikan dalam berbagai
forum/pertemuan internasional
(bilateral/regional/multilateral) yang membahas perjanjian di bidang ekonomi, yang mencakup a.l. perdagangan, investasi, keuangan, perpajakan, energi dan sumber daya alam, dan lingkungan hidup.
Masih adanya situasi pandemi Covid-19 tidak membawa masalah yang berarti, namun beberapa pertemuan mendapatkan beberapa tantangan karena dilakukan secara daring yang memerlukan kekuatan dan koneksi jaringan intranet yang supportif pada berbagai pertemuan dimaksud.
Diperlukan waktu tidak sedikit untuk berkoordinasi dan mencapai posisi nasional bersama,
serta untuk
menyampaikan pemahaman bersama mengenai masukan atas suatu posisi nasional tersebut.
Upaya
pendekatan/lobi dan pemberian
kesadaran kepada K/L atau pemangku kepentingan terkait perlu terus dilakukan terutama dalam menyusun posisi Indonesia yang solid dan aman terutama aman dari segi yuridis dan politis, sehingga menjadi modalitas penting bagi posisi Indonesia dalam
menyelesaikan berbagai
pending/outstanding issues dalam pertemuan/perunding an.
Tata Kelola Organisasi yang baik di Direktorat Hukum dan Perjanjian Ekonomi
L1.1 Nilai Evaluasi AKIP di Direktorat Hukum dan Perjanjian Ekonomi
78 - - - 78 -
No
Tujuan (T) / Sasaran Strategis (SS)
Indikator Kinerja Utama (IKU)
Target Tahunan
Target
Penanggung Jawab
s.d TW II T
W I
T W
II T W III
TW
IV Formulasi Realisasi Narasi Realisasi Kinerja Faktor Penghambat /
Kendala
Percepatan / Langkah Perbaikan / Proyeksi Kedepan
63 Laporan Kinerja (LKj)
Direktorat Hukum dan Perjanjian Ekonomi Tahun 2021
Penyelesaia n Hukum dan Perjanjian Internasiona l di Bidang Ekonomi
S1.1
Persentase Kemajuan Hukum dan Perjanjian Internasional di Bidang Ekonomi yang diselesaikan
100 25 50 75 100 50.43 Pada Triwulan II, Direktorat Hukum dan Perjanjian Ekonomi telah menyelesaikan proses pengesahan/ratifikasi beberapa perjanjian FTA/CEPA, BIT/P4M maupun PTA yang sebelumya telah disepakati/ditandatangani oleh Indonesia dan negara pihak mitra, termasuk di dalamnya terus memonitor implementasi dari perjanjian-perjanjian dimaksud.
Beberapa perjanjian tersebut antara lain: ASEAN-Hong Kong FTA, ASEAN-Hong Kong Investment Agreement, Indonesia-Australia CEPA, BIT RI-Singapura, BIT RI - PEA, RCEP, dan Indonesia-Korea CEPA (IK-CEPA).
Sebagai contoh, dengan telah terpenuhinya syarat minimal signatory Parties meratifikasi agar perjanjian berlaku, maka pada TW II ini ASEAN-Hong Kong FTA dan ASEAN-Hong Kong Investment Agreement telah berlaku. Terkait BIT/P4M RI-Singapura, Menlu kedua negara telah melakukan exchange of IOR untuk pengesahan BIT tersebut, sehingga menandakan BIT tersebut berlaku dan telah dilakukan pertemuan awal WGI kedua negara dalam membahas implementasi BIT tersebut dalam aspek kerja sama. Perihal BIT RI-PEA, Indonesia telah meratifikasinya pada tanggal 19 Februari 2021 dan pihak PEA juga telah melakukan ratifikasi pada 20 April 2021, sehingga pemberlakuan BIT tersebut menunggu exchange of IOR kedua negara sesuai ketentuan pemberlakuan yang diatur di dalam BIT tersebut. Sementara itu, RCEP (tandatangan tanggal 15 November 2020) dan IK-CEPA (tandatangan tanggal 18 Desember 2020) juga harus diselesaikan dengan upaya ratifikasi pada tingkat domestik, dimana saat ini Indonesia masih dalam proses ratifikasi kedua FTA dimaksud.Dengan berdasarkan mistar titik awal - titik target HPE sebagai kelanjutan dari TW I 2021, maka pada Triwulan II ini, Hong Kong FTA dan ASEAN-Hong Kong Investment Agreement sama-sama memiliki titik awal 235, BIT RI-Singapura memiliki titik awal 235, Indonesia-Australia CEPA memiliki titik awal 240, BIT RI-PEA memiliki titik awal 230, RCEP dan IK-CEPA sama-sama memiliki titik awal 195. Dengan memperhatikan perkembangan penyelesaian (pengesahan) perjanjian, maka perhitungannya sebagai berikut:ASEAN-Hong Kong FTA: 241-235/245-235: 6/10ASEAN-Hong Kong Investment Agreement: 241-235/245-235: 6/10BIT RI-Singapore: 241-230/245-230: 11/15Indonesia-Australia CEPA: 243-240/245-240: 3/5BIT RI-PEA: 236-230/245-230: 6/15RCEP: 208-195/225-195: 13/30IK-CEPA:
208-195/225-195: 13/30maka total titik realisasi - titik awal dari kelima perjanjian tersebut: 58 maka total titik target - titik awal dari keempat perjanjian tersebut:
115Sehingga 58/115 x 50% x 100% (Triwulan II).
Meski masih dilanda situasi pandemi Covid-19, tidak ada hambatan yang berarti bagi Kemenlu cq Dit. HPE untuk menyelesaikan proses pengesahan perjanjian karena sebagian besar koordinasi dan proses pengesahan dapat dilakukan secara daring (dari rumah/work from
home). Dapat
disampaikan pula bahwa sedikit kendala muncul terkait masih adanya perbedaan pandangan antara
beberapa K/L
mengenai suatu isu tindak lanjut seperti implementasi dari suatu perjanjian yang telah ditandatangani setelah para pihak dalam perjanjian . Namun masalah perbedaan pandangan tersebut secara umum pada akhirnya dapat diselesaikan.
Kemenlu melalui Dit.
Hukum dan
Perjanjian Ekonomi pada berbagai kesempatan senantiasa melakukan
koordinasi interkem secara intensitas meskipun dilakukan melalui daring (online) untuk mempercepat penyelesaian perjanjian internasional, termasuk untuk mencari jalan keluar bagi berbagai isu pending baik dalam pengesahan maupun implementasi suatu perjanjian
internasional yang telah ditandatangani oleh Indonesia.
64 Laporan Kinerja (LKj)
Direktorat Hukum dan Perjanjian Ekonomi Tahun 2021
Kualitas pelayanan pembentuka n dan penyempur naan norma hukum dan perjanjian internasiona l di bidang ekonomi
C1.1
Persentase Pendapat Hukum dan Perjanjian Internasional di bidang Ekonomi dalam konsep/dokum en yang digunakan oleh K/L
100 10 0
10 0
10 0
100 100 Dit. Hukum dan Perjanjian Ekonomi telah menyampaikan
pendapat hukum berdasarkan permintaan yang berasal dari K/L atau pemangku kepentingan lainnya, seperti Perwakilan RI. Pada Triwulan II 2021 ini, dari paling sedikit 35 permintaan masukan/pendapat hukum yang diterima oleh Dit. Hukum dan Perjanjian Ekonomi dari stakeholders terkait, Dit. Hukum dan Perjanjian Ekonomi telah memberikan 35 pendapat hukum yang digunakan dalam konsep/dokumen oleh K/L atau pemangku kepentingan yang terkait dimaksud.
Tidak terdapat kendala atau hambatan yang berarti dalam pemberian
pendapat/masukan
hukum kepada
stakeholders terkait, kendatipun masih dalam situasi Covid-19.
Dit. Hukum dan Perjanjian Ekonomi sesuai permintaan stakeholders telah memberikan
pendapat/masukan hukum terhadap K/L atau pemangku kepentingan lainnya.
Hasil pendapat hukum disampaikan juga melalui email atau saluran aman lainnya untuk mempercepat penerimaan pendapat hukum tersebut oleh K/L.
Dit. Hukum dan Perjanjian Ekonomi senantiasa
peningkatan upaya koordinasinya dengan satkers Kemenlu dan K/L, meski masih dalam situasi masalah Covid-19.
65 Laporan Kinerja (LKj)
Direktorat Hukum dan Perjanjian Ekonomi Tahun 2021
Diplomasi Ekonomi yang kuat
B1.1
Persentase Kemajuan Perundingan Perjanjian Perdagangan Bebas dan Investasi
100 25 50 75 100 48.57 Pada Triwulan II 2021, Dit. Hukum dan Perjanjian Ekonomi sebagai lead/co-lead negotiator maupun legal advisor Pemri telah terlibat dalam perundingan perdagangan bebas dan investasi, di antaranya:1.
Perundingan Indonesia-EU CEPA (IEU-CEPA)Awalnya perundingan seluruh Working Groups (WGs) IEU-CEPA diagendakan untuk diselenggarakan pada 5-9 Juli 2021 secara virtual, namun karena ada PPKM Darurat karena situasi Covid-19 yang meningkat, maka perundingan tersebut ditunda untuk diselenggarakan pada sekitar bulan September 2021.2. Pertemuan Konsultasi BIT/P4M RI-SwissPerundingan BIT/P4M RI-Swiss telah dilaksanakan 2 (dua) kali pada TW II ini, yakni pada 26-29 April 2021 dan 4 Juni 2021. Dalam 2 perundingan tersebut, kedua pihak telah mengalami kemajuan signifikan untuk membahas substansi pending issues.
Secara umum, hingga perundingan saat ini, telah diselesaikan minimal 33 pasal dari sekitar 46 pasal dalam draft teks perundingan. Di samping itu, beberapa pasal yang belum disepakati pun, sebagian besar ayat/paragrafnya sudah disepakati. Perhitungan realisasi kedua perjanjian tersebut sebagai berikut:1. Mengacu pada titik awal pada Triwulan I, maka perundingan IEU-CEPA tidak mengalami kemajuan karena perundingan diundur untuk diselenggarakan pada waktu yang akan datang. Dengan demikian, perhitungannya tidak beranjak dari perhitungan pada Triwulan I, yaitu capaian titik realisasi 140 dari 165 titik targetnya (sesuai mistar perjanjian titik target 165 berarti perundingan lanjutan).140-125/165-125 = 15/402. Perundingan P4M RI-Swiss dengan titik awal 165 (sesuai mistar perjanjian titik awal ini berarti tahapan perundingan final), dinilai telah mencapai 184 (yang berarti karena pertemuan konsultatif kali ini hanya mendiskusikan sedikit isu saja) dari 195 titik targetnya (195 berarti penandatanganan perjanjian). 184-165/195-165 = 19/30Berdasarkan formulasi perhitungan, maka Total Titik Realisasi-Titik Awal / Total Titik Target - Titik Awal x 100% x 50 % (Triwulan II) = 15+19 / 40+30 x 50% 100% = 34/70 x 50%
x 100%
Perbedaan posisi yang tajam antara Indonesia dengan negara mitra perunding pada tahapan negosiasi legal scrubbing menjadi tantangan namun bukan kendala yang berarti, karena semakin banyak negara perunding menyadari pentingnya win-win solution serta memahmi adanya target
penandatanganan perjanjian pada akhir 2020. Sementara itu, posisi antara beberapa K/L terkait Pemri terlihat solid sehingga memperkuat posisi nasional dan daya tawar Pemri dalam perundingan. Meski terdapat masalah Covid-19, seluruh kegiatan pada Triwulan II ini, seperti Triwulan sebelumnya,
dilaksanakan dengan cara daring, sehingga terkadang terdapat kendala teknis (komunikasi melalui jaringan), namun tidak sampai mengganggu jalannya perundingan.
Dit. Hukum dan Perjanjian Ekonomi senantiasa
melakukan
koordinasi yang lebih intensif dengan seluruh satker
Kemenlu dan
berbagai K/L terkait untuk menyelesaikan berbagai perbedaan posisi antar/K/L dan mencapai posisi nasional yang solid dalam menghadapi perundingan dengan negara/mitra perunding.
66 Laporan Kinerja (LKj)
Direktorat Hukum dan Perjanjian Ekonomi Tahun 2021
B1.2
Persentase Pendapat Hukum di bidang ekonomi yang diterima sebagai posisi Indonesia dalam forum Internasional
100 10 0
10 0
10 0
100 100 Pada Triwulan II, Dit. Hukum dan Ekonomi telah menyampaikan sedikitnya 5 pendapat hukum yang diterima sebagai posisi Indonesia, yang disampaikan dalam berbagai forum/pertemuan internasional (bilateral/regional/multilateral) yang membahas perjanjian di bidang ekonomi, yang mencakup a.l. perdagangan, investasi, keuangan, perpajakan, energi dan sumber daya alam, dan lingkungan hidup. Forum/pertemuan internasional umumnya tetap berlangsung meski dilaksanakan secara online mengingat situasi Covid-19 yang masih belum reda di TW II 2021 ini.
Kegiatan/pertemuan internasional tetap berlangsung. Secara umum situasi pandemi Covid-19 tidak memberikan dampak atau kendala yang berarti bagi partisipasi
Delri pada
kegiatan/pertemuan internasional, mengingat secara umum pertemuan internasional
diselenggarakan secara daring (online).
Kendala teknis masih ditemui dalam kelancaran tugas seiring dengan gangguan
jaringan/koneksi internet namun tidak mengganggu keseluruhan jalannya partisipasi Delri pada berbagai pertemuan internasional. Demikian pula dalam pemberian masukan/pendapat hukum bagi posisi Indonesia dalam rangka partisipasi Delri dimaksud.
Mengingat umumnya pertemuan
internasional diselenggarakan secara hybrid atau daring, maka Dit.
Hukum dan
Perjanjian Ekonomi terus meningkatkan upaya
pendekatan/lobi dan pemberian
kesadaran kepada K/L atau pemangku kepentingan terkait dalam rangka menyusun posisi Indonesia yang solid dan aman terutama secara politis dan yuridis sesuai UU Perjanjian
Internasional jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan kegiatan/pertemuan internasional.
Tata Kelola Organisasi yang baik di Direktorat Hukum dan Perjanjian Ekonomi
L1.1 Nilai Evaluasi AKIP di Direktorat Hukum dan Perjanjian Ekonomi
78 - - - 78 -
No
Tujuan(T) / Sasaran Strategis (SS)
Indikator Kinerja Utama (IKU)
Target Tahunan
Target
Penanggung Jawab
s.d TW III T
W I
T W
II T W III
TW
IV Formulasi Realisasi Narasi Realisasi Kinerja Faktor Penghambat /
Kendala
Percepatan / Langkah Perbaikan / Proyeksi Kedepan
67 Laporan Kinerja (LKj)
Direktorat Hukum dan Perjanjian Ekonomi Tahun 2021
Penyelesaia n Hukum dan Perjanjian Internasiona l di Bidang Ekonomi
S1.1
Persentase Kemajuan Hukum dan Perjanjian Internasional di Bidang Ekonomi yang diselesaikan
100 25 50 75 100 73.91 Pada Triwulan III, Direktorat Hukum dan Perjanjian Ekonomi telah menyelesaikan berbagai tahapan proses pengesahan/ratifikasi atas beberapa perjanjian FTA/CEPA, BIT/P4M maupun PTA yang sebelumya telah disepakati/ditandatangani oleh Indonesia dan negara mitra, termasuk di dalamnya terus memonitor implementasi dari perjanjian-perjanjian dimaksud.
Beberapa perjanjian tersebut antara lain: ASEAN-Hong Kong FTA, ASEAN-Hong Kong Investment Agreement, Indonesia-Australia CEPA, BIT RI-Singapura, BIT RI - PEA, RCEP, dan Indonesia-Korea CEPA (IK-CEPA).
Sebagai contoh, point of departure pada pada TW III ini adalah bahwa ASEAN-Hong Kong FTA dan ASEAN-Hong Kong Investment Agreement telah berlaku. Terkait BIT/P4M RI-Singapura, setelah Menlu kedua negara melakukan exchange of IOR pengesahannya , maka BIT tersebut sudah berlaku dan sudah dilakukan pertemuan awal WGI kedua negara membahas implementasi dan kerja sama investasi. Perihal BIT RI-PEA, Indonesia dan PEA telah meratifikasinya masing-masing pada 19 Februari 2021 dan 20 April 2021, sehingga pemberlakuannya menunggu exchange of IOR kedua negara sesuai ketentuan pemberlakuan yang diatur di dalam BIT tersebut. Sementara itu, terhadap RCEP yang ditandatangani 15 November 2020 dan IK-CEPA yang ditandatangani tanggal 18 Desember 2020, Indonesia juga harus masih dalam proses penyelesaian/ratifikasi pada tingkat domestik.Seperti yang telah dijelaskan pada TW I dan TW II 2021, ASEAN-Hong Kong FTA dan ASEAN-Hong Kong Investment Agreement sama-sama memiliki titik awal 235, BIT RI-Singapura memiliki titik awal 235, Indonesia-Australia CEPA memiliki titik awal 240, BIT RI-PEA memiliki titik awal 230, RCEP dan IK-CEPA sama-sama memiliki titik awal 195. Dengan memperhatikan perkembangan penyelesaian (pengesahan) perjanjian, maka perhitungannya sebagai berikut:ASEAN-Hong Kong FTA: 244-235/245-235:
9/10ASEAN-Hong Kong Investment Agreement: 244-235/245-235: 9/10BIT RI-Singapore: 244-230/245-230:
14/15Indonesia-Australia CEPA: 244-240/245-240: 4/5BIT RI-PEA: 239-230/245-230: 9/15RCEP: 215-195/225-195:
20/30IK-CEPA: 215-195/225-195: 20/30maka total titik realisasi - titik awal dari kelima perjanjian tersebut:
85 maka total titik target - titik awal dari keempat perjanjian tersebut: 115Sehingga 85/115 x 75% x 100%
(Triwulan III).
Situasi pandemi Covid-19 tidak lagi menjadi hambatan yang berarti bagi Kemenlu cq Dit.
HPE untuk
menyelesaikan proses pengesahan/ratifikasi perjanjian karena koordinasi dan proses pengesahan tetap dapat dilakukan di kantor maupun secara daring (dari rumah/work from home).
Dit. Hukum dan Perjanjian Ekonomi senantiasa terus melakukan upaya koordinasi secara lebih intensif dengan berbagai K/L untuk mempercepat penyelesaian/penges ahan perjanjian internasional, termasuk untuk mencari jalan keluar bagi berbagai isu pending baik dalam pengesahan maupun implementasi suatu perjanjian
internasional yang telah ditandatangani oleh Indonesia.
Kualitas pelayanan pembentuka n dan penyempur naan norma hukum dan perjanjian
C1.1
Persentase Pendapat Hukum dan Perjanjian Internasional di bidang Ekonomi dalam
100 10 0
10 0
10 0
100 100 Pada Triwulan III 2021, Dit. Hukum dan Perjanjian Ekonomi paling sedikitnya telah menyampaikan pendapat hukum berdasarkan permintaan yang berasal dari K/L atau pemangku kepentingan lainnya (seperti Perwakilan RI) sebanyak 31 permintaan masukan/pendapat hukum.
Kendatipun masih dalam situasi Covid-19, tidak terdapat hambatan yang berarti dalam pemberian pendapat/masukan
hukum kepada
stakeholders terkait.
Meski masih dalam situasi masalah Covid-19, Dit. Hukum dan Perjanjian Ekonomi senantiasa peningkatan upaya koordinasinya dengan satkers