• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

C. Interpretasi Hasil Analisis

1. Tindakan Pembelajaran Siklus I a. Tahap Perencanaan

Pembelajaran pada siklus I ini terdiri dari 3 kali pertemuan dengan durasi 2 x 40 menit, menggunakan pembelajaran Metode Jigsaw Materi pembelajaran pada siklus ini adalah mengenai standar kompetensi mengenal sistem pemerintahan tingkat pusat. Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah peneliti menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), lembar observasi untuk setiap pertemuan, dan membuat alat evaluasi berupa soal untuk masing-masing siswa.

b. Tahap Pelaksanaan 1) Pertemuan Pertama

Pada pertemuan pertama dilakukan pada hari selasa tanggal 11 maret 2013. Pertemuan berlangsung dalam durasi 2 x 40 menit. Dengan jumlah siswa yang hadir 32 siswa. Peneliti bertindak sebagai guru Mata Pelajaran PKN dan guru kolaborator bertugas mengisi lembar observasi dan mengamati siswa di dalam kelas. Peneliti yang bertindak sebagai guru terlebih dahulu menjelaskan tujuan pembelajaran kemudian guru memberikan soal pre test kepada siswa yang harus mereka kerjakan sebelum penjelasan materi dimulai, ini bertujuan agar mengetahui kemampuan atau pengetahuan siswa sebelum proses pembelajaran. Setelah itu peneliti menjelaskan materi pelajaran tentang mengenal sistem pemerintahan tingkat pusat menggunakan Model Pembelajaran aktif dengan Metode Jigsaw. Kegiatan berikutnya peneliti

memberikan penjelasan kepada siswa bahwa pembelajaran yang akan mereka ikuti dalam 3 hari ke depan adalah merupakan tugas akhir yang harus dilaksanakan oleh peneliti, hal ini dilakukan agar siswa tidak bingung ketika mereka harus mengulangi lagi materi yang telah disampaikan oleh guru bidang studi, selain mengutarakan hal tersebut, guru juga mengemukakan kompetensi dasar yang harus dicapai oleh siswa dalam pembelajaran yang akan dilaksanakan.Pada pertemuan awal siklus pertama ini siswa mulai dibentuk menjadi 5 kelompok, semua kelompok terdiri dari 6 anak, kecuali 2 kelompok yang terdiri dari 7 anak, pembagian ini berdasarkan jumlah siswa dan jumlah tema atau bahasan yang akan mereka diskusikan, jumlah siswa yaitu 32 anak sedangkan jumlah tema atau bahasan yaitu 5 tema. Para siswa duduk secara melingkar dengan kelompok mereka masing-masing,pengaturan tempat duduk semacam itu untuk memberikan kesan berbeda dengan hari-hari biasa serta memudahkan mereka untuk berdiskusi dan tidak terganggu oleh kelompok lain. Kondisi kelas ketika pembagian kelompok agak sedikit gaduh karena para siswa masih kebingungan mencari anggot amereka masing-masing, meskipun begitu suasana kelas masih dalam kendali guru dan hal tersebut tidak sedikitpun mengurangi semangat siswa dalam belajar.

Setelah pembagian kelompok selesai dan seluruh siswa telah duduk dalam kelompok mereka masing-masing, guru mulai membagikan bahan bacaan kepada seluruh siswa, setelah itu guru memberikan intruksi kepada siswa untuk membaca dan memahami ringkasan tersebut, dan setelah itu mereka harus membuat 1-2 pertanyaan yang berhubungan dengan materi hari ini. Ketika mereka disuruh untuk membuat pertanyaan sebagian siswa mulai sedikit kebingungan karena mereka tidak pernah membuat pertanyaan sebelumnya, akan tetapi untuk sebagian yang lain merasa bahwa membuat pertanyaan bukanlah sesuatu yang sulit,

setelah semua selesai membuat pertanyaan, kemudian pertanyaan tersebut dilipat dan dimasukkan kedalam kotak yang telah disediakan oleh guru.

Kemudian setelah sesion membuat pertanyaan selesai (siswa masih duduk berkelompok seperti semula) guru mulai membagikan bahan diskusi sesuai dengan tema kelompok masing-masing, untuk kelompok 1 yang akan dibahas yaitu lembaga legislatif, untuk kelompok 2 yaitu lembaga eksekutif, untuk kelompok 3 yaitu lembaga yudikatif, untuk kelompok 4 yaitu BPK dan KPU, dan untuk kelompok 5 yaitu menteri dan pejabat setingkat menteri, guru memberikan intruksi kepada siswa untuk mendiskusikan tema-tema mereka masing-masing serta menjelaskan kepada mereka bahwa setelah mereka selesai diskusi, mereka harus menyampaikan kepada kelompok lain apa yang telah mereka dapatkan ketika berdiskusi dengan kelompok awal. Kegiatan diskusi berlangsung dengan berbagai macam kendala, diantaranya masih banyak siswa yang belum mengerti bagaimana cara melakukan diskusi, hal ini disebabkan karena mereka tidak pernah melakukan diskusi sebelumnya, oleh karena itu guru memberikan sedikit pengarahan kepada mereka, beberapa kelompok melaksanakan diskusi dengan baik, yaitu kelompok 3, 4, dan 5, sedangkan untuk kelompok 1 dan 2 masih memerlukan bimbingan guru.

Setelah diskusi dengan kelompok awal selesai, guru mulai mengacak kembali kelompok tersebut menjadi kelompok ahli, dalam pembagian kelompok ahli ini, siswa dapat mengkondisikan diri, mereka tidak lagi bingung dan membuat gaduh saat pembagian berlangsung, mereka lebih memilih mendengarkan dengan seksama nama-nama mereka dipanggil secara bergantian, dan berpindah tempat dengan tenang tanpa banyak bicara dan bertanya, pada pembagian kelompok ahli ini

siswa mulai dapat mengikuti dengan baik arah pembelajaran. Setelah pembagian kelompok ahli selesai, guru memastikan bahwa tiap-tiap kelompok terdiri dari 6 anak utusan dari tema yang berbeda-beda, kemudian guru memberikan sedikit penjelasan bahwa mereka harus saling bertukar pengetahuan/informasi yang telah mereka dapatkan dalam kelompok awal. Guru mengatur jadwal presentasi para siswa, misalkan siswa dari kelompok legislatif (1) mendapatkan jatah presentasi pertama, presentasi ini berlangsung serempak untuk semua kelompok, begitu seterusnya sampai semua tema dipresentasikan. Setelah presentasi selesai, guru mengajak siswa untuk membahas pertanyaan yang telah mereka kumpulkan diawal kegiatan, caranya yaitu setiap kelompok harus mengirimkan 1 anggotanya untuk mengambil pertanyaan dalam kotak, kemudian guru akan menunjuk secara acak kelompok mana yang harus menjawab pertanyaan terlebih dahulu, sebagian besar pertanyaan yang mereka ambil dapat dijawab dengan baik, meskipun masih ada beberapa jawaban yang kurang sempurna, selain itu ada juga beberapa siswa yang mendapat pertanyaan yang lucu-lucu dan tidak sedikit pula yang tidak bisa dibaca dan dipahami, jika siswa mendapat pertanyaan yang tidak dapat dipahami, maka mereka harus mengambil lagi pertanyaan dalam kotak.

Pada akhir pertemuan guru memberikan klarifikasi terkait dengan jawaban dari siswa, guru juga menyuruh siswa untuk tetap duduk secara kelompok berdasarkan kelompok ahli, kemudian guru menyuruh siswa untuk belajar di rumah karena minggu depan akan diadakan ulangan harian untuk mengetahui hasil belajar siswa dengan menggunakan metode ini.

Pada siklus ini peneliti melihat siswa sangat antusias mengikuti proses pembelajaran pada Mata Pelajaran PKN dan bisa dibilang semua anak ikut berperan aktif dalam proses pembelajaran

dengan menggunakan model pembelajaran Metode Jigsaw. Walaupun pada pertemuan pertama ini proses pembelajaran dengan menggunakan Metode Jigsaw belum terselesaikan, maka proses pembelajaran dilanjutkan pada pertemuan kedua.

2) Pertemuan Kedua

Guru melanjutkan materi yang belum terselesaikan pada pertemuan pertama. Setelah materi selesai, guru mereview materi yang telah diajarkan sebelumnya bersama dengan siswa dan membuat keseimpulan bersama. Selanjutnya, guru menyampaikan tujuan pembelajaran berikutnya. Siswa sangat antusias dalam mengikuti pelajaran PKN ini.

3) Pertemuan Ketiga

Pada pertemuan ini guru memberikan tes hasil belajar atau

Post Test pada akhir siklus I kepada siswa. Materi tes yaitu

meliputi materi pelajaran yang sudah dipelajari pada temuan sebelumnya. Tes ini dilakukan untuk mengetahui hasil belajar siswa berdasarkan tindakan yang telah diberikan dan untuk mengetahui keberhasilan metode yang digunakan dalam proses pembelajaran.

c. Tahapan Pengamatan

Pada pelaksanaan proses pembelajaran siklus I, masih terdapat beberapa kekurangan dalam setiap pertemuan. Beberap kejadian yang terjadi pada proses pembelajaran antara lain :

Pada pertemuan pertama siklus pertama ini siswa masih terlihat bingung, kelas belum kondusif, siswa masih bingung dengan materi yang lalu, padahal pada pertemuan pertama ini guru harus sudah menerapkan metode jigsaw, meskipun demikian pembelajaran harus tetap berjalan, jadi dalam hal ini guru memberikan penjelasan kepada siswa mengenai jalannya pembelajaran pada hari ini, berdasarkan pengamatan penulis pada pertemuan pertama ini masih banyak hal yang masih perlu diperbaiki dan ditingkatkan, misalnya suara guru

harus bisa lebih keras daripada suara gaduh anak-anak, selain itu interaksi antara guru dan siswa juga harus ditingkatkan, meskipun masih banyak gangguan dan hambatan secara garis besar pembelajaran pada pertemuan pertama berlangsung dengan lancar. d. Tahap Refleksi

Hasil analisis dan evaluasi pada siklus I mendeskripsikan secara geris besar kekurangan yang ada pda siklus I antara lain :

Pada pertemuan pertama siklus pertama ini, masih terdapat beberapa kendala, meskipun demikian hal tersebut tidak mengganggu jalannya proses pembelajaran, waktu pertemuan juga telah sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Adapun hal-hal yang menjadi kendala dalam pelaksanaan antara lain:

1. Siswa masih kesulitan ketika membuat pertanyaan, hal ini disebabkan karena siswa jarang dan hampir tidak pernah mengajukan pertanyaan kepada guru, mereka tidak pernah bertanya jika ada hal yeng tidak mereka pahami, hal ini membuat siswa kesulitan dalam membuat pertanyaan

2. Ketika pembagian kelompok awal siswa juga sulit untuk dikondisikan, mereka masih bingung dengan cara belajar yang akan mereka lakukan, selain itu mereka juga masih memilih-milih teman sekelompok, oleh karena itu mereka masih membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan kelompok masing-masing.

3. Siswa belum pernah melaksanakan diskusi sebelumnya, jadi ketika merekadisuruh untuk berdiskusi, mereka masih sangat kebingungan, masih ada 2 kelompok yang belum dapat berdiskusi dengan baik.

Kendala-kendala diatas masih dapat diatasi oleh guru, sehingga tidak mengganggu jalannya pembelajaran, selain kendala juga terdapat beberapa pencapaian yang diperoleh siswa antara lain:

2. Kompetensi dasar dapat dicapai dengan baik

3. Sebagian besar siswa mulai bisa membuat pertanyaan.

4. Siswa yang tadinya pendiam mulai berani mengemukakan pendapat

5. Kegiatan pembelajaran tidak hanya didominasi oleh anak-anak yang Biasanya pintar

6. Semua siswa aktif dalam pembelajaran Tabel 4.2

Tes Hasil Belajar Siklus I

No Responden Siklus I N-Gain Kategori Pre Test Post Test

1 Abdul fatah 70 80 0.33 Sedang

2 Ajeng. Azkiya 60 90 0.75 Tinggi

3 Alfina safila . 60 80 0.50 Sedang

4 Devita rohayati 50 70 0.40 Sedang

5 Diah nurmalia 60 80 0.50 Sedang

6 Johan kurniawan . 40 70 0.50 Sedang

7 Farhatunnisa 20 70 0.62 Sedang

8 Ferdiansyah 70 80 0.33 Sedang

9 Handi saputra 30 90 0.85 Tinggi

10 Iksanudin 30 70 0.57 Sedang

11 Ilmi safitri 60 70 0.25 Rendah

12 Lulu qolbiatu s. 60 70 0.25 Rendah

13 Lutfiah zaitun 30 70 0.57 Sedang

14 Lutfiatunisa 70 100 1.00 Tinggi

15 Muhamad reza 40 70 0.50 Sedang

16 Nurul afidah 70 80 0.33 Sedang

17 Pingkan sodriatul. 30 80 0.71 Tinggi

18 Raihan akbar 60 80 0.50 Sedang

20 Sandi saputra 60 90 0.75 Tinggi

21 Syarif nurahman 50 90 0.80 Tinggi

22 Syafaudin 40 80 0.66 Sedang

23 Tia warda. 40 60 0.33 Sedang

24 Wafa 70 80 0.33 Sedang

25 Ahmad Rifqi 60 70 0.25 Rendah

26 Ayu Fitriani 50 90 0.80 Tinggi

27 Reza Ramdhani 60 80 0.50 Sedang

28 Riana Ahmadiah 50 80 0.60 Sedang

29 Satianu Nisa 80 90 0.50 Sedang

30 Syahru Syahbana 40 70 0.50 Sedang

31 Siti Rahma. 70 100 1.00 Tinggi

32 Tria S.Mausuli 60 80 0.50 Sedang

Terkecil 20 60

Terbesar 80 100

Jumlah 1680 2520 17.31

Sedang Nilai Rata-rata 52.5 78.75 0.54

Dari tabel di atas, dapat dilihat nilai paling rendah yang diperoleh siswa pada saat Pre Test adalah 20. Sedangkan nilai terendah yang diperoleh siswa pada saat Post Test sebesar 60. Nilai tertinggi pada Pre Test adalah 80, sedangkan nilai tertinggi pada skor Post Test sebesar 100. Dari tabel tersebut bisa kita lihat sebagian besar siswa hasil belajarnya meningkat, walaupun ada beberapa siswa yang belum mencapai KKM.

Untuk hasil belajar siklus I diperoleh rata-rata N-Gain 0,54 kategori sedang, ini berarti kemampuan siswa dengan menerapkan pembelajaran aktif Metode Jigsaw yang digunakan belum efektif dalam meningkatkan hasil belajar. Dengan demikian indikator keberhasilan penelitian ini belum mencapai standar. Untuk itu peneliti melanjutkan ke siklus II mencoba memperbaiki dan menyempurnakan dari kekurangan yang terdapat di siklus I. untuk itu perlu

adanya perbaikan-perbaikan dari kekurangan yang terdapat pada siklus I untuk kegiatan di siklus II dan seterusnya. Dengan adanya perbaikan, diharapkan proses pembelajaran aktif Metode Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar. Keputusan dari siklus I, yaitu :

Secara keseluruhan kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan pembelajaran aktif Metode Jigsaw sudah baik, hanya saja kurang optimal. Dalam hal ini Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) masih belum optimal, siswa masih berpartisipasi dalam KBM. Untuk memperoleh hasil yang baik maka dilakukan perbaikan. Perbaikan yang dapat dilakukan antara lain :

1. Guru lebih mengintensifkan kegiatan di kelas sehingga diharapkan tidak ada lagi siswa sibuk dengan aktifitasnya sendiri saat jam pembelajaran berlangsung.

2. Guru lebih memotivasi siswa untuk berani dan aktif di kelas baik dapat bertanya, berpendapat atau memberikan saran serta siswa berani menjawab soal yang diberikan oleh guru tanpa rasa takut akan salah menjawab.

3. Guru dapat memberi arahan atau rangsangan sehingga siswa dapat terangsang atau tertarik dalam mengikuti kegiatan belajar di dalam kelas.

2. Tindakan Pembelajaran Siklus II

Untuk memperbaiki kekurangan pada siklus I maka dilakukan tindakan pembelajaran pada siklus II. Tindakan pada siklus II ini untuk memperbaiki dan meyermpurnakan tindakan yang sudah dilakukan pada siklus I. siklus II ini dilakukan sebanyak tiga kali pertemuan.

a. Tahap Perencanaan

Tahap perencanaan untuk siklus II didasarkan pada hasil refleksi dari tindakan yang dilakukan pada siklus I. adapun perencanaan yang dilakukan pada siklus II berupa penyusunan rencana pembelajaran untuk materi ajar yang akan dibahas pada siklus II dan penyusunan tes hasil belajar.

b. Tahapan Pelaksanaan

Tahap dalam pelaksanaan tindakan pada siklus II sebenanrnya sama saja pada tahap pelaksanaan tindakan pada siklus I, hanya saja materi yang berbeda. Pada pertemuan ini siswa terlihat sangat antusias dalam mengikuti proses pembelajaran. Siswa pun sangat aktif dalam mengikuti proses pembelajaran dengan menggunakan Metode Jigsaw. Terutama pada saat anak-anak sedang mencari dan menemukan jawaban-jawaban serta dalam menjawab soal dari pertanyaan yang dibacakan oleh masing-masing kelompok.. Namun, dalam siklus II ini sudah terlihat perbaikan-perbaikan dari siklus I.

c. Tahap Pengamatan

Proses pembelajaran pada siklus II mengalami peningkatan dibandingkan dengan siklus I. kondisi ini dapat diamati berdasarkan hasil observasi pada saat pembelajaran. Beberapa peningkatan tersebut antara lain :

1) Suasana kelas lebih tertib, siswa menjadi lebih terkendali dan lebih berkonsentrasi dalam proses pembelajaran dengan pembelajaran aktif Metode Jigsaw.

2) Siswa dapat menyelesaikan waktu yang diberikan oleh guru dalam mencari jawaban dan soal.

3) Alokasi waktu pada proses pembelajaran lebih optimal sesuai dengan rencana yang sudah diterapkan sebelumnya.

4) Terjadinya peningkatan hasil belajar dapat dilihat nilai rata-rata N-Gain hasil belajar siswa pada siklus I sebesar 0,54 menjadi 0.68 pada siklus II

Tabel 4.3 Tes Hasil Siklus II

No Responden Siklus I N-Gain Kategori Pre Test Post Test

1 Abdul fatah 50 80 0.60 Sedang

2 Ajeng. Azkiya 20 80 0.75 Tinggi

3 Alfina safila . 60 100 1.00 Tinggi

4 Devita rohayati 30 80 0.71 Tinggi

5 Diah nurmalia 60 70 0.25 Rendah

6 Johan kurniawan . 30 70 0.57 Sedang

7 Farhatunnisa 40 70 0.50 Sedang

8 Ferdiansyah 60 80 0.50 Sedang

9 Handi saputra 30 80 0.71 Tinggi

10 Iksanudin 60 80 0.50 Sedang

11 Ilmi safitri 60 80 0.50 Sedang

12 Lulu qolbiatu s. 50 80 0.60 Sedang

13 Lutfiah zaitun 60 80 0.50 Sedang

14 Lutfiatunisa 70 100 1.00 Tinggi

15 Muhamad reza 60 80 0.50 Sedang

16 Nurul afidah 50 90 0.80 Tinggi

17 Pingkan sodriatul. 40 80 0.66 Sedang

18 Raihan akbar 30 80 0.71 Tinggi

19 Rafadila akbar 70 100 1.00 Tinggi

20 Sandi saputra 60 90 0.75 Tinggi

21 Syarif nurahman 70 100 1.00 Tinggi

22 Syafaudin 40 90 0.83 Tinggi

23 Tia warda. 50 70 0.40 Sedang

24 Wafa 70 80 0.33 Sedang

26 Ayu Fitriani 40 80 0.50 Sedang

27 Reza Ramdhani 20 80 0.75 Tinggi

28 Riana Ahmadiah 40 70 0.50 Sedang

29 Syahru Syahbana 80 100 1.00 Tinggi

30 Siti Rahma. 50 80 0.60 Sedang

31 Tia Afita 40 90 0.83 Tinggi

32 Tria S.Mausuli 70 100 0.66 Sedang

Terkecil 20 80

Terbesar 80 100

Jumlah 1610 2680 21.92

Sedang Nilai Rata-rata 50.31 83.75 0.68

Dari tabel di atas, dapat dilihat nilai paling rendah yang diperoleh siswa pada saat Pre Test adalah 20, sedangkan nilai terendah pada saat Post

Test 70. Nilai tertinggi pada skor Pre Test adalah 80, sedangkan nilai

tertinggi pada skor Post Test sebesar 100. Dari tabel di atas tersebut bisa kita lihat semua siswa hasil belajarnya meningkat.

Untuk hasil belajar siklus II diperoleh rata-rata 0,68. Nilai tersebut menunjukkan kemampuan siswa dengan menerapkan pembelajaran aktif model index card match yang digunakan dapat meningkatkan hasil belajar. Dengan demikian indikator keberhasilan penelitian ini sudah tercapai. d. Tahap Refleksi

Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi data pada siklus II, diperoleh deskripsi bahwa pembelajaran aktif model Index Card Match dapat meningkatkan hasil belajar siswa, hasil belajar yang dicapai siswa telah mencapai indikator yang telah ditetapkan pada awal penelitian dan hal-hal yang perlu diperbaiki pada siklus I suah terjadi penyempurnaan pada siklus II. Seluruh siswa sudah melebihi KKM atau dapat dikatakan keberhasilan mencapai 100%. Dengan demikian, indikator pada penelitian ini sudah tercapai sehingga penelitian ini tidak dilanjutkan pada siklus berikutnya.

Keputusan dari siklus II, yaitu :

Berdasarkan hasil refleksi siklus II diperoleh dari hasil belajar dan aktifitas belajar siswa juga respons siswa yang positif tentang model pembelajaran yang digunakan yaitu pembelajaran aktif Metode Jigsaw, hal ini menunjukkan bahwa pemahaman dan kemampuan psikomotorik siswa dalam memahami materi yang disampaikan sudah mencapai kriteria yang diharapkan. Ini terbukti dengan nilai N-Gain pada Pre Test siklus I sebesar 52,5 meningkat pada Post Test menjadi 78,75 dan nilai N-Gain pada Pre Test siklus II sebesar 50.31 meningkat pada Post Test menjadi 83.75. dengan nilai terendah pada siklus I 60 (di bawah KKM) dan tertinggi 100. Atau dapat dikatakan pada siklus II nilai yang dicapai siswa sudah melebihi KKM sebsar 70. Oleh karena itu tidak perlu dilanjutkan lagi ke tindakan pembelajaran siklus III.

Dokumen terkait