HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Interpretasi Dan Hasil Diskusi
1. Rasa Peduli Yang Tinggi
Kepedulian merupakan salah satu bentuk dari perilaku caring yang dapat diberikan kepada pasien maupun keluarga pasien dalam praktek pelayanan keperawatan. Salah satu contoh kepedulian perawat yaitu dengan memberikan perhatian. Menurut Singgih dkk (2012 dalam Abdul, Saleh, Sjattar 2013) mengatakan bahwa perawatan yang efektif hanya dapat dilakukan oleh seorang perawat yang memberikan minat terhadap orang lain, tanpa menghiraukan umur, jenis kelamin, latar belakang dan status sosial ekonomi.
Dari hasil penelitian, diperoleh keperdulian perawat terhadap pasien yang diutarakan oleh partisipan meliputi sikap yang tulus dan perawat memenuhi kebutuhan pasien secara menyeluruh.
1.1. Sikap Yang Tulus
Sikap dan perilaku caring perawat sangat penting dalam pemberian pelayanan keperawatan. Menurut seluruh partisipan sikap dan perilaku caring perawat meliputi memberikan perhatian dengan tulus dan ikhlas kepada pasien sehingga dapat
memotivasi pasien dalam proses penyembuhan, dan memahami kebutuhan dan kondisi pasien.
Caring merupakan memberikan perhatian kepada pasien dengan sepenuh hati (Potter & Perry, 2009). Artinya perawat harus memberikan perhatian kepada pasien bukan hanya melihat kondisi fisik atau penyakit pasien saja. Selain itu sebagai perawat juga harus menjalankan peran dan funginya dengan baik termasuk dalam hal melakukan tugas-tugas keperawatan. Caring dapat dimaknai sebagai menjaga hubungan dengan orang lain, terhadap yang satu merasa bertanggung jawab pada suatu pekerjaan yang akan dinilai oleh orang lain (Swanson, 1991). Menurut Nurachmah (2001 dalam Hafsyah 2011), dengan caring perawat memberikan komitmen dan pelayanan sebagai pusat perhatian dan inti dari keperawatan sebagai kemampuan memahami sikap dan kebutuhan serta keinginan pasien.
Perawat berperan bukan hanya sebagai pemberi pelayanan asuhan keperawatan kepada pasien untuk mendapatkan kesembuhan penyakit, tetapi juga berperan dalam memenuhi kebutuhan kesehatan klien secara utuh melalui kemampuan teknikal, dukungan emosional, psikologis, spiritual dan sosial. Selain itu, perawat juga memberikan bantuan kepada pasien dan keluarga dalam menentukan tujuan keperawatan. Kegiatan ini adalah salah satu bentuk tanggungjawab perawat (Potter & Perry, 2005)
1.2. Memenuhi Kebutuhan Pasien Secara Menyeluruh
Salah satu fungsi perawat adalah mampu melihat pasien secara kompleks. Artinya perawat harus dapat memenuhi kebutuhan pasien secara menyeluruh termasuk kebutuhan akan proses kesembuhan pasien baik kebutuhan fisik maupun kebutuhan yang lainnya. Hal ini sesuai dengan teori Swanson (1991), dimensi caring yaitu doing for, yang memiliki makna dapat melakukan tindakan kepada pasien dengan mengantisipasi semua kebutuhan, kenyamanan, menjaga privasi dan martabat pasien.
Menurut peneliti, sebagai perawat harus dapat melihat segala kebutuhan pasien dari berbagai aspek biologis, psikologis, sosial, kultural dan spiritual. Sehingga perawat dapat menentukan kebutuhan apa yang sebenarnya diperlukan oleh pasien selain kebutuhan fisik atau pengobatan. Perawat tidak terbatas hanya melakukan asuhan keparawatan berdasarkan kebutuhan fisik pasien saja melainkan dapat memberikan asuhan keperawatan untuk mental dan spiritual pasien juga.
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa partisipan mengatakan bahwa mereka menginginkan perawat memperhatikan dan memenuhi kebutuhan pasien secara menyeluruh guna membantu proses kesembuhan bagi sipasien. Hal ini didukung oleh teori Swanson (1991) pada subdimensi caring yaitu convering availability, dimana hal ini dimaksudkan bahwa perawat menunjukkkan kesediaannya untuk membantu pasien dan memberikan fasilitas kepada pasien untuk mendapatkan kesejahteraan/well being.
2. Penanganan Yang Cepat Tanggap
Perawat dituntut untuk dapat menangani pasien dengan segera terutama di ruangan yang membutuhkan penanganan khusus atau intensive seperti ruang ICU. Perawat dengan pengalaman yang banyak, kemampuan skill yang baik dan memiliki kecekatan dalam bekerja akan dapat memberikan penanganan yang cepat tanggap kepada pasien. Penanganan yang cepat harus diikuti dengan pengetahuan dan kemampuan untuk dapat mengambil keputusan sehingga perawat mampu memberikan asuhan keperawatan yang tepat.
Dari hasil penelitian diperoleh bahwa seluruh partisipan mengemukakan persepsi mereka tentang bagaimana penanganan pesien yang cepat tanggap meliputi menangani pasien dengan cepat dan menangani pasien dengan tepat.
2.1. Menangani Pasien Dengan Cepat
Perawat merupakan pemberi pelayanan keperawatan kepada semua masyarakat tanpa melihat usia, jenis kelamin dan status sosial ekonomi. Untuk itu perawat harus dapat memberikan pelayanan yang terbaik kepada pasien maupun keluarga pasien. Hamid (2001 dalam Rosmawar 2009) mengatakan bahwa untuk mencapai pelayanan yang berkualitas, perawat membutuhkan keterampilan dan kecekatan serta kesiapsiagaan dari perawat dalam menangani pasien, kondisi ini akan membuat seorang perawat akan lebih mudah mengalami stress.
Berdasar hasil penelitian, seluruh partisipan mengutarakan persepsi mereka tentang bagaimana pasien dengan cepat tanggap yaitu perawat menangani keluarga
mereka dengan cepat pada saat pasien datang ke ruang ICU, dan perawat langsung memberikan asuhan keperawatan kepada pasien tanpa harus menunggu lebih lama.
Menurut peneliti, perawat harus meningkat kemampuan sehingga dapat langsung menentukan tindakan yang akan diberikan kepada pasien. Menurut Wilde (2009 dalam Sabriyati, dkk 2012) telah membuktikan secara jelas tentang pentingnya waktu tanggap (response time) bahkan pada pasien selain penderita penyakit jantung. Pasien ataupun keluarga pasien tentu menginginkan pasien untuk diberi tindakan atau ditangggapi kondisinya dengan segera. Sehingga peluang kesembuhan pasien lebih besar, memberikan rasa tenang bagi pasien dan keluarga pasien dan dapat mengurangi beban biaya perawatan pasien di rumah sakit.
2.2. Menangani Pasien Dengan Tepat
Dari hasil penelitian diperoleh bahwa partisipan mengutarakan pendapat mereka tentang bagaimana perawat menangani pasien dengan tepat. Menurut partisipan, perawat melakukan asuhan keperawatan sesuai dengan standar prosedur tindakan yang dibutuhkan oleh pasien dan perawat juga memberikan obat yang harus dikonsumsi pasien sesuai dengan waktu pemberian obat yang sudah dijadwalkan. Perawat memiliki peran yang sangat besar dalam menentukan kualitas pelayanan keperawatan dan citra rumah sakit karena 90% pelayanan kesehatan di rumah sakit diberikan oleh perawat (Huber, 1996 dalam Dewi 2013). Artinya perawat memiliki andil untuk menentukan kualitas dari suatu pelayanan keperawatan. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana sikap perawat saat melayani pasien dan keterampilan dan
kemampuan perawat saat menentukan dan memberikan asuhan keperawatan yang tepat untuk pasien sesuai dengan kondisi penyakit dan kebutuhan pasien.
Menurut peneliti, kemampuan perawat memberikan asuhan keperawatan tepat dapat mencegah terjadinya tindakan negatif seperti kelalaian menjalankan tugas. Seorang perawat wajib memberikan asuhan keperawatan sesuai prosedur atau kebutuhan pasien. Seperti pemberian obat kepada pasien yang harus sesuai dengan resep yang telah diberikan oleh dokter yang menangani dan memperhatikan waktu pemberiannya.
3. Memberikan Dukungan Yang Tulus Kepada Keluarga Pasien
Perilaku caring dapat terlihat pada perawat antara lain, memberi rasa nyaman, perhatian kasih sayang, peduli, pemeliharaan kesehatan, memberi dorongan, empati, minat, cinta, percaya, melindungi, kehadiran, mendukung, memberi sentuhan dan siap membantu serta mengunjungi pasien (Potter & Perry, 2009). Menurut peneliti, perawat bukan hanya mengobati penyakit pasien saja tetapi harus memperhatikan respon emosional pasien maupun keluarga pasien. Dengan demikian perawat akan dapat memberikan dukungan dan motivasi kepada pasien maupun keluarganya terhadap kondisi yang mereka alami.
Berdasarkan hasil penelitian, partisipan mengatakan pendapat mereka tentang bagaimana perawat memberikan dukungan kepada partisipan yang meliputi dukungan moril dan dukungan spiritual. Azizahkh (2010) mendapatkan data adanya peningkatan kejadian stress (elevated levels of distress) yang dialami oleh keluarga
pasien adalah segera setelah pasien berada di ICU (just after the patients admission to the ICU).
3.1. Dukungan Moril
Berdasarkan hasil penelitian, ketujuh partisipan mengatakan bahwa perawat memberikan semangat atau menyemangati pasien dan keluarga pasien dan meminta keluarga pasien untuk tidak patah semangat dalam menghadapi situasi mereka. Hal imi sesuai dengan tiga kebutuhan dasar yang diperlukan oleh keluarga pasien (Three Basic Need Of The Family), dimana salah satu poinnya adalah kebutuhan akan adanya jaminan tentang adanya dukungan (the need for reassurance/support) (Azizahkh, 2010). Artinya keluarga pasien memerlukan sumber dukungan lain seperti motivasi dan dukungan semangat dari orang lain (perawat) untuk mengurangi beban fisik maupun mental yang mereka rasakan.
Dalam subdimensi caring Swanson, yaitu being with dimaknai bahwa perawat bukan hanya sekedar hadir secara menyeluruh tetapi juga berkomunikasi. Hal ini yang bertujuan untuk berbagi rasa yang dialami oleh pasien maupun keluarga pasien dan secara emosional memberikan dukungan dan kenyamanan serta memantau pasien baik secara fisik maupun emosional (Swanson, 1991). Artinya, perawat bukan datang kesisi pasien hanya untuk mengobati fisik pasien, tetapi juga berbicara kepada pasien dan memberikan semangat kepada pasien dan keluarga agar dapat melalui masa sulit mereka. Dengan demikian perawat dapat mengurangi tekanan/stress yang dialami pasien dan keluarga.
Dengan menerapkan subdimensi caring yaitu sharing feeling yaitu dengan melakukan kontak mata, bahasa tubuh, nada suara, mendengarkan serta memiliki sikap positif dan bersemangat yang dilakukan perawat dapat membentuk suasana keterbukaan dan saling mengerti antara perawat dan pasien maupun keluarga pasien (Swanson, 1991).
3.2. Dukungan Spiritual
Menurut Watson (2004 dalam Juliani 2009), menyatakan caring adalah esensi dari keperawatan dan merupakan fokus serta sentral dari praktik keperawatan yang dilandaskan pada nilai-nilai kebaikan, perhatian, kasih terhadap diri sendiri dan orang lain serta menghormati keyakinan spiritual klien. Artinya perawat tidak dapat mengesampingkan aspek spiritual dalam praktek pelayanan keperawatan dan harus berusaha memenuhi kebutuhan spiritual pasien.
Perawat perlu memahami pasien dan keluarga pasien dari segala aspek, termasuk saat memberikan dukungan ataupun motivasi kepada pasien dan keluarga pasien. Dukungan yang diberikan perawat tidak terbatas pada dukungan moril saja tetapi juga dukungan spiritual yang sesuai dengan keyakinan yang dianut oleh pasien dan keluarganya.
Dalam subdimensi caring Swanson, maintaining belief, dapat diartikan adanya kepercayaan dan keyakinan seseorang selama melalui proses kehidupan dan saat masa transisi dalam hidupnya untuk menghadapi permasalahan dalam hidupnya termasuk penyakit yang dialami pasien (Swanson, 1991). Hal ini dapat
menumbuhkan sikap optimisme dan pasien mampu mengambil hikmah terhadap apa yang terjadi adalah kehendak YME dan dapat menjadikan pasien dan keluarga lebih dekat kepada sang Pencipta. Memelihara dan mempertahankan keyakinan nilai hidup seseorang merupakan bagian dari caring dalam praktek keperawatan (Swanson, 1991).
Berdasarkan hasil penelitian, partisipan mengutarakan bagaimana perawat memberikan dukungan spiritual kepada mereka yang dapat disimpulkan bahwa perawat mengingatkan dan meminta keluarga pasien untuk tidak lupa berdoa dan meminta kepada Tuhan Yang Maha Kuasa untuk memberikan kesembuhan kepada pasien. Pemenuhan kebutuhan spiritual dilakukan dengan memotivasi pasien untuk melakukan ibadah, membimbing pasien dan keluarganya untuk menerima sakitnya dengan perasaan sabar, menyarankan pasien dan keluarganya untuk berdoa agar lekas sembuh (Praptianingsih, 2007 dalam mulyatina 2012)
4. Berbicara Dengan Lemah Lembut Kepada Pasien Dan Keluarga Pasien
Komunikasi merupakan kegiatan kehidupan manusia yang dengan cara ini membentuk kegiatan bersama dengan lainnya dimana-mana yang mempunyai predikat zoon politicon (makhluk yang selalu hidup bersama) (Khomaruddin, dkk, 2000 dalam Sholilah 2011). Pasien memiliki hak untuk mendapatkan pelayanan yang disertai dengan keramahtamahan petugas kesehatan salah satunya perawat. Perawat mempunyai peranan yang sangat besar, baik dilihat dari interaksinya dengan pasien
dan keluarganya maupun dilihat dari keterlibatan pelayanan secara langsung kepada pasien
Seorang perawat ketika memberikan pelayanan kepada pasiennya disamping melalui diagnosa obat yang disarankan oleh dokter, perawat juga melakukan pendekatan-pendekatan yang mendukung proses kesembuhan penyakit pasien secara pribadi dengan melakukan komunikasi secara pribadi baik secara verbal maupun non verbal (Watik, 1998 dalam Sholilah 2011).
Menurut hasil penelitian, diperoleh bahwa partisipan mengatakan persepsi mereka tentang bagaimana perawat berbicara baik dan sopan kepada keluarga pasien yang meliputi berbicara lembut kepada keluarga pasien dan memberikan penjelasan informasi kesehatan pasien dengan bahasa yang sederhana. Namun dalam melakukan penelitian ini masih terdapat beberapa tema yang belum dapat teridentifikasi oleh peneliti.
4.1. Berbicara Lembut Kepada Pasien dan Keluarga Pasien
Komunikasi merupakan interaksi antar pribadi yang menggunakan sistem simbol linguistik, seperti sistem verbal (kata-kata) dan nonverbal (Nugroho, 2009). Komunikasi sangat penting saat melakukan asuhan keperawatan kepada pasien dan saat berbicara kepada keluarga pasien. Pada dasarnya komunikasi terapeutik merupakan komunikasi professional yang mengarah pada tujuan yaitu penyembuhan pasien (Hardhiyani, 2013)
Komunikasi paling terapeutik berlangsung ketika pasien dan perawat keduanya menunjukkan sikap hormat akan individualitas dan harga diri (Kathleen
2007, dalam Hermawan 2009). Perawat yang terapeutik berarti dalam melakukan interaksi dengan klien atau pasien, interaksinya tersebut memfasilitasi proses penyembuhan. Sedangkan hubungan terapeutik artinya adalah suatu hubungan interaksi yang mempunyai sifat menyembuhkan, dan tentu saja hal ini berbeda dengan hubungan sosial (Nurjannah, 2005 dalam Hardhiyani 2013).
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa partisipan mengatakan perawat berbicara dengan baik dan sopan kepada keluarga pasien baik saat meminta keluarga pasien untuk keluar ruangan maupun saat menjawab pertanyaan yang diajukan oleh keluarga pasien maupun pasien. Menurut peneliti komunikasi teraupetik sangat penting dalam melaksanakan pelayanan keperawatan. Pasien maupun keluarga pasien sangat peka terhadap bagaimana cara perawat berbicara dan hal ini dapat menjadi acuan bagi mereka penerima layanan merasa nyaman ataupun dapat terbuka kepada perawat.
4.2. Menjelaskan Informasi Kesehatan Pasien Dengan Bahasa Yang Sederhana Perawat merupakan tenaga kesehatan yang paling lama berada disisi pasien dan keluarga pasien serta selalu berinteraksi langsung dengan mereka. Perawat bukan saja bertugas memberikan asuhan keperawatan kepada pasien tetapi juga memberikan penjelasan ataupun informasi tentang kondisi pasien kepada keluarga pasien. Keluarga pasien berhak untuk mendapatkan informasi seputar kondisi kesehatan pasien tersebut.
Pasien sangat membutuhkan banyak dukungan dan bantuan dari diri orang lain yang ada disekitarnya, dukungan informasi sangat diperlukan bagi pasien untuk mendapatkan petunjuk dan informasi yang dibutuhkan (Smet, 1994 dalam Hardhiyani 2013). Menurut teori dari Stuart (Perry & Potter, 2005) komunikasi merupakan alat untuk membina hubungan yang terapeutik, karena dalam proses komunikasi terjadi penyampaian informasi, pertukaran perasaan dan pikiran.
Dari hasil penelitian disimpul bahwa partisipan sangat membutuh informasi tentang kondisi pasien ataupun penjelasan seputar tindakan yanga akan dilakukan kepada pasien. Seluruh partisipan mengatakan bahwa mereka membutuhkan informasi bagaimana keadaan pasien, penjelasan dan saran untuk pengobatan pasien serta informasi tentang alat ataupun kebutuhan pasien yang harus mereka lengkapi demi proses kesembuhan pasien. Pernyataan tersebut sesuai dengan tiga kebutuhan dasar keluarga pasien/three basic need of family, dimana salah satu poinnya adalah kebutuhan keluarga pasien akan informasi/the need for information (Azizahkh, 2010).
BAB 5