ANALISIS DAN PEMBAHASAN
D. Interpretasi Hasil Penelitian
1. Pengaruh Umur Perusahaan terhadap Underpricing
Berdasarkan hasil uji statistik t pada tabel 4.14 dapat dilihat nilai probabilitas signifikansi variabel Umur Perusahaan sebesar 0,000 yang lebih kecil dari tingkat signifikansi yang ditentukan sebesar 5% (α = 0,05). Maka dapat dikatakan bahwa Umur Perusahaan memiliki pengaruh terhadap Underpricing.
Koefisien regresi variabel umur perusahaan sebesar -0,011. Koefisien regresi negatif ini menunjukan bahwa semakin kecil umur perusahaan semakin besar tingkat underpricing perusahaan, dimana umur perusahaan merupakan sebuah tolak ukur untuk melihat bagaimana perusahaan dapat bertahan dan bersaing dengan perusahaan lain, dari hasil negatif ini berarti para investor tertarik pada perusahaan yang memiliki umur masih tergolong muda yaitu 1-7 tahun masa perusahaan tersebut, karena dianggap memiliki daya saing dan inovasi baru yang bernilai tinggi sehingga mempengaruhi tingkat underpricing,
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian dari Wahyusari (2013) pada perusahaan yang terdaftar di BEI periode 2007-2011 yang menyatakan bahwa umur perusahaan berpengaruh negatif terhadap underpricing. Akan tetapi hasil penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan Lestari, Hidayat, dan Sulasmiyati (2015), Rosyidah (2014) dan Wirawan (2014) pada perusahaan yang terdaftar di BEI periode 2012-2014 dimana umur perusahaan tidak memiliki pengaruh negatif terhadap underpricing.
2. Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Underpricing
Berdasarkan hasil uji statistik t pada tabel 4.14 dapat dilihat nilai probabilitas signifikansi variabel Ukuran Perusahaan sebesar 0,000 yang lebih
kecil dari tingkat signifikansi yang ditentukan sebesar 5% (α = 0,05). Dapat
dikatakan Ukuran Perusahaan memiliki pengaruh terhadap Underpricing. Koefisien regresi variabel ukuran perusahaan sebesar -0,082. Koefisien regresi negatif ini menunjukan bahwa semakin kecil ukuran perusahaan semakin besar tingkat underpricing perusahaan, dimana ukuran perusahaan menunjukan besarnya sebuah perusahaan dalam melakukan aktivitas perusahaan sehingga mampu bersaing dengan baik dengan perusahaan lain, dari hasil negatif ini berarti para investor melihat perusahaan dengan ukuran perusahaan yang kecil tetapi dapat bersaing dengan perusahaan besar lainya, yang berarti tingkat produktivitas, jasa dan lainya pada perusahaan tersebut memiliki nilai yang bagus meski dengan ukuran perusahaan yang kecil sehingga mempengaruhi nilai underpricing perusahaan tersebut.
Penilitian ini sejalan dengan Hasil penelitian dari Putra dan Damayanti (2013), Kristianti (2013), Retnowati (2013), Hapsari dan Mahfud (2012) dan Sari (2011) menunjukan bukti empiris bahwa ukuran perusahaan berpengaruh negatif terhadap underpricing. Akan tetapi tidak sejalan dengan penilitian Dwijayanti dan Wirakusuma (2015) , Wirawan (2014), Aini (2013) dan Safitri (2013) dimana ukuran perusahaan tidak berpengaruh positif terhadap underpricing.
3. Pengaruh CR terhadap Underpricing
Berdasarkan hasil uji statistik t pada tabel 4.14 dapat dilihat nilai probabilitas signifikansi variabel CR sebesar 0,060 yang lebih besar dari
tingkat signifikansi yang ditentukan sebesar 5% (α = 0,05). Maka dapat
dikatakan bahwa CR tidak memiliki pengaruh terhadap Underpricing.
Hasil statistik t menunjukkan bahwa probabilitas signifikansi CR tidak signifikan. Hal tersebut berarti kenaikan ataupun penurunan CR tidak berpengaruh terhadap kenaikan ataupun penurunan Underpricing. Semakin tinggi CR pada perusahaan berarti semakin kecil kegagalan perusahaan dalam memenuhi kewajibanya. Akan tetapi pada penelitian ini CR yang dimiliki perusahaan tidak dijadikan penentu dalam menentukan besarnya tingkat underpricing karena bagi para investor faktor lain selain CR menurut investor lebih menentukan untuk meningkatkan nilai Underpricing.
Penelitian ini sejalan dengan Wirawan (2014) serta Hapsari dan Mahfud (2012) pada perusahaan IPO yang terdaftar di BEI dimana CR tidak berpengaruh negatif terhadap Underpricing. Akan tetapi tidak sejalan dengan penilitian Sari (2011) pada perusahaan IPO yang terdaftar di BEI periode 2006-2010 dimana CR memiliki pengaruh positif terhadap Underpricing.
4. Pengaruh DER terhadap Underpricing
Berdasarkan hasil uji statistik t pada tabel 4.14 dapat dilihat nilai probabilitas signifikansi variabel DER sebesar 0,050 yang berarti memiliki nilai yang sama dengan tingkat signifikansi yang ditentukan sebesar 5% (α =
0,05). Maka dapat dikatakan bahwa DER memiliki pengaruh terhadap Underpricing.
Koefisien regresi variabel DER sebesar 0,045. Koefisien regresi positif ini menunjukan bahwa semakin tinggi nilai DER berarti semakin tinggi juga nilai Underpricing pada perusahaan tersebut yang berarti berbanding lurus. Semakin tinggi DER dalam suatu perusahaan berarti semakin tinggi juga perusahaan tersebut dibiayai oleh hutang. Para investor melihat bahwa perusahaan tersebut berarti berani mengambil resiko dengan biaya tersebut tetapi bisa ditutupi dengan hasil yang bagus dari faktor perusahaan lainya seperti dari hasil produksi, jasa dan lainya sehingga perusahaan bisa terus berkembang dan bersaing dengan perusahaan lain.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian Wahyusari (2013) dimana DER berpengaruh positif terhadap Underpricing, akan tetapi penilitian ini tidak sejalan dengan penelitian Retnowati (2013) dimana DER tidak berpengaruh positif terhadap Underpricing.
5. Pengaruh ROE terhadap Underpricing
Berdasarkan hasil uji statistik t pada tabel 4.14 dapat dilihat nilai probabilitas signifikansi variabel ROE sebesar 0,091 yang lebih besar dari
tingkat signifikansi yang ditentukan sebesar 5% (α = 0,05). Maka dapat
dikatakan bahwa ROE tidak memiliki pengaruh terhadap Underpricing. Hasil uji statistik t menunjukkan bahwa probabilitas signifikansi ROE tidak signifikan. Hal tersebut berarti kenaikan ataupun penurunan ROE tidak berpengaruh terhadap kenaikan ataupun penurunan Underpricing. ROE dalam suatu perusahaan merupakan imbal hasil yang diterima perusahaan tersebut, yang berarti semakin tinggi ROE semakin tinggi tingkat imbal hasil yang dihasilkan oleh perusahaan tersebut. Akan tetapi para investor tidak melihat ROE perusahaan dalam investasi karena banyak pada sampel sebelum perusahaan melakukan IPO, banyak juga perusahaan yang mengalami kerugian.
Penelitian ini sejalan dengan Risqi dan Harto (2013) dan Aini (2013) dimana ROE tidak memiliki pengaruh positif terhadap Underpricing. Akan tetapi penelitian ini tidak sejalan dengan Hapsari dan mahfud (2012) dimana nilai ROE memiliki pengaruh negatif terhadap nilai Underpricing.
6. Pengaruh EPS terhadap Underpricing
Berdasarkan hasil uji statistik t pada tabel 4.14 dapat dilihat nilai probabilitas signifikansi variabel EPS sebesar 0,057 yang lebih besar dari
tingkat signifikansi yang ditentukan sebesar 5% (α = 0,05). Maka dapat
dikatakan bahwa EPS tidak memiliki pengaruh terhadap Underpricing.
Hasil uji statistik t menunjukkan bahwa probabilitas signifikansi EPS tidak signifikan. Hal tersebut berarti kenaikan ataupun penurunan EPS tidak berpengaruh terhadap kenaikan ataupun penurunan Underpricing. EPS dalam suatu perusahaan merupakan imbal hasil per saham yang diterima perusahaan tersebut, yang berarti semakin tinggi EPS perusahaan semakin tinggi juga tingkat imbal hasil per saham yang akan diterima oleh para investor. Akan tetapi pada penilitian ini jumlah nilai EPS yang lebih kecil pada perusahaan lebih banyak sehingga EPS tidak berpengaruh terhadap Underpricing.
Penilitian ini sejalan dengan penelitian Hapsari dan Mahfud (2012) dimana nilai EPS tidak memiliki pengaruh negatif terhadap nilai Underpricing. Akan tetapi penilitian ini sejalan dengan penilitian Wirawan (2014) dan Retnowati (2013) dimana nilai EPS berpengaruh positif terhadap nilai Underpricing.
BAB V
PENUTUP
A.
KesimpulanPenelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh Umur Perusahaan, Ukuran Perusahaan, Current Ratio (CR), Debt to Equity Ratio (DER), Return on Equity (ROE) dan Earning per Share (EPS) terhadap Underpricing yang diproksikan oleh Initial Return pada perusahaan yang melakukan IPO di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2014. Sampel sebanyak 38 perusahaan yang diperoleh melalui purposive sampling. Berdasarkan hasil dan pembahasan pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Variabel umur perusahaan, ukuran perusahaan, Current Ratio (CR), Debt to Equity Ratio (DER), Return on Equity (ROE), dan Earning per Share (EPS) memiliki pengaruh secara simultan terhadap underpricing.
2. Variabel Umur Perusahaan memiliki pengaruh secara parsial terhadap Underpricing, dengan pengaruh negatif.
3. Variabel Ukuran Perusahaan memiliki pengaruh secara parsial terhadap Underpricing, dengan pengaruh negatif.
4. Variabel Current Ratio tidak memiliki pengaruh secara parsial terhadap Underpricing, dengan pengaruh negatif.
5. Variabel DER memiliki pengaruh secara parsial terhadap Underpricing, dengan pengaruh positif.
6. Variabel Return on Equity tidak memiliki pengaruh secara parsial terhadap Underpricing, dengan pengaruh positif.
7. Variabel Earning Per Share memiliki pengaruh secara parsial terhadap Underpricing, dengan pengaruh negatif.
Hasil penelitian ini juga menunjukan bahwa variabel independen Debt to Equity Ratio memiliki pengaruh paling besar terhadap Underpricing. Nilai Adjusted R2 dalam penelitian ini sebesar 0,604. Hal tersebut mengartikan bahwa kemampuan variabel independen umur perusahaan, ukuran perusahaan, CR, DER, ROE dan EPS untuk menjelaskan perubahan variabel dependen Underpricing adalah sebesar 60,4%. Sedangkan sisanya yaitu sebesar 39,6% dijelaskan faktor-faktor lain diluar penelitian ini.
B. Implikasi
Berdasarkan hasil analaisis dan pembahasan terhadap variabel yang diteliti, yaitu variabel independen umur perusahaan, ukuran perusahaan, Current Ratio (CR), Debt to Equity Ratio (DER), Return on Equity (ROE), Earning per Share (EPS) dan variabel dependen underpricing, maka implikasi terhadap penilitian ini adalah sebagai berikut :
Bagi investor/calon investor, dengan hasil penelitian ini bagi para calon investor dapat dijadikan pertimbangan dalam pengambilan keputusan investasi pada saat penawaran saham perdana.
1. Bagi perusahaan/emiten, hasil penelitian ini dapat dijadikan pengetahuan apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi underpricing sehingga perusahaan dapat meminimalisir terjadinya underpricing pada saat IPO.
2. Bagi bidang akademik, penelitian ini dapat menambah pengetahuan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat underpricing pada saat IPO dan referensi untuk melakukan penelitian selanjutnya.
C. Saran
Berdasarkan kesimpulan yang telah diuraikan diatas, maka peneliti dapat sampaikan beberapa saran sebagai berikut:
1. Bagi penelitian selanjutnya sebaiknya menambahkan variabel independen lain agar mampu menjelaskan penyebab yang diperkirakan menjadi faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat underpricing supaya hasil bisa lebih akurat dan juga diharapkan dalam penelitian selanjutnya melakukan pengelompokkan jenis industri dalam penentuan sampel perusahaan agar hasil yang didapat bisa lebih baik.
2. Investor bisa melihat rasio Umur, Ukuran Perusahaan dan DER pada emiten yang akan melakukan IPO karena dengan melihat rasio tersebut investor bisa meramalkan apakah saham perusahaan yang ingin dijadikan investasi layak untuk dibeli atau tidak, karena sesuai dengan hasil penelitian ini bahwa faktor yang berpengaruh terhadap underpricing adalah Umur, Ukuran Perusahaan dan DER.
3. Berdasarkan penelitian ini emiten juga bisa mengetahui bahwa CR, ROE, dan EPS tidak berpengaruh terhadap underpricing, sedangkan rasio Umur, Ukuran Perusahaan dan DER berpengaruh terhadap underpricing, sehingga emiten yang ingin melakukan IPO sebaiknya memperhatikan faktor-faktor tersebut.