• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambar 4.3 Kurva Penerimaan

4.5 Interpretasi Hasil Penelitian

Interprestasi dari penelitian yang berjudul Kinerja Pelayanan Publik Bagian Satuan Reserse Kriminal (Sat Reskrim) Dalam Menangani Kasus Pencurian Kendaraan Bermotor di Kepolisian Resort Serang memiliki hal yang sangat utama, yaitu menjawab rumusan masalah deskriptif yang sebelumnya telah dirumuskan. Rumusan masalah yang tealah dibuat oleh peneliti pada awal

penelitian adalah “Bagaimana Kinerja Pelayanan Publik Bagian Satuan Reserse

Kriminal (Sat Reskrim) Dalam Menangani Kasus Pencurian Kendaraan Bermotor di Kepolisian Resort Serang”.

Penelitian ini dimaksud untuk menjawab rumusan masalah tersebut, dan rumusan masalah telah terjawab dengan menggunakan perhitungan rumus t-test one sampel dengan uji satu pihak (one tail test) yaitu uji pihak kanan. Berdasarkan pada perhitungan yang telah dilakukan terhadap perhitungan pengujian t-test one sample ternyata dapat diketahui bahwa t hitung lebih besar dari t tabel, dan hal itu dapat diartikan bahwa Ha diterima dan Ho ditolak. Ha diterima karena mencapai angka 71%.

Selanjutnya analisis pertama dilihat dari indikator dalam teori yang digunakan dalam penelitian ini. Pertama, yang berkenaan dengan Kinerja Pelayanan Satuan Reserse Kriminal dalam Menangani Kasus Curanmor di Polres Serang. Dimana yaitu mengenai tentang, input, outpu, efesiensi layanan dan efektivitas layanan. Dari hasil pengolahan data dalam penelitian ini, memuat 4 sub indikator pernyataan untuk indikator produktivitas. Didapatkan hasil tersebut dan

diperoleh skor ideal dari indikator produktivitas adalah 4 x 7 x 184 = 5152 (4 = nilai dari setiap jawaban pernyataan yang diajukan kepada responden, 7 = jumlah pertanyaan yang diajukan kepada responden, 184 = jumlah responden). Sedangkan nilai skor dari hasil penelitian adalah 3542. Dengan demikian nilai dari Kinerja Pelayanan Satuan Reserse Kriminal Polres Serang adalah 3542 : 5152 = 0,69 atau 69%. Dapat disimpulkan bahwa Kinerja Pelayanan Satuan Reserse Kriminal dalam Menangani Kasus Curanmor di Polres Serang baik dilihat dari indikator produktivitas. Hal ini dikarenakan kualitas sumber daya penyidik Kepolisian Resort Serang berkompeten dalam menangani kasus pencurian kendaraan bermoror (Curanmor R-2) dan dapat mengurangi tingkat kriminalitas. Untuk lebih jealsanya dapat dilihat pada kategori berikut ini:

Gambar 4.4

Kategori Instrumen Indikator 1

1288 2576 3864 5152

3542

Tidak Baik Kurang Baik Sangat Baik

Untuk indikator yang ke-dua berkenaan dengan Kinerja Pelayanan Satuan Reserse Kriminal dalam Menangani Kasus Curanmor di Polres Serang. Dimana yaitu mengenai tentang keterbukaan informasi, kemudahan alur pelayanan, keadilan, kompetensi, sarana prasarana, dan kecermatan. Dari hasil pengolahan

data penelitian ini, memuat 6 sub indikator kualitas layanan. Didapatkan hasil tersebut dan diperoleh skor ideal dari indikator kualitas layanan adalah 4 x 8 x 184 = 5888 (4 = nilai dari setiap jawaban pernyataan yang diajukan kepada responden, 8 = jumlah pernyataan yang diajukan kepada masyarakat, 184 = jumlah responden). Sedangkan nilai skor dari hasil penelitian adalah 4099. Dengan demikian nilai dari Kinerja Pelayanan Satuan Reserse Kriminal Polres Serang adalah 4099 : 5888 = 0,70 atau 70%. Dapat disimpulkan bahwa Kinerja Pelayanan Satuan Reserse Kriminal dalam Menangani Kasus Curanmor di Polres Serang cukup baik dilihat dari kualitas layanannya. Hal ini dikarenakan Sat Reskrim Polres Serang menyediakan fasilitas dan kemudahan alur pelayanan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada kategori berikut ini:

Gambar 4.5

Kategori Instrumen Indikator 2

2024 4048 6072 5888

4099

Tidak Baik Kurang Baik Sangat Baik

Untuk indikator yang ke-tiga berkenaan dengan Kinerja Pelayanan Satuan Reserse Kriminal dalam Menangani Kasus Curanmor di Polres Serang. Dimana yaitu mengenai tentang, kemampuan merespon masyarakat, kemampuan dalam memberikan pelayanan, kecermatan dalam merespon keluhan, ketepatan waktu,

dan kemudahan akses pelayanan. Dari hasil pengolahan data penelitian ini, memuat 5 sub indikator responsivitas. Didapatkan hasil tersebut dan diperoleh skor ideal dari indikator responsivitas adalah 4 x 7 x 184 = 5152 (4 = nilai dari setiap jawaban pernyataan yang diajukan kepada responden, 7 = jumlah pernyataan yang diajukan kepada masyarakat, 184 = jumlah responden). Sedangkan nilai skor dari hasil penelitian adalah 3673. Dengan demikian nilai dari Kinerja Pelayanan Satuan Reserse Kriminal Polres Serang adalah 3673 : 5152 = 0,71 atau 71%. Dapat disimpulkan bahwa Kinerja Pelayanan Satuan Reserse Kriminal dalam Menangani Kasus Curanmor di Polres Serang cukup baik dilihat dari responsivitas. Hal ini dikarenakan petugas Sat Reskrim Polres Serang yang ditemui dapat memberikan respon yang cepat terhadap pelapor dan memberikan pelayanan sesuai dengan yang kebutuhan masyarakat. Untuk lebih jealsanya dapat dilihat pada kategori berikut ini:

Gambar 4.6

Kategori Instrumen Indikator 3

1288 2576 3864 5152

3673

Tidak Baik Kurang Baik Sangat Baik

Untuk indikator yang ke-empat berkenaan dengan Kinerja Pelayanan Satuan Reserse Kriminal dalam Menangani Kasus Curanmor di Polres Serang. Dimana yaitu mengenai tentang, kejelasan wewenang dan tanggung jawab, memiliki komitmen dalam memberikan pelayanan, bersikap jujur dan dapat dipercaya. Dari hasil pengolahan data penelitian ini, memuat 4 sub indikator responsibilitas. Didapatkan hasil tersebut dan diperoleh skor ideal dari indikator responsivitas adalah 4 x 4 x 184 = 2944 (4 = nilai dari setiap jawaban pernyataan yang diajukan kepada responden, 4 = jumlah pernyataan yang diajukan kepada masyarakat, 184 = jumlah responden). Sedangkan nilai skor dari hasil penelitian adalah 2192. Dengan demikian nilai dari Kinerja Pelayanan Satuan Reserse Kriminal Polres Serang adalah 2192 : 2944 = 0,74 atau 74%. Dapat disimpulkan bahwa Kinerja Satuan Reserse Kriminal dalam Menangani Kasus Pencurian Kendaraan Bermotor di Polres Serang baik dilihat dari indikator responsibilitas. Hal ini dikarenakan petugas Sat Reskrim sudah menjalankan tugas sesuai wewenang dan tanggung jawabnya atau tupoksinya masing-masing, dimana petugas sudah menjelasakan kepada masyarakat seperti memberikan penjelasan dan bersikap jujur dengan mengatakan kepada masyarakat bahwa pelayanan pengaduan masyarakat tidak dikenakan biaya atau gratis. Untuk lebih jealsanya dapat dilihat pada kategori berikut ini:

Gambar 4.7

Kategori Instrumen Indikator 4

736 1472 2208 2944

2192

Tidak Baik Kurang Baik Sangat Baik

Untuk indikator yang ke-lima berkenaan dengan Kinerja Pelayanan Satuan Reserse Kriminal dalam Menangani Kasus Curanmor di Polres Serang. Dimana yaitu mengenai tentang, dapat mengatasi komplain dan bentuk pertanggungjawaban. Dari hasil pengolahan data penelitian ini, memuat 2 sub indikator akuntabilitas. Didapatkan hasil tersebut dan diperoleh skor ideal dari indikator adalah 4 x 3 x 184 = 736 (4 = nilai dari setiap jawaban pernyataan yang diajukan kepada responden, 3 = jumlah pernyataan yang diajukan kepada masyarakat, 184 = jumlah responden). Sedangkan nilai skor dari hasil penelitian adalah 546. Dengan demikian nilai dari Kinerja Pelayanan Satuan Reserse Kriminal Polres Serang adalah 546 : 736 = 0,74 atau 74%. Dapat disimpulkan bahwa Kinerja Pelayanan Satuan Reserse Kriminal dalam Menangani Kasus Curanmor di Polres Serang baik dilihat dari indikator akuntabilitas. Hal ini dikarenakan kepolisian sudah bertanggung jawab dengan berusaha untuk memberikan pelayanan yang baik dan berusaha untuk mencari pelaku dan menemukan kendaraan korban yang dicuri, serta merespon komplain masyarakat dengan baik . Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada kategori berikut ini:

Gambar 4.8

Kategori Instrumen Indikator 5

184 368 552 736

546

Tidak Baik Kurang Baik Sangat Baik

Berdasarkan perhitungan setiap indikator dalam penelitian Kinerja Satuan Reserse Kriminal (Sat Reskrim) Dalam Menangani Kasus Pencuria Kendaraan Bermotor Di Kepolisian Resort Serang dapat dikatakan tidak sesuai dengan dugaan peneliti. Dimana peneliti menetapkan nilai tolak ukur dari penelitian ini sebesar 65% dan setelah melakukan perhitungan dari setiap indikator dapat diketahui dari semua indikator mencapai lebih dari 65% yaitu 71%, maka dapat dikatakan bahwa hipotesis Ho ditolak dan Ha diterima. Setelah melakukan penelitian di lapangan bisa dilihat dari cara kerja Satuan Reserse Kriminal mereka selalu siaga dan cepat tanggap dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

4.6 Pembahasan

Berdasarkan dari hasil penelitian dan perhitungan yang telah dilakukan dengan menggunakan perhitungan t-test uji pihak kanan yang menunjukan bahwa angka t hitung lebih besar dari t tabel (18,01 > 1,653) Ho ditolak dan Ha diterima. Dapat diketahui bahwa jawaban dari rumusan masalah deskriptif yang diajukan yaitu Kinerja Pelayanan Publik Bagian Satuan Reserse Kriminal (Sat Reskrim) Dalam Menangani Kasus Pencurian Kendaraan Bermotor di Kepolisian Resort Serang sebesar 71%, yang menyatakan bahwa hasil perhitungan mencapai nilai yang hipotesis yang telah ditetapkan.

Hasil penelitian mengenai Kinerja Pelayanan Publik Bagian Satuan Reserse Kriminal (Sat Reskrim) Dalam Menangani Kasus Pencurian Kendaraan Bermotor di Kepolisian Resort Serang dikaji dengan menggunakan teori Dwiyanto (dalam Pasolong 2013:178). Menurut Dwiyanto terdapat 5 indikator kinerja pelayanan publik yaitu: produktivitas, kualitas layanan, respondivitas, responsibilitas dan akuntabilitas. Dan melalui pernyataan yang telah diajukan kepada 184 responden, dapat disimpulkan bahwa Kinerja Pelayanan Publik Bagian Satuan Reserse Kriminal (Sat Reskrim) Dalam Menangani Kasus Pencurian Kendaraan Bermotor di Kepolisian Resort Serang sudah mencapai nilai ideal yang ditetapkan. Hipotesis penelitian yang peneliti tetapkan adalah 65% sedangkan berdasarkan hasil perhitungan uji t-test didapat bahwa Kinerja Pelayanan Publik Bagian Satuan Reserse Kriminal (Sat Reskrim) Dalam Menangani Kasus Pencurian Kendaraan Bermotor di Kepolisian Resort Serang tercapai 71%, sehingga dapat dikatakan bahwa kinerjanya sudah baik.

Namun kepolisain harus terus meningkatkan kinerjanya menjadi lebih baik lagi, mengingat kasus Curanmor ini merupakan kasus pencurian kendaraan bermotor yang paling tinggi daiantara kejahatan lainnya. Dan kasusu yang dapat diselesaikan juga masih rendah, akan tetapi sebagian masyarakat beranggapan bahwa sejauh ini kinerja Satuan Reserse Kriminal sudah baik, walaupun kendaraan mereka yang hilang ada yang masih belum ditemukan. Hal ini dikarenakan adanya upaya dari kepolisian untuk memberikan pelayanan yang baik dan etika baik untuk menemukan kendaraan mereka yang hilang. Hal ini diperkuat dnegan pernyatan responden terkait dengan indikator kualitas layanan dan responsivitas. Bahawa petugas Satuan Reserse Kriminal dalam memberikan peleyananya sudah baik, ramah, dan memberikan respon yang cepat kepada korban.

Selain itu peneliti juga meninjau kembali terkait dengan kurangnya sumber daya manusia yang ada di Kepolisian Resort Serang, setelah melakukan wawancara dengan petugas Kepolisain peneliti juga melakukan survei ke bebarapa Polsek yang ada di Wilayah Hukum Polres Serang. Dan ternyata memang Kepolisian di setiap Polsek nya hanya ada 2-3 Penyidik saja. Kurangnya sumber daya manusi penyidik ini juga akan mempengaruhi bagaimana kinerja Sat Reskrim dalam menangani aksus curanmor, terlebih lagi Satuan Reserse krimina ini tidak hanya menangani kasus Curanmor akan tetapi tindak pidana umum (PIDUM) lainnya. Hal ini juga diperkuat dengan adanya jawaban terkait dengan produktivitas, mayoritas responden mengatakan sumber daya penyidik di Kepolisian belum mencukupi.

Selanjutnya terkait partisipasi masyarakat dirasa masih kurang karena sebagaian besar masyarakat yang datang ke kantor kepolisian hanya memerlukan surat pemeberhentian motor saja, dan tidak memberikan alamat yang jelas sehingga Kepolisian tdiak dapat memberikan Surat Hasil Perkembangan Penelitian kepada Korban. Salah satu faktor lainnya yang menyebabka masyarakat tidak mau melanjutkan laporannya adalah karena masyarakat beranggapan jika memperpanjang kasus akan mengeluarkan biaya, menurut kepolisian jika ada yang melporkan tindakan kriminalitas ini akan sangat membantu kepolisian. Hal ini diperkuat dengan pernyataan dari Aiptu Asep yang menyatakan apabila ada yang melaporkan tindak kriminalitas baik itu ranmor ataupun tindak pidana umum lainnya dan yang melapor korban atau masyarakat maka tidak akan dipungut biaya, terkecuali dari korban memberikan petugas uang mereka terima itupun tidak di paksa atau secara sukarela.

Secara umum berdasarkan hasil perolehan data dalam penelitian ini menunjukan bahwa Kinerja Pelayanan Publik Bagian Satuan Reserse Kriminal (Sat Reskrim) Dalam Menangani Kasus Pencurian Kendaraan Bermotor di Kepolisian Resort Serang sudah baik. Hal ini karena di Tahun 2016 Kepolisian sudah berhasil mengurangi tingkat kriminalitas Curanmor, dan menangkap para pelaku dan mengamankan kendaraan yang dicuri.

Hal ini juga diperkuat dengan hasil wawancara peneliti dengan salah satu petugas di Polsek Cipocok yang menyatakan bahwa kepolisain sudah menangkap salah satu mahasiswi Bina Bangasa semster 3 dia sudah melakukan pencurian kurang lebih 30 kali. Dan saat survei ke lapangan di Polsek Serang Peneliti

bertemu dengan salah satu Korban serta Pelaku pencurian kendaraan bermotor saat sedang di introgasi oleh Bapak Brigadir Dedi Komadi. Pelaku/tersangka Curanmor ini bernama Wahyu berusia 20 tahun tidak bekerja, dan orang tuannya bekerja sebagai petugas kebersihan. Sejauh ini ia sudah menjalankan aksinya sebanyak 14 kali. Sebeleumnya ia juga sudah pernah tertangkap tapi setelah dibebaskan ia melakukan pencurian lagi tepat di malam tahun baru. Menurut Brigadir Dedi Komadi dia itu sebenarnya melakukan pencurian untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri, uang hsil curian ini ia gunkan untuk bersenang-senang. Dalam menjalankan aksinya tersangka menggunkan kunci leter T untuk membuka kunci motor korbannya.

Kepolisian juga menghimbau keapda masyarakat untuk lebih berhati-hati lagi dalam menjaga kendaraanya. Mengingat tingginya kasus curanmor diakrenakan kecerobohan dari pemilik kendaraan yang seringkali lupa untuk mengunci ganda atau meninggalkan kunci di motor. Modus operasi dari para pelaku dalam melancarakan aksinya adalah dengan lebih dulu melakukan pengintaian terhadap kendaraan yang akan dicuri. Ketika mereka merasa situasi aman dan terkendali maka pelaku akan langsung mengambil kendaraan tersebut dengan cara merampas dengan paksa atau merusak kunci dengan menggunakan kunci leter T. Dan para pelaku mengincar kendaraan di lokasi-lokasi yang dianggap aman dan sepi tanpa ada pengawasan. Misalnya di pasar atau supermarket, kampus, rumah dan kos - kosan.

125 BAB V

PENUTUP

Dokumen terkait