INTERPRETASI HUKUM INTERPRETASI HUKUM
B. Interpretasi Hukum Pajak
Pajak berperan dalam menggerakkan roda pemerintahan. Salah satu pendorong agar wajib pajak taat pada hukum pajak adalah adanya ketentuan perundangan yang mengatur tata cara perpajakan. Ketentuan perpajakan bertujuan agar wajib pajak memiliki kesadaran yang tinggi untuk melaksanakan kewajibannya.
Dalam menyelenggarakan kepentingan umum untuk mewujudkan kesejahteraan pemerintah harus menegakkan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan tidak melanggar hak-hak masyarakat, terutama dalam pemungutan pajak, juga pemerintah menghayati dan menaati hukum pajak yang berlaku. Hukum harus dapat menjadi alat untuk mengadakan pembaharuan dalam masyarakat sehingga kesadaran masyarakat berjalan seimbang dengan keadilan yang dilaksanakan oleh pemerintah.
Selain hal tersebut, ketentuan perpajakan mempertimbangkan berbagai aspek yang berkembang dalam masyarakat, agar ketentuan perundangan yang ada dapat dijadikan pedoman bagi penyelenggara pemerintahan ataupun wajib pajak dalam melaksanakan hak dan kewajibannya. Ketentuan perundangan perpajakan harus menjadi pedoman bagi semua pihak, baik wajib pajak maupun penyelenggara negara.
Secara konsepsional interpretasi hukum peraturan undang-undang adalah mencari dan menetapkan pengertian asas dalil-dalil yang tercantum dalam undang-undang sesuai dengan yang dimaksud oleh pembuat undang-undang.1
Dalam penafsiran hukum ada upaya menjelaskan dan menegaskan, baik dalam arti memperluas maupun membatasi atau mempersempit pengertian hukum yang ada, dalam rangka penggunaannya untuk memecahkan masalah atau persoalan yang sedang dihadapi.2
1 Soeroso, Pengantar Ilmu Hukum, Jakarta: Sinar Grafi ka, 2006, hlm. 97.
2 A. Ridwan Halim, Pengantar Ilmu Hukum dalam Tanya Jawab, Bogor: Ghalia Indonesia, 2005, hlm. 81.
Beberapa pendekatan yang digunakan dalam interpretasi hukum, yaitu sebagai berikut.
1. Pendekatan gramatikal. Pendekatan linguistik digunakan untuk menjelaskan kata atau kalimat hukum dengan bahasa yang lebih mudah dipahami oleh masyarakat sebagai wajib pajak ataupun pemerintah sebagai penagih pajak. Contohnya, KUH Pidana Pasal 372 kata “memiliki” dan “menggelapkan” dalam Pasal 372 tidak selalu mengandung sifat bermanfaat bagi diri pribadi. Perbuatan terdakwa tidak merupakan penggelapan akan tetapi suatu kasus perdata.3 2. Pendekatan hakiki atau autentik, yaitu pendekatan makna yang
sebenarnya sebagaimana tertuang pada teks undang-undang. Contohnya, pada Pasal 98 KUH Pidana: malam berarti waktu antara matahari terbenam dan matahari terbit dan pada Pasal 97 KUH Pidana: hari adalah waktu selama 24 jam dan yang dimaksud dengan bulan adalah waktu selama 30 hari.4
Pendekatan hakiki disebut juga sebagai interpretasi yang resmi autentik yang berasal dari pembentuk undang-undang itu sendiri, bukan dari sudut pelaksana hukum, yaitu hakim. Dalam penafsiran ini, kebebasan hakim dibatasi.
3. Pendekatan sejarah merupakan penafsiran yang dilakukan dengan ketentuan hukum yang berdasarkan sejarah yang memengaruhi pembentukan hukum tersebut. Pendekatan sejarah terdiri atas hal-hal berikut.
a. Sejarah hukum, yaitu memahami undang-undang dalam konteks sejarah hukum, karena setiap undang-undang merupakan reaksi dari kebutuhan sosial yang memenuhi pengaturan. Setiap pengatur dapat dipandang sebagai langkah dalam perkembangan sosial masyarakat sehingga langkah itu maknanya diketahui. Hal ini meliputi semua lembaga yang terlibat dalam pelaksanaan undang-undang.
b. Sejarah undang-undang, yaitu penafsiran undang-undang dengan menyelidiki perkembangan undang-undang sejak dibuat, perdebatan-perdebatan yang terjadi di legislatif,
3 KUH Pidana Pasal 372. 4 KUH Pidana Pasal 97.
maksud ditetapkannya atau penjelasan dari pembentuk undang-undang pada waktu pembentukannya.
4. Pendekatan sistematis, yaitu pendekatan yang berdasarkan sistematika pengaturan hukum dalam berhubungannya antarpasal atau antarayat dari peraturan hukum itu sendiri dalam mengatur permasalahan masing-masing.
5. Pendekatan nasionalistik, yaitu pendekatan yang mengkaji kesesuaian hukum yang berlaku sebagaimana hukum perpajakan dengan pelaksanaannya di lapangan.
6. Pendekatan teleologis atau sosiologis, yaitu pendekatan yang berdasarkan tujuan dibuatnya undang-undang, sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
7. Pendekatan ekstensif, yaitu pendekatan yang memperluas isi pengertian suatu ketentuan hukum yang bertujuan memperluas perihal yang belum terdapat pada ketentuan hukum yang ada atau ketentuan perundangannya belum ada, tetapi dapat dicakup oleh hukum yang diperluas tersebut.
8. Pendekatan restriktif, yaitu pendekatan yang membatasi pengertian suatu ketentuan hukum agar ruang lingkup pengertian ketentuan hukum tersebut tidak terlalu luas sehingga dapat lebih mudah dipahami kandungan makna hukumnya.
9. Pendekatan analogis, yaitu pendekatan yang menjelaskan peraturan hukum dengan mengibaratkan pada kata-kata tersebut sesuai dengan hukumnya. Dengan demikian, suatu peristiwa yang sebenarnya tidak dimasukkan, lalu dianggap sesuai dengan peraturan tersebut. 10. Pendekatan a contrario adalah pendekatan penafsiran
undang-undang berdasarkan pengingkaran, artinya berlawanan pengertian antara masalah yang dihadapi dan masalah yang diatur oleh pasal dalam undang-undang. Berdasarkan pengingkaran ini, ditarik kesimpulan bahwa masalah perkara yang dihadapi tidak termasuk pasal yang dimaksud, masalahnya berada di luar peraturan perundang-undangan.
Pendekatan a contrario, yaitu pendekatan berdasarkan pengertian atau kesimpulan yang bermakna sebaliknya dari isi pengertian ketentuan hukum yang tersurat. Contohnya, seorang istri yang dicerai oleh suaminya harus menunggu tiga bulan sepuluh
hari jika akan menikah lagi. Adapun hal tersebut tidak berlaku untuk suaminya.
Pendekatan a contrario bertolak belakang dengan pendekatan analogis yang merupakan konstruksi hukum dalam mengisi kekosongan sistem undang-undang. Berikut merupakan perbedaan antara penafsiran a contrario dan penafsiran analogis.
Tabel
Perbedaan antara Penafsiran Analogis dan Penafsiran A Contrario
No. Penafsiran Analogis Penafsiran A Contrario
1. Mendapatkan hasil yang positif. Mendapatkan hasil yang negatif. 2. Mempeluas berlakunya
ketentuan hukum atau peraturan perundang-undangan.
Mempersempit berlakunya ketentuan undang-undang.
Sumber: Sudikno Mertokusumo (2007)
Adapun persamaan antara penafsiran analogis dan penafsiran a
contrario adalah sebagai berikut.
a. Penggunaan undang-undang secara analogi dan argumentum a
contrario berdasarkan konstruksi hukum.
b. Kedua cara tersebut dapat dipergunakan untuk menyelesaikan permasalahan hukum.
c. Kedua pendekatan dapat digunakan apabila peristiwa memiliki sifat hukum yang sama.
d. Tujuan kedua pendekatan adalah mengisi kekosongan di dalam undang-undang.
Peraturan perundang-undangan yang berlaku di suatu negara pada waktu tertentu merupakan suatu sistem yang formal sehingga sulit untuk mengubah atau mencabutnya meskipun hal-hal atau keadaan masyarakat sudah tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan tersebut.
Penegakan dan penerapan hukum, khususnya di Indonesia sering menghadapi kendala dengan perkembangan masyarakat. Berbagai kasus yang terjadi di masyarakat telah menggambarkan sulitnya penegak hukum atau aparat hukum mencari cara agar hukum dapat sejalan dengan norma
yang ada. Akan tetapi, perkembangan masyarakat lebih cepat daripada perkembangan peraturan perundang-undangan. Kenyataannya hukum atau peraturan perundang-undangan yang dibuat tidak mencakup seluruh masalah yang terjadi dalam masyarakat sehingga menyulitkan penegak hukum untuk menyelesaikan masalah tersebut. Oleh sebab itu, hakim dituntut untuk memperbaiki undang-undang tersebut agar sesuai dengan kondisi riil kehidupan yang berkembang dalam masyarakat.
Hakim sebagai pemegang kekuasaan yudikatif berkewajiban memberikan pertimbangan dalam pelaksanaan peraturan perundang-undangan yang berlaku sebagai peraturan umum. Dalam memberikan pertimbangan, kadang-kadang hakim menambahkan peraturan perundang-undangan. Hal ini berarti hakim memenuhi ruang kosong (leemten) dalam sistem hukum formal dari tata hukum yang berlaku. Hal ini mengandung konsekuensi bahwa hakim dapat dan wajib memenuhi kekosongan yang terjadi dalam sistem hukum, dengan catatan bahwa perubahan tersebut tidak membawa perubahan yang mendasar (prinsipil) pada sistem hukum yang berlaku.5
Konstruksi hukum dapat dilakukan apabila suatu perkara yang diajukan kepada hakim, namun tidak ada ketentuan yang mengatur perkara tersebut meskipun telah dilakukan penafsiran hukum, sekalipun telah ditafsirkan menurut bahasa, sejarah, sistematis, dan sosiologis. Demikian pula, jika perkara tersebut tidak terselesaikan oleh hukum kebiasaan atau hukum adat. Dalam hal ini hakim harus memeriksa kembali sistem hukum yang menjadi dasar lembaga hukum tersebut. Apabila dalam beberapa ketentuan mengandung kesamaan, hakim membuat suatu pengertian hukum (rechtsbegrip) yang mengandung persamaan.
Pendekatan dalam menafsirkan hukum pajak berfungsi menye-jahterakan masyarakat melalui pelaksanaan peraturan perundang-undangan, di antaranya sebagai berikut.6
1 . Sebagai acuan dalam menciptakan sistem pemungutan pajak yang harus memenuhi syarat keadilan, efisien, dan sederhana sejelas-jelasnya dalam undang-undang hukum pajak tersebut.
2 . Sebagai sumber yang menerangkan tentang mana dan siapa subjek ataupun objek yang perlu dan tidak perlu dijadikan sumber
5 C.S.T., Kansil, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka,
1989, hlm. 70.
pemungutan pajak yang berfungsi untuk meningkatkan potensi pajak di negara ini. Adapun hukum pajak berfungsi sebagai acuan dalam pembagian beban pajak kepada rakyat yang didasarkan pada kepentingan tiap-tiap orang.
3 . Sebagai penjelas penggunaan atau pemanfaatan hasil pemungutan pajak, baik dalam memenuhi anggaran APBN dan APBD maupun memenuhi target perolehan pajak yang akan digunakan untuk kepentingan sosial dan kesejahteraan umum.
4 . Hukum pajak juga memiliki fungsi dalam menetapkan kepastian, baik yang berupa sanksi administrasi ataupun sanksi tata usaha maupun sanksi pidana berupa penjara ataupun kurungan. Adapun sanksi administrasi berupa hal-hal berikut.
a. Denda, yaitu sanksi administrasi yang dikenakan pada pelanggaran yang berkaitan dengan kewajiban pelaporan berupa denda uang (harta) yang telah ditetapkan dalam undang-undang.
b. Bunga, yaitu sanksi administrasi yang dikenakan pada pelanggaran yang berkaitan dengan kewajiban pembayaran/ penyetoran pajak, yang terdiri atas bunga pembayaran, bunga ketetapan, dan bunga penagihan.
c. Kenaikan, yaitu sanksi administrasi berupa kenaikan jumlah pajak yang harus dibayar yang dikenakan pada pelanggaran berkaitan dengan kewajiban yang diatur dalam ketentuan materiil.
Penafsiran hukum (Rechtsinterpretatie) adalah salah satu metode penemuan hukum yang memberikan penjelasan tentang teks undang-undang agar ruang lingkup kaidah dapat ditetapkan sehubungan dengan peristiwa tertentu. Penafsiran hukum merupakan upaya menerangkan, menjelaskan, dan menegaskan, baik dalam arti memperluas maupun membatasi atau mempersempit pengertian hukum yang ada dalam rangka penggunaannya untuk memecahkan masalah atau persoalan yang sedang dihadapi.