• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kewajiban Pajak Objektif

Dalam dokumen Hukum Administrasi Perpajakan (Halaman 179-188)

PEMBAYARAN PAJAKPEMBAYARAN PAJAK

G. Kewajiban Pajak

2. Kewajiban Pajak Objektif

Kewajiban ini melekat pada suatu objek seperti ditentukan dalam undang-undang. Kewajiban pajak objektif hanya timbul pada saat dipenuhinya Tatsbestand (tersebut pada Deutsche Reichs Abgaben Ordnung),

di dalam negeri. Contoh lain dari pajak subjektif adalah pajak kekayaan terhadap wajib pajak dalam negeri dan pajak perseroan.

Adapun cara pemungutan pajak atas pendapatan adalah sebagai berikut.

a. Asas Tempat Tinggal

Dalam cara yang berdasarkan asas tempat tinggal, pemungutan pajak bergantung pada tempat tinggal seseorang. Menurut asas ini, wajib pajak yang bertempat kediaman di Indone sia dikenakan pajak atas segala pendapatan yang diperoleh di Indonesia ataupun di luar negeri, seperti ditetapkan dalam Ordonansi PPd 1944 Pasal 1. Untuk menetapkan gaya pikul seorang penduduk, segala mata pencahariannya, di mana pun letak sumber-sumbernya, harus pula diperhatikan. Di sini tidak melihat kebangsaan sehingga orang asing pun selama bertempat tinggal di Indonesia wajib membayar pajak atas pendapatannya pada fi skus Indonesia.

b. Asas Kebangsaan

Cara ini menghubungkan pengenaan pajak dengan kebangsaan dari suatu negara. Contohnya, Fiskus Nederland selama Perang Dunia II pernah memungut pajak pendapatan dari semua orang yang berkebangsaan Belanda, juga yang bertempat tinggal di luar Belanda. Asas kebangsaan secara negatif muncul dalam bentuk Pajak Bangsa Asing di Indonesia, yang mewajibkan umumnya setiap orang yang bukan kebangsaan Indonesia yang bertempat tinggal di Indonesia membayar pajak tersebut.

c. Asas Sumber

Cara pemungutan pajak bergantung pada sumber dalam suatu negara memungut pajak. Jika di Indonesia terdapat suatu sumber pendapatan, fiskusnya dapat memungut pajak pendapatan tanpa melihat tempat tinggal wajib pajak, seperti disebutkan dalam ketentuan yang termuat dalam Pasal 2 dari Ordonansi Pajak Pendapatan 1944.

d. Pajak Objektif

Pajak objektif melihat objeknya pada benda, keadaan, perbuatan, atau peristiwa yang menyebabkan timbulnya kewajiban membayar; kemudian dicari subjeknya (orang atau badan hukum) yang bersangkutan langsung, tanpa mempersoalkan apakah subjek ini tinggal di Indonesia ataupun tidak. Subjek yang mempunyai hubungan hukum yang tertentu dengan objek itulah yang ditunjuk sebagai subjek yang harus membayar pajak.

Penyebab lainnya yang dapat menimbulkan kewajiban membayar pajak adalah sebagai berikut.

a. Keadaan

Selain keadaan dalam negara (yang menimbulkan pajak kekayaan dan adanya pendapatan yang dikenakan Pajak Pendapatan), ada pula objek lainnya di dalam negara dapat menimbulkan kewajiban membayar pajak. Misalnya, pajak rumah tangga, pajak kendaraan bermotor, pajak senjata api, dan sebagainya.

b. Perbuatan-perbuatan

1) Pemindahan atas peralihan kekayaan dalam negara yang memungut pajak menimbulkan pengenaan pajak.

2) Penyerahan barang yang dilakukan oleh pabrikan di dalam daerah pabean dalam lingkungan perusahaan atau pekerjaannya.

3) Penyetoran modal yang ditempatkan dari suatu persekutuan perseroan, menimbulkan keharusan membayar meterai modal. 4) Pemberian tanda yang diperbuat oleh sebelah pihak yang menyatakan

penerimaan atau pengambilan uang kepada pihak yang lain mengakibatkan keharusan membayar bea meterai.

Perbuatan hukum lainnya di dalam negeri dapat menimbul kan bea meterai yang bermacam-macam jumlah dan caranya.

Aturan bea meterai mencakup empat macam permeteraian, yaitu: 1) bea meterai umum atau seragam;

2) bea meterai sebanding;

3) bea meterai menurut luas kertas;

4) berbagai bea meterai tetap, seperti meterai kuitansi seharga Rp6.000,00.

Aturan bea meterai (Indonesia) merupakan ringkasan sejumlah besar pajak yang oleh alasan-alasan praktis harus dilunasi dalam bentuk meterai, bahkan banyak di antaranya yang pada hakikatnya bersifat retribusi.

Pemindahan atau peralihan barang ke dalam (bea masuk) atau ke luar negeri (bea keluar), dan penggunaan atau pemakaian di dalam negeri yang menimbulkan keharusan membayar cukai tembakau, cukai gula, dan cukai minuman keras.

c. Peristiwa

Sebagai contoh, dikemukakan bahwa di Indonesia menurut Pasal 1 ayat 1 dari Ordonansi Bea Warisan 1901, yang telah dihapuskan mulai tahun 1949 (Stbl. 1949 No. 48), pernah berlaku jenis pajak yang dinamakan bea warisan. Bea warisan tersebut dipungut atas nilai harta peninggalan yang diwarisi atau diperoleh seseorang dari penduduk yang termasuk dalam golongan Eropa atau yang disamakan haknya dengan golongan ini. Dengan demikian, peristiwa memperoleh warisan itu dianggap cukup untuk menimbulkan keharusan dibayarnya bea warisan tersebut.

Pajak subjektif dimulai dengan menetapkan orangnya, kemudian dicari syarat-syarat objektifnya. Adapun pajak objektif dimulai dengan objeknya, seperti keadaan, peristiwa, perbuatan, dan lain-lain, baru kemudian dicari orang yang harus membayar pajaknya, yaitu subjeknya.

Pajak subjektif perseorangan ditujukan kepada orang/badan; pajak objektif/kebendaan ditujukan pada objek (benda, keadaan, peristiwa, perbuatan). Keuntungan dari pembedaan ini terletak dalam hal-hal berikut.

1) Bidang penafsiran, yaitu karena diketahui titik tangkapnya, maksud pembuat undang-undang (dengan kata-kata yang dimuat di dalam undang-undang itu) mudah ditafsirkan.

2) Bidang yurisdiksi, yaitu apabila ada permasalahan tentang, “Termasuk dalam kompetensi negara manakah suatu pajak tertentu dapat dipungut?”

Golongan pajak subjektif yang dipungut dari orang, yaitu pajak pendapatan atas penduduk, pajak kekayaan atas penduduk, dan badan hukum (termasuk juga badan-badan seperti perseroan).

Adapun pajak objektif adalah pajak yang dipungut karena keadaan berikut.

1) Pajak-pajak atas bagian-bagian dari kekayaan: a) pajak kekayaan atas bukan penduduk; b) verponding bangunan.

2) Pajak-pajak atas pendapatan:

a) pajak pendapatan atas bukan penduduk; b) pajak upah;

3) Pajak-pajak karena mempunyai/mempergunakan benda yang kena pajak:

a) pajak rumah tangga; b) pajak senjata api;

c) bea tetap karena mempunyai izin penyelidikan atas konsesi tambang;

d) pajak kendaraan bermotor.

Pajak yang dipungut karena perbuatan, yaitu sebagai berikut. 1) Pajak-pajak atas lalu lintas kekayaan:

a) bea balik nama karena perjanjian penyerahan atau atas akta mengenai kapal;

b) bea pemindahan karena hibah; c) bea meterai modal;

d) bea meterai atas nota-nota efek; e) pajak peredaran/penjualan.

2) Pajak-pajak atas lalu lintas hukum lainnya mencakup berbagai bea meterai.

3) Pajak-pajak atas lalu lintas barang: a) bea masuk dan bea keluar; b) bea statistik;

c) upah lelang.

4) Pajak-pajak atas pemakaian: a) cukai;

b) pajak potong hewan; c) pajak lotere.

5) Pajak yang dipungut karena peristiwa.

Bea pemindahan di Indonesia, sebagai sisa dari Ordonansi Bea Warisan 1901, yang telah dihapuskan sejak tahun 1949, yaitu karena diperolehnya harta tetap oleh seseorang dari penduduk Indonesia yang meninggal dunia.

d. Pajak Tidak Langsung

Pajak tidak langsung adalah pajak yang hanya dipungut apabila terdapat suatu peristiwa atau perbuatan, seperti penyerahan barang tidak

bergerak, pembuatan suatu akta, dan sebagainya. Pajak ini tidak dipungut dengan surat ketetapan pajak sehingga tidak ada kohirnya, misalnya bea meterai, bea balik nama, bea warisan, dan sebagian besar dari pajak.

Penyelenggaraan pajak-pajak langsung termasuk dalam kompetensi administrasi pajak (I’administration des contribution directs), sedangkan pelaksanaan pajak yang tidak langsung termasuk dalam tugas administrasi lain-lainnya (seperti I’administration des contribution indirectes, I’administration

des douanes, etc). Pembagian pajak langsung dan tidak langsung dalam

arti administratif (atau belasting teknis atau yuridis) ini menimbulkan reaksi hebat di antara para sarjana ekonomi. John Stuart Mill (1806-1873), seorang ahli ekonomi Inggris yang memelopori pembedaan antara pajak langsung dan pajak tidak langsung dalam arti ekonomis, menyatakan bahwa pajak langsung adalah pajak yang dikenakan terhadap orang yang harus menanggung dan membayarnya, sedangkan pajak tidak langsung dikenakan terhadap orang yang harus menanggungnya, tetapi dapat diharapkan pihak ketiga untuk memba yarnya.

Untuk menentukan apakah sesuatu termasuk pajak langsung atau pajak tidak langsung dalam arti ekonomis, ada tiga unsur yang terdapat dalam kewajiban memenuhi pajak.

1. Penanggung jawab pajak (wajib pajak) adalah orang yang secara formal yuridis diharuskan melunasi pajak, jika terdapat faktor atau kejadian yang menimbulkan sebab (menurut undang-undang) untuk dikenakan pajak.

2. Penanggung pajak adalah orang, yang dalam faktanya (dalam arti ekonomis) memikul beban pajaknya.

3. Pihak yang ditunjuk oleh pembuat undang-undang (belasting

destinataris), juga dinamakan pemikul pajak, yaitu orang yang

menurut maksud pembuat undang-undang harus dibebani pajak.

e. Pajak Tertulis dan Pajak Tidak Tertulis

Pajak tertulis adalah pajak yang pada permulaan tahun atau permulaan

suatu masa, yang berisi daftar susunan data tertentu dari para wajib pajak. Pajak ini merupakan pajak yang periodik (berkala) dalam arti bahwa setiap masa (pada umumnya satu tahun) dikenakan lagi pada objek pajaknya tersebut.

Adapun pajak tak tertulis adalah pajak yang timbul karena suatu kejadian atau perbuatan, yang tidak diketahui sebelumnya siapa yang

melakukannya, sehingga tidak mungkin disusun daftar wajib pajak terlebih dahulu.

Perbedaan antara pajak tertulis dan tak tertulis dianggap sangat kuno. Akan tetapi, untuk Indonesia, perbedaan kedua jenis pajak tersebut masih penting dan mempunyai akibat-akibat hukum tertentu walaupun bukan dengan nama tertulis dan tak tertulis, melainkan dengan pengertian pajak berkohir dan tidak berkohir. Akibat-akibat tersebut, yaitu persoalan timbulnya utang pajak, kedaluarsa, naik banding, penagihan susulan, dan bidang penagihan (dengan surat paksa).

f. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar

Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) adalah Surat Ketetapan Pajak yang menentukan besarnya jumlah pokok pajak, jumlah kredit pajak, jumlah kekurangan pembayaran pokok pajak, besarnya sanksi administrasi, dan jumlah pajak yang masih harus dibayar.

Pasal 13 Undang-Undang KUP dan Pasal 7 Peraturan Pemerintah Nomor 80 tahun 2007 tentang Tata Cara Pelaksanaan Hak dan Kewajiban Perpajakan berdasarkan: Undang-Undang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan menyatakan Kewenangan Direktur Jenderal Pajak untuk dapat menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) dalam hal terdapat pajak yang tidak atau kurang dibayar, dalam jangka waktu 5 (lima) tahun setelah saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak, Bagian Tahun Pajak, atau Tahun Pajak.

Direktur Jenderal Pajak diberi wewenang untuk menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar yang hanya terhadap kasus tertentu. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar dapat diterbitkan dalam hal berikut. 1. Hasil pemeriksaan atau keterangan lain pajak yang terutang tidak

atau kurang dibayar. Pemeriksaan dapat dilakukan di tempat tinggal, tempat kedudukan, dan/atau tempat kegiatan usaha Wajib Pajak. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar dapat juga diterbitkan dalam hal Direktur Jenderal Pajak memiliki data lain di luar data yang disampaikan oleh Wajib Pajak sendiri, dari data tersebut dapat dipastikan bahwa Wajib Pajak tidak memenuhi kewajiban pajak sebagaimana mestinya. Untuk memastikan kebenaran data itu, terhadap Wajib Pajak dapat dilakukan pemeriksaan.

2. Surat pemberitahuan tidak disampaikan dalam jangka waktu sebagaimana telah ditetapkan dalam Pasal 3 ayat (3)

Undang-Undang Pajak Penghasilan dan setelah ditegur secara tertulis tidak disampaikan pada waktunya sebagaimana ditentukan dalam surat teguran.

3. Surat Pemberitahuan yang tidak disampaikan pada waktunya walaupun telah ditegur secara tertulis dan tidak juga disampaikan dalam jangka waktu yang ditentukan dalam Surat Teguran membawa akibat Direktur Jenderal Pajak dapat menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar secara jabatan. Terhadap ketetapan seperti ini dikenai sanksi administrasi berupa kenaikan. Teguran, antara lain dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada Wajib Pajak yang beritikad baik untuk menyampaikan alasan atau sebab-sebab tidak dapat disampaikannya Surat Pemberitahuan karena sesuatu hal di luar kemampuannya (force majeur).

4. Hasil pemeriksaan atau keterangan lain mengenai Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah ternyata tidak seharusnya dikompensasikan selisih lebih pajak atau tidak seharusnya tarif 0% (nol persen).

5. Bagi Wajib Pajak yang tidak melaksanakan kewajiban perpajakan di bidang Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah, yang mengakibatkan pajak yang terutang tidak atau kurang dibayar dikenai sanksi administrasi dengan menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar ditambah dengan kenaikan sebesar 100% (seratus persen).

6. Kewajiban pembukuan sebagaimana diatur dalam Pasal 29 tidak dipenuhi sehingga tidak dapat diketahui besarnya pajak yang terutang; atau bagi Wajib Pajak yang tidak menyelenggarakan pembukuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 sehingga Direktur Jenderal Pajak tidak dapat menghitung jumlah pajak yang seharusnya terutang, Direktur Jenderal Pajak berwenang menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar dengan penghitungan secara jabatan, yaitu penghitungan pajak didasarkan pada data yang tidak hanya diperoleh dari Wajib Pajak saja.

Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar ini tetap dapat diterbitkan walaupun jangka waktu 5 (lima) tahun telah lewat. Penerbitannya berdasarkan hasil penelitian terhadap putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap terhadap Wajib Pajak yang dipidana

karena melakukan tindak pidana di bidang perpajakan atau tindak pidana lainnya yang dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara.

Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT) adalah surat ketetapan pajak yang menentukan tambahan atas jumlah pajak yang telah ditetapkan. Penerbitan SKPKBT ini didasarkan pada:

1. Hasil pemeriksaan atau pemeriksaan ulang terhadap data baru yang mengakibatkan penambahan jumlah pajak yang terutang termasuk data yang semula belum terungkap; atau

Penerbitan SKPKBT ini dalam jangka waktu 5 (lima) tahun setelah saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak, Bagian Tahun Pajak, atau Tahun Pajak. Sebagai konsekuensinya jumlah pajak yang tidak atau kurang dibayar dalam SKPKBT ditambah sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 100% (seratus persen) dari jumlah pajak yang tidak atau kurang dibayar.

2. Hasil penelitian atas putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap terhadap Wajib Pajak yang dipidana karena melakukan tindak pidana di bidang perpajakan atau tindak pidana lainnya yang dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara. SKPKBT ini diterbitkan dalam jangka waktu 5 (lima) tahun setelah saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak, Bagian Tahun Pajak, atau Tahun Pajak. Sebagai konsekuensinya jumlah pajak yang tidak atau kurang dibayar dalam SKPKBT ditambah sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 100% (seratus persen) dari jumlah pajak yang tidak atau kurang dibayar.

Demikian pula, SKPKBT yang diterbitkan berdasarkan hasil penelitian terhadap putusan pengadilan dapat juga diterbitkan setelah jangka waktu 5 (lima) tahun terlampaui sejak saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak, Bagian Tahun Pajak, atau Tahun Pajak. Akan tetapi, jumlah pajak yang tidak atau kurang dibayar dalam SKPKBT ditambah sanksi administrasi berupa bunga sebesar 48% dari jumlah pajak yang tidak atau kurang dibayar.

Dalam dokumen Hukum Administrasi Perpajakan (Halaman 179-188)