• Tidak ada hasil yang ditemukan

TEMUAN DAN INTERPRETASI DATA PENELITIAN

4.4 Profil Informan dan Temuan Data

Profil informan merupakan biodata sumber pemberi informasi yang mendukung pemenuhan data penelitian. Pentingnya informan bertujuan untuk memfokuskan masalah penelitian karena dengan adanya informan maka membantu penggambaran masalah di lokasi penelitian. Adapun informan yang menjadi pilihan peneliti yaitu:

1. Istri yang bekerja di sektor formal, mempunyai anak, dan juga suami yang bekerja.

2. Suami dari istri yang bekerja di sektor formal dan juga mempunyai pekerjaan.

Dari kedua kriteria informan tersebut, peneliti berharap dapat memperoleh informasi yang akurat mengenai keterlibatan istri yang bekerja dalam

38

pengambilan keputusan di dalam keluarga. Untuk lebih jelasnya maka peneliti akan mendeskripsikan informan sebagai berikut:

Informan Pertama

Nama : Dra. Berniati Nadeak

Umur : 46 Tahun

Etnis/suku : Batak Toba Agama : Kristen Protestan Tingkat pendidikan : S1

Pekerjaan : PNS (Guru agama di SMA/SMK) Lama bekerja : 15 Tahun

Jam kerja : 08.00-17.00 Pendapatan : 4 juta-an

Ibu Berniati Nadeak adalah seorang guru yang mengajar bidang study agama di SMA/SMK. Beliau saat ini berusia 46 tahun dan sudah bekerja selama kurang lebih 15 tahun dengan pendapatan berkisar Rp. 4.000.000,00 sampai Rp. 5.000.000,00 per bulan. Ibu Berniati memiliki seorang anak perempuan yang saat ini berusia 16 tahun dan sedang menduduki bangku Sekolah Menengah Atas. Suami Ibu Berniati juga adalah seorang PNS di bagian keuangan yang sudah bekerja selama 25 tahun dengan pendapatan berkisar Rp. 4.000.000. Beliau bernama Efendi Lumban Gaol yang sudah berusia 49 tahun. Selain menjadi seorang staf keuangan di salah satu departemen, beliau juga merupakan sintua/ penatua agama di salah satu gereja di Kota Medan. Dengan peran Bapak sebagai penatua gereja secara tidak langsung membuat keterlibatan Ibu Berniati dalam

39

kegiatan agama juga meningkat seperti dalam acara-acara kebaktian, hari-hari besar/perayaan keagamaan, dan lain-lain.

Dengan pendidikan akhir S1 yang dimiliki Ibu Berniati membuat beliau tetap memilih bekerja sebagai guru, meskipun beliau sudah memiliki anak dan keluarga. Keputusan beliau untuk tetap bekerja juga tidak dipengaruhi oleh suami. Hal ini dikarenakan dengan bekerja ibu Berniati bisa memenuhi kebutuhan pribadi dan membantu memenuhi kebutuhan keluarga.

Dengan peran yang dimiliki Ibu Berniati sebagai guru, istri dan ibu membuat keterlibatan ibu Berniati di rumah dapat dikatakan sedikit mengingat jam kerja beliau dari pukul 08.00- 17.00. Dalam menjalankan perannya sebagai istri dan ibu dalam keluarga, terutama dalam mengurus domestik seperti membersihkan rumah, mencuci, memasak, dan lain-lain, biasanya ibu Berniati dibantu oleh suami dan anaknya. Namun sebelumnya Ibu Berniati memakainya jasa tukang cuci, tetapi karena mereka sering kehilangan barang di rumah membuat saat ini mereka tidak memakai jasa itu lagi dan melaksanakan pekerjaan domestik tanpa bantuan orang lain. Peran yang dimilikinya membuat Ibu Berniati harus pandai memaksimalkan waktu yang dimiliki untuk menyeimbangkan antara pekerjaan dan keluarga. Dengan kondisi seperti ini yang sudah kurang lebih 15 tahun dijalaninya membuat Ibu Berniati sudah terbiasa.

Dalam pengambilan keputusan dalam keluarga ibu Berniati terlibat aktif seperti dalam pengambilan keputusan dalam bidang produksi, pembentukan keluarga, dan sosial kemasyarakatan yang semua diputuskan beliau meskipun mendiskusikan kepada suami tetapi keputusan akhir tetap ditangan beliau.

40 Informan Kedua

Nama : Dra. Ratna Silalahi

Umur : 51 Tahun

Etnis/suku : Batak Toba Agama : Kristen Protestan Tingkat pendidikan : S1

Pekerjaan : PNS (Guru Ekonomi SMA) Lama bekerja : 24 Tahun

Jam kerja : 08.00-15.00/11.00-17.00 (5 hari kerja) Pendapatan : 4 juta-an

Ibu Ratna adalah ibu dari seorang anak perempuan yang saat ini sudah berusia 13 tahun dan sedang duduk dibangku SMP. Usia Ibu Ratna saat ini 51 tahun dengan pekerjaan sebagai guru ekonomi di salah satu Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kabupaten Deli Serdang, dan memiliki penghasilan sekitar 4 jutaan.

Keluarga Ibu Ratna saat ini tidak mempunyai pembantu; semua kegiatan dalam rumah tangga dikerjakan anggota keluarga. Kegiatan rutin dalam keluarga, seperti memasak, membereskan rumah tidak dilakukan oleh ibu Ratna dibantu suami dan anaknya. Karena pembantu yang sebelumnya mengerjakan pekerjaan rumahnya sudah menikah dan tidak bekerja lagi. Dengan jam kerjanya 08.00-15.00 atau 11.00-17.00, biasanya Ibu Ratna mengerjakan pekerjaan rumah yang sempat dia kerjakan saja, mengingat dalam keluarganya tidak ada pembagian yang jelas dalam mengerjakan pekerjaan rumah dalam artian siapa yang memiliki waktu dia yang mengerjakan sama. Begitu juga dalam mengantar sekolah dan

41

mengajari anaknya, Ibu Ratna bergantian dengan suami disesuaikan dengan jam kerja mereka.

Dalam menjalankan perannya sebagai istri, ibu, dan pekerja, Ibu Ratna menjalaninya dengan senang hati dan rasa semangat, mengingat menjadi guru adalah pilihan dan cita-citanya dari sejak kecil dulu. Selain bisa membantu perekonomian keluarga, Ibu Ratna merasa dengan pekerjaannya ia dapat mengapresiakan diri, lebih banyak bersosialisasi dengan orang sehingga tidak merasa bosan di rumah terus menjalani hari-hari.

Dalam kesehariannya Ibu Ratna juga aktif dalam kegiatan-kegiatan di luar seperti keagaamaan dan marga, mengingat beliau adalah istri seorang penatua gereja (sintua) dan ketua dari perkumpulan marga, terutama dalam perayaan-perayaaan biasanya Ibu Ratna terlibat dalam kepengurusan. Ibu ratna juga sering memanfaatkan waktu luang dengan jalan-jalan bersama anak dan teman-temannya. Ia memiliki kebebasan dalam menjalani aktivitas di luar rumah baik itu untuk bekerja maupun memanfaatkan waktu luang.

Dalam pengambilan keputusan di dalam keluarga Ibu Ratna melakukan bersama-sama/ berbagi dengan suami, misalnya: dalam pengambilan keputusan di bidang produksi Ibu Ratna dan suami saling diskusi tetapi pada akhirnya Ibu Ratna yang memutuskan seperti dalam mengelola pendapatan/gaji, mengurus dan memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan anak, serta keterlibatan dalam kegiatan di luar, yang semua itu didiskusikan oleh Ibu Ratna dengan suami tetapi tetap yang memutuskan adalah Ibu Ratna, dalam pengambilan keputusan di bidang pengeluaran kebutuhan pokok secara keseluruhan diambil/diputuskan oleh Ibu Ratna sendiri tanpa ada diskusi atau campur tangan dari suami mengingat

42

suami Ibu Ratna mempercayakan hal tersebut kepadanya, mulai dari pengeluaran untuk makan, kebutuhan sehari-hari, dan kebutuhan anak-anak.

Begitu juga dalam pengambilan keputusan di bidang pembentukan keluarga dan pengambilan keputusan di bidang kegiatan sosial selalu ada diskusi antara Ibu Ratna dan suami sehingga masing-masing memiliki keterlibatan untuk memutuskan misalnya seperti dalam memberikan bantuan dan pembelian barang-barang mewah biasanya diputuskan oleh Ibu Ratna mengingat Ibu Ratna yang memegang uang, tetapi dalam memilih sekolah dan fasilitas pendidikan anak biasanya diputuskan oleh suaminya dikarenakan beliau yang lebih mengetahui lebih banyak informasi dan kemampuan anaknya, mengingat suami beliau lah yang bertanggung jawab dalam membantu anak berdikusi pekerjaan rumah (PR). Demikian juga dalam mengikuti berbagai kegiatan seperti arisan, kegiatan STM, dan keterlibatan dalam berbagai kepengurusan organisasi dimana Ibu Ratna dan suaminya saling berdiskusi dan keputusan ada di kedua belah pihak.

Informan Ketiga

Nama : Yenni Juita Nababan

Umur : 31 Tahun

Etnis/suku : Batak Toba Agama : Kristen Protestan Tingkat Pendidikan : S1 Komunikasi

Pekerjaan : PNS di Dinas Perhubungan Serdang Bedagai Lama bekerja : 4 tahun, sebelumnya di swasta selama 2 tahun Jam kerja : 08.00-16.00

43 Pendapatan : 3 juta-an

Ibu Yenni adalah seorang ibu yang masih muda. Diusianya masih 31 tahun ia telah mempunyai dua orang anak laki-laki yang masing-masing berusia 4 dan 2 tahun. Saat ini ibu Yenni masih berencana untuk memiliki anak lagi mengingat beliau belum memiliki anak perempuan dan menurutnya alangkah baiknya kalau dalam keluarga itu ada anak laki-laki dan perempuan.

Ibu Yenni bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di Dinas Perhubungan Deli Serdang dan sudah bekerja selama 6 tahun yang sebelumnya bekerja sebagai karyawan swasta selama 2 tahun. Suami Ibu Yenni juga adalah seorang pegawai di salah satu perusahaan swasta. Ibu Yenni tinggal bersama suami, anak-anak, ibu mertua, dan seorang anak gadis bernama Putri yang sudah sekitar 3 tahun tinggal di rumahnya, Putri membantu Ibu Yenni untuk menjaga anak-anaknya terkadang dibantu mertuanya dan mengerjakan pekerjaan rumah ketika Ibu Yenni bekerja.

Dalam pembagian kerja di keluarga Ibu Yenni masih bertanggungjawab sepenuhnya dalam pekerjaan domestik tanpa ada bantuan dari suami meskipun sesekali dibantu anak gadis (Putri) yang tinggal dirumahnya.

Dengan pekerjaannya sebagai pegawai negeri Ibu Yenni bekerja dari pukul 08.00-16.00, setiap hari Senin sampai hari Jumat sedangkan suaminya bekerja dari hari Senin sampai hari Sabtu dengan jam kerja sampai pukul 17.00. Ibu Yenni selalu diantar oleh suaminya untuk bekerja. Setelah memiliki anak Ibu Yenni hanya disibukkan oleh urusan kerjaan dan keluarga, meskipun sebelum memiliki anak Ibu Yenni masih sering kumpul-kumpul dan jalan-jalan sama teman-temannya tetapi setelah memiliki anak dan mengingat suaminya juga mengharuskannya untuk pulang tepat waktu.

44

Dalam pengambilan keputusan di bidang produksi dan pengeluaran kebutuhan pokok diputuskan oleh Ibu Yenni, karena menurutnya istri yang seharusnya mengurusi hal-hal tersebut karena itu pekerjaan perempuan, sedangkan suami cukup sekedar mengetahui. Untuk pengambilan keputusan di bidang pembentukan keluarga dan bidang kegiatan sosial dalam keluarga ibu Yenni diputuskan oleh suaminya dengan diskusi terlebih dahulu.

Informan Keempat

Nama : Ramli Ritonga

Umur : 55 Tahun

Etnis/suku : Batak Toba Agama : Kristen Protestan Tingkat pendidikan : D2

Pekerjaan : Teknisi operasional PT.Angkasa Pura II Lama Bekerja : 31 Tahun

Jam kerja : 08.00-20.00/20.00-08.00 Pendapatan : 5 juta-an

Bapak Ramli Ritonga adalah suami dari istri yang bekerja sebagai seorang guru, saat ini ia berusia 55 tahun dan bekerja di Teknisi Operasional di Angkasa Pura. Pekerjaan ini sudah dijalani selama 31 tahun. Dalam kesehariannya, Bapak Ramli setelah pulang kerja biasanya hanya di rumah saja beristirahat, sekaligus membantu anak dan istrinya dalam mengerjakan pekerjaan rumah. Dalam keluarganya tidak ada pembagian kerja yang sexist mengingat beliau ikut dalam mengerjakan pekerjaan domestik seperti menyapu, mengepel, menggosok, dan

45

lain-lain. Pekerjaan ini beliau lakukan ketika ia memiliki waktu apakah itu sebelum bekerja atau pun bekerja.

Pada pengambilan keputusan di keluarga terjalin hubungan yang seimbang antara Bapak Ramli dengan istrinya, dimana Bapak Ramli terlibat pengambilan keputusan di bidang pembentukan keluarga, sedangkan istrinya terlibat pengambilan di bidang produksi, pengeluaran kebutuhan pokok, dan kegiatan sosial.

Informan Kelima

Nama : Helmi Situmeang

Umur : 50 tahun

Etnis/suku : Batak Toba Agama : Kristen Protestan Tingkat Pendidikan : S1

Pekerjaan : PNS (Guru Agama di SMA) Lama bekerja : 24Tahun

Jam kerja : 08.00-13.30 (5 hari dalam seminggu) Pendapatan : 4 juta-an

Ibu Helmi adalah seorang ibu dari dua orang anak perempuan yang saat ini sudah berusia masing-masing 17 dan 19, dimana kedua anaknya sedang duduk dibangku SMA dan Perguruan tinggi di Kota Medan. Ibu Helmi bekerja sebagai guru agama di salah satu Sekolah Menegah Tingkat Atas yang sudah ia jalani selama 24 tahun sedangkan suaminya Bapak Saragih bekerja sebagai pedagang.

46

Dalam mengerjakan pekerjaan domestik di keluarga Ibu Helmi dilakukan secara bersama dengan suami dan anak-anak, tanpa ada pembagian kerja yang jelas. Menurut penuturannya, secara umum pekerjaan rumah dan dapur itu ditangani olehnya selaku istri, tapi ada kalanya dibantu suami ketika ia membutuhkan.

Dalam pengambilan keputusan di keluarga Ibu Helmi melakukan diskusi dengan suaminya meskipun dalam penentuan akhir Ibu Helmi yang terlibat atau mendominasi seperti dalam bidang produksi, pengeluaran kebutuhan pokok, dan pembentukan keluarga dan kegiatan sosial.

Informan Keenam

Nama : Suyanto

Umur : 42 Tahun

Etnis/suku : Jawa

Agama : Islam

Tingkat Pendidikan : SMA Pekerjaan : Pedagang Lama bekerja : 22 Tahun Jam kerja : Pagi- Siang Pendapatan : 3 juta-an

Bapak Suyanto merupakan seorang pedagang batik, sprei yang berasal dari solo, merantau ke kota medan sejak 22 tahun silam. Pak Suyanto memiliki istri yang bernama Sunarti yang bekerja sebagai pegawai swasta dan seorang anak

47

perempuan yang berusia 17 tahun dan sedang duduk dibangku SMA. Dalam kesehariaannya Pak Suyanto mulai pergi berjualan mulai pukul 09.00 sampai sore.

Di keluargaPak Suyanto, pekerjaan domestik seperti memasak, mencuci, beresin rumah dilakukan secara bersama-bersama dengan anak dan istri. Berdasarkan penuturan Bapak Suyanto meskipun istrinya bekerja tetapi beliau tidak meninggalkan urusan rumah/keluarga dan menyeimbangkan antara pekerjaan dan keluarga sehingga sampai saat ini tidak ada masalah bagi Pak Suyanto ketika istrinya bekerja. Selain bekerja, istrinya juga ikut kegiatan sosial seperti kegiatan pengajian yang dilakukan sekali seminggu dan kegiatan olahraga yang dilakukan dua kali dalam seminggu dan juga berbagai kegiatan lainnya seperti kumpul-kumpul sama teman-teman. Dengan peran yang dimiliki oleh istrinya Pak Suyanto tidak merasa keberatan selama kegiatan tersebut positif dan meminta izin terlebih dahulu.

Dalam pengambilan keputusan di keluarganya Pak Suyanto melakukan secara bersama dengan istrinya termasuk pengambilan keputusan dalam bidang produksi, bidang pengeluaran kebutuhan pokok, bidang pembentukan keluarga, dan bidang kegiatan sosial. Meskipun dalam pengambilan keputusan untuk bidang-bidang tertentu ada yang diputuskan oleh istrinya sendiri tanpa harus melakukan diskusi dengannya.

Informan Ketujuh

Nama : Lastri

Umur : 54 Tahun

48

Agama : Islam

Tingkat Pendidikan : SMA

Pekerjaan : Pegawai swasta Lama bekerja : 25 Tahun Jam kerja : 08-00-16.00 Pendapatan : 3 juta-an

Ibu Lastri seorang ibu yang memiliki anak 3 orang, 2 laki-laki dan 1 perempuan. Ibu Lastri bekerja sebagai seorang pegawai sama dengan suaminya yang juga seorang pegawai di Telkom. Ibu Lastri merupakan Suku Melayu yang asalnya dari Medan tepatnya daerah Pancing, sedangkan suaminya perpaduan Suku Aceh dan Jawa yang asalnya dari Aceh.

Dalam mengerjakan pekerjaan domestik Ibu Lastri melibatkan 2 orang pembantu, yang mana hal ini sudah berlangsung sejak Ibu Lastri menikah. Mengingat Ibu Lastri dan suami memiliki pekerjaan dan kesibukan sehingga tidak memiliki waktu untuk mengurus/mengerjakan pekerjaan rumah dan didukung oleh keuangan keluarga yang menurutnya cukup untuk membayar pembantu.

Peran yang dijalani Ibu Lastri sebagai istri dan pekerja tidak membatasi Ibu Lastri untuk mengikuti kegiatan pengajian, senam, dan jalan atau kumpul bersama teman-teman, hal ini juga dikarenakan suaminya selalu mendukung dan memberi izin, mengingat suami ibu lastri juga memiliki kegiatan yang sama dengannya.

Dalam pengambilan keputusan di keluarga, terkadang dilakukan Ibu Lastri sendiri tanpa diskusi atau memberi tahu terlebih dahulu, terutama hal-hal yang menurut Ibu Lastri nantinya akan menjadi masalah ketika dikasih tahu kepada

49

suaminya, dalam urusan anak, kebutuhan sehari-hari diputuskan Ibu Lastri sendiri sedangkan seperti investasi dan pembelian barang-barang yang mahal baru ibu Lastri melibatkan suaminya.

Informan Kedelapan

Nama : Esra Tetty Simatupang

Umur : 44 Tahun

Etnis/suku : Batak Toba Agama : Kristen Protestan Tingkat Pendidikan : D3

Pekerjaan : Asuransi Lama bekerja : 12 Tahun

Jam kerja : 10 jam dalam sehari Pendapatan : 4 juta-an

Ibu Esra adalah seorang istri yang berusia 44 tahun dengan 4 orang anak laki-laki yang masih bersekolah di tingkat SD, SMP, dan SMA. Ibu Esra bekerja sebagai pegawai asuransi begitu juga dengan suaminya yang bekerja sebagai pegawai. Pekerjaan yang dimiliki Ibu Esra dan suami membuat mereka hanya memiliki waktu berkumpul bersama dengan anak-anak hanya pada malam hari.

Dalam mengerjakan pekerjaan domestik Ibu Esra dibantu oleh keempat orang anaknya, beliau melakukan pembagian dimana anak pertama menyapu dan mengepel, anak kedua cuci piring dan memberesi kamar, anak ketiga nyapu halaman dan anak keempat nyiram bunga & tanaman sedangkan suaminya tidak

50

pernah ikut dalam mengerjakan pekerjaan rumah mengingat kesibukan yang dimilikinya sehingga waktu untuk di rumah terbatas.

Dalam pengambilan keputusan di keluarga seperti dalam bidang produksi, pembentukan keluarga dan kegiatan sosial, Ibu Esra terlebih dahulu melakukan diskusi dengan suaminya dan dalam memutuskan terkadang diputuskan oleh Ibu Esra dan suaminya kecuali dalam bidang pengeluaran pokok yang diputuskan Ibu Esra sepenuhnya. Seperti dalam bidang produksi terkait izin anak-anak untuk pergi atau ikut kegiatan itu diputuskan oleh suaminya sedangkan dalam pemilihan fasilitas pendidikan hal itu diputuskan oleh Ibu Esra, demikian juga dalam bidang pembentukan keluarga dan bidang kegiatan sosial.

4.4.1 Kondisi Sosial Ekonomi Keluarga Informan

Kondisi sosial keluarga informan tergolong menengah keatas, mereka disegani dan diperhitungkan dalam lingkungan tempat tinggal dan sekitarnya. Dalam kesehariannya mereka yang sibuk dan memiliki waktu yang terbatas di rumah membuat mereka jarang bersosialisasi dengan tetangga mereka. Setelah pulang bekerja mereka biasanya berdiam saja di rumah. Sama hal nya juga dengan anak-anak mereka yang tidak memiliki banyak waktu dirumah di karenakan sehabis pulang sekolah mereka mengikuti bimbingan belajar. Kegiatan sosial dengan tetangga, teman-teman dan saudara mereka lakukan hanya di akhir pekan. Selain itu, diakhir pekan mereka juga sering liburan bersama keluarga, serta menghadiri berbagai acara dan kegiatan lainya.

Kondisi perekonomian keluarganya tergolong menengah keatas dengan penghasilan suami dan istri yang dijumlah sekitar 6-8 juta dapat dikatakan cukup

51

untuk kebutuhan keluarga yang tinggal di perkotaan karena mereka juga memiliki anak 2-3 orang bahkan ada keluarga yang hanya memiliki satu orang anak. Kondisi ekonomi yang baik juga terlihat dari bangunan rumah yang bagus dan mewah lengkap dengan berbagai perabotan di dalammya, kepemilikan kendaraan pribadi, dan investasi yang berupa tanah dan deposito di bank. Selain itu, terlihat juga dari gaya hidup mewah dari masing-masing anggota keluarga seperti barang-barang yang mereka pakai.

4.3 Interpretasi Data

4.3.1 Peran Istri Yang Bekerja Dalam Keluarga

Secara umum, yang dimaksud dengan peran dalam keluarga adalah segala tindakan yang dilakukan setiap anggota keluarga di dalam kehidupan mereka yang berkaitan dengan peran domestik dan peran publik (Rochie, 2009:9). Peran yang dijalanin oleh istri dan suami tidak terlepas dari nilai dan norma yang ada di masyarakat, mengingat ada anggapan pantas atau tidak pantasnya peran tersebut untuk dijalankan suami istri. Seperti peran yang pantas dijalankan oleh suami dalam keluarga yaitu bertanggung jawab terhadap seluruh anggota keluarga, mencari nafkah untuk keluarga, melindungi seluruh anggota keluarga dan mendidik isteri dan anak-anak, sedangkan peran yang pantas untuk dijalankan oleh istri dalam keluarga yaitu mengurus berbagai kebutuhan/keperluan rumah tangga, mendampingi suami, mengurus anak, mengatur gizi makanan keluarga, dan mengatur nafkah yang diberikan oleh suami.

Namun, dengan perkembangan zaman dan perubahan nilai norma yang disertai keterlibatan istri dalam bekerja mengubah pandangan masyarakat akan

52

pantasnya suatu peran untuk dijalani suami atau istri, dapat dilihat bahwa mencari nafkah sekarang tidak hanya dilakukan oleh suami melainkan melibatkan istri, hal ini dipertegas oleh Ibu Berniati:

“Suatu hal kebanggaan bisa disamping memenuhi kebutuhan pribadi bisa membantu kebutuhan keluarga, semacam ada kepuasan diri sendiri ketika saya bekerja.”

(Sumber: Hasil wawancara, 05 Mei 2015, pukul 19.00 wib – selesai)

Peran yang melekat pada istri yaitu mengurus rumah tangga, mengurus anak-anak saat ini sudah tidak sepenuhnya dijalani oleh istri melainkan melalui kerjasama antara suami dan istri, hal ini dipertegas dengan pernyataan Ibu Ratna:

“ kalo yang pilihin sekolah si Ribka (anaknya) bapaknyalah karna bapaknya yang ngajarin si Ribka dirumah, jadi lebih tahulah bapak sekolah mana yang lebih cocok untuk nya trus kalo yang antar Ribka itu ganti-gantian nantulang sama tulang liat jam kerjanya nantulang sama tulang lah.”

(Sumber: Hasil wawancara, 05 Mei 2015, pukul 20.00 wib – selesai)

Sama halnya dalam pekerjaan rumah tangga (domestik) yang dilakukan secara bersama oleh istri, suami dan anak-anak tanpa terfokus kepada tanggungjawab istri, hal ini seperti dikemukan oleh Bapak Ramli:

“tidak ada pembagian kerja dirumah, pekerjaan itu dikerjakan bersama. Siapa yang punya waktu untuk menyapu, ya menyapu dia. Kami gak ada bagi-bagi tugas karena dengan itu keisyafan diri sendiri yang diutamakan.”

(Sumber: Hasil wawancara, 05 Mei 2015, pukul 20.00 wib – selesai)

Pernyataan Bapak Ramli didukung dengan pernyataan yang sama oleh Ibu Berniati:

“dalam mengerjakan pekerjaan rumah, kami lakukan bersama-sama, yang mana pekerjaan yang bisa dikerjai ya dikerjai,

53

biasanya itu si iges (anaknya) cuci piring, ngepel, kalo bapaknya nyiram bunga, nyapu kalo nantulang masak lah.

(Sumber: Hasil wawancara, 05 Mei 2015, pukul 20.00 wib - selesai)

Keterlibatan suami dalam aktivitas di ruang domestik bukan menjadi hal yang mengherankan bagi saat ini, mengingat suami melakukan hal tersebut bukan atas dasar paksaan tapi lebih kepada keseimbangan dalam keluarga dimana istri terlibat mencari nafkah sedangkan suami terlibat dalam pekerjaan di sektor domestik.

Matriks 4.1

Dokumen terkait