• Tidak ada hasil yang ditemukan

Intimasi yang dibangun berdasarkan hal positif yang dimunculkan setelah

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

D. Pembahasan

1. Intimasi yang dibangun berdasarkan hal positif yang dimunculkan setelah

a. Saling Mendengarkan Cerita Pasangan

Saling mendengarkan cerita pasangan merupakan salah satu bentuk dari komponen berbagi (sharing). Menurut Masters (dalam Abdurochim, 2015) berbagi (sharing) adalah salah satu kunci dalam mengembangkan intimasi dengan melalui self-disclosure. Keinginan untuk memberitahu peasangan mengenai hal apa yang dipikirkan dan dirasakan. Berbagi kekhawatiran dan masalah pribadi yang lain juga akan membantu berkembangnya intimasi dalam sebuah hubungan.

Dalam sebuah hubungan tidak hanya dibutuhkan komponen berbagi, namun juga mendengarkan. Dalam konteks ini, mendengarkan bukan hanya sekadar mendengarkan. Mendengarkan dengan telinga dan juga hati. Hal ini disebabkan, mendengarkan merupakan bentuk rasa hormat terhadap pikiran dan perasaan pasangan. Hal ini didukung oleh Doells (2003) bahwa mendengarkan terbagi dalam dua jenis. Mendengarkan dengan pengertian dan mendengarkan dengan tanggapan. Seseorang yang bercerita dan didengarkan dengan penuh pengertian oleh pasangannya, cenderung merasa lebih puas dalam hubungannya.

Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang mana informan selalu berbagi cerita dengan pasangan, saling mendengarkan satu sama lain. Bahkan hal tersebut salah satu cara informan untuk menghabiskan waktu bersama. Dalam mendengarkan pasangan, informan mencoba mendengarkan dengan baik dan berusaha memberikan respon ketika pasangan bercerita. Bagi informan, berbagi cerita merupakan bentuk komunikasi. Hal ini sangat penting dalam membangun dan mempertahankan sebuah hubungan.

b. Empati Kepada Pasangan

Empati (Masha, 2013) merupakan suatu kemampuan untuk memberikan respon emosi sesuai dengan apa yang didasarkan orang lain berdasarkan kemampuannya dalam mengidentifikasi situasi dan kondisi yang dihadapi orang lain, dimana komponen afeksi dan kognisi terlibat secara bersamaan. Sejalan dengan hal tersebut, Keen (2007) menjelaskan bahwa empati adalah mengenali perasaan orang lain dan memahami pengalaman emosional orang lain tanpa harus terlibat di dalamnya. Empati merupakan sebuah sikap bagaimana individu memahami perasaan seseorang tanpa mengalaminya sendiri. Melalui pernyataan di atas, dapat diketahui bahwa empati merupakan kemampuan individu dalam mengenali, memahami perasaan orang tanpa harus mengalaminya sendiri.

Empati sendiri merupakan salah satu komponen dalam membangun intimasi. Dengan empati, seseorang dapat merasakan pengalaman yang dialami oleh pasangan, mengenali dan mengenali emosi pasangan, pikiran dan sikap pasangan tanpa harus membicarakannya. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang mana saat pasangannya mengalami masalah, maka informan akan berusaha selalu ada untuk pasangan. Hal ini dikarenakan, informan memosisikan dirinya sebagai pasangan yang sedang mengalami masalah, merasa sedih dan khawatir. Melalui empati tersebut informan dapat memahami pasangan tentang perasaan maupun pikiran pasangan. Sehingga informan dapat membantu pasangannya untuk meringankan hal tersebut, seperti: berbagi cerita dan mengajak jalan-jalan agar dapat menyegarkan kembali

Rasa empati yang dimunculkan individu kepada pasangan akan memicu individu tersebut untuk semakin peka terhadap pasangan. Semakin besar empatimu kepada pasangan, maka semakin besar pula seseorang peka kepada pasangannya. Kepekaan merupakan salah satu faktor pendukung dalam keberhasilan sebuah hubungan. Hal ini sesuai dengan penelitian ini bahwa saat informan melihat pasangannya sedang sedih maka ia akan bertanya kepada pasangan mengenai masalah yang sedang dihadapi. Hal tersebut membuat informan mengetahui dan merasakan apa yang sedang pasangannya alami dan rasakan. Informan mencoba mengajak pasangannya untuk

makan bersama atau jalan-jalan. Hal tersebut ia lakukan untuk mengurangi rasa sedih pasangannya. Melalui hal tersebut, informan tahu bahwa ketika pasangannya diam saja dan tidak menanggapi informan, maka pasangannya sedang memiliki masalah. Sejalan dengan hal tersebut, informan segera menanyakan hal apa yang sedang pasangannya alami.

c. Kepercayaan Kepada Pasangan

Pada dasarnya setiap orang memiliki keinginan untuk membangun sebuah hubungan intrapersonal dengan orang lain, tidak terkecuali orang-orang yang memiliki pengalaman perceraian orangtua. Perceraian tersebut membawa dampak yang akan terus terbawa hingga anak dewasa. Akan tetapi, beberapa anak terlebih informan dapat melihat pengalaman perceraian orangtua dari kaca mata yang berbeda. Sehingga informan dapat belajar suatu hal melalui pengalaman orangtuanya untuk memelihara sebuah hubungan dengan lebih baik, agar perceraian yang terjadi pada orangtua tidak terjadi padanya kelak. Selain itu, pengalaman negatif mengenai ayahnya, membuat informan merasa bahwa perceraian orangtuanya memberikan rasa bebas dari perasaan tertekan. Hal ini menyebabkan, informan cenderung dapat membangun kepercayaan dengan orang lain .

Trust dapat diartikan sebagai harapan dan kepercayaan

individu terhadap reabilitas orang lain (Henslin dalam king, 2002). Menurut Johnson (dalam Dewi, 2006) trust merupakan dasar dalam membangun dan mempertahankan sebuah hubungan intrapersonal. Melalui pernyataan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa trust adalah kepercayaan individu terhadap seseorang yang menjadi dasar dalam mempertahankan hubungan intrapersonal. Ketika seseorang dapat membangun kepercayaan kepada orang lain terlebih kepada pasangan, seseorang maka individu tersebut dapat membangun intimasi dengan pasangan. Hal ini dikarenakan kepercayaan merupakan bagian dari intimasi yang terus berkembang seiring berjalannya waktu (Masters dalam Abdurochim, 2015)

Trust tumbuh dan berkembang ketika seseorang bersedia

terbuka dalam membicarakan pemikiran-pemikiran mengenai informasi suatu hal, kesimpulan, perasaan dan reaksi pada suatu siatuasi. Selanjutnya pasangan akan memberikan respon positif berupa penerimaan, dukungan, kooperatif dan membalas kita dengan menjadi terbuka terhadap pemikirannya (Johnson dan Johnson, 1997). Dalam penelitian ini, informan memunculkan trust atau kepercayaan setelah melakukan komunikasi secara intens dengan pasangannya pada masa pendekatan dan kemudian memunculkan empati kepada pasangan. Melalui keterbukaan masing-masing individu, informan dapat memunculkan rasa percaya ketika pasangannya sedang pergi atau

bertemu dengan orang lain. Informan percaya bahwa pasangannya dapat menjaga diri dan perasaannya. Salah satu informan memunculkan rasa percaya kepada pasangannya karena diperkuat oleh keyakinannya mengenai hukum karma, yang mana suatu hal yang kita lakukan akan berbalik kepada kita. Sehingga informan memberikan kepercayaan kepada pasangannya. Akan tetapi, jika pasangannya berbuat curang, maka hal tersebut akan kembali kepada pasangannya.

d. Kejujuran Kepada Pasangan

Intimasi tidak hanya terbentuk oleh kepercayaan kepada pasangan, namun juga kejujuran. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, jujur berarti lurus hati, tidak berbohong, tidak curang, tulus dan ikhlas. Seseorang berkata jujur ketika apa yang disampaikan sesuai dengan kenyataan. Kejujuran dapat bersifat kondisional, sepanjang tidak keluar dari makna dasarnya. Sejalan dengan hal tersebut, kejujuran merupakan kunci sebuah kepercayaan, sehingga ketika seseorang berbohong maka ia akan merusak kepercayaan yang diberikan.

Menurut Masters (dalam Abdurochim, 2015), kejujuran merupakan salah satu komponen penting dalam intimasi, meskipun demikian, terlalu jujur juga tidak baik. Terlalu jujur dapat menghancurkan sebuah hubungan bila tidak dapat memahami isi pesan yang disampaikan. Dalam penelitian ini, informan

mengungkapkan bahwa, informan selalu jujur kapada pasangan. Akan tetapi, informan menyebutkan bahwa terdapat beberapa hal yang tidak dapat ia sampaikan pada pasangan. Hal ini terkait dengan hal-hal pribadi informan yang sekiranya pasangan tidak perlu mengetahui hal tersebut. Sepanjang hal tersebut tidak merusak hubungan dan informan tidak berbuat curang di belakang pasangannya. Informan juga menyebutkan bahwa jujur merupakan hal yang penting, namun tetap memberikan ruang privasi bagi diri sendiri.

2. Intimasi yang dibangun berdasarkan hal negatif yang dimunculkan

Dokumen terkait