BAGIAN 7 DINAMIKA INTOLERANSI
A. Intoleransi di ―Rumah Suci‖
Berbagai upaya yang dilakukan untuk membangun toleransi seringkali terhambat dengan terjadinya praktik intoleransi. Tarik-menarik antara kehendak untuk mewujudkan toleransi dengan terjadinya praktik intoleransi telah menimbulkan dinamika kehidupan beragama yang menarik untuk dicermati. Berikut adalah deskripsi dari beberapa praktik intoleransi beragama yang berhasil diamati.
Dalam konteks Kota Bandung, meskipun dalam skala dan intensitas yang rendah, persoalan yang berkaitan dengan pendirian rumah ibadah ini masih menjadi persoalan tersendiri yang sebelumnya sepenuhnya tuntas ditangani. Dari penelusuran di lapangan, tampak ada persoalan nyata berkaitan dengan pendirian rumah ibadah (gereja) ini.
Pada hari Minggu, 7 Nopember 2010, sekitar 50 orang mendatangi dua rumah ibadah di Jalan Soekarno-Hatta RW 06 Kelurahan Karasak, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung. Mereka menyatakan menolak adanya kegiatan gereja di daerah sini karena tidak memiliki izin dari warga setempat. Dalam aksinya, massa yang tergabung dalam Forum Komunikasi Warga Muslim Karasak, Front Umat Islam (FUI), dan Gerakan Reformasi Islam (Garis) membawa sejumlah poster.
Dari beberapa narasumber diketahui bahwa massa berorasi di lokasi sejak pukul 09.30 hingga 10.40 WIB. Di tengah-tengah aksi, sesekali massa berteriak 'Allahuakbar'. Namun aksi hanya berlangsung hingga pukul 10.45 WIB. Massa pun langsung membubarkan diri. Aksi berlangsung damai. Sementara kegiatan kegerejaan di dua rumah ibadah tidak terganggu.
Dua minggu kemudian, tepatnya pada 21 Nopember 2010, Sekitar 150 orang yang tergabung dalam Gerakan Reformis Islam (GARIS) Kota Bandung kembali melakukan aksi Demonstrasi di depan Gereja Rehoboth Jl. Soekarno Hatta, Astana Anyar Bandung. Mereka menolak keberadaan Gereja Rehoboth, karena sebagian warga Kelurahan Karasak Astana Anyar menolak keberadaan Gereja tersebut. Para pengunjuk rasa menyayangkan sikap aparat Kecamatan Astana Anyar yang telah membuat rekomendasi persetujuan sepihak sehingga meminta Gereja tersebut ditutup dan dihentikan aktivitasnya. Aksi tersebut sempat bersitegang dengan aparat Kepolisian yang menjaganya, ketika para pengunjuk rasa melempari Gereja dengan Aqua gelas. Namun tidak berlangsung lama, ketegangan mereda dan pengunjuk rasa membubarkan diri pukul 12.00 WIB.
Dari penelusuran yang dilakukan oleh penulis ke berbagai pihak terkait, diperoleh informasi bahwa aksi protes warga ini sebenarnya sudah beberapa kali dilakukan. Misalnya, pada hari Jumat (7 Mei 2010) sekitar 20 warga dari RW 06 Kelurahan Karasak, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung, mendatangi sebuah rumah makan (rukan) yang sedang direnovasi di Jalan Soekarno Hatta No. 405 Bandung. Bangunan tersebut diduga dijadikan gereja tapi tak berizin.
Menurut informasi yang di lapangan, sebelum direncanakan pindah di rumah makan tersebut, aktivitas kegerejaan sebenarnya sudah dilakukan sejak 20 tahun lalu di dua rumah di RW 06. Namun, sebagian warga muslim di lingkungan tersebut merasa keberatan dengan adanya aktivitas itu karena tidak memiliki izin peruntukkannya. Menurut seorang warga, selama aktivitas itu berlangsung pihak tempat ibadat tidak berusaha memproses izin bangunan yang dimanfaat untuk kegiatan ibadat. Warga menolak segala aktivitas kegerejaan di lingkungan mereka. Apalagi ini merupakan gereja tanpa izin. Menurut seorang sumber, warga setempat tetap keukeuh agar tidak ada lagi kegiatan peribadatan di lokasi tempat
tinggal mereka. Ia mengaku, segala upaya untuk menyelesaikan masalah ini sudah sering dilakukan. Namun tidak ditemukan jalan keluar. Lebih jauh, ia mengatakan bahwa warga yang menolak memang sering bertemu dengan pihak RW, kelurahan hingga kecamatan untuk membicarakan masalah ini. Tetapi tetap saja belum ada hasilnya. Bahkan, saat meminta untuk duduk bersama dengan pihak gereja, tidak pernah terlaksana.
Para warga yang datang kemudian memasang spanduk yang dipasang di pagar yang tertutup seng di rumah makan itu. Spanduk bernada protes ukuran 4x2 meter itu bertuliskan: 'Mayoritas Muslim
Karasak RW 06 Menolak Kegiatan Kegerejaan di Wilayah Kami'.
Sementara itu, dari pihak pemerintah, khususnya dari pihak Camat Astanaanyar diperoleh keterangan, bahwa soal bangunan rumah makan yang juga dimanfaatkan sebagai gereja itu sedang menunggu proses izin keluar. Dirinya pun mengaku heran dengan protes warga tersebut. Menurut Camat, pemanfaatan tempat ibadah seperti di kantor atau rumah sudah ada dalam aturannya. Dia pun tetap berpegang pada Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama No 8 dan 9 Tahun 2006. Lebih jauh, ia mengatakan, bahwa memang aktivitas kegerejaan sebelumnya di dua rumah di RW 06. Namun nanti pindah di rukan yang sedang direnovasi ini. Sementara izin pemanfaatan bangunan untuk tempat ibadat sedang tahap proses. Jadi izinnya belum keluar. Pihak gereja sudah menyampaikannya enam bulan lalu. Warga yang merasa keberatan dan pihak gereja sudah dipertemukan. Saat itu sudah dimusyawarahkan. Dan tidak ada masalah di kedua belah pihak.
Sementara itu, ketika terjadi gesekan akibat adanya pembangunan rumah ibadah di Kelurahan Karasak 2010 itu, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Bandung bertindak cepat dengan melakukan pertemuan dengan berbagai elemen terkait di kantor Kecamatan Astanaanyar, termasuk pihak-pihak yang bersengketa. Mereka yang menolak pembangunan rumah ibadah meminta agar warga yang memberikan tanda tangan harus dikonfirmasi dan diklarifikasi. Apakah betul-betul murni atau tidak. Menanggapi permintaan itu, FKUB, Kementerian Agama Kota Bandung, dan dari pihak Kecamatan Astanaanyar membentuk sebuah tim untuk mengklarifikasi kepada
tandangan mereka. Jika ada demo-demo kecil, itu sebenarnya lebih kepada kesalahapahaman dan miskomunikasi. Setelah ditangani, semua dapat berjalan dengan baik, tidak ada masalah.
Hal senada dikemukakan oleh Kepala Sub-Bintal Pemerintah Kota Bandung. Apabila terjadi konflik antarumat beragama, khususnya dalam hal pendirian rumah ibadah, selalu dimusyawarahkan dengan masyarakat melalui RT, RW, kelurahan, kementerian agama, FKUB, pimpinan pondok pesantren dan lain-lain. Lebih jauh, ia mengatakan,
―Seperti yang terjadi beberapa waktu lalu di kawasan jalan Karasak Kota Bandung. Sebetulnya, semua prosedur formal sudah dilalui. Dan memang tidak ada masalah. Hanya ada sebagian kecil oknum yang tidak puas. Dan ketika mereka diajak bertemu untuk mendiskusikan persoalan, mereka tidak datang.‖ (Wawancara, 19 Januari 2011).
Seorang deklarator FLADS yang juga tergabung dalam FKUB Kota Bandung meminta warga tidak melarang pembangunan gereja di Kelurahan Karasak, Kota Bandung. Ketua PCNU Kota Bandung lebih jauh mengatakan,
―Apapun agamanya yang membangun tempat ibadah itu bukan orang jahat. Kenapa harus dihalangi. Saya sangat menyayangkan hal itu. Semua sudah ada aturannya, jadi pemerintah wajib melindungi pengguna tempat ibadah yang membangun di situ. Kepala Daerah diharapkan dapat mensosialisasikan Peraturan 2 Menteri tentang Pe-meliharaan Kerukunan Umat Beragama dan Pembangunan Rumah Ibadah.‖ (Wawancara, 29 Januari 2011).
Menurut Ketua PCNU Kota Bandung, aturan Menteri soal pe-meliharaan kerukunan umat beragama dan pembangunan rumah ibadah, salah satunya mewajibkan pemerintah melindungi hak masyarakat untuk beribadah. Pada dasarnya, problem tempat ibadah, khususnya yang berkaitan dengan pembangunan gereja seperti di kelurahan Karasak, Kecamatan Astanaanyar Kota Bandung ini, merupakan problem klasik yang sering memicu ketegangan antarumat beragama. Problem ini sering muncul dalam bentuk konflik menyangkut pendirian rumah ibadah, kemudian terkait perizinan, dan yang tidak kalah banyak adalah konflik dalam bentuk penyerangan atau perusakan rumah ibadah (gereja) oleh
umat agama lain. Dalam konteks pendirian gereja di kelurahan Karasak, para pengunjuk rasa yang tidak setuju dengan keberadaan gereja di sana melempari gereja yang mereka protes dengan gelas-gelas yang berisikan air mineral. Hingga saat ini, masalah tersebut tampaknya belum benar-benar selesai. Sebaliknya, hal ini terus menjadi konflik laten yang setiap saat bisa muncul sebagai akibat dari ketidakpahamam terhadap tradisi agama lain.
Aturan ini pun kemudian selalu dijadikan pedoman oleh aparatur pemerintah daerah. Hal yang sama juga dilakukan pihak pemerintah Kota Bandung dalam menengahi persoalan antaragama di wilayahnya, seperti ketika mereka menghadapi persoalan penolakan warga terhadap keberadaan gereja di Kelurahan Karasak, Kecamatan Astanaannya. Persoalannya, setiap produk hukum ataupun peraturan yang dibuat pemerintah niscaya tidak boleh mengabaikan aspek-aspek sosio-kultural yang berkembang pada suatu komunitas tertentu pada masyarakat di mana peraturan itu akan diberlakukan, terlebih lagi menyangkut isu yang sensitif seperti pendirian tempat ibadah. Sosialisasi yang lebih gencar mengenai aturan baru ini semestinya dapat mencegah munculnya beragam interpretasi, baik oleh pemerintah daerah maupun masyarakat.
Oleh karena itu, bercermin pada berbagai konflik yang masih muncul, terutama terkait tempat ibadah, sebagaimana yang telah dipaparkan di atas, sudah saatnya pemerintah dan juga masyarakat duduk bersama membicarakan hal ini secara lebih komprehensif. Hal ini menjadi penting untuk menghindari berbagai kesalahpahaman dan misinterpretasi yang bias melahirkan situasi dan keadaan yang tidak diinginkan.
Pada sisi yang lain, rangkaian fakta tentang sulitnya mendirikan rumah ibadah di atas dapat dimaknai bahwa masih ada masalah berkenaan dengan praktik toleransi beragama di Kota Bandung. Tetapi, meskipun tingkat toleransi dan pluralisme muslim di Kota Bandung masih ada masalah, tidak berarti tingkat kekerasan terhadap nonmuslim berada di level yang sama. Tetap harus dibedakan mana yang sikap pribadi dan mana yang sudah berwujud ekspresi publik. Sebagai contoh, ada responden yang bergaul baik dengan nonmuslim atau tinggal berdekatan. Mereka juga tidak ikut serta dalam pengerahan massa menolak keberadaan
pribadi dan baru muncul ketika ditanya. Jadi masih butuh tahapan sebelum sikap pribadi itu berubah jadi ekspresi publik. Variabelnya bisa kehadiran pemimpin yang karismatis, organisasi massa, dan lain-lain.
Tingkat intoleransi itu meningkat terutama karena negara memberi angin kepada kelompok-kelompok garis keras. Saat ini semakin sulit mendirikan gereja, sebagaimana diakui oleh seorang informan yang juga adalah seorang pastor di Kota Bandung. Sepanjang tahun ini, di Jawa Barat saja ada 16 gereja yang pendiriannya dipermasalahkan. Salah satunya yang menimpa gereja di kelurahan Karasak Kota Bandung. Kenyataan sulitnya mendirikan gereja ini bahkan melahirkan gejala baru, yakni munculnya oknum makelar izin yang memungut uang pelicin untuk memperlancar pendirian gereja.
Salah satu solusi meningkatkan toleransi antarumat beragama, akan banyak berpulang pada penegakan hukum, karena intoleransi itu erat kaitannya dengan kondisi politik. Karena intoleransi agama itu banyak sangkut-pautnya dengan politik, maka hukum harus ditegakkan. Kalau hukum itu fair, keberagaman akan lebih terjamin.
Sementara itu, pada sisi yang lain, pendekatan legalistik-formalistik dalam pendirian rumah ibadah masih mengandung resistensi tinggi di masyarakat. Karena itu, dalam masalah pendirian rumah ibadah diperlukan pendekatan yang lebih persuasif, kompromistik, dan humanistik untuk menjelaskan misi dan tujuan pendirian rumah ibadah secara jujur kepada masyarakat.