• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bandung Bermartabat

BAGIAN 5 BANDUNG IN HARMONY

A. Bandung Bermartabat

Kota Bandung mengidentifikasi dirinya sebagai kota jasa ―Bermartabat‖, sesuai dengan rumusan Visi Kota Bandung sekarang yang telah ditetapkan di dalam Peraturan Daerah Kota Bandung (Nomor 06 Tahun 2004) yaitu ―Meningkatkan peran Kota Bandung Sebagai Kota Jasa Bermartabat‖. Rumusan dari visi tersebut memiliki kekuatan hukum yang mengikat Pemerintah Kota Bandung dan seluruh warga Kota Bandung, setelah melalui telaahan filosofis dan kajian empirik tentang struktur kehidupan masyarakat Kota Bandung yang memiliki harga diri, martabat sebagai manusia yang sejahtera dengan memperhatikan keseimbangan hubungan antara manusia dengan alam, manusia dengan lingkungan manusia lainnya serta hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Secara harfiah, Kota Bermartabat dapat diartikan sebagai kota yang mempunyai harga diri dapat dibanggakan oleh seluruh warganya dan kota yang mempunyai kehormatan melalui pelayanan prima yang diberikan kepada seluruh warganya tanpa membeda-bedakan status. Tekanan dan makna yang dikandung kalimat visi di atas, memiliki konsekuensi yaitu bagaimana memerankan Kota Bandung sebagai Kota Jasa yang memiliki layanan sebagai pusat pertumbuhan dengan keterkaitan global maupun nasional di berbagai lapangan usaha yang berkaitan dengan

jasa serta mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan pelayanan jasa untuk lingkup Kota Bandung sendiri maupun lingkup wilayah pengaruhnya di luar Kota Bandung, baik yang disediakan oleh institusi pemerintah maupun swasta. Tidak mudah memfungsikan suatu kota metropolitan seperti Bandung untuk mampu menempatkan dirinya sebagai kota jasa dengan moto juang bersih, makmur, taat, bersahabat yang benar-benar berfungsi efektif (Rosada, 2009 –Pengantar).

Kota Jasa Bermartabat memiliki dimensi pemenuhan kondisi lingkungan kegiatan ekonomi dan sosial yang dinamis dan bermartabat melalui pertumbuhan ekonomi yang tinggi serta ditunjang oleh berkembangnya sektor ekonomi yang dapat menciptakan kesempatan kerja yang lebih luas sehingga kemakmuran ekonomi dapat dinikmati oleh semua warganya.

Selain itu, Kota Jasa Bermartabat juga memiliki dimensi pemenuhan kondisi lingkungan keagamaan yang penuh toleransi, berakhlak mulia, baik dan tidak tercela yang dapat membentuk kesadaran yang tinggi dalam peri kehidupan kota yang majemuk. Terbentuknya akhlak yang baik akan terciptanya ketaatan akan aturan pemerintah, aturan agama, aturan keluarga, aturan masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Selain itu, Kota Jasa Bermartabat juga memiliki dimensi pemenuhan pelayanan publik dan pelayanan umum lainnya, pelayanan pembangunan, pelayanan sosial dalam lingkungan kota serta budaya yang ramah dan menarik sehingga terbentuk kota ramah, sehat, bersahabat dan nyaman. Kota Jasa Bermartabat memiliki dimensi pemenuhan kondisi tata ruang yang seimbang dan harmonis di antara fungsi-fungsi ruang kota yang dapat menjaga keseimbangan lingkungan hidup dalam mengendalikan tumbuhnya sektor-sektor jasa yang memberi kehidupan bagi masyarakat Kota Bandung. Apa yang dibangun pada dasarnya terpusat pada pembentukan karakter masyarakat Kota Bandung yang teratur dan berhati nurani, menciptakan tatanan yang tepat dalam penataan fungsi ruang kota mewujudkan perilaku masyarakat yang berakhlak mulia, baik dan tidak tercela (akhlak karimah, akhlak khasanah, akhlak madzmumah), disiplin, saling menghargai, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang

bermartabat sehingga tercipta suatu keteraturan dalam kehidupan masyarakat baik sosial, ekonomi, politik, hukum dan religius.

Berangkat dari pemikiran di atas, untuk memantapkan Bandung sebagai Kota Jasa yang Bermartabat perlu ada langkah-langkah sistematis, bertahap, kontinyu dan berjangka panjang melalui proses konsolidasi, pemantapan, akselerasi menuju Kota Bandung sebagai kota metropolitan yang berdaya saing (Suherman, 2009: 44-51).

Salah satu komitmen untuk menjaga martabat Kota Bandung adalah penghormatan yang besar terhadap keragaman. Keberagaman adalah fitrah, karena ketika manusia dilahirkan tidak mempunyai pilihan berkulit kuning, coklat, atau putih. la kemudian hanya berhak menentukan kepercayaan, pilihan politik, dan jalan hidup termasuk pilihan beragama. Namun yang jelas semuanya memiliki kesamaan tujuan, yakni meraih kesejahteraan fisik material dan mental spiritual. Benar pula gagasan para pendiri negeri ini, ketika sepakat membangun Indonesia atas dasar bhineka tunggal ika. Tidak ada dikotomi penduduk asli atau pendatang, Islam atau nonmuslim, bermata sipit atau biasa. Semuanya memiliki hak dan kewajiban sama, yang diikat dalam semangat persatuan dan kesatuan.

Kondisi ini pula yang diakui Walikota menginspirasi pembangunan Kota Bandung, yakni membangun kota berdasarkan konsep kemakmuran, demokrasi, dan keadilan. Masyarakat diharapkan merasa aman dan nyaman, karena potensi konflik dapat diminimalkan. Begitu pula mayoritas tidak menekan minoritas, dan minoritas tidak eksklusif atau merasa lebih segalanya dibanding mayoritas (Rosada, 2011).

Terlebih lagi Kota Bandung memiliki catatan sejarah yang membanggakan, khususnya ketika seluruh komponen masyarakat tanpa melihat asal usul dan etnik secara bersama-sama berjuang membumihanguskan tempat tinggalnya agar tidak kembali dikuasai kaum kolonial tahun 1946. Sembilan tahun kemudian, atau tepatnya tahun 1955, Kota Bandung memberi andil suksesnya penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika (KAA), sekaligus mendeklarasikan ―Dasasila Bandung‖ sebagai bentuk perjuangan menentang diskriminasi dan ketidakadilan.

Memelihara momentum ini tentu tidaklah mudah karena cukup banyak faktor yang berpotensi menimbulkan perpecahan. Oleh karena itu, kebijakan yang sangat realistis adalah mempererat kesamaan langkah

untuk meraih tujuan melalui penetapan visi: ―Kota Bandung sebagai Kota Jasa yang Bermartabat‖. Visi ini tentu bukan sekadar berdimensi ekonomi, tetapi menyangkut cita-cita mewujudkan masyarakat yang memiliki kehormatan, kebanggaan, dan jati diri. Singkatnya, visi ini antara lain berorientasi kepada pemeliharaan pluralisme yang bermartabat.

Mewujudkan pluralisme bermartabat, menurut Walikota Bandung, diawali dengan penguatan SDM yang cerdas secara intelektual dan cerdas secara emosional, sehat fisik sehat mental, makmur sosial makmur ekonomi, santun kepada lingkungan, menjunjung tinggi nilai-nilai seni budaya, berprestasi di bidang olah raga, dan tentu saja menjadikan nilai-nilai ajaran agama sebagai ruh atau jiwa dari setiap aktivitas warga Kota. Dengan kata lain pluralisme yang bermartabat dikuatkan dengan pembangunan pendidikan, kesehatan, kemakmuran, lingkungan hidup, seni budaya, olah raga dan agama atau yang lebih dikenal sebagai tujuh agenda prioritas pembangunan Kota Bandung.

Pembangunan bidang agama diharapkan menciptakan harmoni hubungan umat beragama, antar umat beragama, serta antara umat beragama dengan pemerintah, sekaligus menjadikan Kota Bandung sebagai rumah bersama di mana setiap perbedaan mendapat tempat untuk tumbuh, dipelihara, dan berkembang dalam semangat kekeluargaan. Langkah ke arah itu ternyata mendapat dukungan para tokoh lintas agama, yang kemudian melahirkan ―Deklarasi Sancang‖, 10 Nopember 2007. Deklarasi ini berisi pemyataan para tokoh agama dan umat yang berdiri di belakangnya untuk menciptakan suasana Kota Bandung yang kondusif. Boleh jadi, agama tidak memiliki kekuatan politik memaksakan tumbuhnya semangat kebersamaan, tetapi pengalaman membuktikan kebersamaan untuk beragama bisa menjadi kekuatan besar untuk mendorong perubahan, khususnya memelihara pluralisme yang bermartabat.

Keragaman etnik, budaya, dan agama merupakan pelengkap identitas Kota Bandung, karena masing-masing unsur dapat saling melengkapi, dan memperkaya khazanah budaya yang telah ada. Kalaupun cukup banyak organisasi keagamaan, institusi tersebut tidak mencerminkan komunitas yang menjaga jarak dengan warga lain, tetapi

untuk membangun Kota. Itu pula sebabnya agenda tahun 2011 adalah bagaimana memantapkan pluralisme dengan membuang jauh perbedaan perlakuan antarsesama. Diskriminasi, apa pun bentuknya, adalah kegagalan sosial yang merendahkan martabat kemanusiaan. Perlawanan terhadap tindakan tersebut, tidak selamanya harus dengan kekerasan tetapi melalui program dan kegiatan yang menyentuh kebutuhan masyarakat yang majemuk.

Memantapkan visi Kota Bandung sebagai Kota Jasa yang Bermartabat merupakan solusi terbaik dalam mengikat keragaman asal-usul, etnik, budaya, dan agama. Setidaknya, upaya ini mampu memperpendek jarak antara satu komunitas dengan komunitas lain, karena mereka memiliki persepsi serupa, bahwa Kota Bandung adalah tempat tinggal bersama yang harus dijaga bersama-sama pula. Untuk menjaga kesinambungan pembangunan Kota Bandung, program yang dilakukan berpijak pada program yang telah dilakukan serta disesuaikan dengan kondisi dan tantangan ke depan melalui pendekatan rasional dan dinamis. Berikut adalah tujuh program prioritas Kota Bandung (Suherman, 2009: 48):

1. Program Bandung Cerdas (Membangun Masyarakat Informasi Kreatif, Cerdas dan Berdaya Saing).

2. Program Bandung Sehat (Membangun Masyarakat Sehat dan Produktif).

3. Program Bandung Makmur (Membangun Masyarakat Adil, Sejahtera dan Memiliki Harga Diri).

4. Program Bandung Ramah Lingkungan (Membangun Kota Nyaman dan Sehat).

5. Program Seni Budaya (Membangun Masyarakat Kota Bandung Cinta akan Budaya dan Jati Dirinya).

6. Program Bandung Berprestasi (Membangun Masyarakat yang Sehat Jasmani dan Rohani serta Berdaya Saing).

7. Bandung Kota Agamais (Membangun Masyarakat yang Berakhlak Tinggi dan Toleran).