BAGIAN 6 DINAMIKA TOLERANSI
D. Sekuntum Mawar Toleransi
―Katakanlah dengan bunga,‖ begitu mungkin kalimat yang layak dan tepat untuk mendeskripsikan suasana ―kampanye‖ toleransi beragama yang digelar Komunitas Lintas Agama di halaman Gereja Katedral, Jalan Merdeka Bandung, Selasa 25 Desember 2007. Pada saat itu, seorang anggota Komunitas Lintas Agama memberikan mawar putih kepada jemaat Gereja Katedral yang baru melaksanakan misa Natal, disaksikan Romo Leo Van Beurden di halaman Gereja Katedral Santo Petrus, Bandung. Saat itu, di sela-sela perayaan hari Natal 2007, lebih dari seratus pemuda-pemudi yang tergabung dalam berbagai organisasi pemuda Islam, Katolik, Hindu, Buddha, Kong Hu Cu, dan Protestan membagikan 100 kuntum bunga mawar putih kepada jemaat yang telah melakukan Misa Natal di Gereja Katedral, Jalan. Merdeka No. 1, Kota Bandung.
Organisasi pemuda yang terlibat dalam aksi tersebut adalah PMII, GMNI, GMKI, PMKRI, KMHDI, Sorban, Jakatarub, GMNU, Incres, Lesbumi, GP Ansor, Banser, IPNU, IPPNU, dan Fatayat NU. Kampanye bertajuk ―Bersatu dalam Damai‖ itu adalah kelanjutan dari Deklarasi Sancang yang dideklarasikan dalam halal bihalal lintas agama, 10 November 2007. Deklarasi tersebut bertekad membangun toleransi dan
agama itu, datang bersama para tokoh lintas agama didampingi Kapolwiltabes Bandung. Keterlibatan kaum muda dalam mengampanyekan toleransi dan kerukunan umat beragama baru berjalan mulai tahun 2006 lalu.
Menurut seorang tokoh Forum Lintas Agama Deklarasi Sancang, bahwa maksud kegiatan ini tak lain untuk berkomitmen tentang kerukunan beragama. Tokoh Forum Lintas Agama Deklarasi Sancang lebih jauh mengatakan,
―Kami berkomitmen untuk hidup rukun dan damai serta bekerja sama guna menyelesaikan berbagai permasalahan bangsa sehingga semakin membangun kesadaran pentingnya pilar kerukunan beragama. Saya bangga karena forum itu mampu menggalang kekuatan generasi muda dalam membangun pilar kerukunan beragama untuk membangun bangsa.‖ (Wawancara, 15 Februari 2011).
Sementara itu, Pembimas Hindu mengatakan bahwa dalam setiap agama selalu diajarkan tentang kerukunan dan perdamaian sehingga sudah menjadi keharusan menjaga hubungan baik dalam masyarakat (Wawancara, 21 Januari 2011).
Para jemaat yang baru selesai mengikuti misa terkejut ketika mereka mendapat bunga dari pemuda-pemudi lintas agama. Salah seorang jemaat, mengaku terharu dan bangga. Kedua bola matanya tampak berkaca-kaca. Sekuntum bunga mawar putih dipegangnya erat-erat. Ia berharap, kegiatan ini tidak hanya simbol melainkan diteruskan di masa datang dalam kehidupan sehari-hari. Demikian pula seorang jemaah lain yang tampak tertegun ketika melihat aksi bagi-bagi bunga di halaman gereja. Mereka berharap, kebebasan menjalankan agama masing-masing bisa lebih terjamin lagi di masa datang.
Bersama jemaat, para pemuda itu menyanyikan lagu ―Satu Nusa Satu Bangsa‖, ―Padamu Negeri‖, dan ―Halo-halo Bandung‖. Suara mereka menggema di halaman gereja di tengah cuaca yang cerah. Keharuan juga diungkapkan Ketua Paroki Katedral Santo Petrus pada perayaan Natal tahun ini. Menurutnya,
―Manusia tidak perlu takut kekurangan dalam menjalani hidup ini atau diperbudak nafsu karena Allah menyayangi semua umat
manusia. Pesan Natal tahun ini yang ingin saya sampaikan adalah kita sangat terharu terhadap cinta Allah terhadap manusia. Hanya kesombongan manusia di dunia ini yang melahirkan penindasan, kebodohan, pembunuhan, korupsi. Padahal manusia tidak perlu serakah, khawatir, atau takut jika percaya Tuhan sayang pada kita.‖ (Wawancara, 12 Februari 2011).
Dari penelusuran penulis, diketahui bahwa kegiatan serupa juga dilakukan tahun lalu di Gereja Katedral oleh Keluarga Besar Nahdlatul Ulama (NU) Kota Bandung bekerja sama dengan Forum Kerukunan Umat Beragama Kota Bandung dengan tajuk ―Islam: Rahmat bagi Semua‖. Pada perayaan Natal tahun 2006, Ketua Cabang Nahdhatul Ulama Kota Bandung, memimpin pemberian bunga mawar kepada umat Kristiani yang sedang merayakan Natal di Gereja GKI di Jl. Maulana Yusuf. Saat itu keluarga besar NU Kota Bandung membagikan 1000 kuntum Mawar kepada umat Kristiani.
Pembagian Mawar yang dipimpin Ketua PCNU Kota Bandung juga dilakukan di Gereja Katedral. Ketua PCNU Kota Bandung juga mengalungkan Melati kepada sejumlah agamawan di dua gereja itu. Aksi Ketua PCNU Kota Bandung dan keluarga besar NU membuat umat Kristiani itu terharu. Bahkan ada yang menitikkan air mata. Sejumlah media massa nasional dan internasional melansir peristiwa Natal itu. Aksi Ketua PCNU Kota Bandung dinilai fenomenal di tengah ancaman konflik antaragama yang kian menghantui. Ketua PCNU Kota Bandung sendiri mengatakan, niatnya hanya ingin mewujudkan toleransi dan kerukunan antar umat beragama. Lebih jauh, Ketua PCNU Kota Bandung mengatakan,
―Bunga itu simbol kerukunan umat beragama. Ini pesan damai dari umat Islam kepada umat Kristiani yang sedang merayakan Natal. Saya juga menyadari adanya pro-kontra pembagian bunga itu. Itu wajar. Tidak ada maksud lain, kecuali menunjukkan pada umat lain bahwa Islam cinta damai.‖ (Wawancara, 19 Januari 2011).
Aksi itu, menurutnya, dilandasi beberapa alasan. Alasan itu antara lain, ―Di Kota Bandung banyak penganut non-Islam. Saya tidak ingin seperti Ambon dan Poso. Kalau itu terjadi di Bandung, hancurlah
masalah di luar agama. Pelakunya menyeret nama Islam dan Kristen, sehingga konflik kian membesar.‖ (Wawancara, 19 Januari 2011).
Tak ingin tragedi itu terulang, Ketua PCNU Kota Bandung ini berharap aksi damainya diikuti kota-kota lain. Dia mengatakan,
―Kami ingin Bandung menjadi inspirasi toleransi umat beragama di Indonesia. Efek aksinya, umat non-Islam Kota Bandung tidak canggung lagi bergaul dengan umat Islam, terutama NU. Hubungan antar agama di Kota Bandung menjadi lebih baik‖ (Wawancara, 19 Januari 2011)
Menurut Ketua PCNU Kota Bandung, aksi damai itu adalah tindakan antisipatif menjaga toleransi dan kerukunan umat beragama. Tentang hal ini, Ketua PCNU Kota Bandung mengatakan, ―Kita tidak reaktif, tapi antisipatif. Bukan seperti pemadam kebakaran, yang memadamkan kerusuhan jika sudah berkobar.‖ (Wawancara, 19 januari 2011).
Dalam konteks ini, Ketua PCNU Kota Bandung mengisahkan, bahwa aksi pembagian bunga itu didukung Rais Syuriah PCNU Kota Bandung KH. Imam Sonhaji dan MWC-MWC NU. Bahkan KH. Sonhaji meminta PCNU mengadakan bahtsul masa‟il (forum pengkajian masalah)
sebelum aksi itu digelar. Agar kalau ada ormas lain yang menghujat, sudah punya dalilnya. Sayangnya, bahtsul masa‟il batal karena pelaksananya
sakit. Kepastian aksi itu pun mengambang, sementara Natal tinggal tiga hari. Ketua PCNU Kota Bandung segera menemui KH. Sonhaji. ―Beliau meminta kita tetap melanjutkan rencana. Bahkan beliau memberikan dalilnya,‖ kata Ketua PCNU Kota Bandung. Salah satunya, terdapat dalam kitab Bughyah al-Mustarsyidin. Kitab ini memaparkan, seorang muslim wajib melindungi nonmuslim dzimmi (yang berdamai). Ketua PCNU Kota Bandung mengatakan, ―Kita wajib melindungi minoritas. Karena Islam itu agama yang damai terhadap agama apa pun.‖
Pengasuh Ponpes al-Ikhwan Cigadung Bandung ini juga menyayangkan sering tampilnya kelompok Islam garang di Bandung di media massa. Menurut dia, aksi pemberian bunga mawar kepada para jemaah gereja yang sedang merayakan kebaktian dilakukan sebagai
pengimbang bahwa wajah Islam sebenarnya tidak seperti itu. ―Kami mengedepankan wajah Islam rahmatan lil „alamin,‖ katanya.
Berkenaan dengan sikapnya yang lebih ingin menonjolkan wajah Islam yang lebih sejuk, damai, dan toleran, tokoh NU ini mengakui terinspirasi oleh Gus Dur, yang saat itu Ketua Umum PBNU. Ketika memberi tausyiah di PWNU Jawa Barat, dia datang bersama seorang pendeta. Inspirasi juga datang dari ayahnya. Dia mempunyai teman
jogging seorang nonmuslim. ―Si teman sering datang pagi-pagi menjemput ayah. Ketika ia memberi salam, ayah saya membalasnya,‖ kenangnya. Melihat itu, ia menggugat bahwa umat Islam haram mengucap salam kepada nonmuslim. ―Jawaban ayah saya singkat: dalami lagi ilmu agamamu!‖ imbuhnya.