Mahkamah Agung Republik Indonesia
25. Ir. PUTRANEFO ALEXANDER PRAYUGO, dibawah sumpah yang pada
pokoknya menerangkan sebagai berikut :
• Putra Bahwa saksi pernah diperiksa penyidik KPK dan membenarkan keterangannya di dalam Berita Acara Pemeriksaan tersebut;
• Bahwa benar saksi kenal dengan Terdakwa tetapi tidak ada hubungan keluarga;
• Bahwa saksi adalah presiden Direktur PT. Masaro Radiokom sampai dengan sekarang ;
Putusan, Nomor : 32/PID.B/TPK/2010/PN.Jkt.Pst, hal 187 dari 395 hal
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
• Bahwa tugas pokok dan kewenangan saksi adalah mengelola dan bertanggungjawab seluruh kegitan perusahaan, dan dipertanggungjawabkan kepada RUPS;
• Bahwa pemegang saham PT. Masaro posisi terakhir sejak tahun 2007 adalah Anggono 80 %, dan saksi 20%, sebelumnya Anggoro 80% dan Anggono 20%;
• Bahwa sejak Tahun 1996 PT. Masaro Radiokom bergerak dibidang sistem telekomunikasi radio dan saat itu saksi sudah menjadi pegawai PT. Masaro Radiokom;
• Bahwa saksi menjadi Presiden Direktur sejak tahun 2001;
• Bahwa customer/pelanggan PT. Masaro Radiokom adalah Dept. Kehutanan, Perhutani dan Imigrasi;
• Bahwa PT. Masaro menjadi penyedia barang di Dephut sejak tahun 1996, dimana PT. Masaro yang langsung mendapat sub kontrak dari PT. Motorolla;
• Bahwa Dephut melakukan kontrak dengan Motorolla, kemudian PT. Masaro mendapatkan sub kontrak dari Motorolla sekaligus sebagai agen tunggalnya;
• Bahwa PT. Masaro Radiokom sebagai agen tunggal dari PT. Motorolla didasarkan kepada Perjanjian keagenan tunggal antara Motorolla Inc USA dengan PT. Masaro Radiokom yang dikuatkan dengan surat keagenan tunggal dari Departemen Perdagangan;
• Bahwa kerjasama/custumer dengan Dephut adalah untuk pekerjaan SKRT, yaitu untuk sistem komunikasi unutk menyediakan sarana komunikasi mulai dari suplai peralatan, sistem designya, instalasinya dan mantenancenya;
• Bahwa untuk tahun 1996, SKRT masih dikerjakan oleh PT. Motorolla yang dasar pekerjaanya dilandasi perjanjian antara negara Indonesia dengan AS atau dikenal G to G;
• Bahwa pekerjaan SKRT Dephut yang langsung dikerjakan oleh PT. Masaro Radiokom adalah sejak tahun 2005, meliputi proyek revitalisasi dan perluasan jaringan;
Putusan, Nomor : 32/PID.B/TPK/2010/PN.Jkt.Pst, hal 188 dari 395 hal
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
• Bahwa proyek-proyek pengadaan SKRT itu pengadaannya dilakukan dengan metode penunjukkan langsung;
• Bahwa nilai kontrak pengadaan SKRT untuk Tahun 2006 kurang lebih sebesar 50 milyar ;
• Bahwa dasar alasan dilakukan dengan metode penunjukkan langsung adalah:
1. Sistem dan peralatan yang dipasang untuk SKRT adalah peralatan yang spesifik yang didesign khusus oleh motorolla hanya untuk Dephut, dan sesuai dengan Keppres bisa dilakukan penunjukkan langsung;'
2. Dari segi sistem, untuk seluruh Indonesia pekerjaannya komplek, dimana sebelumnya disaat pembangunan SKRT fase III untuk Kehutanan, PT. LEN Industri bermaksud ikut, tetapi karena komplek sehingga menyatakan tidak mampu dan meminta PT. Masaro Radiokom untuk melaksanakannya; 3. Bahwa SKRT adalah sistem, sehingga yang dibangun tahun 2006 dan
2007 adalah untuk melengkapi sistem yang sudah dipasang oleh Motorolla sehingga merupakan satu kesatuan system dan pekerjaannya ikut kategori pekerjaan konstruksi, berdasarkan PP No. 29 tahun 2000, terhadap satu kesatuan sistem bisa dilakukan penunjukkan langsung; 5. Adanya kontrak antara Motorolla dengan Dephut yang didalamnya ada
satu ketentuan bahwa Motorolla wajib menyediakan semua barang yang diperlukan oleh Kehutanan, baik untuk pemeliharaan, peningkatan jaringan maupun perluasan jaringan SKRT selama 12 tahun;
- Bahwa sejak ada perjanjian antara Motorolla degan Dephut, SKRT sudah dikategorikan kompleks dan dikuatkan dengan rekomendasi dari Postel dan BPPT pada saat itu;
- Bahwa saksi sebagai Direktur PT. Masaro Radiokom mempunyai hubungan dengan Departemen Kehutanan secara profesional, karena sistem untuk seluruh Indonesia, maka saksi harus memastikan bahwa sistem harus berjalan, sehingga rutin memantau kondisi sistem yang berada di Kehutanan; - Bahwa saksi pernah menyiapkan draft awal SK No. 171 yang kemudian
ditandatangani oleh Sekjen tentang Pembentukan Panitia Penunjukkan
Putusan, Nomor : 32/PID.B/TPK/2010/PN.Jkt.Pst, hal 189 dari 395 hal
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Langsung dengan mencontoh SK yang ada sebelumnya, dan nama-nama yang dimasukkan dalam SK tersebut diberikan oleh pihak Dephut;
- Bahwa saksi dimintai tolong untuk menyiapkan draf awal SK No. 171 adalah saksi pada saat saksi datang ke Kehutanan, karena saksi memang selalu datang ke Dephut lantai 15 di ruangan komunikasi untuk mengontrol alat-alat komunikasi;
- Bahwa custumer meminta tolong untuk mengetikan draf awal SK No. 171, maka saksi tetap membantu dan saksi tidak menolak untuk membantunya; - Bahwa menurut saksi logikannya jika ada pekerjaan SKRT maka akan jatuh
ke PT. Masaro Radiokom yang melaksanakan, karena selama 16 tahun PT. Masaro yang akan melaksanakan, sehingga pada saat diminta menyiapkan draf awal SK No. 171 tersebut saksi sudah mengetahui bahwa PT. Masaro Radiokom yang akan melaksanakan pekerjaan SKRT Dephut tersebut;
- Bahwa saksi tidak mengetahui Sigit Sutiyoso mengikuti rapat-rapat dalam membahas RAB maupun HPS;
- Bahwa saksi pernah dilapori oleh Sigit Sutiyoso bahwa pernah dimintai tolong untuk membantu mengetik draft awal dan saksi sarankan agar tidak ikut lebih jauh dari proses pengadaan SKRT tersebut;
- Bahwa saksi ikut menandatangani berita acara penggeledahan dan penyitaan yang dilakukan oleh Penyidik;
- Bahwa setahu saksi penggeledahan dimulai sekitar jam 10 pagi yang saat itu saksi sedang tidak ada dikantor kemudian saksi dipanggil ke kantor, dan penggeledahan selesai jam 3 pagi hari berikutnya;
- Bahwa proses penemuan stempel di kantor PT . Masaro menurut saksi adalah Tim KPK sudah selesai mengetik berita acara sekitar jam 3 pagi, kemudian tiba-tiba salah satu dari penyidik meminta temannya untuk naik ke lantai 4 yang dipakai sebagai gudang dengan penuh barang, dan tidak lama kemudian orang yang naik ke atas sudah turun lagi sudah membawa satu kantongan plastik berisi stempel, dan kantongan plastik tersebut langsung ditanyakan kepada saksi yang saksi jawab "tidak tahu", kemudian dicoba distempelkan dan kalau tidak salah itu adalah stempel CDKBKPH;
- Bahwa kantor-kantor itu sudah tidak ada di kehutanan, tetapi yang aneh bagi saksi adalah dari gudang yang begitu besar, stempel-stempel itu ditemukan di ujung gudang pemasaran, padahal disitu tidak ada gudang pemasaran, yang
Putusan, Nomor : 32/PID.B/TPK/2010/PN.Jkt.Pst, hal 190 dari 395 hal
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
ada adalah gudang tehnik, kok bisa tahu, kemudian saksi awalnya tidak mau menanda tangani berita acara, namun kemudian Penyidik menyuruh untuk tanda tangan saja, maka karena sudah pagi dan saksi juga sudah capek mental dan fisik maka saksi menandatangani berita acara tersebut;
• Bahwa yang memerintahkan Sigit Sutiyoso untuk membuat seluruh dokumen pengadaan SKRT dari anggaran DIPA 69 tahun 2006 dan 2007 yang kemudian diserahkan kepada Jhoni Aliando, saksi mengaku tidak tahu, dan yang saksi tahu adalah Sigit Sutiyoso yang melaporkan kepada saksi bahwa telah dimintai tolong oleh Dephut untuk menyiapkan dokumen dan saksi merasa tidak tidak memerintahkan Sigit Sutiyoso;
• Bahwa saksi ikut menandatangani semua kontrak pengadaan SKRT tahun 2006 dan 2007 yang dilakukan dengan penunjukkan langsung; • Bahwa saksi tidak pernah mengkritisi/ menolak dilakukaknnya penunjukan
langsung dengan alasan begini-begini; ;
• Bahwa saksi sebagai penyedia barang setuju dengan diadakan penunjukkan langsung, karena dulunya pernah dicoba dilakukan pelelangan tetapi gagal dan akhirnya tetap dilakukan penunjukkan langsung;
• Bahwa saksi dengan Terdakwa pernah beberapa melakukan pertemuan-pertemuan diruangan Terdakwa;
• Bahwa dalam pertemuan itu yang saksi bahas adalah kaitannya dengan SKRT dan dilakukan setelah menjadi rekanan dephut;
• Bahwa saksi mengetahui akan menjadi rekanan untuk kegiatan proyek pengadaan SKRT sejak adanya surat dari Dephut;
• Bahwa setelah saksi mengetahui dari Dephut PT. Masaro Radiokom sebagai rekanan dalam pengadaan SKRT tahun 2006 dan 2007, kemudian langkah yang saksi lakukan adalah menyusun dokumen penawaran ; • Bahwa yang menentukan harga-harga barang yang ada di dalam
dokumen penawaran, untuk harga-harga barangnya menggunakan price list, sedangkan untuk pekerjaan jasanya yang menentukan adalah penghitungan dari saksi berdasarkan lokasi pembangunannya, akses menuju lokasi pembangunan, dan apa yang akan dibangun;
Putusan, Nomor : 32/PID.B/TPK/2010/PN.Jkt.Pst, hal 191 dari 395 hal
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
• Bahwa price list itu digunakan untuk tahun 2001 dan 2007, sedangkan untuk tahun 1995 bukan price list tetapi kontrak yang sejenis untuk dipakai sebagai bahan perbandingan harga;
• Bahwa nilai total HPS dengan nilai total penawaran dari saksi adalah berbeda, tetapi saksi tidak ingat mana yang lebih tinggi;
• Bahwa pada waktu Anwijzing sudah diumumkan harga HPS;
• Bahwa saksi menyuruh Sdr. Sigit Sutiyoso tidak untuk membantu yang berkaitan dengan dokumen penawaran harga itu tetapi hanya untuk membantu membuat draf awal pengadaan SKRT;
• Bahwa Sigit Sutiyoso pernah memberikan soft copy kepada Dephut ; • Bahwa nilai main equipment adalah sama dengan nilai yang diajukan saksi
dalam penawaran karena mengacu kepada kontrak tahun 1994, tetapi untuk nilai supporting equipmentnya berbeda;
• Bahwa saksi juga pernah melakukan pertemuan dengan Arjono dan Jhoni Aliando kaitannya rapat-rapat pengadaan, tetapi kalau diluar rapat biasanya kalau ada radio rusak, yang intinya terkait dengan pemanfaatan sistem;
• Bahwa saksi mengetahui Terdakwa adalah sebagai Kepala Biro perencanaan dan Keuangan Dephut;
• Bahwa saksi sebelumnya dilakukan kegiatan pengadaan SKRT tidak mengetahui Terdakwa sebagai Kuasa Pengguna Anggaran;
• Bahwa saksi mengaku sama sekali tidak pernah memberikan sesuatu baik uang atau apapun kepada Terdakwa, baik sebelum maupun setelah proyek SKRT 2006 dan 2007 selesai atau sebelumnya;
• Bahwa saksi mengetahui dan pernah membaca tentang system penunjukkan langsung berdasarkan Keppres No. 80 tahun 2003, diantaranya untuk penunjukkan langsung pekerjaan harus spesifik, pekerjaan komplek, kesatuan system (menurut PP);
• Bahwa menurut saksi, pekerjaan SKRT memenuhi syarat sebagai pekerjaan harus spesifik dan komplek;
• Bahwa menurut saksi, panitia lebih tahu daripada saksi mengenai ketentuan kriteria penunjukkan langsung ;
Putusan, Nomor : 32/PID.B/TPK/2010/PN.Jkt.Pst, hal 192 dari 395 hal
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
• Bahwa yang dimaksud perjanjian phase III adalah awalnya ada pembicaraan antar negara atau yang disebut G to G , dari G to G itu kemudian dituangkan dalam MOU untuk membangun sistem komunikasi radio terpadu Dephut dan pemerintah Amerika menunjuk perusahaan yang akan melaksanakan adalah Motorolla, dan pihak Amerika berkali – kali korespondensi agar kontrak segera direalisasikan, dan diharapkan bisa menyaksikan penandatanganan kontraknya, selanjutnya ada kontrak antara Dephut dengan Motorolla Inc USA untuk pembangunan SKRT; • Bahwa ketika kontrak itu sedang diproses itu awalnya ditunjuk PT. LEN
sebagai pelaksana pekerjaan SKRT oleh Motorolla, tetapi kemudian karena Motorolla menganggap PT. LEN tidak mampu, maka selanjutnya menunjuk PT. Masaro sebagai sub Kontraktornya dari PT. Motorolla untuk melaksanakan instalasinya yaitu pengiriman barang ke lokasi, pemasangan, comisioning jadi ceking, masa garansinya dan diikuti dengan pemeliharaan, dimana di dalam kontrak antara Dephut dengan Motorolla Inc USA disebutkan wajib memelihara selama 12 tahun, kemudian dalam kontrak antara Motorolla Inc USA dengan PT. Masaro, klausulla pemeliharaan selama 12 tahun tersebut menjadi kewajiban PT. masaro ; • Bahwa PT. Masaro Radiokom tidak mempunyai hubungan sama sekali
baik dengan Motorolla Indonesia maupun Motorolla Singapura, tetapi PT. Masaro Radiokom berhubungan langsung dengan Motorolla Inc USA; • Bahwa Biro Umum tidak langsung meminta kepada saksi untuk
membuatkan draft tersebut, tetapi kalau ke Sigit Sutiyoso saksi tidak tahu secara pasti, hanya saja menurut pemikiran saksi kalau Dephut hendak membangun sistem pada lokasi-lokasi tertentu maka dephut tidak bisa mengetahui kebutuhan-kebutuhan apa saja dilokasi-lokasi tersebut sehingga secara tehnis tentu akan meminta bantuan dari PT. Masaro; • Bahwa sekitar bulan Pebruari sampai dengan Maret 2007 saksi tidak
pernah menemui Terdakwa untuk menyampaikan bahwa usulan SKRT sudah dibahas di biro umum dan akan disampaikan kepada Terdakwa selaku Biro Perencanaan dan meminta kepada Terdakwa agar dimasukkan ke dalam usulan yang akan dibahas di DPR, tetapi pertemuan dengan
Putusan, Nomor : 32/PID.B/TPK/2010/PN.Jkt.Pst, hal 193 dari 395 hal
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Terdakwa itu hanya membicarakan bagaimana cara mengefektifasi kegiatan;
• Bahwa saksi tidak pernah bersama-sama dengan Anggoro Widjojo bertemu Boen Mochtar Purnama maupun Terdakwa;
• Bahwa saksi tidak pernah satu kalipun mengantarkan Anggoro Widjojo menemui Terdakwa maupun Boen Mochtar Purnama;
• Bahwa PT. Masaro Radiokom tidak pernah berhubungan dengan DPR berkaitan dengan anggaran SKRT;
• Bahwa saksi menerangkan tidak pernah sama sekali memberikan uang kepada Terdakwa;
• Bahwa saksi tidak pernah tukar pikiran ataupun konsultasi dengan Anggoro berkaitan dengan usulan beberapa anggaran dari Dephut yang sebelumnya ada perubahan mata anggaran oleh Terdakwa yang dalam konsultasi tersebut agar saksi meminta Terdakwa tidak melakukan perubahan lagi karena sudah ada rekomendasi dari komisi IV dan anggaran sekitar 170 milyar rupiah itu dapat dimasukkan lagi dalam usulan revisi DIPA 69 tahun 2007;
• Bahwa saksi pernah mengatur pertemuan antara Anggoro Widjojo dengan Terdakwa tetapi hanya untuk berkenalan dan sekaligus membicarakan fase akhir, dan pertemuan itu terjadi atau tidak saksi tidak tahu;
• Bahwa saksi pada tahun 2007 pernah memberikan pendapat kepada anggoro widjojo melalui telepon kalau Terdakwa tidak menolak kalau diberi sejumlah uang, dan pemikiran saksi sederhana saja yaitu jika kita sedang duduk-duduk dan ada orang datang mau memberi uang ya pasti akan mau saja, dan pada saat itu tidak ada hubungannya dengan pekerjaan karena belum ada pengadaan, kontrak dan sebagainya;
• Bahwa selanjutnya Penuntut Umum memperdengarkan percakapan antara saksi dengan Anggoro Widjojo tanggal 25 Juli 2007 berkaitan dengan DIPA 29 dan draft fase akhir, serta akan mengucapkan terima kasih kepada Terdakwa karena telah berhasil memperjuangkan, yang diperjuangkan disini maksudnya adalah memperjuangkan kaitanya fase akhir yang sudah dimulai sejak tahun 2001 ;
Putusan, Nomor : 32/PID.B/TPK/2010/PN.Jkt.Pst, hal 194 dari 395 hal
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
• Bahwa dalam percakapan telepon dengan Anggoro Widjojo tersebut juga katakan "titip turut nasib", yang artinya apabila PT. Masaro Radiokom mendapat pekerjaan fase akhir pasti karyawan akan lebih enak dapat pekerjaan dan dapat dinikmati ;
• Bahwa saksi tidak mengetahui tentang adanya Surat dari Menhut yang diusulkan oleh Terdakwa dan Sekjen Boen Mochtar Purnama tanggal 7 Agustus 2007 yang memuat 2 kegiatan yaitu tahun 2007 senilai 170 milyar rupiah lebih, dan menyangkut masalah revisi DIPA tahun 2007;
• Bahwa kemudian Penuntut Umum mmemperdengarkan percakapan antara saksi dengan Anggoro Widjojo tanggal 25 Juli berkaitan pertanyaan anggoro widjojo kepada saksi "apakah Terdakwa kalau dikasih duit mau atau tidak", dan saksi jawab "pasti tidak", dan percakapan tersebut Terdakwa menerangkan bahwa itu tidak ada hubungannya antara Terdakwa sebagai KPA dan saksi sebagai penyedia barang tahun 2006 dan 2007, tetapi hal tersebut berhubungan dengan fase akhir, namun pada saat itu memang ada pekerjaan yang dilaksanakan oleh PT. Masaro Radiokom dan Terdakwa sebagai KPA nya;
• Bahwa saksi pernah mengatur jadwal pertemuan antara Anggoro Widjojo dengan Terdakwa dengan cara saksi menelepon Terdakwa dan