• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN

3.2. Pembahasan

3.2.1. Isi Wacana Naratif

7 حلحزْ نحاحو ِهْيحدحي حْيح ب احمِّل اًقِّدحصُم ِّقحْلْاِب حبٰتِكتْلا حكْيحلحع حلنزح ن . حلْيِْنِْْلَاحو حةىٰرْون تلا

( ۚ 1 )

/nazzala 'alaika al-kitāba bi al-ḥaqqi muṣaddiqan al-limā baina yadayhi wa anzala at-taurāta wa al-injīl/ “Dia menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad) yang mengandung kebenaran, membenarkan (kitab-kitab) sebelumnya, dan menurunkan Taurat dan Injil” (Ali Imran: 3)

Wacana naratif dalam ayat di atas adalah :

Allah menurunkan kepadamu, wahai Muhammad, Al-Qur’an dengan berbagai bukti dan argumen yang nyata, Allah membenarkan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelumnya yang sesuai dengan apa yang ada pada Al-Qur’an, menurunkan dua kitab agung, yaitu Taurat dan Injil, sebelum turunnya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi Bani Israil (Ash-Shabuni: 395).

Isi wacana naratif pada ayat 3 yaitu:

Termasuk wacana sosial karena Allah memberikan petunjuk bagi Bani Israil berupa kitab-kitab yang diturunkan.

6 ْيِذنلا حوُه . ٌتٰهِبٰشحتُم ُرحخُاحو ِبٰتِكتْلا ُّمُا ننُه ٌتٰمحكتُّْمح ٌتٰيٰا ُهْنِم حبٰتِكتْلا حكْيحلحع حلحزْ نحا ۚ

انمحاحف ۚ حنْيِذنلا

هِلْيِوْأحت حءۤاحغِتْباحو ِةحنْ تِفْلا حءۤاحغِتْبا ُهْنِم حهحباحشحت احم حنْوُعِبنتحيح ف ٌغْيحز ْمِِبِْوُلُ ق ِْفي هحلْ يِوْأحت ُمحلْعح ي احمحو ۚ

ُهٰ للا نلَِا ۚ

هِب اننحمٰا حنْوُلْوُقح ي ِمْلِعْلا ِفِ حنْوُخِسانرلاحو ۚ ۚ

احنِّ بحر ِدْنِع ْنِّم ٌّلُك نلَِا ُرنكنذحي احمحو ۚ

ِباحبْلحْلَا اوُلوُا ۚ (

1 )

/huwa allażī anzala 'alaika kitāba minhu āyātun muḥkamātun hunna ummu al-kitābi wa ukharu mutasyābihātun, fa amma> allażīna fī qulu>bihim zaigun fayattabi’u>na mā tasyābaha minhu ibtigā`a al-fitnati wa ibtigā`a ta`wīlihī, wa mā ya'lamu ta`wīlahū illā allāhu, wa ar-rāsikhụna fi al-'ilmi yaqụlụna āmannā bihī kullun min 'indi rabbinā, wa mā yażżakkaru illā ulu al-albāb/ “Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad). Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok Kitab (Al-Qur'an) dan yang lain mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyabihat untuk mencari-cari fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, “Kami beriman kepadanya (Al-Qur'an), semuanya dari sisi Tuhan kami.” Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang yang berakal” (Ali Imran: 7).

Wacana naratif yang terdapat dalam ayat di atas adalah:

Allah-lah yang menurunkan Al-Qur’an kepada engkau, wahai Muhammad.

Di dalamnya terdapat ayat-ayat yang jelas dan nyata keterangannya, tidak bercampur aduk dan tidak pula samar, seperti ayat-ayat tentang halal dan haram, itulah pokok dan inti kandungan Al-Qur’an. Di dalamnya terdapat ayat lain yang bagi kebanyakan manusia, pemahamannya cukup samar. Barangsiapa mengembalikan pemahaman ayat mutasyabih kepada makna yang jelas (muhkam), maka dia mendapat petunjuk. Dan barangsiapa melakukan sebaliknya, maka dia tersesat. Karena itu Allah berfirman, adapun orang yang di dalam hatinya melenceng dari petunjuk menuju kesesatan, maka dia mengikuti ayat-ayat mutasyabih dan menafsirkan sekehendak hawa nafsunya. Mereka menafsirkan ayat-ayat mutasyabih sekehendak mereka untuk menebarkan fitnah

(penyimpangan) dalam agama, dan untuk memberikan keraguan kepada para pengikutnya. Mereka melakukan hal itu dengan dalih menafsirkan kalam Allah, sebagaimana yang dilakukan orang Nasrani yang tersesat (Ash-Shabuni: 396).

Isi wacana naratif pada ayat 7 yaitu:

Termasuk wacana politik karena orang-orang yang telah menafsirkan ayat-ayat mutasyabih sekehendak mereka untuk menebarkan fitnah (penyimpangan) dalam agama dan untuk memberikan keraguan kepada para pengikutnya serta termasuk wacana hukum dan kriminalitas karena Allah memberikan petunjuk kepada orang yang mengembalikan pemahaman ayat mutasyabih kepada makna yang jelas (muhkam) dan memberikan kesesatan kepada orang yang melakukan sebaliknya.

1 حمننحهحج ٰلىِا حنْوُرحشُْتَحو حنْوُ بحلْغُ تحس اْوُرحفحك حنْيِذنلِّل ْلُق . ُداحهِمْلا حسْئِبحو ۚ

( 76 )

/qul lillażīna kafarū satuglabūna wa tuḥsyarūna ilā jahannama, wa bi`sa al-mihādu/ “Katakanlah (Muhammad) kepada orang-orang yang kafir, “Kamu (pasti) akan dikalahkan dan digiring ke dalam neraka Jahanam. Dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal” (Ali Imran: 12).

Wacana naratif yang terdapat dalam ayat di atas adalah:

Tatkala Rasulullah menimpakan kekalahan kepada kaum Quraisy dalam Perang Badar, lalu kembali ke Madinah, beliau mengumpulkan orang-orang Yahudi, dan berseru kepada mereka, “Wahai orang-orang Yahudi, masuk Islamlah kalian sebelum Allah menimpakan kalian dengan apa yang telah ditimpakan kepada orang-orang musyrik Quraisy. Kalian telah mengetahui bahwasannya aku adalah seorang nabi yang diutus.”

Mereka menjawab: “Wahai Muhammad, janganlah engkau merasa sombong dengan dirimu hanya karna engkau telah memerangi sekelompok orang-orang Quraisy yang bodoh. Mereka tidak memiliki pengetahuan berperang. Demi Allah, seandainya engkau berperang dengan kami, engkau akan mengetahui bahwa kami adalah para laki-laki ksatria. Engkau tidak sebanding dengan kami.”

(Ash-Shabuni: 404-405).

Maka Allah berfirman, wahai Muhammad, katakanlah kepada orang-orang Yahudi dan semua orang kafir, bahwa kalian pasti akan dikalahkan di dunia ini.

Di akhirat, kalian kelak akan dikumpulkan lalu digiring menuju neraka Jahannam.

Itulah tempat tinggal dan pembaringan yang seburuk-buruknya yang disediakan untuk mereka di neraka Jahannam (Ash-Shabuni: 406).

Isi wacana naratif pada ayat 12 yaitu:

Termasuk wacana sosial karena sikap bersosial Rasulullah dengan mengajak orang-orang Yahudi untuk masuk Islam serta termasuk wacana hukum dan kriminalitas karena Yahudi dan semua orang kafir pasti akan dikalahkan di dunia dan di akhirat akan dikumpulkan lalu digiring menuju neraka Jahannam.

1 هننحا ُهٰ للا حدِهحش . حلَ

حوُه نلَِا حهٰلِا ۚ اًمِٕىۤاحق ِمْلِعْلا اوُلوُاحو ُةحكتِٕىٰۤلحمْلاحو ۚ

ِطْسِقْلاِب ۚ حلَ ۚ

ُزْ يِزحعْلا حوُه نلَِا حهٰلِا ۚ

ُمْيِكتحْلْا ( 75 )

/syahida allāhu annahū lā ilāha illā huwa wa al-malāikatu wa ulu al-'ilmi qā`iman bi al-qisṭi, lā ilāha illā huwa al-'azīzu al-ḥakīmu/ “Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia; (demikian pula) para malaikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahaperkasa, Maha-bijaksana” (Ali Imran: 18).

Wacana naratif yang terdapat dalam ayat di atas adalah:

Tatkala Rasulullah menetap di Madinah, dua orang pendeta datang dari Syam datang kepada beliau. Ketika keduanya menemui Rasulullah, mereka berdua langsung mengerti sifat-sifat Rasulullah. Keduanya bertanya, “Engkau Muhammad?” Nabi menjawab, “Ya.” Keduanya bertanya kembali, “Apakah engkau Ahmad?” Nabi menjawab, “Ya.”

Keduanya melanjutkan, “Kami bertanya kepadamu tentang sebuah persaksian, jika engkau memberitahu kami mengenai hal itu, maka kami beriman kepadamu dan kami membenarkanmu.” Lalu Rasulullah berkata kepada keduanya, “Bertanyalah kepadaku.” Keduanya bertanya, “Informasikanlah kepada kami tentang persaksian paling dahsyat dalam kitab Allah.”

Lalu turunlah ayat: “Allah menyatakan bahwasannya tidak ada Tuhan melainkan Dia.” Kemudian kedua orang itu masuk Islam dan meyakini kebenaran Rasulullah (Ash-Shabuni: 414).

Isi wacana naratif pada ayat 18 yaitu:

Termasuk wacana sosial karena mereka (dua orang pendeta) yang tidak meyakini kebenaran Rasulullah sebelum datang kebenaran kepada mereka kemudian mereka bertanya kepada Rasulullah untuk mencari kebenaran tentang Rasulullah.

8 ِنحعح بن تا ِنحمحو ِهٰ لِل حيِهْجحو ُتْمحلْسحا ْلُقح ف حكْوُّجۤاحح ْنِاحف . ِكتْلا اوُتْوُا حنْيِذنلِّل ْلُقحو ۚ

ْمُتْمحلْسحاحء ح يِّمُْلَاحو حبٰت

اْوحدحتْها ِدحقح ف اْوُمحلْسحا ْنِاحف ۚ ُغٰلح بْلا حكْيحلحع احننَِّاحف اْونلحوح ت ْنِاحو ۚ

ۚ ٌرْ يِصحب ُهٰ للاحو ِداحبِعْلاِب ۚ

( 61 )

/fa in ḥājjūka fa qul aslamtu wajhiya lillāhi wa mani ittaba'ani, wa qul lillażīna ūtu al-kitāba wa al-ummiyyīna a aslamtum, fa in aslamū fa qadi ihtadau, wa in tawallau fa innamā 'alaika al-balāg, wa allāhu baṣīrum bi al-'ibād/ “Kemudian jika mereka membantah engkau (Muhammad) katakanlah, “Aku berserah diri kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku.” Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Kitab dan kepada orang-orang buta huruf, ”Sudahkah kamu masuk Islam?” Jika mereka masuk Islam, berarti mereka telah mendapat petunjuk, tetapi jika mereka berpaling, maka kewajibanmu hanyalah menyampaikan. Dan Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” (Ali Imran: 20)

Wacana naratif yang terdapat dalam ayat di atas adalah:

Wahai Muhammad, jika mereka mendebat engkau tentang kebenaran agama Islam, maka katakanlah kepada mereka: “Aku adalah hamba Allah, aku telah menyerahkan diriku secara total kepada Allah, dan aku memurnikan ibadahku hanya untuk-Nya, tiada sekutu, anak dan teman bagi-Nya. Aku dan para pengikutku meyakini agama Islam, semua tunduk dan patuh kepada perintah Allah. Katakanlah kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani serta orang-orang pagan dari Arab, maksudnya apakah kamu mau masuk Islam ataukah kalian tetap dalam kekafiran, padahal telah didatangkan kepada kalian bukti-bukti nyata yang menuntut kalian memeluk Islam. Jika mereka masuk Islam, sebagaimana kalian

masuk Islam, maka mereka telah memberi kebaikan kepada diri mereka dengan keluarnya mereka dari kesesatan menuju petunjuk, dan dari kegelapan menuju cahaya. Jika mereka berpaling, maka sekali-kali mereka tidak akan memberikan kemudharatan kepada engkau, wahai Muhammad. Karena Allah tidak membebankan kalian untuk memberi hidayah kepada mereka, tugas kalian hanyalah menyampaikan saja (Ash-Shabuni: 415).

Tujuan dari kalimat tersebut adalah untuk menghibur Nabi

ﷺ.

Allah

mengetahui segala tingkah laku mereka, lalu Allah-lah yang akan membalas mereka. Diriwayatkan bahwasannya tatkalah Rasulullah membacakan ayat ini kepada Ahli Kitab, mereka berkata, “Kami masuk Islam.” Lalu Rasul berkata kepada orang Yahudi, “Apakah kalian bersaksi bahwa Isa adalah hamba Allah dan rasul-Nya?” Mereka menjawab, “Tidak, semoga Allah melindungi kami dari hal itu.” Kemudian Rasulullah bertanya kepada orang Nasrani, “Apakah kalian bersaksi bahwa Isa adalah hamba Allah dan Rasul-Nya?” Mereka menjawab,

“Kami berlindung kepada Allah jika Isa adalah hamba-Nya.” Karena itu firman-Nya disertai dengan: “Jika mereka berpaling.” (Ash-Shabuni: 416).

Isi wacana naratif pada ayat 20 yaitu:

Termasuk wacana sosial karena ayat di atas berkaitan dengan kehidupan masyarakat Arab.

2 نلَِا ُراننلا احننسححتَ ْنحل اْوُلاحق ْمُهن نحاِب حكِلٰذ . ٍتٰدْوُدْعنم اًمانيحا ۚ

حنْوُرح تْفح ي اْوُ ناحك انم ْمِهِنْيِد ِْفي ْمُهنرحغنو ۚ

( 61 )

/żālika bi annahum qālū lan tamassanā an-nāru illā ayyāman ma'dūdātin, wa garrahum fī dīnihim mā kānū yaftarūna/ “Hal itu adalah karena mereka berkata,

“Api neraka tidak akan menyentuh kami kecuali beberapa hari saja.” Mereka teperdaya dalam agama mereka oleh apa yang mereka ada-adakan.” (Ali Imran:

23)

Wacana naratif yang terdapat dalam ayat di atas adalah:

Menurut ahli tafsir, ayat tersebut menunjukkan kepada cerita orang Yahudi yang meminta penetapan hukum kepada Nabi

tentang dua orang diantara

mereka yang berzina, lalu Nabi menghukum rajam keduanya. Lalu mereka menolak, seraya berkata, “Kami tidak mendapati dalam kitab kami melainkan menghukum dengan dipanaskan diterik matahari (at-tahmim).” Kemudian didatangkanlah Taurat, dan Rasulullah mendapati hukuman rajam di dalam Taurat. Maka keduanya pun dirajam. Lantas mereka marah, lalu Allah mengecam mereka dengan ayat ini (Ash-Shabuni: 417-418).

Isi wacana naratif pada ayat 23 yaitu:

Termasuk wacana hukum dan kriminalitas karena dua orang Yahudi yang berzina dihukum rajam oleh Rasulullah dan hukuman itu terdapat dalam Taurat.

1 ُءۤاحشحت ْننِمِ حكْلُمْلا ُعِزْنح تحو ُءۤاحشحت ْنحم حكْلُمْلا ىِتْؤُ ت ِكْلُمْلا حكِلٰم مهللا ِلُق . ُّلِذُتحو ُءۤاحشحت ْنحم ُّزِعُتحو ۚ

ُءۤاحشحت ْنحم ُرْ يحْلْا حكِدحيِب ۚ

ْ يِدحق ٍءْيحش ِّلُك ىٰلحع حكننِا ۚ ٌر (

62 )

/quli allāhumma mālika al-mulki tu`ti al-mulka man tasyā`u wa tanzi'u al-mulka mimman tasyā`u, wa tu'izzu man tasyā`u wa tużillu man tasyā`u, biyadika al-khaīru, innaka 'alā kulli syai`in qadīrun/ “Katakanlah (Muhammad), “Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Ali Imran: 26) Wacana naratif yang terdapat dalam ayat di atas adalah:

Tatkalah Rasulullah menaklukkan kota Makkah dan berjanji kepada umat untuk mengalahkan Raja Persia dan Romawi, orang-orang munafik dan Yahudi mencibir, “Tidak mungkin! Tidak mungkin! Dimana kedudukan Muhammad dibandingkan Raja Persia dan Raja Romawi? Mereka lebih perkasa dan kuat daripadanya. Belum cukupkah baginya kota Makkah saja, sampai-sampai dia begitu tamak mengalahkan Raja Persia dan Raja Romawi?” lalu Allah menurunkan ayat: “Katakanlah: “Wahai Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki.” (Ash-Shabuni: 422).

Isi wacana naratif pada ayat 26 yaitu:

Termasuk wacana politik karena perkatan orang-orang munafik dan Yahudi yang tidak mau kalah dari Rasulullah.

5 حْيِنِمْؤُمْلا ِنْوُد ْنِم حءۤاحيِلْوحا حنْيِرِفٰكتْلا حنْوُ نِمْؤُمْلا ِذِخنتح ي حلَ . ٍءْيحش ِْفي ِهٰ للا حنِم حسْيحلح ف حكِلٰذ ْلحعْفن ي ْنحمحو ۚ

نلَِا ًةىٰقُ ت ْمُهْ نِم اْوُقن تح ت ْنحا ۚ ُهحسْفح ن ُهٰ للا ُمُكُرِّذحُيُحو ۚ

حمْلا ِهٰ للا حلىِاحو ۚ ُرْ يِص

( 65 )

/lā yattakhiżi al-mu`minūna al-kāfirīna auliyā`a min dūni al-mu`minīna, wa man yaf'al żālika fa laisa mina allāhi fī syai`in illā an tattaqū minhum tuqātan, wa yuḥażżirukumu allāhu nafsahu, wa ila allāhi al-maṣīru/ “Janganlah orang-orang beriman menjadikan orang kafir sebagai pemimpin, melainkan orang-orang beriman. Barang siapa berbuat demikian, niscaya dia tidak akan memperoleh apa pun dari Allah, kecuali karena (siasat) menjaga diri dari sesuatu yang kamu takuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu akan diri (siksa)-Nya, dan hanya kepada Allah tempat kembali.” (Ali Imran: 28)

Wacana naratif yang terdapat dalam ayat di atas adalah:

Dari Ibnu Abbas, sesungguhnya Ubadah bin Ash-Shamit salah seorang yang berpartisipasi dalam Perang Badar dan sangat bertakwa, mempunyai perjanjian dengan orang Yahudi. Tatkala Nabi berangkat untuk berperang pada Perang Ahzab, Ubadah berkata kepada beliau, “Wahai Nabi Allah, sesungguhnya aku mempunyai 500 teman orang Yahudi, aku melihat mereka hendak berangkat bersamaku. Aku hendak memohon bantuan mereka untuk mengalahkan musuh.”

Maka Allah menurunkan ayat: “Janganlah orang-orang beriman mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin.”

(Ash-Shabuni: 422-423).

Isi wacana naratif pada ayat 28 yaitu:

Termasuk wacana politik karena Ubadah yang mempunyai perjanjian dengan orang Yahudi menawarkan 500 teman orang Yahudi kepada Rasulullah dan mengajak mereka untuk ikut Perang Ahzab agar Rasulullah meninggalkan orang-orang mukmin.

3 ْمُكتحبْوُ نُذ ْمُكتحل ْرِفْغح يحو ُهٰ للا ُمُكتْبِبُْيُ ْ ِنيْوُعِبنتاحف حهٰ للا حنْوُّ بُِتَ ْمُتْنُك ْنِا ْلُق . ۚ

ٌمْيِحنر ٌرْوُفحغ ُهٰ للاحو (

17 )

/qul in kuntum tuḥibbūna allāha fattabi'ūnī yuḥbibkumu allāhu wa yagfir lakum żunūbakum, wa allāhu gafūrun raḥīm/ “Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Ali Imran: 31)

Wacana naratif yang terdapat dalam ayat di atas adalah:

Sekelompok orang di masa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang mengaku mencintai Allah. Kisah ini diriwayatkan Ibnu Munzir dari Hasan: Sekelompok orang di masa Rasulullah berkata kepada beliau: Demi Allah, Wahai Muhammad! Kami sungguh mencintai Tuhan Kami.

Kisah sekelompok orang di atas berkaitan dengan peristiwa saat Nabi Muhammad mengajak Ka'ab bin Asyraf dan pengikutnya dari kelompok Yahudi.

Pada waktu itu, mereka abai dengan ajakan Rasulullah, karena mereka merasa kekasih Allah, "Kami ini anak-anak Allah dan kekasih Nya."

Melihat respon dari Ka'ab bin Asyraf, Rasulullah pun menyampaikan surah Ali Imran ayat 31 yang diwahyukan kepada beliau sebagai jawaban atas pernyataan Ka'ab. Allah mengingatkan kepada kaum Yahudi bahwa ucapannya tidak berdasar. Mereka hanya mengklaim sebagai kekasih Allah. Kecintaan mereka tidak disertai bukti dan pengorbanan. Bukti kecintaan kepada Allah adalah dengan menjalankan perintah-perintah-Nya, yang dapat mendekatkan dirinya kepada Allah. Yakni, mengakui kerasulan Nabi Muhammad dengan dibuktikan menjalankan apa yang diwahyukan kepadanya.

Mengakui kerasulan Nabi Muhammad merupakan gerbang awal dalam menggapai ridha Allah Ta’ala. Kesalahan-kesalahan di masa lampau terhapuskan.

Dengan mengikuti Nabi Muhammad, mereka membuka lembaran baru dimensi keimanannya. Lembaran baru yang membawa pada sikap dan perilaku yang diridhai Allah Ta’ala. Sehingga, apa yang dilakukannya mampu menghantarkan pada keteguhan hati seorang muslim sejati.

Surah Ali Imran ayat 31 merupakan teguran keras kepada orang-orang yang mengaku mencintai Allah Ta’ala, akan tetapi sikap dan perilakunya tidak mencerminkan kata-katanya, ucapannya bertentangan dengan apa yang

dilakukannya. Orang-orang Yahudi mengatakan bahwa mereka mencintai Allah Ta’ala, tapi tidak mengakui kerasulan Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam. Padahal, Rasulullah adalah utusan Allah Ta’ala, yang wajib ditaati.

Hal ini menunjukkan sikap yang bertolak belakang dengan pengakuan mereka.

Kecintaan tanpa ada bukti nyata sama halnya menunjukkan kepalsuan dalam dirinya. Dalam hal ini, mereka mengaku cinta Allah Ta’ala, tapi tidak mengikuti Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Isi wacana naratif pada ayat 31 yaitu:

Termasuk wacana politik karena orang-orang Yahudi mengatakan bahwa mereka mencintai Allah dan mereka menganggap diri mereka sebagai anak dan kekasih Allah.

71 حلْوُسنرلاحو حهٰ للا اوُعْ يِطحا ْلُق .

حنْيِرِفٰكتْلا ُّبُِيُ حلَ حهٰ للا ننِاحف اْونلحوح ت ْنِاحف ۚ (

16 )

/qul aṭī'u allāha wa ar-rasūla, fa in tawallaū fa inna allāha lā yuḥibbu al-kāfirīna/

“Katakanlah (Muhammad), “Taatilah Allah dan Rasul. Jika kamu berpaling, ketahuilah bahwa Allah tidak menyukai orang-orang kafir.”” (Ali Imran: 32) Wacana naratif yang terdapat dalam ayat di atas adalah:

Taatilah perintah Allah dan perintah Rasul-Nya. Jika kalian berpaling dari ketaatan, Allah tidak menyukai orang yang mengingkari ayat-ayat-Nya, dan membangkang kepada Rasul-Nya, bahkan Allah akan menghukum-Nya dan membalas-Nya (Ash-Shabuni: 426).

Allah berfirman memerintahkan kepada setiap individu, katakanlah:

`Taatilah Allah dan Rasul-Nya, jika kamu berpaling’, yakni melanggar perintah-Nya. Maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang kafir. Hal ini menunjukkan bahwa menyalahi Allah dalam menempuh jalan-Nya merupakan perbuatan kufur, sebab Allah tidak menyukai orang-orang yang berpredikat seperti itu, meskipun ia mengaku mencintai Allah dan bertaqarrub kepada-Nya sampai dia benar-benar mengikuti Rasulullah, Nabi yang ummi, penutup para Rasul yang diutus kepada segenap bangsa jin dan manusia.

Isi wacana naratif pada ayat 32 yaitu:

Termasuk wacana hukum dan kriminalitas karena Allah tidak menyukai orang yang mengingkari ayat-ayat-Nya dan membangkang kepada Rasul-Nya, bahkan Allah akan menghukum-Nya dan membalas-Nya.

77 ِمْيِكتحْلْا ِرْكِّذلاحو ِتٰيْٰلَا حنِم حكْيحلحع ُهْوُلْ تح ن حكِلٰذ .

( 85 )

/żālika natlūhu 'alaika mina al-āyāti wa aż-żikri al-ḥakīmi/ “Demikianlah Kami bacakan kepadamu (Muhammad) sebagian ayat-ayat dan peringatan yang penuh hikmah.” (Ali Imran: 58)

Wacana naratif yang terdapat dalam ayat di atas adalah:

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Hasan al-Bashri, dia berkata, “Pada suatu hari Rasulullah didatangi dua orang pendeta dari Najran. Lalu salah satu dari keduanya bertanya kepada beliau, ‘Siapa Isa?’ Rasulullah tidak menjawab langsung pertanyaan itu karena menunggu perintah Allah. Lalu turunlah ayat tersebut.

Isi wacana naratif pada ayat 58 yaitu:

Termasuk wacana sosial karena dua orang pendeta dari Najran bertanya kepada Rasulullah untuk mencari kebenaran dan sikap Rasulullah yang tidak langsung menjawab, tetapi beliau menunggu perintah Allah.

76 حمحدٰا ِلحثحمحك ِهٰ للا حدْنِع ىٰسْيِع حلحثحم ننِا .

حقحلحخ ۚ حل حلاحق نُثُ ٍباحرُ ت ْنِم ه ُنْوُكتحيح ف ْنُك ه

( 83 )

/inna maṡala 'īsā 'inda allāhi kamaṡali ādama, khalaqahū min turābin ṡumma qāla lahū kun fa yakūn/ “Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) Isa bagi Allah, seperti (penciptaan) Adam. Dia menciptakannya dari tanah, kemudian Dia berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu.” (Ali Imran: 59)

Wacana naratif yang terdapat dalam ayat di atas adalah:

Ketika delegasi Nasrani Najran datang, mereka mendebat Rasululllah

dalam perkara Isa. Mereka berkata kepada Rasulullah, “Mengapa engkau mencela

sahabat kami?” Nabi menjawab, “Apa yang telah aku katakan?” Mereka berkata,

“Engkau mengatakan bahwa Isa adalah seorang hamba.”

Nabi berkata, “Benar, Isa adalah hamba Allah, Rasul dan kalimat-Nya yang disampaikan kepada sang perawan (Maryam).” Lalu mereka marah seraya berkata, “Bagaimana menurutmu tentang seorang manusia biasa yang lahir tanpa seorang ayah? Jika engkau benar maka buktikanlah kepada kami, contoh lain seperti Isa.” Maka Allah menurunkan Ali Imran: 59 (Ash-Shabuni: 448-449).

Isi wacana naratif pada ayat 59 yaitu:

Termasuk wacana sosial karena berhubungan dengan kehidupan masyarakat, seperti orang yang beragama Nasrani saat ini masih mengakui bahwa Isa adalah seorang Tuhan, bukan seorang hamba dan sikap Nasrani Najran yang mendebat Rasulullah dalam perkara Isa.

71 حنْيِحتَْمُمْلا حنِّم ْنُكتحت حلاحف حكِّبنر ْنِم ُّقحْلْحا .

( 21 )

/al-ḥaqqu min rabbika fa lā takun mina al-mumtarīna/ “Kebenaran itu dari Tuhanmu, karena itu janganlah engkau (Muhammad) termasuk orang-orang yang ragu.” (Ali Imran: 60)

Wacana naratif yang terdapat dalam ayat di atas adalah:

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dalam kitab ath-Thabaqat dari al-Azraq bin Qais, dia berkata, “Pada suatu hari Uskup Najran dan bawahannya mendatangi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengajak mereka masuk Islam. Maka keduanya menjawab, “Kami adalah orang-orang muslim sebelum kamu.” Rasulullah bersabda, “Kalian bohong.

Sesungguhnya ada tiga hal yang membuat kalian tidak dalam Islam, yaitu keyakinan kalian bahwa Allah mempunyai seorang anak, memakan daging babi, dan sujud kalian terhadap patung.” Maka keduanya bertanya kepada beliau,

“Kalau demikian, siapa ayah Isa?” Rasulullah tidak menjawab pertanyaan mereka hingga Allah menurunkan firman-Nya.

Isi wacana naratif pada ayat 60 yaitu:

Termasuk wacana sosial karena Rasulullah mengajak mereka (Uskup Najran dan bawahannya) untuk masuk Islam dan Rasulullah yang tidak langsung menjawab pertanyaan mereka hingga turun firman Allah.

71 ْنِم ِهْيِف حكنجۤاحح ْنحمحف .

احنحءۤاحسِنحو ْمُكحءۤاحنْ بحاحو احنحءۤاحنْ بحا ُعْدحن اْوحلاحعح ت ْلُقح ف ِمْلِعْلا حنِم حكحءۤاحج احم ِدْعح ب ۚ

ْمُكتحسُفْ نحاحو احنحسُفْ نحاحو ْمُكحءۤاحسِن حو حْيِبِذٰكتْلا ىحلحع ِهٰ للا حتحنْعنل ْلحعْجحنح ف ْلِهحتْبح ن نُثُ ۚ

( 27 )

/fa man ḥājjaka fīhi min ba'di mā jā`aka mina al-'ilmi fa qul ta'ālaū nad'u abnā`anā wa abnā`akum wa nisā`anā wa nisā`akum wa anfusanā wa anfusakum, ṡumma nabtahil fa naj'al la'nata allāhi 'ala al-kāżibīna/ “Siapa yang membantahmu dalam hal ini setelah engkau memperoleh ilmu, katakanlah (Muhammad), “Marilah kita panggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istri-istri-istrimu, kami sendiri dan kamu juga, kemudian marilah kita bermubahalah agar laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.” (Ali Imran: 61)

Wacana naratif yang terdapat dalam ayat di atas adalah:

Dalam shahih Muslim diriwayatkan, ketika ayat ini turun, Rasulullah mengajak Fathimah, Hasan, dan Husain, seraya berdoa, “Ya Allah mereka adalah

Dalam shahih Muslim diriwayatkan, ketika ayat ini turun, Rasulullah mengajak Fathimah, Hasan, dan Husain, seraya berdoa, “Ya Allah mereka adalah

Dokumen terkait