• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Isolasi dan Karakterisasi Bakter

4.1.1. Populasi Bakteri Pada Beberapa Tambak Udang Intensif

Hasil penghitungan Total Plate Count (TPC) terhadap sampel air dan sedimen untuk setiap tambak menunjukkan jumlah yang bervariasi. Populasi bakteri pada air dan sedimen di setiap tambak dapat dilihat pada Tabel. 4.1. berikut

Tabel 4.1. Populasi Bakteri Pada Setiap Tambak

Sumber Sampel

Jumlah Rata-rata Bakteri (CFU/ml)

Air Sedimen

Tambak Handoyo, Kec. Pantai Cermin 0,6x109 0,3x1013 Tambak Rindam, Kec. Batu Bara 0,2x1012 0,5x108 Tambak Rim, Kec. Batu Bara 0,2x1011 0,1x1010

Tabel 4.1. menunjukkan bahwa populasi bakteri bervariasi pada setiap tambak. Jumlah bakteri Tambak Handoyo di sedimen lebih besar daripada di air, yaitu sebanyak 0,3x1013 CFU/ml. Jumlah bakteri Tambak Rindam dan Tambak Rim lebih tinngi di air daripada di sedimen, yaitu masing-masinng sebanyak 0,2x1012 CFU/ml dan 0,2x1011. Hal ini kemungkinan disebabkan karena kondisi lingkungan dan ketersediaan baham organik yang ada di tambak. Pada tambak Handoyo jumlah bakteri pada sedimen jauh lebih tinggi daripada air, kemungkinan disebabkan kelimpahan bahan organik dan mikronutrient sisa pakan udang berumur 59 hari yang menumpuk pada permukaan sedimen. Pada tambak Rindam dan Tambak Rim jumlah bakteri lebih tinggi di air daripada sedimen, kemungkinan karena tambak belum diberi perlakuan, yaitu belum ditabur benur dan pemberian pakan, sehingga akumulasi bahan organik pada sedimen tidak ada. Bakteri pada air merupakan flora normal air yang kemungkinan terbawa pada saat air dimasukkan ke dalam tambak yang berasal dari sungai dan pantai.

27

27 DEPARTEMEN BIOLOGI FMIPA USU

Data Tabel 4.1. memperlihatkan bahwa populasi bakteri melimpah di sedimen pada tambak yang diberi pakan (Tambak Handoyo) daripada tambak yang tidak diberi pakan (Tambak Rindam dan Tambak Rim). Hal ini kemungkinan disebabkan sisa pakan mengendap lebih banyak pada sedimen sehingga menyebabkan tingginya kandungan bahan organik yang merupakan makanan bagi bakteri. Menurut Waluyo (2009) bahan-bahan organik yang terlarut maupun yang tersuspensi dalam air merupakan bagian penting nutrisi mikroorganisme. Populasi bakteri dalam air tergantung seberapa besar perbandingan konsentrasi dan komposisi dari substansi tersebut. Senyawa organik berperan penting dalam faktor pemacu dan sebagai faktor penghambat. Biasanya ada korelasi positif antara jumlah mikroorganisme dengan konsentrasi zat-zat organik. Kemungkinan pada Tambak Rindam dan Tambak Rim konsentrasi bahan organiknya juga tinggi meskipun belum diberi pakan sehingga jumlah bakterinya pun tinggi.

Hatha et al (2003), meneliti kehadiran bakteri patogen oportunis pada tambak udang India, hasil yang didapatnya lebih kecil dari populasi bakteri pada Tabel 4.1., variasinya antara 5.7 x 104 hingga 9.4 x 104 cfu.ml-1 pada air, sedangkan pada sedimen sebesar 6.5 x 105 hingga 7..4 x 104 cfu.g-1 yang dianalisis dengan parameter Total Heterotrophic Bacterial (THB). Nayyarahamed et al (1995), juga memperoleh hasil dengan THB yaitu 102 hingga 103 cfu.ml-1 pada air dan 103 hingga 104 cfu.g-1 pada sedimen. Lakshmanaperumalsamy et al (1981), populasi bakteri heterotropik dapat hidup pada lingkungan bergantung pada ketersediaan bahan organik dan anorganik.

4.1.2. Isolasi Bakteri Patogen Oportunistik

Bakteri patogen oportunistik diisolasi dengan menggunakan media selektif dan diferensial. Jumlah bakteri patogen oportunistik pada setiap tambak dapat dilihat pada Tabel 4.2. berikut:

Tabel 4.2. Jumlah Bakteri Patogen Oportunistik Pada Setiap Tambak

Medi

a

Bakteri

Jumlah Bakteri Patogen Oportunistik Tambak Handoyo Tambak Rindam Tambak Rim A S C A S C A S C SSA Salmonella sp. 1,1x103 3x102 √ - 2x102 √ - 6x102 √ MSA Staphylococcus aureus 1x102 4x103 √ 4x103 5,2x103 √ 9,7x103 2x102 √

EMB Escherichia coli - - - -

Keterangan: A=Air; S=Sedimen; C=Cotton Bud; √ = Terdapat Biofilm

Pada Tabel 4.2. menunjukkan jenis bakteri oportunistik yang terdapat pada ketiga tambak yang diisolasi dengan menggunakan media selektif, kemudian dilakukan karakterisasi fisiologisnya. Dapat disimpulkan bahwa pada ketiga tambak terdapat bakteri Staphylococcus aureus, Salmonella sp., dan tidak terdapat bakteri Escherechia coli, sehingga pada penelitian ini digunakan E. coli koleksi laboratorium. Salmonella tidak terdapat pada sampel air yang berasal dari tambak Rindam dan tambak Rim, namun terdapat pada sedimen. Cotton bud yang diusapkan pada media selektif memperlihatkan pertumbuhan koloni mengikuti pola gores sinambung, menunjukkan bahwa Staphylococcus dan Salmonella dapat menempel pada permukaan benda pada tambak yang diduga sebagai biofilm.

Pada media SSA bakteri Shigella juga tumbuh dengan baik, cara membedakan koloninya dengan bakteri Salmonella yaitu dengan warna koloni pada media. Pada inkubasi berumur 48 jam koloni bakteri Salmonella akan berwarna hitam karena bakteri Salmonella menghasilkan gas H2S dan media pun

berubah warna dari merah menjadi kuning tua. Koloni bakteri Staphylococcus pada media MSA membentuk zona halo berwarna kuning dan Escherechia coli berwarna hijau metalik pada media EMB. Koloni bakteri tersebut diinokulasikan ke media Sea Water Complete (SWC) untuk mendapatkan isolat murni. Setelah itu dilakukan uji pewarnaan Gram, karakterisasi dan uji biokimia.

Pada krustasea maupun biota lain yang dikonsumsi oleh manusia, tidak diperbolehkan terdapat bakteri Salmonella, karena dapat mengakibatkan demam enterik, septikemia dan gastroenteritis. Berkaitan dengan hal tersebut, maka pada lingkungan perairan budidaya biota laut dan kehidupan biota laut harus diupayakan bebas dari bakteri Salmonella spp.. Keberadaan Salmonella mengindentikasikan air tambak telah tercemar. Menurut FAO (2010) jalur yang memungkinkan kontaminasi Salmonella pada sistem akukultur yaitu, pembuangan

29

29 DEPARTEMEN BIOLOGI FMIPA USU

hewan seperti burung atau katak yang hidup di sekitar kolam, sistem peternakan yang dekat dengan sistem akukultur, penggunaan pupuk hewan yang digunakan untuk menstimulasi produksi alga, dan selama musim penghujan yang meningkatkan aliran bahan organik ke dalam kolam memungkinkan terjdinya kontaminasi ke sistem akuakultur. Dapat diamati dari lingkungan tambak seperti Tambak Handoyo yang berada di tepi pantai yang penduduknya berprofesi sebagai peternak unggas seperti ayam dan bebek, Tambak Rindam berada di tepi muara Sungai Rindam dimana kontaminasi Salmonella ke dalam air sungai dapat berasal dari mana saja, termasuk dari pemukiman yang berada di dekat sungai, dan di tambak Rim, sekalipun jauh dari pemukiman, tambak dikelilingi hutan mangrove yang merupakan habitat hewan berdarah panas seperti burung.

Data Tabel 4.2. menunjukkan bahwa pada ketiga tambak tidak terdapat bakteri Escherechia coli, kemungkinan karena penggunaan probiotik seperti EM4® dengan penggunaan sebelum penebaran benur dan pada saat pertumbuhan.

Probiotik EM4®merupakan kultur EM (Efektif Mikroorganisme) dalam medium

cair berwarna coklat kekuning-kuningan yang menguntungkan, yang berguna untuk meningkatkan bakteri pengurai bahan organik, menekan pertumbuhan bakteri patogen, menstimulasi enzim pencernaan, memfermentasi sisa pakan, kotoran, cangkang, dan meningkatkan kualitas air pada tambak serta menekan pertumbuhan Escherechia coli. Efektif mikroorganisme merupakan gabungan atau campuran dari berbagai bakteri bermanfaat yang terdiri dari Lactobacillus yang dominan, merupakan bakteri asam laktat, bakteri fotosintesis yang berfungsi membentuk zat-zat yang bermanfaat, ragi/khamir, dan Actinomycetes yang menghasilkan aktivitas selulase (http://www.em4indonesia.com/). Sedangkan keberadaan Salmonella sp. dan Staphylococcus aureus diduga resisten atau tidak mampu dihambat oleh EM4®.

Dokumen terkait