BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.6. Isolasi Senyawa Bioaktif
Kompleksitas kimia suatu senyawa bioaktif yang dihasilkan oleh organisme dibutuhkan metode pemisahan organik untuk mendapatkan senyawa murni. Isolasi diterapkan pada bahan alam yang menghasilkan metabolit skunder untuk menghasilkan senyawa bioaktif. Isolasi senyawa bioaktif dilakukan dengan beberapa tahapan yaitu ekstraksi, partisi, fraksinasi, dan analisis spektroskopi dari senyawa murni yang diperoleh dilanjutkan dengan uji aktivitas dari senyawa yang dipperoleh (Saleh et al., 2009).
2.6.1. Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
Kromatografi lapis tipis merupakan teknik pemisahan senyawa berdasarkan dua fase yang berbeda mengunakan lapisan pelat tipis sebagai fase diam dan eulen (larutan pengembang) Sebagai fase gerak (Sherma, 2003). Pelat yang digunakan dapat berupa plastik, kaca, maupun alumunium. KLT banyak digunakan untuk tujuan analisis (kualitatif, kuantitatif, dan preparatif) (Gandjar & Rohman, 2007). KLT bisa digunakan untuk analisis ekstrak natural product, uji stabilitas ekstrak/produk, dan untuk kontrol kualitas sampel (Cimpoui, 2006).
Prinsip KLT yaitu eulen akan bergerak (bermigrasi) dengan diserap fase diam karena pengaruh kapilerisasi dengan cara naik (ascending) maupun turun (descending).
KLT mengunakan absorben berukuran kecl dengan diameter partikel 10-20 µm.
Absorben merupakan penyerap/fase diam yang digunakan dalam kromatografi sebagai sarana adsorbsi. Absorben dipilih berdasarkan sifat kepolarannya berikut adalah urutan polaritas absorben: alumina > silika gel > selulosa. Fase gerak yang digunakan merupakan pelarut organik dapat berupa satu pelarut atau campuran dari beberapa pelarut. Pemilihan pelarut menentukan pemisahan senyawa berdsarkan pada kepolaran fase gerak dan sifat senyawa. Senyawa polar akan mudah terelusi oleh eulen yang bersifat polar dan juga sebaliknya. Berikut merupakan urutan polaritas pelarut organik: air >
metanol > asetonitril > etanol > aseton > etil asetat > dietileter > kloroform > benzena >
n-heksana > peroleum eter > parafin cair (Gandjar & Rohman, 2007).
KLT dapat digunakan untuk identtifikasi pemisahan senyawa berdasarkan nilai Rf (retention factor) dan warna spot. Warna spot divisualisasi mengunakan reagen semprot untuk menentukan indikator golongan senyawa (Wettasinghe et al., 2001). Faktor yang mempengaruhi efisiensi pemisahan senyawa mengunakan KLT:
1. Fase diam sebagai absorben harus menunjukkan selektifitas maksimum terhadap senyawa yang akan dipisahkan, sehingga terdapat perbedaan kecepatan elusi.
2. Eulen harus menunjukkan selektifitas maksimum dalam menyerap/membawa senyawa yang dipisahkan.
3. Senyawa bersifat stabil sehingga mudah dipisahkan (Sherma, 2003).
2.6.2. OCC (Open Column Chromatography)
Open Column Chromatography atau kromatografi kolom terbuka adalah bentuk paling awal dari teknik kromatografi yang dahulu digunakan untuk pemisahan sampel dalam jumlah yang besar menggunakan kolom (Gandjar & Rochman, 2007). Prinsip kerja OCC adalah mengunakan kolom berbentuk seperti seperti buret dengan sampel diletakkan diatas fase diam yang telah dilarutkan dengan pelarut, kemudian sampel dialiri eulen (fase gerak) sehingga senyawa akan membentuk layer di fase diam. Berdasarkan kepolaran eulen, senyawa akan terdistribusi mengalir ke bawah sehingga fraksi sampel dapat ditampung mengunakan tabung reaksi secara berurutan. Fase gerak mengalir karena dipengaruhi oleh grafitasi dan tarikan antar molekul saat kolom dibuka dari bawah. Fraksi yang tidak tertahan olah fase diam akan keluar terlebih dahulu dan diikuti oleh fraksi lainnya. Senyawa yang dipisahkan dideteksi profilnya mengunakan KLT. Profil fraksi yang sama diduga merupakan senyawa yang sama sehingga dapat digabungkan.
2.6.3. HPLC (High Performance Liquid Chromatography)
High Performance Liquid Chromatography (HPLC) atau kromatografi cair kinerja tinggi didasarkan atas distribusi partisi sampel (komponen) diantara cairan fase gerak dan fase diam. Prinsip kerja HPLC adalah memisahkan komponen analit (sampel) berdasarkan sifat kepolaran masing-masing komponen pada sampel (Gandjar & Rohman, 2007). Kepolaran analit yang lebih mirip dengan fase diam akan tertinggal di fase diam akan bergerak lebih lambat, sedangkan kepolaran yang lebih mirip dengan fase gerak akan terdistrbusi lebih jauh dan bergerak lebih capat. Sampel dimasukkan ke dalam aliran fase gerak dengan cara disuntikkan. Fase gerak cair dialirkan melalui melalui kolom detektor dengan bantuan pompa. Di dalam kolom terjadi pemisahan komponen karena perbedaan kekuatan interaksi antara komponen dengan fase diam. Komponen yang kurang kuat interaksinya akan keluar lebih lama. Setiap campuran komponen yang keluar dideteksi oleh detektor kemudian direkam dalam bentuk kromatogram.
2.6.4. NMR (Nuclear Magnetic Resonance)
NMR bertujuan untuk menentukan sifat fisik dan kimia dari atom atau molekul yang terkandung pada suatu senyawa dengan memanfaatkan sifat magnetik inti atom.
Informasi rinci tentang struktur, dinamika, keadaan reaksi, dan lingkungan kimia molekul diketahui berdasarkan fenomena resonansi magnetik nuklir (Soekamto, 2008).
NMR didasarkan pada penyerapan energi oleh partikel yang sedang berputar di dalam medan magnet yang kuat. Energi yang digunakan dalam pengukuran bergantung
pada jenis inti yang diukur, beberapa pengukuran mengunakan frekuensi 4-600 MHz.
Karakteristik inti atom yang dapat diukur dengan NMR yaitu: bentuk bulat; berputar;
bilangan kuantum spin = ½; jumlah proton dan neutron ganjil (contoh 1H, 19F, 31P, 11B, 13C).
Inti aktif NMR (misalnya 1H atau 13C) di dalam medan magnet terjadi penyerapan pada frekuensi tertentu yang menunjukkan karakteristik suatu isotop. Frekuensi resonansi, energi absorpsi, dan intensitas sinyal berbanding lurus dengan kekuatan medan magnet. Sebagai contoh pada medan magnet 21 telsa proton beresonansi pada 900 MHz. Nilai magnet 21 T dianggap setara dengan magnet 900 MHz meskipun inti yang berbeda beresonansi pada frekuensi yang berbeda.
Road Map Penelitian
Gambar 1. Roadmap Penelitian
Penelitian yang sudah dilakukan / sedang berlangsung
1. Efektivitas Ekstrak Daun Mangrove Avicenia Alba (Tomlinson, 1986) Dalam Mencegah Bakteri Vibrio Harveyi (Johnson & Shunk, 1936) Pada Udang Vaname (Litopenaus Vannamei)
2. Penggunaan Ekstrak Buah Avicennia Alba (Tomlinson, 1986) Sebagai Bahan
Antibakteri Alami Untuk Pengobatan Penyakit Yang Disebabkan Oleh Vibrio Parahaemolyticus (Fujino Et Al., 1951) Pada Udang Vaname (Litopenaeus Vannamei).
3. Kajian Mikroba Endo Simbion Mangrove Avicennia sp. Terhadap Infeksi Penyakit Vibriosis Pada Udang Vaname (Litopenaeus vannamei)
Tahun I (2021) Investigasi Senyawa Bioaktif Fungi Simbion Mangrove Avicennia Sp. Terhadap Bakteri Multi Drug Resistant (MDR)
Kegiatan Luaran
1. Publikasi di Jurnal Nasional Sinta 4 (2018-2019)
1. Seminar nasional 2. Jurnal nasional
terakreditasi ( Sinta 4)
Tahun II (2022) Identifikasi dan karakterisasi senyawa bioaktif mikroba simbion mangrove Avivennia sp. sebagai antibakteri berspektrum luas
1. Prosiding terindeks scopus
2. Jurnal nasional ( Sinta 2) 3. Seminar nasional
Mikroba Simbion mangrove Avicennia sp. sebagaai: Antibakteri Vibriosis dan Multi Drug Resistant (MDR) Kandidat antibiotik baru imunostimulan pada udang
Potensi Obat Antibakteri baru:
Senyawa bioaktif fungi simbion mangrove sebagai kandidat antibiotik baru terhadap bakteri MDR.
2021 (Perairan Lampung dan Lab. Bioteknologi Fakultas Pertanian Universitas Lampung)
BAB 3. METODE PENELITIAN