Isu-isu strategis dan prioritas nasional memiliki pengaruh yang cukup fundamental dalam menentukan arah pembangunan di daerah selain isu isu strategis yang bersifat lokal. Hal ini disebabkan arahan dan indikasi target capaian nasional merupakan juga target yang akan dicapai oleh seluruh pemerintah daerah. Selain itu, arah kebijakan dan prioritas nasional juga akan menentukan besar dan jumlah program pemerintah pusat yang akan dilaksanakan baik secara langsung maupun melalui pemerintah daerah.
Dalam Rancangan Tata Ruang (RTR) Pulau Sumatera, pusat-pusat pertumbuhan yang diklasifikasikan kedalam Pusat Kegiatan Nasional (PKN) dimana Kota Batam diarahkan untuk mengembangkan kegiatan industry pengolahan untuk mendorong perkembangan komoditas-komoditas unggulan seperti perikanan dan pariwisata. Sementara peranan PKN Batam sebagai pusat industry pengolahan untuk tujuan ekspor tetap dipertahankan.
II.3.1 Pencapaian Tujuan Pembangunan Millenium (MDGs) 2015
Hitung mundur tenggat waktu pencapaian Tujuan Pembangunan Millenium (MDGs) tahun 2015 kian mendekat, namun dari 8 (delapan) sasaran / target yang ingin dicapai masih terdapat beberapa hal yang masih belum tercapai namun masih memungkinkan untuk dicapai
Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kota Batam 2016 48
serta beberapa sasaran masih ada yang dalam kriteria mengkhawatirkan atau sulit untuk dipenuhi. Esensi utama dari tujuan pembangunan millennium sebagaimana yang dicanangkan dalam deklarasi MDGs di United Nation Summit pada bulan September tahun 2000 di New York pada dasarnya berfokus pada penanganan aspek kemanusiaan dalam rangka memerangi kemiskinan dan peningkatan kualitas SDM serta menjaga kelestarian lingkungan hidup.
Delapan target yang dikenal sebagai MDGs (millennium development goals) dapat dijabarkan sebagai penghapusan kemiskinan dan kelaparan, pendidikan, kesetaraan jender, penurunan angka kematian bayi, kesehatan ibu, penanggulangan HIV/AIDS, malaria dan penyakit-penyakit lain, lingkungan berkelanjutan, serta kerja sama pembangunan global.
Indonesia saat ini menghadapi 4 (empat) masalah pokok kependudukan yang terkait erat dengan tujuan MDGs yaitu: tingkat kelahiran yang tinggi, distribusi penduduk yang tidak merata, pengangguran dan kemiskinan, serta urbanisasi desa-kota. Meskipun pernah mengalami era keberhasilan dalam program kependudukan lewat Keluarga Berencana (KB) dan slogan ‘dua anak cukup’ guna mencapai ‘zero growth population’ namun saat ini tingkat demografi Indonesia sangat memprihatinkan. Badan Pusat Statistik memberikan data proyeksi tahun 2015 jumlah penduduk Indonesia akan mencapai 255.461.700 jiwa bahkan pada tahun 2020 diproyeksikan menjadi 271.066.400 jiwa.
Struktur kependudukan didominasi oleh usia muda yang berimplikasi pada meningkatnya kebutuhan terhadap fasilitas pendukung pertumbuhan dari sisi kebutuhan pangan hingga sarana kesehatan dan pendidikan. Angka ketergantungan penduduk menjadi tinggi yang menjadi beban oleh kelompok usia produktif sebagai pencari nafkah. Ini akan mengakibatkan keluarga dengan penghasilan yang pas-pasan akan sangat mudah jatuh ke dalam kelompok keluarga miskin begitu ada faktor pengganggu keuangan seperti pendidikan dan kesehatan. Sebaliknya, kemiskinan akan membuat penduduk usia muda tidak sehat dan tidak mendapat pendidikan tinggi sehingga akhirnya tidak dapat bersaing mendapatkan pekerjaan.
Untuk itulah pentingnya tujuan MDGs ini dituangkan dalam penyusunan dokumen Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) tahun 2005-2025, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014, Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahunan, dan dokumen Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Sehingga demikian juga diharapkan kepada seluruh pemerintah daerah baik provinsi maupun kota/kabupaten untuk juga menuangkan tujuan MDGs ke dalam indikator dokumen dokumen perencanaan pembangunan daerah sehingga tujuan tersebut dapat tercapai.
Tabel 22. Capaian Indikator MDG’s Kesehatan Tahun 2011-2014 Kota Batam
Indikator Capaian Indikator Tahun Target MDG’S
2015
Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kota Batam 2016 49
1 2 3 4 5 6
1. Prevalensi balita dengan berat badan lahir
rendah/kekurangan gizi (%) - 0,72 1,04 1,10 15,05
2. Prevalensi balita gizi buruk (%) 0,4 0,45 0,42 0,41 3,6
3. Prevalensi balita gizi kurang (%) - 2,37 1,80 1,84 2,9
4. Angka kematian balita (AKBA) per 1.000
kelahiran hidup 4,24 3,16 8,2 9,72 32
5. Angka kematian bayi (AKB) per 1.000
kelahiran hidup - 3,2 7,2 8,67 23
6. Angka kematian neonatal per 100.000
kelahiran hidup - 2,69 6,10 7,09 Menurun
7. Persentase anak usia 1 tahun yang
diimunisasi campak (%) - 72,06 74,0 84,9 Meningkat
8. Angka kematian ibu per 100.000 kelahiran
hidup 78,57 66,45 67,00 111,53 102
9. Proporsi kelahiran yang ditolong tenaga
kesehatan (%) 98,01 98,83 91,20 89,28 Meningkat
10. Angka pemakaian kontrasepsi/CPR bagi perempuan menikah usia 15-49 tahun (semua cara, cara tradisional dan cara modern) %
- 69,21 67,60 79,74 Meningkat
11. Cakupan pelayanan antenatal sedikitnya satu kali kunjungan dan empat kali kunjungan)
a. 1 kali kunjungan (%) - 95,39 83,0 94,07 Meningkat
b. 4 kali kunjungan (%) - - - 89,09 Meningkat
12. Prevalensi HIV/AIDS dari total populasi
(%) 0,03 0,04 0,05 0,05 Menurun
13. Angka kejadian dan tingkat kematian akibat malaria (%)
a. Angka kejadian (%) - 0,34 1,14 0,30 Menurun
b. Angka kematian (%) - 0 0 0
14. Proporsi jumlah kasus tuberkolosis yang terdeteksi dan diobati dalam program DOTS (%)
a. TBC terdeteksi (%)
- 14,91 151,70 100,00 70%
Terdeteksi
b. TBC terobati (%) - 61,76 46,00 54,00 85% Terobati
Sumber : Dinas Kesehatan Kota Batam
II.3.2 Program Pengentasan Kemiskinan
”Setiap kemiskinan memiliki penyebab masing-masing sehingga penyelesaiannya harus satu persatu, tidak ada resep umum” (Jeffrey D
Sachs-The End of Poverty).
Kemiskinan merupakan permasalahan multidimensi sehingga dalam penyelesaiaannya memerlukan penanganan lintas bidang dengan dukungan dari berbagai pihak mulai dari kementerian/lembaga di pusat maupun dinas teknis di tingkat daerah, sampai pada perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, swasta dan masyarakatnya sendiri. Penurunan kemiskinan yang ditandai dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat miskin dapat dicapai jika terjadi peningkatan dan perluasan terhadap akses pemenuhan kebutuhan dasar,
Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kota Batam 2016 50
peningkatan keberdayaan masyarakat untuk dapat berperan aktif dalam proses pembangunan serta peningkatan ekonomi masyarakat melalui pemberdayaan usaha mereka.
Keseriusan Pemerintah dalam penanggulangan masalah kemiskinan pada tahun 2014 telah berdampak positif dengan menurunnya jumlah penduduk miskin di Indonesia. Adapun jumlah penduduk miskin secara nasional berkurang dari 32,5 juta orang pada pada tahun 2009 menjadi 27,7 juta orang pada bulan September 2014. Tingkat kemiskinan turun dari 14,1 persen menjadi 10,96 persen pada periode yang sama.Sasaran angka pengangguran dan kemiskinan padaRPJMN 2014-2019untuk sasaran tingkat pengangguran pada tahun 2016 proyeksinya 5,2-5,5 persen dan tingkat kemiskinan 9,0-10,0 persen.
Selain menjadi perhatian pemerintah pusat, pengentasan kemiskinan juga menjadi program unggulan Gubernur dan Wakil Gubernur Kepulauan Riau yang dijabarkan dalam Visi dan Misi di dalam RPJMD Provinsi Kepri Tahun 2010-2015. Dengan bekerja sama dengan pemerintah kabupaten/kota se Provinsi Kepulauan Riau melalui Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD) dengan dipimpin oleh Wakil Gubernur dengan pola sharing dana 2 : 1. Program Pengentasan Kemiskinan ini mencakup beberapa kriteria pembiayaan yang terangkum dalam 3 (tiga) program/kegiatan kemiskinan yaitu: Program Pemenuhan Hak-Hak Dasar Penduduk Miskin, Program Rumah Layak Huni, dan Program Pembinaan Unit Usaha Penduduk Miskin/Desa Tertinggal.
Tabel 23.Jumlah Sharing Alokasi Anggaran Penanggulangan Kemiskinan Tahun 2011-2014di Kota Batam
TAHUN APBD Kota Batam (Rp)
APBD Propinsi Kepri
(Rp) Jumlah 1 2 3 4 2011 14.984.722.950 28.465.799.900 43.450.522.850 2012 14.776.594.481 19.225.235.271 34.001.829.752 2013 23.488.202.713 37.120.398.490 60.608.601.203 2014 29.275.022.252 41.372.006.514 70.647.028.766
Sumber : Perda APBDP Kota Batam
Pada tahun 2014 untuk pengentasan masalah kemiskinan ini telah dialokasikan anggaran sebesar Rp 70.647.028.766 (tujuh puluh milyar enam ratus empat puluh tujuh juta dua puluh delapan ribu tujuh ratus enam puluh enam rupiah) melalui sharing anggaran, yaitu dari APBD Propinsi Kepri sebesar Rp 41.372.006.514 dan APBD Kota Batam sebesar Rp 29.275.022.252.
Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kota Batam 2016 51
II.4 Evaluasi Pelaksanaan RKPD Tahun Lalu
Status dan kedudukan pencapaian kinerja pembangunan daerah berdasarkan indikator-indikator makro pembangunan daerah dan penyelenggaraan urusan wajib / pilihan pemerintahan daerah dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 24. Evaluasi Pelaksanaan RKPD Tahun 2013, RKPD 2014 dan Prediksi Tahun 2015
No Indikator*) Target Tahun
2014 Target Tahun 2015 Kondisi Yang Dicapai Tahun 2013 Tingkat Pencapaian Terhadap Target RPJMD (%) (1) (2) (3) (4) (5) (6)
1. Pertumbuhan PDRB Atas Dasar
Harga Konstan (%) 7.65 8,0 5.83 76,20
2. Laju inflasi Kota Batam 5.00 4.00 7,81 -
3. PDRB ADH Berlaku (dalam trilyun
Rp) 63.60 69.60 65.56 103,08
4. PDRB ADH Konstan (dalam trilyun
Rp) 37.86 41.51 34.05 89,93
5. PDRB Per-Kapita ADH Berlaku (juta
Rp) 45.14 45.54 59.89 132,67
6. PDRB Per-Kapita ADH Konstan
(juta Rp) 26.87 27.11 31.11 115,77
7. Jumlah Penduduk (jiwa) 1.214.890 1.299.933 1.135.412 93,46
8. Laju Pertumbuhan Penduduk (%)
dari sensus tahun 2010 28,66 37,66 20,24 -
9. Angka Partisipasi Murni (APM)
a. SD 103 105 100,93 97,99
b. SMP 95 97 80,25 84,47
c. SMU 75 78 61,96 82,61
10. Angka Partisipasi Kasar (APK)
a. SD 115 117 111,90 97,30
b. SMP 103 105 101,66 98,69
c. SMU 75 78 72,00 96,00
11. Angka melek huruf (%) 100 100 99,30 99,30
12. Angka Buta huruf (%) 0,00 0,00 0,70 0,70
13. Angka rata-rata lama sekolah 10,91 11,02 10,90 99,90
14. Angka usia harapan hidup 71,01 71.14 70,96 99,92
Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kota Batam 2016 52