• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ketiga, terkait dengan kondisi yang pertama dan kedua di atas adalah apa yang dikenal dengan istilah Cloud Computing dimana perhitungan-perhitungan rumit sudah

3.4. Isu-Isu Berskala Lokal Konawe Utara

3.4.4. Isu-Isu Lingkungan Hidup 1. Perubahan Iklim Mikro

Kondisi iklim di Kabupaten Konawe Utara sangat dipengaruhi oleh karakteristik geografis wilayah Konawe Utara itu sendiri yang sebagian diantaranya berada di wilayah pesisir pantai/laut. Oleh karena itu, kenaikan temperatur air laut secara global akan ikut berpengaruh signifikan terhadap temperatur air laut pada kawasan desa-desa pesisir di Konawe Utara.

Berdasarkan pada klasifikasi iklim Schmidt dan Ferguson, wilayah Kabupaten Konawe Utara dibedakan dalam dua klasifikasi yaitu Tipe Iklim B yakni tipe Iklim dengan kelembaban 14,3-33,3 % pada daerah Wiwirano hingga Molawe, dan Tipe Iklim C yaitu dengan kelembaban 33,3-60 % pada wilayah Lasolo hingga Motui.

Seperti daerah-daerah lain di Sulawesi Tenggara pada khususnya dan di Indonesia pada umumnya, kondisi klimatologi di Kabupaten Konawe Utara ditandai oleh adanya 2 (dua) musim, yaitu musim kemarau dan musim penghujan. Kondisi musim

banyak dipengaruhi oleh arus angin yang bertiup diatas wilayahnya. Pada bulan Desember sampai dengan Mei, angin banyak mengandung uap air yang berasal dari Benua Asia dan Samudera Pasifik, setelah sebelumnya melewati beberapa lautan. Pada bulan-bulan tersebut terjadi musim Penghujan. Sekitar bulan September, arus angin selalu tidak menentu dengan curah hujan kadang-kadang kurang dan kadang-kadang lebih. Musim ini oleh para pelaut setempat dikenal sebagai musim Pancaroba.

Pada beberapa tahun terakhir, suhu udara di daerah ini dipengaruhi oleh perbedaan ketinggian dari permukaan laut dan posisi geografis Konawe Utara yang berada di daerah khatulistiwa sehingga terjadi perbedaaan suhu pada wilayah tertentu. Secara umum, Kabupaten Konawe Utara merupakan daerah dengan karakter suhu tropis. Merujuk pada data dari Pangkalan Udara Wolter Monginsidi, selama tahun 2010 – 2019 suhu udara maksimum 32oC dan minimum 21oC. Tekanan udara rata-rata mencapai 1.008,9 milibar dengan kelembaban udara rata-rata 79 persen. Kecepatan angin pada umumnya berjalan normal yaitu disekitar 4 M/Sec.

Terkait dengan curah hujan disebutkan bahwa sekitar bulan juni dan juli pada setiap tahun, termasuk di tahun 2019 dan 2020 ini, curah hujan berlangsung dalam jumlah hari hujan yang terbanyak, yakni sebanyak 25 hari hujan dengan total curah hujan terbesar yakni sebesar 694 mm.

3.4.4.2. Kerusakan Ekosistem Alam

Terlajinya beberapa peristiwa bencana alam di Konawe Utara dalam satu dekade terakhir, seperti banjir dan tanah longsor, kekeringan, angin kencang (

puting buling

) dan gempa bumi, memiliki hubungan erat dengan terjadikan kerusakan ekosistem lingkungan yang cukup parah di daerah ini. Rezim pengelolaan SDA yang berlangsung selama ini di Konawe Utara cenderung telah mengabaikan asas-asas kelestarian lingkungan dan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan. Hal ini antara lain telah berdampak penurunan kualitas lingkungan hidup pada berbagai satuan ekosistem yang dikelola untuk tujuan-tujuan ekonomi dan pelaksanaan pembangunan daerah. Berbagai satuan ekosistem hutan, pantai dan perairan dan bantaran sungai telah mengalami tekanan berat dan degradasi secara sistematis akibat kegiatan eksploitasi dan ektraksi potensi sumberdaya alam secara tidak terkendali. Fakta-fakta ini antara lain terlihat dalam kegiatan pengelolaan potensi sumberdaya hutan, perkebunan sawit dan pertambangan nikel.

Pengelolaan potensi sumberdaya hutan di Konawe Utara selama ini telah menimbulkan kerusakan kawasan hutan pada skala yang sangat luas dan cukup berat. Selain diperburuk oleh praktek-praktek sindikasi kayu dari pengusaha lokal, kerusakan kawasan hutan tersebut terutama disebabkan oleh pembabatan hutan secara besar-besaran yang pernah dilakukan oleh PT. Intisixta di belantara Asera. Selama hampir 20 tahun, yakni terhitung sejak tahun 1992 hingga tahun 2003, perusahaan pemegang HPH tersebut telah melakukan eksploitasi kayu secara besar-besaran pada kawasan hutan seluas ratusan ribu hektar.

Tekanan berat terhadap ekosistem hutan dan kawasan hutan di Konawe Utara juga terjadi pada kegiatan konversi hutan produksi untuk pembukaan lahan perkebunan sawit. Terkait hal ini disebutkan bahwa sejak tahun 2015 lalu, terdapat setidaknya 13 perusahaan kelapa sawit yang memiliki izin operasi/produksi di Konawe Utara, yaitu : 1) PTPN XIV yang telah lama eksis dengan luas lahan yang telah dimanfaatkan seluas

4.162 Ha dari rencana seluas 6.000 Ha

2) PT. Damai Jaya Lestari (DJL) yang telah memanfaatkan sekitar 5.600Ha dari rencana pengembangan 16.000 Ha.

3) PT. Sultra Prima Lestari (SPL) yang telah memanfaatkan sekitar 4.310,90 ha dari rencana pengembangan seluas 20.000 Ha yang terbentang dari Desa Sambandete sampai ke Desa Labungga

4) PT. Celebes Agro Lestari yang telah memperoleh izin seluas 20.000 Ha yang terbentang dari Desa Sambandete sampai ke Desa Paka Indah

5) PT. Agro Tama Makmur Abadi seluas 20.000 Ha 6) PT. Sulawesi seluas 12.000 Ha

7) PT. SAIP 8) PT. Telaga Mas

9) PT. Bintang Karsa Sulawesi seluas 20.000 Ha 10) PT. Konawe Agro Palm seluas 20.000 Ha 11) PT. Mulya Tani

12) PT. Bina Muda Perkasa 13) PT. Artha Dharma Mandiri

Dari 13 (tiga belas) perusahaan di atas, terdapat 3 (tiga) perusahaan yang tercatat telah lama beroperasi dan memiliki wilayah kelola kebun sawit paling luas di wilayah Konawe Utara, yakni PT. Sultra Prima Lestari (SPL), PT. Perkebunan Nusantara XIV (PTPN XIV) dan PT. Damai Jaya Lestari (DJL).

Selain disebabkan kegiatan eksploitasi hutan oleh beberapa perusahaan di atas, kerusakan ekosistem alam di Konawe Utara juga disebabkan oleh kegiatan eksploitasi tambang nikel. Jumlah pemegang izin usaha pertambanan nikel yang telah beroperasi di Konawe Utara hingga tahun 2020 ini adalah sekitar 20 perusahaan dari sejumlah 68 IUP nikel yang telah memiliki sertifikat

clear and clean

tersebut. Deru mesin penggali tanah dari puluhan contractor mining dewasa ini telah menggunduli hutan dan pergunungan, serta menggali dan mengangkut tanah nikel (ore) pada luasan ribuan hektar. Fakta ini dapat dijumpai pada beberapa kawasan pertambangan nikel di Kecamatan Langgikima dan Wiwirano (utamanya di block Matarape), Kecamatan Asera, Kecamatan Molawe, Kecamatan Lasolo dan Kecamatan Motui.

3.4.5. Isu-Isu Keadilan dan Kesejahteraan dalam Pengelolaan Sumberdaya