• Tidak ada hasil yang ditemukan

Isu Lingkungan Nasional dan Lokal

Dalam dokumen BAB VIII IPA DAN TEKNOLOGI (Halaman 44-55)

BAB X ISU LINGKUNGAN

10.2 Isu Lingkungan Nasional dan Lokal

Berbagai isu lingungan baik yang bersifat nasional maupun lokal yang muncul dalam 1-2 dasawarsa belakangan ini semakin meningkat derajat kompleksitas dan intensitas dampaknya. Dari sekian banyak isu, dalam sub ini dipilihkan beberapa isu saja yang relative cukup mewarnai kehidupan masyarakat local dan nsional. Semua gangguan yang muncul menjadi isu tersebut sesungguhnya sebagian besar berkaitan baik langsung maupun tidak langsung dengan dampak Perubahan Iklim Dunia. Semua isu mendasar tersebut telah dibahas oleh para pakar dan penentu kebijakan dari hampir seluruh dunia. Konferensi Tingkat Tinggi Bumi di Rio De Jeneiro

110

menghasilkan suatu konsesus tentang beberapa bidang penting khususnya tentang prinsip-prinsip kehutanan (forest principle) yang dituangkan dalam dokumen dan perjanjian : Non-Legally Binding Authorotative Statement of Prinsiple for a Global Consensus on the Management, Conservation and Sustainable Development of all Types of Forest dan Bab 11 dari Agenda 21 Combating Deforestation. Kemudian dalam pertemuan ketiga dari Komisi Pembangunan Berkelanjutan (CSD-Commission of Sustainable Development) disepakati untuk membentuk Intergovermental Panel on Forest (IPF) guna melanjutkan dialog dalam kebijakan kehutanan skala global (Eleanora, 2013)

Pada abad 21 ini kelestarian lingkungan sama pentingnya dengan keadilan bagi Hak-Hak Azasi Manusia (HAM). Mangunjaya (2006) mengemukakan bahwa wacana lingkungan hidup bersama-sama dengan pelestarian alam merupakan isu penting di dunia Internasional mengingat keterkaitan global dan biosfer bumi yang mempunyai satu sistem hukum alam yang telah tetap dan harmonis dapat berubah menjadi bencana jika satu komunitas (negara) berbuat kesalahan yang sangat fatal mengelola lingkungan dan alam aslinya; oleh karenanya Indonesia dengan sumberdaya alam (SDA) yang sangat besar serta keanekaragaman hayatinya yang kaya akan menjadi sorotan dunia jika diangap “tidak becus” mengelola kelestarian alam dan lingkungannya.

Pencemaran lingkungan

Pencemaran lingkungan merupakan masalah kita bersama, yang semakin penting untuk diselesaikan, karena menyangkut keselamatan, kesehatan, dan kehidupan kita. Siapapun bisa berperan serta dalam menyelesaikan masalah pencemaran lingkungan ini, termasuk kita; dimulai dari lingkungan yang terkecil, diri kita sendiri, sampai ke lingkungan yang lebih luas. Permasalahan pencemaran lingkungan yang harus segera kita atasi bersama di antaranya pencemaran air tanah dan sungai, pencemaran udara perkotaan, kontaminasi tanah oleh sampah, hujan asam, perubahan iklim global, penipisan lapisan ozon, kontaminasi zat radioaktif, dan sebagainya.

Untuk menyelesaikan masalah pencemaran lingkungan ini, tentunya kita harus mengetahui sumber pencemar, bagaimana proses pencemaran itu terjadi, dan bagaimana langkah penyelesaian pencemaran lingkungan itu sendiri. Perubahan peilaku manusia merupakan salah satu syarat keberhasilan semua upaya penanganan masalah pencemaran lingkungan. Gambar 11.4 memperlihatkan akibat perilaku manusia dalam bembuang limbah yang tidak saja dapat menimbukan pencemaran air dan darat tapi juga dapat menyebabkan kebanjiran.

111

Gambar 10.4. Penumpukan Sampah Akibat Perilaku Manusia

Sumber: https://dedikurniawanzoom.files.wordpress.com/2013/10/sampah-walikota2.jpg Dari berbagai jenis sampah yang sulit terdegradasi di alam, jenis-jeins plastik memerlukan perhatian serius. Penggunaan plastik bagi berbagai keperluan yang sangat tinggi memunculkan akibat terjadinya penumpukan limbah plastik karena hanya digunakan untuk sekali pakai saja.

Plastik yang banyak digunakan oleh kalangan industri maupun rumah tangga merupakan salah satu jenis polimer yang secara umum berbahan dasar polipropilena (PP), polietilena (PE), polistirena (PS), polimetil metakrilat (PMMA), high density polyethylene (HDPE) dan polivinilklorida (PVC) yang tidak mudah diurai secara cepat oleh mikroorganisme (Daryoso dkk., 2012)

Bencana lingkungan yang menonjol saat ini selain disebabkan dampak global warming karena rusaknya lapisan ozon serta perusakan hutan dan lahan yang terjadi karena penebangan liar (illegal logging), tapi juga seperti dikemukakan (Handayani, 2006) disebabkan oleh berbagai jenis pencemaran yaitu:

(i) Pencemaran air (darat) akibat pembuangan limbah domestik, limbah B3 serta limbah usaha dari sector industri dan pertambangan. Pencemaran air mengakibatkan air yang debitnya sudah sangat langka, menjadi langka karena penurunan kualitasnya, sehingga air tidak lagi dapat memenuhi persyaratan untuk berbagai penggunaan,

(ii) Pencemaran sebagai akibat masalah urban yang memunculkan seperti penimbunan sampah dan limbah domestik, pencemaran udara (oleh emisi kendaraan bermotor), kelangkaan air bersih dan keterbatasan lahan (kesesakan). Masalah ini disebabkan oleh tingginya laju urbanisasi, kurangnya fasilitas umum dan pelanggaran peraturan peruntukan ruang,

(iii) Pencemaran laut dan perusakan pantai yang mencakup perusakan hutan mangrove, abrasi pantai, pencemaran air laut, pengerukan pasir darat, dan perusakan terumbu karang telah

112

menimbulkan kerusakan lingkungan laut dan pantai. Kehidupan nelayan yang bergantung pada kondisi laut dan pantai sangat terkena dampak negatifnya.

Kekeringan dan Kebanjiran

Sebagai negara kepulauan Indonesia dikenal memiliki hutan hujan tropis terbesar di dunia yang menjamin mendapat hujan sepanjang waktu. Perubahan iklim telah mengubah dinamika fluktuasi iklim yang akakn memberi dampak bagi adanya ancaman banjir dan kekeringan. Sebagai negara potensi sosio-ekonomi yang besar sekali, maka kondisi ini juga yang membuat Indonesia mempunyai kerentanan yang sangat tinggi terhadap beragam bencana seperti gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor, badai dan angin topan, dan berbagai bencana ikutan lainnya (Yayasan IDEP, 2007).

Kekeringan merupakan persoalan yang memiliki dampak yang cukup signifikan utamanya dalam bidang pertanian. Kekeringan yang terjadi terlalu lama bisa berdampak pada turunnya produksi tanaman dan merugikan petani. Produksi pertanian yang rendah akan berakibat pada menurunnya kondisi pangan nasional bangsa dan menyebabkan stabilisasi perekeonomian mudah goyah. Hal lain yang bisa terjadi jika kekeringan terjadi terlalu lama adalah terganggunya sistem hidrologi lingkungan dan manusia akan kekurangan air untuk dikonsumsi. Hal ini tentu sangat mengkhawatirkan karena air adalah salah satu unsur kehidupan yang mutlak tersedia untuk keberlangsungan hidup.

Masalah kekeringan di Indonesia tidak terjadi hanya karena faktor alamiah saja. Letak Indonesia secara geografis diapit dua benua juga dua samudera di sepanjang garis khatulistiwa memungkinkan terjadi kerentanan terhadap gejala kekeringan mengingat iklimnya sangat sensitive terhadap perubahan yang disebabkan oleh fenomena El-Nino Southern Oscilation (ENSO). ENSO inilah yang menjadi penyebab utama kekeringan yang muncul apabila suhu di permukaan laut pasifik equator tepatnya di bagian tengah sampai bagian timur mengalami peningkatan suhu.

Berdasarkan kajian banyak pakar disepakati pemahaman bahwa selain ENSO, penyebab munculnya gejala kekeringan di Indonesia antara lain:

(i) Perubahan daerah aliran sungai (DAS) terutamanya di wilayah hulu yaitu beralihnya fungsi lahan dari vegetasi menjadi non-vegetasi dan/atau dari lahan hutan/konservasi menjadi lahan budidaya. Perubahan ini akan menyebabkan perubahan dan kerusakan sistem resapan air di kawasan tersebut.

(ii) Degradasi lingkungan di daerah hulu, yang biasanya didominasi oleh hutan alam, hutan lindung, dan hutan konservasi, menyebabkan kerusakan hidrologis wilayah hulu yang

113

berakibat waduk mengering. Pada saat musim hujan kondisi ini mengakibatkan terjadinya erosi yang memicu pendangkalan waduk dan saluran irigasi diisi oleh sedimen. Proses degradasi lingkungan yang terjadi berulang-ulang tiap tahunnya tanpa ada upaya pemulihan yang memadai akan menurunkan kapasitas dan daya tampung air oleh lingkungan kawasan hulu. Kondisi ini mengakibatkan cadangan air yang kurang dan memicu kekeringan parah saat musim kemarau tiba.

(iii) Penyebab kekeringan di Indonesia lainnya adalah persoalan agronomis atau dikenal juga dengan nama kekeringan agronomis. Hal ini akibat pola tanam petani di Indonesia yang memaksakan penanaman padi pada musim kemarau dan mengakibatkan cadangan air semakin tidak mencukupi serta berbagai bentuk kekeliruan kegiatan budidaya tanaman.

Cara dan upaya menanggulangi kekeringan di Indonesia tersebut antara lain adalah:

(i) Memperbaharui paradigma petani terkait kebiasaan memaksakan penanaman padi di musim kemarau. Terkait ini sebaiknya masyarakat Indonesia dengan difasilitasi oleh pemerintah dan DPR (melalui kebijakan dan perundang-undangan) melakukan rekayasa sosial untuk mendorong kesadaran masyarakat untuk mengalihkan sebagian kecil sumber karbohidrat pangannya dari beras ke komoditas yang lain yang sebagian besar lebih murah dan juga ongkos produksinya lebih rendah dibandingkan dengan produksi beras.

(ii) Membangun atau merehabilitasi jaringan sistem irigasi dan sistem penyimpanan air (waduk, embung, kanal, empang), serta menata-ulang sistem dan tata kelola air secara paripurna mulai tingkat lokal hingga terkoordinasi secara Nasional.

(iii) Membangung serta memelihara wilayah konservasi lahan, wilayah konservasi hutan, juga wilayah resapan air. Terkait ini berarti kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan harus lebih ditingkatkan baik mulai dalam bentuk perencanaan, pelaksanaan kegiataan, hingga dalam evaluasinya. Semua kegiatan harus transparan, rasional, dan dapat dipertanggung-jawabkan.

(iv) Pemerintah menyediakan informasi perubahan iklim yang lebih akurat dan mudah diakses oleh masyarakat.

Banjir adalah peristiwa yang terjadi ketika aliran air yang berlebihan merendam daratan diakibatkan oleh volume air di suatu badan air seperti sungai atau danau yang meluap atau menjebol bendungan sehingga air keluar dari batasan alaminya. Banjir juga dapat terjadi di sungai, ketika alirannya melebihi kapasitas saluran air, terutama di kelokan sungai. Kerusakan lingkungan, perubahan fisik permukaan tanah menyebabkan penurunan daya tampung dan daya simpan air hujan, sehingga sebagian besar curah hujan dialirkan sebagai air limpasan (runoff) yang sangat berpotensial menjadi bencana banjir terutama pada daerah hilir (Tjasyono dkk., 2007).

114

Beberapa upaya yang perlu dikembangkan untuk mengatasi dan mencegah terjadinya banjir, yaitu:

(i) Mengembangkan sistem drainase yang baik sehingga air hujan dan air masuk lainnya dapat didistribusikan dengan lancar melalui jairngan saluran air hingga ke sungai esar bdan tersimpan di waduk dan bentuk badan air penyimpan lainnya. Semua saluran air harus terbebas dari endapan dan sampah yang dapat menghambat aliran air. Harus dihindari juga adanya genangan air yang dapat memicu terjadinya banjir yaitu dengan membuat saluran air yang memadai. Jika diperlukan dapat dibuat terowongan saluran air di bawah tanah.

(ii) Mengembangan pengelolaan sampah yang baik, sehingga terhindar pembuangan sampah sembarangan yang dapat menghambat aliran air. Pengelolahan sampah yang baik dimulai dari tingkat rumah tangga. Jika masyarakat sudah mampu mengelola dengan baik secara mandiri dan dengan menerapkan prinsip Reduce, Reuse, Recycle terhadap sampah, maka akan tercipta kondisi mendekati “zero waste” dan sudah tentu akan membantu mencegah banjir.

(iii) Melaksanakan penghijauan dengan menanam pohon atau tanaman di area sekitar rumah.

Pohon berbatang besar akan membantu “menyimpan” air dan memberikan kesejukan. Bila di satu kampung memiliki drainase yang baik dan di tiap rumah memiliki pohon, maka dapat dipastikan kampung tersebut akan terhindar dari banjir.

(iv) Melestarikan hutan, melaksanakan penghutanan kembali hutan gundul, pemeliharaan hutan lindung, pemeliharaan vegetasi di kawasan tangkapan air dan hutan lindung (termasuk daerah bukit/lereng atau daerah yang berkemiringan/curam), serta mencegah pembalakan liar (illegal logging) dan pembakaran hutan akan menjamin terpeliharanya sistem hidrologi (tata air) kawasan yang ditanggung-jawabi oleh kumpulan pohon-pohon di hutan. Karena itu pemeliharaan hutan merupakan cara yang baik untuk mengatasi masalah banjir. Hutan mampu menyerap air hujan sampai sebanyak 20% volume curahan hujan. Akar pohon memiliki daya hisap terhadap air tanah sebagi akibat perbedaan potensial air yang tinggi antara akar dan ujung tajuk dan dengan digabungkan dengan efek dari karakter molekuk air yang saling berikatan secara ionik, maka akan tertahan sangat banyak molekul air di dalam tanah yang akan di lepas ke sekitarnya sesuai keseimbangan air di kawasan.

(v) Membuat lubang biopori dan membuat sumur serapan. Lubang resapan biopori adalah teknologi tepat guna dan ramah lingkungan untuk mengatasi banjir dengan cara meningkatkan daya resapan air, mengubah sampah organik menjadi kompos dan mengurangi emisi gas rumah kaca (CO2 dan metan), memanfaatkan peran aktivitas fauna tanah dan akar tanaman, dan mengatasi masalah yang ditimbulkan oleh genangan air seperti penyakit demam berdarah dan malaria. Cara membuatnya cukup mudah, kita cukup membuat lubang di tanah dengan

115

menggunakan bor tanah. Diameternya cukup 10 cm dengan panjang kira-kira sebesar 100 cm.

Semakin banyak lubang biopori di halaman rumah, kita semakin aman dari bahaya banjir.

Sumur serapan berfungsi untuk membantu penyerapan air hujan ke dalam tanah dan kembali ke siklus air yang semestinya sehingga tidak menggenang di permukaan dan menyebabkan banjir. Penggalian sumur resapan bisa sampai tanah berpasir atau maksimal dua meter di bawah permukaan air tanah.

(vi) Melaksanakan pendalaman sungai, yang cenderung mudah mengalami pendangkalan oleh sedimen yang diangkutnya. Kegiatan ini akan memperlancar aliran air hingga dapat mengurnagi efek banjir ketika curah hujan sangat tinggi.

(vii) Penggunaan paving stone untuk jalan; pembangunan jalan setapak dengan sistem paving block dapat membuat jalan lebih mudah menyerap air dibandingkan dengan penggunaan aspal, sehingga apabila hujan turun air banjir dapat terserap ke dalam tanah dengan cepat. Di beberapa negara maju telah dikembangkan paving penutup jalan yang menggunakan photocatalytic cement yang terbuat dari susunan partikel nano dari titanium dioksida. Partikel nano tersebut mampu menyerap asap yang mengandung gas nitrogen oksida dari udara.

Kerusakan pantai

Beberapa penyebab terjadinya kerusakan pantai menurut Hidayat (2006) disebabkan oleh:

(i) Naiknya Permukaan Air Laut. Kenaikan ini lambat laun akan mengakibatkan undurnya garis pantai ke daratan, yang disebabkan dengan penggenangan langsung dan sebagian sebagai hasil penyesuaian profil air laut kepada permukaan air yang lebih tinggi.

(ii) Perubahan Suplai sedimen. Suplai sedimen ke daerah pantai dapat berasal dari darat (clastis sediment) atau dari laut (biogenic sediment). Perubahan pola cuaca dunia yang menyebabkan musim kering dapat mengakibatkan berkurangnya debit sungai yang merupakan suplai material dan penyebab sedimentasi pada pantai itu. Berkurangnya suplai sedimen dari laut dapat terjadi karena daerah karang yang rusak atau pertumbuhan karang yang lambat.

(iii) Gelombang Badai. Pada saat badai terjadi, arus tegak lurus pantai yang cukup besar yang mengangkut material ke arah tegak lurus pantai. Umumnya proses erosi yang terjadi akibat gelombang badai ini berlangsung dalam waktu singkat tetapi temporer, karena material yang tererosi akan tinggal di surf zone dan akan kembali ke pantai ketika gelombang tenang (swell). Namun apabila di lepas pantai bathimetrinya sangat terjal, atau terdapat palung-palung pantai, maka sedimen yang terbawa ke laut akan mengisi daerah yang dalam tersebut dan tidak sampai ke pantai.

116

(iv) Limpasan (overwash). Overwash adalah suatu akibat terjadi selama periode hempasan gelombang. Ombak dan air luapan mengikis pantai dan mengangkut material pantai.

(v) Angkutan oleh Angin. Kepindahan material lepas dari suatu pantai oleh angin bisa merupakan suatu penyebab erosi. Di banyak daerah, bukit pasir alami berpindah di belakang daerah pantai yang aktif. Bukit pasir ini dapat menghasilkan suatu volume sedimen pantai besar.

(vi) Pengangkutan Sedimen. Pasir diangkut searah pantai (long shore transport sediment) oleh ombak yang menghempas pada suatu pantai.

(vii) Pemisahan Sedimen Pantai. Penyortiran sedimen pantai oleh tindakan gelombang mengakibatkan pembagian kembali partikel butir sedimen (pasir, kulit kerang/kerang, dan shingle) sepanjang profil pantai menurut ukurannya.

Kebakaran Hutan dan Lahan

Indonesia merupakan salah satu Negara tropis yang memiliki wilayah hutan terluas kedua di dunia sesduah Brazil (di Amerika Latin). Hutan yang merupakan kumpulan pohon-pohon dan komponen abiotik dan biotik lainnya menjadikan hutan sangat penting bagi pengendali system hidrologis lahan dan pengendali iklim, di samping berperan sebagai paru-paru dunia. Hutan Indonesia merupakan salah satu pusat keanekaragaman hayati di dunia; dan Indonesia merupakan urutan ketiga dari tujuh negara yang disebut Megadiversity Country. Hutan Indonesia merupakan rumah bagi ribuan jenis flora dan fauna yang banyak diantaranya adalah endemik di Indonesia. Kawasan hutan di Indonesia mencapai luas 133,7 juta ha atau sekitar 60 persen dari luas total Indonesia (Departemen Kehutanan, 2009). Hutan mempunyai manfaat langsung dan tidak langsung yang telah dikenal secara luas. Manfaat langsung dari hutan adalah penghasil kayu dan non kayu, sedangkan manfaat tidak langsung adalah sebagai pengatur iklim mikro, pengatur tata air dan kesuburan tanah, serta sumber plasma nutfah yang sangat penting bagi kehidupan manusia saat ini dan dimasa yang akan datang. Hutan juga berperan penting dalam perubahan iklim. Dalam konteks perubahan iklim, hutan dapat berperan baik sebagai penyerap/penyimpan karbon (sink) maupun pengemisi karbon (source of emission);

deforestasi dan degradasi meningkatkan emisi, sedangkan aforestasi, reforestasi dan kegiatan penanaman lainnya serta konservasi hutan meningkatkan serapan (Tim Badan Litbang Kehutanan Dan TN Meru Betiri, 2011)

Fungsi hutan Indonesia itu sejak 30 tahun belakangan ini mengalami kemunduran akibat kegiatan: illegal logging atau penebangan liar, pengubahan atau konservasi hutan menjadi lahan

117

pertanian, berbagai bentuk perusakan lahan hutan, serta kebakaran dan pembakaran hutan dan lahan.

Kebakaran hutan dan lahan bukan saja menghilangkan kuasan areal hutan, tetapi juga berdampak terhadap akumulasi gas rumah kaca (GRK). Kebakaran hutan yang pada tahun 2015 dirasakan demikian merusak dan merugikan, sesungguhnya sudah terjadi sejak lama. Kalimantan merupakan salah satu pulau yang memiliki luasan hutan yang sangat besar yaitu sekitar 28,23 juta ha semakin menurun karena seringnya terjadi kebakaran hutan dengan kejadian kebakaran paling besar pada tahun 1997

di Kalimantan Barat (Saharjo dkk., 2013). Kebakaran hutan dan lahan bukan saja menghilangkan kuasan areal hutan, tetapi juga berdampak k terhadap akumulasi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer.

Kebakaran hutan dan lahan yang sebagian terbesar disengaja karena pertimbangan ekonomi/bisnis dan “keserakahan” segelintir oknum telah ditunjukkan oleh fakta-fakta mencengangkan dan perlu diketahui oleh mahasiswa dan masyarakat Indonesia, yaitu:

(i) Tahun 1982-1983 merupakan kebakaran hutan atau lahan yang terbesar pertama di Indonesia (hampir 3,7 hektar).

(ii) Tahun 1997-1998, kebakaran terjadi di 23 provinsi dari 27 provinsi di Indonesia (hampir seluruh wilayah ASEAN terkena dampaknya).

(iii) Tahun 1999-2007, kerugian dari kebakaran hutan dan lahan di wilayah Sumatera mencapai USD 7,8 miliar dan di wilayah Kalimantan kerugian mencapai USD 5,8 miliar;

(iv) Berdasarkan data MODIS yang diterima oleh stasiun bumi LAPAN Pare-pare periode tanggal 1-28 September 2014, akumulasi hotspot tertinggi terdapat di wilayah Provinsi Kalimantan Tengah, kemudian di Provinsi Sumatera Selatan, dan Kalimantan Barat. Secara timeseries harian, akumulasi hotspot tertinggi terjadi pada tanggal 14 September 2014, selanjutnya pada 16, 25, dan 20 September 2014 seperti terlihat pada Gambar 11.5 (LAPAN, 2014).

(v) Kebakaran hutan (Gambar 11.6) dan kebakaran lahan yang terjadi selama musim kemarau periode tahun 2015 (berlangsung antara Juni-Nopember 2015) yang tergolong paling parah terutama pada efek kebakaran hutan yang berganmbut baik di Sumatera maupun di Kalimantan. Data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru menunjukkan Riau menjadi daerah tertinggi ketiga dalam jumlah titik panas di Sumatra yang mencapai 471 titik. Hasil pencitraan satelit Terra dan Aqua menyatakan Provinsi Jambi paling banyak terdapat titik panas, dengan jumlah 166 titik, diikuti Sumtera Selatan (148 titik panas), Sumatra Barat (25 titik panas, Bengkulu (10 titik panas), dan Sumatra Utara (empat titik panas)

118

(Warta Agro, 2015). Kebakaran kali ini bukan hanya menghancurkan riuan hektar hutan dan menimbulkan gangguan kesehatan pada sebagian besar masyarakt yang wilayahnya berdekatan atau sekitar hutan yang terbakar, tetapi efek kebakaran dirasakan menekan masyarakat penduduk Singapura dan Malaysia; sehingga kebakaran tahun 2015 tampaknya aspek politis mewarnai isu kebakaran dan penanganan kebakaran itu sendiri.

Gambar 10.5. Peta titik api di Indonesia 14 September 2014. Warna gelap adalah titik api/kebakaran

Gambar 10.6. Kebakaran hutan

Sumber: http://wartaagro.com/berita-jumlah-hot-spot-kebakaran-hutan-bertambah.html

119

Secara umum bahaya kebakaran hutan dan lahan adalah sebagai berikut:

(i) Polusi udara yang ditumbulkan oleh gas hasil emisi pembakaran dan asap. Polusi udara menimbulkan gangguan kesehatan khususnya penyakit saluran pernapasan. Asap tebal yang ditimbulkan bisa mengganggu aktivitas transportasi.

(ii) Secara jangka pendek suhu udara panas di sekitarnya dan dalam jangka panjang menyebabkan pemanasan global.

(iii) Menipisnya jumlah oksigen di udara.

(iv) Kemungkinan terjadinya banjir, kekeringan, dan kelaparan lebih besar di wilayah tersebut.

(v) Bisa menjadi penyebab kelangkaan flora dan fauna yang mati karena terbakar dan terpapar suhu tinggi.

(vi) Terganggunya aktivitas produktif manusia dan terganggungu aktivitas industri baik karena bahan bakunya dari hutan menurun maupun pabrik dan tenaga kerjanya terganggu langsung oleh asap.

(vii) Terjadinya penurunan jumlah wisatawan domestik maupun mancanegara yang masuk.

Adapun cara mencegah kebakaran hutan dan lahan adalah sebagai berikut:

1. Memperhatikan wilayah hutan dengan titik api (hot spot) cukup tinggi terutama lahan gambut di musim panas dan kemarau yang berkepanjangan.

2. Menerapkan larangan yang ketat (termasuk dalam wujud perundang-undangan) untuk:

membuka ladang atau lahan pertanian dengan cara membakar hutan, tidak meninggalkan bekas api ungggun yang membara di hutan, membuat arang di hutan, membuang puntung rokok sembarangan di dalam hutan. Pelaangan juga harus diikuti oleh penindakan tegas bagi para pelaku penyebab kebakaran hutan.

3. Melengkapi sistem pemantauan dengan memperbanyak dan melengkapi di berbagai wilayah rawan kebakaran menara pengamat, alat transportasi dan mobil pemadam kebakaran, dan alat telekomunikasi yang memadai serta melakukan patroli dengan intensitas yang memadai sesuai dinamika perkembangan iklim untuk mengantisipasi kemungkinan kebakaran.

4. Melakukan pemotretan citra secara berkala, terutama di musin kemarau untuk memantau wilayah hutan dengan titik api cukup tinggi yang merupakan rawan kebakaran.

5. Pemerintah membantu mengurangi konflik yang bisa mengakibatkan kebakaran hutan, seperti menyelesaikan sengketa lahan antara masyarakat dengan perusahaan perkebunan dan/atau perusahaan pemegang hak pengelolaan hutan serta mengembangkan program kerjasama antara pemerintah dan petani kecil/masyarakat serta pihak perusahaan agar masyarakat

120

dapat memperoleh manfaat yang besar dari hutan (tanpa merusak hutan) dan sekaligus

dapat memperoleh manfaat yang besar dari hutan (tanpa merusak hutan) dan sekaligus

Dalam dokumen BAB VIII IPA DAN TEKNOLOGI (Halaman 44-55)

Dokumen terkait