Isu Terkini
Indonesia Paling Diminati Investor AS
Indonesia, Vietnam, dan Myanmar merupakan tiga negara di kawasan Asia Tenggara yang paling diminati oleh investor dari Amerika Serikat. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Kamar Dagang Amerika Serikat (AmCham), masalah korupsi dan upah buruh menjadi pertimbangan pelaku bisnis untuk berinvestasi di kawasan ASEAN.
Dalam "ASEAN Survey Outlook 2015", Kamar Dagang dan Industri Amerika Serikat di Singapura (AmCham Singapore) serta Kamar Dagang dan Industri Amerika Serikat (US Chamber of Commerce) dari tiga negara itu menjadikan Indonesia sebagai tujuan utama ekspansi bisnis pengusaha AS meski banyak tantangan dan kendala.
Kendala tersebut, menurut survei yang dimuat The Nation, adalah masih tingginya angka korupsi di Indonesia. Selain itu, masih banyak peraturan yang tidak mendukung iklim investasi ikut mempengaruhi sikap perusahaan untuk berinvestasi. Untuk masalah keamanan, kalangan pengusaha yang disurvei AmCham menilai lebih kondusif. Menanggapi hasil survei AmCham, Wakil Ketua Umum Bidang Koordinasi Himpunan dan Dewan Bisnis Kamar Dagang dan Industri Indonesia, Bayu Prawira Hie, mengatakan Indonesia mempunyai daya tarik bagi investor asing, termasuk dari AS. Daya tarik ini berasal dari ukuran pasar yang besar, pertumbuhan ekonomi, dan kelas menengah. "Belum lagi peraturan otonomi daerah yang menunjang daya beli," kata dia kepada Tempo, kemarin.
Dia mengatakan kelas menengah tumbuh setiap tahun sebanyak 10 persen dan mempunyai jumlah terbesar dari penduduk, yakni lebih 40 persen. Selain itu, peraturan otonomi daerah menyebabkan wilayah mampu mengembangkan potensinya. Pengembangan potensi wilayah ini selanjutnya dapat memaksimalkan pertumbuhan ekonomi.
Namun Indonesia juga mempunyai beberapa kelemahan bagi investor asing. Bayu menilai masalah listrik dan minimnya bangunan infrastruktur menjadi kendala para pelaku bisnis. "Apalagi sekarang zamannya bisnis berbasis teknologi dan sumber komunikasi dari listrik," katanya.
Vietnam merupakan negara kedua setelah Indonesia yang menjadi tujuan investasi kalangan pebisnis AS. Tenaga kerja yang murah dan faktor keamanan serta iklim usaha yang kondusif menjadi daya tarik bagi investor. Namun mereka mempersoalkan angka korupsi yang masih tinggi. Sekitar 69 persen responden menyatakan ketidakpuasan dengan tingkat korupsi di Vietnam.
Para pengusaha AS menilai Myanmar sebagai salah satu negara yang menarik untuk berinvestasi. Faktor upah buruh yang murah, keamanan, dan iklim usaha yang kondusif menjadikan Myanmar pasar yang menguntungkan dibanding negara ASEAN lainnya.
50
Perkembangan Perekonomian Indonesia dan Dunia Triwulan III Tahun 2014
Mengutip 16 pelaku bisnis AS, masalah biaya perumahan dan sewa kantor yang tinggi serta kurangnya tenaga kerja yang terampil menjadi kendala mereka dalam berusaha di Myanmar.
Investor mengalihkan investasinya dari Thailand karena dinilai tidak memberikan iklim investasi yang menarik. Dalam survei tahun lalu, Thailand masuk tiga besar sebagai negara tujuan investasi para pengusaha Negeri Abang Sam.
Sekitar 80 persen responden yang disurvei menyatakan ketidakpuasan mereka dengan iklim investasi di Thailand lantaran ketidakstabilan politik. Sedangkan 71 persen responden mengkhawatirkan tingginya tingkat korupsi di Thailand. "Semakin mahalnya upah buruh menjadi pemicu ketidakpuasan investor," kata survei itu. Singapura, menurut survei AmCham, juga menjadi salah satu negara tujuan investasi pengusaha AS. Kondisi politik yang stabil, tingkat korupsi yang lebih rendah dibanding negara ASEAN lain, dan infrastruktur yang memadai menjadi kekuatan Singapura untuk menarik investor asing. Sedangkan Malaysia dinilai sebagai negara yang paling aktif berupaya melawan kemiskinan, sehingga menjadi negara dengan pertumbuhan yang cepat ketimbang negara ASEAN lainnya.
Sumber: Koran Tempo, 3 September 2014
Singapura Tempat Terbaik untuk Berbisnis, Indonesia Peringkat 114
Singapura kembali menyandang predikat sebagai negara terbaik untuk berbisnis, menurut survei tahunan Bank Dunia. Survei yang dituangkan dalam laporan bertajuk
Doing Business itu menempatkan negeri jiran itu pada peringkat pertama dengan nilai
88,27.
Predikat 'negara dengan kemudahan untuk berbisnis' menurut survei Bank Dunia ialah yang kesembilan kalinya bagi Singapura. Berdasarkan rangkaian metrik yang digunakan Bank Dunia guna mengukur seberapa lama membuka dan menutup perusahaan, tingkat kesulitan mendapatkan izin konstruksi, dan sistem pembayaran pajak, Singapura dinilai paling ramah terhadap pebisnis.
Kebalikan dengan Singapura, Eritrea dan Libia menempati peringkat paling bawah dari
negara yang disurvei. Susunan tabel amat mirip dengan tabel tahun lalu. Negara
-negara di besar terus memperbaiki aturan dalam berbisnis, sebut laporan itu
sebagaimana dikutip dari BBC, Rabu (29/10/2014). Yang membedakan dengan survei tahun-tahun sebelumnya, survei yang diluncurkan saat ini mengambil sampel dua kota di 11 negara yang memiliki penduduk lebih dari 100 juta orang, seperti Tiongkok, India, Indonesia, Bangladesh, dan Pakistan.
Negara-negara ASEAN
Di antara negara-negara anggota ASEAN, posisi Indonesia hanya unggul dari Kamboja dan Timor Leste. Indonesia menempati peringkat 114 dengan mengumpulkan 59,15 poin. Adapun Kamboja berada pada peringkat 135, sedangkan Timor Leste 172.
51
Perkembangan Perekonomian Indonesia dan Dunia Triwulan III Tahun 2014
Di atas Indonesia terdapat Singapura (peringkat 1), Malaysia (18), Thailand (26), Filipina (95), dan Brunei Darussalam (101).
Sumber berita: Harian Kompas, 29 Oktober 2014
Sudah Ada 88 Gudang Terapkan Sistem Resi Gudang
Kementerian Perdagangan Republik Indonesia menyatakan telah memiliki 117 gudang yang dipersiapkan untuk menerapkan Sistem Resi Gudang (SRG). Dari 117 gudang tersebut, 88 gudang di antaranya sudah memiliki izin SRG.
Jumlah tersebut di bangun sejak kurun waktu 2009- 2014, dan belum semuanya memiliki izin SRG. Dari 88 gudang SRG tersebut, total nilai komoditas yang bisa disimpan mencapai Rp 353 miliar, dengan total pembiayaan yang sudah dikeluarkan sebanyak Rp 218 miliar. Pembiayaan tersebut maksimal 70 persen dari nilai total barang dengan total komoditasnya mencapai 70.225 ton, terdiri atas beras, gabah, jagung, rumput laut, dan kopi." Dengan adanya sistem resi gudang akan memberikan kesempatan bagi petani menyimpan komoditas tanpa hilang maupun turun kualitasnya. Apabila petani tidak mempunyai agunan maka barang/komoditas yang disimpan dapat digunakan sebagai agunan.
Pada 2014 terdapat 23 unit gudang yang akan menerapkan sistem ini resi gudang dan masih dalam proses pembangunan.
Sumber berita : Harian Kompas, 30 Oktober 2014 Kemendag Pangkas Target Ekspor 2014
Menurunnya harga komoditi membuat neraca perdagangan masih mengalami defisit. Oleh karenanya, Kementerian Perdagangan (Kemendag) akan mengoreksi ke bawah target ekspor 2014 sebesar 5 persen. Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi mengatakan, target ekspor 2014 sebesar USD190 miliar akan diubah menjadi USD180,5 miliar. Menurutnya, masih ada potensi untuk menggenjot nilai ekspor sebelum 2014 berakhir. "Masih ada peluang, di sektor mineral ada tambahan USD1-USD1,5 miliar," ucap Bayu di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (7/10/2014). Bayu menambahkan, ada beberapa sektor atau industri yang tengah tumbuh, antara lain industri otomotif dan spare part-nya, beberapa industri komponen elektronik, produk alat dan mesin yang juga bisa diandalkan untuk menggenjot ekspor.
52
Perkembangan Perekonomian Indonesia dan Dunia Triwulan III Tahun 2014