• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkembangan Moneter Domestik

Dalam dokumen Triwulan III Ekonomi 2014 (Halaman 89-92)

Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih mengalami moderasi. Meskipun masih tumbuh cukup tinggi, konsumsi swasta cenderung melambat pasca pelaksanaan Pemilu 2014. Hal tersebut tercermin dari indikator penjualan eceran yang tumbuh terbatas. Konsumsi pemerintah juga belum meningkat tinggi sesuai pola musimannya terkait dengan penghematan anggaran untuk pengendalian defisit fiskal. Sementara itu, di tengah membaiknya pertumbuhan investasi bangunan pada akhir tahun, kinerja investasi nonbangunan sedikit melemah seiring dengan masih menurunnya impor barang modal. Meski membaik, peningkatan ekspor belum setinggi perkiraan sebelumnya seiring masih menurunnya harga komoditas dunia dan melemahnya volume perdagangan negara emerging market. Sejalan dengan itu, impor masih mencatat penurunan. Secara keseluruhan tahun 2014, pertumbuhan

diperkirakan akan cenderung menuju batas bawah kisaran perkiraan sebelumnya yaitu 5,1-5,5 persen.

Surplus neraca perdagangan nonmigas pada bulan Agustus 2014 terus berlanjut, meski menyusut dibandingkan surplus pada bulan sebelumnya. Berkurangnya surplus nonmigas tersebut dipengaruhi oleh kenaikan impor nonmigas yang melampaui kenaikan ekspor nonmigas. Sementara itu, kinerja neraca perdagangan migas bulan Agustus 2014 mengalami perbaikan, disebabkan oleh kenaikan ekspor migas, terutama ekspor minyak mentah. Secara keseluruhan, neraca perdagangan Indonesia pada bulan Agustus 2014 tercatat defisit 0,31 miliar dolar AS setelah pada bulan sebelumnya mengalami surplus sebesar 0,05 miliar dolar AS. BankIndonesia memandang perkembangan neraca perdagangan bulan Agustus 2014 ini masih sesuai dengan perkiraan kinerja transaksi berjalan triwulan III tahun 2014. Sementara itu, dari neraca finansial, aliran masuk modal asing masih cukup besar didorong oleh persepsi positif terhadap prospek perekonomian domestik. Secara akumulatif hingga bulan September 2014, aliran masuk portofolio asing ke pasar keuangan Indonesia telah mencapai 14,6 miliar dolar AS. Dengan perkembangan tersebut, cadangan devisa Indonesia pada akhir bulan September 2014 menjadi 111,2 miliar dolar AS, setara 6,5 bulan impor atau 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Pada akhir triwulan III tahun 2014, nilai tukar Rupiah semakin terdepresiasi terhadap USD seiring dengan penguatan USD yang memberikan tekanan terhadap hampir seluruh mata uang dunia. Rupiah secara rata-rata melemah 1,57% (mtm) dari bulan sebelumnya menjadi Rp11.898 per dolar AS. Pergerakan rupiah tersebut sejalan dengan pergerakan mata uang lain di kawasan. Pelemahan rupiah dipengaruhi oleh faktor sentimen, baik yang bersumber dari eksternal maupun domestik.

Inflasi pada bulan September 2014 menurun dibandingkan bulan sebelumnya dan berada di bawah perkiraan. Indeks Harga Konsumen (IHK) pada bulan September mencatat inflasi sebesar 0,27 persen (mtm), lebih rendah dari 0,47 persen (mtm) pada bulan sebelumnya. Selain berada di bawah perkiraan Bank Indonesia, inflasi bulan September tersebut lebih rendah dari rata-rata historis selama 5 tahun terakhir. Penurunan tersebut didukung oleh rendahnya tekanan inflasi volatile food dan terkendalinya inflasi inti. Inflasi inti masih terkendali, sejalan dengan menurunnya tekanan eksternal, moderatnya permintaan domestik serta masih terjaganya ekspektasi inflasi. Namun, tekanan inflasi administered price meningkat terkait penyesuaian harga beberapa komoditas energi, seperti tarif tenaga listrik (TTL) dan LPG 12 kg. Ke depan, Bank Indonesia akan terus mencermati berbagai risiko inflasi, terutama terkait dengan kemungkinan penyesuaian harga BBM bersubsidi, dan memperkuat koordinasi pengendalian inflasi dengan Pemerintah,

baik di tingkat pusat maupun daerah. Hal ini dilakukan guna meminimalkan dampak lanjutan yang ditimbulkan dan mengarahkan inflasi pada sasaran inflasi yang ditetapkan.

Inflasi

Inflasi Global

Pada triwulan III tahun 2014, pergerakan inflasi global cukup variatif (Lampiran 1). Inflasi di Brazil dan Rusia, cenderung meningkat selama periode Juli-September 2014. Jika Brazil dan Rusia merupakan dua negara yang mengalami peningkatan inflasi, maka beberapa negara seperti India, Tiongkok, Singapura, Thailand, AS, Inggris, dan Jepang memiliki kecenderungan penurunan inflasi pada periode yang sama.

Sementara itu, jika dibandingkan dengan triwulan II tahun 2014, Indonesia tercatat mengalami penurunan inflasi cukup besar. Jika triwulan sebelumnya inflasi tahunan Indonesia menembus angka tujuh persen, maka di triwulan III, Indonesia berhasil meredamnya hingga angka 4,53 persen di bulan Juli 2014.

Pada akhir periode triwulan III tahun 2014, Rusia merupakan negara dengan tingkat inflasi tertinggi dibanding negara-negara lain dengan nilai inflasi sebesar 8,00 persen. Sedangkan kawasan Euro merupakan negara yang mengalami tingkat inflasi terendah selama triwulan III tahun 2014 yakni sebesar 0,40 persen, 0,40 persen, dan 0,30 persen pada periode Juli-September 2014. Laju inflasi yang cukup rendah di zona Euro tersebut menunjukkan ancaman deflasi terhadap kawasan Euro semakin dekat.

Inflasi Domestik

Inflasi tahunan (YoY) Indonesia pada bulan Juli-September 2014 masing-masing sebesar 4,53 persen, 3,99 persen, dan 4,53 persen (Lampiran 2). Pada periode yang sama inflasi bulanan (MtM) Indonesia masing-masing sebesar 0,93 persen, 0,47 persen, dan 0,27 persen. Sedangkan inflasi tahun kalender Indonesia pada triwulan III tahun 2014 sebesar 2,94 persen, 3,42 persen, dan 3,71 persen.

Pada bulan Juli 2014 terjadi inflasi sebesar 0,93 persen. Inflasi bulanan Indonesia di bulan Juli 2014 merupakan inflasi tertinggi selama periode Juli-September. Inflasi yang cukup tinggi pada bulan Juli 2014 terjadi karena adanya moment Ramadhan dan Idul Fitri. Kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks seluruh kelompok pengeluaran. Pengeluaran tersebut untuk kelompok bahan makanan 1,94 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 1,00 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,45 persen, kelompok sandang 0,85 persen, serta kelompok kesehatan 0,39 persen. Selanjutnya kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 0,45 persen, kemudian kelompok transport, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,88 persen.

Pada triwulan III tahun 2014, secara tahunan terjadi kecenderungan penurunan angka inflasi inti, sedangkan angka inflasi pangan yang harganya mudah bergejolak dan inflasi barang/jasa yang harganya diatur pemerintah cenderung fluktuatif. Secara tahunan pada bulan September 2014 terjadi inflasi inti sebesar 4,04 persen, bernilai lebih rendah dibandingkan dengan inflasi inti pada bulan Juli dan Agustus 2014. Secara tahunan komponen inflasi pangan yang harganya mudah bergejolak pada bulan Juli-September 2014 masing-masing sebesar 2,63 persen, 1,06 persen, dan 4,21 persen. Sementara itu, inflasi barang/jasa yang harganya diatur pemerintah pada bulan Juli-September 2014 masing-masing sebesar 6,18 persen, 5,49 persen, dan 6,53 persen secara tahunan. Peningkatan inflasi harga diatur pemerintah di triwulan III tahun 2014 terkait penyesuaian harga beberapa komoditas energi, seperti tarif tenaga listrik (TTL) dan LPG 12 kg.

Secara bulanan pada bulan September 2014 terjadi inflasi inti sebesar 0,29 persen, lebih rendah dibandingkan dengan inflasi inti pada bulan Juli dan Agustus 2014 sebesar 0,52 persen dan 0,46 persen. Nilai inflasi inti yang lebih rendah tersebut sejalan dengan menurunnya tekanan eksternal, moderatnya permintaan domestik

serta masih terjaganya ekspektasi inflasi. Sementara itu, terjadi deflasi komponen

pangan yang harganya mudah bergejolak pada bulan September 2014 sebesar 0,22 persen.

Secara umum pada bulan Juli-September 2014 inflasi tahunan 66 kota di Indonesia cukup bervariasi, sedangkan inflasi bulanan 66 kota di Indonesia pada bulan Juli 2014 cenderung lebih tinggi dibanding inflasi bulanan pada bulan Agustus dan September 2014.

Pada bulan September 2014 terjadi inflasi sebesar 0,27 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 113,89. Dari 66 kota, tercatat 57 kota mengalami inflasi dan 9 kota mengalami deflasi. Pada bulan September, Inflasi bulanan tertinggi terjadi di Pangkal Pinang sebesar 1,29 persen dengan IHK sebesar 114,82. Sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Palopo sebesar 0,60 persen dengan IHK 111,34 dan terendah terjadi di Manado sebesar 0,03 persen dengan IHK masing-masing sebesar 110,90.

Dalam dokumen Triwulan III Ekonomi 2014 (Halaman 89-92)

Dokumen terkait