• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV LATAR HISTORIS PERKEMBANGAN PETERNAKAN SAPI PERAH DI PANGALENGAN

Gambaran Umum Kecamatan Pangalengan Geografis dan Demografis

Kabupaten Bandung memiliki 31 Kecamatan dengan topografi sebagian besar merupakan pegunungan atau daerah perbukitan dengan ketinggian di atas permukaan laut bervariasi dari 500 m sampai 1800 m. Salah satu kecamatannya di sebelah selatan adalah kecamatana Pangalengan dengan bentangan wilayah yang terluas di antara kecamatan yang lain, dengan luas wilayah sebesar 27.295,71 ha atau 272,95 km2 dan topografi berupa daratan, lereng atau punggung bukit serta bentangan alam atau bentuk wilayah dari datar sampai berombak sebesar 29 % dan berombak sampai berbukit sebesar 33 % serta berbukit sampai bergunung sebesar 38 %. Wilayah ini terletak sekitar 41 Km ke arah selatan dari ibu kota propinsi dan 23 Km dari pusat pemerintahan Kabupaten Bandung. Adapun batas-batas geografis kecamatan Pangalengan sebagai berikut : sebelah utara adalah kecamatan cimaung; sebelah timur berbatasan dengan kecamatan Kertasari; sebelah barat berbatasan dengan kecamatan Pasir Jambu dan sebelah selatan berbatasan dengan samudra hindia.

Sementara itu Pangalengan berada pada ketinggian 1500 meter di atas permukaan laut sehingga suhu minimum sampai dengan maksimum berkisar antara 13 oC – 25 oC. Secara fisiografi kecamatan Pangalengan meliputi jajaran pegunungan yang membentang dari timur ke barat, sehingga hasil hutan dan perkebunan menjadi prioritas atau aset yang terus dikembangkan. Terdapat tiga buah gunung yang menjadi perhatian di daerah Pangalengan diantaranya adalah Gunung Wayang (ketinggian ± 2.181 m), Gunung Malabar (ketinggian ± 2.343 m) dan Gunung Windu (ketinggian ± 1.848). Disela-sela daerah perbukitan terdapat dataran-dataran rendah yang permukaannya merupakan hasil masyaraakt sekitar pada waktu dulu sehingga membentuk sebuah dua buah situ lumayan luas yaitu sekitar ± 180 ha dan ± 210 ha yang letaknya berada diantara desa Warnasari dan desa Pulosari. Situ tersebut berasal dari aliran air kali Cileunca yang sengaja dibendung pada masa kolonial Belanda.Diantara Gunung Wayang dan Gunung Windu terdapat situ Cisanti yang merupakan hulu dari sungai Citarum. Sungai Citarum secara historis memiliki peranan yang sangat penting dalam perkembangan perekonomian di kawasan Pangalengan dan Kertasari. Terlebih fungsi aliran sungai Citarum dimanfaatkan untuk pertanian dan peternakan serta penghidupan masyarakat yang berada pada daerah aliran sungai Citarum. Situ Cileunca dan aliran sungai Citarum dijadikan sumber utama bagi para peternak dalam penyediaan air minum untuk ternak sapi perah. Terlebih karakteristik ternak sapi perah dari bangsa PFH sangat memerlukan banyak air minum guna menghasilkan produksi susu yang maksimal selain pakan dan konsentrat.

Kondisi geologis telah memungkinkan Pangalengan memiliki tipologi sebagai kawasan atau daerah-daerah bergunung dan berbukit yang secara langsung berpengaruh terhadap sumber matapencaharian pendudukan. Daerah tersebut dimanfaatkan untuk sektor kehutanan seperti kayu jati, pinus dan tanamana keras lainnya sedangkan untuk sektor pertanian dimanfaatkan untuk

pertanian huma seperti kentang, kubis, wortel, jagung, dan lain-lain. Selanjutnya, daerah pegunungan dan perbukitan sangat cocok dimanfaatkan sebagai perkebunan seperti teh, kina dan kopi. Penelusuran dari informan DDS (tokoh masyarakat, 60 tahun) menyebutkan bahwa :

kata Pangalengan berasal dari kata Pengalengan yang pada waktu dulu pada masa penjajahan kolonial Belanda, daerah ini (Pangalengan) dijadikan sebagai pengasil kopi terbaik dan dikemas dalam bentuk Kaleng(Pengalengan) kopi dengan tujuan untuk komersial (ekspor)”. Sementara itu salah satu perekonomian lokal lainnya yang berkembang hingga saat ini di daerah pegunungan atau perbukitan yang cenderung cuaca dingin adalah sub-sektor peternakan. Peternakan sapi perah yang berkembang di Pangalengan sudah memiliki catatan historis tersendiri selain perkebunan kopi, teh dan kina. Dengan karakteristik sapi perah PFH sangat dimungkinkan untuk beradaptasi dalam kondisi lingkungan dengan suhu yang rendah.

Peternakan sapi perah berkembang di Pangalengan didukung oleh infrastruktur dalam hal ini adalah pembangunan institusi atau kelembagaan penerimaan susu dari peternak berupa koperasi. Tidak jarang kita temui di daerah pegunungan atau perbukitan dimana terdapat komunitas peternak sapi perah tentu terdapat penampungan susu baik berupa kolektor ataupun koperasi. Hal tersebut dikarenakan karakteristik susu yang tidak tahan lama bertahan dalam dalam keadaan ruang terbuka. Hal tersebut dikarenakan susu mudah tercemar (rusak) dan menyebabkan tumbuhnya bakteri, sehingga sangat dibutuhkan penanganan yang cepat untuk mengantisipasi hal tersebit terjadi.

Sementara itu kondisi demografi saat di daerah Pangalengan dapat diketahui dari data Badan Pusat Statistik Kabupaten Bandung adalah dari 13 Desa dan 43 Dusun yang tersebar dengan total jumlah penduduk sebanyak 136.678 orang yang terdiri dari laki-laki 68.774 orang dan perempuan 67.904 orang serta kepala keluarga sebanyak 36.578 orang (disajikan dalam lampiran 1). Dengan jumlah penduduk tersebut tingkat kepadatan untuk lingkungan daerah kabupaten Bandung termasuk dalam katagori rendah yaitu 500,74 jiwa per km2. Dengan demikian jika mencermati distribusinya, tampak bahwa untuk daerah pedesaan agraris apalagi yang berada dalam kawasan perbukitan Bandung selatan tingkat kepadatannya relatif lebih rendah dibandingkan dengan daerah daratan rendah.

Berdasarkan jumlah penduduk tersebut dapat disusun komposisinya menurut kelompok umur. Hal tersebut dapat dijadikan untuk mengetahui struktur umur yang bermanfaat untuk ikut memetakan permasalahan yang dihadapi pendudukan serta upaya penanganannya. Bagaimana gambaran jumlah penduduk Kecamtan Pangalengan menurut kelompok umur pada tahun 2012 dapat diperhatikan tampilan tabel 2.

Tabel 2. Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur Tahun 2011

Kelompok Umur Jumlah Penduduk (orang)

0 - 4 tahun 16.492 5 - 9 tahun 14.539 10 - 14 tahun 11.935 15 - 19 tahun 10.416 20 - 24 tahun 13.888 25 - 29 tahun 9.982 30 - 34 tahun 12.803 35 - 39 tahun 10.633 40 tahun ke atas 25.710 Jumlah 126.398

Sumber : Monografi Kecamatan Pangalengan 2012

Berdasarkan data tabel 2 tersebut dapat dikemukakan bahwa kondisi kependudukan kecamatan Pangalengan termasuk dalam katagori struktur muda. Artinya, kelompok penduduk umur 0-24 tahun jumlah relatif besar yaitu 53,2 %, hampir mendominasi jumlah total penduduk daerah ini. Kelompok umur 0-4 tahun masih mendominasi di daerah Pangalengan, sementara itu posisi dominan lainnya berturut-turut adalah kelompok umur 5-9 tahun, berikutnya penduduk kategori remaja yang berumur 20-24 tahun dan 10-14 tahun. Kondisi kependudukan tersebut tentu tida terlepas dari adanya intervensi berbagai program kependudukan yang mulai diimplementasikan pada tahun 1970-an antara lain adalah program Keluarga Berencana (KB), pendewasan usia kawin dan lain-lain yang didukung oleh penyelenggaraan pelayanan kesehatan masyarakat dengan sarana dan prasarana yang lebih baik.

Berbagai sarana dan prasarana seperti Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) yang diperuntukan bagi masyarakat umum maupun yang diperuntukan khsusus bagi kelompok Ibu dan Anak seperti Posyandu (pos pelayanan terpadu) tersedia di Pangalengan. Hingga tahun 2012 di Kecamatan Pangalengan terdapat sejumlah 1 rumah sakit swasta, 3 Puskesmas, dan 1 Puskesmas Pembantu serta 228 Posyandu yang tersebar diseluruh Desa (Monografi Kecamatan Pangalengan, 2012). Selain itu dengan kondisi komposisi penduduk sebagaimana tercermin dalam tabel 2, maka terdapat hal-hal mendasar yang perlu diperhatikan dan diantisipasi kemungkinan timbulnya permaasalahan yang menyertainya. Pertama, komposisi penduduk seperti itu dalam jangka pendek/ sangat mendesak diperlukan ketersediaan fasilitas pendidikan lanjut yang representatif dan proporsional dengan penduduk golongan usia sekolah dan remaja yang merupakan jumlah yang cukup besar. Kedua, perlu diperluas kesempatan kerja dan peluang berusaha, mengingat penduduk golongan umur bekerja merupakan peringkat berikutnya.

Kesempatan kerja dan peluang berusaha tampaknya benar-benar menjadi persoalan krusial dari komposisi penduduk sebagaimana tercermin pada tabel ttersebut. Apabila hal tersebut tidak diupayakan secara maksimal, maka yang terjadi adalah jumlah anak yang terancam putus sekolh, tidak sekolah dan tidak melanjutkan sekolah semakin meningkat dan tingkat pengangguran serta jumlah penduduk miskin semakin meningkat. Berdasarkan tabel 2 tersebut, komposisi

penduduk untuk golongan 0-4 tahun terbilang besar dibanding dengan golongan umur yang lain. Hal tersebut berkorelasi dengan data dari Kabupaten Bandung dalam angka 2010 menyebutkan bahwa mutasi penduduk di kecamatan Pangalengan adalah untuk kelahiran laki-laki dan perempuan berjumlah 3.209 orang, kematian (laki-laki dan perempuan) berjumlah 293 orang, dan kedatangan (laki-laki dan perempuan) ke Pengalengan berjumlah 5.180 orang serta pindah dari pangalengan (laki-laki dan perempuan) berjumlah 2.858 orang. Dari data tersebut jumlah kelahiran lebih banyak ± 10 kali dari pada kematian sedangkan kedatangan lebih besar ± 1,8 kali sebesar dari pada kepindahan dari Pangalengan menuju keluar daerah tersebut.

Budaya Masyarakat Pegunungan

Jawa Barat identik dengan kebudayaan sunda yang dapat dikatakan sebagai kebudayaan yang berusia tua di antara suku-suku bangsa di Indonesia. Hal tersebut dilihat dari pengenalan terhadap budaya tulis yang sudah berkembang pada masa kegemilangan kebudayaan sunda pada masa lalu, khususnya semasa Kerajaan Tarumanegara dan Kerajaan Sunda. Kata sunda yang artinya bagus/ baik, segala sesuatu yang mengandung unsur kebaikan (bahasa sunda), sedangkan menurut bahasa arab kata sunda berarti wilayah yang bergunung-gunung. Pemaknaan kata sunda sendiri tidak hanya ditampilkan dalam penampilan, tetapi di dalam dalam hati. Beberapa etos atau watak dalam budaya sunda menjadi bagian intergral masyarakat pegunungan Pangalengan.

Lima etos atau watak budaya sunda yang melekat pada masyarakat Jawa Barat antara lain cageur, bageur, bener, singer, dan pinter. 1) Cageur adalah kondisi tubuh dalam keadaan sehat jasmani dan rohani, seha berfikir, sehat berpendapat, sehat lahir dan batim, sehat moral, sehat berbuat dan bertindak, sehat berprasangka atau menjauhkan sifat suudzonisme., 2) Bageur yaitu baik hati, sayang kepada sesama, banyak memberi pendapat dan kaidah moril terpuji ataupun materi, tidak pelit, tidak emosional baik hati, penolong dan ikhlas menjalankan dan mengamalkan, bukan hanya dibaca atau diucapkan saja, 3) Bener yaitu tidak bohong, tidak asal-asalan dalam mengerjakan tugas pekerjaan, amanah, lurus menjalankan agama, benar dalam memimpin, berdagang, tidak memalsu atau mengurangi timbangan, dan tidak merusak alam, 4) Singer, yaitu penuh mawas diri bukan was-was, mengerti pada setiap tugas, mendahulukan orang lain sebelum pribadi, pandai menghargai pendapat yang lain, penuh kasih sayang, tidak cepat marah jika dikritik tetapi diresapi makna esensinya, dan 5) Pinter, yaitu pandai ilmu dunia dan akhirat, mengerti ilmu agama sampai ke dasarnya, luas jangkauan ilmu dunia dan akhirat walau berbeda keyakinan, pandai menyesuaikan diri dengan sesama, pandai mengemukakan dan membereskan masalah pelik dengan bijaksana, dan tidak merasa pintar sendiri sambil menyudutkan orang lain.

Pangalengan terletak di sebelah selatan ibukota propinsi Jawa barat memiliki kondisi bentangan alam yang berombak sampai berbukit serta pegunungan. Tidak salah bahwa Bandung sering disebut “dilingkung ku

gunung”artinya bahwa Bandung dikelilingi oleh Gunung. Hal tersebut

menjadikan masyarakat Pangalengan memiliki karakteristik yang berbeda dengan masyarakat daerah dataran rendah atau daerah pesisir.

Sebagaimana daerah pegunungan pada umumnya, masyarakat Pangalengan tidak memiliki startifikasi sosial yang ketat sebagimana daerah sawah atau pesisir. Tidak ketatnya stratifikasi sosial dapat dilihat dari pergaulan sehari-hari antara pekerja dengan juragan. Meski orang bekerja pada seorang juragan dan sangat bergantung secara ekonomi, namun mereka tidak menunjukan kesan sebagai hamba sahaya. Dalam budaya sunda saling menghargai merupakan karakteristik utama, walaupun saat ini kondisi sudah berubah dengan digerusnya oleh modernisasi dan globalisasi di segala aspek atau bidang.

Perubahan tetap ada di dalam masyarakat Pangalengan tetapi perubahan tersebut tidaklah menjadi bias dalam kehidupan sehari-hari apalagi bahwa karakateristik masyarakat pegunungan yang hidupnya sebagian besar di sektor petanian, perkebunan dan peternakan, menjadikan mereka para petani, peternak ataupun buru tani, buruh ternak dan buruh pekebun senantiasa selalu menjaga hubungan antar sesama, hubungan dengan alam atau lingkungan sekitar serta hubungan dengan khalik-Nya.

Pandangan hidup orang sunda yang melekat di masyarakat Panggalengan dan berdasarkan data dari monografi kecamatan Pangalengan 2012 menyebutkan hanya ± 30 orang sebagai warga negara indonesia keturunan asing yaitu Cina RRC sedangakan sisanya adalah orang sunda.

Pandangan hidup orang sunda adalah konsep yang dimiliki seseorang atau golongan dalam suatu masyarakat yang bermaksud menanggapi dana menerangkan segala masalah hidup didalam dunia ini. Sedangkan pengertian orang sunda dapat diartikan, mereka yang mengaku dirinya dan diakui oleh orang-orang lain sebagai orang sunda. Orang-orang lain itu baik orang-orang sunda sendiri maupun orang-orang yang bukan sunda (Warnaen yang dikutip oleh Suryani 2010). Kehidupan masyarakat Pangalengan selalu mengadopsi budaya sunda yaitu bagaimana hubungan antara manusia dengan sesama manusia harus dilandasi oleh sikap “silih asih, silih asah, dan silih asuh”, artinya harus saling mengasihi, saling mengasah atau mengajari, dan saling mengasuh sehingga tercipta suasana kehidupan masyarakat yang diwarnai keakraban, kerukunan, kedamaian, ketentraman, dan kekeluargaan.

Sosial Ekonomi

Pangalengan dalam perspektif geografis mengarah pada suatu kehidupan perekonomian lokal dengan kondisi perbukitan sampai pegunungan. Secara garis besar gambaran perekonomian di Pangalengan yang dijalankan oleh sebagian besar masyarakat adalah kehidupan agraris. Corak kehidupan pertanian dan perkebunan mendominasi kehidupan di Pangalengan. Baru pada akhir abad ke-19 baru dimulai kehidupan peternakan sapi perah. Semua struktur perekonomian lokal tersebut berlanjut hingga sekarang. Distribusi struktur perekonomian lokal di Pangalengan yang menjurus pada agraris disajikan beradasarkan informasi Kabupaten Bandung dalam angka 2010 antara lain : sektor pertanian dengan aktivitas pertanian palawija dan hortikultura sebesar 5.851 orang, perkebunan 569 orang, perikanan 31 orang, kehutanan 9 orang dan peternakan 4.406 orang serta buruh tani 20.177 orang.

Berdasarkan data mengenai mata pencaharian di Pangalengan masih didominasi oleh buruh tani. Buruh disisni bisa sebagai buruh dipertanian, peternakan atau perekebunan. Pangalengan dengan kondisi lahan yang bervariasi

mulai dari datar, berombak hingga berbukit dan bergunung. Upaya masyarakat dalam memanfaatkan kondisi lahan tersebut mulai dari bersawah bagi memiliki lahan yang cukup datar, berladang dengan tumbuhan palawija atau hortikultura.

Masyarakat yang berada dekat dengan situ Cileunca aktivitas mereka adalah sebagai pencari ikan atau aktivitas lain yang dapat mendatangkan penghasilan dan melanjutkan aktivitas kehidupan. Selanjutnya, jumlah peternak di Pangalengan lebih banyak jika dibandingkan dengan peternak sapi perah di kecamatan lain diwilayah Kabupaten Bandung. Kondisi lingkungan inilah yang mendukung para petani, peternak atau masyarakat lainnya untuk beraktivitas di sektor agraris.

Sebagai daerah pegunungan, wilayah di Kecamatan Pangalengan mayoritas bermata pencaharian sebagai petani, pedagang, buruh perkebunan, industri dan lain lain. Perbedaan ketinggian tempat menyebabkan keragaman vegetasi yang tumbuh di sana. Sektor pertanian dengan produk utama seperti kentang menjadi kebanggaan daerah ini, dan juga hasil palawija seperti wortel, kubis, kol dan lain-lain.

Sektor lain seperti perkebunan tetap menjadikan prioritas utama bagi daerah ini walaupun ada yang milik swasta maupun milik Negara. Sementara itu sub-sektor peternakan terutama peternakan sapi perah menjadikan Pangalengan terkenal akan sentra peternakan dan juga koperasinya yaitu Koperasi Peternakan Bandung Selatan. Institusi inilah yang banyak memberikan manfaat kepada masyarakat Pangalengan dalam kehidupannya. Banyak masyarakat petani menjadi peternak ataupun mereka yang sudah turun temurun dari kakek buyutnya yang memelihara ternak sapi. Hal tersebut tidak terlepas dari keterbatasan aksesibilitas penduduk terhadap ases-aset produktif yang ada dilingkungannya dan salah satunya adalah lahan. Adapun total luas lahan di Kecamatan Pangalengan saat ini adalah 27.295,71 hayang terdiri dari lahan sawah, kering, hutan, perkebunan dan lahan untuk fasilitas umum. Untuk jelasnya tentang luas lahan menurut peruntukannya dapat dilihat pada tabel 3.

Tabel 3. Luas Lahan Kecamatan Panglengan Menurut Peruntukannya tahun 2012

No Peruntukan Luas (ha)

1 Lahan Sawah 959,91

2 Lahan Kering 7.710,62

3 Lahan Basah 71,34

4 Lahan Hutan 9.316,81

5 Lahan Perkebunan 7.052,68

6 Lahan Keperluan FasilitasUmum 344,05

Jumlah 27.295,71

Sumber : Monografi Kecamatan Pangalengan 2012

Berdasarkan tabel 3 bahwa lahan di Pangalengan menurut peruntukannya didominasi oleh lahan hutan, lahan perkebunan dan lahan kering. Memang tampak jelas bahwa Pangalengan merupakan daerah dataran tinggi sehingga cocok untuk perkebunan dan tanaman palawija atau hortikultura. Lahan sawah walaupun ada tetapi tidak dapat menjadi tumpuan sumber nafkah penduduknya.

Lahan kering yang ada dimanfaatkan untuk tanaman palawija, kebun rumput dan lain-lain. Padahal mayoritas penduduk di Pangalengan bermatapencaharian sebagai petani, sebagaiana tamapk pada tabel 4.

Tabel 4. Jumlah Penduduk berumur 15 Tahun ke Atas Menurut Lapangan Pekerjaan / Matapencaharian Tahun 2012

No Mata Pencaharian Jumlah (orang)

1 Pertanian 52.270

2 Peternakan 4.099

3 Pengrajin / Industri Kecil 2.675

4 Pedagang 3.466

5 PNS dan TNI 3.817

6 Pensiunan PNS dan TNI 2.271

7 Buruh Industri 4.035

8 Buruh Bangunan 1.417

9 Buruh Perkebunan 4.778

10 Angkutan 1.687

11 Penguasa Sedang / Besar 993

Jumlah 81.508

Sumber : Monografi Kecamatan Pangalengan 2012

Dari data pada tabel 4 tersebut tampak jelas bahwa sektor pertanian menjadi andalan sumber nafkah bagi masyoritas penduduk di Pangalengan, yaitu sebanyak 52.270 orang atau 64,13 % dari total penduduk umur > 15 tahun. Dalam hal ini penduduk yang bekerja di sektor pertanian termasuk didalamnya adalah petani penggarap dan buruh ternak. Selanjutnya, buruh perkebunan menjadi mayoritas kedua setelah pertanian yaitu 4.778 orang atau 5,86 %. Hasil utama perkebunan di Pangalengan adalah teh yang di bawah kordinasi PTPN VIII Jawa Barat. Sementara itu, penduduk yang bermatapencaharian di sektor peternakan berada pada posisi ke tiga setelah pertanian dan buruh perkebunan. Jumlah peternak yang ada di Pangalengan adalah 4.099 orang atau 5,01 % dari total penduduk berumur > 15 tahun. Dalam konteks peternakan, lebih dari setengahnya beternak sapi perah dan sisannya adalah peternak domba, ayam, itik dan lain-lain. Meskipun jumlah peternak sapi perah tidak begitu banyak dibandingkan dengan petani atau buruh ternak, tetapi keberadaannya dapat mendongkrak kehidupan masyarakat lain terlebih dengan berdirinya koperasi peternakan. Selain itu, sektor peternakan sapi perah dengan komoditi utama adalah susu dan daging dapat membuka peluang usaha bagi masyarakat lain seperti terdapatnya home industry dalam pengolahan hasil olahan susu, toko dan juga sebagai salah satu tujuan pariwisata di Pangalengan.

Dengan begitu selain pertanian dan buruh perkebunan, secara kumulatif sebenarnya banyak pennduduk yang menggantungkan sumber nafkah dari peternakan sapi perah. Sementara itu, untuk menunjang dalam keberlangsungan kehidupan masyarakat di Pangalengan dibutuhkan sutau sarana perekonomian. Untuk lebih jelasnya tentang komposisi sarana perekonomian dapat dilihat pada gambar 5.

Profil Dua Komunitas Peternak Sapi perah di Dua Desa Kasus

Desa Margamekar (Geografis dan Demografis)

Desa Margamekar berjarak sekitar 44,3 km dari ibu kota provinsi dan jarak sekitar 32,2 km di sebelah selatan pemerintahan Kabupaten Bandung atau sekitar 3,2 km dari Kecamatan Pangalengan. Secara administratif Desa Margamekar sebelah utara berbatasan dengan Desa Pangalengan, sebelah selatan berbatasan dengan Desa Banjarsari, Sebelah timur berbatasan dengan Desa Sukamanah dan sebelah barat berbatasan dengan Desa Pulosari. Berdasarkan topografi atau bentangan wilayah Desa Margamekar termasuk desa berbukit-bukit dan termasuk kawasan campuran, dengan besarnya curah hujan 2.200 mm serta memiliki suhu rata-rata atau berkisar antara 16oC s/d 19oC. daerah tersebut berada di 1.449,93 m di atas permukaan laut yang merupakan daerah berbukit. Melihat potensi alam sangat mendukung dalam pengembangan sektor pertanian dan peternakan, pengembangan pertanian lebih mengarah kepada tanaman pangan dan untuk pengembangan sub sektor peternakan diorientasikan kepada ternak besar sapi dan domba.

Tabel 5. Komposisi Pemilikan Lahan Pertanian Tanaman Pangan Desa Margamekar Tahun 2011

No Kepemilikan lahan Pertanian Jumlah Keluarga 1 Jumlah Keluarga memiliki lahan pertanian 725

2 Tidak Memiliki lahan pertanian 1694

3 Memiliki lahan pertanian kurang 1 ha 393 4 Memiliki lahan pertanian 1,0 – 5,0 ha 88 5 Memiliki lahan pertanian 5,0 - 10 ha 10

6 Jumlah Total Keluarga Petani 491

Sumber : Data Profil dan Potensi Desa Margamekar 2011

56 4

3704

9 1 6 105

Pada sektor pertanian, komoditas tanaman pangan lah yang menjadi bagian terbesar dari masyarakat Desa Margamekar. Hal tersebut terlihat dalam distribusi jenis dan hasil tanaman pangan yang diperoleh.

Tabel 6. Komposisi Luas Tanaman Pangan Menurut Komoditas Desa Margamekar tahun 2011

No Jenis Tanaman Pangan Luas (ha) Produktivitas (ton/ha)

1 Jagung 102 28,00 2 Kacang Merah 27 1,60 3 Cabe 42 12,50 4 Tomat 128 30,00 5 Sawi 165 23.50 6 Kentang 583 19,70 7 Kubis 431 26,00 8 Wortel 169 27,50 9 Labu Siam 32 12,00

Kondisi basis ekologi yang terdiri dari pertanian, perbukitan dan perkebunan mempunyai implikasi terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakatnya, sehingga kehidupan sosial ekonomi masyarakat lebih banyak mengandalkan pada potensi lingkungan alamiahnya. Pola kehidupan sosial masyarakat bercorak kehidupan pedesaan dengan nilai-nilai sosial yang bercorak tradisional agamis dan kehidupan ekonomi yang bercorak ekonomi produksi pertanian.

Desa Margamekar yang penduduknya memiliki mata pencaharian yang bervariasi menjadikan aset tanah sebagai kekuatan produksi dalam mengembangkan berbagai usaha. Tidak terkecuali dalam sektor pertanian lebih diprioritaskan melihat potensi ekologis yang sangat memungkinkan. Banyak pola atau mekanisme dalam pengelolaan tanah, mulai dimanfaatkan oleh pemilik atau oleh buruh tani, melalui sistem “maro” atau bagi hasil serta melalui sewa kepada para petani.

Hasil dari pertanian hanya sebagian kecil yang dikonsumsi, sementara sisanya siap dijual ke pasar atau melalui pengumpul (Bandar). Distribusi pasar yang dituju selain di daerah pangalengan sendiri Pasar Banjaran, Pasar Soreang sampai dengan masuk kepada Pasar Induk di Caringin dan Gede Bage, Kota Bandung. Selain untuk tanaman pangan atau pertanian, peruntukan tanah juga digunakan oleh para peternak untuk menanam hijauan untuk ternak seperti jenis rumput yaitu rumput gajah (penisetum purperium), rumput raja (king grass) dan rumput jenis lain (sebangsa serealia). Adapun komposisi aset tanah di Wilayah Desa Margamekar antara lain :

Kecamatan Pangalengan identik dengan pertanian dan peternakan terutama peternakan sapi perah. Dalam sub-sektor peternakan, peran ternak sangat memberikan kontribusi terhadap pembangunan wilayah di Desa Margamekar. Keberadaan Koperasi dalam hal ini KPBS memberikan