• Tidak ada hasil yang ditemukan

VI PERUBAHAN STRUKTUR SOSIAL PADA KOMUNITAS PETERNAK SAPI PERAH

Perubahan struktur sosial pada komunitas peternak sapi perah dilihat sebagai suatu proses perubahan sosial dalam masyarakat Pangalengan sebagai dampak dari pengembangan peternakan sapi perah melalui penetrasi modernisasi. Perspektif ini mempunyai pandangan bahwa penetrasi modernisasi dapat diartikan sebagai peningkatan atau berkembangnya teknologi, banyaknya kebijakan pemerintah dalam bidang peternakan, dan masyakat menyadari adanya perubahan dalam kehidupannya atau komunitas. Hal tersebut sesuai dengan pandangan Harper (1989) dan Lauer (1989) bahwa dengan adanya teknologi baru dan moda produksi ekonomi menyebabkan perubahan-perubahan dalam interkasi sosial, organisasi sosial, nilai-nilai budaya dan kepercayaan dan norma-norma. Untuk memahami perubahan struktur, maka bahasan difokuskan pada struktur komunitas peternak sapi perah sebelum dan sesudah penetrasi modernisasi hadir di Pangalengan.

Struktur Komunitas Peternak Sapi Perah Sebelum Penetrasi Modernisasi

Pengembangan peternakan sapi perah rakyat tercatat dalam sejarah dimulai pada awal kemerdekaan sampai dengan sekarang. Perjalanan waktu yang terjadi di Pangalengan memberikan sekat-sekat informasi kondisi dan situasi kehidupan peternakan sapi perah. Pengembangan peternakan sapi perah di awal kemerdekaan atau pada masa perintis memberikan gambaran bahwa komunitas peternak sudah mulai terbentuk tetapi penyebarannya masih dalam lingkup kecil belum meluas hingga sekarang yaitu sampai dua wilayah diluar Pangalengan yaitu Kertasari dan Pacet.

Kehidupan masyarakat Pangalengan masih difokuskan pada pertanian dan perkebunan serta sedikit yang terlibat dalam peternakan sapi perah. Pada masa itu, peternakan hanyalah sebagai pekerjaan sambilan selain pertanian dan perkebunan. Waktu luang digunakan petani untuk mencari rumput untuk ternaknya ataupun disela-sela pekerjaan di perkebunan ada waktu untuk mencari rumput di daerah perkebunan atau naik ke pegunungan/ hutan untuk mencari rumput bagi ternaknya. Jumlah kepemilikan ternak masih sangat kecil yaitu dibawah 2 ekor, walaupun terdapat beberapa tokoh di Pangalengan yang memiliki jumlah ternak lebih dari 3 ekor.

Keberadaan peternakan sapi perah rakyat yang ada di Pengalengan berasal dari warga sekitar atau pribumi yang bekerja di perusahaan peternakan sapi perah milik Belanda dan Jepang. Dengan dasar pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh dari perusahaan peternakan sapi perah menjadikan warga tersebut menjadi paham untuk memelihara ternak sapi. Kendala dan tantangan pasti menghampiri kehidupan peternak sapi perah terutama makanan penguat seperti konsentrat. Berbicara pakan hijauan sangatlah berlimpah dibandingkan dengan sekarang. Open acces terjadi dalam perolehan hijauan tidak ada batasan atau dikotomi dalam penguasaan lahan terutama daerah perkebunan atau lahan milik

perhutani. Hal tersebut dikarenakan jumlah peternak masih sangat sedikit berbeda dengan saat ini dimana jumlah peternak yang tergabung dalam koperasi berjumlah ribuan dibandingkan dengan dahulu.

Struktur dan stratifikasi sosial di Pangalengan cenderung sangat ditentukan oleh penguasaan aset dan alat produksi berupa lahan dan ternak. Stratifikasi sosial yang muncul di Pangalengan dapat diidentifikasikan dengan jelas dengan melihat ketidaksetaraan ekonomi antar lapisan masyarakat yang ditandai dengan kepemilikan kendaraan bermotor, kecukupan sandang dan pangan serta kemampuan menunaikan haji. Khususnya bagi masyarakat yang sudah mampu menunaikan ibadah haji akan mempunyai panggilan khusus yang merujuk pada status sosial di Pangalengan. Bagi kaum laki-laki yang menunaikan ibadah haji, maka masyarakat umum akan memanggil “Pak Haji” atau Haji ditambah namanya. Dalam startifikasi masyarakat Pangalengan dapat dikelompokan dalam tiga posisi status sosial ekonomi yaitu 1) kelas atas, yang terdiri dari masyarakat yang memiliki lahan yang luas (tuan tanah), 2) kelas menengah, yang terdiri dari pegawai dan pedagang, dan 3) kelas bawah yang terdiri dari buruh tani, buruh ternak dan buruh non pertanian. Strata tersebut adalah gambaran umum dari masyarakat Pangalengan. Berbeda juga dengan stratifikasi pada subsektor peternakan sapi perah.

Pembentukan straifikasi sosial pada peternak dimulai pada rentang waktu yaitu tahun 1945 sampai dengan 1975 atau pada periode perintis, komunitas peternak sapi perah sudah terbentuk melalui kelembagaan lokal yang mirip fungsinya dengan koperasi yaitu GAPPSIP. Peran kelembagaan tersebut memberikan posisi para aktor dalam pengembangan usaha peternakan sapi perah. Peternak sapi perah ada yang berasal dari petani dan juga dari pengusaha lokal yang mencoba peruntukannya di dunia peternakan sapi perah. Stratifikasi sosial yang muncul di dunia peternakan terbagi dalam dua tingkatan antara lain : 1) peternak lapisan atas yakni mereka yang menguasai lebih dari 0,5 ha dicirikan dengan (a) penguasaan ternak sapi perah lebih dari 3 ekor, (b) asal ternak dari Kredit Investasi Kecil Program Usaha Pengembangan Sapi Perah (KIK-PUPS) atau membeli, (c) kandang ternak terpisah dari bangunan rumah atau berada jauh dari rumah dan 2) peternak lapisan bawah yakni mereka yang menguasai lahan sangat sempit di bawah 0,25 ha atau dapat disebut sebagai peternak kecil, dicirikan dengan (a) penguasaan ternak lebih kecil dari 2 ekor, (b) asal ternak dari koperasi, bantuan presiden, (c) bangunan kandang berada dalam area rumah tempat tinggal, (d) terkadang terlibat menjadi buruh ternak di kepemilikan yang lebih banyak.

Dengan melihat stratifikasi sosial yang terbentuk di komunitas peternak sapi perah dapat ditarik benang merah bahwa kehidupan peternak pada masa ini masih bersifat konvesional tidak ada orientasi untuk mengembangkan lebih besar walaupun peran kelembagaan lokal ada dalam penanganan produksi susu dan sarana serta prasarana yang disediakan. Moda produksi subsistence dan semi-petty commodity terbentuk dalam pengelolaan usaha peternakan sapi perah di Pangalengan. Moda produksi subsistence terbentuk pada awal kemerdekaan sedangkan moda produksi semi-petty commodity terbentuk ketika pasar sudah terbentuk dan kelembagaan lokal sudah ada ditambah para kolektor susu yang mulai merambah di Pangalengan pada saat kelembagaan lokal sudah terbentuk. Menanggapi hal tersebut kebingunan dan skeptis dari peternak kepada siapa susu

ini akan di setorkan, dan bagaimana keberlanjutannya? Pada periode perintis, peran kolektor susu dan kelembagaan lokal sama-sama penting dihadapan para peternak.

Dalam hubungan produksi usaha peternakan sapi perah, pihak kelembagaan lokal yang di dalamnya adalah para pengurus sekaligus peternak dengan jumlah populasi yang banyak sangat berpengaruh terhadap keberlanjutan usaha peternakan sapi perah yang lain. Kondisi ini tidak bertahan lama dikarenakan goyahnya perpolitikan di negara kita dan berimbas kepada situasi di pedesaan. Tercatat dari terbentuknya GAPPSIP di tahun 1949 dan tidak beroperasinya pada tahun 1963. Pada rentang waktu tersebut tidak hanya kelembagaan lokal GAPPSIP yang berkibar di Pangalengan melainkan peran para kolektor (pengumpul susu) yang bermunculan. Sehingga, tidak ada upaya untuk mempertahankan peternak untuk berada pada kelembaan lokal tersebut. Peran kolektor sangat memberikan ruang bagi perternak untuk memilih kepada siapa produksi susu ini akan disetorkan. Pilihan ada pada peternak tetapi harga susu tidak dapat dinegosiasikan. Peternak hanya menerima berapa harga yang ditetapkan oleh kolektor walaupun harga tersebut tidak dapat menutupi modal yang sudah dikeluarkan. Jalur pemasaran yang terjadi pada masa ini dapat terlihat dari gambar 11.

Gambar 11. Alur Pemasaran Susu Periode Perintis

Periode perintis pada awal kemerdekaan sampai dengan tahun 1975, bahwa komoditi produksi susu merupakan barang yang berdasarkan proses produksi atau pembuatannya ternasuk barang dasar atau mentah, yang memerlukan proses terlebih dahulu untuk dapat dikonsumsi. Penyetoran ke tempat pengumpul dilakukan dua kali setiap hari yaitu pagi hari sekitar jam 05.00 – 06.00 dan sore hari yaitu antara jam 15.00 – 16.00. Dalam hubungan produksi subsistence tidak terlihat adanya eksploitasi dalam upaya pengelolaan usaha peternakan sapi perah. Lain hal dengan hubungan produksi semi-petty commodity yang terbentuk terdapat struktur dalam pekerjaan tetapi sangat kecil eksploitatif yang terjadi antara pemilik dengan buruh yang terjadi hubungan struktural fungsional di antara para peternak pemilik dan buruh ternak.

Peternak sapi perah

Pengumpul susu di

GAPPSIP Penampungan di BMC

Loper Susu Konsumen

Kolektor Susu Kolektor Susu

Struktur Komunitas Peternak Sapi Perah Setelah penetrasi modernisasi

Rentang waktu dari tahun 1975 sampai dengan sekarang tercatat banyak mengalami perubahan dalam struktur komunitas peternak sapi perah. Terlebih penetrasi modernisasi di berbagai sektor terjadi begitu pula pada peternakan sapi perah. Pada masa kontemporer ini peternak ada yang tergugah untuk dapat mengembangkan usahanya menjadi lebih baik yang ditandai dengan penguasaan ternak menjadi banyak begitu pula lahan yang dimiliki menjadi besar. Tapi hal tersebut tidaklah mudah dikarenakan pengetahuan dan akses yang dimiliki peternak masih dalam taraf tradisional.

Perubahan struktur sosial pada komunitas peternak sapi perah dapat dipahami sebagai dampak munculnya kelembaan lokal yang sudah menjadi institusi yang berbadan hukum yang didalamnya syarat akan aturan main serta kebijakan-kebijakan yang diilontarkan koperasi, selain itu penetrasi modernisasi dalam hal berkembangnya teknologi dan juga peran Industri Pengolahan Susu yang sudah mulai terlibat dalam penyerapan output susu setelah dikumpulkan dari koperasi. Dalam perubahan struktur komunitas peternak sapi perah terdapat beberapa hal yang penting untuk dikaji yaitu mengenai stratifikasi sosial. Pelapisan diantara peternak sapi perah dalam satu komunitas memberikan potret kehidupan peternakan sapi perah di Pangalengan.

Perubahan Stratifikasi Sosial

Pembedaan atas status sosial ekonomi memberikan perbedaan pada masyarakat Pangalengan. Dalam struktur sosial terdapat ketidaksamaan yang mengacu pada stratifikasi sosial. Bentuk stratifikasi sosial berkaitan dengan alami, kondisi yang bersifat individual, perbedaan terjadi karena ciri perorangan, umur, jenis kelamin, kekuatan dan priviledge (Bteille, 19977; Charo, 1980). Berdasarkan kriteria status sosail ekonomi masyarakat seperti terungkap dalam stratifikasi sosial sebelum penetrasi modernisasi berkembang di Pangalengan, maka dapat dikatakan bahwa pasca penetrasi modernisasi melalui peningkatan teknologi, dibukanya keran impor dan hubungan terhadap penegakan industri pengolahan susu serta beberapa kebijakan pemerintah di bidang peternakan khusus peternakan sapi perah terjadi perubahan posisi dalam startifikasi sosial masyarakat Pangalengan.

Ukuran sosial ekonomi, kebendaan dan posisi dalam masyarakat menjadi patokan untuk menilai status sosial ekonomi seseorang, semakin banyak harta fisik yang dimilikinya makin tinggi status sosial ekonomi seseorang ditambah posisi sebagai alim ulama di wilayahnya. Penuturan HEM (Tokoh masyarakat, 73 tahun) :

upami ningal posisi jalmi ulah dina kakayaan wae, emang eta janten salah sahiji tapi tingal oge dina hubungan kamasyarakatan anjeuna tiasa nempatkeun henteu? Biasanamah anu dianggap ku massyarakat teh anu bijak, luhur elmuna deet hatena (ustadz)” (kalau melihat posisi orang jangan dilihat dari kekayaannya, memang itu merupakan salah satu yang diperhatikan tetapi lihat juga dari hubungan kemasyarakatan yang

dilakukan, apakah bisa menitipkan diri? Biasanya yang selalu dianggap oleh masyarakat adalah yang bijak, tinggi ilmu-rendah hati (ustadz). Dalam perkembangan kehidupan peternak sapi perah di Pangalengan, kondisi stratifikasi sosial akan muncul jika dia memiliki lahan yang luas, ternak sapi perah yang banyak serta askses yang luas serta kondisi rumah atau tempat tinggal layak serta keadaan anak yang berhasil untuk melanjutkan studi lebih tinggi. Kondisi tersebut jarang ditemukan di Pangalengan, di mana hanya beberapa orang saja yang bisa meraih posisi tersebut. Johnson (1988) memberi tanggapan bahwa perubahan cara produksi dan hubungan produksi dapat mengakibatkan terjadinya perubahan struktur kelas, hubungan kepemilikan, munculnya kelas baru, mundurnya kelas lama, dan perubahan sosial lainnya. Perubahan stratifikasi sosial mengacu pada meningkatnya status sosial ekonomi pada peternak sapi perah. Hasil menunjukan bahwa pembagian strata masyarakat berdsarkan kelas sosial ekonomi mengacu tetap mengacu pada tiga posisi yaitu (1) Kelas Atas : Kepemilikan lahan luas baik yang pribadi ataupun menyewa kepada instasi pemerintah yang diperuntukan untuk pakan hijauan ataupun tanaman palawija, merupakan tokoh masyarakat, kepemilikan ternak sapi banyak lebih dari 10 ekor sapi plaktasi dan ternak tersebar di orang lain melalui mekanisme gaduh (maro), alat-alat produksi lengkap (copper, milk can dengan ukuran 25 liter, 15 liter), (2) Kelas Menengah : Kepemilikan Lahan sedang, lahan menyewa di instansi ada tapi tidak terlalu luas, kepemilikian ternak sapi perah sedang sedang yaitu sekitar 5 sampai dengan 8 ekor laktasi, alat-alat sederhana (tidak memiliki copper, milk can dengan ukuran 15 liter dan 10 liter), (3) Kelas Bawah : lahan sedikit, akses sangat terbatas, kepemilikan ternak sedikit yatuu di bawah 4 ekor laktasi, dan alat-alat produksi minim.

Selain stratifikasi pada peternak sapi perah, ternyata buruh ternakpun terdapat pembagian dalam hal : 1) buruh ternak tetap : merupakan buruh yang bekerja pada peternak yang memiliki ternak dengan jumlah banyak, biasanya mereka diupah per dua minggu dan mereka tinggal di tempat tinggal peternak, 2) buruh ternak lepas: merupakan buruh yang bekerja kepada peternak kelas menengah sampai dengan kelas atas. Biasanya mereka yang bekerja hanya buruh harian / lepas. Buruh tersebut melakukan penyabitan rumput untuk pakan ternak atau melakukan pemerahan dan membawanya ke TPK.

Berdasarkan kasus subyek penelitian ditemukan di lapangan, dapat dikemukakan bahwa para peternak kelas atas berasal dari golongan elit lokal / desa yang memiliki ternak sudah lama dan turun temurun. Terjadi peningkatan jumlah ternak dikarenakan memahami situasi dan kondisi daerah Pangalengan sebagai sentra peternakan sapi perah, sedangkan kelas menengah pada peternak sapi perah merupakan peternak yang berasal dari kelas ekonomi menengah. Bahkan ada peternak sapi perah yang berasal dari kelas bawah dalam stratifikasi peternak sapi perah di Pangalengan, yang kemudian dalam waktu pengembangan peternakan sapi perah dapat meningkat status menjadi peternak yang berhasil (peningkatan jumlah ternak sapi perah, kandang yang terpisah dan permanen, memiliki lahan (kebun rumput), alat-alat produksi mendukung). PUU (tokoh peternak sapi perah, 54 tahun) menuturkan :

upami ngurus sapi mah kudu leukeun sareng telaten. Insya Allah rizki mah moal kamana-mana. Alhamdulillah bapa ayeuna gaduh sapi lumayan seeur, kagungan dua padamel nu sok ngabantosan” (mengurus atau memelihara sapi harus sabar dan serius, Insya Allah rezeki tidak akan kemana-mana. Alhamdulillah, bapak sekarang memiliki sapi lumayan banyak dan punya dua orang pekerja yang suka membantu.

Perubahan Hubungan Sosial

Peternak sapi perah di Pangalengan sebagian besar memeliharan sapi Peranakan Fries holland (PFH) sudah tidak ada bangsa sapi perah yang murni FH. Pada awal pembentukan atau periode perintis masih bisa ditemukan peternak yang memiliki ternak dari bangsa sapi FH murni, tapi dengan perjalanan waktu semua sudah berubah. Perubahan hubungan sosial dirasakan setelah penterasi modernisasi peternakan masuk di Pangalengan. berdasarkan salah satu informan PAM (tokoh peternak sapi perah, 58 tahun) menuturkan :

kapungkur, upami bade macekeun sapi bikang anu birahi kedah dibantun ka salah sahiji tokoh peternak (Pa Umri) Anjeuna kagungan sapi jalu (Laksana) anu sae, sateuacan di pacek ku jalu, si jalu di pasihan jajamu (endog, kecap, gula jeung sajabana) teras upami janten engkin masihan ceceh ka Pa Umri” (dahulu, kalau mau mengawini sapi betina birahi, harus dibawa ke salah satu tokoh peternak (Pa Umri), dia memiliki penjatan (nama nya : Laksana) tangguh, bagus. Sebelum mau dikawinkan sama pejantan, si penjantan diberi jamu-jamu (campuran telur, kecap, gula dan lain-lain), jika jadi (berhasil) nanti kasih uang ke Pa umri.

Keadaan dulu berbeda dengan sekarang, seperti apa yang sudah di utarakan bahwa hubungan sosial diantara masyarakat dalam hal ini peternak dengan peternak untuk perbibitan dilakukan secara langsung dengan artian ternak sapi jantan degan ternak sapi betina, selanjutnya peternak dengan peternak. Hubungan saling menguntungkan terjadi, karena menganggap bahwa silaturahmi merupakan dasar utama dan kekeluargaan adalah dasar kehidupan di Pangalengan. Perubahan terjadi setelah penetrasi modernisasi peternakan terjadi di Pangalengan. alat-alat produksi mengalami kemajuan dan komersialisasi sudah mulai terbentuk. Penuturan PAM (tokoh peternak sapi perah, 58 tahun) :

di daerah ieu, kapungkur ngan aya 5 peternak upami ngaloper susu teh ngangge bes nu didamelna ku seng nu dipatri teras dicandak ka kolektor di daerah citere.” (di daerah ini, dulu Cuma ada 5 peternak kalau mau menyetor susu menggunakan milk can yang terbuat dari seng yang dipatri lalu dibawa ke kolektor (pengumpul susu) di daerah citere.

Hubungan sosial yang terjadi antara peternak dengan penjual pakan konsentrat di pasar Pangalengan, sedangkan sekarang semua alat produksi, sarana dan prasarana sudah disediakan oleh koperasi, ataupun melalui TPK (tempat pelayanan koperasi) yang ada dimasing-masing wilayah kerja. Penetrasi modernsiasi peternakan berdampak kepada hubungan sosial menjadi kurang

harmonis walaupun kekeluargaan dijunjung tinggi. Unit produksi dalam peternakan sapi perah adalah keluarga inti. Semua skala atau stratifikasi peternak sebagian besar menggunakan keluarga inti. Dimana semua struktur keluarga dilibatkan mulai dari orang tua, anak, mantu atau mertua tergantung siapa yang menjadi anggota dalam koperasi peternakan. Dalam struktur keluarga tidak ada saling mengeksploitasi yang ada adalah saling mendukung demi keberlanjutan usaha peternakan sapi perah. Berdasarkan uraian tersebut dapat dituangkan dalam tabel 15.

Tabel 15. Struktur Komunitas Peternak Sapi Perah Sebelum dan Sesudah Penetrasi Modernisasi Peternakan di Pangalengan

No Struktur Komunitas Peternak Sebelum Penetrasi Modernisasi Setelah Penetrasi Modernisasi

1 Stratifikasi Peternak -Peternak lapisan Atas : Kepemilikan lahan Luas, ternak Banyak, kandang terpisah dgn rumah, dinding semi permanen

-Kelas bawah : Kepemilikan Lahan terbatas, ternak sedikit, kandang samping rumah, dinding kayu

-Kelas Atas : Kepemilikan lahan luas, tokoh

masyarakat, ternak banyak, alat-alat produksi lengkap -Kelas Menengah :

Kepemilikan Lahan sedang, ternak sedang, alat-alat sederhana. -Kelas Bawah : lahan

sedikit, ternak sedikit, alat-alat minim.

2 Buruh Ternak -Jarang ditemukan (jumlah ternak masih sedikit), buruh lepas (tidak menginap).

-Banyak ditemukan pada peternak kelas Atas dan menengah sebagai buruh tetap (menginap ) dan buruh lepas (tidak menginap). 3 Hubungan Sosial -Orientasi hubungan

dalam keluarga inti belum menuju komersialisasi, hanya sampai semi komersial

-Sudah mulai

komersialisasi, keluarga inti di bantu dengan pegawai (buruh ternak) 

peternak kelas Atas dan menengah

Ikhtisar

Pada kasus peternakan sapi perah di Pangalengan, perubahan struktur komunitas peternak sapi perah dipahami berdasarkan kondisi sebelum dan sesudah penetrasi modernisasi peternakan hadir di Pangalengan. awal dari pemebntukan peternak sapi perah diawawali dari para petani yang hobi untuk memelihara ternak sapi perah yang dapat dimafaatkan daging dan susunya. Mereka para petani yang memiliki ternak berada ada posisi atau stratifikasi yang tinggi dikarenakan memiliki lahan yang cukup dan ternak sapi perah yang dimiliki. Sedangkan pada posisi yang rendah adalah para buruh tani yang bekerja

di lahan pemilik. Keterbatasan dan ketidakmampuan dalam mengakses menjadikan buruh selalu termarjinalkan.

Perubahan struktur komunitas peternakan sapi perah membentuk beberapa lapisan atau stratifikasi antara lain peternak kelas atas, peternak kelas menengah, dan peternak kelas bawah. Bukan startifikasi peternak melainkan buruh ternak pun terbagi dalam dua bagian antara lain dalam buruh lepas (tidak menginap) dan buruh tetap (menginap di rumah peternak),

Selanjutnya perubahan hubungan sosial terjadi antara peternak dengan peternak, peternak dengan institusi. Dengan perubahan struktur komunitas tersebut mengakibatkan pemunculan dalam struktur pekerjaan baru antara lain penyedian pakan ternak baik konsetrat maupun hijauan diluar dari koperasi dan dibangunya home industry dalam pengolahan susu