• Tidak ada hasil yang ditemukan

yaitu ganti secara makna. Wahbah al-Zuhaili menganggap bahwa hibah dengan alasan mengharapkan pahala dari Allah, atau untuk tujuan mempererat silaturrahmi, atau karena alasan zaujiyyah (suami-istri) dianggap sebagai ganti secara makna. Oleh karena itu dalam tiga kondisi tersebut hibah tidak boleh ditarik kembali oleh pemberinya.66

Jadi, „Iwadh dalam hibah merupakan hal yang sangat menentukan boleh tidaknya penarikan kembali harta hibah. Dalam perspektif dua Ulama‟ tersebut (Imam Syafi‟i dan Imam Hanafi) pada dasarnya tidak memperbolehkan penarikan kembali harta hibah jika ada gantinya dari penerima hibah tersebut. Namun, dalam hal ini Imam Syafi‟i melihat soal ganti tersebut dari niat (tujuan) pelaku (pemberi)-nya.67 Sedangkan Imam Hanafi lebih cenderung melihat fakta hukumnya, bukan niat pemberinya.

65Abu Bakar bin Mas‟ud Kasani Hanafi, Badāi‟u Shanāi‟, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, 2003), Cet. II, Juz VIII, hlm. 124-125.

66Abu Bakar bin Mas‟ud al-Kasani al-Hanafi, Badāi‟u al-Shanāi‟... hlm. 31.

67Al-Syirāzi dalam catatannya pernah menyatakan bahwa hibah dapat dinilai dari pelakunya.Jika pemberinya adalah orang yang berada dalam strata ekonomi yang lebih tinggi dari penerimanya, maka secara „Urf (adat) praktek yang semacam itu dapat dinilai sebagai bentuk upaya untuk mempererat tali silaturrahim. Sedangkan jika pemberi dan penerimanya berada dalam strata ekonomi yang sama maka hal itu dapat dianggap sebagai upaya untuk memupuk rasa cinta dan kasih sayang antar sesama. Sementara jika pemberinya adalah orang yang berkedudukan lebih rendah strata ekonominya, maka secara „Urf hal tersebut biasanya bertujuan untuk mendapatkan ganti yang lebih baik. Lihat: Abu Ishaq Ibrahim Syirāzi,

al-Muhadzab Fī Fiqh al-Imam al-Syafi‟i, (Beirut: Dār Kutub al-„Ilmiyyah, 1995), Cet. I, Juz II,

Ketiga, sejauh penelusuran yang penulis lakukan, tawaran definisi

hibah dalam pandangan mayoritas Ulama‟ selalu mengikutkan kata al-Tamlīk. Hal ini sebagaimana yang ditawarkan oleh kalangan Hanafiyah yang

mengartikan hibah dengan;

ِلاَْلْا ِفِ ِضَوِعْلا ِطْرَش َلاِب ِْيَْعْلا ُكْيِلَْتَ

67

Artinya: “Pemilikan suatu barang tanpa adanya syarat untuk

mengganti barang tersebut dan dilaksanakan seketika (ketika pemberi hibah masih hidup).”

Begitu juga dengan tawaran definisi hibah dari kalangan Syafi‟iyyah;

َْتَ

ٍباَْجَِإِب ٍجاَيِتْحاِوَأ ٍباَوَ ث ِلْجَلأ َلاَو ٍماَرْكِِ َلا ٍةاَيَح ِفِ ٍعُّوَطَت ُكْيِل

ٍلْوُ بَ قَو

69

“Pemberian kepemilikan atas sesuatu secara sukarela ketika pemberinya masih hidup, dengan tujuan bukan untuk memuliakan penerimanya (seperti yang berlaku dalam pemberian hadiah), dan bukan untuk mencari pahala atau karena kebutuhan penerima (seperti dalam shadaqah) yang dilakukan dengan ijab dan qabul.”

Kesimpulan dari definisi-definisi tersebut menyebutkan bahwa hibah adalah sebuah akad tamlīk tanpa disertai ganti. Tamlīk secara bahasa berasal dari kata al-Milku, yang mana secara bahasa berarti penguasaan manusia atas suatu harta.70 Sementara dalam istilah fuqaha‟ (ahli fiqh) diartikan sebagai pengkhususan atas sesuatu yang mencegah orang lain darinya, yang mana memungkinkan untuk di-tasharruf-kan (dibelanjakan) sesuai keinginan

68 Abd al-Rahman al-Jaziri, Kitab al-Fiqhi „Ala Madzahib al-Arba‟ah, (Beirut: Dār Kutub al-„Ilmiyyah, 2003), Cet. II, Juz III, hlm. 254.

69Abd al-Rahman al-Jaziri, Kitab al-Fiqhi „Ala Madzahib al-Arba‟ah... Juz III, hlm. 256.

pemiliknya dalam hal yang diperbolehkan oleh syara‟.71 Oleh karena itu

Tamlīk diartikan sebagai upaya menjadikan milik atas sesuatu.72

Dari penjelasan tersebut maka dapat dirumuskan bahwa hibah jelas berbeda dengan bai‟ (jual beli) yang mengharuskan adanya ganti yang sepadan atas pemilikan yang dilakukan. Hibah juga berbeda dengan ijārah (sewa menyewa) yang pemilikannya hanya terbatas pada manfaat barangnya saja dan bersifat sementara, atau dengan akad-akad yang lain dalam fiqh

mu‟amalah, yang mana titik perbedaan hibah dengan akad-akad yang lain

terletak pada konteks tidak adanya ganti atas pemilikan yang dilakukan. Dalam pandangan Imam Syafi‟i, konsekuensi dari suatu akad hibah adalah tetapnya kepemilikan kepada penerimanya, atau berpindahnya kepemilikan dari pemberi hibah kepada penerimanya. Sementara dalam perspektif Imam Hanafi, status kepemilikan tersebut sifatnya tidak tetap, artinya bagi pemberi hibah tetap diperbolehkan menarik kembali harta yang telah ia hibahkan selama belum ada ganti dari penerimanya.

Mengenai permasalahan ini, al-Kāsāni tercatat pernah melakukan analisis komparatif terhadap pandangan Imam Syafi‟i dan madzhab yang ia anut (Hanafiyyah). Dalam karyanya ia menulis;

و

ُْلْا ِلْصَأ ِناَيَ ب ِفِ َعِضاَوَم ِث َلاَث ِفِ ِويِف ُم َلاَكْلاَف ِةَبِْلِا ُمْكُح اَّمَأ

ِفَِو ِمْك

ِكْلِمْلا ُتوُبُ ث َوُهَ ف ِمْكُْلْا ُلْصَأ اَّمَأ.َمْكُْلْا ُعَفْرَ ي اَم ِناَيَ ب ِفَِو ِوِتَفِص ِناَيَ ب

ِْيَْغ ْنِم ِْيَْعْلا ُكيِلَْتَ َةَبِْلِا َّنَِلأ ٍضَوِع ِْيَْغ ْنِم ِبوُىْوَمْلا ِفِ ُوَل ِبوُىْوَمْلِل

ْلا َكْلِم اَهُمْكُح َناَكَف ٍضَوِع

ْدَقَ ف ُوُتَفِص اَّمَأَو.ٍضَوِع ِْيَْغ ْنِم ِبوُىْوَم

71Wahbah al-Zuhaili, al-Fiqh al-Islamiy..., hlm. 57.

ِلْصَْلأا ِفِ ٍمِز َلا ِْيَْغ ٍكْلِم ُتوُبُ ث َيِى اَنُ باَحْصَأ َلاَق اَهيِف َفَلَ تْخا

ِباَبْسَأِب ُعوُجُّرلا ُعِنَتَْيََو ُموُزُّللا ُتُبْثَ ي اََّنَِّإَو ِوِتَبِى ِفِ َعِجْرَ ي ْنَأ ِبِىاَوْلِلَو

ٍةَضِراَع

ُّيِعِفاَّشلا َلاَقَو

ُوَّللا ُوَِحَِر

ِلْصَْلأا ِفِ ٌمِز َلا ٌكْلِم ِةَبِْلِاِب ُتِباَّثلا

ِهِدَلَوِل ِدِلاَوْلا ُةَبِى َيِىَو ًةَّصاَخ ِدَلَوْلا ِةَبِى ِفِ َّلاإ ُعوُجُّرلا ُتُبْثَ ي َلاَو

73

“Adapun mengenai hukum hibah, maka didalamnya akan membicarakan tiga tema, yakni berkaitan dengan hukum asal, sifat dari hukum tersebut, dan tentang sesuatu yang bisa menghilangkan hukum itu.Adapun mengenai hukum asalnya adalah tetapnya kepemilikan atas sesuatu yang dihibahkan kepada orang yang menerima hibah tanpa ada keharusan untuk menggantinya. Hal ini karena hibah adalah pemilikan atas suatu barang (harta) tanpa ada gantinya, oleh karena itu maka hukumnya adalah memiliki barang yang dihibahkan tersebut tanpa dengan menggantinya. Adapun sifat dari hukum asal itu maka ada perbedaan pendapat, para Ulama‟ madzhab kami (Hanafiyyah) mengatakan; bahwa hukum asal dari kepemilikan tersebut tidak tetap, dan bagi pemberi hibahnya diperbolehkan untuk menarik kembali hibah yang telah ia berikan, akan tetapi kepemilikan tersebut dapat menjadi tetap dan dilarang untuk ditarik kembali jika ada sebab-sebab tertentu.Imam Syafi‟i berkata: hukum asal dari kepemilikan hibah adalah tetap, dan tidak diperbolehkan untuk ditarik kembali kecuali hibahnya orang tua kepada anaknya.”

Apa yang disampaikan oleh al-Kāsāni tersebut telah merepresentasikan inti dari perbedaan dua Ulama‟ tersebut terkait permasalah penarikan kembali harta hibah. Jadi, penyebab perbedaan Imam Syafi‟i dan Imam Hanafi dalam masalah penarikan kembali harta hibah ini bertumpu pada pengakuan mereka terhadap tetapnya kepemilikan atas barang yang dihibahkan. Mengenai ini Imam Syafi‟i menganggap kepemilikan tersebut bersifat tetap sehingga bagi pemberinya tidak diperbolehkan untuk menarik kembali hibahnya.Sedangkan

73Abu Bakar bin Mas‟ud al-Kasani al-Hanafi, Badāi‟u al-Shanāi‟... Juz VIII, hlm. 115.

Imam Hanafi menilainya tidak tetap, oleh karena itu pemberi hibah masih diijinkan untuk menarik kembali hibahnya jika ia dikemudian hari tidak rela.

Keempat, dalam pandangan Imam Syafi‟i, jika hibah bertujuan untuk mendapatkan ganti dan suatu ketika bertambah menjadi lebih banyak, maka pemberinya dapat menarik kembali semua harta hibah tersebut beserta tambahannya Imam Syafi‟i menyatakan;

َضْرَ ي َْلَ ْنإ ِوِتَبِى ىَلَع َبِىاَوْلا َّنَأ اَهُ باَوَ ث ُداَرُ ي ِةَبِْلِا ِفِ ُرَمُع َبَىَذ ْدَقَ ف

ْ نِم

ِفِ اَهَ فاَعْضَأ ىَطْعَأ ْوَلَو ،ِوِتَبِى ْنِم ىَضْرَ ي َّتََّح َراَيِْلْا ِبِىاَوْلِل َّنَأ اَه

ِوِبَىْذَم

“Maka Umar ra benar-benar telah berpendapat dalam masalah hibah yang diharapkan gantinya, bahwa sesungguhnya jika pemberinya (dikemudian hari) tidak rela atas hibah yang diberikan, maka sesungguhnya pemberi hibah tersebut diberikan kewenangan untuk memilih sampai ia benar-benar rela atas hibah tersebut, walaupun (penerimanya) harus memberikannya kembali kepada pemberinya dalam jumlah yang berlipat-lipat (karena hartanya bertambah)”.74

Walaupun dikutip dari pendapatnya Umar ra, statemen tersebut paling tidak telah menunjukan pandangan Imam Syafi‟i terkait masalah bertambahnya harta hibah ditangan penerimanya, yang mana dalam hal ini Imam Syafi‟i menghendaki pemberinya diperbolehkan untuk menarik semua harta hibah tersebut beserta tambahannya.

Hal ini sangat berbeda dengan perpektif Imam Hanafi, yang mana jika harta yang dihibahkan bertambah secara muttashilah (bersambung), seperti hibah seekor kambing yang kurus, kemudian ditangan penerimanya kambing tersebut menjadi gemuk, maka hal tersebut menjadi penghalang bagi

74 Muhammad bin Idris al-Syafi‟i, al-Umm, (Riyadh: Bait Afkār al-Daulah, t.t), hlm. 678.

pemberinya untuk menarik kembali hibahnya. Sementara jika pertambahan yang dimaksud adalah munfashilah (terpisah), seperti menghibahkan dua ekor kambing (jantan dan betina), kemudian suatu hari kambing tersebut mempunyai anak, maka jika kasusnya demikian pemberinya hanya boleh menarik kembali harta asalnya, sedangkan tambahan tersebut menjadi milik penerimanya.75

2. Relevansi Hukum Penarikan Kembali Harta Hibah Pandangan Imam