• Tidak ada hasil yang ditemukan

JADWAL PELAKSANAAN KEGIATAN

Dalam dokumen PAKELIRAN DALEM SIDEKARYA (Halaman 23-52)

Karya seni pewayangan dengan lakon “ Dalem Sidakarya” ini direncanakan melalui proses yang intensif dan akan dilaksanakan secara bertahap, yaitu : Tahap I : ( Pertama )

Penggarap memerlukan seorang penata musik untuk mengiringi karya pekeliran yang akan disajikan. Hubungan wayang dan karawitan merupakan partner yang tidak bisa dipisahkan , hal ini merupakan langkah pertama yang

disebut nuasen. Pada bulan Januhari dengan pengajuan proposal, nuasen dilakukan pada tanggal 22 Maret 2013 yang bertempat di Yayasan Dharma Jati Desa Penatih Denpasar.

Tahap II : ( Kedua)

Pada awal bulan April mulai penciptaan tabuh yang dilakukan oleh seorang kompuser yang merupakan alumnus dari Institut Seni Indonesia Denpasar.

Tahap III : ( Tiga )

Pada tanggal 6 April 2013 penggarap memantapkan materi pakeliran dan memantapkan gerak wayang yang engan pendukung dilakukan secara terpisah.

Tahap IV : ( Empat )

Pada akhir bulan April penggarap mengadakan latihan gabungan antara dalang, penggerak, pemain teater dengan musik iringan serta mengundang dosen pembingbing untuk memberikan evaluasi tentang bentuk garapan.

Tahap V : ( Lima )

Mulai tanggal 1 Mei 2013 penggarap melakukan pelatihan secara insentif, selanjutnya mengadakan gladi kotor dan geladi bersih tanggal 13 Mei 2013. Evaluasi garapan, latihan perbaikan, dengan mendatangkan pengamat masih tetap penggarap lakukan sambil menunggu tanggal pementasannya. Kemudian iberikan waktu pengendapan hingga Tanggal 22 Mei 2013 puncaknya.

Adapun jadwal pelaksanaan dapat dilihat dalam table berikut.

NO Kegiatan 5 bulan tahun 2013

Janu Febru Maret April Mei 1 Tahap ekplorasi

Pencarian ide, menafsirkan tema, membangun struktur dramatik sesuai tema 2 Tahap improviasai

Percobaan menggali gerak-gerak wayang sesuai adegan, perubahan adegan seperti mengoreksi atau mengganti (revisi) tetap akan terjadi pada tahap ini.

3 Tahap komposisi

Menggabungkan konsep-konsep pakeliran dan karawitan dalam tahap percobaan. Tahap finishing merupakan penggabungan bentuk seluruh elemen pakeliran dalam

keseimbangan ide, bentuk dan penampilan sehingga sesuai dengan tujuan yang di inginkan.

BAB IV

WUJUD GARAPAN

Garapan pakeliran Dalem Sidakarya ini merupakan sebuah garapan pakeliran inovatif yang berpijak dari tradisi. Penggarap mencoba mentranspormasi lakon yang bersumber dari Babad Bebali Sidakarya kedalam pakeliran wayang kulit inovatif. Dengan mengembangkan unsur-unsur yang ada dalam seni pewayangan, penggunaan manusia sebagai pemeran beberapa tokoh dalam adegan teater merupakan bagian bentuk garapan ini. Dalam masalah penyinaran (lighting) yang diproyeksikan menggunakan teknik pemakaian scenery, tanpa menghilangkan esensi seni yang terdapat pada seni wayang itu sendiri.

Bentuk garapan Dalem Sidakarya ini akan diuraikan lewat komponen-komponen estetika yang membangun arapan ini, diantaranya meliputi: diskripsi, pembabakan lakon, pakem, iringan,kelir, wayang, tata cahaya, pendukung, dan tata penyaji.

4.1 Diskripsi Lakon

Diceritakan keberadaan Brahmana Sangkya ditengah hutan pesisi timur pulau Jawa, telah lama mencari keberadaan Dalem Waturenggong. Rasa lapar, haus, dan rasa lesu membuat Brahmana suci beristirahat di bawah pohon yang rindang ditengah hutan. Di dalam peristirahatannya atau dalam mimpinya, Brahmana sangkya mendapatkan isyarat tentang keberadaan Dalem Waturenggong sebagai Raja Gelgel di Bali oleh Dewa Siwa. Mendapatkan wahyu dari Dewata Hyang Agung tersebut akhirnya rasa lapar, haus dan rasa lesu menjadi hilang seketika. Dengan penuh keyakinan Brahmana Sangkya bergegas menyebranggi lautan pulau Jawa menuju pulau Bali.

Tidak diceritakan perjalanan Brahmana Sangkya di tegah laut,diceritakan sekarang dikerajaan Gelgel pulau Bali sedang berlangsung persiapan upacara besar Eka Dasa Ludra dan Nangkluk Mrana di Pura besakih. Rakyat Bali tumpah ruah menuju Pura Besakih, dengan tujuan dan maksudnya berbeda-beda: ada yang bermaksud sembahyang, ada yang ngayah (bekerja suka rela), dan ada yang mengaturkan harta bendanya. Ketika persiapan upacara besar tersebut berlangsung, tiba-tiba datanglah seorang Brahmana berpenampilan sangat kotor. Melihat penampilan Brahmana seperti itu semua rakyat yang melihat membujuk Brahmana tersebut supaya menjauhi tempat upacara. Namun apapun bujuk rayu masyarakat Bali pada Brahmana tersebut tidak melunakaan hatinya meninggalkan tempat upacara. Kegaduhanpun terjadi pada saat Brahmana Sangkya menyebut dirinya adalah saudara Dalem Waturenggong dari tanah Jawa. Karena rakyat Bali tidak percaya dengan ucapan Brahmana Sangkya, hinaan, cacian dan perlakuan kasarpun diterima Brahmana tersebut. Para Patih, Bendesa dan Tokoh Adat langsung ikut ketempat kejadian, Namun usaha para Patih, Bendesa dan Tokoh Adat sama sekali tidak membuahkan hasil untuk membujuk Brahmana meninggalkan tempat persiapan upacara. Dengan rasa kesal masyarakat Bali yang ada disana menyerat Brahmana menjauhi tempat persiapan upacara, Brahmana Sangkya kesakitan, tubuhnya berdarah, badannya penuh kotoran binatang dan manusia. Perlakuan rakyat Bali inilah menyebabkan Brahmana marah, beliau mengucapkan kutukan pada masyarakat Bali”wahai masyarakat Bali, semestinya kau tidak boleh berbuat seperti itu ketika melakukan ritual, berkata-kata kasar, perbuatan yang tak manusiawi, dan punya pemikiran yang tidak sesuai dengan ajaran agama. Sebab itu aku mengutuk upacara ini hasil karmamu, upacara yang kau lakukan tidak akan berhasil malahan kesengsaraan yang akan kamu dapatkan terkutuklah kau semua”.

Sepeninggal Brahmana dari Besakih, sedikit demi sedikit nampak ada perubahan situasi upacara. Tumbuh-tumbuhan banyak yang mati, sakit yang sangat aneh muncul pada masyarakat, sampai orang meninggal yang tidak wajar sering terjadi dimasyarakat sekitar Besakih. Kini rakyat Bali tidak bisa melanjutkan persiapan upacara Eka Dasa Ludra dan Nakluk Merana, Dalam situasi tersebut Patih dan Bendesa segera menghadap Dalem Waturenggong. Dengan memohon pada Tuhan Hyang Maha Esa sembahyang di Pura Besakih, Raja Gelgel Dalem Waturenggong akhirnya mendapatkan Wahyu (Petunjuk Dewa) penyebab dari kesengsaraan ini, itupun lewat. Seketika itu juga Dalem Waturenggong memerintahkan para Patih, Bendesa, dan para Tokoh Adat untuk memerintahkan rakyat Gelgel mencari Brahmana Sangkaya yang keberadaannya sudah diketahui yaitu di Bandana negara.

Di bawah pimpinanan Dalem Waturenggong, utusan rakyat Gelgel bergerak ke arah selatan pulau Bali tepatnya menuju arah Bandana negara. Tidak diceritakan dalam perjalanan Dalem Waturenggong dan pengiringnya melewati beberapa desa, dan akhirnya Dalem Waturenggong dan pengiringnya bertemu Brahmana Sangkya yang sedang bersemedi. Semua pengiring Dalem Waturenggong membenarkan bahwa brahmana itulah yang datang ke Besakih, dengan serempak pasukan duduk menghadap Sang Brahmana. Dalem Waturenggong dan Patih tangkas segera minta maaf pada Brahmana atas perlakuan rakyatnya, serta beliau memohon Brahmana Sangkya datang kembali ke Pura Besakih dan sekaligus mengembalikan suasana upacara seperti dahulu. Mendengar permohonan Dalem Waturenggong seperti itu, Brahmana langsung menjawab dengan bijaksana sekaligus mengembaliakan situasi upacara seperti dahulu. Dalem Waturenggongpun mengakui Brahmana sebagai saudaranya, dengan demikian Ajaran Siwa dan Buda menjadi bersatu di tanah Bali. Di samping beliau mengakui

Brahmana sebagai saudara, Dalem Waturenggong juga memberikan beberapa anugrah (Bisama) diantaranya:

1) Mengakui Brahman Sangkya sebagai Saudara Dalem Waturenggong.

2) Brahmana Sangkya merupakan Dewa Mrana. Dalam mengusir wabah atau mrana rakyat Bali harus ingat 2 tempat suci yaitu; Pura Masceti dan Pura Sakenan. 3) Tempat berdiri Dalem dan Brahmana sekarang, akan dibangun Pura pemutaran

Sidakarya. Barang siapa yang melakukan upacara di Bali hendaknaya minta jatu upacara, air suci (tirta), dan menarikan topeng Dalem Sidakarya.

Dikarenakan beliau tidak berkenan kembali ke Pura Besakih ikut Dalem Waturenggong, Brahmana akhirnya memberikan anugrah agar Dalem membuat topeng Brahman Sangkya sebagai simbul Buda dalam upacara Eka dasa Ludra dan Nakluk Mrana di Besakih. Simbul Buda tersebut akan diwariskan nantinya pada generasi Bali berikutnya yang kini disebut dengan Tapel Dalem Sidakarya.

4.2 Pembabakan Lakon

Adegan Berbagai bentuk tari kayonan dan purwa kanda

Awal adegan ini merupakan pemungkah dari pementasan karya ini.

Babak I

*Petangkilan Brahmana Sangkya, Pangkur dan Dendang

-Menceritakan dihutan pesisir Banyuwanggi akan menyebranggi lautan menuju pulau Bali. Media yang dipakai wayang golek dan kelir tembus (tanpa kelir putih)

Babak II

*Patih Tangkas, bendesa menange, bendesa Rendang dan rakyat

*2 panitia karya I Wayan Gelebug dan I Ketut kereceb

*Bondres rakayat diantaranya; Jro Mangku, beberapa perempuan, leleki membawa babi guling dan lelaki membawa buahan hasil kebun

*Rakyat yang melapor pada panitia karya.

*Petangkilan Patih Tangkas, Brahmana Sangkya dan Gelebug.

*Rakyat (pecalang) Brahmana Sangkya dipaksa meninggalkan Besakih.

-Adegan di babak II ini semua kejadiannya di Besakih, dari persiapan upacara sampai pengusiran Brahmana Sangkya. Media yang dipakai adalah wayang kulit dengan bayangannya di kelir putih.

Babak III

*Brahmana Sangkya mengutuk upacara Besakih

*2 bondres laki dan perempuan telah merasakan dampak dari kutukan (grubug)

*Petangkilan Dalem Waturenggong dan Patih Tangkas dalam mencari jalan keluar permasalahan situasi Besakih.

*Hyang Putrajaya (Dewa penguasa pura Besakih) memberikan anugrahnya pada Dalem Waturenggong dan rakyat Bali.

*Petangkilan Brahmana Sangkya, Dalem Waturenggong, Patih Tangkas, dan rakyat Bali dalam rangka penjemputan (pemendakan) seorang Brahmana Sangkya.

-Pada adegan babak III ini, menceritakan situasi Pura Besakih akibat kutukan Brahmana Sangkya sampai beliu dimohon kembali ke Pura Besakih dan pemberian gelar oleh Dalem Waturenggong. Media yang dipakai adalah kelir tembus dan manusia sebagai teater, tapi saat adegan Hyang Putrajaya itu memakai wayang kulit dan tampak bayangannya di kelir putih.

4.2.1 Pakem

Untuk membedakan dalam melihat naskah ini, penggarap mengunakan berbagai ragam font yang mengindikasikan perbedaan bahasa Bali, Kawi, dan nyanyian (tandak, pupuh, atau kekawin). Maka di bawah ini akan di sajikan berbagai ragam font untuk mengetahui perbedaan ragam tersebut, diantaranya:

1) Font miring mengindikasikan bahasa Kawi.

2) Font miring tebal mengindikasikan sebuah nyanyian, 3) Font biasa mengindikasikan bahasa Bali.

Pemungkah :”Om Surya raditya paramyoktir rakte teja namah stuti sweta pangkaja madiastu baskara dewam om rangringsah Parama Siwa” Penyacah ; OM...Awigenem Astu Nama Sidhem, Pangaksamaning ulun rijeng sira

paduka Batara samuha aneng umoring Acintya. Lamakaning ulun tan kene sosot upadrawa lan salah pawidhi, apan manusanira wani angodaraken gatinikang sastra aji, angarcana kunang kawi carita atemahaken Babad Sidakarya. Saksana mijil....Sanghyang Kawiswara Murti tan sah amunggel punang tatwa carita, warnanan....sira Brahmana Sangkya aneng Kalingga Jawa Timur, sampun olih anugraha Dewata maka unggwaning Dalem Waturenggong tan ane

waneh marikanang jagat Bali. Samangkana... pamurwanikanang tatwa carita.

Sasendon ;Brahmana Sangkya Yateki, Jawa timur Kang negara, Budha keling

kang namo, Neng Bali atemu Dalem, Apan sira raga Siwa,Ngardi jagat apang melah. (Pupuh semarandana Jawa)

Pangalangkara :Caritanan Brahmana Sangya lawan cerakanira makerua Pangkur

muang Dendang marikanang wana tala Banyuwanggi.

Pupuh pucung :Singgih ratu, Trima sembah kula ingsun, Mande Ulun tan salah, Nista solah hina budi, Minta tuntun, Mangde kula dadi wong susila.

Pangkur ;Ratu pidaging nawegin titiang i katunan purun nebag ngerihinin

nunasang indik tata wedanan singgih Brahmana ring rahina puniki, ton antuk titiang sekadi Ide Sanghyang surya sane nenten kekapialangin punapa-punapi mewesana galang becik indik tata wedanane. Inggih munawite wenten baos katiba ring parekan, durusang singgih Brahmana sane suciang titiang ngetelang pawecana.

Brahmana : Ah aum ling sira Brahmana, Asemu...ah ah ah (tertawa) Ah um ceraka Pangkur muang Dendang, luir... mabener kaye

saturante. Ri... pire lawas sampun tuhante aneng dikwidik, umentasing jurang, kali, muang desa-desa angruruh make unggwaning sira Dalem Waturenggong nanging tan ketemu juga. Dadya..risedeng sue sampun lampah tuante, kaleson tuante umangap aneng wana eki, sedeng rikala turu tan aturu tuante, kedatengin denikanang dewata anugraha maka

Pangkur :Kadi ketel pawecana purun titiang melaksineyang ngojah. Nah paman... parekan ngajak dadua pangkur kelawan Dendang, tusing pelih paman nebag turmaning matur buka aketo. Suba rasa mekelo anake buka Bapa memargi, paman ane ngiring telah kadi rasa jurang-jurange, tukad ane gede lan cenik, keto masih desa-desane serepang Bapa, pengacepe tuah abesik ngeruruh linggih sameton Bapa ane mepesengan Dalem Waturenggong. Disubane makelo lantas kemo mai pemargan Bapane, teked lantas dini di pesisi alas Banyuwanggine, sawireh lesu anake buke Bapa, keto masih paman, lantas maembon turmaning kantu. Rikala pikayune sekadi anak sirep kewanten eling, raris rauh Ide Betara Siwa nyewecaning turmaning mapica indik linggih Dalem waturenggong. Boye sapunika?

Brahmana : Yogya

Pangkur : Patut ratu.

Brahmana :Matemahan mangke Bapa uruh unggwaning Dalem, nore ane wewaneh marikanang Gelgel pura Bali pulina. Mangke lamakaning tan kasep, yatna kita makerua tumut kite umetasing segara rupek.

Dendang :Sangkaning paswecan Ide Betara punika, mekawinan mangkin singgih Brahmana uning indik linggih Ide Dalem Waturenggong. Wantah ring jagat Gelgel pura wewidangan Bali pulina, Inggih duaning sampun panumaya durus memargi titiang nyadya ngiring ngelintangin Segara Rupek.

Brahmana :Ambek sang para martha pandita, wus limpad saking suniyate. (Kekawin Arjuna wiwaha) Ceraka tut wuri lampah ramiya Bapa.

Dendang : Inggih durusang memargi.

Pangkur : patut, patut durusang ngerihining memargi. ( Brahmana out)

Dendang :Bengong icang ring keutamaning I de anake lingsir ane ngelarang buda. Care ngiring dewa sekala rasayang kenehe.

Pangkur :Bape ngerasang keto masih ning, yan inargameyang winaluya idewek care i padang teki mentik di samping punyan tebune. Sing je i tebu doen manis, kayang i dewek pasti maan kecapang manis. Sangkal antengan melajah, tawang artin buda

Dendang : Ape ento pe?

Pangkur : Buda ento mearti wicaksana.

Dendang : Bah yan keto i dewek, sing ngiring dewa wicaksana ya ne.

Pangkur :Ngiring anak meraga wicaksana keto anake, sangkal Ide ke Bali sing tujuane tuah ngalih ajaran Siwa ane mearti wikan. Awor ikang kedatwan winuwus wara buda, (Kekawin Sutasoma) ane dadwa pang dadi besik ngardik melah di jagate.

Dendang :Wikan utawi pandai itu tidak ada gunanya kalau tidak berisi bijaksana, sebaliknya bijaksana tanpa kepandaian (pinter) sama dengan kosong. Men jani anak ke Bali, ape to Bali pe...? ane tawang i cang tuah ketan mekukus.

Dendang :Tenget kenken to.

Pangkur :B artine banten, ape bedek-bedik pasti banten ane keutamayang. Yan A artine adat,( agama, dresta, awig, lan tata krama), L artine lelintihan utawi lelanguan. Yan I artine ilikita utawi aturan-aturan krama Bali, care perarem Banjar utawi Desa, perarem Pura lan ane lenan. Yan anake meyadnya di Bali masih medasar sastra papat ento ning.

Dendang :men kenken ento?

Pangkur :Yan gede karyane ento madan utama, pastika hurup B artine bawa wibawa mekejang ngabehin.

Dendang :Ane tampahe ditu soroh B: babi, buaya, bekbek, benyu....minuman bir

Pangkur : Penyu ketonake. Yan di madya karyane A: asal genep beten lan tuwun.

Dengang :Ane tampah soroh A: ayam, minumne A: anggur, arak, ale-ale.

Pangkur :Bengelah dogen cening. Yan meyadnya dasarin ban kuala pragat L: lascarya, ban dewek meulehin, lan meutang.

Dendang :Ane tampah soroh L: lindung minumne larutan lan loloh.

Pangkur :Yan karyane medasar jengah, runtag tan pesulur, sastra I: inguh-inguhan, iri hati buta kala ngerubeda.

Dendang :ane tampah I: ituni, ibi ape sing ade de!

Dendang : Suba benyah kenkenang minum, jeg capung diteba ( lemedi ) megedi uli ditu.

Pangkur :Nguda to bakat gonjakin, jalan iring Ide Sang Brahmana apang sing i rage kaduken.

Dendang : Jalan

Sulukan Jawa ;Sigre mangsa umangsa anut iroma, gentur pantur bendene ngunye angunggul, suling sesawuran sarompet tetep nindihin.

Pangalangkara :Nengakena rilampahira Brahmana Sangkya lawan cerakanira makerua, Waneh...punang tatwa carita mangke marikanang Gelgel Pura sedeng angingkin aken kunang suwija karya Eka Dasa Ludra lan Nakluk Mrana Besakih. Pare patih, Bendesa muang akweh bela peka sedaya tan doh cerakanira make ruang sanak. Samankana...!

Rewang :Jalan-jalan ngayah, abe ento aban-abane made,wayan, nyoman, ketut.

Bendesa :Nggih kenten sampun, pecalange benehang ngatur anak ngayah.

Pupuh Sinom :Jani jaman kaliyuga, surya candra pinaka saksi, kepangan tan manut masa, meluab toyan pasihi (sunami), ring taru cihna malih, ancak kroye bingin bunut, mawoh tan pasekar, eke taru banaspati, kayu...rubuh,tan ana mangewiwitan.( Sinom Geguritan kaliyuga) Glebug ; kreceb...! (Suara lantang/keras)

Kreceb :I cang...! bug

Kreceb :Ye dija makan

Glebug :Nyen takonang ci makan, nyen....!

Kreceb : Ye I osin

Glebug : Bah... bulan pat nyaplir, telektekin, sekenang nolih, pengayahe bek-bek, tumpah...! Kreceb : Ruah. Glebug : Bah...! Kreceb : Bedeg. Glebug : Krik...! Kreceb : Tingkih.

Glebug : Makejang.... cenik,tua, peceng, perot

Kreceb : Krek, dakangan, kurap, bulenan, mebulu, sing mebulu.

Glebug : Mekejang ngayah dini di pejaban luwur besakih, Bali mula rame.... yan sepi balu adane ah, ah ,ah...!(tertawa)

Kreceb : Jagat Bali kaucap pulau dewata, jagat Bali kaucap pulau sorga,

Cru penabuh : Ring mance negara

Kreceb : Ja...gat Bali

Cru penabuh :Kaiter gunung bukit segar.

Cru penabuh : Wewangunan sampun katincapang.

Kreceb : Side nudut, parawisata

Cru penabuh : Rauh ring Bali masesanjan.( Buku lagu anak-anak melajah megending sekolah dasar,1998)

Glebug :Ebeh... cai nyatwang pulau Bali, bantes amongken cai nawang jadma Bali?

Kreceb :Orang Bali tidak akan lepas dari konsep tri hita karana, perihyangan, palemahan, pawongan, tawang artine pak de?

Glebug : Meguyang basang mah ulian makan wong.

Kreceb : Badah eh eh eh...maman dogen urusina

Glebug : Men cai ape kal arti ento?

Kreceb ; Tetelu ane ngeranayang melah digumine, hubungan manusa ngajak Ide Sanghyang Widhi Wasa. Melarapan ngodalan, ngenteg linggih lan meyadnya lenan.

Glebug ; Cara karya jani.

Kreceb ; Beneh...! hubungan manusa ngajak manusa, gotong royong, saling hormat lan menghargai timpal. Ane kaping untat, hubungan manusa ngajak alam, ede buang sampah sembarangan ane ngeranayang banjir, t menebang pohon, menembak binatang, dan merusak alam lenan.

Kreceb ; Yang jelas, mari kita sebagai orang Bali meniru pohon bambu, tinggi, tinggi dan merunduk orang di bawah. Dijadikan apa saja boleh, katik sate, rumah, bedeg dan lain-lain, ane penting ngai luwung.

Glebug ;Beh ...! care Gede Parama satwan caine, to iwasin mangku mare kepure not cai. Ngajak cucune negakin sepeda dayung, lan takonin.

Kreceb ;Jro Mangku saking dije niki, nembe panggih titiang?

Mangku ;Bapa saking menanga, Bapa mare mewinten pang maan ngayah masih.

Kreceb ;nggih durusan mangku!

Kreceb ;Kak mangku wau ke pura nggih?

Mangku ;Nggih tut, Bape ngalih cucu mare ia anak masuk.

Kreceb ;Nggih durusang memargi kak mangku!, Bug... to luh- luhe ngaturang perani lan punia karya, jalan bantas takonin doen awak dadi penitia dini di Besakih.

Glebug ;Kene nah...! cai nyapa pengayah, beli ngecek kekuangan banten ngiring pare tapinine.

Kreceb ;Nah...kemo malu kejeroan, mensep mai miluin icang sawireh bek pengayahe.

Glebug ;Nah, nah.... (Glebug out)

Kreceb ;Nggih meriki, meriki ngayah istri-istrine, sane mapunia keluwur jagi catet tiang deriki ring genah penitia durusin memargi alon-alon!

Bondres luh :Pak penitia... tiang ketua Dharma Wanita saking Desa Rendang, merangkap ketua sekaa santi pacang ngayah sambilan ngaturan punia karya.

Kreceb :Buk jegeg sire pesengan ragene?

Bondres luh : Gek Bimoli dugas bajang, jani tua Buk Erik adan tiange.

Kreceb ;Bimoli...bibih moncong limang senti ah ah...!(tertawa)

Bondres luh ; Buk erik uning artine?

Kreceb ;Napi?

Bondres luh ;Enak rasanya selalu ingat akan kasih sayangnya.

Kreceb ;Nggih merika jeritin timpale?

Bondres luh ;Nggih utusan saking Desa Rendang ngiring durusan ngeranjing ke pura ( out )

Kreceb ;Om suastiastu jero sane wau rauh, sire pesengan ragene tur saking punapi?

Bondres ;Tiang saking desa menanga, I Wayan Koper adan tiang, kurenan tiang madan I Ketut Rangsel, pianak tiang madan I Gede Kresek ngajak I Made Plastik.

Kreceb ; Beh soroh tas ene adane, nggih jerone pacang ngaturan napi?

Bondres ;Tiang jagi ngaturang guling utuh, pokokne sami utuh pang nenten kasisipin antuk Ide Betara.

Kreceb ;Nggih tiang nerima dogen suksema, sami ten wenten metelahin niki nggih...!

Bondres ;Nggih...! kayang ngek ngek enu.

Kreceb ;Pak Koper, keto sing arti utuhe, pale, bahu kiwe tengen lan ulu ento dadi ketekan. Basang jejeron ento telahin, ngudiang ngaturan ane jelek ring I De Betara nyanan jelek picene.

Bondres ;Punapi mangkin titiang pak Panitia, melipetang tiang mulih!

Kreceb ;Sing dini ajak timpale olah, kemo mejalan kepewaregan ditu liu pengayahe megarapan.

Bondres ;Ngih...! Suksema (out)

Kreceb ;Salabingkah di batan biune, gumi linggah ajak liu kenken ade pengayahe. (wewangsalan) Nggih... Bapak sane wau tangkil, Om Suastiastu saking dije tur sire pesengane?

Bondres ;Tiang saking Desa Enongan, adan tiange Ketut Saklar, kurenan tiang madan Nengah Strum, pianak tiang Gede Kabel ngajak Iluh Konslet.

Kreceb ;Beh... ene keluarga PLN ene, jagi ngaturan napi?

Bondres ;Niki titiang ngaturin buah-buahan, kaduk wenten ring kebun.

Kreceb ;Nggih...jagi terima tiang, durus memargi.

Pangalangkara ;Ri wawu mangkane pare tingkahin bala marikanang Besakih, Durung

Dalam dokumen PAKELIRAN DALEM SIDEKARYA (Halaman 23-52)

Dokumen terkait