• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jadwal Pemberian Imunisasi Dasar Pada Bayi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Imunisasi

2.3.4 Jadwal Pemberian Imunisasi Dasar Pada Bayi

Umur Jenis Interval untuk jenis imunisasi yang sama 0-24 Jam Hepatitis B

1 bulan BCG, Polio 1

2 bulan DPT-HB-Hib 1, Polio 2

3 bulan DPT-HB-Hib 2, Polio 3 1 bulan 4 bulan DPT-HB-Hib 3, Polio 4, IPV

9 bulan Campak

Sumber : Permenkes No 12 tahun 2017

2.4 Gerakan Akselerasi Imunisasi Nasional Universal Child Immunization tahun 2010-2014 (GAIN UCI 2010-2014)

2.4.1 Pengertian

Universal Child Immunization (UCI) adalah suatu keadaan tercapainya imunisasi dasar secara lengkap pada semua bayi (anak dibawah umur 1 tahun).

Gerakan Akselerasi Imunisasi Nasional UCI 2010-2014 ( GAIN UCI 2014) adalah upaya percepatan pencapaian UCI di seluruh desa/ kelurahan pada tahun 2014 melalui suatu gerakan yang dilaksanakan oleh pemerintah bersama seluruh lapisan masyarakat dan berbagai pihak terkait secara terpadu di semua tingkat administrasi (Kepmenkes No. 482 Tahun 2010).

2.4.2 Lingkup Kegiatan GAIN UCI

Kegiatan pelayanan imunisasi rutin pada bayi dan berbagai kegiatan lainnya sebagai pendukung dalam rangka percepatan kenaikan cakupan UCI Desa/Kelurahan meliputi perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi disemua jenjang administrasi (Kepmenkes No. 482 Tahun 2010).

2.4.3 Tujuan GAIN UCI

Tercapainya UCI diseluruh Desa/ Kelurahan secara bertahap mulai dari tahun 2010-2014 sehingga penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi dapat dicegah atau dieliminasi (Kepmenkes No. 482 Tahun 2010).

2.4.4 Sasaran

Untuk mengoptimalkan Gerakan Akselerasi Imunisasi Nasional guna mencapai Universal Child Imunization (UCI) maka dianggap perlu untuk menentukan sasaran berdasarkan skala prioritas sehingga kegiatan dapat fokus dan memberikan output yang maksimal. Adapun sasaran yang dimaksud yaitu :

1. Tersedianya vaksin, alat, dan bahan lainnya sesuai dengan kebutuhan baik untuk kuantitas dan kualitas guna mendukung imunisasi pada bayi 0-11 bulan.

2. Tersedianya dukungan politis dan komitmen stakeholders di tingkat pusat hingga ke tingkat daerah sehingga sumber daya yang memadai antara lain anggaran operasional bersumber Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) dan sumber lain yang tidak bertentangan dengan peraturan.

3. Terselenggaranya peningkatan kunjungan ibu dan bayi pada kegiatan imunisasi melalui peran serta masyarakat secara aktif.

4. Terselenggaranya pemantapan mutu pelayanan melalui peningkatan saran pelayanan kesehatan dan kemampuan serta perilaku petugas penyelenggara imunisasi dasar lengkap bayi 0-11 bulan.

5. Terselenggaranya pemantapan cakupan dan mutu pelayanan di daerah/

desa/kelurahan yang telah mencapai UCI tahun-tahun sebelumnya.

6. Terselenggaranya peningkatan cakupan dan mutu pelayanan didaerah/

desa/kelurahan yang belum mencapai UCI di tahun-tahun sebelumnya terutama di Daerah Terpencil Perbatasan dan Kepulauan (DTPK) termasuk Kawasan Indonesia Timur (KIT) (Kepmenkes No. 482 Tahun 2010).

2.4.5 Kebijakan

1. Pemantapan peran dan fungsi antara Pemerintah Pusat, Daerah dan stakeholders lainnya sesuai dengan kewenangan dan kemampuan dalam penyelenggaraan imunisasi pada bayi 0-11 bulan.

2. Pemenuhan kebutuhan ketersediaan vaksin, alat dan bahan lainnya untuk dukungan operasional untuk pelayanan imunisasi pada bayi 0-11 bulan.

3. Peningkatan dan atau pemantapan pengawasan rantai dingin (cold chain) secara berjenjang mulai dari tingkat pusat hingga ke tingkat daerah dan pengguna.

4. Peningkatan peran serta masyarakat untuk kegiatan imunisasi.

5. Pemantapan mutu pelayanan imunisasi berdasarkan Norma, Standar Prosedur dan Kriteria (NSPK) yang ada.

6. Pemerataan jangkauan pelayanan kegiatan imunisasi di Desa/

Kelurahan yang cakupan rendah (daerah kantong), rawan sosial, rawan penyakit (KLB) dan daerah-daerah sulit (Kepmenkes No. 482 Tahun 2010).

2.4.6 Strategi

1. Meningkatkan kemampuan dan kinerja tenaga kesehatan baik pengelola di pusat dan daerah maupun pelaksana pelayanan imunisasi di lapangan.

2. Meningkatkan ketersediaan tenaga kesehatan dan biaya operasional yang memadai terutama di DTPK dan KIT.

3. Meningkatkan ketersediaan kebutuhan vaksin, alat dan bahan pendukung kegiatan imunisasi.

4. Meningkatkan manajemen kegiatan imunisasi termasuk PWS (Pemantauan Wilayah Setempat) dan pencatatan pelaporan secara berjenjang.

5. Meningkatkan pemberdayaan masyarakat termasuk swasta dalam pencapaian UCI desa/kelurahan.

6. Memantapkan pelayanan imunisasi guna mempertahankan cakupan UCI di wilayah/ daerah/ desa yang sudah mencapai UCI desa di tahun sebelumnya.

7. Meningkatkan pelayanan imunisasi guna meningkatkan cakupan UCI DTPK dan KIT yang belum mencapai UCI di tahun sebelumnya (Kepmenkes No. 482 Tahun 2010).

2.5 Manajemen Program Imunisasi 2.5.1 Perencanaan

Perencanaan harus disusun secara berjenjang mulai dari puskesmas, kabupaten/kota, provinsi dan pusat (bottom up). Perencanaan merupakan kegiatan yang sangat penting sehingga harus dilakukan secara benar oleh petugas yang profesional. Ketidaktepatan dalam perencanaan akan mengakibatkan terhambatnya pelaksanaan program, tidak tercapainya target kegiatan, pemborosan keuangan negara serta hilangnya kepercayaan masyarakat.

Perencanaan Imunisasi program, meliputi:

1. Penentuan Sasaran

Jumlah bayi lahir hidup di tingkat Provinsi dan Kabupaten dihitung/ditentukan berdasarkan angka yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan.

2. Perencanaan Kebutuhan Logistik

Logistik Imunisasi terdiri dari vaksin, Auto Disable Syringe (ADS) dan safety box. Ketiga kebutuhan tersebut harus direncanakan secara bersamaan dalam jumlah yang berimbang (system bundling).

3. Perencanaan Pendanaan

Sumber pembiayaan untuk imunisasi dapat berasal dari pemerintah dan sumber pembiayaan lain yang sah sesuai dengan ketentuan peraturan

perundang-undangan. Pembiayaan yang bersumber dari pemerintah berbeda-beda pada tiap tingkat administrasi yaitu tingkat pusat bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), tingkat provinsi bersumber dari APBN (dekon) dan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) provinsi, tingkat kabupaten/kota bersumber dari APBN (tugas perbantuan) dan APBD kabupaten/kota berupa DAU (Dana Alokasi Umum) dan DAK (Dana Alokasi Khusus). Pendanaan ini dialokasikan dengan mengunakan formula khusus antara lain berdasarkan jumlah penduduk, kapasitas fiskal, jumlah masyarakat miskin dan lainnya (Permenkes No. 12 tahun 2017).

2.5.2 Penyediaan dan Distribusi Logistik 2.5.2.1 Penyediaan Logistik

Pemerintah bertanggung jawab terhadap penyediaan logistik imunisasi program, yaitu:

a. penyediaan vaksin b. ADS

c. safety box

d. peralatan cold chain berupa:

1) alat penyimpan Vaksin, meliputi cold room, freezer room, vaccine refrigerator, dan freezer;

2) alat transportasi Vaksin, meliputi kendaraan berpendingin khusus, cold box, vaccine carrier, cool pack, dan cold pack; dan

3) alat pemantau suhu, meliputi termometer, termograf, alat pemantau suhu beku, alat pemantau/mencatat suhu secara terus-menerus, dan alarm.

2.5.2.2 Pendistribusian

Seluruh proses distribusi vaksin program dari pusat sampai ketingkat pelayanan, harus mempertahankan kualitas vaksin tetap tinggi agar mampu memberikan kekebalan yang optimal kepada sasaran (Permenkes No. 12 tahun 2017).

2.5.3 Penyimpanan dan Pemeliharaan Logistik

Untuk menjaga kualitas vaksin tetap tinggi sejak diterima sampai di distribusikan ketingkat berikutnya, vaksin harus selalu disimpan pada suhu yang telah ditetapkan, yaitu:

1. Provinsi

a. Vaksin polio tetes disimpan pada suhu -15°C s.d. -25°C pada freeze room atau freezer

b. Vaksin lainnya disimpan pada suhu 2°C s.d. 8°C pada cold room atau vaccine refrigerator

2. Kabupaten/Kota

a. Vaksin polio tetes disimpan pada suhu -15°C s.d. -25°C pada freezer b. Vaksin lainnya disimpan pada suhu 2°C s.d. 8°C pada cold room atau

vaccine refrigerator.

3. Puskesmas

a. Semua vaksin disimpan pada suhu 2°C s.d. 8°C pada vaccine refrigerator

b. Khusus vaksin Hepatitis B, pada bidan desa disimpan pada suhu ruangan, terlindung dari sinar matahari langsung (Permenkes No. 12 tahun 2017).

2.5.4 Penyediaan Tenaga dalam Penyelenggaraan Imunisasi Program Untuk terselenggaranya pelayanan imunisasi, maka setiap jenjang administrasi dan unit pelayanan dari tingkat pusat sampai tingkat puskesmas, harus memiliki jumlah dan jenis ketenagaan yang sesuai dengan standar, yaitu memenuhi persyaratan kewenangan profesi dan mendapatkan pelatihan kompetensi.

1. Jenis dan jumlah ketenagaan

Pengelola program imunisasi bertugas merencanakan, melaksanakan, melakukan monitoring evaluasi program imunisasi dan monitoring Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) serta pencatatan pelaporan. Pengelola logistik imunisasi bertugas untuk menyimpan, mengelola, mendistribusikan, memelihara dan melaporkan vaksin, alat suntik, dan peralatan cold chain serta logistik lainnya yang dibutuhkan dalam penyelenggaraan Imunisasi. Jumlah tenaga pengelola program imunisasi dan tenaga pengelola logistik imunisasi dapat lebih dari satu orang disesuaikan jumlah dan kebutuhan ketenagaan yang ada. Pada kondisi tertentu misalnya jumlah tenaga terbatas, maka dimungkinkan pengelola program imunisasi merangkap sebagai pengelola logistik imunisasi.

2. Peningkatan Kapasitas Petugas (Pelatihan)

Pelatihan merupakan salah satu upaya peningkatan pengetahuan, sikap dan

dan kualitas petugas. Pelatihan yang dilaksanakan dimaksud diharapkan terakreditasi dan mempunyai sertifikat (Permenkes No. 12 tahun 2017).

2.5.5 Pelaksanaan

Imunisasi program dapat dilaksanakan secara perorangan atau massal dengan tetap mengacu pada prinsip dan aturan pelaksanaan. Berdasarkan tempat pelayanan, imunisasi program dibagi menjadi:

1. Pelayanan Imunisasi di dalam gedung (komponen statis)

Untuk meningkatkan jangkauan pelayanan, imunisasi dapat diberikan melalui fasilitas pemerintah maupun swasta, antara lain rumah sakit pemerintah, puskesmas, instalasi pelayanan kesehatan di pintu masuk negara (Kantor Kesehatan Pelabuhan), Unit Pelayanan Kesehatan Swasta (UPKS) seperti rumah sakit swasta, praktek dokter, praktek bidan, dan Klinik swasta.

UPKS sebagai provider/pemberi pelayanan imunisasi wajib menggunakan vaksin yang disediakan oleh Pemerintah dan menggunakan peralatan pelayanan serta logistik sesuai standar.

2. Pelayanan imunisasi di luar gedung (komponen dinamis)

Pelayanan imunisasi di luar gedung yang dimaksud adalah di posyandu, pos pelayanan imunisasi, di sekolah, atau kunjungan rumah. Dalam pemberian imunisasi, harus diperhatikan kualitas vaksin, pemakaian alat suntik, dan hal–hal penting saat pemberian imunisasi (dosis, cara dan tempat pemberian, interval pemberian, tindakan antiseptik dan kontra indikasi) (Permenkes No. 12 tahun 2017).

2.5.6 Pengelolaan Limbah

Pelayanan imunisasi harus dapat menjamin bahwa sasaran memperoleh kekebalan spesifik terhadap penyakit tertentu serta tidak terjadi penularan penyakit kepada petugas dan masyarakat sekitar akibat limbah. Limbah dari penyelenggaraan imunisasi diluar gedung harus dibawa kembali ke puskesmas untuk kemudian dimusnakan bersama dengan limbah imunisasi yang dilaksanakan didalam gedung. Limbah Imunisasi dibagi menjadi 2, yaitu limbah infeksius dan non infeksius.

1. Limbah Infeksius

Limbah Infeksius kegiatan imunisasi merupakan limbah yang ditimbulkan setelah pelayanan imunisasi yang mempunyai potensi menularkan penyakit kepada orang lain, yaitu:

a. Limbah medis tajam berupa alat suntik ADS yang telah dipakai, alat suntik untuk pencampur vaksin, alat suntik yang telah kadaluwarsa.

b. Limbah farmasi berupa sisa vaksin dalam botol atau ampul, kapas pembersih/usap, vaksin dalam botol atau ampul yang telah rusak karena suhu atau yang telah kadaluarsa.

2. Limbah non Infeksius

Limbah non Infeksius kegiatan imunisasi merupakan limbah yang ditimbulkan setelah pelayanan imunisasi yang tidak berpotensi menularkan penyakit kepada orang lain, misalnya kertas pembungkus alat suntik serta kardus pembungkus vaksin (Permenkes No. 12 tahun 2017).

2.5.7 Pemantauan dan Evaluasi 1. Pemantauan

Salah satu fungsi penting dalam manajemen program adalah

kegiatan sejalan dengan ketentuan program. Salah satu alat pemantauan yang digunakan adalah Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) yang berfungsi untuk meningkatkan cakupan, jadi sifatnya lebih memantau kuantitas program. Dipakai pertama kalinya di Indonesia pada tahun 1985 dan dikenal dengan nama Local Area Monitoring (LAM). LAM terbukti efektif kemudian diakui oleh WHO untuk diperkenalkan di negara lain. Grafik LAM kemudian disempurnakan menjadi yang kita kenal sekarang dengan Pemantauan Wilayah Setempat (PWS).

2. Evaluasi

Tujuan dari evaluasi adalah untuk mengetahui hasil ataupun proses kegiatan bila dibandingkan dengan target atau yang diharapkan (Permenkes No. 12 tahun 2017).

2.6 Kerangka Pikir

IN

Gambar 2.1 kerangka Pikir Manajemen Program Imunisasi dalam Pencapaian Cakupan UCI (Universal Child Immunization)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif yang bertujuan untuk mengetahui secara jelas dan lebih mendalam tentang pelaksanaan manajemen program imunisasi oleh puskesmas dalam pencapaian cakupan UCI di Puskesmas Tukka Kabupaten Tapanuli Tengah.

Dalam penelitian kualitatif yang menjadi instrument atau alat penelitian adalah peneliti itu sendiri. Sebagai instrument maka peneliti berfungsi untuk menetapkan fokus penelitian, memilih informan sebagai sumber data, melakukan pengumpulan data, menilai kualitas data, analisis data, menafsirkan data dan membuat kesimpulan atas temuannya (Sugiyono, 2008).

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1 Lokasi Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Puskesmas Tukka Kabupaten Tapanuli Tengah dengan alasan bahwa cakupan Universal Child Immunization (UCI) di Puskesmas Tukka Kabupaten Tapanuli Tengah hanya mencapai 11,1 % dan angka ini masih jauh dari target.

3.2.2 Waktu Penelitian

Waktu yang dibutuhkan dalam penelitian ini pada bulan Februari 2018 sampai Juli 2018.

3.3 Informan Penelitian

Penentuan Informan dalam penelitian ini dengan menggunakan purposive sampling. Teknik dengan purposive sampling yaitu bahwa dalam penentuan sampel

berdasarkan pertimbangan tertentu dimana informan ini adalah orang-orang yang terlibat secara langsung terhadap permasalahan yang sedang diteliti (Saryono, 2010). Informan yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Kepala puskesmas Tukka 2. Koordinator imunisasi 3. Pelaksana imunisasi 4. Pengelola vaksin 5. Kader

3.4 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini dengan wawancara mendalam (indepth interview) secara semi standar atau tanya jawab terbuka terhadap informan. Wawancara mendalam merupakan salah satu teknik pengumpulan data kualitatif, dimana wawancara dilakukan antara seorang responden dengan pewawancara. Wawancara mendalam menggunakan pedoman wawancara yang berisi butir-butir pertanyaan untuk diajukan kepada informan.

Pedoman tersebut digunakan untuk memudahkan wawancara, penggalian data dari informan. Untuk memperjelas informasi yang akan diperoleh, peneliti juga menggunakan alat bantu seperti alat tulis, alat perekam suara (Gunawan, 2013).

Selain itu metode yang digunakan adalah observasi. Observasi merupakan kegiatan yang paling utama dan teknik penelitian yang penting. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan observasi tak berperan dimana penelitian hanya melakukan pengamatan dan pencatatan mengenai kegiatan-kegiatan yang diteliti dengan tidak ikut dalam peristiwa atau kegiatan yang diamati secara langsung.

Telaah dokumen juga digunakan untuk mengumpulkan keterangan maupun bahan yang berkaitan dengan masalah yang dibahas seperti data dari Puskesmas yang menjadi sasaran penelitian meliputi data tentang gambaran umum puskesmas, cakupan pencapaian UCI, dan data tentang imunisasi dasar pada bayi.

3.5 Triangulasi

Triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi sumber, yaitu membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara, membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakannya secara pribadi, membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatannya sepanjang waktu, membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan (Moleong, 2014).

3.6 Teknik Analisis Data

Analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Aktivitas dalam analisa data, yaitu:

1. Data Reduction (Reduksi Data)

Mereduksi data yaitu merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambar yang lebih jelas dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya dan mencarinya bila diperlukan.

2. Data Display (Penyajian Data)

Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah menyajikan data.

Dalam penelitian kualitatif, penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart dan sejenisnya.

Dalam penelitian penelitian ini, yang paling sering digunakan untuk menyajikan data adalah dengan teks yang bersifat naratif.

3. Conclusion Drawing (Penarikan Kesimpulan)

Langkah ketiga dalam analisis data kualitatif adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Dengan demikian kesimpulan dalam penelitian kualitatif mungkin dapat menjawab rumusan masalah yang dirumuskan sejak awal, tetapi mungkin tidak, karena masalah dan rumusan masalah di dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah di lapangan (Miles dan Huberman dalam Sugiyono, 2008).

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian 4.1.1 Geografi

Puskesmas Tukka adalah puskesmas yang terletak di Kecamatan Tukka Kabupaten Tapanuli Tengah. Puskesmas ini memiliki wilayah kerja terdiri dari sembilan desa yaitu Desa Tukka, Desa Bonalumban, Desa Hutanabolon, Desa Sipange, Desa Sigiring-giring, Desa S. Kalangan II, Desa T. Nauli S. Manggita, Desa Aek Bonar dan Desa Aek Tolang Induk. Puskesmas Tukka merupakan unit pelaksana pelayanan kesehatan masyarakat tingkat pertama yang dibina oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Tapanuli Tengah yang secara langsung berhubungan dengan masyarakat.

Puskesmas Tukka memiliki luas wilayah kerja 148,92 km2 dengan jarak dari ibu kota kabupaten Tapanuli Tengah 2,5 Km. Keadaan tanah terdiri dari dataran rendah, rawa-rawa dan pegunungan yang ketinggian nya bervariasi yakni antara 0 s/d 800 m diatas permukaan laut dan berbatasan dengan batas wilayah:

1. Sebelah Utara : Kecamatan Pandan 2. Sebelah Selatan : Kecamatan Badiri 3. Sebelah Barat : Kecamatan Pandan

4. Sebelah Timur : Kabupaten Tapanuli Utara 4.1.2 Demografi

Penyebaran penduduk di wilayah kerja Puskesmas Tukka tidak merata karena beberapa desa menjadi sasaran pembangunan perumahan. Desa Aek

Tolang Induk merupakan salah satu daerah yang menjadi sasaran pembangunan perumahan karena letaknya yang berbatasan langsung dengan kota Pandan.

Pembangunan perumahan yang begitu pesat menjadikan penduduk multi etnis dan beberapa desa masih didiami oleh penduduk asli daerah. Jumlah penduduk di wilayah kerja puskesmas Tukka sebanyak 15.534 jiwa.

Tabel 4.1 Data demografi di wilayah kerja puskesmas Tukka Tahun 2016

No Desa Penduduk Jumlah

Sumber: Profil Puskesmas Tukka tahun 2016

Sebagian besar mata pencaharian penduduk di wilayah kerja puskesmas Tukka sebagai petani padi dan nelayan, hanya sebagian kecil bekerja di bidang swasta dan pegawai negeri.

4.1.3 Sarana Pelayanan Kesehatan

Saranan pelayanan kesehatan di wilayah kerja puskesmas Tukka ada 18 posyandu balita, 4 posyandu Lansia, 5 Puskesmas Pembantu, 13 Pos Kesehatan Desa (POSKESDES), 1 unit mobil puskesmas keliling. Hal tersebut dapat terlihat pada tabel 4.2 berikut.

Tabel 4.2 Distribusi sarana pelayanan kesehatan di wilayah kerja puskesmas Tukka tahun 2016

No Sarana Jumlah

1 Posyandu Balita 18

2 Posyandu Lansia 4

3 Puskesmas Pembantu 5

4 Poskesdes 13

5 Mobil puskesmas keliling 1

Jumlah 41

Sumber: Profil Puskesmas Tukka tahun 2016

4.2 Karakteristik Informan

Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan pedoman wawancara terhadap informan yang dijadikan narasumber penelitian. Jumlah informan dalam penelitian ini sebanyak 10 orang, yaitu petugas puskesmas dan masyarakat yang terkait dengan kegiatan imunisasi di wilayah kerja puskesmas Tukka. Adapun informan tersebut adalah : 1 orang kepala puskesmas, 3 orang bidan desa, 1 orang kooordinator imunisasi, 2 orang petugas imunisasi dan 3 orang kader

Adapun karakterisitik informan berdasarkan hasil penelitian dapat terlihat pada tabel 4.3 2 Pipin Azri Sibuea Laki-laki D3 Koordinator

imunisasi,

S. Kalangan

10 Roslinawati Perempuan SMA Kader Desa S. Kalangan II

Informan 10

4.3 Analisis Manajemen Program Imunisasi dalam Pencapaian Cakupan Universal Child Immunization (UCI)

4.3.1 Masukan (Input)

Masukan (input) merupakan semua hal yang diperlukan untuk terselenggaranya pelaksanaan program imunisasi yang dalam hal ini meliputi sumber daya manusia, dana, sarana dan prasarana yang merupakan penunjang dalam pelaksanaan program imunisasi yang dapat dilihat pada uraian berikut : 4.3.1.1 Ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM)

Sumber daya manusia adalah salah satu faktor yang sangat penting bahkan tidak dapat dilepaskan dari sebuah organisasi. Menurut Werther dan Davis (1996) yang dikutip oleh Sutrisno (2015) menyatakan bahwa sumber daya manusia adalah pegawai yang siap, mampu dan siaga dalam mencapai tujuan-tujuan organisasi. Oleh karena itu adapun yang dikatakan sebagai sumber daya manusia dalam organisasi puskesmas merupakan orang-orang yang mengabdikan diri dalam bidang tertentu di wilayah kerja puskesmas serta harus mempunyai wewenang untuk melakukan upaya jenis tertentu dalam bidang yang digelutinya dalam penyelenggaraan program di puskesmas.

Berikut hasil kutipan penelitian wawancara terkait petugas imunisasi di Puskesmas Tukka:

“petugas imunisasi disini ada korim nya 1 orang dan dibantu 2 orang petugas dari puskesmas, terus ada 9 bidan desa karna kan ada 9 desa disini, ya ada kader juga yang bantu di posyandu, paling kalau dari luar kayak camat dan ibu pkk gitulah yang bantu-bantu mengajak masyarakat agar mau anaknya di imunisasi, saya rasa cuma itu aja” (Informan 1).

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari informan 1 yaitu dijelaskan bahwa pada pelaksanaan program imunisasi di Puskesmas Tukka diketahui tenaga atau petugas yang ikut serta dalam program imunisasi adalah tenaga kesehatan dan tenaga non kesehatan. Tenaga kesehatan terdiri dari koordinator imunisasi, petugas imunisasi dan bidan desa sedangkan tenaga non kesehatan terdiri dari kader dan lintas sektoral. Hal yang sama juga dijelaskan oleh informan 2 dengan penjelasan berikut ini :

“ya kalau petugas imunisasi di puskesmas ada saya, ada 2 petugas yang bantu saya, kalau di posyandu nya ya ada bidan desa dan kader. Kalau khusus pengelola vaksin disini sebenarnya tidak ada, yang menjalankan tugas itu saya sendiri dan kadang-kadang dibantu sama ibu fitri dan ibu mardiah, kalau lintas sektoral juga berperan sih secara tidak langsung untuk ngajak ibu-ibu datang ke posyandu mengimunisasi anak nya”

(Informan 2).

Informasi dari informan 2 berdasarkan penjelasan di atas diketahui bahwa koordinator imunisasi memiliki tugas rangkap (double job) yaitu sebagai koordinator dan juga sebagai pengelola vaksin. Berikut penjelasan hasil wawancara yang menyebabkan double job tersebut:

“karna gini, kan pengelola vaksin itu berarti harus tau bagaiamana pengelolaan rantai vaksin seperti penyimpanannya, penjemputannya ke dinkes, penyediaannya, pengecekan suhu nya, dan untuk pengelola vaksin kan harus sudah pernah mendapatkan pelatihan juga. Sedangkan petugas

cuma pak pipin aja lah, ada juga kmarin itu yang pernah mendapat pelatihan pengelolaan rantai vaksin tapi bapak itu sudah pindah tugas tahun lalu. Lagian juga kan tugas pengelola vaksin bisanya dikerjakan sama korim, kan sejalan nya tugas nya itu jadi gak ada masalah lah menurut saya kalo dirangkap tugasnya, gak pernah pula lah ada keluhan dari si pipin karna tugas rangkapnya soalnya dibantu nya dia sama 2 petugas di puskesmas, si fitri dan si mardiah”(Informan 1).

Informasi dari informan 1 berdasarkan penjelasan diatas diketahui bahwa penyebab double job tersebut dikarenakan petugas pengelola vaksin harus mempunyai pengetahuan terkait pengelolaan rantai vaksin yaitu penyediaan, pendistribusian, pemeliharaan dan penyimpanan vaksin selain itu petugas pengelola vaksin juga harus mendapat pelatihan terlebih dahulu, sedangkan dari petugas imunisasi di Puskesmas Tukka yang telah mendapatkan pelatihan terkait pengelolaan rantai vaksin hanya Bapak Pipin yaitu selaku koordinator imunisasi.

Berdasarkan kutipan dari beberapa informan di atas diketahui bahwa ketersediaan sumber daya manusia terkait penyelenggaraan program imunisasi di Puskesmas Tukka belum mencukupi atau masih kurang dikarenakan tidak adanya

Berdasarkan kutipan dari beberapa informan di atas diketahui bahwa ketersediaan sumber daya manusia terkait penyelenggaraan program imunisasi di Puskesmas Tukka belum mencukupi atau masih kurang dikarenakan tidak adanya

Dokumen terkait