Untuk Bapak Yudi Latif. Pertama, apakah komunitas Yahudi yang tinggal di Madinah itu memang dianggap murtad oleh pemimpin mereka? Menurut pendapat saya, setting Piagam Madinah bukan untuk menyelesaikan konflik tetapi untuk mendudukkan posisi Nabi dan sahabat. Ada kekhawatiran terhadap Yahudi yang merupakan kekuatan dalam masyarakat yang memiliki akses ekonomi yang kuat. Itu direspon dengan baik oleh Nabi. Kedua, saya sepakat dengan perjalanan hukum atau kontekstualisasi hukum. Kalau Nabi tidak lahir di Mekkah, mungkin tidak ada qishos. Nabi bisa saja hanya membuat hukum yang umum seperti adil. Tetapi, Nabi terpaksa harus masuk ke hukum secara teknis. Sehingga ketika keluar dari jazirah arab, kita setengah hati untuk mengikuti, seperti potong tangan. Lalu, ketika Islam keluar arab terjadi banyak konflik, seperti kelompok Mawali (Muslim non Arab) yang disingkirkan sampai mereka masuk ke kekuasaan.
Selanjutnya, komentar saya untuk Bapak Syu’bah. Kedudukan perempuan dan laki-laki seperti lambang KB, itu adalah simbol baku Islam. Kalau saya melihat lain bahwa itu adalah hasil konstruk sosial. Bukan hanya di Arab, di India dan China yang sudah berperadaban maju sekalipun masih banyak kendala perempuan Mereka ada dalam kehidupan domestik saja. Ketika berhadapan dengan laki-laki jelas kalah karena dikonstruksi seperti itu. Sekarang, kita melihat banyak perempuan yang memiliki kemampuan, berpendidikan tinggi, dan bisa duduk di politik. Sehingga, kita tidak melihat al-rijal (gender) tetapi pada
qawwamuna-nya (kemampuan ekonomi dan sosial). Hal yang lain, Nabi menikah dengan Siti Khadijah yang kaya tapi Nabi tidak melakukan poligami saat itu.
Moderator
Saya persilakan kepada Bapak Syu’bah untuk menjawab terlebih dahulu.
Syu’bah Asa
Banyak ayat yang menjelaskan mengenai nusyuz, pewarisan perempuan, itu menandakan dekatnya masa peralihan. Imam Syafi’i menyatakan “pukullah” itu dengan menggunakan kayu siwak. Itu untuk menunjukkan lemahnya pukulan. Nabi sendiri tidak pernah memukul istrinya. Dan kalau ada sahabat Nabi yang galak maka istri mereka mengadu pada Rasulullah. Saya berbeda pendapat dengan Musda Mulia mengenai cara memperjuangkan hak-hak kaum perempuan. Musdah Mulia selalu mengklaim bahwa apa yang dilakukannya merupakan kelanjutan dari perjuangan umat Islam. Saya bilang, memang itu kelanjutan. Tetapi, kalau meneruskan tidak begitu. Dia menginginkan sesuatu yang lain untuk wanita Indonesia, seperti upacara perkawinan mengikuti gaya di Barat. Misalnya, dia ingin
menghilangkan wali, mahar, serta antara laki-laki dan perempuan sama-sama mengucapkan akad ijab kabul. Jelas ini bukan cara Islam. Apakah kita akan mengikuti induk ataukah tradisi? Ada yang dibilang induk, seperti poligami tidak diikuti karena itu tradisi. Musdah menghilangkan tradisi Islam untuk sesuatu yang bukan ajaran induk.
Saya selalu bilang, apa manfaatnya bagi perempuan kalau perkawinan seperti itu dan apa kerugiannya jika dilakukan seperti sekarang? Menurut saya, kenapa tidak diubah pada
shighat ta’liq. Lebih baik itu diganti dengan perjanjian pra nikah, dan itu halal. Seperti kalau dia dipoligami, maka suami harus mengganti 500 juta. Soal akan bercerai atau tidak, terserah nanti. Ketika Musda Mulia menggelar seminar “Islam Menggugat Poligami”, berarti Islam menggugat Rasulullah. Perjuangan Muslimat Indonesia selama ini sudah bagus dengan lahirnya PP 1974 seperti hak talak sekarang pindah ke pengadilan. Ada juga kemajuan mengenai hak pemeliharaan anak dan itu diputuskan pengadilan. Pengadilan juga punya hak memantau poligami apakah menguntungkan atau tidak. Jadi, tidak menjadikan Barat sebagai model. Itu tidak akan jalan.
Mengenai lambang KB, memang itu konstruksi. Apakah Islam datang di ruang yang kosong, tidak. Ketika Nabi datang, banyak persoalan dan Nabi menunjukkan kemajuan yang luar biasa seperti perempuan bisa mewaris, perempuan disuruh pergi ke masjid, dan perempuan juga boleh menuntut ilmu. Pada zaman Nabi perempuan bebas sekali. Tetapi setelah Nabi, akibat pengaruh Iran dan Turki, perempuan menjadi tidak bebas kembali. Makin maju zaman, perempuan malah makin terperangkap. Yang saya maksud dengan lambang KB, saya merasa tidak enak kalau laki-laki dan perempuan betul-betul sama atau setara. Seperti dalam tentara, mereka dilarang menikah dengan perempuan yang pangkatnya lebih tinggi. Kita boleh bertanya kepada setiap laki-laki apakah mereka nyaman dengan menganggur sementara istri bekerja. Atau sebaliknya, apakah seorang istri nyaman dengan suaminya yang menganggur. Kalau ayat al-rijalu itu adalah ayat keluarga dan
kalau ada waris 1:2 itu karena fungsi. Apakah kita akan mengubahnya, tidak harus.
Mengenai kafir harbi dan dzimmi, saya setuju dengan Abdullahi Ahmad An-Na’im. Dalam fikih ada kafir dzimmi dan harbi. Sekarang tidak relevan lagi karena dunia sudah menyatu dan menjadi kecil. Dzimmi itu terakhir diberlakukan di Turki dan sudah terhapuskan lama sekali. Dalam kitab Al Manar karya Muhammad Abduh sudah tidak ada dzimmi dan harbi. Yang ada, ketika membicarakan kepemimpinan, golongan Islam yang dimajukan. Islam sekarang akan masuk lebih subversif, tidak secara jasad. Sekarang tidak butuh lagi itu. Kalau dikaitkan dengan ayat walan tardla, itu ayat tentang Nabi. Nabi Muhammad itulah yang diinginkan mereka menjadi Yahudi atau Nasrani.
Terakhir, mengenai hukuman mati. Mantan Jaksa Agung, Abdurrahman Saleh menyatakan bahwa hukuman mati itu perlu. Dalam al-Quran ada qishosh, tergantung perspektif kita menafsirkannya. Terima kasih.
Yudi Latif
Pertama, mengenai perbedaan Madinah dan Mekkah. Mekkah basisnya adalah perdagangan dan Madinah pertanian. Oleh karena itu, menjadi menarik ketika situasi ekonomi dunia memburuk tetapi di Mekkah dalam keadaan naik. Rupanya, tradisi nomaden memang begitu. Kalau lagi subur mereka akan tetap di sana tetapi kalau lagi krisis mereka akan nomad. Mekkah itu memiliki wisata keagamaan, karena ada baitullah,
seperti halnya di Indonesia, ketika krisis ekonomi terjadi banyak yang justru ke Mekkah.
Mengenai agama dan negara, sekarang ada perdebatan mengelola hubungan agama dan negara, diantaranya ada yang berupaya memprivatisasi agama. Tetapi dalam tradisi Islam susah sekali kita memprivatisasi dan meletakkan Islam dalam ruang privat saja. Tidak ada institusi efektif untuk mengeluarkan
ulama agar hanya mengurus spiritual. Tetapi, karena tidak ada otoritas tunggal, maka nyaris tidak bisa ditemukan representasi tunggal, seperti dalam fikih ataupun cabang agama yang lain. Islam membawa seluruh agama-agama ke dalam peacefull concession. Azasnya bukan agama diprivatisasi, justru mengajak seluruh peran agama dalam mengurus ruang publik bersama. Dalam peran tersebut, maka bukan agama simbol yang diambil, tetapi nilai-nilai bersama yang diyakini semua agama. Seperti dalam Pancasila, Sila Pertama jelas menegaskan bahwa bangunan bersama bernegara adalah ketuhanan. Ketuhanan yang pada level substantifnya diterjemahkan dalam level kemanusiaan, persatuan, konsensus yang dipimpin hikmat dan kebijaksanaan, dan berujung pada keadilan sosial. Menurut saya, itu paralel betul dengan prinsip-prinsip Islam. Samuel P. Huntington pernah menulis “Sehebat-hebatnya doktrin komunisme didoktrinkan ke negara tetapi dia seperti rumah kardus ketika ada persoalan ekonomi. Ini berbeda dengan Amerika, seberapa sekulernya mereka tetapi masih bisa utuh, karena mereka masih berjejak pada etika Protestan.” Seperti halnya Pancasila di Indonesia, tidak mungkin menjadi alat menggebuk orang Islam.
Terakhir, mengenai Yesus tidak berkepentingan dengan hukum, itu bahasa saya. Memang ruang publik sudah diatur hukum Romawi dan agama sudah diatur dalam perjanjian lama. Maka, Yesus lebih masuk ke dalam spiritual. Karena tidak ada otoritas tunggal, maka perlu konsensus. Dalam perjanjian itu, ke dalam mereka mengembangkan cinta kasih dan solidaritas namun keluar mereka mengembangkan dendam. Memang ada ikatan antar suku seperti larangan perang dalam bulan suci, tetapi tidak pernah bisa dibakukan.
Bagaimana dengan konteks negara Islam di Indonesia, jelas sekali di Indonesia karakter Islam tidak muncul sama sekali dalam politik. Di India karakternya Hindu, di Jepang karakternya juga jelas. Di Indonesia tidak ada karakter Islam, bahkan sekalipun Jawa yang sering mendominasi. Ini karena Islam sering diletakkan di luar pagar politik. Bagaimana agar
karakter politik lebih diwarnai Islam? Pertama, harus dirobohkan pandangan memisahkan agama dari negara. Agama tetap namun bagaimana agar negara tidak dimutlakkan oleh simbol-simbol agama yang memaksakan otoritas pemahamannya. Saya kira, kira memiliki kegelisahan yang sama terhadap Hizbut Tahrir dan PKS. Memang Muhammadiyah lebih cepat menerima pandangan mereka karena sudah ada fase purifikasi sebelumnya. Tetapi, selamanya tidak akan ada representasi tunggal. Dan kalau ada representasi tunggal, maka itu akan bertentangan dengan Islam sendiri seperti yang terjadi di Arab Saudi. Terima kasih.
Moderator
Terimakasih kepada dua narasumber yang telah memberikan pencerahan kepada kita semua.