• Tidak ada hasil yang ditemukan

Saya senang sekali diundang acara halaqah yang dilaksanakan MAARIF Intitute. Pertama, saya berbicara di depan para ulama yang merupakan pewaris Nabi dan tintanya lebih berharga dari pada darah mujahid. Kedua, kita sedang berbicara tentang warisan sejarah yang sangat berharga dari Nabi, yaitu Piagam Madinah.

Saya akan memulai dari persoalan sosiologis dan mengapa Piagam Madinah menjadi penting dalam perkembangan negara bangsa di dunia. Kalau kita melihat dalam peta, ada semenanjung Arabiyah (simpul Jazirah), ia seperti pulau dan dikelilingi laut. Dari utara ada Meditarian, Palestina, Irak, Jordania, Mekkah, Madinah, dan Gurun Pasir. Sentral Arabiah nyaris tidak bisa dipenetrasi, ia dikelilingi lautan dan dari utara dihalangi padang pasir yang nyaris seperti bulan sabit (vertile

crassent) yang suburnya luar biasa. Di gurun ini, hampir semua nabi lahir di situ. Nabi Ibrahim lahir di Baghdad dan bergerak sampai ke Palestina.

Tetapi, antara daerah subur sampai Mekkah tidak bisa dipenetrasi karena berupa gurun. Jadi, Mekkah, dari timur dan selatan dihalangi laut, sedang di utara diputus gurun. Di daerah gurun ini terjadi silang sengketa, termasuk antara Romawi dan Persia. Ketika Nabi Muhammad SAW lahir, perebutan daerah tersebut terjadi antara dua imperium besar. Namun pada saat itu, Mekkah merupakan tempat yang ada di luar penetrasi kedua imperium tersebut, karena ada padang pasir. Dahulu, orang Kristen yang murtad dibuang ke padang pasir ini. Seperti halnya Australia menjadi tempat buangan orang Inggris. Selain padang pasir, ada pula daerah subur seperti Yaman. Ini yang disebut sebagai daerah Arab yang menyenangkan.

Inilah yang membedakan Kristen dan Islam. Kalau Kristen di Palestina, sejak Nabi Isa lahir, Palestina selalu menjadi pengaruh Romawi. Kita tahu sejak abad ke-4 Palestina di bawah Agustinus. Dia memiliki ide bagaimana melegitimasi Romawi dengan keagamaan. Maka dijadikan Kristen sebagai agama Romawi. Tetapi jauh sebelum itu, Romawi sudah sangat kuat. Pengadilan Yesus sendiri dilakukan oleh Romawi. Hukum Eropa itu dipengaruhi oleh Romawi bahkan Indonesia dipengaruhi juga. Kalau Isa selalu mengatakan, “serahkan pada Kaisar apa yang menjadi kekuasaannya”, apa yang menjadi kepentingannya adalah rohani. Tidak ada kepentingan dengan syariah karena orde hukum sudah ada di tangan kerajaan Romawi. Oleh karena itu, tekanannya lebih ke spiritualisme.

Karena sentral Arab tengah tidak bisa dipenetrasi, maka tidak ada hukum universal di Arab yang general ini. Hukum diatur oleh suku-suku yang selalu harus bekerjasama secara kolektif. Kelompok-kelompok ini hidup nomaden yang selalu mengedepankan kolektivisme. Kabilah yang kecil akan mengikatkan pada kabilah yang besar. Kabilah-kabilah dan

kaum nomaden biasanya pergi ke daerah subur tersebut. Dan lama-lama mereka menguasai daerah yang subur tersebut dan raja lama tumbang. Begitu seterusnya dengan kedatangan kabilah berikutnya. Karena tidak ada hukum universal, hukum hanya berdasarkan pada kehendak kabilah, siapa yang diserang akan dibela oleh kelompok kabilahnya. Pada konteks inilah kita akan meletakkan Piagam Madinah.

Nabi Muhammad SAW hijrah pada tahun 622 Masehi. Sebelum hijrah, Nabi membuat Perjanjian Aqabah (bai’at al-‘aqabah). Baiat adalah transaksi, seperti jual beli. Artinya, dalam perjanjian ada transaksi seperti jual dagang, berkompromi sampai pada yang disepakati. Kalau model baiat sekarang dipaksakan oleh guru dan secara membabi buta. Dahulu baiat didasarkan pada konsensus dan bargaining untuk saling mendapatkan. Dalam Perjanjian Aqabah pada tahun 621 M disebutkan bahwa orang-orang Madinah akan bersedia menerima Nabi dan sahabatnya untuk berhijrah ke Madinah dengan jaminan Nabi bisa dipercaya menjadi rekonsiliator untuk menegakkan konflik kesukuan (tribal) yang tidak ada habisnya. Karena semua menjadi bagian dari konflik, maka tidak ada yang memiliki otoritas untuk menyelesaikan. Seperti halnya yang terjadi di Papua, antar suku sudah menjadi bagian konflik, tidak ada yang bisa menyelesaikan. Dalam perspektif antropologi perlu adanya outsider essential yang akan menyelesaikan konflik- konflik itu. Dan kabilah-kabilah di Madinah menerima Nabi tetapi dengan jaminan Nabi harus memerankan diri sebagai hakim yang adil dan bisa menengahi konflik antar suku karena mereka juga lelah.

Orang-orang yang terikat dalam perjanjian tersebut disebut sebagai ”umat”. Umat adalah siapapun yang ikut dalam semua kesepakatan atau perjanjian Piagam Madinah, termasuk di dalamnya adalah Nabi. Siapapun yang diserang akan dibela dan siapapun yang berkhianat akan diserang. Karena itu, pada zaman Nabi tidak ada yang menyerang kecuali dia berkhianat. Piagam Madinah disusun dalam posisi yang sama, hidup, kehormatan dan kehendak mencapai kebahagiaan menjadi jaminan dalam piagam tersebut.

Piagam ini menjadi awal Nabi hijrah ke Madinah. Piagam ini juga menjadi wasit yang adil yang mencengangkan. Nabi praktis hanya memerlukan waktu 8 tahun dari hijrah sampai Fathu

(pembebasan) Makkah. Dari situasi barbarik dan tribal saling menjatuhkan, orang-orang Muhajirin bisa diterima. Kaum Anshor dan Muhajirin bisa saling bahu membahu. Oleh karena itu, berbeda dari Yesus Kristus yang hukumnya sudah selesai dengan Romawi, sementara di Arab tidak ada hukum. Piagam Madinah menjadi konsensus yang terus menerus menjadi pegangan pada setiap permasalahan. Piagam ini juga kemudian berkembang menjadi sunnah yang tidak sekaligus menghilangkan tradisi lama. Tradisi lama terus dipertahankan dengan ruh yang baru. Seperti halnya dalam Perang Badar. Dalam tradisi suku-suku, kalau ada kehidupan yang sulit, kehidupan di gurun juga susah, ada tradisi ghozwah yang sebenarnya berarti penyerbuan atau pensabotasean. Mereka kalau sudah sulit akan menyerbu armada dagang dan mereka ambil dagangannya tetapi dengan etika sedapat mungkin tidak ada darah yang tertumpah. Namun ada pula etika yang melarang melakukan penyergapan di bulan Rajab. Nabi pernah mengirim beberapa utusan yang dititipi surat yang tidak boleh dibuka sampai hari tertentu. Sampai pada hari pertama bulan Rajab dan ada penyerbuan oleh para sahabat. Pada saat itu, Nabi dipergunjingkan dengan dikatakan sebagai pelanggar hari suci. Al Quran menjawab memang ada larangan menyerbu pada hari- hari suci (jadi ada pengakuan terlebih dahulu), tetapi mana yang lebih biadab dibanding dengan orang yang mengusir dengan cara-cara biadab. Untuk menciptakan hukum, Nabi sering menggunakan tradisi lama yang diberi konteks baru. Jadi, tidak tiba-tiba. Seperti halnya Ibadah Haji jelas melanjutkan tradisi lama, zakat mal (harta) juga merupakan cara bagaimana ada akumulasi modal untuk mashlahah al-‘ammah (kepentingan umum).

Nabi dihadapkan pada masalah yang memerlukan kesepakatan bersama. Maka, tak terhindarkan bagi Nabi bukan hanya

sebagai pemimpin spiritual namun juga pemimpin negara yang perlu menetapkan hukum untuk kepentingan bersama. Saya kira itu dari saya, terima kasih.

Moderator

Terima kasih, kita diingatkan dengan ketauladanan Nabi dan bagaimana Piagam Madinah lahir. Selanjutnya, kita akan mendengarkan pembahasan Khutbah Haji Wada‘ oleh Bapak