PERSOALAN TEKNIS
VII. JAJAK PENDAPAT NON ILMIAH
Jajak pendapat yang dibahas dalam bab sebelumnya (baik untuk kasus Pemilu 1999 maupun 2004) ditambah exit poll dilakukan dnegan menggunakan prinsip ilmiah. Jajak pendapat tersebut berpretensi untuk menggambarkan suara populasi, partai pilihan publik Indonesia. Semua jajak pendapat tersebut, menggunakan metode yang standar. Prinsip ilmiah yang paling dasar adalah pada pengambilan sampel. Prinsip ilmiah mengharuskan sampel diambil secara random (acak). Prinsip ini secara sederhana dapat digambarkan, semua anggota populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk terpilih sebagai sampel. Kalau populasi pemilih Indonesia berjumlah 147 juta orang, prinsip random mengharuskan setiap pemilih punya kesempatan dipilih sebagai sampel (atau kesempatan per orang adalah 1/147 juta).
Dalam konteks Indonesia, prinsip ini mengandung dua konsekuensi sekaligus. Pertama, wawancara harus dilakukan secara langsung dan menyertakan semua
wilayah Indonesia. Wawancara lewat telepon atau short message services (SMS)
tidak bisa diterapkan karena tidak bisa menyertakan semua pemilih di Indonesia. Kepemilikan telepon atau hand phone (HP) di Indonesia masih sangat terbatas, sekitar 5% dari total pemilih di Indonesia. Karena itu, jajak pendapat yang mengandalkan wawancara lewat telepon atau pengiriman jawaban lewat sms mengabaikan suara sekitar 9% pemilih yang tidak punya telepon dan HP. Pemilik telepon dan HP hanya terbatas di lingkungan masyarakat kota, mereka utamanya berpendidikan dan berpenghasilan tinggi. Kedua, proses pemilihan responden harus benar-benar acak. Seseorang terpilih sebagai sampel bukan karena unsur subyektifitas peneliti tetapi karena prinsip random. Hanya dengan prinsip random ini, representasi sampel bisa diperoleh. Metode ilmiah yang standar memberi panduan berbagai aneka teknik penarikan sampel---dari sampel sistematis, sampel klaster, sampel bertingkat sampai sampel stratifikasi. Semua teknik tersebut menjamin bahwa sampel yang didapatkan identik dengan karakter populasi.
Selain penarikan sampel, peneliti juga berhadapan dengan jumlah sampel. Kalau teknik penarikan sampel berhubungan dengan bagaimana agar orang yang diambil
representatif, jumlah sampel berkaitan dengan sejauh mana hasil sampel dekat dengan populasi. Dalam dunia penelitian, jumlah sampel ini berkaitan dengan
kesalahan dalam penarikan sampel (sampling error atau sering juga disebut sebagai
margin of error). Demi ketepatan, peneliti membutuhkan sampling error yang kecil.
Tetapi sampling error yang kecil ini konsekuensinya adalah pada jumlah sampel yang
besar. Semakin besar jumlah sampel, semakin kecil pula sampling error. Angka
sampling error ini berkaitan dengan bagaimana peneliti memprediksi hasil jajak pendapat dengan populasi.
Misalnya, jajak pendapat mengambil sampel sebesar 1.000 orang. Dengan jumlah sampel sebesar ini, angka sampling error adalah 3%. Hasil sampel, karena itu harus ditafsirkan pada batas-batas sebesar ± 3%. Jika misalnya dalam jajak pendapat itu partai A mendapat suara dukungan 20%, maka angka sesungguhnya yang didapat oleh partai A adalah ± 20% (atau berada di kisaran 17%-23%). Dengan interval yang jauh itu, peneliti akan kesulitan menyimpulkan perolehan suara partai, terutama kalau perolehan suara antar partai sangat ketat. Taruhlah, partai B dalam jajak pendapat itu mendapat 21% suara, yang berarti angka sesungguhnya yang didapat oleh partai B adalah ± 21% (atau berada di kisaran 18%-24%). Kalau peneliti menghadapi situasi ini, akan kesulitan menyimpulkan apakah partai A atau B yang lebih besar suaranya. Supaya peneliti bisa lebih yakin dengan kesimpulan
partai mana yang menang, angka sampling error harus diperkecil. Dengan sampling
error yang kecil, derajat perbedaan perolehan suara antar partai politik bisa diprediksikan dengan lebih baik. Pengalaman Pemilu 1999 dan 2004 menunjukkan keberhasilan lembaga jajak pendapat untuk memprediksikan peringkat partai 1-3, karena perolehan suara partai tiga besar ini relatif jauh dengan di bawahnya. Tetapi lembaga jajak pendapat kesulitan ketika memprediksi urutan dan perolehan suara partai di papan tengah ( posisi 4-8 besar).
Tetapi yang perlu diingat, teknik penarikan sampel juah lebih penting. Kalau terjadi kesalahan, umumnya bukan karena terlalu sedikit orang yang diwawancarai tetapi karena teknik pengambilan sampel yang tidak tepat. Jika metode penarikan sampel dilakukan dengan benar, tidak dibutuhkan jumlah sampel yang besar untuk menghasilkan jajak pendapat yang baik. Di Amerika, rata-rata lembaga jajak pendapat dilakukan dengan 1.500 orang responden. Filipina, negeri dengan jumlah pemilih sebesar 25 juta orang, bisa diwakili oleh jajak pendapat dengan sampel
sebesar 1.000 orang. Untuk Indonesia, pengalaman 1999 dan 2004 menunjukkan lembaga jajak pendapat bisa menghasilkan temuan yang baik dengan jumlah sampel sebesar 2.000-an orang. Asal sampel diambil secara random, jumlah sebesar itu cukup bisa mewakili suara 147 juta pemilih.
Selain jajak pendapat ilmiah, ada jajak pendapat tidak ilmiah. Disebut jajak pendapat tidak ilmiah karena jajak pendapat itu tidak dilakukan lewat prinsip ilmiah. Sampel tidak diambil dengan menggunakan prinsip random (acak), sehingga hasilnya tidak bisa dipakai untuk menggambarkan suara populasi. Meski jajak pendapat ini umumnya memakai ratusan ribu sampel, karena tidak diambil secara random, sampel yang dihasilkan sama sekali tidak mencerminkan populasi. Ada banyak jajak pendapat yang tidak ilmiah, dibandingkan yang ilmiah. Jajak pendapat yang banyak dilakukan oleh televisi, media dotcom lewat telepon atau sms yang menjamur pada Pemilu 2004, adalah contoh jajak pendapat yang tidak ilmiah. Jika dibandingkan jumlah jajak pendapat ilmiah dan jajak pendapat tidak ilmiah, lebih banyak jajak pendapat yang tidak ilmiah. Masalahnya adalah, publik umumnya tidak tahu dan tidak bisa membedakan mana jajak pendapat ilmiah dan mana jajak pendapat yang tidak ilmiah. Kerancuan ini kerap timbul, disamping keterbatasan pengetahuan masyarakat mengenai jajak pendapat, juga diakibatkan olehg ketidakjujuran lembaga jajak pendapat. Lembaga itu tidak menginformasikan kepada publik bahwa jajak pendapat yang dilakukan itu tidak ilmiah, dan karenanya sama sekali tidak mencerminkan opini publik.
Bab ini akan menjelaskan, jajak pendapat yang tidak dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah yang benar, hasilnya akan sangat berbeda dengan kenyataan. Dari banyak jajak pendapat tidak ilmiah ini, diambil tiga jajak pendapat yang paling besar dan berpengaruh: jajak pendapat SCTV dan Media Indonesia- Detik.com. Ketiga jajak pendapat itu yang paling banyak dikutip dan dibicarakan baik oleh politisi maupun masyarakat awam. SCTV menyelenggarakan jajak pendapat mengenai partai menjelang pemilihan 5 April. Hasil jajak pendapat SCTV ini ditayangkan pada program berita di SCTV ( Liputan 6 Siang, Liputan 6 Pagi dan Liputan 6 Petang). Sementara jajak pendapat Detik.com-Media Indonesia dipublikasikan secara berkala dan real time lewat situs Detik.com.
Lembaga Metode Periode Jumlah Sampel
SCTV SCTV tidak menarik sampel.
Pemirsa secara aktif
Maret 2004 195.432 dengan
mengirimkan partai pilihan ke SCTV. Pemirsa SCTV mengirimkan SMS ke nomor 6666. Setiap partai mempunyai kode yang bisa dikirim sesuai dengan partai pilihan pemirsa. global sebesar 240.799 orang. Media Indonesia- Detik.com Masyarakat mengirim SMS partai yang dipilih ke nomor yang disediakan Media Indonesia-Detik.com.
Maret-April 14.125
Persamaan dari ketiga jajak pendapat itu adalah, menggunakan sampel yang besar. Tetapi seperti yang diuraikan di depan, jumlah sampel tidak bukanlah ukuran jikalau metode pengambilan sampel tidak dilakukan dengan benar. Jumlah sampel ratusan ribu atau bahkan puluhan juta orang sekalipun, bukanlah jaminan bawa hasil akan representasi dengan populasi. Jajak pendapat SCTV dan Media Indonesia-Detik.com memakai metode yang hampir sama, yaitu call-in. Penyelenggara polling membuat pengumuman, dan meminta masyarakat untuk memilih lewat SMS partai yang dipilih. Hasil dari pilihan partai ini diajikan tiap saat oleh SCTV dan Media Indonesia-
Detik.com.44 Sementara telesurvei MARS meskipun memakai sistem acak, tetapi
karena dilakukan lewat telepon hasilnya juga tidak akan menggambarkan populasi masyarakat Indonesia yang sebagian besar tidak mempunyai telepon.
Tabel menunjukkan perolehan suara 8 partai dalam jajak pendapat SCTV dan Media Indonesia-Detik.com. Di sisi paling kanan disajikan data mengenai selisih antara prediksi lembaga jajak pendapat dengan hasil aktual Pemilu.
Jajak pendapat via SMS SCTV Hasil Aktual Pemilu Selisih Partai Pemilu 2004 % Posisi % Posisi % Golkar 5.8 5 21.58 1 15.78 PDIP 4.8 6 18.53 2 13.73 PKB 3.1 7 10.57 3 7.47 PPP 1.7 13 8.15 4 6.45 PD 9.2 3 7.45 5 -1.75
44 Metode ini disebut tidak ilmiah karena dua alasan berikut. Pertama, metode call-in dimana
seseorang memilih dirinya sebagai sampel tidak dikenal dalam dunia ilmiah. Responden bersifat pasif, sementara dalam kedua jajak pendapat itu responden secara aktif menentukan dirinya sebagai sampel. Kedua, prinsip penting dari pengambilan sampel adalah seseorang terpilih sebagai sampel karena prinsip mekanisme acak. Dalam kedua jajak pendapat ini, mereka memilih dirinya sendiri sebagai sampel.
PKS 41.2 1 7.34 6 -33.86
PAN 16.5 2 6.44 7 -10.06
Kesalahan Absolut Rata-Rata Jajak Pendapat SMS SCTV = 12.73
Keterangan: Jajak pendapat SCTV adalah hasil 30 Maret 2004, pukul 01.00
( sumber: http://www.liputan6.com/parpol2004.php). Pada jajak pendapat ini, posisi 4 ditempati oleh Partai Damai Sejahtera (PDS). Karena jajak pendapat terus
berlangsung secara real time, perolehan angka partai bisa terus berubah.
Jajak pendapat via SMS Media Indonesia- Detik.com Hasil Aktual Pemilu Selisih Partai Pemilu 2004 % Posisi % Posisi % Golkar 4.4 6 21.58 1 17.18 PDIP 3.1 7 18.53 2 15.43 PKB 1.4 9 10.57 3 9.17 PPP 28.3 1 8.15 4 -20.15 PD 6.5 5 7.45 5 0.95 PKS 27.4 2 7.34 6 -20.06 PAN 11.4 3 6.44 7 -4.96
Kesalahan Absolut Rata-Rata Survei Jajak Pendapat Media Indonesia- Detik.com = 12.56
Keterangan: Jajak pendapat Media Indonesia-Detik.com yang ditampilkan disini adalah hasil 19 April 2004 ( sumber: http:// mobile.detik.com / smspolling/index.php). Pada jajak pendapat ini, posisi 4 ditempati oleh Partai Damai Sejahtera (PDS). Karena jajak pendapat terus berlangsung secara real time, perolehan angka partai bisa terus berubah.
AKURASI
Kita bisa menilai kualitas dari jajak pendapat itu dari sudut akurasi, apakah hasil jajak pendapat bisa akurat dalam meramalkan pemenang Pemilu dan komposisi peringkat partai. Baik jajak pendapat SCTV maupun Detik.com-Media Indonesia sama-sama tidak akurat dalam memprediksi komposisi pemenang Pemilu. Jajak pendapat SCTV menghasilkan PKS sebagai pemenang Pemilu, sementara jajak pendapat Detik.com-Media Indonesia menemukan PPP sebagai partai yang banyak dipilih.
Ada satu kesamaan utama dari komposisi pemenang Pemilu ini. Yakni suara partai kota yang besar ( PK, PD dan PAN). Sementara partai yang selama ini punya basis massa kuat di desa ( seperti Golkar, PDIP, PKB ) mempunyai posisi rendah dalam hasil lembaga jajak pendapat tersebut. Hasil ini tidaklah mengejutkan. Karena pemilih telepon dan hand phone sebagian besar tinggal di kota. Selain lokasi tinggal
responden, status ekonomi responden juga menentukan. Pada jajak pendapat Media Indonesia-Detik.com dan SCTV, PKS dan PAN menempati posisi 1 dan 2. Ini tidak mengherankan. Karena sistem jajak pendapat itu adalah call–in ( responden menentukan dirinya sendiri sebagai sampel), maka yang berpeluang menjadi sampel bukan hanya mereka yang punya telepon dan hand phone tetapi mereka yang mau dan rela dan menyediakan waktu dan uang untuk mengirim SMS. Meraka yang mau dan bersedia meluangkan waktu dan uang ini utamanya adalah partai dengan tingkat mobilisasi yang tinggi. PKS dan juga PDS ( Partai Damai Sejahtera) selalu menempati posisi atas karena kedua partai ini adalah partai kader dengan massa yang militan.
Dari aspek akurasi, terlihat jajak pendapat sangat tidak akurat dalam menggambarkan partai pemenang Pemilu dan komposisi pemenang Pemilu. Ini sekaligus membuktikan, kalau jajak pendapat tidak dilakukan dengan mekanisme dan prinsip ilmiah yang benar, hasilnya tidak akan representatif dan sama sekali tidak menggambarkan opini publik.
KOMPOSISI PARTAI PEMENANG PEMILU MENURUT RAMALAN LEMBAGA JAJAK PENDAPAT PARTAI
SCTV ( via SMS) Media Indonesia-
Detik.com ( via SMS) Rata-Rata Deviasi Golkar 5 6 1 PDIP 6 7 2 PKB 7 9 3 PPP 13 1 4 PD 3 5 5 PKS 1 2 6 PAN 2 3 7 PRESISI
Selain tidak akurat, jajak pendapat itu juga sama sekali tidak presisi. Jika dibandingkan hasil prediksi dengan hasil aktual Pemilu, terdapat perbedaan yang sangat tajam. Tingkat kesalahan jajak pendapat SCTV dan Media Indonesia- Detik.com di atas 10%. Tabel menyajikan selisih rata-rata prediksi SCTV dan Media Indonesia-Detik.com dengan hasil aktual Pemilu. Yang menarik dari tabel ini, selisih terbesar dialami ketika memprediksi suara PKS. Baik SCTV maupun Media Indoensia- Detik.com menghasilkan angka untuk PKS yang sangat besar, jauh lebih besar dari pada angka sebenarnya yang diperoleh oleh PKS dalam Pemilu. Sebaliknya, hasil kedua jajak pendapat itu lebih kecil ketika memprediksi perolehan suara Partai
Golkar. Selisih rata-rata kedua lembaga jajak pendapat dalam meramal suara Golkar adalah 16.48%.
Deviasi yang besar ini juga dijelaskan dengan melihat metode yang dipakai. Sampel dalam kedua jajak pendapat tidak dipilih secara acak ( random). Seseorang terpilih sebagai sampel bukan karena prinsip dan hukum probabilitas. Sebaliknya, seseorang yang (secara sukarela) menentukan dirinya sendiri sebagai sampel responden. Karena itu hasil jajak pendapat hanya mencerminkan suara orang yang dengan sukarela menentukan pilihan sebagai sampel. Karena tidak dipilih secara acak, jajak pendapat SCTV atau Media Indonesia-Detik.com tidak mencerminkan populasi pemilih Indonesia. Jajak pendapat bahkan tidak mencerminkan suara pemilik telepon atau hand phone. Prinsip random mensyaratkan semua anggota populasi mendapatkan kesempatan yang sama untuk terpilih sebagai sampel. Karena metode jajak pendapat SCTV dan Media Indonesia-Detik.com bersifat in call ( seseorang menentukan dirinya sendiri sebagai sampel) maka jajak pendapat itu hanya menyertakan mereka yang kebetulan mengirim SMS. Jajak pendapat mengabaikan pemilik HP atau telepon yang kebetulan tidak tahu adanya jajak pendapat atau tidak ingin mengirim SMS ke SCTV.
Menarik membandingkan jajak pendapat SCTV dengan MARS. Jajak pendapat MARS dilakukan lewat telepon, tetapi metode penarikan sampel dilakukan secara acak (random). Jajak pendapat MARS lebih mencerminkan suara pemilik telepon. Tabel menyajikan perbandingan hasil jajak pendapat SCTV dan MARS. Dari tabel terlihat, deviasi (selisih kesalahan) jajak pendapat MARS lebih kecil dibandingkan dengan SCTV. Meskipun diambil secara random, jajak pendapat MARS tidak menunjukkan representasi suara masyarakat Indonesia. Ia hanya mengakomodasi suara pemilik telepon yang kebetulan berada di kota. Tidak terlampau mengherankan jikalau suara untuk PKB dalam jajak pendapat itu sangat kecil.
Jajak pendapat SCTV ( via SMS) Telesurvei MARS ( via telepon) Partai Pemilu 2004 % Posisi % Posisi Golkar 5.8 5 18.3 1 PDIP 4.8 6 16.8 3 PKB 3.1 7 4.3 6 PPP 1.7 13 3.8 7 PD 9.2 3 17.4 2 PKS 41.2 1 13.2 5
PAN 16.5 2 16.2 4
Skor Kesalahan 12.73 5.89
Keterangan: Telesurvei MARS dilakukan di enam kota besar: Surabaya, Bandung, Semarang, Medan, Makasar, dan Palembang. MARS menanyakan partai politik mana yang dipilih pada Pemilu 5 April lewat telepon. Jumlah sampel diwawancarai MARS sebanyak 30.228.Telesurvei MARS diambil dari hasil tanggal 30 Maret 2004, pukul 24.00 ( sumber: http://www.liputan6.com /parpol_mars2004.php).
Dalam jajak pendapat SCTV dan Media Indonesia-Detik.com, hasilnya bias karena hanya menyertakan pemilih HP yang aktif. Tidak terlampau mengherankan jikalau suara sangat tinggi berasal dari pemilih PKS dan PDS. Pemilih partai ini bukan hanya berasal dari kalangan terdidik di kota, tetapi juga terbiasa dengan informasi dan teknologi. Mereka juga kelompok yang aktif dan terorganisir---yang bisa dengan mudah dilihat dari keaktifan mereka dalam mengorganisir demonstrasi ratrusan ribu orang ketika memprotes sejumlah isu. Tidaklah mengherankan jikalau suara dari PKS ini sangat tinggi dibandingkan dengan partai lain.
SELISIH KESALAHAN ( DEVIASI) LEMBAGA