JAJAK PENDAPAT DAN
PEMILU DI INDONESIA
Kinerja Lembaga Jajak Pendapat dalam Meramal
Hasil Pemilu 1999 dan 2004
LEMBAGA SURVEY INDONESIA (LSI)
JAJAK PENDAPAT DAN PEMILU DI INDONESIA :
Kinerja Lembaga Jajak Pendapat dalam Meramal
Hasil Pemilu 1999 dan 2004
Daftar Isi
Halaman
Pendahuluan
I Memprediksi Hasil Pemilu
II Pengalaman Gallup Poll dan Social Weather Stations
III Jajak Pendapat dan Ramalan Pemilu 1999
IV Jajak Pendapat dan Ramalan Pemilu 2004
V Kesulitan dan Tantangan Jajak Pendapat di Indonesia
VI Exit Poll dan Quick count
VII Jajak Pendapat Non Ilmiah
VIII Penutup
PENDAHULUAN
Pemilihan umum bukan hanya hari penentuan bagi partai politik tetapi juga bagi
lembaga jajak pendapat. Kami di Lembaga Survei Indonesia (LSI) kerap berkelakar,
Pemilu akan menjadi ajang apakah LSI akan lolos electoral treshold ataukah tidak.
Istilah ini kami pakai sekedar kelakar apakah ramalan jajak pendapat LSI mendekati
atau tidak dengan hasil aktual Pemilu 5 April lalu. Jika ramalan LSI gagal atau tidak
sesuai dengan kenyataan aktual Pemilu, tentu kredibilitas kami sebagai lembaga
jajak pendapat akan berkurang.
LSI sendiri melakukan jajak pendapat (survei) nasional tiap tiga bulan sekali untuk
merekam opini publik yang berkembang saat itu.Menghadapi Pemilu, selain survei
bulan Agustus dan November 2003, kami membuat survei nasional di bulan Maret
2004. Data lapangan dikumpulkan dari tanggal 8-20 Maret 2004. Tentu ada alasan
pokok kenapa kami melakukan wawancara lapangan mendekati hari Pemilu. Kami
ingin merekam pendapat publik sampai masa akhir menjelang hari pencoblosan.
Kami juga ingin mengetahui efek kampanye di kalangan pemilih. Wawancara
lapangan itu, dengan bantuan dan dedikasi pewawancara lapangan sebanyak 350
orang, bisa diselesaikan tepat waktu. Sekarang tinggal publikasi hasil jajak
pendapat itu.
Ketika memutuskan mempublikasikan hasil survei, kami diliputi perasaan was-was.
Sejumlah kolega menyarankan agar hasil survei itu disimpan dulu di laci meja,
menunggu hari Pemilihan. Publikasi hasil jajak pendapat menjelang hari pemilihan
rawan terhadap tuduhan mempengaruhi pemilih.1 Hasil jajak pendapat itu baru
dikeluarkan setelah pencobloan dan dipakai sekedar menjelaskan preferensi pemilih.
Sejumlah orang juga menyarakan agar menunda publikasi hasil, tetapi dengan
alasan menjada kredibilitas LSI. Sebagai lembaga yang baru berdiri ( pertengahan
tahun 2003), LSI sebaiknya tidak ikut meramalkan atau memprediksi hasil Pemilu.
Sebab jika gagal, orang tidak akan mempercayai lagi hasil jajak pendapat LSI.
1 Efek ini kerap disebut sebagai bandwagon effect. Secara sederhana efek ini dapat
Profesi pollster sendiri kerap disamakan dengan dokter. Kredibilitas seorang dokter
diukur dari apakah dokter bisa mendiagnosa dengan tepat penyakit seorang pasien.
Diagnosa yang baik akan menentukan obat dan jenis tindakan yang akan dilakukan
untuk penyembuhan. Pollster, lewat riset dan metode yang dipakai juga berusaha
untuk mendiagnosa ( merumuskan) pendapat masyarakat. Kredibilitas pollster dan
lembaga jajak pendapat akhirnya dikur dari apakah hasilnya sama taau tidak dengan
hasil Pemilu. Berbeda dengan survei pemasaran, survei politik bisa dengan mudah
hasilnya dikonfirmasi dengan hasil aktual Pemilu. Jika dalam jajak pendapat partai A
memenangkan Pemilu, publik dengan mudah akan menilai apakah hasil aktual
Pemilu juga menghasilan partai A sebagai pemenang.
Rasa was-was itu juga dipicu oleh perkembangan politik yang dinamis dan sukar
diprediksikan menjelang hari pencoblosan 5 April. Survei yang kami lakukan pada
bulan Agustus dan November 2003 secara konsisten menempatkan Golkar sebagai
pemenang Pemilu menggeser PDI Perjuangan. Survei sejenis sampai akhir tahun
2003 ( seperti yang dilakukan oleh CESDA-LP3ES, IRI, IFES, Balitbang PDIP) juga
menempatkan Golkar sebagai pemenang dengan angka cukup signifikan
meninggalkan PDIP. Tetapi menjelang kampanye bulan Maret 2004, partai Golkar
yang semula muncul dengan ide inovatif berupa konvensi, tampil kurang menggigit.
Sebaliknya, PDIP memanfaatkan kampanye Pemilu untuk memperbaiki citra dengan
konsolidasi besar-besar dan penayangan iklan yang masih di media massa.
Menjelang kampanye, politik Indonesia juga ditandai dengan kemunculan Partai
Demokrat, partai yang semula kurang diperhitungkan. Setelah pendiri Partai
Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono keluar dari kabinet, popularitas partai ini
tampak naik yang ditandai dengan kampanye Partai Demokrat yang selalu dihadiri
banyak simpatisan. Peristiwa politik yang dinamis itu membuat prediksi pemenang
Pemilu makin sulit dilakukan dibandingkan dnegan masa sebelum kampanye.
Kami akhirnya memutuskan mempublikasikan hasil jajak pendapat itu lewat sebuah
konferensi pers tanggal 2 April di Hotel Sari Pan Pasific, Jakarta.2 Publikasi itu tentu
bukan dimaksudkan untuk mempengaruhi pemilih. Kami memilih tanggal itu sebagai
bentuk pertanggungjawaban akademis kepada publik. Konferensi pers itu dimuat
oleh sejumlah suratkabar keesokan harinya, dan menjadi bahan laporan utama
2 Lihat materi konferensi pers 2 April 2004, Efek Kampanye dan Kemungkinan Perubahan
sebuah majalah berita. Lewat publikasi yang dekat dengan hari pencoblosan 5 April
itu, orang akan dengan mudah membandingkan hasil survei LSI itu dengan hasil
aktual Pemilu. Orang bisa menilai secara terbuka apakah ramalan LSI mendekati
atau tidak dengan kenyataan aktual Pemilu. Tentu ada perbedaan mendasar antara
ramalan yang dibuat oleh lembaga jajak pendapat dengan ramalan seorang
paranormal. Ramalan dari paranormal bersumber dari intuisi dan perasaan,
sementara lembaga jajak pendapat mendasarkan ramalannya pada riset dan data
lapangan.
Sama seperti politisi yang menunggu dengan perasaan berdebar apakah namanya
lolos atau tidak sebagai anggota DPR, kami juga menunggu hasil Pemilu itu dengan
perasaan berdebar. Hasil Pemilu yang diumumkan 5 Mei menunjukkan ramalan LSI
tepat. Ketepatan itu bukan hanya pada pemenang Pemilu dan komposisi pemenang
tetapijug prediksi perolehan suara yang tidak jauh berbeda dengan angka aktual
yang bisa dicapai partai politik. Ini bukan hanya keberhasilan LSI. Ini adalah
keberhasilan lembaga jajak pendapat di Indonesia.
Buku ini mendokumentasikan kinerja lembaga jajak pendapat dalam meramal hasil
Pemilu. Argumen yang diusung oleh buku ini, jika jajak pendapat dilakukan dengan
metode yang benar maka hasilnya bisa dengan tepat bisa memprediksi pemenang
Pemilu. Jajak pendapat di Indonesia bisa mengikuti jejak lembaga jajak pendapat di
negara-negara Barat yang telah menempati posisi penting karena terbukti tepat
dalam merekam opini publik. Buku ini disusun tentu saja tidak dimaksudkan sebagai
media gagah-gagahan. Buku ini hanya memberi ilustrasi dan gambaran bahwa jajak
pendapat bisa menjadi alat ukur yang terpercaya.
Jajak pendapat harus diakui masih barang baru di Indonesia. Tidak semua orang
percaya dengan jajak pendapat. Argumen yang sering dilontarkan mereka yang tidak
percaya dengan jajak pendapat adalah, metode ini hanya cocok di negara Barat dan
mustahil diterapkan di Indonesia. 3 Sejumlah orang bahkan acapkali melontarkan
penilaian miring terhadap lembaga jajak pendapat, seperti lembaga jajakpendapat
dibayar oleh partai A dengan sengaja untuk mendongkrak suara partai itu. Lembaga
jajak pendapat, kami tentu saja tidak bisa menghalangi penilaian seperti itu.
3 Politisi juga tidak mendasarkan kegiatan dan kebijakan berdasarkan hasil jajak pendapat.
Lembaga jajak pendapat justru harus membuktikan dirinya kepada publik, bahwa
hasil riset yang dilakukan bisa dengan tepat merekam opini publik. Buku ini hadir
diantaranya sebagai bukti bahwa jika dilakukan dengan benar, jajak pendapat bisa
dengan tepat merekam pendapat masyarakat. Buku ini pertama kali akan
menguaraikan pengalaman jajak pendapat dan Pemilu di negara lain, dalam hal ini
Amerika dan Filipina. Bagaimana di dua negara itu jajak pendapat telah menjadi alat
yang terpercaya untuk merekam pilihan masyarakat saat Pemilu. Dilanjutkan dengan
I.MEMPREDIKSI HASIL PEMILU
Pemilu adalah pertaruhan bagi lembaga jajak pendapat. Lewat Pemilu, publik bisa
menilai apakah ramalan lembaga jajak pendapat benar atau tidak. Pertanyaan
penting untuk diajukan adalah, apakah jajak pendapat perolehan suara Pemilu di
Indonesia bisa diandalkan? Apakah hasil jajak pendapat itu bisa memprediksikan
dengan tepat hasil Pemilu yang sesungguhnya?
JAJAK PENDAPAT PEMILU MASA ORDE BARU
Jajak pendapat terutama mengenai Pemilu adalah barang baru. Selama puluhan
tahun masa Orde Baru kegiatan ini bisa dikatakan mati. Memang ada beberapa
lembaga jajak pendapat yang mengadakan survei tentang berbagai hal. Tetapi tidak
ada yang berbicara tentang Pemilu. Sekurang-kurangnya ada dua alasan kenapa
kegiatan jajak pendapat mengenai Pemilu tidak berkembang semasa Orde Baru.
Pertama, kegiatan mengukur opini publik terutama yang berhubungan dengan
masalah politik masih tabu dilakukan, kalau tidak seseorang bisa dituduh
menggulingkan pemerintahan atau subversif. Pengalaman SUBURI. Jajak pendapat
mengenai politik adalah barang baru di Indonesia. Usaha untuk mengetahui
poendapat umum yang berkembang akan selalu dihalang-halangi.
Titik balik dari kemunduran jajak pendapat politik adalah peristiwa survei PT SUBURI
di tahun 1972. 4Lembaga survei ini didirikan tahun 1967. Sejarahnya, saat itu Sjarif
Thajib, Duta Besar Indonesia di Amerika, menyatakan perlunya lembaga riset di
Indonesia. Thajib tampaknya terpesona dengan suburnya lembaga penjaringan opini
publik ini di Amerika. Kesempatan itu datang ketika Asia Research Organization yang
berpusat di Manila menawarkan diri masuk dan menjalankan bisnis riset di
Indonesia. Masuknya SUBURI ke Indonesia juga dibantu oleh Panitia Penanaman
Modal Asing ( saat itu diketuai oleh Prof Sadli dari Universitas Indonesia ) yang
merasa di Indonesia perlu adanya biro riset. Meski baru berdiri, SUBURI mendapat
banyak proyek penelitian terutama dari lembaga dan departemen pemerintah serta
kedutaan asing. 5SUBURI misalnya mendapat kontrak penelitian dengan pemerintah
4 Tinjauan menarik mengenai kasus survei SUBURI dan survei lain sepanjang Orde Baru, lihat
Daniel Dhakidae,”Social Will, Political Demand and Public Opinion,” Makalah pada seminar Opini Publik dan Demokrasi yang diadakan oleh LP3ES, 23 Juni 1993
Jakarta tentang perbaikan kampung dan departemen penerangan mengenai TVRI.
Lembaga riset ini juga pernah membuat penelitian mengenai pendidikan dan
keluarga berencana dari pemerintah. Dinas Penerangan AS (USIS) telahd ua kali
memakai jasa PT SUBURI. Yang pertama soal pendapat pendengar radio Suara
Amerika dan kedua soal bacaan berbahasa Inggris yang dikeluarkan oleh USIS. 6
Lembaga ini mati untuk selamanya, setelah membuat survei mengenai politik di
tahun 1972. Survei politik sebenarnya bukan hal baru bari SUBURI. Sebelumnya, di
tahun 1969 lembaga ini pernah membuat Pre Election Survey (PES) dengan dana
dari BAKIN. Survei tahun 1972 yang menghebohkan itu ingin mengukur pendapat
masyarakat mengenai persoalan ekonomi dan sosial. Survei dilakukan di Jawa
Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur dan Jakarta. Ada 53 buah pertanyaan yang
diajukan, tetapi yang akhirnya menyulut kontroversi adalah pertanyaan nomor 38.
Pertanyaan itu berbunyi: “ Sekarang kami mohon sudilah Bapak memberi penilaian
pada beberap orang yang terhormat sebagai berikut tentang sifat-sifatnya dalam
menjalnkan kepemimpinan mereka, menilai pejabat tinggi tersebut dari 1 sampai 10.
Dengan catatan 1 terendah dan 10 tertinggi”. Nama-nama itu adalah 1. Gubernur
Jawa Bart Solihin, 2. Menteri Ekuin Sri Sultan Hamengkubuwono, 3. Presiden
Soeharto, 4. Jenderal Nasuition, 5. Gubernur Jakarta Ali Sadikin, 6. Menteri Luar
Negeri Adam Malik, 7. Direktur Utam Pertamina Ibnu Sutowo, 8. Menteri
Perdagangan Soemitro. Menurut pengakuan pengelola SUBURI, Soeharto
dicantumkan dalam urutan tiga karena dalam metodologi penelitian pertanyaan
harus oibyektif dan tidak memberi sugesti kepada responden. Karena itu tokoh yang
dianggap penting selalu ditempatkan pada tempat yang tidak mencolok. 7
Pertanyaan SUBURI itu tidak ada yang aneh dan tidak ada yang salah secara
metodologi. Tetapi ketika dinilai secara politik, pertanyaan itu dicurigai
macam-macam. Survei itu pertamakali dipersoalkan ketika tenaga peneliti lapangan yang
mewawancari penduduk di Semarang. Satuan Tugas Intelejen Kodam VII
menangkap tenaga pewawancara lapangan. Kodam VII di Semarang mencurigai
kegiatan survei itu sebagai spionase. 8 Menteri Dalam Negeri, Amirmachmud
6Tempo, 1 Juli 1972 7Tempo, 1 Juli 1972
8 Pejabat militer di Kodam VII mengatakan ada tiga macam bentuk kegiatan intelejen:
menuduh SUBRI melakukan tindakan subversi yang bisa mengganggu ketertiban dan
kemanan masyarakat. 9 Tidak begitu jelas, siapa yang membiayai penelitian ini.
Majalah Tempo yang mewawancari sejumlah sumber menegarai partai Golkar yang
menyewa PT SUBURI untuk melakukan penelitian tersebut. Karena riset ini, lembaga
ini ditutup dan dicabut ijinnya. Direkturnya, John M. Digregorio diminta angkat kaki
dari Indonesia. 10 Peristiwa survei SUBURI ini bukan hanya menutup perusahaan
riset tertua ini, tetapi juga menjadi sinyal matinya survei opini publik di Indonesia.
Penelitian mengenai masalah sosial dan politik menjadi sulit untuk dilakukan.
Kalaupun dilakukan, tidak menyentuh soal partai, Pemilu atau presiden kalau tidak
ingin dicap melakukan kegiatan subversi. Ijin melakukan survei juga diperketat.
Setelah kasus SUBURI, dan berlaku hingga masa Orde Baru, setiap penelitian harus
seizin Gubernur dan Laksus Kopkamtibda. Sebelum ijin keluar, Laksus Kopkamtibda
akan meneliti terlebih dahulu kegiatan penelitian dan instrumen yang dipakai. 11
Pasca jajak pendapat SUBURI, sangat sedikit survei atau jajak pendapat mengenai
politik di Indonesia. Sebagaian besar penelitian itu dilakukan untuk keperluan studi
di perguruan tinggi. Selain karena birokrasi penelitian, minimnya pengukuran opini
publik mengenai politik ini diperparah oleh sikap pemerintah dan pejabat yang tidak
senang kalau hasil kinerjanya dinilai. Apalagi kalau penelitian itu hasilnya buruk bagi
pemerintah. Kegiatan penelitian karena itu tidak dianggap sebagai cermin untuk
mengetahui kelemahan dan antisipasi langkah masa depan. Penelitian sebaliknya
acap dipandang menyebarluaskan keburukan kepada masyarakat. Selain survei
mengenai Pemilu, survei soal korupsi atau kemiskinan misalnya bisa dengan mudah
dituduh oleh pejabat pemerintah menyebarluaskan kebohongan kepada
masyarakat.12 Karena berbagai kendala itu, tidak mengherankan jikalau riset yang
SUBURI menjual hasil survei kepada negara blok Barat atau blok Timur. Tujuannya adalah
memata-matai Indonesia. Lihat Tempo, 17 Juni 1972
9Tempo, 1 Juli 1972; Tempo, 24 Juni 1972
10Tempo, 30 September 1972; Tempo, 14 Oktober 1972 11Tempo, 8 Juli 1972
12 Peristiwa unik mengenai ini adalah penelitian mengenai peta kemiskinan yang dibuat oleh
banyak berkembang semasa Orde Baru adalah survei non politik, seperti survei
pemasaran yang tumbuh sejak tahun 1970-an.
Alasan kedua kenapa jajak pendapat mengenai politik ( lebih spesifik Pemilu) lama
absen dikarenakan sifat Pemilu di Indonesia sendiri. Sepanjang Orde Baru, Golkar
muncul sebagai kekuatan mayoritas dengan suara di atas 70%. Karena itu, meramal
siapa pemenang Pemilu menjadi kegiatan yang sia-sia karena hasil Pemilu memang
sudah diketahui jauh sebelum Pemilu dilakukan. Pemilu masa Orde Baru juga
ditandai dengan mobilisasi besar-besaran untuk mendukung dan memenangkan
Golkar. Mobilisasi itu bisa formal (dengan mengerahkan dukungan birokrasi dan
dana) juga informal. Pemilu masa Orde Baru itu sendiri tidaklah benar-benar
merupakan Pemilu dalam arti sesungguhnya, karena memang sejak awal sudah
didesain untuk memenangkan Golkar. Pemilu itu juga diwarnai banyak kecurangan
dan pelanggaran yang tidak ditindaklanjuti. Melakukan jajak pendapat tentang
pemilu sama sekali tidak berguna, karena hasil jajak pendapat pasti tidak bisa
dibandingkan dengan hasil Pemilu.
JAJAK PENDAPAT PEMILU PASCA ORDE BARU
Kegiatan jajak pendapat mengenai Pemilu itu baru berkembang setelah Pemilu yang
demokratis tahun 1999. Jajak pendapat mengenai Pemilu makin marak pada Pemilu
2004. Kalau soal Pemilu relatif baru, kegiatan jajak pendapat untuk tema lain
sebenarnya sudah marak sejak tahun 1990-an. Lembaga Penelitian, Pendidikan dan
Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) sejak tahun 1992 aktif melakukan jajak
pendapat dengan berbagai tema. Sejumlah peneliti LP3ES mempelajari metode
jajak pendapat ini di beberapa lembaga jajak pendapat di Amerika dan Filipina. Topik
yang diangkat LP3ES pada tahap awal belum menyentuh politik, tetapi soal sosial
seperti kebebasan pers, komitmen nasional dan sebagainya. LP3ES juga
bekerjasama dengan beberapa media ( seperti majalah Tajuk ) membuat jajak
pendapat secara rutin dari berbagai isu aktual yang berkembang saat itu. Selain
LP3ES, Litbang Kompas juga lembaga yang bisa dicatat aktif melakukan jajak
pendapat sejak tahun 1990-an. Litbang Kompas mengangkat berbagai jajak
pendapat lewat telepon mengenai isu-isu kebijakan publik.
sendiri---seperti menghina atau memalukan daerah. Lihat mengenai kasus peta kemiskinan ini
LP3ES membuat jajak pendapat mengenai Pemilu sejak tahun 1997. Hasil jajak
pendapat itu memperoleh angka presisi yang baik. Dua tahun kemudian, LP3ES
membuat jajak pendapat dengan populasi wilayah Jawa.13 Di tahun 1999 ini, selain
LP3ES tercatat ada 3 lembaga jajak pendapat lain yang menyelenggarakan survei
mengenai Pemilu, yakni RPC (Resource Productivity Center), IFES (International
Foundation for Election Systems), Litbang Kompas dan Komite Pemberdayaan
Pemilih (KPP)-Lab Politik Fisip UI. RPC adalah lembaga yang bergerak dalam bidang
survei dan penelitian. Selain soal politik, RPC melakukan sejumlah jajak pendapat
lain dengan beragam tema. RPC juga menyelenggarakan riset pemasaran dan survei
khalayak di sejumlah media. IFES adalah lembaga nirlaba asal Amerika Serikat yang
mengkhususkan diri pada reformasi sistem Pemilu di banyak negara. Jajak pendapat
adalah salah satu lini kegiatan IFES selain kegiatan lain seperti diskusi rancangan
undang-undang Pemilu, pendidikan pemilih dan sebagainya.
Pada Pemilu 2004, lebih banyak lagi lembaga yang membuat jajak pendapat
mengenai Pemilu. Selama satu tahun (April 2003-Maret 2004) paling tidak ada 7
lembaga yang membuat jajak pendapat soal Pemilu. Selain LP3ES dan IFES, ada 5
lembaga baru yang membuat jajak pendapat yakni Badan Penelitian dan
Pengembangan PDIP Perjuangan (Balitbang PDIP), DRI (Danareksa Research
Institute), IRI (International Republican Institute), Lembaga Survey Indonesia (LSI),
dan Soegeng Sarjadi Syndicated. Balitbang PDIP adalah organ resmi dari PDIP yang
bertanggungjawab dalam melakukan kajian dan masukan kepada Dewan Pimpinan
Pusat PDIP. IRI adalah lembaga nirlaba yang menginduk pada partai Republik
Amerika. Sama seperti IFES, kegiatan survei adalah salah satu dari sejumlah
kegiatan IRI selain pendidikan politik, pemberdayaan pemilih.
Sementara DRI adalah badan di bawah Danareksa. Survei ini adalah bagian dari
survei lain yang dilakukan oleh DRI mengenai ekonomi. Meski sejak lama
menjalankan riset, survei mengenai politik baru dilakukan oleh DRI menjelang
Pemilu 2004. Lembaga baru lain adalah Soegeng Sarjadi Syndicated (SSS). Lembaga
ini didirikan tahun 1998 dan sejak 1999 melakukan jajak pendapat atas sejumlah isu
diantaranya soal etnis Tionghoa, Soeharto dan sebagainya. SSS pada awalnya
banyak bekerjasama dengan Laboratorium Ilmu Politik UI dalam menyelenggarakan
jajak pendapat. Pada Pemilu 2004, SSS melakukan seri jajak pendapat
untukmengukur sentimen publk. Total ada 8 jajak pendapat yang dilakukaan SSS
dari Mei 2002 hingga April 2004.14 Lembaga jajak pendapat lain yang baru adalah
LSI (Lembaga Survey Indonesia). LSI adalah lembaga yang mengkhususkan diri
pada survei opini publik di Indonesia. Lembaga ini baru didirikan pada pertengahan
tahun 2003, dan mulai melakukan survei nasional sejak Agustus 2003. Secara rutin,
LSI melakukan survei tiap tiga bulan sekali untuk merekam sentimen publik.
URGENSI RAMALAN PEMILU
Soal maramal hasil Pemilu adalah sesuatu yang krusial bagi lembaga jajak pendapat.
Kenapa? Kita bisa tengok pendapat tokoh jajak pendapat, George Gallup. Menurut
Gallup, jajak pendapat adalah upaya untuk mengetahui opini publik tetapi tidak
dilakukan dengan menanyakan kepada semua orang ( seperti halnya Pemilu atau
referendum). Opini publik itu diketahui lewat sejumlah orang yang dikenal sebagai
sampel. Teknik ilmiah dan metode statistik yang modern menurut Gallup bisa
menjamin bahwa sampel yang diambil representasi dengan suara semua anggota
masyarakat. Lembaga jajak pendapat tidak perlu bertanya kepada semua anggota
masyarakat, cukup mengambil sampel ( dengan dasar dan metode ilmiah), dan
hasilnya bisa mencerminkan suara seluruh masyarakat. Dengan sampel, menurut
Gallup, jajak pendapat bisa dilakukan tiap hari dengan biaya yang murah. Kita bisa
tahu suara publik dari hari ke hari. Pemerintah bisa mendapatkan informasi apa saja
masalah yang dikeluhkan oleh publik dengan data yang lebih akurat.15
Logika pemakaian sampel itu justru letak pangkal soalnya. Bagaimana kita yakin
bahwa sampel mewakili populasi? Bagaimana kita bisa yakin bahwa pendapat dari
2.000 orang responden sama dengan pendapat 147 juta pemilih Indonesia? Pemilu
adalah satu-satunya jalan bagi lembaga jajak pendapat untuk menguji akurasi dari
suatu sampel. Lewat Pemilu, lembaga jajak pendapat bisa membuktikan, bahwa
dengan metode penarikan sampel yang benar dan ketat, suara dari 2.000 orang
sama dengan suar 147 juta pemilih. Jika Pemilu adalah populasi (masyarakat yang
telah aktual menggunakan hak pilihnya), maka jajak pendapat adalah sampel (orang
yang dipilih sebagai sampel). Kalau prinsip acak (random) bekerja, kalau teknik
14 Wawancara Sukardi Rinakit, direktur eksekutif Soegeng Sarjadi Syndicated, 4 Mei 2004.
15 Lebih lanjur lihat George Gallup, “ Opinion Polling in a Democracy,” dalam Judith M.Tanur
(ed), Statistics: A Guide to the Unknown, Second Edition, California,Wadsworth & Brooks
penarikan sampel dilakukan secara ketat, seharusnya hasil sampel secara statistik
tidak berbeda jauh dengan populasi.
PEMILU JAJAK PENDAPAT
POPULASI SAMPEL
147 pemilih 1000-5000
responden
Di negara Barat, seperti Amerika, jajak pendapat Pemilu dipakai untuk membuktikan
kepada publik bahwa teknik penarikan sampel yang mereka pakai bisa
dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Buktinya, hasil survei mereka sama persis
dengan hasil Pemilu aktual. Di Indonesia, sampai saat ini masih banyak suara
sumbang mengenai akurasi lembaga jajak pendapat. Pemilu adalah kesempatan bagi
lembaga jajak pendapat untuk belajar sekaligus membuktikan kepada publik
Indonesia bahwa apa yang telah mereka kerjakan bisa dipertanggungjawabkan.
Caranya sederhana, bandingkan antar hasil jajak pendapat dengan hasil Pemilu.
Kalau hasilnya sama, maka metode yang yang dipakai oleh lembaga jajak pendapat
tersebut bisa dipertanggungjawabkan. Meski sederhana, cara itu mengandung resiko
yang berat. Lembaga yang gagal memprediksi pemenang Pemilu, bisa kehilangan
kredibilitasnya. Di Amerika bahkan kesalahan yang dibuat oleh lembaga jajak
pendapat sering berujung pada penghentian kegiatan jajak pendapat oleh lembaga.
Pertanyaan kemudian adalah, ukuran apa yang dipakai untuk menilai jajak pendapat
berhasil dan gagal? Kriteria apa yang bisa dipakai untuk memvonis apakah lembaga
jajak pendapat benar atau salah? Menurut Daniel Dhakidae, ada dua kriteria yang
bisa dipakai untuk menilai kualitas dari lembaga jajak pendapat yang memprediksi
hasil Pemilu. 16Pertama, akurasi, yakni sejauh mana lembaga jajak pendapat secara
benar memprediksi partai pemenang Pemilu dan komposisi peringkat pemenang
Pemilu. Akurasi berkaitan dengan benar tidaknya ramalan lembaga jajak pendapat
(correctness). Jika lembaga jajak pendapat memprediksi partai A yang
memenangkan Pemilu, maka ramalan itu baru bisa dianggap presisi jika hasil Pemilu
memang memposisikan partai A sebagai pemenang. Akurasi yang lebih baik jika
lembaga jajak pendapat bukan hanya bisa memprediksi partai A sebagai pemenang
16 Lihat Daniel Dhakidae,” Pemilu, Ramalan dan Lembaga Jajak Pendapat,” Kompas,14
tetapi juga bisa memprediksi urutan pemenang, dari partai A sampai E misalnya
masing-masing dengan urutan 1 sampai sekian.
Kedua, presisi. Jika akurasi berkaitan dengan correctness, maka presisi berkaitan
dengan ketepatan (exactness). Lembaga jajak pendapat dituntut bukan hanya tepat
dalam memprediksi pemenang Pemilu, tetapi juga memprediksi perolehan suara
masing-masing partai. Makin dekat ramalan perolehan partai dengan hasil perolehan
partai yang sebenarnya di Pemilu, maka makin bagus pula kinerja dari lembaga jajak
pendapat.
AKURASI PRESISI
Sejauh mana lembaga jajak pendapat bisa dengan tepat memprediksi pemenang Pemilu dan struktur (posisi) peringkat partai pemenang Pemilu
II. PENGALAMAN GALLUP POLL DAN
SOCIAL WEATHER STATIONS
Di Indonesia, masih banyak orang yang tidak percaya dengan jajak pendapat.
Pertanyaan yang kerap muncul adalah apakah suara dari sampel yang hanya 2.000
orang bisa menggambarkan suara pemilih di Indonesia yang mencapai 147 juta
orang? Apakah mungkin suara pemilih sebanyak itu bisa tergambar lewat sampel
yang hanya berjumlah ribuan saja. Kegiatan jajak pendapat lalu dipandang sebagai
usaha sia-sia, kalau tidak sebagai usaha buang-buang waktu. Jajak pendapat di
Indonesia belum dianggap sebagai alat ukur yang terpercaya untuk mengetahui
pendapat umum. Celakanya, ketidakpercayaan pada jajak pendapat ini bukan hanya
melanda masyarakat awam, tetapi juga akademisi atau politisi. Banyak diantara
mereka yang pernah mengecap pendidikan di luar negeri. Debat mengenai
jajakpendapat di Indonesia, acapkali bahkan diwarnai dengan perdebatan yang tidak
bermutu seperti siapa orang di belakang lembaga jajak pnedapat atau agenda apa
yang dibawa oleh lembaga jajak pendapat.
Jika di Indonesia orang masih berdebat apakah jajak pendapat bisa dipercaya atau
tidak, atau apakah sampel menggambarkan populasi atau tidak, di negeri Barat
perdebatan ini sudah usai sebelum perang Dunia II. Tidak pernah terdengar
pernyataan politisi atau akademisi yang meragukan atau tidak mempercayai jajak
pendapat. Bahkan karena percaya bahwa jajakpendapat adalah alat yang terpercaya
untuk mengukur pendapat umum, di Amerika jajakpendapat dianggap sebagai pilar
kelima demokrasi----setelah yudikatif, eksekutif, legislatif, dan pers. Kepercayaan
pada jajak pendapat ini memang tidak timbul satu malam. Kunci kepercayaan itu
adalah lembaga jajak pendapat sendiri yang berhasil membuktikan diri bahwa
metode dan alat yang mereka pakai akurat dan tepat. Di Indonesia masih banyak
orang mempertanyakan kebenaran jajakpendapat, mungkin karena belum banyak
bukti keberhasilan jajak pendapat dalam menggambarkan opini yang berkembang di
masyarakat.
GALLUP POLL
Gallup Poll acapkali dijadikan sebagai ukuran lembaga jajak pendapat yang berhasil.
secara presisi memproyeksikan perolehan suara presiden. Dari tahun 1936 hingga
2000, rata-rata selisih prediksi Gallup hanya berada pada kisaran angka 1.5 %.
17Artinya, jika Gallup memprediksikan kandidat A mendapat 40% suara, angka
sebenarnya ( hasil Pemilu) tidak lebih besar atau lebih kecil dari angka itu. Pada
tahun-tahun tertentu (seperti tahun 1972), selisih antara angka prediksi dan hasil
aktual hanya 0.2%. 18 Keberhasilan ini tidak terjadi pada satu malam. Setelah
melewati proses jatuh bangun, Gallup Poll bisa membangun suatu sistem yang
terpercaya dan bisa mengukur dengan valid opini publik yang berkembang di
Amerika.
Gallup Poll berdiri tahun 1930-an. 19Saat itu lembaga ini terbilang kecil bahkan tidak
dikenal. Lembaga jajak pendapat yang dikenal saat itu adalah majalah Literary
Digest. Majalah ini hanyakah salah satu dari sekian puluh media yang menjamur
dengan kegiatan jajak pendapat. Media yang melakukan jajak pendapat bisa
terangkat gengsinya, apalagi kalau berhasil meramal dengan benar siapa presiden
Amerika. Tetapi prinsip statistik modern dengan pemakaian sampel probabilitas
belum dikenal luas saat itu. Lembaga jajak pendapat di tahun-tahun itu berpikir
linear, semakin banyak orang yang diwawancarai maka semakin baik. Lembaga jajak
pendapat lalu berlomba membuat jajak pendapat dengan jumlah sampel puluhan
juta orang. Gengsi lembaga jajak pendapat bahkan diukur dari berapa banyak orang
yang berhasil diwawancarai atau memasukkan jawabannya. Karena banyaknya suara
yang masuk itu, jajak pendapat ini sering dikenal sebagai pemilihan tidak resmi
(straw vote).
Majalah Literary Digest sendiri adalah lembaga yang paling menonjol era ini karena
dikenal mampu menghimpun suara puluhan juta. Lembaga ini memulai jajak
pendapat dari tahun 1916. Pada tahun 1920, Literary Digest memakai 11 juta suara.
17 Lihat Herbert F Weisberg, John A. Krosnick and Bruce D. Bowen, An Introduction to Survey
Research, Polling and Data Analysis, Third Edition, Thousand Oaks, California, Sage Publication, 1996, hal. 151
18 Memang Gallup Poll pernah membuat kesalahan prediksi, tetapi kesalahan itu masih bisa
dimaafkan. Yang paling terkenal adalah pemilihan tahun 2000 lalu. Gallup memprediksi Gore yang menang, padahal yang menang adalah George W. Bush. Tetapi kesalahan ini dimaafkan
karena basis jajak pendapat Gallup adalah popular vote, bulan electoral vote. Dan memang
kalau dilihat perolehan suara nasional (popular vote), Gore mendapat suara lebih besar dari
Bush.
19 Profil dan sejarah Gallup ( dan sejumlah organisasi jajak pendapat besar di Amerika) lihat
David W.Moore, The Superpollster:How They Measure and Manipulate Public Opinion in
Angka ini bertambah di tahun 1920 dengan 16.5 juta suara. Sampai tahun 1932,
Literary Digest selalu akurat memprediksi siapa pemenang Pemilu di Amerika.
Ramalan yang benar ini bukan hanya membuat citra Literary Digest makin bagus
tetapi juga mendorong Digest untuk menambah jumlah suara yang ikut menjawab
presiden pilihan. Tetapi sebuah musibah menimpa Literary Digest pada tahun
1936.20 Digest salah memprediksi kemenangan presiden yang membuat majalah ini
menghentikan kegiatan jajak pendapat untuk selamanya. Saat itu ada dua calon
yakni Alfred M.Landon ( Republik) dan Franklin D.Roosevelt (Demokrat). Literary
Digest memprediksi Alfred M.Landon yang memenangkan Pemilu. Pemilu
sesungguhnya justru Roosevelt yang menang. Kenapa Digest bisa mengalami
kesalahan prediksi padahal sampel yang dipakai mencapai 10 juta orang? Kesalahan
utama Literary Digest adalah pada teknik pengambilan sampel. Sampel Digest
diambil dari buku telepon dan pendaftaran mobil---semacam STNK.Tahun 1936 di
Amerika ditandai dengan masa malaise, dengan pengangguran yang tinggi.Lebih
banyak orang yang yang tidak makmur dibandingkan dengan warga yang
berkecukupan. Mereka ini diabaikan dalam jajak pendapat Literary Digest.
Akibatnya, suara publik yang miskin yang lebih condong memilih Roosevelt tidak
bisa diprediksikan oleh Digest.
Kesalahan Digest ini membawa efek sampingan. Ahli jajak pendapat mulai
memikirkan teknik statistik yang bisa dipakai untuk meramalkan suara pemilih.
Kegagalan Digest itu juga membuat publik Amerika mulai terbiasa dengan satu
nama, Gallup Poll. Lembaga dengan pendiri George Gallup ini, sama sekali
tenggelam di bawah kebesaran nama Literary Digest. Di tahun 1936 itu, ketika
Digest salah memprediksi, Gallup justru berhasil memprediksi kemenangan
Roosevelt. Yang dilakukan Gallup saat itu adalah membuat sampel yang menjamin
tercapainya reporesentasi dengan memperhitungkna terlebih dahulu proporsi untuk
partai Demokrat dan Republik. Keberhasilan Gallup ini membuat publik Amerika
mulai menoleh kepada lembaga-lembaga baru. Selain Gallup, nama lain yang
muncul saat itu adalah Ropper dan Crosley. Pemilihan presiden Amerika tahun 1940
dan 1944 juga berhasil diprediksikan oleh Gallup dan lembaga jajak pendapat baru
ini.
20 Analisis lebih terperinci mengenai peristiswa tahun 1936 ini lihat Mervin D.Field,”Political
Opinion in The United States of America,” dalam Robert M.Worcester (ed), Political Opinion
Tabel : Ramalan Gallup dan Hasil Pemilu Aktual di AS 1972-2000
TAHUN Kandidat Survei
Gallup
Rata-rata kesalahan Gallup Poll 1960-2000 = 1.5
Tetapi lembaga jajak pendapat ini mengalami ujian berat, ketika tahun 1948 kembali
mengalami kegagalan seperti halnya yang terjadi di tahun 1936. Saat itu dua
kandidat yang bertarung memperebutkan kursi presiden adalah Harry S. Truman
(Demokrat) dan Thomas E. Dewey (Republik). Semua lembaga jajak pendapat
(Gallup, Ropper dan Crosley) memprediksi Thomas E. Dewey yang akan
memenangkan pemilihan. Kenyataannya, Truman menang atas Dewey dengan
selisih suara 5 persen. Kesalahan itu sangat memalukan karena suratkabar yang
terbit di hari pemilihan memuat analisis dan prediksi lembaga jajak pendapat yang
kedua setelah tahun 1936. Kepercayaan publik makin turun terhadap jajak
pendapat.
Untungnya, kejadian tahun 1948 itu tidak diikuti dengan pembubaran secara massal
lembaga jajak pendapat seperti terjadi di tahun 1936. Lembaga jajak pendapat
seperti Gallup mulai menerapkan prionsip probabilitas dalam pengambilan sampel.
Dengan prinsip probabilitas ini, sampel yang diambil lebih terjamin derajat
representasinya. Lewat pengambilan sampel yang ketat, lembaga jajak pendapat
tidak perlu mewawancarai puluhan atau ratusan ribu orang. Cukup dengan sampel
sebanyak 2.000 hingga 5.000 orang asal diambil secara acak (random) dan dengan
prinsip pengambilan sampel benar, hasilnya bisa menggambarkan suara pemilih.
Sejak 1948 itu, kesalahan prediksi lembaga jajak pendapat menjadi lebih kecil.
Lembaga jajak pendapat bukan hanya berhasil memprediksikan siapa yang akan
memenangkan Pemilu tetapi juga memprediksi dengan tepat berapa perolehan suara
masing-masing kandidat. Sehingga muncul adagium, presiden di Amerika sudah
diketahui sebelum rakyat Amerika datangke biliksuara dan menentukanpresiden
pilihan mereka.
SOCIAL WEATHER STATIONS
Tidak benar kalau dikatakan jajak pendapat ini hanya cocok di negara maju. Jajak
pendapat asal dilakukan dengan hati-hati bisa memprediksi hasil Pemilu seperti
halnya di Amerika. Kita bisa mengacu kepada jajak pendapat yang dilakukan oleh
lembaga Social Weather Stations (SWS) di Filipina.
Perlu dicatat, kegiatan jajak pendapat dan prediksi pemenang Pemilu mempunyai
tradisi yang panjang di Filipina. Sejak tahun 1946, kegiatan ramal meramal siapa
pemenang Pemilu lewat jajak pendapat ini sudah dikenal oleh publik Filipina. Tetapi
baiknya, Ferdinand Marcos di tahun 1972 membuat kegiatan jajakpendapat ini
praktis terhenti. Filipina mengalami era baru sistem otoriterisme dimana segala hal
yang berbau politik dan berurusan dengan negara dilarang. Tumbangnya Marcos di
tahun 1983, membuat kegiatan jajak pendapat yang pernah tenggelam kembali
muncul ke permukaan. Social Weather Stations lahir pada era ini. Lembaga ini
berdiri tahun 1985 sebagai organisasi non profit dan non partisan. Kegiatan
utamanya adalah membuat survei dengan metode statistik modern isu-isu nasional
publik atas kondisi sosial, ekonomi dan politik. Sejak tahun 1992, lembaga ini
membuat jajak pendapat pemilihan presiden, dan secara tepat memprediksi
pemenang Pemilu. 21
Pemilihan presiden di Filipina sendiri mempunyai sistem yang unik. Presiden dan
wakil presiden dipilih secara langsung tiap enam tahun sekali. Berbeda dengan di
Indonesia dimana presiden dan wakil presiden merupakan pasangan satu paket, di
Filipina presien dan wakil presiden dipilih secara terpisah. Bisa terjadi kemungkinan,
presiden dan wakil presiden berasal dari partai yang berbeda. Selain Pemilu untuk
memilih presiden dan wakil presiden, Pemilu juga dilakukan untuk memilih 24
anggota senat (senator). Berbeda dengan di Indonesia atau Amerika dimana
senator berasal dari daerah pemilihan tertentu, di Filipina tidak dikenal daerah
pemilihan atau senator dari negara bagian tertentu. Calon anggota senat bersaing
secara nasional memperebutkan 24 kursi. Karena itu jajak pendapat untuk
meramalkan siapa anggota senat yang lolos relatif sulit. Meski demikian, SWS
terbukti berhasil meramal dengan tepat pemenang Pemilu di Filipina semenjak tahun
1992. Di tahun 1992 lembaga ini juga bisa memprediksi Fidel Ramos sebagai
presiden dan tahun 1998 dengan presiden Joseph Estrada. Pemilihan anggota senat
di tahun 1987, 1992, 1995, 1998 dan 2001 juga telah dapat diprediksi oleh SWS
satu minggu sebelum hari pemungutan suara. 22
Dalam setiap surveinya, SWS memakai sampel sebesar 1.000 responden. Jumlah
sampel sebesar ini cukup untuk memprediksi suara pemilih Filipina yang berjumlah
sekitar 23 juta suara. Medan yang dihadapi oleh SWS hampir mirip dengan di
Indonesia, dimana lembaga jajak pendapat dihadapkan pada populasi yang
heterogen dengan suku bangsa yang beraneka, dan jenjang sosial pendidikan yang
berlainan pula. Prediksi SWS bukan hanya akurat tetapi juga presisi. Rata-rata
kesalahan prediksi SWS hanya berkisar pada angka 2.5%. Kebenaran prediksi SWS
21 Mengenai SWS dan sejarah jajak pendapat di Filipina, lihat tulisan Linda Luz Guerrero and
Mahar Mangahas, Opinion Polling in the Philippines:An Encyclopedia Article,Occasional Paper,
SWS 2002. Makalah ini tersedia dalam situs SWS, http://www. sws.org.ph.
22 Tinjauan umum mengenai survei SWS dan Pemilu di Filipina lihat Mahar Mangahas, Linda
Guerrero and Geraldo Sandoval, Opinion Polling and National Elections in The
ini turut membuat bukan hanya pamor SWS naik tetapi juga kepercayaan publik
terhadap jajak pendapat. 23
Tabel:Prediksi SWS dan Hasil Aktual Pemilu di Filipina Tahun 1992-1998
Hasil
Survei (26 April-4 Mei)
Aktual Pemilu Selisih PRESIDEN 1992
Kesalahan Absolut Rata-Rata Survei SWS= 2.4 Hasil
Survei (26 April-4 Mei)
Aktual Pemilu Selisih WAKIL PRESIDEN
Kesalahan Absolut Rata-Rata Survei SWS= 1.2 Hasil
Survei (2-4 Mei)
Aktual Pemilu Selisih PRESIDEN 1998
Kesalahan Absolut Rata-Rata Survei SWS= 2.2
23 Sebuah survei yang pernah dilakukan oleh SWS membuktikan kepercayaan publik Filipina
atas jajak pendapat. Lima dari enam warga Filipina percaya bahwa prediksi pemenang Pemilu yang dilakukan oleh lembaga jajak pendapat selalu benar.Lebih dari itu publik di Filipina juga percaya bahwa sampel 1.000orang yang diambil secara tepat dapat merefleksikan seluruh populasi.Lihat Linda Luz Guerrero and Mahar Mangahas,”Polling About Polls in the
Philippines,”Social Weather Bulletin, No.9-10,Mei 1997. Artikel ini tersedia dalam situs SWS,
Hasil
Survei (2-4 Mei)
Aktual Pemilu Selisih WAKIL PRESIDEN
1998
% Rank % Rank %
Arroyo 42 1 49.6 1 -7.6
Angara 18 2 22.1 2 -4.1
Orbos 10 4 13 3 -3
Osmena 11 3 9.2 4 1.8
Tatad 2 5 2.9 5 -0.9
Sueno 2 6 2.1 6 -0.1
Santiago 2 7 0.9 7 1.1
III. JAJAK PENDAPAT
DAN RAMALAN PEMILU 1999
Pemilu 1999 adalah tantangan pertama bagi lembaga jajak pendapat di Indonesia.
Inilah untuk pertama kalinya, sejak tahun 1955 diadakan Pemilihan Umum secara
terbuka dan demokratis. Jika disebut tantangan, paling tidak karena dua alasan
berikut. Pertama, pada Pemilu tahun 1999 itu sebanyak 48 partai politik bersaing
secara terbuka memperebutkan pemilih. Dengan jumlah partai sebanyak itu, peta
politik menjadi sangat terfragmentasi (tersebar). Lembaga jajak pendapat
dihadapkan pada pilihan untuk meramal partai pemenang Pemilu dari partai
sebanyak itu. Ini ditambah dengan tidak adanya peta awal kekuatan politik yang
ada. Hasil Pemilu sebelum 1999 sama sekali tidak bisa dijadikan dasar dan patokan
untuk meramal hasil Pemilu. Kedua, lembaga jajak pendapat bukan hanya
dihadapkan pada kelangkaan peta partai politik, tetapi juga kelangkaan dalam
standar survei di Indonesia. Seperti telah disinggung di muka, kegiatan jajak
pendapat selama Orde Baru terutama mengenai Pemilu bisa dikatakan mati.
Lembaga jajak pendapat tidak punya data pembanding bagaimana melakukan jajak
pendapat di wilayah yang sedemikian luas sedemikian terbagi dalam struktur
sosiologis yang berbeda pula.
Fakta menunjukkan, lembaga jajak pendapat di Indonesia bisa melewati dua
hambatan tersebut. Meskipun kegiatan jajak pendapat relatif baru, hasil dari
lembaga jajak pendapat itu sangat menggembirakan dan mengangumkan. Lembaga
jajak pendapat berhasil memprediksi dengan benar pemenang Pemilu tahun 1999.
Saat Pemilu tahun 1999 itu, paling tidak ada lima lembaga yang mengadakan jajak
pendapat mengenai Pemilu---masing-masing RPC (Resource Productivity Center),
IFES (International Foundation for Election Systems), LP3ES (Lembaga Penelitian,
Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial), Litbang Kompas dan Komite
Pemberdayaan Pemilih (KPP)-Lab Politik Fisip UI.
RPC melakukan survei bulan Desember 1998-Januari 1999. Lembaga ini melakukan
kerjasama dengan harian The Jakarta Post dan mempublikasikan hasil survei di
suratkabar berbahasa Inggris tersebut. Survei RPC tidak secara langsung
menanyakan pilihan partai. Survei itu lebih dimaksudkan untuk mengetahui
seperti dwi fungsi ABRI. Hasil survei RPC itu dimuat (secara ekskusif) di harian The
Jakarta Post edisi 23 Januari 1999. IFES melakukan survei bulan Desember
1998-Februari 1999. Survei yang dilakukan oleh IFES juga tidak secara spesifik
sebenarnya ingin mengetahui perolehan suara masing-masing partai. Survei itu ingin
menggali pandangan publik mengenai situasi nasional saat ini, arti dan pengetahuan
publik mengenai Pemilu serta penilaian atas kinerja lembaga negara dan lembaga
penyelenggara Pemilu. Di luar itu, IFES menanyakan pengetahuan mengenai partai
peserta Pemilu dan penilaian atas partai.
Jika RPC dan IFES tidak secara spesifik menanyakan partai pilihan, sebaliknya
Litbang Kompas, LP3ES dan KPP-Lab Politik UI melakukan survei untuk mengetahui
popularitas dan kekuatan partai. Survei Litbang Kompas dilakukan pada 17-27 April.
Hasil survei itu dimuat di harian Kompas tanggal 12 Mei 1999. Survei ini adalah
bagian dari jajak pendapat yang dilakukan oleh Litbang Kompas menjelang Pemilu
1999. Sejak pertengahan 1998, Litbang Kompas melakukan jajak pendapat lewat
telepon mengenai berbagai hal soal Pemilu seperti persiapan Pemilu, pengetahuan
mengenai Pemilu, isu penundaan Pemilu dan sebagainya. Khusus mengenai prediksi
Pemilu ini, Litbang Kompas tidak melakukan lewat telepon tetapi melakukan
wawancara secara langsung ( face to face) di lima kota. LP3ES juga melakukan
survei untuk memprediksi kekuatan partai politik menjalang Pemilu 1999. Hasil
survei LP3ES itu dimuat hampir semua suratkabar nasional di bulan Mei 1999.
KPP-Lab Politik UI juga secara spesifik membuat jajak pendapat mengenai partai dan
calon presiden populer tahun 1999. Hasil jajak pendapat KPP-Lab Politik UI ini
dimuat di sejumlah media bulan April 1999.
Lembaga Periode Pengambilan Data Publikasi
RPC Desember-Januari Jakarta Post edisi 23 Januari 1999
IFES Desember 1998-Februari 1999 Pres release dan upload di internet
Maret 1999 ( www.ifes.og)
LP3ES Mei 1999 Pres release Mei 1999
Litbang Kompas
17-27 April 1999 Kompas, 12 Mei 1999
KPP-Lab Politik UI
April 1999 Pres release April 1999 dan berita
media bulan April 1999
Penilaian atas prediksi lembaga jajak pendapat ini didasarkan pada prediksi atas 7
partai politik dengan suara terbesar ( PDIP, Golkar, PKB, PPP, PAN dan PK).
Sementara prediksi atas 35 partai lain tidak diikutsertakan. Hal ini karena
(RPC, IFES, LP3ES, Litbang Kompas dan KPP-Lab Politik UI) tidak ada satu pun yang
melakukan prediksi perolehan suara dari 48 partai. Publikasi umumnya hanya 5 atau
7 partai dengan suara terbesar. Partai lain hanya dilaporkan dengan kategori partai
lainnya. Demi alasan keseragaman, supaya data bisa diperbandingkan, analisis
hanya dibatasi pada prediksi lembaga jajak pendapat atas 7 partai saja.
PREDIKSI LEMBAGA JAJAK PENDAPAT
Lima lembaga jajak pendapat tersebut berani membuat survei dengan berbagai
keterbatasannya. Bagaimana hasil jajak pendapat itu harus dinilai? Daniel Dhakidae,
ketua Litbang Kompas membuat ulasan yang bagus dan lengkap lembaga jajak
pendapat ini. 24 Bab ini hanya melengkapi tulisan Daniel Dhakidae tersebut dan
mengulas apa yang belum dipaparkan oleh Daniel Dhakidae dalam tulisannya
tersebut. Kriteria yang dipakai untuk menilai kualitas jajak pendapat adalah akurasi
dan presisi.
Di negara yang mempunyai tradisi panjang jajak pendapat (seperti Amerika atau
Eropa), lembaga jajak pendapat bukan lagi berkutat pada akurasi tetapi presisi.
Berbagai lembaga jajak pendapat umumnya bisa dengan tepat memprediksi siapa
partai atau presiden yang akan memenangkan Pemilu. Gengsi antar lembaga jajak
pendapat karenanya bukan diukur dari akurasi, tetapi seberapa kecil selisih antara
prediksi perolehan suara partai atau kandidat presiden dengan perolehan aktual
dalam Pemilu. Tetapi di negara dengan tradisi jajak pendapat yang pendek, seperti
Indonesia, masalah akurasi ini masih tetap menghantui lembaga jajak pendapat.
Tabel menyajikan data mengenai prediksi lembaga survei dan hasil aktual Pemilu
1999. Dari sudut presisi, kelima lembaga jajak pendapat itu telah benar memprediksi
PDIP sebagai pemenang Pemilu 1999. Di luar berbagai kesulitan, lembaga jajak
pendapat berhasil membuktikan bahwa jajak pendapat adalah alat yang terpercaya
untuk mengukur opini publik. Selain berhasil memprediksi PDIP sebagai pemenang
Pemilu, lembaga jajak pendapat ini juga secara keseluruhan menemukan adanya 5
partai besar dari 48 partai yang ikut dalam Pemilu---masing-masing PDIP, Golkar,
PKB, PPP dan PAN. Tetapi jika dilihat lebih ke dalam dari aspek akurasi ini, sebagian
besar lembaga jajak pendapat tidak berhasil meramalkan komposisi urutan
24 Lihat Daniel Dhakidae,” Pemilu, Ramalan dan Lembaga Jajak Pendapat,” Kompas,14
pemenang Pemilu. Dari lima lembaga jajak pendapat itu, hanya IFES yang berhasil
dengan akurat memprediksi 7 partai dengan urutan masing-masing dari partai
dengan perolehan suara besar ke kecil: PDIP, Golkar, PKB, PPP, PAN, PBB dan PK.
Sementara lembaga jajak pendapat lain gagal secara tepat memprediksi komposisi
pemenang ini. Survei RPC memprediksi PAN di urutan dua, disusul oleh PKB, Golkar,
PBB dan PK. KPP-Lap Politik UI juga menemukan komposisi Pemanang Pemilu yang
mirip dengan RPC, yakni PAN di urutan 2 partai dengan perolehan suara terbanyak.
Kesamaan dari dua survei ini adalah suara PAN yang besar, sementara suara PKB
dan Golkar lebih kecil. Sebaliknya, survei LP3ES menemukan suara PKB yang lebih
besar dari Golkar. LP3ES secara akurat berhasil memotret perolehan suara PPP dan
PAN yang lebih kecil dari PKB dan Golkar. Sementara survei Litbang Kompas, justru
menemukan suara PPP yang besar, lebih besar dari Golkar dan PKB. Tetapi survei ini
berhasil memprediksikan perolehan suara PBB dan PK yang tidak besar.
Selain komposisi pemenang Pemilu, lembaga jajak pendapat tahun 1999 ini juga
kurang berhasil dalam memotret perolehan suara masing-masing partai. Tabel itu
juga menyajikan skor kesalahan prediksi dari masing-masing lembaga jajak
pendapat dari tabel terlihat, hanya IFES dan L3ES yang mempunyai skor kesalahan
rata-rata prediksi di bawah 5 %. Skor kesalahan terbesar dicapai oleh KPP-Lab
Politik UI dengan kesalahan prediksi sebesar 9.31%. Jika dibandingkan dengan
Social Weather Stations di Filipina, maka kesalahan prediksi ini masing terbilang
tinggi. Apalagi jika dibandingkan dengan lembaga jajak pendapat seperti Gallup yang
rata-rata kesalahan prediksi di bawah 2%.
Hasil
Kesalahan Absolut Rata-Rata Survei RPC = 6.87
Hasil Survei
Aktual Pemilu Selisih IFES
PDIP 29 1 33.7 1 4.7
Kesalahan Absolut Rata-Rata Survei IFES= 4.23
Hasil Survei
Aktual Pemilu Selisih LP3ES
Kesalahan Absolut Rata-Rata Survei LP3ES = 4.62
Keterangan: Dalam publikasi di media, perolehan suara PBB dan PK digabung menjadi satu bersama dengan partai lain ( dengan label : partai lainnya). Jadi tidak diketahui secara persis perolehan suara untuk PBB dan PK. Kesalahan absolut rata-rata dihitung hanya dari 5 partai ( minus PBB dan PK).
Hasil Survei
Aktual Pemilu Selisih LITBANG KOMPAS
Kesalahan Absolut Rata-Rata Survei Litbang Kompas = 7.48
Keterangan: Perolehan suara PBB dan PK digabung oleh Litbang Kompas bersama partai lain dengan lebel: partai lainnya. Jadi tidak diketahui secara persis perolehan suara untuk PBB dan PK. Kealahan absolut rata-rata karenanya dihitung hanya dari 5 partai (minus PBB dan PK).
Hasil Survei
Aktual Pemilu Selisih KPP-LAB POLITIK
FISIP UI
% Posisi % Posisi %
PDIP 19.5 1 33.7 1 14.2
PKB 1.8 5-7 12.6 3 10.8
PPP 4 4 10.7 4 6.7
PAN 15.8 2 7.1 5 -8.7
PBB 2 1.9 6 -0.1
PK 3 5-7
1.4 7 -1.6
Kesalahan Absolut Rata-Rata Survei KPP-Lab Politik UI = 9.31
Meski tidak secara presisi memprediksi perolehan suara partai, apa yang sudah
dikerjakan oleh lembaga jajak pendapat tahun 1999, layak mendapat apresiasi.
Salah satu alasannya, di tengah aneka macam kesulitan dan keterbatasan ( baik
dana, uang maupun tenaga), lembaga jajak pendapat itutelah berhasil secara kurat
memprediksi partai Pemenang Pemilu. Usaha yang tidak mudah karena lembaga
jajak pendapat harus menemukan satu partai di tengah 48 partai yang ikut berlaga
dalam Pemilu 1999. Tetapi perlu penjelasan, kenapa lembaga jajak pendapat
berhasil secara akurat memprediksi pemenang Pemilu tetapi gagal dalam
memprediksi komposisi pemenang Pemilu. Faktor apa juga yang menyebabkan
lembaga jajak pendapat belum berhasil secara presisi menebak perolehan suara
masing-masing partai.
AKURASI
Lembaga jajak pendapat memang berhasil meramal PDIP sebagai pemenang Pemilu,
tetapi sebagian besar lembaga jajak pendapat ( kecuali IFES) salah dalam
memprediksi Golkar, PKB dan PAN. Ada dua kesalahan yang umum yang ditemukan
dalam hal prediksi komposisi pemenang Pemilu ini. Pertama, sejumlah lembaga jajak
pendapat yang memprediksi PAN akan menempati posisi atas dalam Pemilu 1999.
Padahal kenyataannya, PAN hanya menempati posisi 5 dari urutan partai pemenang
Pemilu. RPC dan KPP-Lab Politik UI misalnya memprediksi PAN akan menempati
posisi 2 di bawah PDIP. Yang menarik, jika RPC dan KPP-Lab Politik UI gagal
memprediksi posisi PAN, LP3ES dan Litbang Kompas berhasil memprediksi posisi
PAN, yang berada di kisaran posisi 4-5. Kedua, sejumlah lembaga jajak pendapat
juga gagal dalam meramal posisi Golkar. Di luar IFES, Golkar diprediksikan oleh
lembaga jajak pendapat itu berada di urutan 3 ke atas. Bahkan dalam survei RPC,
Golkar menempati pososi nomor 4. Bagaimana menjelaskan kesalahan ini?
Faktor penjelas yang paling mungkin diberikan adalah populasi dari masing-masing
lembaga jajak pendapat. Lembaga jajak pendapat di Indonesia menghadapi medan
di semua wilayah Indonesia. Ada partai yang sangat kuat di Jawa ( seperti PDIP dan
PKB).Tetapi ada partai yang justru sangat kuat di luar Jawa ( seperti Golkar dan
PPP). Dengan kondisi populasi yang luas itu, makin besar populasi dari lembaga
jajak pendapat, makin akurat pula lembaga jajak pendapat itu dalam memprediksi
komposisi pemenang Pemilu. Tidak mengherankan jikalau dalam prediksi Pemilu
1999 ini hanya IFES yang secara tepat memprediksi komposisi pemenang Pemilu.
IFES adalah satu-satunya lembaga jajak pendapat yang saat itu melakukan survei
secara nasional. Dari 27 provinsi yang ada saat itu, semua disurvei kecuali 5 provinsi
dengan alasan keamanan ( Timor Timur, Kalimantan Tengah dan Sulawesi Tengah)
serta alasan akses yang sulit ( Irian Jaya dan Nusa Tenggara Timur). Dengan
populasi tersebut, sampel IFES mencakup hampir 92% suara nasional. Dengan
populasi yang luas tersebut, tidak mengherankan jikalau IFES dengan akurat
memprediksi posisi Golkar yang masih berada di urutan dua di bawah PDIP.
Sejatinya, meski banyak digugat Golkar masih merupakan kekuatan yang signifikan
terutama di luar Jawa. Dengan populasi yang luas di luar pulau Jawa, IFES bisa
menangkap fenomena tersebut.
Hasil survei LP3ES juga memperkuat argumen bagaimana populasi yang diambil oleh
masing-masing lembaga jajak pendapat turut menentukan akurasi hasil jajak
pendapat. LP3ES hanya melakukan survei di Pulau Jawa. Jika dilihat data populasi
BPS, Pulau Jawa menyumbang 59% populasi, sementara wilayah luar Jawa 41%.
Lembaga jajak pendapat yang melakukan survei hanya di Pulau Jawa, mengabaikan
suara dari 41% populasi tersebut. Akibatnya suara Golkar yang besar justru diluar
Jawa juga tidak bisa diprediksikan oleh LP3ES. Sebaliknya, dengan populasi Jawa,
survei ini menemukan suara untuk PKB yang besar, berada diposisi 2 di bawah PDIP.
Hasil ini juga tidak terlampau mengherankan jikalau diingat partai dengan tokoh
Abdurrahman Wahid ini sangat kuat di pulau Jawa, utamanya Jawa Timur.
PK - -
Selain cakupan Jawa Luar Jawa, aspek penting dari populasi jajak pendapat adalah,
apakah mereka memasukkan masyarakat desa kota ataukah hanya masyarakat kota
saja. Jika kita menengok data populasi yang dikuarkan oleh BPS tahun 2000,
populasi masyarakat desa mencapai 58%, sedangkan masyarakat kota berjumlah
42% dari total populasi. Proporsi masyarakat desa dan kota ini memang banyak
mengalami pergeseran jika dibandingkan dengan data sensus BPS tahun 1990. Pada
tahun 1990, komposisi penduduk desa kota ini baru berjumlah 64% untuk
masyarakat desa dan 36% masyarakat kota. Kendati banyak mengalami perubahan
komposisi penduduk, fakta yang tidak bisa ditampik adalah masih banyaknya
penduduk Indonesia yang berada di desa. Lembaga jajak pendapat yang tidak
menyertakan masyarakat desa sebagai populasi, mengabaikan suara dari 58%
populasi. Dari lembaga jajak pendapat tahun 1999 ini, hanya IFES dan LP3ES saja
yang menyertakan masyarakat desa dan kota dalam kerangka populasinya.
Sementara Litbang Kompas, RPC dan KPP-Lab Politik UI hanya menyertakan
masyarakat kota saja.
Akibatnya akan terasa dalam ramalan berbagai lembaga jajak pendapat itu ketika
harus memprediksikan komposisi pemenang Pemilu. IFES dan LP3ES berhasil
memetakan fenomena Partai Amanat Nasional (PAN) sebagai partai kota. Partai ini
sangat kuat di masyarakat terpelajar di kota. Setelah kejatuhan Soeharto,
popularitas PAN dan Amien Rais memang meroket. Tetapi gegap gempita berita
mengenai Amien Rais hanya dirasakan oleh masyarakat perkotaan yang relatif
mudah dalam akses informasi. Sementara di kalangan masyarakat desa, dinamika
politik ini tidak berhasil diikuti. Tidaklah mengherankan jikalau survei RPC dan
KPP-Lab Politik UI menempatkan PAN di posisi 2 di bawah PDIP. Dalam jajak pendapat
KPP-Lab Politik UI, perolehan suara PAN bahkan terpaut beberapa angka saja dari
PDIP. Ketidakakuratan dalam memprediksi fenomana PAN sebagai partai kota, juga
diikuti dengan ketidakakuratan dalam memprediksi PKB sebagai partai desa. Karena
tidak menyertakan masyarakat desa yang menjadi basis suara PKB, dua lembaga
survei ini juga gagal meramal posisi PKB. Dalam jajak pendapat KPP-Lab Politik UI,
perolehan suara PKB bahkan diprediksi lebih kecil dari pada PBB dan PK. Sebaliknya,
LP3ES berhasil memprediksi fenomena PAN dan PKB karena menyertakan populasi
LEMBAGA POPULASI CAKUPAN
IFES Nasional, memasukkan 22
provinsi. Provinsi yang tidak disertakan dengan alasan teknis dan keamanan adalah Timor Timur, Irian Jaya, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah dan Nusa Tenggara Timur.
Menyertakan desa dan kota
Desa /kelurahan
LP3ES Seluruh Jawa Menyertakan
desa dan kota
Desa /kelurahan
Litbang Kompas
5 kota besar ( Jakarta, Medan, Surabaya, Bandung, dan
6 kota ( Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Banda Aceh, Medan dan Ujung Pandang)
Lembaga jajak pendapat di Indonesia dihadapkan pada populasi yang sedemikian
luas dan heterogen. Mengabaikan populasi yang heterogen itu akan berakibat pada
ramalan yang tidak akurat. Kenyataan ini bukan tidak disadari oleh lembaga jajak
pendapat. Tetapi mereka harus berkompromi dengan dana, waktu, dan tenaga.
Kalau populasi yang luas harus dicover, dibutuhkan banyak dana , tenaga dan
waktu. Pilihan yang kemudian diambil oleh sejumlah lembaga jajak pendapat itu
adalah mengambil sejumlah wilayah dengan pertimbangan metodologis tertentu.
Pilihan ini terbukti berhasil dalam memprediksi pemenang Pemilu (PDIP),
tetapikurang tepat dalam memprediksi komposisi pemenang Pemilu. Di luar
masalah populasi itu adalah soal jumlah sampel yang akan diambil. Aspek ini juga
sekali lagi bersinggungan dengan waktu, dana dan tenaga. Makin banyak sampel
yang diambil, maka makin banyak tenaga pewawancara, makin lama proses
pengumpulan data dan makin banyak uang harus dikeluarkan.
Secara teoritis, jumlah sampel berkaitan dengan presisi. Jumlah sampelmenentukan
berapa kesalahan yang terjadi karena pengambilan sampel ( sampling error). Hasil
suatu survei yang berdasarkan data sampel, harus selalu dibaca dengan
memperhitungkan besar kecilnya sampling error. Taruhlah misalnya atau survei
menemukan partai A mendapat 25 % suara, dimana sampling error survei itu
dibaca berada di interval ± 4 %. Atau berada di antara 21% -29%. Jika lembaga
jajak pendapat ingin agar hasilnya lebih mendekati kenyataan, maka angka sampling
error harus diperkecil. Misalnya dengan memakai sampling error 2%. Jika angka ini
yang dipakai, prediksi perolehan suara partai A berada di kisaran interval 23%-27%.
Tetapi memperkecil sampling error secara otomatis akan menambah jumlah sampel.
Besar kecilnya sampling error ini bisa ditentukan sebelum survei dikerjakan. Yang
perlu dicatat, persoalan jumlah sampel dan sampling error ini hanyalah satu soal
saja dari kesalahan yang mungkin timbul dalam pelaksanaan survei. Masalah yang
cukup pelik justru pada soal kesalahan di luar pengambilan sampel (non sampling
error),misalnya apakah wawancara telah dilakukan dengan benar,apakah pertanyaan
telah dibacakan cukup akurat, dan sebagainya.
Persoalan jumlah sampel dan akurasi ini akan terlihat ketika lembaga jajak pendapat
berusaha memprediksikan perolehan suara dari masing-masing partai. Lembaga
jajak pendapat bisa memprediksi PDIP, tetapi kesulitan ketika memprediksi suara
perolehan partai tengah ( PKB, PAN dan PPP). Hasil aktual Pemilu menunjukkan
selisih di antara ketiga partai itu tidak lebih dari 5%. Dengan selisih yang kecil
tersebut, lembaga jajak pendapat tidak cukup aman untuk menentukan mana yang
tertinggi perolehan suaranya di antara ketiga partai tersebut. Kesulitan ini terlihat
misalnya dalam survei RPC ketika harus memprediksi suara PK dan PBN karena
perbedaan suara yang relatif kecil. Atau dalam survei Litbang Kompas yang sukar
membedakan posisi antara PKB dan PAN. Yang menarik dari semua survei ini adalah
IFES. Lembaga survei ini (hanya) memakai sampel sebanyak 1.507. Meski jumlah
sampel ini tergolong kecil jika dibandingkan dengan lembaga jajak pendapat lain,
IFES ternyata berhasil memprediksi komposisi pemenang Pemilu. Ini membuktikan
sebetulnya jumlah sampel adalah soal sekunder dalam survei di Indonesia. Yang
menjadi soal primer adalah populasi yang luas dan teknik penarikan sampel yang
tepat. Jika hal ini bisa dikerjakan dengan benar, hasil dari sampel sejumlah 1.500
responden sudah cukup dalam memprediksi hasil Pemilu.
LEMBAGA TEKNIK PENARIKAN SAMPEL JUMLAH
SAMPEL
TEKNIK
WAWANCARA
RPC Stratified random sampling. Sampel
ditarik secara random dari 5 kota yang dipilih.
1.250 Wawancara langsung
IFES Multistage Random Sampling (MRS).
Sampel diambil secara random atas dasar provinsi, proporsi desa kota, dan
jenis kelamin.
LP3ES Multistage Random Sampling (MRS).
Sampel diambil secara random atas dasar provinsi, proporsi desa kota, dan jenis kelamin.
2.970 Wawancara langsung
Litbang Kompas
Multistage Random Sampling (MRS). Sampel diambil secara random menyertakan 52 kelurahan, 104 RW dan 208 RT.
1.500 Wawancara langsung
KPP-Lab Politik UI
Sampel diambil secara random dari Buku Petunjuk Telepon
2.000 Wawancara telepon
Sekarang kita akan meninjau lebih detil soal presisi dari lembaga jajak pendapat ini
dalam meramal hasil Pemilu 1999. Yang menarik dari ramalan perolehan suaraini
adalah lembaga jajak pendapat berhasil meramal dengan tepat perolehan suara dari
partai kecil ( di luar PDIP, PKB, PPP,Golkar dan PAN). Suara dari partai PBB dan PKS
bisa diramal dengan baik. Rata-rata kesalahan peramalan dari lima lembaga ini di
bawah 3%. PDIP dan Golkar juga bisa diramal dengan baik meski rata-rata
kesalahan masih di atas 5%. Lembaga IFES, LP3ES dan RPC berhasil meramal
perolehan suara partai Golkar dengan selisih di bawah 6%. Demikian juga dengan
perolehan suara PDIP yang berhasil diramal dengan baik oleh RPC, IFES, LP3ES dan
Litbang Kompas. Hanya KPP-Lab Politik UI yang gagal meramal dengan baik
perolehan suara PDIP dan Golkar. Ini ditandai dengan kesalahan absolut yang besar
( di atas 12%).
SELISIH KESALAHAN ( DEVIASI) LEMBAGA JAJAK PENDAPAT DALAM MERAMAL PEROLEHAN PARTAI
PARTAI
Keterangan: Rata-rata deviasi dihitung dari selisih rata-rata dari 5 lembaga dalam memprediksi perolehan masing-masing partai. Selisih positif (+)atau negatif (-) diabaikan.
Kalau PDIP dan Golkar relatif bisa diramal dengan selisih tidak begitu besar, tidak
demikian halnya dengan PKB, PPP dan PAN. Rata-rata kesalahan lima lembaga ini
sulit diramalkan. Lembaga RPC, IFES dan LP3ES meramalkan perolehan suara PKB
lebih besar dari yang aktual didapat saat Pemilu. Sebaliknya Litbang Kompas dan
KPP-Lab Politik UI meramalkan perolehan suara PKB di bawah dari yang berhasil
didapatkan PKB dalam Pemilu. Kesalahan paling besar dalam meramal PKB
dilakukan oleh LP3ES dengan selisih suara 12.4%. Yang menarik, kalau LP3ES gagal
dalam meramal perolehan suara PKB, lembaga ini justru sangat berhasil dalam
meramal perolehan suara PPP dan PAN. Tingkat kesalahan LP3ES dalam meramal
perolehan suara dua partai ini paling kecil dibandingkan dengan empat lembaga
jajak pendapat lain.
Alasan yang bisa diberikan untuk menjelaskan kesalahan dalam meramalkan
perolehan suara ini adalah soal sampel yang didapatkan masing-masing lembaga
jajak pendapat. Indonesia bukan hanya negeri dengan penduduk yang tersebar dari
ribuan pulau, tetapi juga berbeda dalam karakteristik sosial. Ada perbedaan yang
besar antara masyarakat yang berpendidikan tinggi dengan masyarakat
berpendidikan rendah. Ada jurang lebar antara masyarakat berpenghasilan tinggi
dengan rendah. Celakanya, karakteristik yang beragam itu menentukan pilihan
partai. Karena itu sampel yang didapatkan tidak hanya harus merepresentasikan
keragaman wilayah ( Jawa-Luar Jawa dan desa kota) tetapi juga harus merefleksikan
keragaman karakteristik sosial seperti tingkat pendidikan, pekerjaan, tingkat
penghasilan dan sebagainya. Cara paling mudah untuk mengecek apakah
sampeldari lembaga jajak pendapat representatif atau tidak adalah dengan
membandingkan apakah ciri-ciri karakter dari sampel (seperti pendidikan,
penghasilan, suku bangsa, pekerjaan dan sebagainya) identik atau tidak dengan
data populasi. Representasi ini penting karena ada partai yang kuat di satu kelompok
tertentu tetapi ada juga partai yang tidak kuat di kelompok masyarakat lain.
Berbagai survei ( diantaranya oleh IRI dan LSI) menunjukkan hanya PDIP dan Golkar
saja yang bisa disebut sebagai partai mirip miniatur Indonesia. Basis pendukung dari
dua partai ini kuat di segala segmen lapisan masyarakat (dari lapisan tinggi,
menengah atau rendah). Sementara partai lain ada yang sangat kuat di lapisan
menengah dan tinggi (seperti PAN), tetapi ada juga yang berakar dari lapisan
masyarakat bawag (seperti PKB). Karakter pemilih seperti itu mengakibatkan
lembaga survei harus mendapatkan sampel yang seakurat dan sedekat mungkin
masyarakat berpenghasilan dan berpendidikan tinggi misalnya, maka hasilnya akan
bias kepada partai dengan basis massa dari kelompok itu. Demikian juga sebaliknya.
LEMBAGA KARAKTER POPULASI
(BPS Tahun 2000-Tingkat
Keterangan: Survei RPC, KPP dan LP3ES seperti dpublikasikan di media tidak menyertakan profil pendidikan responden. Karena keterbatasan data, tidak bisa dinilai deviasi antara karakter populasi dan sampel.
Karakter pemilih semacam itu bisa menjelaskan kesalahan lembaga jajak pendapat
dalam meramalkan perolehan suara masing-masing partai. Golkar dan PDIP bisa
diramalkan dengan seleisuh tidak besar karena secara karakter pemilih kedua partai
ini memang terseber secara merata. Sampel yang bias ke kelompok masyarakat
tertentu misalnya tidak berakibat jauh kepada perolehan suara dari masing-masing
partai. Tetapi akan sangat terasa ketika lembaga jajak pendapat meramal terutama
PKB dan PAN. Kedua partai ini berbeda secara diametral. PKB didirikan oleh sejumlah
ulama Nahdatul Ulama dan didukung oleh massa NU yang tersebar di desa-desa
terutama Jawa. Sebaliknya PAN didirikan oleh sejumlah intelektual dan akademisi.
Basis massa PAN adalah warga perkotaan.
IFES dan Litbang Kompas meramal perolehan suara PKB lebih kecil dari yang
sebenarnya didapatkan PKB dengan selisih di atas 7%. Jika dilihat karakter sampel
kedua lembaga ini, memang agak bias kekelompok berpendidikan menengah.
Jumlah mereka yang berpendidikan rendah (lulus SD dan SMP atau di bawahnya)
mereka yang berpendidikan SMP atau di bawahnya ini adalah mayoritas, mencapai
79%. Sementara sampel Litbang Kompas, hanya 39%. Dengan jumlah sampel
berpendidikan rendah lebih sedikit, tidak mengherankan jikalau suara PKB mengecil
alam temuan lembaga jajak pendapat tersebut. Penjelasan karakter sampel ini
hanya salah satu penjelas. Untuk mendapatkan gambaran lebih jelas tentu saja perlu
tinjauan dan penelitian lebih mendalam. Karena penjelas ini juga tidak cukup
memuaskan untuk menjelaskan berbagai fenomena lain. Seperti suara PKB di survei
IFES. Meskipun karakter sampel berpendidikan rendah di IFES tidak proporsional