• Tidak ada hasil yang ditemukan

JAJAK PENDAPAT DAN PEMILU DI INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "JAJAK PENDAPAT DAN PEMILU DI INDONESIA"

Copied!
86
0
0

Teks penuh

(1)

JAJAK PENDAPAT DAN

PEMILU DI INDONESIA

Kinerja Lembaga Jajak Pendapat dalam Meramal

Hasil Pemilu 1999 dan 2004

LEMBAGA SURVEY INDONESIA (LSI)

(2)

JAJAK PENDAPAT DAN PEMILU DI INDONESIA :

Kinerja Lembaga Jajak Pendapat dalam Meramal

Hasil Pemilu 1999 dan 2004

Daftar Isi

Halaman

Pendahuluan

I Memprediksi Hasil Pemilu

II Pengalaman Gallup Poll dan Social Weather Stations

III Jajak Pendapat dan Ramalan Pemilu 1999

IV Jajak Pendapat dan Ramalan Pemilu 2004

V Kesulitan dan Tantangan Jajak Pendapat di Indonesia

VI Exit Poll dan Quick count

VII Jajak Pendapat Non Ilmiah

VIII Penutup

(3)

PENDAHULUAN

Pemilihan umum bukan hanya hari penentuan bagi partai politik tetapi juga bagi

lembaga jajak pendapat. Kami di Lembaga Survei Indonesia (LSI) kerap berkelakar,

Pemilu akan menjadi ajang apakah LSI akan lolos electoral treshold ataukah tidak.

Istilah ini kami pakai sekedar kelakar apakah ramalan jajak pendapat LSI mendekati

atau tidak dengan hasil aktual Pemilu 5 April lalu. Jika ramalan LSI gagal atau tidak

sesuai dengan kenyataan aktual Pemilu, tentu kredibilitas kami sebagai lembaga

jajak pendapat akan berkurang.

LSI sendiri melakukan jajak pendapat (survei) nasional tiap tiga bulan sekali untuk

merekam opini publik yang berkembang saat itu.Menghadapi Pemilu, selain survei

bulan Agustus dan November 2003, kami membuat survei nasional di bulan Maret

2004. Data lapangan dikumpulkan dari tanggal 8-20 Maret 2004. Tentu ada alasan

pokok kenapa kami melakukan wawancara lapangan mendekati hari Pemilu. Kami

ingin merekam pendapat publik sampai masa akhir menjelang hari pencoblosan.

Kami juga ingin mengetahui efek kampanye di kalangan pemilih. Wawancara

lapangan itu, dengan bantuan dan dedikasi pewawancara lapangan sebanyak 350

orang, bisa diselesaikan tepat waktu. Sekarang tinggal publikasi hasil jajak

pendapat itu.

Ketika memutuskan mempublikasikan hasil survei, kami diliputi perasaan was-was.

Sejumlah kolega menyarankan agar hasil survei itu disimpan dulu di laci meja,

menunggu hari Pemilihan. Publikasi hasil jajak pendapat menjelang hari pemilihan

rawan terhadap tuduhan mempengaruhi pemilih.1 Hasil jajak pendapat itu baru

dikeluarkan setelah pencobloan dan dipakai sekedar menjelaskan preferensi pemilih.

Sejumlah orang juga menyarakan agar menunda publikasi hasil, tetapi dengan

alasan menjada kredibilitas LSI. Sebagai lembaga yang baru berdiri ( pertengahan

tahun 2003), LSI sebaiknya tidak ikut meramalkan atau memprediksi hasil Pemilu.

Sebab jika gagal, orang tidak akan mempercayai lagi hasil jajak pendapat LSI.

1 Efek ini kerap disebut sebagai bandwagon effect. Secara sederhana efek ini dapat

(4)

Profesi pollster sendiri kerap disamakan dengan dokter. Kredibilitas seorang dokter

diukur dari apakah dokter bisa mendiagnosa dengan tepat penyakit seorang pasien.

Diagnosa yang baik akan menentukan obat dan jenis tindakan yang akan dilakukan

untuk penyembuhan. Pollster, lewat riset dan metode yang dipakai juga berusaha

untuk mendiagnosa ( merumuskan) pendapat masyarakat. Kredibilitas pollster dan

lembaga jajak pendapat akhirnya dikur dari apakah hasilnya sama taau tidak dengan

hasil Pemilu. Berbeda dengan survei pemasaran, survei politik bisa dengan mudah

hasilnya dikonfirmasi dengan hasil aktual Pemilu. Jika dalam jajak pendapat partai A

memenangkan Pemilu, publik dengan mudah akan menilai apakah hasil aktual

Pemilu juga menghasilan partai A sebagai pemenang.

Rasa was-was itu juga dipicu oleh perkembangan politik yang dinamis dan sukar

diprediksikan menjelang hari pencoblosan 5 April. Survei yang kami lakukan pada

bulan Agustus dan November 2003 secara konsisten menempatkan Golkar sebagai

pemenang Pemilu menggeser PDI Perjuangan. Survei sejenis sampai akhir tahun

2003 ( seperti yang dilakukan oleh CESDA-LP3ES, IRI, IFES, Balitbang PDIP) juga

menempatkan Golkar sebagai pemenang dengan angka cukup signifikan

meninggalkan PDIP. Tetapi menjelang kampanye bulan Maret 2004, partai Golkar

yang semula muncul dengan ide inovatif berupa konvensi, tampil kurang menggigit.

Sebaliknya, PDIP memanfaatkan kampanye Pemilu untuk memperbaiki citra dengan

konsolidasi besar-besar dan penayangan iklan yang masih di media massa.

Menjelang kampanye, politik Indonesia juga ditandai dengan kemunculan Partai

Demokrat, partai yang semula kurang diperhitungkan. Setelah pendiri Partai

Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono keluar dari kabinet, popularitas partai ini

tampak naik yang ditandai dengan kampanye Partai Demokrat yang selalu dihadiri

banyak simpatisan. Peristiwa politik yang dinamis itu membuat prediksi pemenang

Pemilu makin sulit dilakukan dibandingkan dnegan masa sebelum kampanye.

Kami akhirnya memutuskan mempublikasikan hasil jajak pendapat itu lewat sebuah

konferensi pers tanggal 2 April di Hotel Sari Pan Pasific, Jakarta.2 Publikasi itu tentu

bukan dimaksudkan untuk mempengaruhi pemilih. Kami memilih tanggal itu sebagai

bentuk pertanggungjawaban akademis kepada publik. Konferensi pers itu dimuat

oleh sejumlah suratkabar keesokan harinya, dan menjadi bahan laporan utama

2 Lihat materi konferensi pers 2 April 2004, Efek Kampanye dan Kemungkinan Perubahan

(5)

sebuah majalah berita. Lewat publikasi yang dekat dengan hari pencoblosan 5 April

itu, orang akan dengan mudah membandingkan hasil survei LSI itu dengan hasil

aktual Pemilu. Orang bisa menilai secara terbuka apakah ramalan LSI mendekati

atau tidak dengan kenyataan aktual Pemilu. Tentu ada perbedaan mendasar antara

ramalan yang dibuat oleh lembaga jajak pendapat dengan ramalan seorang

paranormal. Ramalan dari paranormal bersumber dari intuisi dan perasaan,

sementara lembaga jajak pendapat mendasarkan ramalannya pada riset dan data

lapangan.

Sama seperti politisi yang menunggu dengan perasaan berdebar apakah namanya

lolos atau tidak sebagai anggota DPR, kami juga menunggu hasil Pemilu itu dengan

perasaan berdebar. Hasil Pemilu yang diumumkan 5 Mei menunjukkan ramalan LSI

tepat. Ketepatan itu bukan hanya pada pemenang Pemilu dan komposisi pemenang

tetapijug prediksi perolehan suara yang tidak jauh berbeda dengan angka aktual

yang bisa dicapai partai politik. Ini bukan hanya keberhasilan LSI. Ini adalah

keberhasilan lembaga jajak pendapat di Indonesia.

Buku ini mendokumentasikan kinerja lembaga jajak pendapat dalam meramal hasil

Pemilu. Argumen yang diusung oleh buku ini, jika jajak pendapat dilakukan dengan

metode yang benar maka hasilnya bisa dengan tepat bisa memprediksi pemenang

Pemilu. Jajak pendapat di Indonesia bisa mengikuti jejak lembaga jajak pendapat di

negara-negara Barat yang telah menempati posisi penting karena terbukti tepat

dalam merekam opini publik. Buku ini disusun tentu saja tidak dimaksudkan sebagai

media gagah-gagahan. Buku ini hanya memberi ilustrasi dan gambaran bahwa jajak

pendapat bisa menjadi alat ukur yang terpercaya.

Jajak pendapat harus diakui masih barang baru di Indonesia. Tidak semua orang

percaya dengan jajak pendapat. Argumen yang sering dilontarkan mereka yang tidak

percaya dengan jajak pendapat adalah, metode ini hanya cocok di negara Barat dan

mustahil diterapkan di Indonesia. 3 Sejumlah orang bahkan acapkali melontarkan

penilaian miring terhadap lembaga jajak pendapat, seperti lembaga jajakpendapat

dibayar oleh partai A dengan sengaja untuk mendongkrak suara partai itu. Lembaga

jajak pendapat, kami tentu saja tidak bisa menghalangi penilaian seperti itu.

3 Politisi juga tidak mendasarkan kegiatan dan kebijakan berdasarkan hasil jajak pendapat.

(6)

Lembaga jajak pendapat justru harus membuktikan dirinya kepada publik, bahwa

hasil riset yang dilakukan bisa dengan tepat merekam opini publik. Buku ini hadir

diantaranya sebagai bukti bahwa jika dilakukan dengan benar, jajak pendapat bisa

dengan tepat merekam pendapat masyarakat. Buku ini pertama kali akan

menguaraikan pengalaman jajak pendapat dan Pemilu di negara lain, dalam hal ini

Amerika dan Filipina. Bagaimana di dua negara itu jajak pendapat telah menjadi alat

yang terpercaya untuk merekam pilihan masyarakat saat Pemilu. Dilanjutkan dengan

(7)

I.MEMPREDIKSI HASIL PEMILU

Pemilu adalah pertaruhan bagi lembaga jajak pendapat. Lewat Pemilu, publik bisa

menilai apakah ramalan lembaga jajak pendapat benar atau tidak. Pertanyaan

penting untuk diajukan adalah, apakah jajak pendapat perolehan suara Pemilu di

Indonesia bisa diandalkan? Apakah hasil jajak pendapat itu bisa memprediksikan

dengan tepat hasil Pemilu yang sesungguhnya?

JAJAK PENDAPAT PEMILU MASA ORDE BARU

Jajak pendapat terutama mengenai Pemilu adalah barang baru. Selama puluhan

tahun masa Orde Baru kegiatan ini bisa dikatakan mati. Memang ada beberapa

lembaga jajak pendapat yang mengadakan survei tentang berbagai hal. Tetapi tidak

ada yang berbicara tentang Pemilu. Sekurang-kurangnya ada dua alasan kenapa

kegiatan jajak pendapat mengenai Pemilu tidak berkembang semasa Orde Baru.

Pertama, kegiatan mengukur opini publik terutama yang berhubungan dengan

masalah politik masih tabu dilakukan, kalau tidak seseorang bisa dituduh

menggulingkan pemerintahan atau subversif. Pengalaman SUBURI. Jajak pendapat

mengenai politik adalah barang baru di Indonesia. Usaha untuk mengetahui

poendapat umum yang berkembang akan selalu dihalang-halangi.

Titik balik dari kemunduran jajak pendapat politik adalah peristiwa survei PT SUBURI

di tahun 1972. 4Lembaga survei ini didirikan tahun 1967. Sejarahnya, saat itu Sjarif

Thajib, Duta Besar Indonesia di Amerika, menyatakan perlunya lembaga riset di

Indonesia. Thajib tampaknya terpesona dengan suburnya lembaga penjaringan opini

publik ini di Amerika. Kesempatan itu datang ketika Asia Research Organization yang

berpusat di Manila menawarkan diri masuk dan menjalankan bisnis riset di

Indonesia. Masuknya SUBURI ke Indonesia juga dibantu oleh Panitia Penanaman

Modal Asing ( saat itu diketuai oleh Prof Sadli dari Universitas Indonesia ) yang

merasa di Indonesia perlu adanya biro riset. Meski baru berdiri, SUBURI mendapat

banyak proyek penelitian terutama dari lembaga dan departemen pemerintah serta

kedutaan asing. 5SUBURI misalnya mendapat kontrak penelitian dengan pemerintah

4 Tinjauan menarik mengenai kasus survei SUBURI dan survei lain sepanjang Orde Baru, lihat

Daniel Dhakidae,”Social Will, Political Demand and Public Opinion,” Makalah pada seminar Opini Publik dan Demokrasi yang diadakan oleh LP3ES, 23 Juni 1993

(8)

Jakarta tentang perbaikan kampung dan departemen penerangan mengenai TVRI.

Lembaga riset ini juga pernah membuat penelitian mengenai pendidikan dan

keluarga berencana dari pemerintah. Dinas Penerangan AS (USIS) telahd ua kali

memakai jasa PT SUBURI. Yang pertama soal pendapat pendengar radio Suara

Amerika dan kedua soal bacaan berbahasa Inggris yang dikeluarkan oleh USIS. 6

Lembaga ini mati untuk selamanya, setelah membuat survei mengenai politik di

tahun 1972. Survei politik sebenarnya bukan hal baru bari SUBURI. Sebelumnya, di

tahun 1969 lembaga ini pernah membuat Pre Election Survey (PES) dengan dana

dari BAKIN. Survei tahun 1972 yang menghebohkan itu ingin mengukur pendapat

masyarakat mengenai persoalan ekonomi dan sosial. Survei dilakukan di Jawa

Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur dan Jakarta. Ada 53 buah pertanyaan yang

diajukan, tetapi yang akhirnya menyulut kontroversi adalah pertanyaan nomor 38.

Pertanyaan itu berbunyi: “ Sekarang kami mohon sudilah Bapak memberi penilaian

pada beberap orang yang terhormat sebagai berikut tentang sifat-sifatnya dalam

menjalnkan kepemimpinan mereka, menilai pejabat tinggi tersebut dari 1 sampai 10.

Dengan catatan 1 terendah dan 10 tertinggi”. Nama-nama itu adalah 1. Gubernur

Jawa Bart Solihin, 2. Menteri Ekuin Sri Sultan Hamengkubuwono, 3. Presiden

Soeharto, 4. Jenderal Nasuition, 5. Gubernur Jakarta Ali Sadikin, 6. Menteri Luar

Negeri Adam Malik, 7. Direktur Utam Pertamina Ibnu Sutowo, 8. Menteri

Perdagangan Soemitro. Menurut pengakuan pengelola SUBURI, Soeharto

dicantumkan dalam urutan tiga karena dalam metodologi penelitian pertanyaan

harus oibyektif dan tidak memberi sugesti kepada responden. Karena itu tokoh yang

dianggap penting selalu ditempatkan pada tempat yang tidak mencolok. 7

Pertanyaan SUBURI itu tidak ada yang aneh dan tidak ada yang salah secara

metodologi. Tetapi ketika dinilai secara politik, pertanyaan itu dicurigai

macam-macam. Survei itu pertamakali dipersoalkan ketika tenaga peneliti lapangan yang

mewawancari penduduk di Semarang. Satuan Tugas Intelejen Kodam VII

menangkap tenaga pewawancara lapangan. Kodam VII di Semarang mencurigai

kegiatan survei itu sebagai spionase. 8 Menteri Dalam Negeri, Amirmachmud

6Tempo, 1 Juli 1972 7Tempo, 1 Juli 1972

8 Pejabat militer di Kodam VII mengatakan ada tiga macam bentuk kegiatan intelejen:

(9)

menuduh SUBRI melakukan tindakan subversi yang bisa mengganggu ketertiban dan

kemanan masyarakat. 9 Tidak begitu jelas, siapa yang membiayai penelitian ini.

Majalah Tempo yang mewawancari sejumlah sumber menegarai partai Golkar yang

menyewa PT SUBURI untuk melakukan penelitian tersebut. Karena riset ini, lembaga

ini ditutup dan dicabut ijinnya. Direkturnya, John M. Digregorio diminta angkat kaki

dari Indonesia. 10 Peristiwa survei SUBURI ini bukan hanya menutup perusahaan

riset tertua ini, tetapi juga menjadi sinyal matinya survei opini publik di Indonesia.

Penelitian mengenai masalah sosial dan politik menjadi sulit untuk dilakukan.

Kalaupun dilakukan, tidak menyentuh soal partai, Pemilu atau presiden kalau tidak

ingin dicap melakukan kegiatan subversi. Ijin melakukan survei juga diperketat.

Setelah kasus SUBURI, dan berlaku hingga masa Orde Baru, setiap penelitian harus

seizin Gubernur dan Laksus Kopkamtibda. Sebelum ijin keluar, Laksus Kopkamtibda

akan meneliti terlebih dahulu kegiatan penelitian dan instrumen yang dipakai. 11

Pasca jajak pendapat SUBURI, sangat sedikit survei atau jajak pendapat mengenai

politik di Indonesia. Sebagaian besar penelitian itu dilakukan untuk keperluan studi

di perguruan tinggi. Selain karena birokrasi penelitian, minimnya pengukuran opini

publik mengenai politik ini diperparah oleh sikap pemerintah dan pejabat yang tidak

senang kalau hasil kinerjanya dinilai. Apalagi kalau penelitian itu hasilnya buruk bagi

pemerintah. Kegiatan penelitian karena itu tidak dianggap sebagai cermin untuk

mengetahui kelemahan dan antisipasi langkah masa depan. Penelitian sebaliknya

acap dipandang menyebarluaskan keburukan kepada masyarakat. Selain survei

mengenai Pemilu, survei soal korupsi atau kemiskinan misalnya bisa dengan mudah

dituduh oleh pejabat pemerintah menyebarluaskan kebohongan kepada

masyarakat.12 Karena berbagai kendala itu, tidak mengherankan jikalau riset yang

SUBURI menjual hasil survei kepada negara blok Barat atau blok Timur. Tujuannya adalah

memata-matai Indonesia. Lihat Tempo, 17 Juni 1972

9Tempo, 1 Juli 1972; Tempo, 24 Juni 1972

10Tempo, 30 September 1972; Tempo, 14 Oktober 1972 11Tempo, 8 Juli 1972

12 Peristiwa unik mengenai ini adalah penelitian mengenai peta kemiskinan yang dibuat oleh

(10)

banyak berkembang semasa Orde Baru adalah survei non politik, seperti survei

pemasaran yang tumbuh sejak tahun 1970-an.

Alasan kedua kenapa jajak pendapat mengenai politik ( lebih spesifik Pemilu) lama

absen dikarenakan sifat Pemilu di Indonesia sendiri. Sepanjang Orde Baru, Golkar

muncul sebagai kekuatan mayoritas dengan suara di atas 70%. Karena itu, meramal

siapa pemenang Pemilu menjadi kegiatan yang sia-sia karena hasil Pemilu memang

sudah diketahui jauh sebelum Pemilu dilakukan. Pemilu masa Orde Baru juga

ditandai dengan mobilisasi besar-besaran untuk mendukung dan memenangkan

Golkar. Mobilisasi itu bisa formal (dengan mengerahkan dukungan birokrasi dan

dana) juga informal. Pemilu masa Orde Baru itu sendiri tidaklah benar-benar

merupakan Pemilu dalam arti sesungguhnya, karena memang sejak awal sudah

didesain untuk memenangkan Golkar. Pemilu itu juga diwarnai banyak kecurangan

dan pelanggaran yang tidak ditindaklanjuti. Melakukan jajak pendapat tentang

pemilu sama sekali tidak berguna, karena hasil jajak pendapat pasti tidak bisa

dibandingkan dengan hasil Pemilu.

JAJAK PENDAPAT PEMILU PASCA ORDE BARU

Kegiatan jajak pendapat mengenai Pemilu itu baru berkembang setelah Pemilu yang

demokratis tahun 1999. Jajak pendapat mengenai Pemilu makin marak pada Pemilu

2004. Kalau soal Pemilu relatif baru, kegiatan jajak pendapat untuk tema lain

sebenarnya sudah marak sejak tahun 1990-an. Lembaga Penelitian, Pendidikan dan

Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) sejak tahun 1992 aktif melakukan jajak

pendapat dengan berbagai tema. Sejumlah peneliti LP3ES mempelajari metode

jajak pendapat ini di beberapa lembaga jajak pendapat di Amerika dan Filipina. Topik

yang diangkat LP3ES pada tahap awal belum menyentuh politik, tetapi soal sosial

seperti kebebasan pers, komitmen nasional dan sebagainya. LP3ES juga

bekerjasama dengan beberapa media ( seperti majalah Tajuk ) membuat jajak

pendapat secara rutin dari berbagai isu aktual yang berkembang saat itu. Selain

LP3ES, Litbang Kompas juga lembaga yang bisa dicatat aktif melakukan jajak

pendapat sejak tahun 1990-an. Litbang Kompas mengangkat berbagai jajak

pendapat lewat telepon mengenai isu-isu kebijakan publik.

sendiri---seperti menghina atau memalukan daerah. Lihat mengenai kasus peta kemiskinan ini

(11)

LP3ES membuat jajak pendapat mengenai Pemilu sejak tahun 1997. Hasil jajak

pendapat itu memperoleh angka presisi yang baik. Dua tahun kemudian, LP3ES

membuat jajak pendapat dengan populasi wilayah Jawa.13 Di tahun 1999 ini, selain

LP3ES tercatat ada 3 lembaga jajak pendapat lain yang menyelenggarakan survei

mengenai Pemilu, yakni RPC (Resource Productivity Center), IFES (International

Foundation for Election Systems), Litbang Kompas dan Komite Pemberdayaan

Pemilih (KPP)-Lab Politik Fisip UI. RPC adalah lembaga yang bergerak dalam bidang

survei dan penelitian. Selain soal politik, RPC melakukan sejumlah jajak pendapat

lain dengan beragam tema. RPC juga menyelenggarakan riset pemasaran dan survei

khalayak di sejumlah media. IFES adalah lembaga nirlaba asal Amerika Serikat yang

mengkhususkan diri pada reformasi sistem Pemilu di banyak negara. Jajak pendapat

adalah salah satu lini kegiatan IFES selain kegiatan lain seperti diskusi rancangan

undang-undang Pemilu, pendidikan pemilih dan sebagainya.

Pada Pemilu 2004, lebih banyak lagi lembaga yang membuat jajak pendapat

mengenai Pemilu. Selama satu tahun (April 2003-Maret 2004) paling tidak ada 7

lembaga yang membuat jajak pendapat soal Pemilu. Selain LP3ES dan IFES, ada 5

lembaga baru yang membuat jajak pendapat yakni Badan Penelitian dan

Pengembangan PDIP Perjuangan (Balitbang PDIP), DRI (Danareksa Research

Institute), IRI (International Republican Institute), Lembaga Survey Indonesia (LSI),

dan Soegeng Sarjadi Syndicated. Balitbang PDIP adalah organ resmi dari PDIP yang

bertanggungjawab dalam melakukan kajian dan masukan kepada Dewan Pimpinan

Pusat PDIP. IRI adalah lembaga nirlaba yang menginduk pada partai Republik

Amerika. Sama seperti IFES, kegiatan survei adalah salah satu dari sejumlah

kegiatan IRI selain pendidikan politik, pemberdayaan pemilih.

Sementara DRI adalah badan di bawah Danareksa. Survei ini adalah bagian dari

survei lain yang dilakukan oleh DRI mengenai ekonomi. Meski sejak lama

menjalankan riset, survei mengenai politik baru dilakukan oleh DRI menjelang

Pemilu 2004. Lembaga baru lain adalah Soegeng Sarjadi Syndicated (SSS). Lembaga

ini didirikan tahun 1998 dan sejak 1999 melakukan jajak pendapat atas sejumlah isu

diantaranya soal etnis Tionghoa, Soeharto dan sebagainya. SSS pada awalnya

banyak bekerjasama dengan Laboratorium Ilmu Politik UI dalam menyelenggarakan

jajak pendapat. Pada Pemilu 2004, SSS melakukan seri jajak pendapat

(12)

untukmengukur sentimen publk. Total ada 8 jajak pendapat yang dilakukaan SSS

dari Mei 2002 hingga April 2004.14 Lembaga jajak pendapat lain yang baru adalah

LSI (Lembaga Survey Indonesia). LSI adalah lembaga yang mengkhususkan diri

pada survei opini publik di Indonesia. Lembaga ini baru didirikan pada pertengahan

tahun 2003, dan mulai melakukan survei nasional sejak Agustus 2003. Secara rutin,

LSI melakukan survei tiap tiga bulan sekali untuk merekam sentimen publik.

URGENSI RAMALAN PEMILU

Soal maramal hasil Pemilu adalah sesuatu yang krusial bagi lembaga jajak pendapat.

Kenapa? Kita bisa tengok pendapat tokoh jajak pendapat, George Gallup. Menurut

Gallup, jajak pendapat adalah upaya untuk mengetahui opini publik tetapi tidak

dilakukan dengan menanyakan kepada semua orang ( seperti halnya Pemilu atau

referendum). Opini publik itu diketahui lewat sejumlah orang yang dikenal sebagai

sampel. Teknik ilmiah dan metode statistik yang modern menurut Gallup bisa

menjamin bahwa sampel yang diambil representasi dengan suara semua anggota

masyarakat. Lembaga jajak pendapat tidak perlu bertanya kepada semua anggota

masyarakat, cukup mengambil sampel ( dengan dasar dan metode ilmiah), dan

hasilnya bisa mencerminkan suara seluruh masyarakat. Dengan sampel, menurut

Gallup, jajak pendapat bisa dilakukan tiap hari dengan biaya yang murah. Kita bisa

tahu suara publik dari hari ke hari. Pemerintah bisa mendapatkan informasi apa saja

masalah yang dikeluhkan oleh publik dengan data yang lebih akurat.15

Logika pemakaian sampel itu justru letak pangkal soalnya. Bagaimana kita yakin

bahwa sampel mewakili populasi? Bagaimana kita bisa yakin bahwa pendapat dari

2.000 orang responden sama dengan pendapat 147 juta pemilih Indonesia? Pemilu

adalah satu-satunya jalan bagi lembaga jajak pendapat untuk menguji akurasi dari

suatu sampel. Lewat Pemilu, lembaga jajak pendapat bisa membuktikan, bahwa

dengan metode penarikan sampel yang benar dan ketat, suara dari 2.000 orang

sama dengan suar 147 juta pemilih. Jika Pemilu adalah populasi (masyarakat yang

telah aktual menggunakan hak pilihnya), maka jajak pendapat adalah sampel (orang

yang dipilih sebagai sampel). Kalau prinsip acak (random) bekerja, kalau teknik

14 Wawancara Sukardi Rinakit, direktur eksekutif Soegeng Sarjadi Syndicated, 4 Mei 2004.

15 Lebih lanjur lihat George Gallup, “ Opinion Polling in a Democracy,” dalam Judith M.Tanur

(ed), Statistics: A Guide to the Unknown, Second Edition, California,Wadsworth & Brooks

(13)

penarikan sampel dilakukan secara ketat, seharusnya hasil sampel secara statistik

tidak berbeda jauh dengan populasi.

PEMILU JAJAK PENDAPAT

POPULASI SAMPEL

147 pemilih 1000-5000

responden

Di negara Barat, seperti Amerika, jajak pendapat Pemilu dipakai untuk membuktikan

kepada publik bahwa teknik penarikan sampel yang mereka pakai bisa

dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Buktinya, hasil survei mereka sama persis

dengan hasil Pemilu aktual. Di Indonesia, sampai saat ini masih banyak suara

sumbang mengenai akurasi lembaga jajak pendapat. Pemilu adalah kesempatan bagi

lembaga jajak pendapat untuk belajar sekaligus membuktikan kepada publik

Indonesia bahwa apa yang telah mereka kerjakan bisa dipertanggungjawabkan.

Caranya sederhana, bandingkan antar hasil jajak pendapat dengan hasil Pemilu.

Kalau hasilnya sama, maka metode yang yang dipakai oleh lembaga jajak pendapat

tersebut bisa dipertanggungjawabkan. Meski sederhana, cara itu mengandung resiko

yang berat. Lembaga yang gagal memprediksi pemenang Pemilu, bisa kehilangan

kredibilitasnya. Di Amerika bahkan kesalahan yang dibuat oleh lembaga jajak

pendapat sering berujung pada penghentian kegiatan jajak pendapat oleh lembaga.

Pertanyaan kemudian adalah, ukuran apa yang dipakai untuk menilai jajak pendapat

berhasil dan gagal? Kriteria apa yang bisa dipakai untuk memvonis apakah lembaga

jajak pendapat benar atau salah? Menurut Daniel Dhakidae, ada dua kriteria yang

bisa dipakai untuk menilai kualitas dari lembaga jajak pendapat yang memprediksi

hasil Pemilu. 16Pertama, akurasi, yakni sejauh mana lembaga jajak pendapat secara

benar memprediksi partai pemenang Pemilu dan komposisi peringkat pemenang

Pemilu. Akurasi berkaitan dengan benar tidaknya ramalan lembaga jajak pendapat

(correctness). Jika lembaga jajak pendapat memprediksi partai A yang

memenangkan Pemilu, maka ramalan itu baru bisa dianggap presisi jika hasil Pemilu

memang memposisikan partai A sebagai pemenang. Akurasi yang lebih baik jika

lembaga jajak pendapat bukan hanya bisa memprediksi partai A sebagai pemenang

16 Lihat Daniel Dhakidae,” Pemilu, Ramalan dan Lembaga Jajak Pendapat,” Kompas,14

(14)

tetapi juga bisa memprediksi urutan pemenang, dari partai A sampai E misalnya

masing-masing dengan urutan 1 sampai sekian.

Kedua, presisi. Jika akurasi berkaitan dengan correctness, maka presisi berkaitan

dengan ketepatan (exactness). Lembaga jajak pendapat dituntut bukan hanya tepat

dalam memprediksi pemenang Pemilu, tetapi juga memprediksi perolehan suara

masing-masing partai. Makin dekat ramalan perolehan partai dengan hasil perolehan

partai yang sebenarnya di Pemilu, maka makin bagus pula kinerja dari lembaga jajak

pendapat.

AKURASI PRESISI

Sejauh mana lembaga jajak pendapat bisa dengan tepat memprediksi pemenang Pemilu dan struktur (posisi) peringkat partai pemenang Pemilu

(15)

II. PENGALAMAN GALLUP POLL DAN

SOCIAL WEATHER STATIONS

Di Indonesia, masih banyak orang yang tidak percaya dengan jajak pendapat.

Pertanyaan yang kerap muncul adalah apakah suara dari sampel yang hanya 2.000

orang bisa menggambarkan suara pemilih di Indonesia yang mencapai 147 juta

orang? Apakah mungkin suara pemilih sebanyak itu bisa tergambar lewat sampel

yang hanya berjumlah ribuan saja. Kegiatan jajak pendapat lalu dipandang sebagai

usaha sia-sia, kalau tidak sebagai usaha buang-buang waktu. Jajak pendapat di

Indonesia belum dianggap sebagai alat ukur yang terpercaya untuk mengetahui

pendapat umum. Celakanya, ketidakpercayaan pada jajak pendapat ini bukan hanya

melanda masyarakat awam, tetapi juga akademisi atau politisi. Banyak diantara

mereka yang pernah mengecap pendidikan di luar negeri. Debat mengenai

jajakpendapat di Indonesia, acapkali bahkan diwarnai dengan perdebatan yang tidak

bermutu seperti siapa orang di belakang lembaga jajak pnedapat atau agenda apa

yang dibawa oleh lembaga jajak pendapat.

Jika di Indonesia orang masih berdebat apakah jajak pendapat bisa dipercaya atau

tidak, atau apakah sampel menggambarkan populasi atau tidak, di negeri Barat

perdebatan ini sudah usai sebelum perang Dunia II. Tidak pernah terdengar

pernyataan politisi atau akademisi yang meragukan atau tidak mempercayai jajak

pendapat. Bahkan karena percaya bahwa jajakpendapat adalah alat yang terpercaya

untuk mengukur pendapat umum, di Amerika jajakpendapat dianggap sebagai pilar

kelima demokrasi----setelah yudikatif, eksekutif, legislatif, dan pers. Kepercayaan

pada jajak pendapat ini memang tidak timbul satu malam. Kunci kepercayaan itu

adalah lembaga jajak pendapat sendiri yang berhasil membuktikan diri bahwa

metode dan alat yang mereka pakai akurat dan tepat. Di Indonesia masih banyak

orang mempertanyakan kebenaran jajakpendapat, mungkin karena belum banyak

bukti keberhasilan jajak pendapat dalam menggambarkan opini yang berkembang di

masyarakat.

GALLUP POLL

Gallup Poll acapkali dijadikan sebagai ukuran lembaga jajak pendapat yang berhasil.

(16)

secara presisi memproyeksikan perolehan suara presiden. Dari tahun 1936 hingga

2000, rata-rata selisih prediksi Gallup hanya berada pada kisaran angka 1.5 %.

17Artinya, jika Gallup memprediksikan kandidat A mendapat 40% suara, angka

sebenarnya ( hasil Pemilu) tidak lebih besar atau lebih kecil dari angka itu. Pada

tahun-tahun tertentu (seperti tahun 1972), selisih antara angka prediksi dan hasil

aktual hanya 0.2%. 18 Keberhasilan ini tidak terjadi pada satu malam. Setelah

melewati proses jatuh bangun, Gallup Poll bisa membangun suatu sistem yang

terpercaya dan bisa mengukur dengan valid opini publik yang berkembang di

Amerika.

Gallup Poll berdiri tahun 1930-an. 19Saat itu lembaga ini terbilang kecil bahkan tidak

dikenal. Lembaga jajak pendapat yang dikenal saat itu adalah majalah Literary

Digest. Majalah ini hanyakah salah satu dari sekian puluh media yang menjamur

dengan kegiatan jajak pendapat. Media yang melakukan jajak pendapat bisa

terangkat gengsinya, apalagi kalau berhasil meramal dengan benar siapa presiden

Amerika. Tetapi prinsip statistik modern dengan pemakaian sampel probabilitas

belum dikenal luas saat itu. Lembaga jajak pendapat di tahun-tahun itu berpikir

linear, semakin banyak orang yang diwawancarai maka semakin baik. Lembaga jajak

pendapat lalu berlomba membuat jajak pendapat dengan jumlah sampel puluhan

juta orang. Gengsi lembaga jajak pendapat bahkan diukur dari berapa banyak orang

yang berhasil diwawancarai atau memasukkan jawabannya. Karena banyaknya suara

yang masuk itu, jajak pendapat ini sering dikenal sebagai pemilihan tidak resmi

(straw vote).

Majalah Literary Digest sendiri adalah lembaga yang paling menonjol era ini karena

dikenal mampu menghimpun suara puluhan juta. Lembaga ini memulai jajak

pendapat dari tahun 1916. Pada tahun 1920, Literary Digest memakai 11 juta suara.

17 Lihat Herbert F Weisberg, John A. Krosnick and Bruce D. Bowen, An Introduction to Survey

Research, Polling and Data Analysis, Third Edition, Thousand Oaks, California, Sage Publication, 1996, hal. 151

18 Memang Gallup Poll pernah membuat kesalahan prediksi, tetapi kesalahan itu masih bisa

dimaafkan. Yang paling terkenal adalah pemilihan tahun 2000 lalu. Gallup memprediksi Gore yang menang, padahal yang menang adalah George W. Bush. Tetapi kesalahan ini dimaafkan

karena basis jajak pendapat Gallup adalah popular vote, bulan electoral vote. Dan memang

kalau dilihat perolehan suara nasional (popular vote), Gore mendapat suara lebih besar dari

Bush.

19 Profil dan sejarah Gallup ( dan sejumlah organisasi jajak pendapat besar di Amerika) lihat

David W.Moore, The Superpollster:How They Measure and Manipulate Public Opinion in

(17)

Angka ini bertambah di tahun 1920 dengan 16.5 juta suara. Sampai tahun 1932,

Literary Digest selalu akurat memprediksi siapa pemenang Pemilu di Amerika.

Ramalan yang benar ini bukan hanya membuat citra Literary Digest makin bagus

tetapi juga mendorong Digest untuk menambah jumlah suara yang ikut menjawab

presiden pilihan. Tetapi sebuah musibah menimpa Literary Digest pada tahun

1936.20 Digest salah memprediksi kemenangan presiden yang membuat majalah ini

menghentikan kegiatan jajak pendapat untuk selamanya. Saat itu ada dua calon

yakni Alfred M.Landon ( Republik) dan Franklin D.Roosevelt (Demokrat). Literary

Digest memprediksi Alfred M.Landon yang memenangkan Pemilu. Pemilu

sesungguhnya justru Roosevelt yang menang. Kenapa Digest bisa mengalami

kesalahan prediksi padahal sampel yang dipakai mencapai 10 juta orang? Kesalahan

utama Literary Digest adalah pada teknik pengambilan sampel. Sampel Digest

diambil dari buku telepon dan pendaftaran mobil---semacam STNK.Tahun 1936 di

Amerika ditandai dengan masa malaise, dengan pengangguran yang tinggi.Lebih

banyak orang yang yang tidak makmur dibandingkan dengan warga yang

berkecukupan. Mereka ini diabaikan dalam jajak pendapat Literary Digest.

Akibatnya, suara publik yang miskin yang lebih condong memilih Roosevelt tidak

bisa diprediksikan oleh Digest.

Kesalahan Digest ini membawa efek sampingan. Ahli jajak pendapat mulai

memikirkan teknik statistik yang bisa dipakai untuk meramalkan suara pemilih.

Kegagalan Digest itu juga membuat publik Amerika mulai terbiasa dengan satu

nama, Gallup Poll. Lembaga dengan pendiri George Gallup ini, sama sekali

tenggelam di bawah kebesaran nama Literary Digest. Di tahun 1936 itu, ketika

Digest salah memprediksi, Gallup justru berhasil memprediksi kemenangan

Roosevelt. Yang dilakukan Gallup saat itu adalah membuat sampel yang menjamin

tercapainya reporesentasi dengan memperhitungkna terlebih dahulu proporsi untuk

partai Demokrat dan Republik. Keberhasilan Gallup ini membuat publik Amerika

mulai menoleh kepada lembaga-lembaga baru. Selain Gallup, nama lain yang

muncul saat itu adalah Ropper dan Crosley. Pemilihan presiden Amerika tahun 1940

dan 1944 juga berhasil diprediksikan oleh Gallup dan lembaga jajak pendapat baru

ini.

20 Analisis lebih terperinci mengenai peristiswa tahun 1936 ini lihat Mervin D.Field,”Political

Opinion in The United States of America,” dalam Robert M.Worcester (ed), Political Opinion

(18)

Tabel : Ramalan Gallup dan Hasil Pemilu Aktual di AS 1972-2000

TAHUN Kandidat Survei

Gallup

Rata-rata kesalahan Gallup Poll 1960-2000 = 1.5

Tetapi lembaga jajak pendapat ini mengalami ujian berat, ketika tahun 1948 kembali

mengalami kegagalan seperti halnya yang terjadi di tahun 1936. Saat itu dua

kandidat yang bertarung memperebutkan kursi presiden adalah Harry S. Truman

(Demokrat) dan Thomas E. Dewey (Republik). Semua lembaga jajak pendapat

(Gallup, Ropper dan Crosley) memprediksi Thomas E. Dewey yang akan

memenangkan pemilihan. Kenyataannya, Truman menang atas Dewey dengan

selisih suara 5 persen. Kesalahan itu sangat memalukan karena suratkabar yang

terbit di hari pemilihan memuat analisis dan prediksi lembaga jajak pendapat yang

(19)

kedua setelah tahun 1936. Kepercayaan publik makin turun terhadap jajak

pendapat.

Untungnya, kejadian tahun 1948 itu tidak diikuti dengan pembubaran secara massal

lembaga jajak pendapat seperti terjadi di tahun 1936. Lembaga jajak pendapat

seperti Gallup mulai menerapkan prionsip probabilitas dalam pengambilan sampel.

Dengan prinsip probabilitas ini, sampel yang diambil lebih terjamin derajat

representasinya. Lewat pengambilan sampel yang ketat, lembaga jajak pendapat

tidak perlu mewawancarai puluhan atau ratusan ribu orang. Cukup dengan sampel

sebanyak 2.000 hingga 5.000 orang asal diambil secara acak (random) dan dengan

prinsip pengambilan sampel benar, hasilnya bisa menggambarkan suara pemilih.

Sejak 1948 itu, kesalahan prediksi lembaga jajak pendapat menjadi lebih kecil.

Lembaga jajak pendapat bukan hanya berhasil memprediksikan siapa yang akan

memenangkan Pemilu tetapi juga memprediksi dengan tepat berapa perolehan suara

masing-masing kandidat. Sehingga muncul adagium, presiden di Amerika sudah

diketahui sebelum rakyat Amerika datangke biliksuara dan menentukanpresiden

pilihan mereka.

SOCIAL WEATHER STATIONS

Tidak benar kalau dikatakan jajak pendapat ini hanya cocok di negara maju. Jajak

pendapat asal dilakukan dengan hati-hati bisa memprediksi hasil Pemilu seperti

halnya di Amerika. Kita bisa mengacu kepada jajak pendapat yang dilakukan oleh

lembaga Social Weather Stations (SWS) di Filipina.

Perlu dicatat, kegiatan jajak pendapat dan prediksi pemenang Pemilu mempunyai

tradisi yang panjang di Filipina. Sejak tahun 1946, kegiatan ramal meramal siapa

pemenang Pemilu lewat jajak pendapat ini sudah dikenal oleh publik Filipina. Tetapi

baiknya, Ferdinand Marcos di tahun 1972 membuat kegiatan jajakpendapat ini

praktis terhenti. Filipina mengalami era baru sistem otoriterisme dimana segala hal

yang berbau politik dan berurusan dengan negara dilarang. Tumbangnya Marcos di

tahun 1983, membuat kegiatan jajak pendapat yang pernah tenggelam kembali

muncul ke permukaan. Social Weather Stations lahir pada era ini. Lembaga ini

berdiri tahun 1985 sebagai organisasi non profit dan non partisan. Kegiatan

utamanya adalah membuat survei dengan metode statistik modern isu-isu nasional

(20)

publik atas kondisi sosial, ekonomi dan politik. Sejak tahun 1992, lembaga ini

membuat jajak pendapat pemilihan presiden, dan secara tepat memprediksi

pemenang Pemilu. 21

Pemilihan presiden di Filipina sendiri mempunyai sistem yang unik. Presiden dan

wakil presiden dipilih secara langsung tiap enam tahun sekali. Berbeda dengan di

Indonesia dimana presiden dan wakil presiden merupakan pasangan satu paket, di

Filipina presien dan wakil presiden dipilih secara terpisah. Bisa terjadi kemungkinan,

presiden dan wakil presiden berasal dari partai yang berbeda. Selain Pemilu untuk

memilih presiden dan wakil presiden, Pemilu juga dilakukan untuk memilih 24

anggota senat (senator). Berbeda dengan di Indonesia atau Amerika dimana

senator berasal dari daerah pemilihan tertentu, di Filipina tidak dikenal daerah

pemilihan atau senator dari negara bagian tertentu. Calon anggota senat bersaing

secara nasional memperebutkan 24 kursi. Karena itu jajak pendapat untuk

meramalkan siapa anggota senat yang lolos relatif sulit. Meski demikian, SWS

terbukti berhasil meramal dengan tepat pemenang Pemilu di Filipina semenjak tahun

1992. Di tahun 1992 lembaga ini juga bisa memprediksi Fidel Ramos sebagai

presiden dan tahun 1998 dengan presiden Joseph Estrada. Pemilihan anggota senat

di tahun 1987, 1992, 1995, 1998 dan 2001 juga telah dapat diprediksi oleh SWS

satu minggu sebelum hari pemungutan suara. 22

Dalam setiap surveinya, SWS memakai sampel sebesar 1.000 responden. Jumlah

sampel sebesar ini cukup untuk memprediksi suara pemilih Filipina yang berjumlah

sekitar 23 juta suara. Medan yang dihadapi oleh SWS hampir mirip dengan di

Indonesia, dimana lembaga jajak pendapat dihadapkan pada populasi yang

heterogen dengan suku bangsa yang beraneka, dan jenjang sosial pendidikan yang

berlainan pula. Prediksi SWS bukan hanya akurat tetapi juga presisi. Rata-rata

kesalahan prediksi SWS hanya berkisar pada angka 2.5%. Kebenaran prediksi SWS

21 Mengenai SWS dan sejarah jajak pendapat di Filipina, lihat tulisan Linda Luz Guerrero and

Mahar Mangahas, Opinion Polling in the Philippines:An Encyclopedia Article,Occasional Paper,

SWS 2002. Makalah ini tersedia dalam situs SWS, http://www. sws.org.ph.

22 Tinjauan umum mengenai survei SWS dan Pemilu di Filipina lihat Mahar Mangahas, Linda

Guerrero and Geraldo Sandoval, Opinion Polling and National Elections in The

(21)

ini turut membuat bukan hanya pamor SWS naik tetapi juga kepercayaan publik

terhadap jajak pendapat. 23

Tabel:Prediksi SWS dan Hasil Aktual Pemilu di Filipina Tahun 1992-1998

Hasil

Survei (26 April-4 Mei)

Aktual Pemilu Selisih PRESIDEN 1992

Kesalahan Absolut Rata-Rata Survei SWS= 2.4 Hasil

Survei (26 April-4 Mei)

Aktual Pemilu Selisih WAKIL PRESIDEN

Kesalahan Absolut Rata-Rata Survei SWS= 1.2 Hasil

Survei (2-4 Mei)

Aktual Pemilu Selisih PRESIDEN 1998

Kesalahan Absolut Rata-Rata Survei SWS= 2.2

23 Sebuah survei yang pernah dilakukan oleh SWS membuktikan kepercayaan publik Filipina

atas jajak pendapat. Lima dari enam warga Filipina percaya bahwa prediksi pemenang Pemilu yang dilakukan oleh lembaga jajak pendapat selalu benar.Lebih dari itu publik di Filipina juga percaya bahwa sampel 1.000orang yang diambil secara tepat dapat merefleksikan seluruh populasi.Lihat Linda Luz Guerrero and Mahar Mangahas,”Polling About Polls in the

Philippines,”Social Weather Bulletin, No.9-10,Mei 1997. Artikel ini tersedia dalam situs SWS,

(22)

Hasil

Survei (2-4 Mei)

Aktual Pemilu Selisih WAKIL PRESIDEN

1998

% Rank % Rank %

Arroyo 42 1 49.6 1 -7.6

Angara 18 2 22.1 2 -4.1

Orbos 10 4 13 3 -3

Osmena 11 3 9.2 4 1.8

Tatad 2 5 2.9 5 -0.9

Sueno 2 6 2.1 6 -0.1

Santiago 2 7 0.9 7 1.1

(23)

III. JAJAK PENDAPAT

DAN RAMALAN PEMILU 1999

Pemilu 1999 adalah tantangan pertama bagi lembaga jajak pendapat di Indonesia.

Inilah untuk pertama kalinya, sejak tahun 1955 diadakan Pemilihan Umum secara

terbuka dan demokratis. Jika disebut tantangan, paling tidak karena dua alasan

berikut. Pertama, pada Pemilu tahun 1999 itu sebanyak 48 partai politik bersaing

secara terbuka memperebutkan pemilih. Dengan jumlah partai sebanyak itu, peta

politik menjadi sangat terfragmentasi (tersebar). Lembaga jajak pendapat

dihadapkan pada pilihan untuk meramal partai pemenang Pemilu dari partai

sebanyak itu. Ini ditambah dengan tidak adanya peta awal kekuatan politik yang

ada. Hasil Pemilu sebelum 1999 sama sekali tidak bisa dijadikan dasar dan patokan

untuk meramal hasil Pemilu. Kedua, lembaga jajak pendapat bukan hanya

dihadapkan pada kelangkaan peta partai politik, tetapi juga kelangkaan dalam

standar survei di Indonesia. Seperti telah disinggung di muka, kegiatan jajak

pendapat selama Orde Baru terutama mengenai Pemilu bisa dikatakan mati.

Lembaga jajak pendapat tidak punya data pembanding bagaimana melakukan jajak

pendapat di wilayah yang sedemikian luas sedemikian terbagi dalam struktur

sosiologis yang berbeda pula.

Fakta menunjukkan, lembaga jajak pendapat di Indonesia bisa melewati dua

hambatan tersebut. Meskipun kegiatan jajak pendapat relatif baru, hasil dari

lembaga jajak pendapat itu sangat menggembirakan dan mengangumkan. Lembaga

jajak pendapat berhasil memprediksi dengan benar pemenang Pemilu tahun 1999.

Saat Pemilu tahun 1999 itu, paling tidak ada lima lembaga yang mengadakan jajak

pendapat mengenai Pemilu---masing-masing RPC (Resource Productivity Center),

IFES (International Foundation for Election Systems), LP3ES (Lembaga Penelitian,

Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial), Litbang Kompas dan Komite

Pemberdayaan Pemilih (KPP)-Lab Politik Fisip UI.

RPC melakukan survei bulan Desember 1998-Januari 1999. Lembaga ini melakukan

kerjasama dengan harian The Jakarta Post dan mempublikasikan hasil survei di

suratkabar berbahasa Inggris tersebut. Survei RPC tidak secara langsung

menanyakan pilihan partai. Survei itu lebih dimaksudkan untuk mengetahui

(24)

seperti dwi fungsi ABRI. Hasil survei RPC itu dimuat (secara ekskusif) di harian The

Jakarta Post edisi 23 Januari 1999. IFES melakukan survei bulan Desember

1998-Februari 1999. Survei yang dilakukan oleh IFES juga tidak secara spesifik

sebenarnya ingin mengetahui perolehan suara masing-masing partai. Survei itu ingin

menggali pandangan publik mengenai situasi nasional saat ini, arti dan pengetahuan

publik mengenai Pemilu serta penilaian atas kinerja lembaga negara dan lembaga

penyelenggara Pemilu. Di luar itu, IFES menanyakan pengetahuan mengenai partai

peserta Pemilu dan penilaian atas partai.

Jika RPC dan IFES tidak secara spesifik menanyakan partai pilihan, sebaliknya

Litbang Kompas, LP3ES dan KPP-Lab Politik UI melakukan survei untuk mengetahui

popularitas dan kekuatan partai. Survei Litbang Kompas dilakukan pada 17-27 April.

Hasil survei itu dimuat di harian Kompas tanggal 12 Mei 1999. Survei ini adalah

bagian dari jajak pendapat yang dilakukan oleh Litbang Kompas menjelang Pemilu

1999. Sejak pertengahan 1998, Litbang Kompas melakukan jajak pendapat lewat

telepon mengenai berbagai hal soal Pemilu seperti persiapan Pemilu, pengetahuan

mengenai Pemilu, isu penundaan Pemilu dan sebagainya. Khusus mengenai prediksi

Pemilu ini, Litbang Kompas tidak melakukan lewat telepon tetapi melakukan

wawancara secara langsung ( face to face) di lima kota. LP3ES juga melakukan

survei untuk memprediksi kekuatan partai politik menjalang Pemilu 1999. Hasil

survei LP3ES itu dimuat hampir semua suratkabar nasional di bulan Mei 1999.

KPP-Lab Politik UI juga secara spesifik membuat jajak pendapat mengenai partai dan

calon presiden populer tahun 1999. Hasil jajak pendapat KPP-Lab Politik UI ini

dimuat di sejumlah media bulan April 1999.

Lembaga Periode Pengambilan Data Publikasi

RPC Desember-Januari Jakarta Post edisi 23 Januari 1999

IFES Desember 1998-Februari 1999 Pres release dan upload di internet

Maret 1999 ( www.ifes.og)

LP3ES Mei 1999 Pres release Mei 1999

Litbang Kompas

17-27 April 1999 Kompas, 12 Mei 1999

KPP-Lab Politik UI

April 1999 Pres release April 1999 dan berita

media bulan April 1999

Penilaian atas prediksi lembaga jajak pendapat ini didasarkan pada prediksi atas 7

partai politik dengan suara terbesar ( PDIP, Golkar, PKB, PPP, PAN dan PK).

Sementara prediksi atas 35 partai lain tidak diikutsertakan. Hal ini karena

(25)

(RPC, IFES, LP3ES, Litbang Kompas dan KPP-Lab Politik UI) tidak ada satu pun yang

melakukan prediksi perolehan suara dari 48 partai. Publikasi umumnya hanya 5 atau

7 partai dengan suara terbesar. Partai lain hanya dilaporkan dengan kategori partai

lainnya. Demi alasan keseragaman, supaya data bisa diperbandingkan, analisis

hanya dibatasi pada prediksi lembaga jajak pendapat atas 7 partai saja.

PREDIKSI LEMBAGA JAJAK PENDAPAT

Lima lembaga jajak pendapat tersebut berani membuat survei dengan berbagai

keterbatasannya. Bagaimana hasil jajak pendapat itu harus dinilai? Daniel Dhakidae,

ketua Litbang Kompas membuat ulasan yang bagus dan lengkap lembaga jajak

pendapat ini. 24 Bab ini hanya melengkapi tulisan Daniel Dhakidae tersebut dan

mengulas apa yang belum dipaparkan oleh Daniel Dhakidae dalam tulisannya

tersebut. Kriteria yang dipakai untuk menilai kualitas jajak pendapat adalah akurasi

dan presisi.

Di negara yang mempunyai tradisi panjang jajak pendapat (seperti Amerika atau

Eropa), lembaga jajak pendapat bukan lagi berkutat pada akurasi tetapi presisi.

Berbagai lembaga jajak pendapat umumnya bisa dengan tepat memprediksi siapa

partai atau presiden yang akan memenangkan Pemilu. Gengsi antar lembaga jajak

pendapat karenanya bukan diukur dari akurasi, tetapi seberapa kecil selisih antara

prediksi perolehan suara partai atau kandidat presiden dengan perolehan aktual

dalam Pemilu. Tetapi di negara dengan tradisi jajak pendapat yang pendek, seperti

Indonesia, masalah akurasi ini masih tetap menghantui lembaga jajak pendapat.

Tabel menyajikan data mengenai prediksi lembaga survei dan hasil aktual Pemilu

1999. Dari sudut presisi, kelima lembaga jajak pendapat itu telah benar memprediksi

PDIP sebagai pemenang Pemilu 1999. Di luar berbagai kesulitan, lembaga jajak

pendapat berhasil membuktikan bahwa jajak pendapat adalah alat yang terpercaya

untuk mengukur opini publik. Selain berhasil memprediksi PDIP sebagai pemenang

Pemilu, lembaga jajak pendapat ini juga secara keseluruhan menemukan adanya 5

partai besar dari 48 partai yang ikut dalam Pemilu---masing-masing PDIP, Golkar,

PKB, PPP dan PAN. Tetapi jika dilihat lebih ke dalam dari aspek akurasi ini, sebagian

besar lembaga jajak pendapat tidak berhasil meramalkan komposisi urutan

24 Lihat Daniel Dhakidae,” Pemilu, Ramalan dan Lembaga Jajak Pendapat,” Kompas,14

(26)

pemenang Pemilu. Dari lima lembaga jajak pendapat itu, hanya IFES yang berhasil

dengan akurat memprediksi 7 partai dengan urutan masing-masing dari partai

dengan perolehan suara besar ke kecil: PDIP, Golkar, PKB, PPP, PAN, PBB dan PK.

Sementara lembaga jajak pendapat lain gagal secara tepat memprediksi komposisi

pemenang ini. Survei RPC memprediksi PAN di urutan dua, disusul oleh PKB, Golkar,

PBB dan PK. KPP-Lap Politik UI juga menemukan komposisi Pemanang Pemilu yang

mirip dengan RPC, yakni PAN di urutan 2 partai dengan perolehan suara terbanyak.

Kesamaan dari dua survei ini adalah suara PAN yang besar, sementara suara PKB

dan Golkar lebih kecil. Sebaliknya, survei LP3ES menemukan suara PKB yang lebih

besar dari Golkar. LP3ES secara akurat berhasil memotret perolehan suara PPP dan

PAN yang lebih kecil dari PKB dan Golkar. Sementara survei Litbang Kompas, justru

menemukan suara PPP yang besar, lebih besar dari Golkar dan PKB. Tetapi survei ini

berhasil memprediksikan perolehan suara PBB dan PK yang tidak besar.

Selain komposisi pemenang Pemilu, lembaga jajak pendapat tahun 1999 ini juga

kurang berhasil dalam memotret perolehan suara masing-masing partai. Tabel itu

juga menyajikan skor kesalahan prediksi dari masing-masing lembaga jajak

pendapat dari tabel terlihat, hanya IFES dan L3ES yang mempunyai skor kesalahan

rata-rata prediksi di bawah 5 %. Skor kesalahan terbesar dicapai oleh KPP-Lab

Politik UI dengan kesalahan prediksi sebesar 9.31%. Jika dibandingkan dengan

Social Weather Stations di Filipina, maka kesalahan prediksi ini masing terbilang

tinggi. Apalagi jika dibandingkan dengan lembaga jajak pendapat seperti Gallup yang

rata-rata kesalahan prediksi di bawah 2%.

Hasil

Kesalahan Absolut Rata-Rata Survei RPC = 6.87

Hasil Survei

Aktual Pemilu Selisih IFES

(27)

PDIP 29 1 33.7 1 4.7

Kesalahan Absolut Rata-Rata Survei IFES= 4.23

Hasil Survei

Aktual Pemilu Selisih LP3ES

Kesalahan Absolut Rata-Rata Survei LP3ES = 4.62

Keterangan: Dalam publikasi di media, perolehan suara PBB dan PK digabung menjadi satu bersama dengan partai lain ( dengan label : partai lainnya). Jadi tidak diketahui secara persis perolehan suara untuk PBB dan PK. Kesalahan absolut rata-rata dihitung hanya dari 5 partai ( minus PBB dan PK).

Hasil Survei

Aktual Pemilu Selisih LITBANG KOMPAS

Kesalahan Absolut Rata-Rata Survei Litbang Kompas = 7.48

Keterangan: Perolehan suara PBB dan PK digabung oleh Litbang Kompas bersama partai lain dengan lebel: partai lainnya. Jadi tidak diketahui secara persis perolehan suara untuk PBB dan PK. Kealahan absolut rata-rata karenanya dihitung hanya dari 5 partai (minus PBB dan PK).

Hasil Survei

Aktual Pemilu Selisih KPP-LAB POLITIK

FISIP UI

% Posisi % Posisi %

PDIP 19.5 1 33.7 1 14.2

(28)

PKB 1.8 5-7 12.6 3 10.8

PPP 4 4 10.7 4 6.7

PAN 15.8 2 7.1 5 -8.7

PBB 2 1.9 6 -0.1

PK 3 5-7

1.4 7 -1.6

Kesalahan Absolut Rata-Rata Survei KPP-Lab Politik UI = 9.31

Meski tidak secara presisi memprediksi perolehan suara partai, apa yang sudah

dikerjakan oleh lembaga jajak pendapat tahun 1999, layak mendapat apresiasi.

Salah satu alasannya, di tengah aneka macam kesulitan dan keterbatasan ( baik

dana, uang maupun tenaga), lembaga jajak pendapat itutelah berhasil secara kurat

memprediksi partai Pemenang Pemilu. Usaha yang tidak mudah karena lembaga

jajak pendapat harus menemukan satu partai di tengah 48 partai yang ikut berlaga

dalam Pemilu 1999. Tetapi perlu penjelasan, kenapa lembaga jajak pendapat

berhasil secara akurat memprediksi pemenang Pemilu tetapi gagal dalam

memprediksi komposisi pemenang Pemilu. Faktor apa juga yang menyebabkan

lembaga jajak pendapat belum berhasil secara presisi menebak perolehan suara

masing-masing partai.

AKURASI

Lembaga jajak pendapat memang berhasil meramal PDIP sebagai pemenang Pemilu,

tetapi sebagian besar lembaga jajak pendapat ( kecuali IFES) salah dalam

memprediksi Golkar, PKB dan PAN. Ada dua kesalahan yang umum yang ditemukan

dalam hal prediksi komposisi pemenang Pemilu ini. Pertama, sejumlah lembaga jajak

pendapat yang memprediksi PAN akan menempati posisi atas dalam Pemilu 1999.

Padahal kenyataannya, PAN hanya menempati posisi 5 dari urutan partai pemenang

Pemilu. RPC dan KPP-Lab Politik UI misalnya memprediksi PAN akan menempati

posisi 2 di bawah PDIP. Yang menarik, jika RPC dan KPP-Lab Politik UI gagal

memprediksi posisi PAN, LP3ES dan Litbang Kompas berhasil memprediksi posisi

PAN, yang berada di kisaran posisi 4-5. Kedua, sejumlah lembaga jajak pendapat

juga gagal dalam meramal posisi Golkar. Di luar IFES, Golkar diprediksikan oleh

lembaga jajak pendapat itu berada di urutan 3 ke atas. Bahkan dalam survei RPC,

Golkar menempati pososi nomor 4. Bagaimana menjelaskan kesalahan ini?

Faktor penjelas yang paling mungkin diberikan adalah populasi dari masing-masing

lembaga jajak pendapat. Lembaga jajak pendapat di Indonesia menghadapi medan

(29)

di semua wilayah Indonesia. Ada partai yang sangat kuat di Jawa ( seperti PDIP dan

PKB).Tetapi ada partai yang justru sangat kuat di luar Jawa ( seperti Golkar dan

PPP). Dengan kondisi populasi yang luas itu, makin besar populasi dari lembaga

jajak pendapat, makin akurat pula lembaga jajak pendapat itu dalam memprediksi

komposisi pemenang Pemilu. Tidak mengherankan jikalau dalam prediksi Pemilu

1999 ini hanya IFES yang secara tepat memprediksi komposisi pemenang Pemilu.

IFES adalah satu-satunya lembaga jajak pendapat yang saat itu melakukan survei

secara nasional. Dari 27 provinsi yang ada saat itu, semua disurvei kecuali 5 provinsi

dengan alasan keamanan ( Timor Timur, Kalimantan Tengah dan Sulawesi Tengah)

serta alasan akses yang sulit ( Irian Jaya dan Nusa Tenggara Timur). Dengan

populasi tersebut, sampel IFES mencakup hampir 92% suara nasional. Dengan

populasi yang luas tersebut, tidak mengherankan jikalau IFES dengan akurat

memprediksi posisi Golkar yang masih berada di urutan dua di bawah PDIP.

Sejatinya, meski banyak digugat Golkar masih merupakan kekuatan yang signifikan

terutama di luar Jawa. Dengan populasi yang luas di luar pulau Jawa, IFES bisa

menangkap fenomena tersebut.

Hasil survei LP3ES juga memperkuat argumen bagaimana populasi yang diambil oleh

masing-masing lembaga jajak pendapat turut menentukan akurasi hasil jajak

pendapat. LP3ES hanya melakukan survei di Pulau Jawa. Jika dilihat data populasi

BPS, Pulau Jawa menyumbang 59% populasi, sementara wilayah luar Jawa 41%.

Lembaga jajak pendapat yang melakukan survei hanya di Pulau Jawa, mengabaikan

suara dari 41% populasi tersebut. Akibatnya suara Golkar yang besar justru diluar

Jawa juga tidak bisa diprediksikan oleh LP3ES. Sebaliknya, dengan populasi Jawa,

survei ini menemukan suara untuk PKB yang besar, berada diposisi 2 di bawah PDIP.

Hasil ini juga tidak terlampau mengherankan jikalau diingat partai dengan tokoh

Abdurrahman Wahid ini sangat kuat di pulau Jawa, utamanya Jawa Timur.

(30)

PK - -

Selain cakupan Jawa Luar Jawa, aspek penting dari populasi jajak pendapat adalah,

apakah mereka memasukkan masyarakat desa kota ataukah hanya masyarakat kota

saja. Jika kita menengok data populasi yang dikuarkan oleh BPS tahun 2000,

populasi masyarakat desa mencapai 58%, sedangkan masyarakat kota berjumlah

42% dari total populasi. Proporsi masyarakat desa dan kota ini memang banyak

mengalami pergeseran jika dibandingkan dengan data sensus BPS tahun 1990. Pada

tahun 1990, komposisi penduduk desa kota ini baru berjumlah 64% untuk

masyarakat desa dan 36% masyarakat kota. Kendati banyak mengalami perubahan

komposisi penduduk, fakta yang tidak bisa ditampik adalah masih banyaknya

penduduk Indonesia yang berada di desa. Lembaga jajak pendapat yang tidak

menyertakan masyarakat desa sebagai populasi, mengabaikan suara dari 58%

populasi. Dari lembaga jajak pendapat tahun 1999 ini, hanya IFES dan LP3ES saja

yang menyertakan masyarakat desa dan kota dalam kerangka populasinya.

Sementara Litbang Kompas, RPC dan KPP-Lab Politik UI hanya menyertakan

masyarakat kota saja.

Akibatnya akan terasa dalam ramalan berbagai lembaga jajak pendapat itu ketika

harus memprediksikan komposisi pemenang Pemilu. IFES dan LP3ES berhasil

memetakan fenomena Partai Amanat Nasional (PAN) sebagai partai kota. Partai ini

sangat kuat di masyarakat terpelajar di kota. Setelah kejatuhan Soeharto,

popularitas PAN dan Amien Rais memang meroket. Tetapi gegap gempita berita

mengenai Amien Rais hanya dirasakan oleh masyarakat perkotaan yang relatif

mudah dalam akses informasi. Sementara di kalangan masyarakat desa, dinamika

politik ini tidak berhasil diikuti. Tidaklah mengherankan jikalau survei RPC dan

KPP-Lab Politik UI menempatkan PAN di posisi 2 di bawah PDIP. Dalam jajak pendapat

KPP-Lab Politik UI, perolehan suara PAN bahkan terpaut beberapa angka saja dari

PDIP. Ketidakakuratan dalam memprediksi fenomana PAN sebagai partai kota, juga

diikuti dengan ketidakakuratan dalam memprediksi PKB sebagai partai desa. Karena

tidak menyertakan masyarakat desa yang menjadi basis suara PKB, dua lembaga

survei ini juga gagal meramal posisi PKB. Dalam jajak pendapat KPP-Lab Politik UI,

perolehan suara PKB bahkan diprediksi lebih kecil dari pada PBB dan PK. Sebaliknya,

LP3ES berhasil memprediksi fenomena PAN dan PKB karena menyertakan populasi

(31)

LEMBAGA POPULASI CAKUPAN

IFES Nasional, memasukkan 22

provinsi. Provinsi yang tidak disertakan dengan alasan teknis dan keamanan adalah Timor Timur, Irian Jaya, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah dan Nusa Tenggara Timur.

Menyertakan desa dan kota

Desa /kelurahan

LP3ES Seluruh Jawa Menyertakan

desa dan kota

Desa /kelurahan

Litbang Kompas

5 kota besar ( Jakarta, Medan, Surabaya, Bandung, dan

6 kota ( Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Banda Aceh, Medan dan Ujung Pandang)

Lembaga jajak pendapat di Indonesia dihadapkan pada populasi yang sedemikian

luas dan heterogen. Mengabaikan populasi yang heterogen itu akan berakibat pada

ramalan yang tidak akurat. Kenyataan ini bukan tidak disadari oleh lembaga jajak

pendapat. Tetapi mereka harus berkompromi dengan dana, waktu, dan tenaga.

Kalau populasi yang luas harus dicover, dibutuhkan banyak dana , tenaga dan

waktu. Pilihan yang kemudian diambil oleh sejumlah lembaga jajak pendapat itu

adalah mengambil sejumlah wilayah dengan pertimbangan metodologis tertentu.

Pilihan ini terbukti berhasil dalam memprediksi pemenang Pemilu (PDIP),

tetapikurang tepat dalam memprediksi komposisi pemenang Pemilu. Di luar

masalah populasi itu adalah soal jumlah sampel yang akan diambil. Aspek ini juga

sekali lagi bersinggungan dengan waktu, dana dan tenaga. Makin banyak sampel

yang diambil, maka makin banyak tenaga pewawancara, makin lama proses

pengumpulan data dan makin banyak uang harus dikeluarkan.

Secara teoritis, jumlah sampel berkaitan dengan presisi. Jumlah sampelmenentukan

berapa kesalahan yang terjadi karena pengambilan sampel ( sampling error). Hasil

suatu survei yang berdasarkan data sampel, harus selalu dibaca dengan

memperhitungkan besar kecilnya sampling error. Taruhlah misalnya atau survei

menemukan partai A mendapat 25 % suara, dimana sampling error survei itu

(32)

dibaca berada di interval ± 4 %. Atau berada di antara 21% -29%. Jika lembaga

jajak pendapat ingin agar hasilnya lebih mendekati kenyataan, maka angka sampling

error harus diperkecil. Misalnya dengan memakai sampling error 2%. Jika angka ini

yang dipakai, prediksi perolehan suara partai A berada di kisaran interval 23%-27%.

Tetapi memperkecil sampling error secara otomatis akan menambah jumlah sampel.

Besar kecilnya sampling error ini bisa ditentukan sebelum survei dikerjakan. Yang

perlu dicatat, persoalan jumlah sampel dan sampling error ini hanyalah satu soal

saja dari kesalahan yang mungkin timbul dalam pelaksanaan survei. Masalah yang

cukup pelik justru pada soal kesalahan di luar pengambilan sampel (non sampling

error),misalnya apakah wawancara telah dilakukan dengan benar,apakah pertanyaan

telah dibacakan cukup akurat, dan sebagainya.

Persoalan jumlah sampel dan akurasi ini akan terlihat ketika lembaga jajak pendapat

berusaha memprediksikan perolehan suara dari masing-masing partai. Lembaga

jajak pendapat bisa memprediksi PDIP, tetapi kesulitan ketika memprediksi suara

perolehan partai tengah ( PKB, PAN dan PPP). Hasil aktual Pemilu menunjukkan

selisih di antara ketiga partai itu tidak lebih dari 5%. Dengan selisih yang kecil

tersebut, lembaga jajak pendapat tidak cukup aman untuk menentukan mana yang

tertinggi perolehan suaranya di antara ketiga partai tersebut. Kesulitan ini terlihat

misalnya dalam survei RPC ketika harus memprediksi suara PK dan PBN karena

perbedaan suara yang relatif kecil. Atau dalam survei Litbang Kompas yang sukar

membedakan posisi antara PKB dan PAN. Yang menarik dari semua survei ini adalah

IFES. Lembaga survei ini (hanya) memakai sampel sebanyak 1.507. Meski jumlah

sampel ini tergolong kecil jika dibandingkan dengan lembaga jajak pendapat lain,

IFES ternyata berhasil memprediksi komposisi pemenang Pemilu. Ini membuktikan

sebetulnya jumlah sampel adalah soal sekunder dalam survei di Indonesia. Yang

menjadi soal primer adalah populasi yang luas dan teknik penarikan sampel yang

tepat. Jika hal ini bisa dikerjakan dengan benar, hasil dari sampel sejumlah 1.500

responden sudah cukup dalam memprediksi hasil Pemilu.

LEMBAGA TEKNIK PENARIKAN SAMPEL JUMLAH

SAMPEL

TEKNIK

WAWANCARA

RPC Stratified random sampling. Sampel

ditarik secara random dari 5 kota yang dipilih.

1.250 Wawancara langsung

IFES Multistage Random Sampling (MRS).

Sampel diambil secara random atas dasar provinsi, proporsi desa kota, dan

(33)

jenis kelamin.

LP3ES Multistage Random Sampling (MRS).

Sampel diambil secara random atas dasar provinsi, proporsi desa kota, dan jenis kelamin.

2.970 Wawancara langsung

Litbang Kompas

Multistage Random Sampling (MRS). Sampel diambil secara random menyertakan 52 kelurahan, 104 RW dan 208 RT.

1.500 Wawancara langsung

KPP-Lab Politik UI

Sampel diambil secara random dari Buku Petunjuk Telepon

2.000 Wawancara telepon

Sekarang kita akan meninjau lebih detil soal presisi dari lembaga jajak pendapat ini

dalam meramal hasil Pemilu 1999. Yang menarik dari ramalan perolehan suaraini

adalah lembaga jajak pendapat berhasil meramal dengan tepat perolehan suara dari

partai kecil ( di luar PDIP, PKB, PPP,Golkar dan PAN). Suara dari partai PBB dan PKS

bisa diramal dengan baik. Rata-rata kesalahan peramalan dari lima lembaga ini di

bawah 3%. PDIP dan Golkar juga bisa diramal dengan baik meski rata-rata

kesalahan masih di atas 5%. Lembaga IFES, LP3ES dan RPC berhasil meramal

perolehan suara partai Golkar dengan selisih di bawah 6%. Demikian juga dengan

perolehan suara PDIP yang berhasil diramal dengan baik oleh RPC, IFES, LP3ES dan

Litbang Kompas. Hanya KPP-Lab Politik UI yang gagal meramal dengan baik

perolehan suara PDIP dan Golkar. Ini ditandai dengan kesalahan absolut yang besar

( di atas 12%).

SELISIH KESALAHAN ( DEVIASI) LEMBAGA JAJAK PENDAPAT DALAM MERAMAL PEROLEHAN PARTAI

PARTAI

Keterangan: Rata-rata deviasi dihitung dari selisih rata-rata dari 5 lembaga dalam memprediksi perolehan masing-masing partai. Selisih positif (+)atau negatif (-) diabaikan.

Kalau PDIP dan Golkar relatif bisa diramal dengan selisih tidak begitu besar, tidak

demikian halnya dengan PKB, PPP dan PAN. Rata-rata kesalahan lima lembaga ini

(34)

sulit diramalkan. Lembaga RPC, IFES dan LP3ES meramalkan perolehan suara PKB

lebih besar dari yang aktual didapat saat Pemilu. Sebaliknya Litbang Kompas dan

KPP-Lab Politik UI meramalkan perolehan suara PKB di bawah dari yang berhasil

didapatkan PKB dalam Pemilu. Kesalahan paling besar dalam meramal PKB

dilakukan oleh LP3ES dengan selisih suara 12.4%. Yang menarik, kalau LP3ES gagal

dalam meramal perolehan suara PKB, lembaga ini justru sangat berhasil dalam

meramal perolehan suara PPP dan PAN. Tingkat kesalahan LP3ES dalam meramal

perolehan suara dua partai ini paling kecil dibandingkan dengan empat lembaga

jajak pendapat lain.

Alasan yang bisa diberikan untuk menjelaskan kesalahan dalam meramalkan

perolehan suara ini adalah soal sampel yang didapatkan masing-masing lembaga

jajak pendapat. Indonesia bukan hanya negeri dengan penduduk yang tersebar dari

ribuan pulau, tetapi juga berbeda dalam karakteristik sosial. Ada perbedaan yang

besar antara masyarakat yang berpendidikan tinggi dengan masyarakat

berpendidikan rendah. Ada jurang lebar antara masyarakat berpenghasilan tinggi

dengan rendah. Celakanya, karakteristik yang beragam itu menentukan pilihan

partai. Karena itu sampel yang didapatkan tidak hanya harus merepresentasikan

keragaman wilayah ( Jawa-Luar Jawa dan desa kota) tetapi juga harus merefleksikan

keragaman karakteristik sosial seperti tingkat pendidikan, pekerjaan, tingkat

penghasilan dan sebagainya. Cara paling mudah untuk mengecek apakah

sampeldari lembaga jajak pendapat representatif atau tidak adalah dengan

membandingkan apakah ciri-ciri karakter dari sampel (seperti pendidikan,

penghasilan, suku bangsa, pekerjaan dan sebagainya) identik atau tidak dengan

data populasi. Representasi ini penting karena ada partai yang kuat di satu kelompok

tertentu tetapi ada juga partai yang tidak kuat di kelompok masyarakat lain.

Berbagai survei ( diantaranya oleh IRI dan LSI) menunjukkan hanya PDIP dan Golkar

saja yang bisa disebut sebagai partai mirip miniatur Indonesia. Basis pendukung dari

dua partai ini kuat di segala segmen lapisan masyarakat (dari lapisan tinggi,

menengah atau rendah). Sementara partai lain ada yang sangat kuat di lapisan

menengah dan tinggi (seperti PAN), tetapi ada juga yang berakar dari lapisan

masyarakat bawag (seperti PKB). Karakter pemilih seperti itu mengakibatkan

lembaga survei harus mendapatkan sampel yang seakurat dan sedekat mungkin

(35)

masyarakat berpenghasilan dan berpendidikan tinggi misalnya, maka hasilnya akan

bias kepada partai dengan basis massa dari kelompok itu. Demikian juga sebaliknya.

LEMBAGA KARAKTER POPULASI

(BPS Tahun 2000-Tingkat

Keterangan: Survei RPC, KPP dan LP3ES seperti dpublikasikan di media tidak menyertakan profil pendidikan responden. Karena keterbatasan data, tidak bisa dinilai deviasi antara karakter populasi dan sampel.

Karakter pemilih semacam itu bisa menjelaskan kesalahan lembaga jajak pendapat

dalam meramalkan perolehan suara masing-masing partai. Golkar dan PDIP bisa

diramalkan dengan seleisuh tidak besar karena secara karakter pemilih kedua partai

ini memang terseber secara merata. Sampel yang bias ke kelompok masyarakat

tertentu misalnya tidak berakibat jauh kepada perolehan suara dari masing-masing

partai. Tetapi akan sangat terasa ketika lembaga jajak pendapat meramal terutama

PKB dan PAN. Kedua partai ini berbeda secara diametral. PKB didirikan oleh sejumlah

ulama Nahdatul Ulama dan didukung oleh massa NU yang tersebar di desa-desa

terutama Jawa. Sebaliknya PAN didirikan oleh sejumlah intelektual dan akademisi.

Basis massa PAN adalah warga perkotaan.

IFES dan Litbang Kompas meramal perolehan suara PKB lebih kecil dari yang

sebenarnya didapatkan PKB dengan selisih di atas 7%. Jika dilihat karakter sampel

kedua lembaga ini, memang agak bias kekelompok berpendidikan menengah.

Jumlah mereka yang berpendidikan rendah (lulus SD dan SMP atau di bawahnya)

(36)

mereka yang berpendidikan SMP atau di bawahnya ini adalah mayoritas, mencapai

79%. Sementara sampel Litbang Kompas, hanya 39%. Dengan jumlah sampel

berpendidikan rendah lebih sedikit, tidak mengherankan jikalau suara PKB mengecil

alam temuan lembaga jajak pendapat tersebut. Penjelasan karakter sampel ini

hanya salah satu penjelas. Untuk mendapatkan gambaran lebih jelas tentu saja perlu

tinjauan dan penelitian lebih mendalam. Karena penjelas ini juga tidak cukup

memuaskan untuk menjelaskan berbagai fenomena lain. Seperti suara PKB di survei

IFES. Meskipun karakter sampel berpendidikan rendah di IFES tidak proporsional

Gambar

Tabel : Ramalan Gallup dan Hasil Pemilu Aktual di AS 1972-2000
Tabel menunjukkan perolehan suara 8 partai dalam jajak pendapat SCTV dan Media

Referensi

Dokumen terkait

Manfaat yang diperoleh dari penelitian adalah aplikasi persamaan Rehbock , persamaan Kinsvater – Carter, dan persamaan Umum pada kegiatan praktikum pengukuran

Perlawanan bersenjata rakyat Indonesia inilah melahirkan tentara rakyat yang teratur, yang kemudian melembaga ke dalam wadah tunggal, yakni tentara kebangsaan dengan sebutan

Berdasarkan pernyataan kedua narasumber tersebut, maka peneliti dapat menyimpulkan bahwa pelaksanaan kependidikan kepegawaian di MAN 2 Kepahiang yaitu melaksanakan

Ketiga, Berdasarkan hasil wawancara kepada guru kelas IV dalam penerapan kurikulum 2013 pada materi Tematik guru kelas IV menerangkan kegiatan yang mereka lakukan

Penjualan sepatu mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Kebutuhan akan sepatu setiap saat terus meningkat, minimal stabil, sebab sepatu adalah produk habis

Pada penelitian ini, telah dirancang suatu sistem untuk deteksi kolesterol melalui citra mata menggunakan metode HOG sebagai ekstraksi ciri dan ANN sebagai klasifikasi. Sistem dapat

Ngancap maju bersama, adu kiri, tanjak kebyok sampur kiri, dimulai Karna tusuk seret kaki kanan, tangkis kebyak sampur kiri, tusuk maju diputar ke kiri, ganti memutar

Data dalam penelitian ini diperoleh dari sumber-sumber pendapatan daerah yang merupakan bagian dari sektor pariwisata Pantai Carocok Painan yang terdiri dari: