BAB II METODE PENELITIAN
C. Jalannya Penelitian
1. Penyiapan Simplisia
Untuk mendapatkan simplisia yang baik, dilakukan proses sebagai berikut: a. Determinasi tumbuhan
Determinasi merupakan suatu tahap awal yang dilakukan sebelum penelitian. Tahap ini bertujuan untuk menetapkan kebenaran sampel benalu teh yang berkaitan dengan ciri-ciri morfologis. Determinasi tanaman dilakukan di BPTO Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah.
b. Pembuatan serbuk
Simplisia dibersihkan dari bahan organik asing dan pengotoran lain secara mekanik ayak atau dengan cara lain yang cocok, dikeringkan pada suhu yang cocok, dihaluskan dan diayak. Kecuali dinyatakan lain, seluruh simplisia harus dihaluskan menjadi serbuk (5/8) (Anonim, 1986).
2. Pembuatan Ekstrak Kental
Serbuk benalu teh sebanyak 1 kg dimasukkan ke dalam panci infus dituangi aqua destilata sebanyak 10 L. Kemudian direbus pada suhu 900C selama 15 menit (waktu dihitung mulai suhu mencapai 900C) dan sesekali diaduk. Lalu diserkai selagi panas dengan kain flanel, ampas diperas dan maserat dikumpulkan. Kemudian maserat yang diperoleh dipekatkan dengan alat evaporator pada suhu 50oC hingga diperoleh ekstrak kental dan dilakukan uji kualitas terhadap ekstrak yang diperoleh.
3. Pengujian Ekstrak
a. Pemeriksaan organoleptis ekstrak kental
Pemeriksaan organoleptis ekstrak kental meliputi bentuk, bau, warna, dan rasa.
b. Susut pengeringan ekstrak kental
Ditimbang seksama 2,0 gram ekstrak dalam krus yang sebelumnya dipanaskan pada suhu penetapan 1050C selama 30 menit dan telah ditara. Ekstrak dalam krus diratakan dengan menggoyangkan krus hingga merupakan lapisan yang rata kemudian dimasukkan ke dalam oven, dibuka tutupnya, dikeringkan bersama tutupnya pada suhu 105ºC selama 1 jam. Krus harus segera ditutup jika oven dibuka. Krus dimasukkan eksikator selama 30 menit dan dibiarkan dingin, kemudian ditimbang, pengeringan dilanjutkan pada suhu 105ºC sampai bobot tetap (Anonim, 2000).
c. Uji daya lekat
Obyek gelas ditandai seluas 2,5 cm x 2,5 cm, kemudian dicari titik tengahnya. Kurang lebih 50 mg ekstrak diletakkan di tengah luasan tersebut, ditutup dengan obyek gelas lain, kemudian diberi beban 1 kg selama 5 menit. Kedua obyek gelas yang telah melekat satu sama lain dipasang pada alat uji dengan beban 80 gram. Dicatat waktu yang diperoleh sampai terpisahnya kedua obyek gelas tersebut (Anonim, 2000).
4. Pembuatan Ekstrak kering
Ekstrak kering dibuat dari ekstrak kental yang dikeringkan dengan aerosil dengan perbandingan ekstrak kental : aerosil (2 : 1).
5. Perhitungan Dosis
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Winarno et al. (2000), dosis efektif untuk meningkatkan sistem imun pada mencit adalah 150 mg/100 g BB infus benalu teh. Pembuatan infus dalam penelitian Winarno et al. (2000) sesuai dengan Farmakope Indonesia yaitu kecuali dinyatakan lain infus yang mengandung bukan bahan khasiat keras dibuat dengan menggunakan 10% simplisia. Sehingga simplisia yang dibutuhkan = 150mg/ 100gBB 15mg/ 100gBB
100 10
=
×
Dosis untuk mencit = 15 mg/100g BB = 3 mg/20 g BB Faktor konversi mencit 20 g ke manusia adalah 387,9
Dosis simplisia untuk manusia (70 kg) = 3 mg x 387,9 = 1163,7 mg
Diasumsikan berat badan manusia Indonesia 50 kg sehingga simplisia kering yang
dibutuhkan adalah mg mg kg kg 214 , 831 7 , 163 . 1 70 50 × = .
Rendemen ekstrak kental dari simplisia kering benalu teh adalah 12,54%, sehingga ekstrak yang didapatkan adalah : 831,214mg 104,23mg
100 54 ,
12 × =
Hasil konversi dari ekstrak kental menjadi ekstrak kering benalu teh adalah : 104,23 mg ekstrak kental~151,03 mg(151 mg) ekstrak kering benalu teh. Sediaan digunakan 1 kali sehari 1 tablet.
6. Formulasi Tablet Kunyah
Sediaan tablet kunyah ekstrak benalu teh dibuat dalam 5 rancangan formula sebagai berikut :
Tabel 2. Rancangan formula tablet kunyah ekstrak benalu teh (Scurrula artopurpurea [BI]. Dans.) Formula I Formula II Formula III Formula IV Formula V Komposisi (dalam mg)
Ekstrak kering benalu teh 151 151 151 151 151
Amylum manihot* 4,1 4,1 4,1 4,1 4,1
Sorbitol 339 254,25 169,5 84,75 0
Laktosa 0 84,75 169,5 254,25 339
Talk 9 9 9 9 9
Mg stearat 1 1 1 1 1
Bobot per tablet 504,1 504,1 504,1 504,1 504,1 *amylum manihot dicampurkan dalam bentuk mucilago amili 10 %
Tabel 3. Perbandingan sorbitol-laktosa tiap formula Sorbitol Laktosa Formula (dalam %) I 100 0 II 75 25 III 50 50 IV 25 75 V 0 100 7. Pembuatan Granul
Ekstrak kering benalu teh, sorbitol dan laktosa dicampur sampai homogen kemudian ditambah dengan mucilago amili 10% (sedikit demi sedikit dan terkontrol) sampai homogen dan terbentuk massa granul yang baik. Kemudian diayak dengan ayakan no. 12 dan granul yang dihasilkan disimpan dalam oven pada suhu 600C. Granul kering yang diperoleh diayak dengan ayakan no. 14, kemudian diuji sifat fisiknya.
8. Uji Sifat Alir Granul
a. Uji waktu alir
Ditimbang 100 g granul, kemudian dimasukkan ke dalam corong yang ujung tangkainya ditutup. Penutup corong dibuka dan granul dibiarkan mengalir sampai habis. Diukur waktu alir granul.
b. Sudut diam
Granul sebanyak 100 gram dimasukkan ke dalam alat penguji yang ujung tangkainya tertutup, penutup dibuka dan granul dibiarkan mengalir keluar. Diukur
tinggi kerucut dan diameter granul yang terbentuk. Sudut diam dapat dihitung dengan cara sebagai berikut (Rosanske et al, 1980) :
r h = β tan ... (1) Keterangan: h : tinggi kerucut r : jari-jari kerucut c. Pengetapan
Campuran serbuk dimasukkan ke dalam gelas ukur dengan volume 100 ml. Pasang gelas ukur tersebut dengan skala pengetapan 50 kali ketukan tiap menitnya. Indeks volume pengetapan dihitung dengan rumus sebagai berikut:
% 100 % = − × Vo Vt Vo volume indeks ……….. (2) Keterangan :
Vo = volume awal granul Vt = volume akhir granul
9. Pembuatan Tablet Kunyah
Granul yang telah diperiksa sifat fisiknya, ditambahkan bahan pelicin yaitu talk dan magnesium stearat. Kemudian dicampur sampai homogen dan dicetak dengan mesin pencetak tablet single punch, dengan bobot per tabletnya ±504 mg.
10. Uji Sifat Fisik Tablet Kunyah
a. Keseragaman bobot
Ditimbang 20 tablet, dihitung bobot rata- rata tiap tablet. Bobot tablet tidak boleh menyimpang dari ketentuan Farmakope Indonesia (Tabel 1). Dihitung SD (Standar Deviation) dan CV (Coeffisien of Variation) dari tiap formula.
X SD CV = ... (3) Keterangan: CV = koefisien variasi SD = simpangan baku X = rata-rata bobot tablet b. Kekerasan
Suatu alat Hardness Tester YD-1 dihidupkan dan skala dipastikan pada posisi 00,00. Satu tablet diletakkan pada tempat uji dengan posisi tablet mendatar di tengah dan pengatur kekerasan diputar berlawanan arah jarum jam sampai tablet pecah. Skala yang muncul pada display alat dibaca sebagai kekerasan tablet dalam satuan kilogram.
c. Kerapuhan
Sejumlah 20 tablet dibebasdebukan dengan aspirator. Ditimbang seksama dengan neraca analitik kemudian dimasukkan ke dalam friability tester, diputar selama 4 menit atau dengan kecepatan 25 putaran per menit. Tablet dibersihkan dan ditimbang lagi. Kerapuhan tablet dihitung dengan rumus:
Kerapuhan =
( )
% 100 1 2 1 × − M M M ... (4) Keterangan:M1 = bobot tablet sebelum diuji M2 = bobot tablet setelah diuji d. Uji respon rasa
Uji respon rasa dilakukan dengan teknik accidental sampling, dengan populasi heterogen sejumlah 20 responden dengan cara sebagai berikut: responden diminta untuk memberikan tanggapan tentang rasa kelima formula tablet kunyah dengan mengisi angket yang disediakan. Setiap responden mendapatkan kesempatan yang sama untuk merasakan sampel dari formulasi tablet kunyah tersebut. Tanggapan rasa dikelompokkan dari tingkat sangat manis, manis, cukup manis, kurang manis dan tidak manis. Kemudian data disajikan dalam bentuk tabel dan grafik menurut jumlah atau prosentase responden dengan tanggapan yang diberikan.