DAFTAR PUSTAKA
JALUR-JALUR PENANGKAPAN IKAN
MENTERI PERTANIAN,
Menimbang : a. Bahwa dengan surat keputusan menteri pertanian Nomor 607/Kpts/Um/9/1976 jo Nomor 608/Kpts/Um/9/1976 dan Nomor 300/Kpts/Um/5/1978, telah diatur mengenai Jalur-Jalur Penangkapan Ikan;
b. Bahwa dengan adanya perkembangan teknologi penangkapan ikan, surat keputusan menteri pertanian tersebut di atas perlu diadakan perubahan, dan sekaligus melaksanakan Pasal 4 Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1985, perlu diatur kembali mengenai jalur-jalur penangkapan ikan dalam keputusan menteri pertanian.
Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1983; 2. Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1985; 3. Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1992; 4. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1996; 5. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1984;
6. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1990 jo Nomor 46 Tahun 1993; 7. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun1974; 8. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 61 Tahun 1998; 9. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 122/M Tahun 1998; 10. Keputusan Menteri Pertanian Nomor 957/Kpts/IK.120/12/96; 11. Keputusan Menteri Pertanian Nomor 1016/Kpts/OT.210/12/98;
M E M U T U S K A N :
Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI PERTANIAN TENTANG JALUR- JALUR
PENANGKAPAN IKAN.
Pasal 1
Dengan tidak mengurangi ketentuan mengenai alur-alur pelayaran yang ditetapkan pemerintah, menetapkan jalur-Jalur penangkapan ikan di wilayah perikanan Republik Indonesia.
Pasal 2
Wilayah perikanan Republik Indonesia dibagi menjadi 3 (tiga) jalur penangkapan ikan yaitu : a. Jalur penangkapan ikan I;
b. Jalur penangkapan ikan II; dan c. Jalur penagkapan ikan III.
Pasal 3
(1). Jalur penangkapan ikan I sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf a, meliputi perairan pantai diukur dari permukaan air laut pada surut yang terendah pada setiap pulau sampai dengan 6 (enam) mil laut ke arah laut.
(2). Jalur penangkapan ikan I sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dibagi menjadi sebagai berikut:
a. Perairan pantai yang diukur dari permukaan air laut pada surut yang terendah sampai dengan 3 (tiga) mil laut;
(3). Perairan pantai yang diukur dari permukaan air laut pada surut yang terendah sampai dengan 3 (tiga) mil laut sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) huruf a, hanya dibolehkan bagi:
a. Alat penangkap ikan yang menetap;
b. Alat penangkap ikan tidak menetap yang tidak dimodifikasi; dan/atau
c. Kapal perikanan tanpa motor dengan ukuran panjang keseluruhan tidak lebih dari 10 m. (4). Perairan pantai di luar 3 (tiga) mil laut sampai dengan 6 (enam) mil laut, sebagaimana dimaksud dalam
ayat (2) huruf b, hanya dibolehkan bagi:
a. Alat penangkap ikan tidak menetap yang dimodifikasi; b. Kapal perikanan :
1. Tanpa motor dan atau bermotor-tempel dengan ukuran panjang keseluruhan tidak lebih dari 10 m;
2. Bermotor tempel dan bermotor-dalam dengan ukuran panjang keseluruhan maksimal 12 m atau berukuran maksimal 5 GT dan atau;
3. Pukat cincin (purse seine) berukuran panjang maksimal 150 m; 4. Jaring insang hanyut (drift gill net) ukuran panjang maksimal 1000 m.
(5). Setiap kapal perikanan yang beroperasi di jalur penangkapan ikan I wajib diberi tanda pengenal jalur dengan mengecat minimal ¼ (seperempat) lambung kiri dan kanan :
a. Dengan warna putih bagi kapal perikanan yang beroperasi di perairan sampai dengan 3 (tiga) mil laut diukur dari permukaan air laut pada surut yang terendah;
b. Dengan warna merah bagi kapal perikanan yang beroperasi di perairan pantai di luar 3 (tiga) mil laut sampai dengan 6 (enam) mil.
Pasal 4
(1). Jalur penangkapan ikan II sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf b meliputi perairan di luar jalur penangkapan ikan I sampai dengan 12 (dua belas) mil laut ke arah laut.
(2). Pada jalur penangkapan ikan II sebagaimana dimaksud dalam ayai (1), dibolehkan bagi : a. Kapal perikanan bermotor-dalam berukuran maksimal 60 GT;
b. Kapal perikanan dengan menggunakan alat penangkap ikan :
1. Pukat cincin (purse seine) berukuran panjang maksimal 600 m dengan cara pengoperasian menggunakan 1 (satu) kapal (tunggal) yang bukan grup atau maksimal 1000 m dengan cara pengoperasian menggunakan 2 (dua) kapal (ganda) yang bukan grup;
2. Tuna long line (pancing tuna) maksimal 1200 buah mata pancing; 3. Jaring insang hanyut (drift gill net), berukuran panjang maksimal 2500 m.
(3). Setiap kapal perikanan yang beroperasi di jalur penangkapan ikan II, wajib diberi tanda pengenal jalur dengan mengecat maksimal ¼ (seperempat) lambung kiri dan kanan dengan warna oranye.
Pasal 5
(1). Jalur penangkapan ikan III, sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 huruf c meliputi perairan di luar jalur penangkapan ikan II sampai dengan batas terluaar Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI).
(2). Pada jalur penangkapan ikan III sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), diatur sebagai berikut:
a. Perairan Indonesia dibolehkan bagi kapal perikanan berbendera Indonesia berukuran maksimal 200 GT, kecuali yang menggunakan alat penangkap Ikan purse seine pelagis besar di Teluk Tomini, Laut Maluku, Laut Seram, Laut Banda, Laut Flores dan Laut Sawu dilarang untuk semua ukuran;
b. Perairan ZEEI Selat Malaka dibolehkan bagi kapal perikanan berbendera Indonesia berukuran maksimal 200 GT, kecuali yang menggunakan alat penangkap ikan pukat ikan (Fish Net) minimal berukuran 60 GT;
c. Perairan ZEEI di luar ZEEI Selat Malaka dibolehkan bagi:
1). Kapal perikanan berbendera Indonesia dan berbendera asing berukuran maksimal 350 GT bagi semua alat penangkap ikan;
2). Kapal perikanan berukuran di atas 350 GT – 800 GT yang menggunakan alat penangkap ikan purse seine, hanya boleh beroperasi di luar 100 (seratus) mil laut dari garis pangkal Kepulauan Indonesia;
3). Kapal perikanan dengan alat penangkap ikan purse seine dengan sistem group hanya boleh beroperasi di luar 100 (seratus) mil laut dari garis pangkal Kepulauan Indonesia.
(3). Kapal perikanan berbendera asing boleh dioperasikan pada jalur penangkapan ikan III sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) huruf c sepanjang dimungkinkan berdasarkan peraturan perundang-undang yang berlaku.
(4). Setiap kapal perikanan yang beroperasi di jalur penangkapan ikan III, wajib diberi tanda pengenal jalur dengan mengecat minimal ¼ (seperempat) lambung kiri dan kanan dengan warna kuning.
Pasal 6
(1). Semua alat penangkap ikan yang dipergunakan pada setiap jalur penangkapan ikan wajib diberi tanda pengenal alat penangkap ikan.
(2). Ketentuan mengenai penggunaan tanda pengenal alat penangkap ikan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan lebih lanjut oleh Direktur Jenderal Perikanan.
Pasal 7
Kapal perikanan yang menggunakan jaring dengan ukuran mata jaring kurang dari 25 mm (1 inchi) dan purse seine cakalang (tuna) dengan ukuran mata jaring kurang dari 75 mm (3 inchi) dilarang untuk dioperasikan di semua jalur penangkapan ikan, kecuali pukat teri dan jaring angkat (lift net).
Pasal 8
Dikecualikan dari ketentuan jalur-jalur penangkapan ikan sebagaimana diatur dalam keputusan ini yaitu kapal perikanan bermotor yang melakukan kegiatan penelitian, survey, eksplorasi dan latihan penangkapan ikan harus memperoleh persetujuan Direktur Jenderal Perikanan.
Pasal 9
(1). Semua kapal perikanan dan alat penangkap ikan yang diperbolehkan beroperasi di jalur penangkapan ikan I sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) huruf a, boleh dioperasikan pada jalur penangkapan ikan I sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) huruf b, jalur penangkapan ikan II dan III sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf b dan c.
(2). Semua kapal perikanan dan alat penangkap ikan yang diperbolehkan beroperasi pada jalur penangkapan ikan I sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) huruf b, boleh dioperasikan pada jalur penangkapan ikan II dan III sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf b dan c.
(3). Semua kapal perikanan dan alat penangkap ikan yang diperbolehkan beroperasi pada jalur penangkapan ikan II sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf b, diperbolehkan beroperasi pada jalur penangkapan ikan III sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf c dan dilarang beroperasi pada jalur penangkapan ikan I sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2).
(4). Semua kapal perikanan dan alat penangkap ikan yang diperbolehkan beroperasi pada jalur penangkapan ikan III sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf c, dilarang beroperasi pada jalur penangkapan Ikan I dan II sebagimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf a dan b.
Pasal 10
(1). Direktur Jenderal Perikanan mencantumkan jalur-jalur penangkapan ikan yang dilarang dalam SPI dan SIPI bagi setiap kapal.
(2). Kepala Dinas Perikanan Daerah Tingkat I dan Daerah Tingkat II mencantumkan jalur-jalur penangkapan ikan yang dilarang dalam surat ijin kapal ikan (SIKP) bagi setiap kapal perikanan.
Pasal 11
Setiap kapal perikanan yang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan jalur penangkapan ikan, ketentuan kapal perikanan, ketentuan alat penangkap ikan serta ketentuan tanda pengenal alat penangkap ikan dapat dikenakan pencabutan SPI atau SIPI atau IUP dan atau pidana denda sebanyak-banyaknya Rp. 25.000.000 (dua puluh lima juta rupiah) sesuai dengan Pasal 27 Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1985 tentang perikanan.
Pasal 12
Pemberian tanda pengenal jalur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (5), Pasal 4 ayat (3), dan Pasal 5 ayat (4) harus telah dilaksanakan paling lambat 1 tahun setelah berlakunya keputusan ini.
Pasal 13
Dengan ditetapkannya keputusan ini, maka Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 607/Kpts/Um/9/1976 tentang jalur-jalur penangkapan, Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 608/Kpts/Um/9/1976 tentang penetapan jalur penangkapan bagi kapal-kapal milik perusahaan-perusahaan perikanan negara dan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 300/Kpts/Um/5/1978 tentang pemasangan tanda pengenal jalur penangkapan ikan pada kapal-kapal ikan, dinyatakan tidak berlaku lagi.
Pasal 14
Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 5 April 1999 MENTERI PERTANIA
ttd
Prof.Dr.Ir.H.SOLEH SOLAHUDDIN, M.Sc
SALINAN keputusan ini disampaikan kepada Yth : 1. Menteri Negara Sekretaris Negara; 2. Menteri Dalam Negeri;
3. Menteri Pertahanan dan Keamanan; 4. Menteri Perhubungan;
5. Menteri Negara Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan; 6. Menteri Kehakiman;
7. Menteri Keuangan; 8. Jaksa Agung;
9. Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia; 10. Kepala Staf TNI-AL;
11. Sekretaris Pengendalian Operasional Pembangunan;
12. Para Pimpinan Unit Kerja Eselon I lingkup Departemen Pertanian; 13. Direktoral Jenderal Perhubungan Laut;
14. Para Gubernur Kepala Daerah Tingkat I seluruh Indonesia;
15. Para Kepala Kantor Wilayah Departemen Pertanian seluruh Indonesia; 16. Para Kepala Dinas Perikanan Propinsi Dati I dan II seluruh Indonesia.
Lampiran 5 Hasil olahan data PCA, Cluster dan DFA
Eigenvalue (Akar ciri) hasil analisis komponen utama
Eigenvalues (datapca.sta)
Extraction: Principal components
% total Cumul. Cumul.
Eigenval Variance Eigenval %
1 4.934 49.336 4.934 49.336
2 2.021 20.205 6.954 69.541
3 1.558 15.576 8.512 85.117
Communalities
Communalities (datapca.sta) Extraction: Principal components Rotation: Unrotated
From 1 From 2 From 3 Multiple
Factor Factors Factors R-Square
JRK_KK 0.890 0.952 0.985 1 PADAT 0.400 0.847 0.945 1 PRASEJAH 0.037 0.762 0.888 1 SD 0.776 0.784 0.919 1 SLTP 0.825 0.905 0.917 1 SLTA 0.863 0.863 0.905 1 LADANG 0.853 0.856 0.859 1 RUMAH 0.054 0.704 0.925 1 KEL_IKAN 0.065 0.095 0.786 1 KEL_BUD 0.171 0.185 0.384 1
Faktor loding PCA
Factor Loadings (Varimax normalized) (datapca.sta) Extraction: Principal components
(Marked loadings are > .700000)
Factor Factor Factor 1 2 3 JRK_KK 0.9652 -0.2268 -0.0376 PADAT 0.5428 -0.7529 -0.2884 PRASEJAH 0.2505 0.9075 0.0406 SD 0.9447 0.1494 0.0609 SLTP 0.8263 0.2066 -0.4375 SLTA 0.9465 0.0450 -0.0861 LADANG 0.9018 -0.0749 -0.2008 RUMAH -0.0541 -0.6399 0.7158 KEL_IKAN 0.0013 0.0674 0.8838 KEL_BUD -0.2731 0.2507 0.4970 Expl.Var 4.6508 1.9914 1.8695 Prp.Totl 0.4651 0.1991 0.1870
Faktor skor PCA
Factor Scores (datapca.sta) Rotation: Varimax normalized Extraction: Principal components
Factor Factor Factor
1 2 3 1 -0.246 -0.103 1.849 2 -0.411 -0.173 -0.168 3 0.393 -1.932 0.343 4 2.694 0.128 -0.245 5 -0.442 1.015 0.164 6 -0.165 1.140 1.449 7 -0.207 0.479 -0.989 8 -0.352 0.463 -1.075 9 -0.338 0.471 -1.005 10 -0.925 -1.488 -0.324
Tipologi desa-desa di Kepulauan Anambas
Tipologi Wilayah Jumlah Desa Persentase
Tipologi I 2 0,2
Tipologi II 6 0,6
Tipologi III 2 0,2
Total 10
Matrik tipologi desa hasil analisis fungsi diskriminan (DFA)
Percent G_1:1 G_2:2 G_3:3 Correct p=.20000 p=.60000 p=.20000 G_1:1 100 2 0 0 G_2:2 100 0 6 0 G_3:3 100 0 0 2 Total 100 2 6 2
Fungsi klasifikasi desa hasil analisis diskriminan (DFA) G_1:1 G_2:2 G_3:3 p=.20000 p=.60000 p=.20000 FACTOR_1 -1.10 0.65 -0.87 FACTOR_2 -8.07 1.58 3.34 FACTOR_3 -0.87 -2.37 7.98 Constant -8.65 -1.53 -9.15
Berdasarkan persamaan umum Y = A + B1X1 + B2X2 + …+ BnXn
Didapat model persamaan baru yang berasal dari analisis fungsi diskiminasi sebagai berikut:
1. Untuk tipologi wilayah I persamaan yang didapat:
Y= -8,65 - 1,10F1 –8,07F2 –0,087F3
2. Untuk tipologi wilayah II persamaan yang didapat:
Y= -1,53 + 0,65F1 + 1,58F2 – 2,37F3
3. Untuk tipologi wilayah III persamaan yang didapat: