• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENDEKATAN STUDI DAN TEHNIK ANALISA

4.11. Jamban

Berdasarkan Permendiknas RI Nomor 24 Tahun 2007, Jamban berfungsi sebagi tempat buang air besar dan/atau kecil. Minimum terdapat 1 unit untuk setiap 60 peserta didik pria, 1 unit jamban untuk setiap 50 peserta didik wanita, dan 1 unit jamban untuk guru. Banyak jamban minimum setiap sekolah 3 unit.Luas minimum 1 unit jamban 2 m².Jamban harus berdinding, beratap, dapat dikunci, dan mudah dibersihkan.Tersedia air bersih di setiap unit jamban.

Berdasarkan hasil pengisian kuisioner diperoleh data keberadaan jamban di SDN sampel sebagaimana disajikan pada tabel 4.13 berikut :

Tabel 4.13 Ruang Jamban

No Nama Sekolah Jumlah

Siswa Standar Jumlah

Jamban Keterangan

1 SDN BANDULAN 1 235 4 4 Memenuhi

2 SDN PANDAN WANGI 3 522 9 9 Memenuhi

3 SDN BANDULAN 4 255 5 8 Memenuhi

4 SDN BARENG 1 320 6 8 Memenuhi

5 SDN BARENG 5 88 2 7 Memenuhi

6 SDN Blimbing 5 212 4 8 Memenuhi

7 SDN DINOYO 3 210 4 7 Memenuhi

8 SDN GADINGKASRI 181 4 4 Memenuhi

9 SDN JATIMULYO 5 114 2 8 Memenuhi

10 SDN KARANGBESUKI 3 248 5 6 Memenuhi

11 SDN KARANGBESUKI 2 155 3 5 Memenuhi

12 SDN Karangbesuki 4 147 3 4 Memenuhi

13 SDN Kauman 2 277 5 6 Memenuhi

14 SDN LESANPURO 1 251 5 7 Memenuhi

15 SDN MADYOPURO 2 217 4 4 Memenuhi

16 SDN MERJOSARI 1 194 4 6 Memenuhi

17 SDN PANDANWANGI 2 211 4 5 Memenuhi

18 SDN Tanjungrejo 5 375 7 6 Tidak Memenuhi

19

SDN

KEDUNGKANDANG 1 192 4 5 Memenuhi

20 SDN Sawojajar 4 198 4

21 SDN Bandulan 3 278 5 5 Memenuhi

22 SDN Blimbing 3 462 8 14 Memenuhi

23 SDN Madyopuro 4 362 7 5 Tidak Memenuhi

24 SDN Madyopuro 5 439 8 9 Memenuhi

Sumber : data diolah, 2016

Berdasarkan tabel 4.13, tampak sejumlah 21 SDN (87,5%) telah memiliki jamban dan telah memenuhi standar tentang ruang UKS, sedangkan 8,3% tidak memenuhi standar ruang UKS sebagaimana Permendiknas RI Nomor 24 Tahun 2007.

BAB V PEMBAHASAN

5.1.Analisis Lingkungan Eksternal dan Internal Prasarana Sekolah di Kota Malang Analisis Lingkungan Eksternal ini berkaitan dengan berbagai aspek dari lingkungan eksternal (diluar manajemen sekolah), yang mempengaruhi terhadap ketersediaan prasarana sekolah terutama prasarana sekolah pada sekolah tingkat dasar di kota Malang. Sedangkan analisa Internal merupakan analisa terhadap aspek internal sekolah yaitu aspek yang berkaitan dengan aspek internal yang merupakan hal-hal yang dapat dipengaruhi oleh manajemen sekolah.

5.1.1. Aspek lingkungan eksternal sekolah.

Aspek lingkungan eksternal sekolah ini dapat meliputi :

1) Kebijakan pemerintah tentang arah pengembangan sekolah yang berdampak terhadap prasarana sekolah.

2) Kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan pendanaan untuk sekolah 3) Perkembangan penduduk kota malang

4) Pertumbuhan pendapatan perkapitan penduduk kota malang

5) Perkembangan teknologi yang berkaitan dengan teknologi proses pembelajaran Aspek lingkungan eksternal sekolah tersebut memberikan dampak terhadap keberadaan prasarana sekolah, dimana dapat merupakan peluang bagi sekolah untuk memenuhi atau meningkatkan prasarana sekolah yang dimiliki, sehingga mampu memberikan pelayanan yang baik terhadadap stakeholders. Demikian pula aspek eksternal ini juga dapat merupakan ancaman bagi ketercapaian pemenuhan prasarana sekolah, atau menuntut pengembangan prasarana untuk dapat menjaga keberlangsungan pelayanan prasarana yang baik terhadap stakholders. Sehingga aspek tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :

1) Kebijakan pemerintah tentang arah pengembangan sekolah yang berdampak terhadap prasarana sekolah.

Pemerintah Kota Malang melalui kebijakan pengembangan sekolah sesuai Peraturan Walikota Malang No.35 tahun 2014 tentang rencana induk pengembangan sekolah 2013-2018 terutama pada pasal 7 yang menyangkut standarisasi prasarana, telah mencanangkan adanya pemerataan distribusi, penertiban, perbaikan, dan pemeliharaan tanah, gedung, perabot dan alat peraga sekolah, sehingga tidak bervariasi dan berdasarkan standarisasi.

Hal demikian merupakan peluang bagi sekolah diKota Malang untuk dapat meningkatkan mengembangkan prasarana sekolah sehingga mampu melayani kebutuhan stakeholder dengan baik

2) Kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan pendanaan untuk sekolah

Dalam Perda No.3 Tahun 2014 pada bab XIV terutama pasal 46 telah disebutkan bahwa dana pendidikan sekurang-kurangnya 10 persen dari anggaran diluar gaji pegawai. Hal demikian menunjukkan komitmen pemerintah untuk membangun fasilitas pendidikan di Kota Malang sekaligus merupakan peluang bagi sekolah di Kota Malang untuk meningkatkan prasarananya guna dapat meningkatkan performansi sekolah dalam melakukan pelayanan pendidikan kepada mayarakat.

3) Perkembangan penduduk Kota Malang

Perkembangan penduduk Kota Malang merupakan pertumbuhan penduduk yang dinamis dengan tingkat pertumbuhan sebesar 0,80% pertahun hal demikian potensial mendukung perkembangan permintaan terhadap jasa pendidikan terutama sekolah formal baik tingkat dasar, menengah maupun tingkat lanjutan. Perkembangan penduduk yang diiringi permintaan terhadap sekolah ini menjadikan tantangan bagi sekolah untuk mampu menyediakan prasarana sekolah sebagai bagian dari pelayanan terhadap masyarakat untuk agar dapat menikmati pendidikan wajib belajar 9 tahun sebagaimana dicanagkan oleh pemerintah.

Tabel 5.1 Jumlah Penduduk Kota MalangMenurut KecamatanTahun2010- 2015

No KECAMATAN

TAHUN 2011

TAHUN 2012

TAHUN 2013

TAHUN 2014

TAHUN 2015*) 1 KLOJEN 118.472 110.816 107.729 109.000 109.426 2 BLIMBING 198.040 188.387 187.001 191.631 193.229 3 KEDUNGKANDANG 201.976 193.784 194.071 199.506 202.259 4 LOWOKWARU 169.238 161.603 162.591 166.633 168.308

5 SUKUN 202.353 191.643 193.310 198.241 200.907

KOTAMALANG 890.079 846.233 844.702 865.011 874.129

*) Tahun2015adalahdatabulanJuni2015. Sumber: RKPD tahun 2016

Sedangkan menurut kelompok umur yang dikelompokkan kedalam 8 (delapan) kelompok menurut umur dengan interval kelas kelompok sebesar 5 tahun menunjukkan bahwa jumlah penduduk pada kelompok umur usia sekolah atau wajib belajar yaitu ( 5-9), (10-14) dan (15-19) merupakan kelompok usia yang menikmati wajib belajar 9 tahun, yang kurang lebih meliputi jumlah penduduk sebanyak 202.185 anak usia sekolah.

Tabel 5.2 JumlahPendudukBerdasarkanKelompokUmurSemesterITahun2015

N0. KelompokUmur Jumlah

1 Sumber : RKPD Tahun 2016

Jumlah anak usia wajib belajar tersebut merupakan tantangan bagi sekolah untuk menyediakan fasilitas prasarana sekolah yang representatif bagi mereka dengan memenuhi standar yang telah ditetapkan dalam peraturan menteri pendidikan Nasional (Permendiknas) No.27 Tahun 2007.

4) Pertumbuhan pendapatan perkapitan penduduk kota malang

Pertumbuhan pendapatan masyarakat kota malang yang ditunjukkan dengan PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) memiliki pertumbuhan yang cukup pesaat dengan rata-rata sekitar 7.6 % adalah merupakan tingkat pertumbuhan yang cukup tinggi.

Tabel 5.3 PerkembangandanPertumbuhanPDRBKotaMalangTahun2011- 2014

Tahun PDRBADH

15,27 14.044.625,15 10,48

2011 34.226.477,0

Sumber: RKPD TAHUN 2016

Seiring dengan kemajuan teknologi, maka perkembangan media pembelajaran begitu cepat, di mana masing-masing media yang ada punya ciri-ciri dan kemampuan sendiri.

Dari hal ini, kemudian timbul usaha-usaha penataannya yaitu pengelompokkan atau klasifikasi menurut kesamaan ciri-ciri atau karakteristiknya. Ciri-ciri umum dari media pembelajaran adalah:

a) Media pembelajaran identik dengan pengertian peragaan yang berasal dari kata

“raga”, artinya suatu benda yang dapat diraba, dilihat dan didengar dan yang dapat diamati melalui panca indera.

b) Tekanan utama terletak pada benda atau hal-hal yang dapat dilihat dan didengar.

c) Media pembelajaran digunakan dalam rangka hubungan (komunikasi) dalam pengajaran antara guru dan siswa.

d) Media pembelajaran adalah semacam alat bantu belajar mengajar, baik di dalam maupun di luar kelas.

e) Media pembelajaran merupakan suatu “perantara” (medium, media) dan digunakan dalam rangka belajar.

f) Media pembelajaran mengandung aspek, sebagai alat dan sebagi teknik yang erat pertaliannya dengan metode belajar.

Taksomi media dapat dikelompokkan kedalam beberapa kelompok yaitu: 1) Media audio visual gerak,2) Media audio visual diam, 3) Media audio semi gerak,4) Media visual gerak,5) Media visual diam,6) Media visual semi gerak,7) Media audio,8) Media cetak.

Dapat juga dikelompokkan kedalam 13 media, yaitu sebagai berikut:

1) Obyek,2) Model,3) Suara langsung, 4) Rekaman audio,5) Media cetak, 6) Pembelajaran terprogram,7) Papan tulis,8) Media transparansi, 9) Film rangkai, 10) Film bingkai, 11) Film,12) Televisi.

Sehingga demikian perkembangan teknologi media pembelajaran yang cepat ini menuntut tantangan bagi sekolah untuk mampu menyediakan prasarana sesuai perkembangan teknologi pembelajaran, agar siswa, guru dan pengajar di sekolah dapat menyesuaikan dengan perkembangan lingkungan terutama teknologi yang berkembang.

5.1.2.Aspek Lingkungan Internal Sekolah

Aspek Lingkungan internal yang berkaitan dengan prasana sekolah dapat kelompokkan kedalah kekuatan ataukah kelemahan bagi sekolah di wilayah Kota Malang.

Adapun aspek lingkungan internal ini diantaranya meliputi:

1. Luas lahan yang dimiliki sekolah

2. Luas Lantai Bangunan yang dimiliki sekolah

3. Luas ruang kelas yang dimiliki sekolah 4. Luas perpustakaanyang dimiliki sekolah 5. Kepemilikan ruang lab yang dimiliki sekolah 6. Ruang pimpinan yang dimiliki sekolah 7. Ruang guru yang dimiliki sekolah 8. Tempat ibadah yang dimiliki sekolah 9. Ruang UKS yang dimiliki sekolah 10. Jamban yang dimiliki Sekolah

1) Luas lahan yang dimiliki sekolah

Luas lahan sekolah merupakan prasarana penting bagi keberadaan sekolah dalam memfasilitasi berbagai prasarana sekolah yang ada diatasnya seperti : Ruang Kelas,Perpustakaan,Laboratorium dan Ruang Belajar Mandiri Bahasa, Laboratorium Komputer,Sarana Olah Raga, Sarana Kesenian,ruang perpustakaan, laboratorium IPA, ruang pimpinan, ruang guru, tempat beribadah, ruang UKS, jamban, gudang, ruang sirkulasi, tempat bermain dan sebagainya

Disamping itu lahan sekolah yang luas juga dapat meningkatkan suasana yang kondusif dalam mendukung suasana akademik seperti:

a) Tempat praktik mata pelajaran

Sebenarnya tempat siswa melaksanakan praktik tidak hanya di dalam gedung laboratorium. Praktikum juga dapat dilaksanakan di alam terbuka. Misalnya pada lahan kosong yang tersedia di sekitar sekolah.Lahan kosong di areal sekolah dapat dimanfaatkan menjadi tempat praktik bagi siswa. Misalnya untuk mata pelajaran muatan lokal keterampilan pertanian dan ilmu pengetahuan alam (IPA). Pengelolaan tanaman herbal dan holtikultura di areal sekolah dilakukan oleh siswa di bawah bimbingan guru kedua mata pelajaran tersebut. Tanaman jeruk nipis sebagai media untuk praktikum cara mencangkok pada mata pelajaran keterampilan pertanian maupun IPA. Selain itu, budidaya tanaman herbal dan holtikultura menjadi objek kajian mata pelajaran IPA tentang tumbuhan.

b) Menciptakan lingkungan yang indah dan bersih

Pemanfaatan lahan kosong di sekitar lokal belajar siswa juga menguntungkan dalam gerakan K-3 di sekolah. Lingkungan sekolah menjadi terlihat indah, bersih dan nyaman. Areal sekolah tidak hanya dipenuhi oleh tumbuhan jenis bunga tetapi juga diselingi oleh tanaman produktif yang dikembangkan di sekolah.

c) Bernilai ekonomi

Tanaman yang dibudidayakan melalui pemanfaatan lahan kosong sekitar lokasi sekolah bisa juga bernilai ekonomi. Jeruk nipis dapat dipanen menjadi tambahan uang kas bagi kelas maupun sekolah.

2) Luas lantai bangunan yang dimiliki sekolah

Bangunan sekolah harus memenuhi ketentuan tata bangunan yang terdiri dari::koefisien dasar bangunan maksimum 30 %;koefisien lantai bangunan dan ketinggian maksimum bangunan yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah;,jarak bebas bangunan yang meliputi garis sempadan bangunan dengan as jalan, tepi sungai, tepi pantai, jalan kereta api, dan/atau jaringan tegangan tinggi, jarak antara bangunan dengan batas-batas persil, dan jarak antara as jalan dan pagar halaman yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah.

Disamping itu bangunan harus memiliki persyaratan yang terpenuhi diantaranya:

1) Bangunan memenuhi persyaratan keselamatan bagi penghuni sekolah sebagai berikut.

a. Memiliki konstruksi yang stabil dan kukuh sampai dengan kondisi pembebanan maksimum dalam mendukung beban muatan hidup dan beban muatan mati, serta untuk daerah/zona tertentu kemampuan untuk menahan gempa dan kekuatan alam lainnya.

b. Dilengkapi sistem proteksi pasif dan/atau proteksi aktif untuk mencegah dan menanggulangi bahaya kebakaran dan petir.

2) Bangunan memenuhi persyaratan kesehatan berikut.

a. Mempunyai fasilitas secukupnya untuk ventilasi udara dan pencahayaan yang memadai.

b. Memiliki sanitasi di dalam dan di luar bangunan meliputi saluran air bersih, saluran air kotor dan/atau air limbah, tempat sampah, dan saluran air hujan.

c. Bahan bangunan yang aman bagi kesehatan pengguna bangunan dan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan.

3) Bangunan gedung menyediakan fasilitas dan aksesibilitas yang mudah, aman, dan nyaman termasuk bagi penyandang cacat.

4) Bangunan memenuhi persyaratan kenyamanan berikut.

a. Bangunan mampu meredam getaran dan kebisingan yang mengganggu kegiatan pembelajaran.

b. Setiap ruangan memiliki pengaturan penghawaan yang baik.

c. Setiap ruangan dilengkapi dengan lampu penerangan.

5) Bangunan bertingkat memenuhi persyaratan berikut.

a. Maksimum terdiri dari tiga lantai.

b. Dilengkapi tangga yang mempertimbangkan kemudahan, keamanan, keselamatan, dan kesehatan pengguna.

6) Bangunan dilengkapi sistem keamanan berikut.

a. Peringatan bahaya bagi pengguna, pintu keluar darurat, dan jalur evakuasi jika terjadi bencana kebakaran dan/atau bencana lainnya.

b. Akses evakuasi yang dapat dicapai dengan mudah dan dilengkapi penunjuk arah yang jelas.

7) Bangunan dilengkapi instalasi listrik dengan daya minimum 900 watt.

8) Pembangunan gedung atau ruang baru harus dirancang, dilaksanakan, dan diawasi secara profesional.

9) Kualitas bangunan gedung minimum permanen kelas B, sesuai dengan PP No.

19 Tahun 2005 Pasal 45, dan mengacu pada Standar PU.

10) Bangunan gedung sekolah/madrasah baru dapat bertahan minimum 20 tahun.

11) Pemeliharaan bangunan sekolah/madrasah adalah sebagai berikut.

a. Pemeliharaan ringan, meliputi pengecatan ulang, perbaikan sebagian daun jendela/pintu, penutup lantai, penutup atap, plafon, instalasi air dan listrik, dilakukan minimum sekali dalam 5 tahun.

b. Pemeliharaan berat, meliputi penggantian rangka atap, rangka plafon, rangka kayu, kusen, dan semua penutup atap, dilakukan minimum sekali dalam 20 tahun.

12) Bangunan gedung dilengkapi izin mendirikan bangunan dan izin penggunaan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

3) Luas Ruang Kelas yang dimiliki sekolah

Kelas merupakan suatu unit kerja yang berdiri sendiri perlu mendapatkan pengeloaan dan pengaturan kelas yang baik agar mendapatkan pengelolaan dan pengaturan kelas yang baik agar dinamika kelas dapat bekerja dengan baik, untuk dapat mengelola kelas dengan baik, maka dalam hal ini perlu diperhatikan beberapa aspek yang menjadi dasar penyelenggaraan pengelolan kelas.

Adapun aspek-aspek pengelolaan kelas adalah sebagai berikut:

a. Perencanaan kelas b. Pengorganisasi kelas c. Pengarahan kelas d. Koordinasi kelas e. Komunikasi kelas f. Kontrol kelas

Untuk lebih jelasnya aspek pengelolaan kelas tersebut di atas:

a. Perencanaan kelas

Dalam setiap kegiatan suatu keorganisasian sangat diperlukan adanya perencanaan (planing), baik itu perencanaan jangka panjang, sebab suatu kegiatan tanpa perencanaan tidak akan berjalan dengan baik, begitu pula dengan pengelolaan kelas perlu adanya perencanaan yang matang, yang diwujudkan dalam bentuk-bentuk program-program yang konkrit dengan mengkaitkan alokasi waktu yang tersedia berwujud program-program tahunan, semester, bulanan dan mingguan serta harian.

Program harian dan mingguan yang berhubungan dengan kurikulum, disusun dalam bentuk daftar pelajaran, sedangkan dalam program tahunan di dalamnya memuat secara terperinci mengenai program semester dan juga didalamnya program bulanan. Program-program tersebut perlu dirumuskan adanya tujuan setiap bidang studi.

Disamping perencanaan yang berdasarkan kurikulum bagi sebuah kelas, perlu pula disusun dan direncanakan adanya program penunjang yang berupa ekstra kurikuler guna menunjang kegiatan Proses Belajar Mengajar.

b. Pengorgansiasian kelas

Organisasi kelas adalah aktifitas-aktifitas menyusun dan membantu hubungan-hubungan sedemikian rupa, sehingga terwujudlah kesatuan usaha dalam mencapai maksud-maksud dan tujuan-tujuan pendidikan.

Organisasi-organisasi kelas pada umumnya berbentuk sederhana yang personilnya meliputi ketua kelas, wakil ketua kelas, sekretaris, bendahara dan beberapa buah seksi suatu dengan keperluan.

Sedangkan tujuan organisasi ialah untuk memenuhi misi yang diemban yaitu untuk menyelesaikan tujuan organisasi yang lebih ditetapkan sebelumnya.

Berpijak dari uraian diatas, maka kelas merupakan sub sistem dari sebuah sekolah, yang mana didayagunakan sebaik mungkin, dan guru atau wali kelas harus mampu membagi beban kerja dengan memberi wewenang dan tanggung jawab secukupnya kepada semua personil yang ikut serta dalam pengelolaan kelas, sehubungan dengan itu harus diupayakan setiap personil kelas mampu serta mengetahui posisinya masing-masing seperti yang telah disebutkan, yaitu bentuk kepengurusan kelas serta jadwal piket yang berhubungan dengan program 5-K.

Dengan terbentuknya pengurus-pengurus tersebut dalam pembagian tugas

masing-masing maka situasi kelas akan harmonis dan Proses belajar Mengajar akan lancar dan baik.

c. Pengarahan kelas

Agar didalam melaksanakan tugas yang baik ada dalam kelas yang telah direncanakan dan disusun sesuai dengan pembagian tugas masing-masing tersebut di atas tidak menjadi penyimpangan dari rencana atau program yang telah ditentukan. Untuk itu, guru atau wali kelas hendaknya memberikan instruksi-instruksi dan petunjuk-petunjuk serta bimbingan yang telah dilakukan melalui kerjasama antara guru beserta siswa dan kepala sebagai supervisornya.

Guru adalah sebagai tempat dimana murid mencurahkan isi hatinya dalam menghadapi kesulitannya, menampung masalah siswa dan menyuruh kembali, sehingga dapat dibimbing untuk memasukkan jalan keluarnya. Guru didalam memberikan pengarahan itu hendaknya diputuskan dengan jalan musyawarah.

d. Koordinasi kelas

Koordinasi diwujudkan dengan cara bekerja sama yang didasari saling pengertian dalam tugas dan peranannya masing-masing. Dalam tugas koordinasi yang efektif memungkinkan setiap personil menyampaikan saran-saran dan pendapat-pendapat serta gagasan-gagasan baik dalam kerjanya sendiri maupun mengenai bidang studi satu kerja dengan orang lain terutama yang mempunyai sangkut paut dengan bidang tugas yang menjadi tanggung jawab yang bersangkutan agar tidak terjadi tabrakan atau kesimpangsiuran dalam penggunaan waktu dan fasilitas kelas.

Dari beberapa uraian tersebut di atas maka jelaslah bahwa koordinasi pada dasarnya suatu usaha kegiatan wali kelas untuk menciptakan hubungan kerja yang harmonis sehingga pekerjaan menjadi produktif, baik untuk kepentingan kelas secara khusus, maupun sekolah pada umumnya.

e. Komunikasi kelas

Dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab terhadap kegiatan yang meliputi perencanaan sampai kontrol kelas dalam segala aspeknya termasuk dalam segala hal ini adalah kegiatan Proses Belajar Mengajar diperlukan hubungan manusia yang harmonis.

Dalam bentuk konkrit komunikasi disalurkan melalui kesediaan menyampaikan

sebagai anggota kelas, tetap dengan itu kelas akan berjalan dengan baik sebagaimana mestinya.

f. Kontrol kelas

Selama dan sesudah kegiatan kelas berdasarkan program yang telah disusun dan dilaksanakan diperlukan kegiatan kontrol yang dilakukan oleh seorang wali kelas atau guru kelas. Dalam bentuk kongkrit kontrol dilakukan terhadap realisasi jadwal pelajaran, disiplin guru dan siswa, kedisiplinan karyawan serta personalianya sangat diperlukan dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa.Disiplin merupakan suatu hal yang sangat dominan, tanpa disertai disiplin, maka semua kegiatan yang ada pada kelompok akan berhenti dan terganggu.

Kepala sekolah, dewan guru, karyawan sekaloh, serta seluruh siswa harus mengendalikan tata perilaku yang dibuat. Masalah kedisiplinan sekolah merupakan masalah yang sangat penting untuk mengetahui diri lembaga tertentu.

Dalam hal ini disiplin atau tata tertib hanya digunakan untuk mengontrol tingkah laku peserta didik yang dikehendaki agar tugas-tugas disekolah dapat berjalan dengan optimal.

Jadi, tujuan pengawasan adalah untuk mengetahui apakah pelaksanaan sudah sesuai dengan perencanannya yang telah ditetapkan dahulu atau belum. Sehingga dengan melihat atau melalui kontrol yang baik maka dapat diketahui tingkat keberhasilan maupun tidak berhasilnya program diatas dan selanjutnya harus diteliti sebab-sebab ketidakberhasilan untuk digunakan sebagai bahan pertimbangan program berikutnya

4) Luas Perpustakaanyang dimiliki sekolah

Tujuan utama penyelenggaraan perpustakaan sekolah adalah meningkatkan mutu pendidikan bersama-sama dengan unsur-unsur sekolah lainnya. Sedangkan tujuan lainnya adalah menunjang, mendukung, dan melengkapi semua kegiatan baik kurikuler, ko-kurikuler dan ekstra ko-kurikuler, di samping dimaksudkan pula dapat membantu menumbuhkan minat dan mengembangkan bakat murid serta memantapkan strategi belajar mengajar.

Namun secara operasional tujuan perpustakaan sekolah bila dikaitkan dengan pelaksanaan program di sekolah, diantaranya adalah:

a) Memupuk rasa cinta, kesadaran, dan kebiasaan membaca.

b) Membimbing dan mengarahkan teknik memahami isi bacaan.

c) Memperluas pengetahuan para siswa.

d) Membantu mengembangkan kecakapan berbahasa dan daya pikir para siswa dengan menyediakan bahan bacaan yang bermutu.

e) Membimbing para siswa agar dapat menggunakan dan memelihara bahan pustaka dengan baik.

f) Memberikan dasar-dasar ke arah studi mandiri.

g) Memberikan kesempatan kepada para siswa untuk belajar bagaimana cara menggunakan perpustakaan dengan baik, efektif dan efisien, terutama dalam menggunakan bahan-bahan referensi.

h) Menyediakan bahan-bahan pustaka yang menunjang pelaksaanan program kurikulum di sekolah baik yang bersifat kurikuler, kokurikuler, maupun ekstra kurikuler.

Perpustakaan sekolah merupakan salah satu dari sarana yang efektif untuk menambah pengetahuan melalui beraneka bacaan. Berbeda dari pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari secara klasikal di sekolah, perpustakaan menyediakan berbagai bahan pustaka yang secara individual dapat dimanfaatkan oleh peminatnya masing-masing. Salah satu sumber belajar yang amat penting, tetapi bukan satu-satunya, adalah perpustakaan yang memungkinkan para tenaga kependidikan dan peserta didik memperoleh kesempatan untuk memperluas dan memperdalam pengetahuan yang diperlukan.

Undang-undang tentang Sistem Pendidikan Nasional yang baru (UU Nomor 20 Tahun 2003) pasal 45, tidak secara implisit menyebutkan agar setiap satuan pendidikan jalur pendidikan harus menyediakan perpustakaan sebagai sumber belajar. Namun, Undang-undang tersebut menyatakan bahwa “setiap satuan pendidikan formal dan nonformal menyediakan sarana dan prasarana yang memenuhi keperluan pendidikan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan potensi fisik, kecerdasan intelektual, sosial, emosional, dan kejiwaan peserta didik”. Karena perpustakaan secara implisit termasuk dalam pengertian sarana dan prasarana pendidikan, maka pengadaannya harus memenuhi ketentuan pasal tersebut. Penyelenggaraan perpustakaan sekolah bukan hanya untuk mengumpulkan dan menyimpan bahan pustaka, tetapi juga dapat membantu murid dan guru menyelesaikan tugas-tugas dalam proses pembelajaran. Oleh sebab itu, bahan pustaka yang dimiliki perpustakaan sekolah harus dapat menunjang proses pembelajaran. Agar dapat menunjang proses itu, pengadaan bahan pustaka hendaknya mempertimbangkan kurikulum sekolah serta minat para pemakainya, khususnya para murid dan guru.

Perpustakaan sekolah akan bermanfaat jika benar-benar mempelancar pencapaian tujuan proses pembelajaran di sekolah. Indikasi manfaat tersebut tidak hanya berupa

tingginya prestasi murid, tetapi lebih jauh lagi, antara lain murid mampu mencari, menemukan, menyaring, dan menilai informasi; terbiasa belajar sendiri; terlatih bertanggung jawab; serta selalu mengikuti perkembangan ilmu, pengetahuan, dan teknologi.

Berdasarkan tujuan perpustakaan sekolah, maka dapat dirumuskan beberapa fungsi perpustakaan, sebagai berikut :

a) Fungsi Edukatif. Yang dimaksud dengan fungsi edukatif adalah perpustakaan menyediakan bahan pustaka yang sesuai dengan kurikulum yang mampu membangkitkan minat baca para siswa, mengembangkan daya ekspresi, mengembangkan kecakapan berbahasa, mengembangkan gaya pikir yang rasional

a) Fungsi Edukatif. Yang dimaksud dengan fungsi edukatif adalah perpustakaan menyediakan bahan pustaka yang sesuai dengan kurikulum yang mampu membangkitkan minat baca para siswa, mengembangkan daya ekspresi, mengembangkan kecakapan berbahasa, mengembangkan gaya pikir yang rasional

Dokumen terkait