• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PEMBAHASAN

5.1.2 Aspek Lingkungan Internal Sekolah

Aspek Lingkungan internal yang berkaitan dengan prasana sekolah dapat kelompokkan kedalah kekuatan ataukah kelemahan bagi sekolah di wilayah Kota Malang.

Adapun aspek lingkungan internal ini diantaranya meliputi:

1. Luas lahan yang dimiliki sekolah

2. Luas Lantai Bangunan yang dimiliki sekolah

3. Luas ruang kelas yang dimiliki sekolah 4. Luas perpustakaanyang dimiliki sekolah 5. Kepemilikan ruang lab yang dimiliki sekolah 6. Ruang pimpinan yang dimiliki sekolah 7. Ruang guru yang dimiliki sekolah 8. Tempat ibadah yang dimiliki sekolah 9. Ruang UKS yang dimiliki sekolah 10. Jamban yang dimiliki Sekolah

1) Luas lahan yang dimiliki sekolah

Luas lahan sekolah merupakan prasarana penting bagi keberadaan sekolah dalam memfasilitasi berbagai prasarana sekolah yang ada diatasnya seperti : Ruang Kelas,Perpustakaan,Laboratorium dan Ruang Belajar Mandiri Bahasa, Laboratorium Komputer,Sarana Olah Raga, Sarana Kesenian,ruang perpustakaan, laboratorium IPA, ruang pimpinan, ruang guru, tempat beribadah, ruang UKS, jamban, gudang, ruang sirkulasi, tempat bermain dan sebagainya

Disamping itu lahan sekolah yang luas juga dapat meningkatkan suasana yang kondusif dalam mendukung suasana akademik seperti:

a) Tempat praktik mata pelajaran

Sebenarnya tempat siswa melaksanakan praktik tidak hanya di dalam gedung laboratorium. Praktikum juga dapat dilaksanakan di alam terbuka. Misalnya pada lahan kosong yang tersedia di sekitar sekolah.Lahan kosong di areal sekolah dapat dimanfaatkan menjadi tempat praktik bagi siswa. Misalnya untuk mata pelajaran muatan lokal keterampilan pertanian dan ilmu pengetahuan alam (IPA). Pengelolaan tanaman herbal dan holtikultura di areal sekolah dilakukan oleh siswa di bawah bimbingan guru kedua mata pelajaran tersebut. Tanaman jeruk nipis sebagai media untuk praktikum cara mencangkok pada mata pelajaran keterampilan pertanian maupun IPA. Selain itu, budidaya tanaman herbal dan holtikultura menjadi objek kajian mata pelajaran IPA tentang tumbuhan.

b) Menciptakan lingkungan yang indah dan bersih

Pemanfaatan lahan kosong di sekitar lokal belajar siswa juga menguntungkan dalam gerakan K-3 di sekolah. Lingkungan sekolah menjadi terlihat indah, bersih dan nyaman. Areal sekolah tidak hanya dipenuhi oleh tumbuhan jenis bunga tetapi juga diselingi oleh tanaman produktif yang dikembangkan di sekolah.

c) Bernilai ekonomi

Tanaman yang dibudidayakan melalui pemanfaatan lahan kosong sekitar lokasi sekolah bisa juga bernilai ekonomi. Jeruk nipis dapat dipanen menjadi tambahan uang kas bagi kelas maupun sekolah.

2) Luas lantai bangunan yang dimiliki sekolah

Bangunan sekolah harus memenuhi ketentuan tata bangunan yang terdiri dari::koefisien dasar bangunan maksimum 30 %;koefisien lantai bangunan dan ketinggian maksimum bangunan yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah;,jarak bebas bangunan yang meliputi garis sempadan bangunan dengan as jalan, tepi sungai, tepi pantai, jalan kereta api, dan/atau jaringan tegangan tinggi, jarak antara bangunan dengan batas-batas persil, dan jarak antara as jalan dan pagar halaman yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah.

Disamping itu bangunan harus memiliki persyaratan yang terpenuhi diantaranya:

1) Bangunan memenuhi persyaratan keselamatan bagi penghuni sekolah sebagai berikut.

a. Memiliki konstruksi yang stabil dan kukuh sampai dengan kondisi pembebanan maksimum dalam mendukung beban muatan hidup dan beban muatan mati, serta untuk daerah/zona tertentu kemampuan untuk menahan gempa dan kekuatan alam lainnya.

b. Dilengkapi sistem proteksi pasif dan/atau proteksi aktif untuk mencegah dan menanggulangi bahaya kebakaran dan petir.

2) Bangunan memenuhi persyaratan kesehatan berikut.

a. Mempunyai fasilitas secukupnya untuk ventilasi udara dan pencahayaan yang memadai.

b. Memiliki sanitasi di dalam dan di luar bangunan meliputi saluran air bersih, saluran air kotor dan/atau air limbah, tempat sampah, dan saluran air hujan.

c. Bahan bangunan yang aman bagi kesehatan pengguna bangunan dan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan.

3) Bangunan gedung menyediakan fasilitas dan aksesibilitas yang mudah, aman, dan nyaman termasuk bagi penyandang cacat.

4) Bangunan memenuhi persyaratan kenyamanan berikut.

a. Bangunan mampu meredam getaran dan kebisingan yang mengganggu kegiatan pembelajaran.

b. Setiap ruangan memiliki pengaturan penghawaan yang baik.

c. Setiap ruangan dilengkapi dengan lampu penerangan.

5) Bangunan bertingkat memenuhi persyaratan berikut.

a. Maksimum terdiri dari tiga lantai.

b. Dilengkapi tangga yang mempertimbangkan kemudahan, keamanan, keselamatan, dan kesehatan pengguna.

6) Bangunan dilengkapi sistem keamanan berikut.

a. Peringatan bahaya bagi pengguna, pintu keluar darurat, dan jalur evakuasi jika terjadi bencana kebakaran dan/atau bencana lainnya.

b. Akses evakuasi yang dapat dicapai dengan mudah dan dilengkapi penunjuk arah yang jelas.

7) Bangunan dilengkapi instalasi listrik dengan daya minimum 900 watt.

8) Pembangunan gedung atau ruang baru harus dirancang, dilaksanakan, dan diawasi secara profesional.

9) Kualitas bangunan gedung minimum permanen kelas B, sesuai dengan PP No.

19 Tahun 2005 Pasal 45, dan mengacu pada Standar PU.

10) Bangunan gedung sekolah/madrasah baru dapat bertahan minimum 20 tahun.

11) Pemeliharaan bangunan sekolah/madrasah adalah sebagai berikut.

a. Pemeliharaan ringan, meliputi pengecatan ulang, perbaikan sebagian daun jendela/pintu, penutup lantai, penutup atap, plafon, instalasi air dan listrik, dilakukan minimum sekali dalam 5 tahun.

b. Pemeliharaan berat, meliputi penggantian rangka atap, rangka plafon, rangka kayu, kusen, dan semua penutup atap, dilakukan minimum sekali dalam 20 tahun.

12) Bangunan gedung dilengkapi izin mendirikan bangunan dan izin penggunaan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

3) Luas Ruang Kelas yang dimiliki sekolah

Kelas merupakan suatu unit kerja yang berdiri sendiri perlu mendapatkan pengeloaan dan pengaturan kelas yang baik agar mendapatkan pengelolaan dan pengaturan kelas yang baik agar dinamika kelas dapat bekerja dengan baik, untuk dapat mengelola kelas dengan baik, maka dalam hal ini perlu diperhatikan beberapa aspek yang menjadi dasar penyelenggaraan pengelolan kelas.

Adapun aspek-aspek pengelolaan kelas adalah sebagai berikut:

a. Perencanaan kelas b. Pengorganisasi kelas c. Pengarahan kelas d. Koordinasi kelas e. Komunikasi kelas f. Kontrol kelas

Untuk lebih jelasnya aspek pengelolaan kelas tersebut di atas:

a. Perencanaan kelas

Dalam setiap kegiatan suatu keorganisasian sangat diperlukan adanya perencanaan (planing), baik itu perencanaan jangka panjang, sebab suatu kegiatan tanpa perencanaan tidak akan berjalan dengan baik, begitu pula dengan pengelolaan kelas perlu adanya perencanaan yang matang, yang diwujudkan dalam bentuk-bentuk program-program yang konkrit dengan mengkaitkan alokasi waktu yang tersedia berwujud program-program tahunan, semester, bulanan dan mingguan serta harian.

Program harian dan mingguan yang berhubungan dengan kurikulum, disusun dalam bentuk daftar pelajaran, sedangkan dalam program tahunan di dalamnya memuat secara terperinci mengenai program semester dan juga didalamnya program bulanan. Program-program tersebut perlu dirumuskan adanya tujuan setiap bidang studi.

Disamping perencanaan yang berdasarkan kurikulum bagi sebuah kelas, perlu pula disusun dan direncanakan adanya program penunjang yang berupa ekstra kurikuler guna menunjang kegiatan Proses Belajar Mengajar.

b. Pengorgansiasian kelas

Organisasi kelas adalah aktifitas-aktifitas menyusun dan membantu hubungan-hubungan sedemikian rupa, sehingga terwujudlah kesatuan usaha dalam mencapai maksud-maksud dan tujuan-tujuan pendidikan.

Organisasi-organisasi kelas pada umumnya berbentuk sederhana yang personilnya meliputi ketua kelas, wakil ketua kelas, sekretaris, bendahara dan beberapa buah seksi suatu dengan keperluan.

Sedangkan tujuan organisasi ialah untuk memenuhi misi yang diemban yaitu untuk menyelesaikan tujuan organisasi yang lebih ditetapkan sebelumnya.

Berpijak dari uraian diatas, maka kelas merupakan sub sistem dari sebuah sekolah, yang mana didayagunakan sebaik mungkin, dan guru atau wali kelas harus mampu membagi beban kerja dengan memberi wewenang dan tanggung jawab secukupnya kepada semua personil yang ikut serta dalam pengelolaan kelas, sehubungan dengan itu harus diupayakan setiap personil kelas mampu serta mengetahui posisinya masing-masing seperti yang telah disebutkan, yaitu bentuk kepengurusan kelas serta jadwal piket yang berhubungan dengan program 5-K.

Dengan terbentuknya pengurus-pengurus tersebut dalam pembagian tugas

masing-masing maka situasi kelas akan harmonis dan Proses belajar Mengajar akan lancar dan baik.

c. Pengarahan kelas

Agar didalam melaksanakan tugas yang baik ada dalam kelas yang telah direncanakan dan disusun sesuai dengan pembagian tugas masing-masing tersebut di atas tidak menjadi penyimpangan dari rencana atau program yang telah ditentukan. Untuk itu, guru atau wali kelas hendaknya memberikan instruksi-instruksi dan petunjuk-petunjuk serta bimbingan yang telah dilakukan melalui kerjasama antara guru beserta siswa dan kepala sebagai supervisornya.

Guru adalah sebagai tempat dimana murid mencurahkan isi hatinya dalam menghadapi kesulitannya, menampung masalah siswa dan menyuruh kembali, sehingga dapat dibimbing untuk memasukkan jalan keluarnya. Guru didalam memberikan pengarahan itu hendaknya diputuskan dengan jalan musyawarah.

d. Koordinasi kelas

Koordinasi diwujudkan dengan cara bekerja sama yang didasari saling pengertian dalam tugas dan peranannya masing-masing. Dalam tugas koordinasi yang efektif memungkinkan setiap personil menyampaikan saran-saran dan pendapat-pendapat serta gagasan-gagasan baik dalam kerjanya sendiri maupun mengenai bidang studi satu kerja dengan orang lain terutama yang mempunyai sangkut paut dengan bidang tugas yang menjadi tanggung jawab yang bersangkutan agar tidak terjadi tabrakan atau kesimpangsiuran dalam penggunaan waktu dan fasilitas kelas.

Dari beberapa uraian tersebut di atas maka jelaslah bahwa koordinasi pada dasarnya suatu usaha kegiatan wali kelas untuk menciptakan hubungan kerja yang harmonis sehingga pekerjaan menjadi produktif, baik untuk kepentingan kelas secara khusus, maupun sekolah pada umumnya.

e. Komunikasi kelas

Dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab terhadap kegiatan yang meliputi perencanaan sampai kontrol kelas dalam segala aspeknya termasuk dalam segala hal ini adalah kegiatan Proses Belajar Mengajar diperlukan hubungan manusia yang harmonis.

Dalam bentuk konkrit komunikasi disalurkan melalui kesediaan menyampaikan

sebagai anggota kelas, tetap dengan itu kelas akan berjalan dengan baik sebagaimana mestinya.

f. Kontrol kelas

Selama dan sesudah kegiatan kelas berdasarkan program yang telah disusun dan dilaksanakan diperlukan kegiatan kontrol yang dilakukan oleh seorang wali kelas atau guru kelas. Dalam bentuk kongkrit kontrol dilakukan terhadap realisasi jadwal pelajaran, disiplin guru dan siswa, kedisiplinan karyawan serta personalianya sangat diperlukan dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa.Disiplin merupakan suatu hal yang sangat dominan, tanpa disertai disiplin, maka semua kegiatan yang ada pada kelompok akan berhenti dan terganggu.

Kepala sekolah, dewan guru, karyawan sekaloh, serta seluruh siswa harus mengendalikan tata perilaku yang dibuat. Masalah kedisiplinan sekolah merupakan masalah yang sangat penting untuk mengetahui diri lembaga tertentu.

Dalam hal ini disiplin atau tata tertib hanya digunakan untuk mengontrol tingkah laku peserta didik yang dikehendaki agar tugas-tugas disekolah dapat berjalan dengan optimal.

Jadi, tujuan pengawasan adalah untuk mengetahui apakah pelaksanaan sudah sesuai dengan perencanannya yang telah ditetapkan dahulu atau belum. Sehingga dengan melihat atau melalui kontrol yang baik maka dapat diketahui tingkat keberhasilan maupun tidak berhasilnya program diatas dan selanjutnya harus diteliti sebab-sebab ketidakberhasilan untuk digunakan sebagai bahan pertimbangan program berikutnya

4) Luas Perpustakaanyang dimiliki sekolah

Tujuan utama penyelenggaraan perpustakaan sekolah adalah meningkatkan mutu pendidikan bersama-sama dengan unsur-unsur sekolah lainnya. Sedangkan tujuan lainnya adalah menunjang, mendukung, dan melengkapi semua kegiatan baik kurikuler, ko-kurikuler dan ekstra ko-kurikuler, di samping dimaksudkan pula dapat membantu menumbuhkan minat dan mengembangkan bakat murid serta memantapkan strategi belajar mengajar.

Namun secara operasional tujuan perpustakaan sekolah bila dikaitkan dengan pelaksanaan program di sekolah, diantaranya adalah:

a) Memupuk rasa cinta, kesadaran, dan kebiasaan membaca.

b) Membimbing dan mengarahkan teknik memahami isi bacaan.

c) Memperluas pengetahuan para siswa.

d) Membantu mengembangkan kecakapan berbahasa dan daya pikir para siswa dengan menyediakan bahan bacaan yang bermutu.

e) Membimbing para siswa agar dapat menggunakan dan memelihara bahan pustaka dengan baik.

f) Memberikan dasar-dasar ke arah studi mandiri.

g) Memberikan kesempatan kepada para siswa untuk belajar bagaimana cara menggunakan perpustakaan dengan baik, efektif dan efisien, terutama dalam menggunakan bahan-bahan referensi.

h) Menyediakan bahan-bahan pustaka yang menunjang pelaksaanan program kurikulum di sekolah baik yang bersifat kurikuler, kokurikuler, maupun ekstra kurikuler.

Perpustakaan sekolah merupakan salah satu dari sarana yang efektif untuk menambah pengetahuan melalui beraneka bacaan. Berbeda dari pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari secara klasikal di sekolah, perpustakaan menyediakan berbagai bahan pustaka yang secara individual dapat dimanfaatkan oleh peminatnya masing-masing. Salah satu sumber belajar yang amat penting, tetapi bukan satu-satunya, adalah perpustakaan yang memungkinkan para tenaga kependidikan dan peserta didik memperoleh kesempatan untuk memperluas dan memperdalam pengetahuan yang diperlukan.

Undang-undang tentang Sistem Pendidikan Nasional yang baru (UU Nomor 20 Tahun 2003) pasal 45, tidak secara implisit menyebutkan agar setiap satuan pendidikan jalur pendidikan harus menyediakan perpustakaan sebagai sumber belajar. Namun, Undang-undang tersebut menyatakan bahwa “setiap satuan pendidikan formal dan nonformal menyediakan sarana dan prasarana yang memenuhi keperluan pendidikan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan potensi fisik, kecerdasan intelektual, sosial, emosional, dan kejiwaan peserta didik”. Karena perpustakaan secara implisit termasuk dalam pengertian sarana dan prasarana pendidikan, maka pengadaannya harus memenuhi ketentuan pasal tersebut. Penyelenggaraan perpustakaan sekolah bukan hanya untuk mengumpulkan dan menyimpan bahan pustaka, tetapi juga dapat membantu murid dan guru menyelesaikan tugas-tugas dalam proses pembelajaran. Oleh sebab itu, bahan pustaka yang dimiliki perpustakaan sekolah harus dapat menunjang proses pembelajaran. Agar dapat menunjang proses itu, pengadaan bahan pustaka hendaknya mempertimbangkan kurikulum sekolah serta minat para pemakainya, khususnya para murid dan guru.

Perpustakaan sekolah akan bermanfaat jika benar-benar mempelancar pencapaian tujuan proses pembelajaran di sekolah. Indikasi manfaat tersebut tidak hanya berupa

tingginya prestasi murid, tetapi lebih jauh lagi, antara lain murid mampu mencari, menemukan, menyaring, dan menilai informasi; terbiasa belajar sendiri; terlatih bertanggung jawab; serta selalu mengikuti perkembangan ilmu, pengetahuan, dan teknologi.

Berdasarkan tujuan perpustakaan sekolah, maka dapat dirumuskan beberapa fungsi perpustakaan, sebagai berikut :

a) Fungsi Edukatif. Yang dimaksud dengan fungsi edukatif adalah perpustakaan menyediakan bahan pustaka yang sesuai dengan kurikulum yang mampu membangkitkan minat baca para siswa, mengembangkan daya ekspresi, mengembangkan kecakapan berbahasa, mengembangkan gaya pikir yang rasional dan kritis serta mampu membimbing dan membina para siswa dalam hal cara menggunakan dan memelihara bahan pustaka dengan baik.

b) Fungsi Informatif. Yang dimaksud dengan fungsi informatif adalah perpustakaan menyediakan bahan pustaka yang memuat informasi tentang berbagai cabang ilmu pengetahuan yang bermutu dan uptodate yang disusun secara teratur dan sistematis, sehingga dapat memudahkan para petugas dan pemakai dalam mencari informasi yang diperlukannya.

c) Fungsi Administratif. Yang dimaksudkan dengan fungsi administratif ialah perpustakaan harus mengerjakan pencatatan, penyelesaian dan pemrosesan bahan-bahan pustaka serta menyelenggarakan sirkulasi yang praktis, efektif, dan efisien.

d) Fungsi Rekreatif. Yang dimaksudkan dengan fungsi rekreatif ialah perpustakaan disamping menyediakan buku pengetahuan juga perlu menyediakan buku-buku yang bersifat rekreatif (hiburan) dan bermutu, sehingga dapat digunakan para pembaca untuk mengisi waktu senggang, baik oleh siswa maupun oleh guru.

e) Fungsi Penelitian. Yang dimaksudkan dengan fungsi penelitian ialah perpustakaan menyediakan bacaan yang dapat dijadikan sebagai sumber/obyek penelitian sederhana dalam berbagai bidang studi.

Lahan perpustakaan Sekolahyang dimiliki oleh sekolah sekolah di Kota Malang memiliki luas yang sesuai dengan yang ditetapkan Permendiknas No.27 Tahun 2007, sehingga representasi dapat mendukung keberadaan perpustakaan sekaligus dapat mendukung fungsi perpustakaan sehingga sesuai dengan harapan perpustakaan sekolah sebagai jantung ilmu pengetahuan.

5) Kepemilikan Ruang Lab yang dimiliki sekolah

Laboratorium adalah suatu tempat dilakukannya percobaan dan penelitian. Tempat ini dapat merupakan ruangan tertutup, kamar atau ruangan terbuka. Laboratorium adalah suatu ruangan yang tertutup di mana percobaan eksperimen dan penelitian dilakukan (Depdikbud : 1995, 2003).Laboratorium adalah tempat belajar mengajar melalui metode pratikum yang dapat menghasilkan pengalaman belajar di mana siswa berinteraksi dengan berbagai alat dan bahan untuk mengobservasi gejala-gejala yang dapat diamati secara langsung dan dapat membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajari.

Laboratorium (disingkat lab) adalah tempat riset ilmiah, eksperimen, pengukuran ataupun pelatihan ilmiah dilakukan. Laboratorium biasanya dibuat untuk memungkinkan dilakukannya kegiatan-kegiatan tersebut secara terkendali (Anonim, 2007). Sementara menurut Emha (2002), laboratorium diartikan sebagai suatu tempat untuk mengadakan percobaan, penyelidikan, dan sebagainya yang berhubungan dengan ilmu fisika, kimia, dan biologi atau bidang ilmu lain.

Pengertian lain menurut Sukarso (2005), laboratorium ialah suatu tempat dimana dilakukan kegiatan kerja untuk mernghasilkan sesuatu. Tempat ini dapat merupakan suatu ruangan tertutup, kamar, atau ruangan terbuka, misalnya kebun dan lain-lain.

Berdasarkan definisi tersebut, laboratorium adalah suatu tempat yang digunakan untuk melakukan percobaan maupun pelatihan yang berhubungan dengan ilmu fisika, biologi, dan kimia atau bidang ilmu lain, yang merupakan suatu ruangan tertutup, kamar atau ruangan terbuka seperti kebun dan lain-lain.

Secara garis besar fungsi laboratorium dalam proses pendidikan adalah sebagai berikut:

a) Sebagai tempat untuk berlatih mengembangkan keterampilan intelektual melalui kegiatan pengamatan, pencatatan dan pengkaji gejala-gejala alam.

b) Mengembangkan keterampilan motorik siswa. Siswa akan bertambah keterampilannya dalam mempergunakan alat-alat media yang tersedia untuk mencari dan menemukan kebenaran.

c) Memberikan dan memupuk keberanian untuk mencari hakekat kebenaran ilmiah dari sesuatu objek dalam lingkungn alam dan sosial.

d) Memupuk rasa ingin tahu siswa sebagai modal sikap ilmiah seseorang calon ilmuan.

e) Membina rasa percaya diri sebagai akibat keterampilan dan pengetahuan atau penemuan yang diperolehnya.

Sehingga fungsi dari laboratorium dapat juga dijelaskan berdasarkan tujan pembelajaran sebagai berikut:

a) Laboratorium Sebagai Sumber Belajar

Tujuan pembelajaran fisika dengan banyak variasi dapat digali, diungkapkan, dan dikembangkan dari laboratorium. Laboratorium sebagai sumber untuk memecahkan masalah atau melakukan percobaan. Berbagai masalah yang berkaitan dengan tujuan pembelajaran terdiri dari 3 ranah yakni: ranah pengetahuan, ranah sikap, dan ranah keterampilan/afektif.

b) Laboratorium Sebagai Metode Pembelajaran

Di dalam laboratorium terdapat dua metode dalam pembelajaran yakni metode percobaan dan metode pengamatan.

c) Laboratorium Sebagai Prasarana Pendidikan

Laboratorium sebagai prasarana pendidikan atau wadah proses pembelajaran.

Laboratorium terdiri dari ruang yang dilengkapi dengan berbagai perlengkapan dengan bermacam-macam kondisi yang dapat dikendalikan, khususnya peralatan untuk melakukan percobaan. Fungsi laboratorium juga sebagai sumber belajar dan mengajar, sebagai metode pengamatan dan metode percobaan, sebagai prasarana pendidikan atau sebagai wadah dalam proses belajar mengajar.

Demikian juga laboratorium memiliki fungsi pembentukan karakter siswa dalam bersikap terhadap ilmu penegetahuan diantaranya:

a) Mengembangkan berbagai keterampilan secara terintegrasi.

b) Mengenal berbagai peralatan laboratorium.

c) Mengenal berbagai desain dan peralatan untuk eksperimen.

d) Mengembangkan keterampilan mengumpulkan dan menginterprestasikan data.

e) Mengembangkan sikap untuk melakukan sesuatu secara tepat dan akurat.

f) Mengembangkan keterampilan dalam mengobservasi.

g) Mengembangkan kemampuan dalam mengkomunikasikan hasil eksperimen.

h) Mengembangkan kecakapan dalam menulis laporan.

i) Mengembangkan kemampuan untuk belajar dan melakukan percobaan sendiri.

j) Menambah keberanian berfikir sendiri dan menanggung resiko.

k) Merangsang berfikir siswa melalui eksperimen.

l) Mengembangkan keterampilan dalam memecahkan masalah dengan berbagai variabel yang banyak dan berbagai kemungkinan pemecahannya.

Adapaun lahan boratorium yang dimiliki oleh sekolah-sekolah tingkat dasar di Kota Malang relatif masih terbatas sehingga diperlukan inovasi sekolah yang lebih keras lagi dalam rangka untuk mampu menyediakan media yang dapat menyesuaikan dengan berbagai materi pelajaran yang seharusnya dikuasai oleh para siswa melalui praktikum laboratorium.

6) Ruang pimpinan yang dimiliki sekolah

Kepala sekolah adalah salah seorang tenaga kependidikan yang diberi tugas untuk memimpin dan mengemban suatu sekolah, dimana diselenggarakan proses belajar mengajar agar sekolah tersebut mampu mencapai tujuan yang diinginkan. Dari pengertian tersebut, pimpinan atau kepala sekolah mempunyai atau memegang peranan yang sangat penting dalam tercapainya tujuan sekolah. Berikut adalah peran kepala sekolah:

a) Kepala sekolah sebagai educator b) Kepala sekolah sebagai manajer c) Kepala sekolah sebagai administrator d) Kepala sekolah sebagai supervisor e) Kepala sekolah sebagai leader f) Kepala sekolah sebagai innovator g) Kepala sekolah sebagai motivator h) Kepala sekolah sebagai interpreuner.

Strandar sarana prasarana ruang pimpinan atau kepala sekolah menurutPeraturan Mentri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2007:

a. Ruang pimpinan berfungsi sebagai tempat melakukan kegiatan pengelolaan sekolah, pertemuan kepala sekolah dengan guru, orang tua murid, komite, atau tamu-tamu yang lainnya.

b. Luas minimum ruang pimpinan 12 m2 dan minimum lebar 3 m.

c.Ruang pimpinan mudah diakses oleh guru atau tamu-tamu sekolah, dan dapat dikunci dengan baik.

Lebih lanjut sesuai permendiknas tersebut ruang pimpinan sekolahyang dapat terpenuhi syaratnya sebagai berikut :

Tabel 5.4 Strandar sarana prasarana ruang pimpinan No Jenis Rasio Deskripsi

1 Perabot

1.1 Kursi pimpinan 1 buah Ukuran memadai untuk duduk dengan nyaman

1.2 Meja pimpinan 1 buah Ukuran memadai untuk bekerja dengan nyaman

1.3 Kursi dan meja

tamu 1 set Ukuran memadai untuk duduk 5orang dengan nyaman

1.4 Lemari 1 buah

Ukuran memadai untuk menyimpan perlengkapan kepsek. Dan keamanan terjamin

1.5 Papan statistik 1 buah Minimum berukuran 1m2 2 Perlengkapan lain

2.1 Simbol kenegaraan 1 set Bendera merah putih,garuda pancasila,

2.1 Simbol kenegaraan 1 set Bendera merah putih,garuda pancasila,

Dokumen terkait