BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
6. Sumber Pustaka
2.4. Manajemen Kualitas
2.5.1. Jaminan Kualitas Yang Berorientasi Pada Pengendalian Proses
Terdapat empat kelompok bagian yang terlibat dalam operasi dan perbaikan proses yaitu :
1. Pelanggan ( customer ) yaitu yang menggunakan output secara langsung atau yang akan menggunakan output itu sebagai input dalam proses kerja mereka.
2. Kelompok kerja ( work group ) adalah yang bekerja dalam proses untuk menghasilkan dan menyerahkan output yang diinginkan.
3. Pemasok ( Supplier ) adalah yang menyediakan input ke proses kerja, dalam hal ini orang yang bekerja dalam proses merupakan pelanggan dari pemasok.
4. Pemilik ( owner ) adalah yang bertanggung jawab untuk operasi dan proses dan perbaikan tersebut.
Dalam hal ini kualitas dibentuk dalam setiap proses artinya tidak tergantung pada divisi quality control saja, tetapi juga melibatkan divisi lainnya seperti produksi, pembeliaan , pemasaran, maupun bagian lainnya yang terdapat dalam organisasi .
Menurut Gabriel Pall ( 1978 ) enam komponen penting dalam manajemen proses yaitu :
1. Kepemilikan ( ownership ) menegaskan tanggung jawab untuk desain operasi dan perbaikan proses.
2. Perencanaan ( planning ) menetapkan pendekatan terstruktur untuk mendefinisikan dan mendokumentasikan semua komponen dalam proses dan hubungan antar komponen.
3. Pengendalian ( control ) menjamin efektivitas dimana semua output dapat diperkirakan dan konsisten sesuai dengan ekspektasi yang sudah ditentukan.
4. Pengukuran ( measurement ) memetakan performance terhadap kebutuhan pelanggan dan menetapkan kriteria untuk akurasi data.
5. Perbaikan dan peningkatan ( improvment ) meningkatkan efektivitas melalui perbaikan yang diidentifikasikan secara tetap.
6. Optimasi ( optimization ) meningkatkan effisiensi dan produktivitas melalui perbaikan yang diidentifikasikan secara tetap.
Langkah – Langkah Perbaikan Proses :
1. Mengidentifikasikan masalah dalam konteks proses. 2. Identifikasi dan dokumentasi proses.
3. Mengukur performansi.
4. Memahami mengapa suatu masalah terjadi. 5. Mengembangkan dan menguji ide – ide. 6. Implementasi solusi dan evaluasi.
2.5.2.Jaminan Kualitas Yang Berorientasi Pada Pengembangan Produk Baru.
Dalam pengembangan produk jaminan kualitas mutlak diperlukan , karena tanpa pengendalian yang baik tidak mungkin diperoleh produk baru yang berkualitas. Pengembangan produk baru harus mendapat perhatian yang serius karena jika pengembangan produk mengalami kegagalan akan menimbulkan kerugian yang cukup besar terhadap perusahaan.
Perusahaan yang ingin mengalami perubahan dengan cepat, harus mempunyai fleksibilitas dan fasilitas yang memadai dalam pengembangan produknya. Rancangan produk dan spesifikasi produk harus sesuai dengan keinginan pelanggan , harus juga dipikirkan cara pemrosesan paralel sehingga jika suatu area lini tidak dapat berfungsi, maka kerja dalam proses mudah dirutekan kembali tanpa menambah waktu siklus.
2.5.2.1.Konsep Kualitas
Konsep kualitas secara tradisional adalah inspeksi dilakukan setelah produki selesai dengan cara menyortir yang bagus dengan yang rusak atau hanya berfokus kepada aktivititas inspeksi untuk mencegah lolosnya produk cacat kepada pelanggan. Konsep kualitas secara modern dicirikan dengan 5 karakteristik, yaitu :
1. Berorientasi kepada pelanggan ( produk di desain beerdasarkan suatu riset pasar ).
2. Partisipasi aktif yang dipimpin oleh manajemen puncak ( top manajemen ) yang didelegasikan kepada Quality Assurance Division kemudian ke departemenn Quality Control, kemudian ke Section Head ( unit pengawas) kemudian ke karyawan ( tergantung struktur organisasi di masing – masing perusahaan ).
3. Setiap Orang yang mempunyai pemahaman terhadap tanggung jawab untuk kualitas sesuai dengan tanggung jawab masing – masing.
4. Adanya aktivitas yang berorientasi pada tindakan pencegahan kerusakan bukan berfokus pada upaya untuk mendeteksi kerusakan.
5. Adanya konsep bahwa kualitas merupakan jalan hidup sehingga issue mengenai kualitas selalu didiskusikan dalam pertemuan manajemen dan memberikan trainning secara regular terhadap karyawan tentang konsep kualitas.
Secara umum produk dan jasa dapat diwujudkan bila orientasi seluruh kegiatan perusahaan atau organisasi tersebut berorientasi paada kepuasan pelanggan ( customer satisfaction ) dengan demikian kualitas mempunyai dua perspektif yaitu perspektif produsen da perspektif konsumen , dimana bila kedua hal tersebut yang dikenal sebagai kesesuaian untuk digunakan oleh konsumen. Dalam hal ini standar dibuat atas kesepakatan kedua belah pihak.
Dimensi kualitas ( Garvin 1996 ) dapat diuraikan sebagai berikut :
o Performance, yaitu kesesuaian produk dengan fungsi utama produk itu
atau karakterisitik dari produk itu sendiri.
o Feature, yaitu ciri khan produk yang ada membedakan dengan produk
yang lainnya yang memberikan kesan yang baik pada pelanggan.
o Reliability , yaitu kepercayaan pelanggan terhadap produk karena
keandalannya , karena kemungkinan tingkat kerusakan yang rendah.
o Conformance , yaitu kesesuaian produk dengan syarat atau ukuran tertentu
o Durability, yaitu tingakat ketahanan / keawetan produk bila akan
diperbaiki atau kemudahan memperoleh komponen produk tersebut. o Aesthetic, yaitu keindahan atau daya tarik produk.
o Perception , yaitu fanatisme konsumen akan merek atau produk tertentu
karena citra atau reputasi produk .
2.5.2.2.Biaya Kualitas.
Untuk menghasilkan produk yang berkualitas perusahaan harus mengeluarkan biaya tetapi dalam paradigma baru kualitas dapat dicapai tanpa mengeluarkan biaya ( quality has no cost ) artinya produk berkualitas dapat dibuat dengan cara menghilangkan seluruh pemborosan atau kualitas tidak berdampak terhadap peningkatan biaya sehingga peningkatan kualitas dapat dilaksanakan seiring dengan peningkatan produktivitas karena dengan dihasilkannya produk yang baik akan menghilangkan pemborosan. Pemborosan biasanya terjadi jika terdapat produk yang cacat sehingga harus dilakukan perbaikan atau harus ada produk yang di reject ( waste ).
Biaya kualitas meliputi :
1. Biaya untuk menghasilkan produk yang berkualitas ( cost of achieving
good quality ) yaitu biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan produk
yang berkualitas sesuai keinginan pelanggan . Meliputi biaya pencegahan ( biaya perencanaan , perancangan pemrosesan, pelatihan dan informasi ) dan biaya penilaian ( biaya inspeksi dan testing, biaya untuk pekerja ).
2. Biaya untuk produk yang cacat ( cost of poor quality ) meliputi biaya kegagalan internal karena perusahaan menghasilkan produk yang cacat : biaya produk yang cacat yang dibuang , biaya pekerjaan ulang ( rework) , biaya kegagalan proses, biaya down time , biaya karena menjual produk dibawah harga karena cacat ( down grade ). Biaya kegagalan ekternal yaitu biaya yang dikeluarkan setelah produk diterima oleh konsumen berupa biaya untuk keluhan pelanggan ( customer complain/ complain ), biaya pengembalian ( return cost ), biaya ketidak percayaan konsumen yang tidak mau membeli produk tersebut ( lost sale cost ).