• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PERBANKAN SYARIAH

E. JAMINAN PADA PERBANKAN SYARIAH

Jaminan menurut Thomas Suyatno adalah penyerahan kekayaan atau pernyataan kesanggupan dari seseorang untuk menanggung pembayaran kembali atas suatu hutang.91 Hal tersebut senada dengan pendapat Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, yaitu jaminan khusus yang timbul karena adanya perjanjian yang khusus diadakan antara kreditur dengan debitur. Jaminan itu dapat berupa jaminan kebendaan dan jaminan perorangan. Jaminan kebendaan adalah benda tertentu yang sanggup membayar atau memenuhi prestasi manakala debitur wanprestasi.92

Jaminan dalam arti yang lebih luas adalah jaminan yang tidak hanya bersifat materil tetapi juga yang bersifat immateril. Jaminan yang bersifat materil misalnya bangunan, tanah, kendaraan, perhiasan, surat berharga. Sedangkan jaminan yang bersifat immateril misalnya jaminan perorangan (borgtocht). Dari sifat dan wujudnya benda menurut hukum, jaminan dapat dibedakan atas benda bergerak (roerende goederen) dan benda tidak bergerak (onroerende goederen). Pendapat lain membagi benda bergerak menjadi Berwujud dan Tidak Berwujud. Berwujud artinya sifatnya sendiri menggolongkannya kedalam golongan itu yaitu segala barang yang dapat dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain, misalnya barang-barang inventaris kantor, kendaraan bermotor dan sebagainya. Sedangkan Tidak Berwujud adalah karena Undang-Undang

91 Thomas suyatno, Dasar-dasar Perkreditan, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1993 hlm. 81

92 Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, Hukum Jaminan di Indonesia Pokok-pokok

64

menggolongkannya kedalam golongan itu, misalnya cek, wesel, saham, obligasi dan tagihan93

Pada jaman Nabi Muhammad SAW, beliau pernah meminjam dari seorang Yahudi dengan jaminan berupa baju besi yang masih berada pada pada orang Yahudi tersebut pada saat wafatnya beliau.94 Di dalam Islam jaminan termasuk dalam istilah “Kafalah” dalam hukum perniagaan. Kafalah atau penjaminan mempunyai arti seseorang dari pihak ketiga menjadi penjamin atas pembayaran utang yang belum terlunasi oleh orang yang memiliki kewajiban kepada kreditur dan debitur berjanji (rihn) akan melunasi utang, denda, atau kewajiban yang lain.95 Pada bank syariah dikenal dua macam jaminan, diantaranya:96

1. Kafâlah bin nafs

Yaitu Jaminan berbasis personal dalam perbankan syariah umumnya diterapkan melalui skema kafîl (Institusi penjamin pembiayaan/kredit). Jaminan ini akan memberikan jaminan bahwa pihak kedua/nasabah yang mengajukan kredit (makfûl

‘anhu) akan mengembalikan hutangnya (al-makfûl) kepada

pihak ketiga, yaitu bank syariah (al-makfûl lahu). 2. Kafâlah bil mâl

Yaitu Jaminan berbasis aset (kafâlah bil mâl), maka salah satu cara yang dibenarkan oleh syariah adalah dengan sistem rahn (gadai).

3. Kafalah bit taslim

Yaitu jaminan yang dilakukan untuk menjamin pengembailan atas barang yang disewa pada waktu sewa berakhir.

4. Kafalah al munjazah

Yaitu Jaminan yang tidak dibatasi oleh jangka waktu tertentu dan untuk kepentingan/ dan tujuan tertentu

93 Rachmadi Usman, Aspek-Aspek Hukum Perbankan di Indonesia, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2003, hlm. 281

94 Rezki Syahri Rakhmadi, Konsep dan Penerapan Sistem Jaminan Pada Lembaga

Keuangan Syariah, Economic: Jurnal Ekonomi dan Hukum Islam, Vol. 3, No. 1,

2013, hlm 24

95 Ayub,Muhammad.Understanding Islamic Finance: A-Z Keuangan Syariah.PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta,2007,hlm.264.

96 Muhammad Syamsudin, Jenis Anggunan, http://www.nu.or.id/post/read/86836/mau-kredit-di-bank-syariah-kenali-dulu-jenis-agunan-anda, diakses tanggal 01 Juli 2019.

65 F. PEMBIAYAAN DALAM PERBANKAN SYARIAH

Didalam perbankan syariah terdapat beberapa macam pembiayaan atau yang biasa dikenal dimasyarakat dengan kata kredit:

1. Muḍarabah

Prinsip mudharabah menurut Abu al-Hasan Ali Ibn Muhammad Ibn Habib Mawardi menurut Qur’an dan al-Sunnah. Konsep amalan al-mudarabah yang hanya melibatkan seorang pemodal (sahib al-mal) dengan seorang pengusaha (mudarib) atau dengan beberapa pengusaha.97 Teori dan amalan prinsip al-mudarabah menurut Amir Abd Al-Basit sebagaimana telah berlaku pada masa lalu, yaitu prinsip al-mudarabah pada masa jahiliyah sebelum Islam, dan pada awal kedatangan Islam serta masa kejayaannya di Semenanjung Tanah Arab.98

Menurut Ghofar Mudarabah (atau kepercayaan modal) adalah bentuk pembagian laba atau rugi (berbasis ekuitas) yang digunakan oleh pedagang di Mekah sebelum Islam.99 Muḍarabah disebut sebagai perjanjian kerjasama antara pemilik modal dan pelaku usaha yang secara langsung saling membutuhkan satu dengan yang lain.100 Pemilik modal secara langsung membutuhkan seorang pelaku usaha yang dapat menjalankan dana yang dimilikinya untuk suatu kegiatan usaha yang dapat menghasilkan keuntungan.

Mudarabah adalah jenis akad dimana salah satu pihak menyerahkan modal sementara pihak lain sebagai penerima modal dengan mengenakan sekatan atau syarat tertentu.101 Dalam akad mudarabah pemodal dibenarkan meletakkan syarat berkenaan dengan perniagaan yang akan dijalankan. Dalam hal ini, pengusaha

97 Abu al-Hasan Ali Ibn Muhammad Ibn al-Habib al-Mawardi, Al-Mudarabah.

Dirasah wa tahqiq

Abd Al-Wahhab Hawwas. Kaherah: Dar Al-Ansar,1983, hal. 135-139

98 Amir Abd Al-Basit, Al-Mudarabah. Kaherah: Al-Syirkah Al-Misriyyah, 1994, hal. 15-20

99 Abdul-Gafoor, A, Mudaraba-Based Investment and Finance, Journal of Islamic Banking and Finance, Vol 23, No 4, 2006, Hal 78-98

100 Ana Toni Roby Candra Yudha, Jaminan dalam Aqad Pembiayaan Muḍārabah Perbankan Syariah di Wilayah Surabaya, Al Tijarah, Vol.1, No.1, 2015, Hal 37-58

66

tidak boleh melakukan perkara di luar syarat yang ditetapkan pemodal.102

Mudharabah, adalah suatu mode pembiayaan yang melalui bank atau pemilik modal atau rabb-al-mal menyediakan pembiayaan modal untuk usaha tertentu yang ditunjukkan oleh pengusaha atau mudarib.103 Dengan kata lain, Mudarabah adalah kontrak antara dua pihak: seorang investor (individu atau bank) yang menyediakan pihak kedua, pengusaha dengan sumber daya keuangan untuk membiayai perusahaan tertentu. Keuntungan kemudian dibagi di antara keduanya pihak (rabb-al-mal dan mudarib) menurut beberapa rasio yang telah disepakati sebelumnya, tetapi jika ada kerugian investor menanggung semua kerugian finansial dan pengusaha kerugian operasional; terutama biaya peluang dari usaha mereka sendiri.

Akad mudarabah terbagi menjadi dua bagian yaitu al-mudarabah al-mutlaqah dan al-al-mudarabah al-muqayyadah.104 1). Al-Mudarabah Al-Mutlaqah

Al-mudarabah al-mutlaqah adalah jenis akad dimana satu pihak menyerahkan modal kepada pihak lain sebagai pengusaha tanpa ada suatu syarat apapun.105 Dalam melaksanakan akad ini, pemilik modal menyerahkan modal kepada orang lain (pengusaha) tanpa batas; tanpa menyatakan tempo waktu, tempat dan jenis perniagaan.106

2). Al-mudarabah al-muqayyadah

Al-mudarabah al-muqayyadah adalah jenis akad dimana

satu pihak menyerahkan modal kepada pihak lain dengan memberikan syarat tertentu.107 Dalam akad ini pemodal diperbolehkan untuk meletakkan syarat tertentu di dalam 102 Muhammad Daud Bakar, Aspek-aspek perniagaan projek dalam amalan perbankan Islam. Jurnal Syariah. No. 11. Akademi Pengajian Islam Universiti Malaya, Kuala Lumpur, 1992,hal. 210.

103 Obaidullah, M, Islamic Financial Services, Islamic Economics Research Centre, Jeddah, 2005, Hal 45

104 Al-Khatib (1958), op.cit, h. 310; Al-Kasani (t.t), op.cit., h. 3605.

105 Al-Khatib (1958), op.cit., h. 310; Al-Zuhayli (1981), op.cit., h. 855; lihat juga Muhammad Syafici Antonio (2000), op.cit., h. 97

106 Al-Zuhayli (1989), op. cit., j.4, h. 480

107 Muhammad Kamal Attiyah, Perakaunan Syarikat dan Bank Menurut Sistem

Islam, (Terj), Muhammad Ghazali Abdul Wahid. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa

67 praktek pembiayaan. Syarat ini bertujuan agar terdapat suatu manfaat bagi mengawal segala bentuk aktivitas pengusaha ketika mengurus modal tersebut. Sehingga apapun resiko yang terjadi akibat ketidakpatuhan terhadap akad ini, akan ditanggung oleh pengusaha sendirian. Persyaratan ini dimaksudkan untuk menguntungkan manajemen dalam mengelola modal. Oleh karena itu, setiap peristiwa yang melanggar didalam perjanjian pembiayaan ini hanya akan ditanggung oleh pengusaha.108 Skema di dalam pembiayaan mudharabah yaitu:

Menurut Imam al-Kasani tentang bolehnya meminta dan menggunakan agunan sebagai jaminan dalam pembiayaan mudarabah,adalah:109

A. Akad mudarabah yang disepakati bersama oleh para pihak didasarkan pada kerelaan ṣāḥib al-māl untuk menyerahkan kekayaan yang dimilikinya untuk dikelola oleh muḍārib. Kerelaan tersebut merupakan tanggung jawab bagi muḍārib untuk memelihara dan menjaga amanah sehingga investasi mudarabah akan berjalan dengan baik.

B. Pengelolaan usaha bisnis dengan akad mudarabah, berperan sebagai wakil dari pemilik modal. Meskipun akad wakalah tidak dilakukan akan tetapi, mudarib memiliki posisi yang 108 Ibn Qudamah (1981), op.cit., h.169

68

kuat sebagai pemegang amanah dan mengemban mandat untuk mengelola harta pemodal agar dapat mendatangkan keuntungan melalui harta yang telah dipercayakan kepadanya. Akad mudarabah memiliki nilai amanah dan wakalah yang mengharuskan mudarib secara profesional mengelola usaha dengan memperhitungkan risiko.

2. Musharakah

Menurut istilah al-musyarakah syariah adalah kontrak kemitraan antara pemilik modal secara bersama-sama untuk melakukan usaha patungan didalam menjalankan bisnis atau investasi di mana mereka berdua setuju untuk memberikan kontribusi modal dan berbagi keuntungan dan kerugian sesuai dengan kontribusi modal masing-masing.110 Namun, terdapat beberapa mahzab yang memberikan banyak definisi al-syirkah: 1). Hanafi: istilah kontrak antara mitra berbagi modal dan laba.111 2). Maliki persetujuan bersama yang diberikan oleh setiap anggota

mitra untuk mengelola modal dan hak retensi untuk masing-masing mitra.112

3). Syafii: kontrak yang dibuat antara dua orang atau lebih untuk secara bersama-sama berjanji untuk bekerja sama dalam bisnis dengan mendistribusikan modal mereka masing-masing di mana keuntungan dan kontrak dihitung berdasarkan kontribusi modal.113

4). Hambali: perjanjian diantara antara dua pihak atau lebih untuk mendapatkan hak dan kewajiban yang sama didalam menjalankan perusahaan.114

Musharakah atau kemitraan penuh adalah suatu pengaturan di mana dua atau lebih pihak membentuk suatu gabungan perusahaan komersial dan semua menyumbangkan modal serta tenaga kerja dan manajemen sebagai aturan umum.115 Muhammad Abd al-Rauf Hamzah, 110 Al-Zuhayli (1981), op.cit., Jil. 4, h. 792

111 Al-Zailaci , Tabyin al-Haqa’iq. Beirut: Dar al-Kutub al-cIlmiyyah,2000, hal. 234

112 Al-Khatib (1958), op.cit., Jil. 3, h. 223

113 Sulayman Ibn cUmar Ibn Mansur Al-cAjli, Hasyiyah al-Jumal cala Syarh

al-Minhaj. Juz 5. Beirut: Dar al-Kutub al-cIlmiyyah, 1996, hal. 269

114 Mustafa Al- Khin, al-Fiqh al-Manhaji cala Madhhab al-Imam al-Syafici. Juz 3. Damsyiq: Dar al-Qalam, 1998,hal. 217.

115 Iqbal, M. and Molyneux, P, Thirty Years of Islamic Banking: History,

Performance, and Prospects, Palgrave Macmillan, Houndmills, New York, 2005,

69 mengatakan tentang konsep akad al-musyarakah didalam syariah Islam.116 Syarat-syarat dan pembatalan akad al-musyarakah ditinjau daripada hukum Islam.

Nurulbahiah binti Awang menyatakan bahwa keutamaan sistem keuangan islam terletak pada prinsip al-musyarakah yaitu dalam menjalankan kontrak pembagian keuntungan.117 Prinsip al-musyarakah dapat diartikan bahwa keadilan didalam pembagian untung rugi dalam prinsip al-musyarakah. Keuntungan dan kerugian yang mengalir dari prinsip al-musyarakah kembali yang dibagi di antara para pihak dengan rasio yang telah disepakati sebelumnya. Secara umum, prinsip al-musyarakah paling cocok untuk pembiayaan perusahaan swasta atau publik dan pembiayaan proyek.

Dalam konteks perbankan Islam, Musharakah adalah digambarkan sebagai usaha patungan antara bank syariah dan pelanggan atau perusahaan bisnis pasti operasi. Bank syariah berpotensi bertindak sebagai penyedia dana untuk membiayai industri, perdagangan dan hampir semua perusahaan legal baik melalui investasi ekuitas atau partisipasi langsung. Seperti yang ditunjukkan, musharakah memiliki banyak keunggulan yang memberikan manfaat yang sama bagi semua pihak. Namun, bahwa sebagian besar pihak dalam kontrak Musharakah biasanya memerlukan bantuan ahli hukum untuk memastikan bahwa potensi Riba atau Gharar dihindari dengan cermat.118 Adapun skema di dalam pembiayaan musyarakah adalah sebagai berikut:

116 Saimi Bujang, Daya Saing Instrumen Musyarakah: Satu Kajian Di BIMB, Latihan Ilmiah Jabatan Syariah dan Ekonomi, Akademi Pengajian Islam , Universiti Malaya, Kuala Lumpur, 2002, hal. 29-35

117 Rosnita binti Jaafar, Musharakah dan Mudarabah: Pelaksanaannya Dalam Pembiayaan Ekuiti Di Malaysia. Disertasi Sarjana Pengajian Islam, Jabatan Syariah, Fakulti Pengajian Islam, Universiti

Kebangsaan Malaysia, Bangi,2007, hal. 56-6

118 El-Gamal, M, A Basic Guide to Contemporary Islamic Banking and Finance, Rice University, Houston, 2000 Hal 235

70

G. RANGKUMAN

1. Bank syari’ah merupakan lembaga keuangan yang melakukan kegiatan usaha berdasarkan prinsip-prinsip syari’ah dalam hukum Islam.

2. Keuntungan melakukan transaksi dalam bank syari’ah dibandingkan bank konvensional, bahwa bank syari’ah tidak mengenal sistem bunga melainkan bagi hasil.

3. Transaksi pada bank syari’ah meniadakan adanya unsur maghrib yaitu maysir (unsur untung-untungan), gharar (ketidak pastian), haram, dan riba.

4. Bank syari’ah memiliki beberapa karakteristik diantaranya universal, adil, transparan, seimbang, maslahat, variatif, dan fasilitas.

5. Ada beberapa macam produk yang ditawarkan oleh bank syari’ah diantaranya investasi emas, investasi properti, saham syariah, berinvestasi pada real bisnis, asuransi syariah, tabungan dan deposito syari’ah, reksa dana syari’ah, dan tabungan pendidikan. 6. Bank syari’ah memiliki duamacam jaminan untuk menjamin

pinjaman yakni kafalah bin nafs dan kafalah bil mal. H. EVALUASI

Kerjakan soal-soal dibawah ini dengan tepat!

I. PILIHAN GANDA

1. Bank merupakan salah satu lembaga.... a. Keuangan

71 c. Hukum

d. Eksekutif

2. Selain bank syari’ah terdapat pula bank umum yang disebut juga sebagai….

a. Bank Rakyat b. Bank Kredit c. Bank Konvensional d. Bank Masal

3. Karakteristik dari bank syari’ah adalah…. a. Maslahah dan Tolong-Menolong b. Variatif dan Inovatif

c. Universal dan Nasional d. Transparan dan Seimbang

4. Macam-macam produk investasi pada bank syari’ah salah satunya adalah….

a. Reksa dana syari’ah b. Bitcoin

c. Utang Piutang d. UMKM

5. Salah satu produk investasi syari’ah adalah investasi saham, saham adalah….

a. Surat izin b. Surat berharga c. Surat tilang d. Surat balasan

6. Asuransi syari’ah merupakan salah satu produk bank syariah yang bergerak pada kegiatan….

a. Penanggungan resiko dan Tolong menolong b. Amal dan Sosial

c. Penanggulangan bencana dan Dana sosial d. Kredit dan Debit

7. Tabungan atau deposit dalam bank syari’ah dikenal juga dengan nama….

a. Musyarakah b. Murabahah c. Mudharabah d. Wakalah

8. Pada bank syari’ah dikenal dua macam jaminan, yaitu…. a. Kafalah bil mal dan Kafalah bil ujrah

72

c. Kafalah bil mal dan Kafalah bil akal d. Kafalah bil mal dan Kafalah bin nafs

9. Jaminan dalam bentuk kafalah bin nafs lembaga yang menjamin akan dikembalikannya pinjaman adalah….

a. Institusi Penjamin Pembiayaan b. Institusi Pemerntahan

c. Institusi Perpajakan d. Koperasi Simpan Pinjam

10. Dalam kafalah bil mal sistem yang diperbolehkan oleh syar’ah adalah…. a. Jual beli b. Rahn c. Gharar d. Riba II. URAIAN

1. Turunlah ke lapangan. Carilah bank yang memiliki basis Syariah dikotamu, kemudian analisislah hal-hal berikut ini:

a. Produk investasi bank Syariah.

b. Mekanisme dalam berinvestasi melalui perbankan Syariah. 2. Seminarkan hasil analisismu didepan teman-temanmu!

73